Katahane no Riku Chapter 3 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Katahane no Riku Chapter 3 Bahasa Indonesia

September 18, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Exicore
Proofreader: Ise-kun

Chapter 3: Bocah Iblis

“Tidak, kau masih belum boleh mati.”

Dengan cepat, tangan Riku ditangkap sebelum jatuh ke tanah.

Pada saat ini, perasaan hangat tertentu menyebar dari lengannya ke seluruh tubuhnya. Riku akhirnya kembali tersadar. Hal itu menghilangkan kebingungannya, dan sedikit demi sedikit rasa sakit dikakinya mulai menghilang.

Saat Riku melihat siapa yang melakukannya, yang mengeluarkan suara dari atas itu.

“Si... siapa?”

Orang yang menangkap lengannya adalah seorang pemuda yang mengeluarkan aura yang mengerikan.

Mata biru tajamnya yang berkilauan sedang melihat Riku. Sangat jauh dari kesan lembut. Pakaian yang dia gunakan bukanlah pakaian indah yang akan digunakan oleh seorang bangsawan dan pedagang, tapi pakaian perjalanan yang lusuh. Pedang di bagian kiri pinggangnya juga tidak memiliki kulitas yang bagus.

Tidak perduli darimana kau melihatnya, dia tidak terlihat seperti seseorang yang punya harta yang cukup sehingga dia bisa dengan mudah membuang-buang uangnya. Terlebih lagi, melalui lubang di pakaiannya, seseorang bisa melihat sisik yang tertancap dalam berwarna hitam menutupi lengannya, sama seperti warna rambutnya.

Jika dia adalah manusia biasa, tidak mungkin dia memiliki sisik di lengannya.

Yang mana berarti dia adalah...

“Ib... Iblis?”

Sementara lengannya dipegang, dia secara samar-samar mengingat isi dari buku teknik pemusnah iblis.

Ras Iblis (Demonkind)... mereka terlihat seperti manusia, tapi mereka bukanlah manusia. Salah satu bagian tubuh mereka akan memiliki fitur yang biasa dimiliki binatang; mereka adalah mahkluk terkutuk yang harus dimusnahkan.

[TL Note: Saya pikir daripada menyebutnya sebagai Ras Iblis lebih tepat disebut Manusia Binatang (Beastmen)]

Mereka akan merebus manusia di tungku raksasa kemudian memakannya, membunuh manusia untuk bersenang-senang, dan bahkan membakar habis hutan hanya untuk membuat gurun pasir.

Mereka adalah mahkluk kotor dan brutal yang tak memiliki sedikitpun rasa simpati. Keberadaan mereka yang hina adalah musuh bagi semua spiritualist, tidak, bagi semua umat manusia.

Musuh dari umat manusia ini sekarang sedang mengulurkan tangannya sendiri kepada Riku. Setelah itu, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

Di bagian paling belakang kepala Riku, Riku mengingat kembali perkataan ayahnya.

“Kamu tahu, iblis itu menjengkelkan. Sebagian dari bagian tubuh mereka mirip dengan manusia, tapi bagian manusia itu hanya digunakan untuk membodohi dan menipu kita. Mereka adalah pengecut dan kasar; mereka adalah mahkluk hidup terburuk di dunia ini. Kalau kamu membiarkan mereka menipumu, itulah akhir bagimu. Entah itu dibunuh, dimakan, atau dibakar sampai mati; yang pasti takdir yang menunggu disana lebih buruk daripada menjadi budak. Memusnahkan seluruh ras iblis adalah tugas kita, para spiritualist, dan melindungi kerajaan dari mereka adalah tugas keluarga Barusak.”

Meskipun kalimat itu terlalu panjang, setelah diulang berulang kali oleh ayahnya, kalimat itu tertanam di kepala Riku.

Tidak diragukan lagi, iblis ini melakukannya untuk kepentingannya sendiri.

Entah Riku ingin dimakan, dibunuh, ataupun dibakar hingga mati.

Tapi Riku tidak tahu yang mana.

“Leivein, apakah kau yakin ingin mengambil manusia ini?”

Anak muda lainnya, seseorang yang menggunakan kacamata berlensa satu, melihat kepada Leivein dari belakang.

Telinganya yang disembunyikan oleh rambutnya entah kenapa lebih panjang daripada milik manusia biasa. Dia juga adalah ras iblis. Melanjutkan perkataannya yang sebelumnya, anak muda itu berbicara kepada seseorang yang dipanggil Leivein.

“Aku menolaknya. Meskipun aku mengakui kekuatannya karena dia mampu mengangkat tong itu yang mana luar biasa, dan saat dia dewasa nanti, dia akan berguna, tapi meski begitu, dia adalah manusia. Lagipula, bukankah bros yang ia kenakan di pakaiannya adalah lambang keluarga Barusak? Keluarga Barusak adalah keluarga spiritualist. Membawanya terlalu beresiko. Dan juga, dia punya rambut yang berwarna merah. Bahkan di dalam ras iblis sekalipun, tidak ada seorangpun yang memilki rambut merah dan hal yang sama berlaku pada manusia. Bukankah ini terlalu mencurigakan? Bila kau membawanya ke resimen pasukanmu, apa yang akan kau lakukan jika dia mengkhianatimu?”

“Piguro, apakah kau buta?”

Dengan suara kecil, Leivein, membantah Piguro.

Setelah mendengar hal itu, Piguro membuat wajah masam seakan-akan dia telah memakan serangga. Dengan cepat, Leivein mengangkatnya, membantunya berdiri. Karena dia barus saja pulih dari kelelahan, kakinya masih terasa sakit. Karena itulah, ekspresi wajahnya berubah karena rasa sakit. Tapi tidak memerdulikan hal itu, Leivein terus bicara.

“Tentu saja, dia adalah manusia. Dan bahkan dari keluarga Barusak.”

Leivien menggerakkan bros yang ia pakai di bajunya, membuat bros itu mengeluarkan suara metal.

Bahkan walaupun Riku sudah mengerutkan dahinya karena topik itu, untuk sekarang ia hanya bisa mendengarkan.

Secara fisik, dia tidak bisa melarikan diri. Bahkan walau ia berhasil lari, dia akan segera ditangkap. Tidak seperti pria-pria sebelumnya, dia tidak percaya diri bisa lari dari dua orang di depannya ini.

Dia hanya bisa mendengarkan mereka menentukan nasibnya. Yaitu apakah dia akan mereka manfaatkan, atau mereka bunuh.

Hanya kemungkinan terburuk yang muncul dikepalanya. Seakan-akan itu sudah yang terburuk, wajahnya mulai pucat.

Berbeda dengan Riku, Leivein tetap berbicara dengan Piguro.

“Aku hanya peduli tentang satu hal: Apakah dia akan berguna bagi pasukan Raja Iblis atau tidak. Jika berguna, maka tidak penting apakah dia manusia atau bukan.”

“Tetap saja...”

“Lihat saja sendiri. Lihatlah matanya. Matanya dengan jelas mengatakan bahwa ia ingin tetap hidup. Jika aku adalah dia, aku tidak mungkin mengkhianati pasukan Raja Iblis.”

Leivein menarik kerah baju yang Riku gunakan dalam sekali tarik.

Semua sampah yang menempel di bajunya berjatuhan. Beberapa dari sampah itu sedikit mengotori lengan Leivein, tapi hal itu sepertinya tidak dia pedulikan.

“Gadis kecil berambut merah, beri tahu aku nama aslimu.”

“...”

Riku ragu.

Sesuatu seperti mengatakan namamu sendiri sama seperti menyerahkan diri ke orang yang bertanya.

Riku muda masih tidak tahu detailnya, tapi dia ingat diajari bahwa jika nama seseorang diketahui oleh orang lain, sangat mungkin untuk mengikat jiwa orang tersebut.

(Note: Nama yang dimaksud adalah nama aslinya, benar-benar nama asli. Riku Barusak bukan nama aslinya.)

Itu bukanlah sesuatu yang boleh kau katakan ke orang yang belum pernah kau tahu atau lihat. Apalagi, yang bertanya sekarang adalah dua iblis yang ganas, berarti lebih berbahaya lagi. Lagipula, sebagai anggota keluarga dari salah satu keluarga spiritualist, memberikan namanya kepada iblis sama seperti tindakan menghina kepercayaannya.

Tapi jika dia tidak mengatakannya, dia akan dibunuh.

Karena sudah menyerah, Riku memberitahukan namanya.

“Riku.”

“Apa itu, apakah itu bahkan sebuah nama? Aku tidak akan bertanya sekali lagi. Beritahu kami namamu ‘yang sesungguhnya’.”

Riku mulai gemetar.

Dia merasakan ketakutan menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia sudah berada di depan pintu kematian, tapi apa yang dia rasakan adalah sesuatu yang menariknya lebih jauh lagi ke kedalaman jurang tanpa dasar itu.

Dan mantel untuk perjalanan yang menutupi bagian atas tubuhnya naik ke atas karena tenaga yang kuat. Dibalik celah mantel itu, bisa terlihat sayap yang disembunyikan, yang mana terlihat tajam. Jika tubuh seorang gadis kecil seperti Riku yang terkena serangan dari sayap itu, sudah pasti sayap itu akan menembusnya.

“Ri...Rinkus.”

Dia akhirnya mengatakannya.

Itu pertama kalinya sejak pertama kali dia lahir dia mengatakan nama yang hanya dia dan orang tuanya ketahui.

Dan lagi, ia mengatakannya kepada iblis yang baru saja ia temui.

“Rinkus, iya kan? Jadi begitu, karena itulah berubah menjadi Riku.”

Merespon kata-kata Leivein, Riku mengangguk tanpa mengatakan apapun.

Leivein masih menggunakan ekspresi ketat-nya, tapi sepertinya ia sudah sedikit santai.

“Dan dengan begitu, aku sudah mengetahui namamu. Dengan mengatakan seperti itu, kau tahu apa maksudku, iya kan?”

“Iy-iya...”

Entah ia akan dimakan atau dibunuh. Bahkan mungkin dibakar hingga mati atau sesuatu yang lebih buruk.

Hanya kemungkinan yang mengerikan yang muncul dikepalanya. Dia sangat lemah dan tidak punya bakat, dia dibuang, dan sekarang dia diambil oleh seekoriblis. Dia hanya bisa mengutuk karena ketidaksenangannya kepada betapa tidak beruntungnya dirinya.

“Itu dia! Gadis berambut merah tadi!”

Seluruh ototnya sekali lagi menegang.

Tubuhnya semakin bergetar.

Pemilik suara itu tidak diragukan lagi adalah salah seorang pria yang tadi mengejarnya. Setelah itu, jalanan menjadi semakin rusuh.

Tidak lama lagi, para pria lainnya akan muncul.

“Hey, sobat. Bisa kau serahkan gadis itu?”

“Kenapa? Apakah dia adalah kerabatmu?

“Bukan, dia hanya budak yang lari dari tempatku. Jadi, bisa kau serahkan dia sekarang?”

Saat ia mengarahkan jari telunjukknya ke Riku, dia mulai mengatakan beberapa hal.

Perasaan Riku memaksanya untuk lari.

Tapi kakinya seperti dua buah stik yang tidak bisa digerakkan. Bahkan walau kakinya bisa bergerak, kekuatan untuk melepaskan diri dari Leivein dan melarikan diri darinya tidaklah cukup.

Riku kemudian dengan kecil hati memandang ke arah wajah Leievein.

“Hou, jadi dia ini adalah budak?”

Saat ia mengatakan hal itu, dia menunjukkan senyum keji yang tiada batasnya.

Riku, yang melihat senyum itu dari dekat, kehilangan rasa takut akan orang-orang yang mengejarnya. Tapi itu bukan berarti seluruh rasa takutnya menghilang.

Dengan kata-kata itu, dengan ekspresi itu... Dia tahu bahwa iblis itu lebih menakutkan daripada para pria itu. Karena itulah, meski begitu, Riku tetap tidak ingin pergi bersama pria itu. Bahkan walau ia pergi bersama mereka, hal itu tidak mungkin mengarah ke sesuatu yang baik.

Kedua pilihannya hanya akan membuat Riku berakhir di neraka.

“Tapi, dia sudah terlanjur jadi milikku. Aku tidak berniat memberikannya padamu.”

“Apa katamu?!... Kalau begitu, cepat bayar. Bayar seharga sepuluh koin emas.”

“Sepuluh koin emas? Jangan berbicara omong kosong. Dia hanyalah anak kecil yang hampir mati. Bahkan walau dia adalah seorang wanita dua puluh koin preak seharusnya sudah cukup, benar kan?”’

Tidak perduli tentang Riku yang gemetar, Leivein dengan mudahnya bernegosiasi dengan orang-orang itu.

“Dua puluh perak? Jangan bercanda, dasar gelandangan!”

“Setidaknya satu koin emas.”

“Aku tidak memerlukan orang yang akan mati membayarku satu koin emas. Ahh, setelah kau mati, aku akan mengambil semua uangmu sebagai hasil jarahanku, benar kan? Meskipun, aku tidak akan membunuhmu secepat itu.”

“Apa katamu?!”

“Jika saja kau mendengarkan kata-kataku sampai selesai.”

Pria itu mengepalkan tinjunya, dan bagi mereka yang membawanya, mereka menyiapkan senjata tumpul mereka.

Sepertinya mereka berniat merebut Rku kembali dengan kekerasan.

“Sudah cukup. Bersama dengan gadis kecil itu, kami akan menjual kalian sebagai budak.”

Tapi terlalu cepat untuk mengatakan hal semacam itu.

Para pria itu mulai menyerang, dengan jelas mengincar Leivein. Tangan kanan Leivein masih memegang Riku. Mengincar masing-masing kepala Riku dan Leivein, para pria itu mengayunkan senjata tumpul mereka. Riku takut dan menutup rapat matanya.

“Padahal kalian hanya serangga kecil.”

Kemudian, Riku mendengar suara udara yang terpotong.

Dan bersamaan dengan itu, cairan yang sedikit panas menempel di wajah Riku. Bahkan dengan matanya yang tertutup, sudah cukup jelas cairan apa itu. Dia bisa mengetahuinya dari suasana disekitarnya yang sepertinya bisa membuat udara bergetar.

“Ah, Leivein selalu saja terlalu cepat saat ia membunuh sesuatu. Meskipun aku sangat ingin membunuh mereka.”

Suara takjub Piguro bisa terdengar.

Riku dengan enggan membuka matanya. Leivein menunjukkan ekspresi tenang.

“Ini adalah kebiasaan buruk Leivein. Memungut orang-orang yang dibuang. Sekarang dia sudah terlibat, dia akan bertanggung jawab hingga akhir... Tapi, bila kau melakukan sesuatu yang aneh, aku akan langsung mematahkan lehermu, mengerti?

Piguro menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata ”Baguslah.”

Leivein tetap diam.

“K-KAU! Apa yang telah kau lakukan!?”

Kata seorang pria dengan suara yang gemetar.

Saat Riku melihat ke arah suara itu, dia berteriak.

Apa yang ia lihat adalah lautan merah yang tersebar di lantai. Diantara lautan itu terdapat bagian atas dan bawa dari dua orang pria yang terbelah dua. Satu orang adalah yang menggunakan senjata tumpul untuk memukul mereka sementara, yang lainnya berniat menggunakan tinjunya. Karena rasa takutnya, Riku melihat ke atas, ke arah langit.

“Apa yang sudah kulakukan, tanyamu?”

Leivein mendengus.

Tanpa sadar, dia dengan pelan menggerakkan pedang di tangan kirinya. Di ujung pedang itu, masih tertempel sedikit darah.

“Pihak yang menyerang adalah kalian bukan? Ini hanya sekadar usaha melindungi diri sendiri, kau tahu? Apa yang akan kau lakukan tentang itu?

“Melindungi diri sendiri!? Ini terlalu berlebihan!!”

“Terlalu berlebihan? Orang-orang ini lebih lemah dariku, dan dengan mudahnya menjadi mayat. Hanya itu.”

Pria yang mendengar jawaban Leivein segera mendekatinya dan meneriakkan sesuatu. Pisau yang dia genggam mengeluarkan cahaya yang lemah.

“Hanya serangan kejutan yang kecil... Kau, apakah kau tidak melihat bagaimana temanmu terbunuh? Apa guna dari kepalamu yang melekat ditubuhmu?”

Kata Leivein dalam nada bosan.

Tanpa ragu, di mengayunkan pedangnya dan menyerang leher pria itu. Tubuh yang sudah kehilangan kepalanya itu berhenti bergerak dan saat ia mengeluarkan cipratan darah, tubuh itu jatuh ke lautan merah. Perbedaan kekuatan mereka sangat besar. Pada akhirnya, tak ada yang bisa mendekati Riku ataupun Leivein.

Riku melihat ke pisau yang berbaring di tanah daam keadaan terkejut.

“Rinkus Barusak.”

Namanya dipanggil.

Rasanya seperti hatinya dipegang dengan erat.

Leivein masih memegang pedang di tangan kirinya. Pedang itu, bisa saja digunakan untuk memenggalnya juga. Saat ia memikirkan hal itu, dia hanya menjadi semakin takut. Tanpa sadar, Riku sekali lagi gemetar.

“Jika kau pergi sendirian ke arah sana, kau pada akhirnya akan ditangkap oleh teman orang-orang yang berbaring disana. Tubuh dan hatimu akan dikoyak menjadi bagian-bagian kecil dan kau pada akhirnya akan mati dalam keadaan yang menyedihkan dan tidak berarti.”

Dia diangkat melalui lehernya seakan-akan dia akan di pilin.

Menekan rasa takutnya, Riku entah bagaimana berhasil mengangkat kepalanya. Wajah serius Leivein ada di depan matanya.

Tapi meski begitu, walau wajahnya adalah wajah serius, Riku akhirnya berhenti gemetar setelah melihatnya.

“Jika kau pada akhirnya akan mati, maka datanglah ke tempatku. Selama kau punya kehidupanmu yang telah kuselamatkan, gunakan kekuatanmu demi kepentingan tentara Raja Iblis dan mati untuk itu.”

Kata-kata Leivein sama seperti putusah hukuman mati baginya yang mana sangat menakutkan.

Tapi berbeda dari ras takut yang Riku rasakan sebelumnya, mungkin bisa dikatakan kalau rasa takutnya sudah sedikit berkurang.

“Jika kau mau, aku setidaknya bisa memenuhi kebutuhan hidupmu.”

Mata biru Leivein mulai menyatu dengan langit biru yang bersinar.

Apa yang tersisa dari api yang disebut harapan sedikit demi sedikit mulai menyala kembali. Meskipun hatinya seharusnya dingin, disuatu tempat didalam sana, hatinya menjadi hangat. Saat tubuhnya sudah benar-benar berhenti bergetar, dia sadar...


Bahwa untuk saat ini, dia selamat.


No comments:

DMCA.com Protection Status