Lazy Dungeon Master Chapter 3 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Lazy Dungeon Master Chapter 3 Bahasa Indonesia

September 02, 2016 Pipo Narwastu


Chapter 3: Mempelajari Situasi

"Fuwaah, tadi itu tidur yang nyenyak... pengennya sih bilang begitu. Ugh, badan ku sakit." (Keima)

Ketika aku bangun dan berdiri, tiba-tiba ada bunyi *krak yang keras di bahuku.
(TL Note: Yah kayak semacam suara orang encok, kalau di film-film kan biasanya selalu ada suara *Krek kalau encok kambuh :v )
Meskipun lantainya nggak dingin dan sedikit hangat, tapi keras dan sinarnya terlalu terang. Bukan tempat yang baik untuk tidur.

"Gu—, ak-akhirnya kau bangun juga, Kehma!" (Rokuko)
"Oh Rokuko, sudah berapa jam aku tidur?" (Keima)
"Kau nggak tau!? 6 jam! Aah, aku bisa ngomong lagi." (Rokuko)

Meskipun aku tidak tau apakah aliran waktu waktunya sama atau tidak, tapi sepertinya aku tidur selama enam jam tadi.
4 DP yang aku lihat sebelum tidur jadi 34 DP.
...Bagaimana sistem perhitungan waktu buat DP para bandit tersebut? Aku seharusnya menyerah saja dalam menghitung-hitung pendapatan pasti berdasarkan kekuatan mereka.

"Jam berapa di luar?" (Keima)
"Jam 7 pagi! Ngomong-ngomong satu hari itu 24 jam! Bentar, kenapa aku harus menjawab mu!" (Rokuko)
"Begitu ya, makasih. Bilang 'nya' tiap akhir kalimat." (Keima)
"Berhenti bercanda nya!" (Rokuko)

1 hari sama dengan 24 jam. Dan sepertinya 1 tahun itu 12 bulan, dan 365 hari totalnya. Yah, bagus lah kalau sama dengan dunia lama ku, jadi mudah buat di inget.
Meskipun aku sudah memastikannya, ku dengar kalau apa yang bisa aku perintah dalam tubuh tergantung pada level ku.
(TL Note: Well, saya nggak ngerti maksud kalimat di atas. Englishnya "Though I checked to make sure, I heard that what I can order the body to do on its own depends on my level.")
Kendati ini dunia lain, karena loli tersebut mau melakukan apa pun yang aku katakan, kalau aku ini lolicon mungkin bisa jadi R-18 saat ini.
Aku membatalkan perintah yang menambahkan 'nya' tiap kalimat pada nya dan mereview situasi saat ini lagi untuk sekarang.

"Bagaimana keadaan para bandit tersebut?" (Keima)
"Mereka pergi keluar beberapa saat yang lalu. Satu orang berjaga-jaga disini saat ini." (Rokuko)
"Hmmm..." (Keima)
"Baiklah kalau begitu, Aku tinggal summon goblin aja. Summon! 20 DP Goblin!" (Rokuko)
"Eh?" (Keima)

Formasi sihir yang bersinar pun muncul di lantai.
Sinar dari formasi sihir terus menerang dan kemudian mengkilat, orang kecil dengan tubuh berwarna hijau dan wajah jelek pun muncul.
Apakah seperti rasanya ketika aku di summon? Mungkin kali ya.

"Yosh!" (Rokuko)
"Yosh patak mu!" (Keima)
"Adah—!?” (Rokuko)

Aku menjitak kepala Rokuko dengan keras.

"Aa itu tadi! Sakit, tau nggak 'sih!?" (Rokuko)
"Kenapa kau make DPnya buat kepentingan mu sendiri!? Idiot!" (Keima)
"Hah? Emangnya kenapa kalau aku make DP ku sendiri?" (Rokuko)

Ah, dia emang beneran idiot.

"Itu bukan DP mu lagi, tapi DP ku. Kalau kau mau make, kau perlu ijin ku dulu, kalau kau nggak mati." (Keima)
"A-apa, apa kau mengancam ku!? Kalau aku mati kau juga ikut mati, lho!" (Rokuko)
"Iya, emang. Kalau inti dungeonnya hancur, aku juga akan mati. Itulah kenapa aku bilang jangan melakukan yang enggak-enggak!" (Keima)
"Ugu—… terus gimana?" (Rokuko)
"Untuk sekarang, ajari aku tentang area di sekitar sini... Dan apa goblin ini bisa dikembaliin?" (Keima)
"Nggak bisa. Well, goblinnya akan memberikan 2 DP kalau mati di dungeon." (Rokuko)
"Cuma 10% ya... Bailah, biarkan saja kalau begitu." (Keima)

Pertama, aku memberikan perintah ke goblin untuk menunggu di pojok ruangan untuk saat ini.
...Dan lagi, ruangan ini besar banget. Bukankah sesuatu yang seukuran gedung olahraga bisa muat disini?
Ah, kalau mempertimbangan mengenai summon naga, bukankah emang sudah seharusnya ya sebesar ini?

"Well, eto, pertama tempat ini dinamakan [Tsula Mountain]...
Dan secara kebetulan, dungeon ini dinamakan [Ordinary Cave]! Begitulah yang dikatakan para adventurer."

Apa tempat ini bisa dianggap dungeon. Oi.
Coba dipikir, sepertinya ini dungeon untuk nama seperti itu. Penyesatan.
(TL Note: "Thinking about it, this seems to be the dungeon for a name like that. It’s misleading." ada terjemahan yang lebih baik?)

"Kau tadi menyebut adventurer?" (Keima)
"Kelihatannya manusia membuat sesuatu yang disebut sebagai adventurer guild. Meskipun aku tidak tau apa yang membedakan mereka dengan ksatria." (Rokuko)

Ada yang namanya ksatria juga. Bukankah yang membedakan hanyalah ada yang menjadi individual atau menjadi bagian dari kelompok yang menjaga perdamaian?
...Kalau Rokuko hanya tau informasi umum itu dari mendengar saja, bukankah aku lebih tau lagi?

"Apa ada kota para manusia disekitar sini? Kalau punya peta, tunjukan pada ku." (Keima)
"Kau bisa melihatnya di menu." (Rokuko)

Aku melihat ke menu untuk memeriksanya.
Kelihatannya ada jalan ke bawah gunung di dekat sini. Apa mungkin para bandit menargetkan hal tersebut?
Ketika aku mengotak-atik skalanya, informasi topografi pegunungannya muncul... Meskipun begitu, aku hanya mengerti sekeliling gunung ini saja. Disana ada kota yang sedikit besar di dekat Gunung Tsuia, dan sedikit jauh dari gunung ada laut.
Ah, kelihatannya selain kota ada beberapa desa yang tersebar di sekitarnya.
...Ngomong-ngomong, peta ini kayak kurang niat bikinnya. Ah, lebih tepatnya aku berharap ada informasi jaraknya 'gitu.

"Neh~, apa kau nggak mau membunuh banditnya? Bisa ngasilin banyak DP lho kalau bisa membunuh mereka. Kalau kau melakukannya sekarang, eto~, 200 DP? (Rokuko_

Itu sama aja seperti mereka tinggal disini selama 10 hari.

"Nggak, aku masih belum bisa mengatasi mereka." (Keima)
"Kenapa? Kalau cuma satu bandit... 10 goblin harusnya cukup kan?"
"Buat dapet 200 DP aku harus mengeluarkan 200 DP ya... DPnya aja bahkan nggak cukup." (Keima)

Maksud ku, goblin kelihatan lemah. Sepuluh goblin untuk satu bandit?

"Aku akan menyimpan DP untuk saat ini. Masih banyak kegunaan lain yang lebih baik lagi. Untuk saat ini, ada baiknya untuk tidak bertindak gegabah dan memprovokasi mereka... Kalau mengirim para goblin, bukankah mereka bakalan bilang [Ada banyak goblin yang keluar, ayo hancurin inti dungeonnya!] begitu?" (Keima)
"...! Nggak kepikiran, Kehma pinter!" (Rokuko)
"Rokuko aja yang bodoh. Selama kau mengerti sih, oke lah." (Keima)
"O-okay, aku mengerti." (Rokuko)

Nah sekarang, dengan ini dia nggak akan melakukan hal seenak jidat lagi. Karena aku sudah memrintah nya.

"...Eto, berikutnya labirin? Membuat ruangan itu... meskipun tergantung pada ukurannya, yang kecil memakan 200 DP huh. Untuk jalannya tergantung pada panjangnya, jebakan di pisah?" (Keima)
"Iya! Akan lebih baik men-summon monster saja ketimbang membuat ruangan. Makanya aku nggak melakukannya." (Rokuko)
"Kau juga bisa mendapatkan dan menaruh harta karun menggunakan DP huh... Ah, jadi itu ya kenapa bantal bisa ada di kategori harta." (Keima)
"Iya, apa ada alasan khusus untuk menaruh harta karun? Aku lebih memilih men-summon monster untuk mengalahkan para penyusup ketimbang memakai DP untuk sesuatu semacam i-... Tunggu sebentar, apa-apaan mata itu?" (Rokuko)

Oops, aku membuatnya jadi merasa dirinya seakan-akan idiot dengan memberikan tatapan seperti ketidak setujuan.

"Yeah, well bicara masalah dungeon, daripada monster, kau harunya juga mempertimbangkan harta dan jebakan juga." (Keima)
"Iya tah? Inti lainnya nggak bilang sesuatu semacam itu 'lho." (Rokuko)
"...Nah kau menyinggungnya, kau bilang kalau kau adalah Dungeon Core No. 695. apa ada nomor 694 dan yang lainnya?" (Keima)
"Kupikir jumlahnya mengalami banyak penurunan karena banyak diantara mereka yang mati karena inti nya dihancurkan... inti dungeon adalah jantung kami." (Rokuko)
"Hebat juga kau menaruh jantung mu di dungeon satu ruangan." (Keima)
"Para inti dungeon lainnya kan bilang kalau jumlah ruangan bukan lah masalah!" (Rokuko)

"Fufun," si loli pirang dengan bangganya membusungkan dadanya yang nggak ada isinya. Ntuh dada rata... Haruskah aku mengelus kepalanya?

"Kau bisa berkomunikasi dengan inti yang lain?" (Keima)
"Well, ada semacam perkumpulan sih. Meskipun aku nggak bisa menghadirinya saat ini karena ada penyusup... kami semua dipanggil tiap tahun... yah, semacam pesta gitu. Tempat untuk mengumpulkan informasi-informasi berharga." (Rokuko)
"Heeh, jadi karena itu ya kau bisa tau hal-hal tadi?" (Keima)
"Iya, Dungeon Core No. 89 Nee-sama yang bilang. karena nomor 89 nee-sama orang yang menakjubkan dengan dungeonnya di tengah-tengah ibu kota juga dirinya yang humanoid seperti diriku! Nomornya dua digit, rangking DPnya masuk ke dalam sepuluh besar dan selalu peduli kepada ku." (Rokuko)

Bukankah dia cuma ingin mempermainkannya?

"Kalau dipikir-pikir, nomor 89 ane-sama dapet naga dari 1000 DP gachapon." (Rokuko)
"Begitu kah~, aku malah lebih tertarik sama dia yang ada di ibu kota atau rangking nya itu. Untuk saat ini, kita perlu mengatasi krisis ini dulu." (Keima)
"Iya juga, kita nggak boleh—” (Rokuko)

"Guuu," bunyi suara terdengar.
...Kalau di ingat-ingat, aku masih belum memakan apa pun dari kemarin.

"Beber, atau nasi... apa kau ada makanan?" (Keima)
"Eh? Ah, oh iya. Monster juga perlu makan huh~. Aku lupa karna aku nggak perlu makan untuk bisa hidup." (Rokuko)

Ngomong-ngomong, sepertinya kapanpun monster datang, dia selalu menggunakan semua DP yang dia simpan untuk men-sumoon goblin. Sekali atau dua kali selama sebulan, adventurer akan datang untuk memburu goblin, mencingcang mayatnya dan kembali pulang.
Dan aku diperlakukan sama dengan monster. Kasarnya.
Aku menggunakan 5 DP untuk men-summon roti dan air, membaginya dengan goblin yang sedang berdiri di pojok ruangan, kemudian makan dengan tenang.

No comments:

DMCA.com Protection Status