Lazy Dungeon Master Chapter 5 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Lazy Dungeon Master Chapter 5 Bahasa Indonesia

September 14, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Exicore
Editor: Ise-kun

Chapter 5: Ayo Buat Lebih Banyak Ruangan

“Ah, tadi itu tidurnya nyenyak banget... Pengennya sih bilang begitu. Aku pengen futon yang rada mendingan.” (Keima)

“Pagi. Kau beneran tidur sepanjang hari... Apa nggak capek kayak gitu terus?” (Rokuko)

“Nggak.” (Keima)

“Well, tolong jelaskan... Bentar, sebelum itu, lihat jumlah DP-nya saat ini.” (Rokuko)

Saat aku membuka menu untuk melihatnya, aku sekarang memiliki 857 DP.

“Hmm? Oh, cepat juga naiknya. Kemarin hampir saja.” (Keima)

“Kau tahu?” (Rokuko)

“Hah? Ah, kurang lebih. Apa yang sebenarnya terjadi?” (Keima)

“... Para petualang menyerang.” (Rokuko

Dari apa yang kudengar, para bandit yang berjaga menyadari keberadaan para petualang yang menuju ke dungeon. Para bandit menyerang mereka di jalan masuk pada titik buta di dalam ruangan. Akhirnya mereka bisa membunuh empat orang petualang. Dan para bandit sepertinya tidak terluka.

“Jadi para bandit mengambil perlengkapan para petualang dan mengurus mayatnya. Kemudian mereka mendorong mayat-mayat tersebut ke dalam inti dungeon. Meskipun bahkan walau mereka tidak melakukannya aku masih akan menyerap mereka. Sepertinya mereka mengerti kalau aku bisa menyerap mayat sehingga mereka berusaha membantu.” (Rokuko)

“Jadi begitu, mereka menyerang di dalam dungeon, huh. Bukannya para bandit itu lebih pinter dari Rokuko ‘ya?” (Keima)

“Apa maksudmu berkata seperti itu!?” (Rokuko)

Tentu saja maksudnya persis seperti yang aku katakan.

Rokuko, yang tadinya tersenyum, sekarang merajuk setelah mendengar hal itu.

“Tapi kenapa? Kenapa para petualang itu datang kemari?” (Rokuko)

“Kau... bahkan walau kau sendiri yang bilang kalau para petualang datang sekali atau dua kali sebulan...” (Keima)

“Oh. Kalau dipikir-pikir, aku emang pernah ngomong gitu ‘ya?” (Rokuko)

Tempat ini mungkin dijadikan sebagai tempat latihan oleh para petualang sembari melawan lawan lemah seperti goblin atau sesuatu yang lain. Tanpa menghancurkan inti dungeon tempat ini, dan dengan begitu mereka menggunakan tempat ini, sebagai tempat latihan para pemula. Mungkin datang untuk melihat seperti apa inti dungeon yang asli.

Para bandit, dan kelima goblin, tidak mungkin kalah dengan enam orang petualang pemula. Karena mereka berpikir mereka akan menang, mereka akan merampok, dan membunuh. Karena mereka adalah bandit.

“Yah, sepertinya, helm baja dan surat yang kemarin kita kasih itu... mempengaruhi mereka.” (Keima)

“Para bandit itu cuma pengen uang aja. Selama kita bersikap bersahabat dan menunjukkan kalau mereka juga diuntungkan, memuaskan keinginan mereka akan uang dengan item, mereka pasti mau bekerja sama dengan kita. Oleh karena itu, untuk membuat para bandit itu tetap di dalam goa ini aku memberi mereka helm baja dan surat itu... kemudian, mereka akan membawa kembali mayat para petualang untuk kita yang nantinya akan kita rubah menjadi DP.” (Keima)

Saat mereka bertarung diluar goa, mereka tidak mungkin membawa kembali mayat-mayat musuh mereka ke dalam goa yang mereka tempati karena itu bukanlah hobi mereka. Tapi jika mereka bisa membuat mayat-mayat itu hilang tanpa jejak... dengan cara membuat mayat itu diserap oleh inti dungeon hal itu akan mengurangi kemungkinan mereka ditemukan. Mereka juga akan mendapatkan harta karun. Jadi mereka sangat mungkin akan membawa mayat-mayat musuh mereka kembali.

Bahkan, walaupun informasinya bocor ke Guild Petualang, mereka pasti menyadari kalau tidak ada keuntungan apapun saat mereka akan membunuh para bandit yang mendiami [Ordinary Cave].

Kemudian, dengan pemikiran seperti [Aku ingin berada dalam goa ini] dan [Aku ingin harta karun], bahkan walau mereka menyebutnya [Ulah para bandit], para petualang pastinya tidak ingin namanya tercemar. Fakta bahwa mereka menyergap mereka di dalam goa adalah bonus yang bagus.

Tapi kalau kau memikirkannya baik-baik, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah melarikan diri tanpa bertarung... Tapi, yah, mereka sepertinya tidak memikirkan hal itu. Untung saja mereka idiot.

“...Kehma, bisakah kita membuang para bandit itu?” (Rokuko)

“Nggak, nggak bisa. Kalau kita membuang mereka, kita tidak akan bisa membantai mereka. Hal itu akan mebuat DP yang aku dapatkan dengan susah payah jadi sia-sia ‘kan? Membuat sesuatu terbuang dan menjadi sia-sia itu nggak baik. Aku harus mendapatkan DP dari mereka.” (Keima)

“... Meskipun kau ini manusia sama seperti mereka kau tetap menyebut kata DP. Kehma, aku jadi sedikit menghormatimu~.” (Rokuko)

“Terima kasih, kalau begitu aku mau tidur lagi. ‘met malam.” (Keima)

“Baru juga bangun dan udah mau tidur lagi...” (Rokuko)

Apakah kau bodoh? Aku tentu saja akan tidur lagi setelah aku bangun karena lebih mudah seperti itu.

Meskipun itu memang rencanaku untuk membunuh para petualang, aku tidak merasakan apapun saat melakukannya. Yah, para bandit lah yang membunuh mereka semua saat aku sedang tidur, dan aku juga tidak melihat mayat-mayat nya. Mungkin nantinya aku akan secara tidak sengaja membunuh seseorang disini? Kalau itu terjadi apa yang harus aku lakukan?

...Terserahlah, kupikir tidak masalah karena aku sudah menjadi seseorang yang dipanggil sebagai Dungeon Master. Aku merasa segar setelah tidur. DP kami juga sedikit bertambah.

“Tambah jumlah ruangan. Beli juga kotak yang lainnya. Apa masih ada tinta yang tersisa?” (Keima)

“Eh- iya. Memangnya masih ada, ya? Tapi, untuk membuat ruangan kita akan menggunakan 850 DP berharga milik kita.” (Rokuko)

Rokuko menjawab dengan kecewa saat dia melihat ke arah katalog dari monster yang bisa di panggil dengan harga 800 DP dan dibawahnya.

Hahahaha, apakah loli berambut pirang ini belajar?

(Editor note: “Hahaha, is this blonde-haired loli learning?” asli, saya bingung sama terjemahan englishnya)

“Baiklah, kita akan menambah jumlah ruangan... Etoo, mungkin aku bisa meletakkan sebuah jebakan saat ada penyusup, aku hanya bisa mengeluarkan mosnter dari inti dungeon dan tidak bisa langsung mengeluarkan mereka di dalam sebuah ruangan tertentu. Kalau begitu bagaimana caraku mengusir para bandit itu...? Mereka tidak terlihat seperti musuh yang mudah untuk dikalahkan... Sudahlah, cepatlah tulis hal yang aku akan katakan.” (Keima)


*


“Bossss! Sebuah kotak muncul lagi!”

“Oh! Apa yang kau tunggu, cepat bawa kemari!”

Bos bandit itu melompat kegirangan. Sebenarnya dia melompat-lompat saat membuka kotak itu. Didalamnya terdapat... Apa ini? Dia bingung saat melihat barang di dalam kotak tersebut.



“... Bantal? Tapi kami menginginkan item magic...!”

Mereka mengalahkan 5 goblin dan mendapat helm baja, tapi saat mereka mengalahkan empat orang petualang serta mempersembahkan mayat mereka yang dia dapat adalah benda ini? Apakah jumlah musuh yang dikalahkan adalah hal yang penting?

Saat bos para bandit berpikir seperti itu, seorang bawahannya membacakan kalimat yang tertulis di dalam kotak.

[Kalian menyelamatkanku! Kalian cukup kuat! Aku ingin- berterima kasih! Karena mereka-ada-di dalam- kolom hadiah. Aku-akan-menambahkan ruangan. Karena-berbahaya-semuanya-tolong keluar. Tolong-segera-keluar.]

Jadi begitu, hadiahnya adalah kami dibuatkan sebuah ruangan? Tempat ini memang sangat kecil saat mereka berdelapan masuk secara bersamaan, dia mungkin memeikirkan tentang hal itu.

Karena setuju, mereka semua keluar dari goa.

Segera setelah mereka keluar, mereka bisa langsung mendengar suara batu yang saling berbenturan didalam goa.

Setelah kira-kira sepuluh menit. Mereka segera masuk setelah suara itu berhenti, inti dungeon yang sampai beberapa menit yang lalu bisa ditemukan dilantai sekarang menghilang dan ada lorong yang mengarah ke dalam bersama dengan pintu kayu. Sedikit ragu, mereka masuk dan melihat sisi kanan dan kiri dari lorong tersebut terdapat masing-masing satu ruangan. Dua ruangan sudah ditambahkan, dan inti dungeon berada di ruangan sebelah kanan.

Selain di ruangan yang ditambahkan, ruangan yang dari awal bagian dari goa masih tetap ada. Rasanya aneh tempat yang mereka sebut sebagai tempat persembunyian memiliki pintu kayu.

Hanya butuh ssepuluh menit hingga goa ini menjadi lebih luas. Melakukan hal itu dengan tenaga manusia mungkin membutuhkan, satu bulan? Tidak, mungkin maggician yang ahli juga bisa melakukan hal yang sama.

Semuanya berjumlah tiga ruangan. Goa tersebut lebih luas tiga kali lipat dari ukuran aslinya sekarang. Terlebih lagi, ada tempat tidur untuk satu orang diruangan di sebelah kiri. Apakah bantal yang ada didalam kotak gunanya untuk ini?

Apakah ini dipersiapkan untukku? Wah wah, dungeon ini cukup berbaik hati kepadaku.

Gumam bos dari para bandit itu.


*


“... Sial... Kenapa, kenapa kau menghabiskan 440 DP buat orang kayak dia ‘sih...!” (Rokuko)

“Oi oi, harga kotak dan bantal itu secara keseluruhan cuma 10 DP, 20 DP buat dua pintu kayu, 10 DP buat satu tempat tidur, yang mana berarti aku hanya menggunakan 40 DP untuk para bandit, apa yang sedang kau bicarakan ini?” (Keima)

“Hah? Ruangan itu 200 DP harganya ‘tau.” (Rokuko)

“Eh gblk, jangan samakan helm baja tadi sama ruangan itu ya. Ruangan itu nggak bias dibawa pulang mereka. Itu aset tetap kita.” (Keima)

Rokuko dengan bodohnya memiringkan kepalanya kesamping karena dia tidak mengerti satupun hal yang sedang kubicarakan. Yap, inilah inti dungeon di dunia lain, dan penampilannya yang tidak sesuai dengan usianya... Loli berambut pirang ini mungkin saja lebih muda dari penampilannya. Hal itu sudah hampir pasti.

“Aku memperluas dungeon ini karena hal itu diperlukan. Aku kasih tau ya enaknya punya banyak ruangan... Kalau kita bisa punya 6 goblin untuk setiap ruangan yang kita miliki, dengan memilki tiga ruangan kau bisa punya 18 goblin.” (Keima)

“Wow, itu luar biasa! Ayo bua lebih banyak ruangan lagi!” (Rokuko)

Yap, dan kau yang dengan mudahnya percaya akan hal itu lebih luar biasa lagi.

“... Bentar, huh? I-ini masalah yang serius! Tadi ada 860 DP tapi sekarang ilang semua.” (Rokuko)

“Oh, itu karena aku abis make DP-nya...” (Keima)

“Eh? K-kau pake buat apa DP itu!?” (Rokuko)

“Buat ini...” (Keima)

Aku memperlihatkan Rokuko map dungeon yang ada di menu.

Aku menggesernya agak jauh dari pintu masuk, diluar lorong tersebut terdapat lorong lain yang kubuat mirip dengan goa kami yang asli dan terletak agak jauh. 200 DP untuk ruangannya, 30 DP untuk lorong sepanjang lima meter. Tapi karena aku tidak perlu membuat jalan keluar, aku mebuat lorong yang dengan panjang hampir satu kilometer. Meskipun pada akhirnya hal itu cukup murah, tapi tetap menghabiskan seluruh DP.

“...Hah, aku tidak pernah berpikir memperluas dungeon di luar pintu masuk dungeon. Itu cara berpikir yang aneh. Jadi, kenapa kau melakukannya? Bukankah hal itu sudah jelas cuma buang-buang DP?” (Rokuko)

“Ah, bergembiralah. Aku membuat ruangan yang sangat kau inginkan, Ruangan Goblin!” (Keima)

“Yay~♪... Eh, sangat kuinginkan?” (Rokuko)

“Bukannya goblin adalah favoritmu?” (Keima)

Bukankah dia selalu mengatakan hal seperti ‘Kirim goblin, kirim goblin’?

Karena itulah aku kira Rokuko suka sama goblin. Yang menginginkan dikelilingi dan dilayani oleh para goblin.

“... Aku, aku nggak punya perasaan semacam itu.” (Rokuko)

“Nggak papa. Semua pasti punya rahasainya sendiri ‘kok. Temanku, kau tidak punya fetish terhadap goblin sama sekali.” (Keima)

“Tunggu, apa maksudmu!? Dan ada apa dengan wajah ‘Aku mengerti’ milikmu itu!?” (Rokuko)

“Ngomong-ngomong, aku bukanlah seorang lolicon. Aku punya fetish terhadap kaki. Dan menurutku hasil evaluasiku mengenai kaki milik Rokuko adalah kaki yang bagus.” (Keima)

“Nggak nggak! Ini serius, apa maksudmu!? Terlebih lagi, perkataanmu tadi seperti merendahkanku.” (Rokuko)


Seiring berjalannya waktu, DP kami habis, jadi aku tidur untuk yang ketiga kalinya.

No comments:

DMCA.com Protection Status