Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 3 Chapter 87 Part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 3 Chapter 87 Part 1 Bahasa Indonesia

September 16, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Ise-kun & Kirz

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 3 Chapter 87 Part 1: Itadakimasu!

TL Note: Ini adalah kelanjutan dari episode 25 animenya... Anyway, happy reading :3

Di gerobak naga yang bergoyang pelan, pikiran Rem selalu tertuju padanya.

Namanya tiba-tiba muncul di pikirannya, Rem mengangkat kepalanya dengan lembut, dan menyipitkan matanya terhadap teriknya sinar matahari.

Dia menatap ke arah rombongan gerobak naga, didalamnya terdapat pasukan-pasukan yang sedang terluka setelah pertarungan melawan Hakugei (Paus Putih).

Dari mereka semua, hanya mereka yang mengalami luka darurat lah yang sudah diobati, dan masih ada beberapa yang masih terluka cukup parah. Juga, meski dalam rasa sakitnya, mulut mereka tersenyum, hanya rasa puas yang mereka miliki setelah berhasil menyelesaikan mimpi terbesar mereka. Setelah membawa mimpi tersebut selama bertahun-tahun dan akhirnya bisa terkabulkan, itu sangat lebih berarti dibandingkan luka ataupun kematian. Sudah menyelesaikan apa yang mereka inginkan, sekarang mereka kembali ke ibu kota, untuk membawa kabar kemenangan.

Melihat pemandangan tersebut, Rem membenci dirinya sendiri karena tidak dapat menahan rasa sakit di hatinya.

"Kau kelihatan cemas gitu, Rem. Apa kau masih mengkhawatirkannya?" (Crusch)

"...Crusch-sama" (Rem)

Melihat ke arah suara tersebut, ada Crusch yang duduk disampingnya Rem.

Dibalut oleh sedikit perban, benar-benar layak dipuji melihat Rem yang sama sekali tak menunjukan adanya luka serius pada dirinya, tapi mustahil untuk menutupi stamina-nya yang sudah terkuras itu. Fakta kalau mereka naik gerobak naga juga karena Crusch tidak merasa nyaman membiarkan Rem menaiki naga darat dengan kondisinya yang seperti itu. Jadi dia memutuskan untuk menemaninya, setidaknya sampai ibu kota mulai terlihat.

Melihat Rem yang sedang cemas, Crusch dengan santai mengangkat bahu-nya.

"Dibandingkan dengan ini..." Dia menggelengkan kepalanya.

"Dia masih ada Wilhelm, Ferris, para penjelajah elit, dan Ricardo si tentara bayaran, mereka semua siap membantunya. Selain itu, Anastasia pasti sudah memprediksikan kejadian ini. Meski bahkan kekuatan lawan cukup mengkhawatirkan, aku tidak berpikir mereka akan kalah dengan cara apapun." (Crusch)

"Meskipun begitu, aku masih khawatir" (Rem)

"Masih tidak bisa menghilangkan kecemasan ya... Kalau sumber kecemasannya dari kau sendiri masih sangat mungkin untuk diringankan. Tapi kalau sumbernya orang lain, akan jadi sedikit sulit... Ah, aku memang kurang bisa dalam menghibur seseorang, maafkan aku." (Crusch)

Melihat Rem yang terus jatuh ke dalam kecemasannya, Cruch menyadari kalau dia sudah salah bicara dan menurunkan matanya. Tapi melihat Crusch yang dingin dan begitu formal itu tiba-tiba bertingkah tidak seperti biasanya, Rem pun sedikit tersenyum.

"En, baguslah." Melihat hal tersebut, Crusch mengangguk puas.

"Natsuki Subaru pernah bilang sebelumnya 'Senyuman benar-benar sangat cocok untuk Rem, bukan?' meskipun terdengar seperti dia itu asal ngomong, tapi itu bukanlah hal yang bodoh yang dikatakannya" (Crusch)

"Crusch-sama... Ano nee, ketika kamu tersenyum, senyum itu memberikan kesan yang benar-benar berbeda dari dirimu. Kamu biasanya tegas, tapi sekalinya tersenyum..." (Rem)

"Orang-orang juga biasa bilang begitu, aku tidak bilang kalau aku marah. Itu karena aku tidak tersenyum tanpa alasan di depan orang, sepertinya aku memang kurang disukai..." (Crusch)

Rem tidak yakin apakah akan menganggapnya sebagai sebuah lelucon atau tidak, tapi melihat senyum ramahnya Crusch, bibirnya ikut terbuka menjadi senyuman juga. Berani dan bangga, untuk Rem, yang kurang akan rasa percaya diri, Crusch adalah wanita yang ideal. Tapi, tentu saja, di hati Rem, kehormatan tertinggi diberikan tak lain dan tak bukan kepada kakaknya, Ram.


"Yang akan mereka hadapi adalah orang-orang dari sekte penyihir... Meskipun hal itu kurang lebih bisa di duga mengingat identitas Emilia itu sendiri, sampai kami tahu lebih tentang mereka, kewaspadaan itu penting. Natsuki Subaru menyadari hal tersebut, tapi tentunya Tuan Mathers pasti sudah membuat rencana." (Crusch)

"Jauh didalam apa yang dipikirkan oleh tuan ku, Rem sama sekali tidak tahu. Meskipun kamu menanyai ku, aku tidak bisa mengatakannya." (Rem)

"Jahatnya. Kita kan sekarang bersekutu, sedikit informasi bocor tidak akan begitu berdampak buruk" (Crusch)

Mungkin itu hanyalah pengalih perhatian saja agar Rem tidak jatuh ke dalam pikiran negatif lag. Ya, itu semua berkat Crusch yang telah membuat Rem lepas dari kekhawatirannya.

Selain itu, Crusch juga ada benarnya, seseorang seperti Roswaal L. Mathers pasti punya rencana besar untuk semua ini. Tentu saja tindakan Subaru semuanya demi tujuan Emilia, yang dimana disaat bersamaan dia juga sedang mengembalikan reputasinya.

Sebenarnya... dengan mengalahkan Hakugei (Paus Putih), reputasinya sudah sangat jauh meningkat dibanding sebelumnya.

-"Eiyū Natsuki Subaru" (Rem)
(TL Note: Eiyū (英雄) = Pahlawan)

Bagi Rem, yang dimana hati dan masa depannya telah dia selamatkan, penilaiannya tidaklah salah. Mengingat masa depan cerah yang akan Subaru buat, hal tersebut sangatlah beralasan.

Dan kemudian, bisa berada disamping Eiyū yang bersinar,  tempat dimana ia (Subaru) bisa berpaling sebentar untuk memastikan dia berada disana, seandainya saja tempat yang bisa menahan dia ada- maka tidak ada lagi yang Rem inginkan di dunia ini. Hanya dengan itu saja, dia sudah sangat senang.


Ketika Subaru muncul di pikirannya, hati Rem selalu penuh akan kekacauan.

Hatinya jadi hangat, dan mungkin tenang, dan terkadang jadi penuh akan rasa sakit, kecemasan, penantian, dan kekhawatiran.

Yang bisa membuat hatinya sangat bahagia dan sangat menderita di saat bersamaan, hanyalah Subaru seorang saja yang bisa.

Dengan senyum di wajahnya, pikiran Rem beralih ke masa depannya: Masa depan dia dan Subaru.


Mengintip sekilas ke wajahnya Rem, Crusch menghembuskan napas lega. Mengusap-usap sarung pedang ksatrianya dengan jarinya, matanya menatap dengan diam ke arah jalan di depannya, hal yang dipikirkanya adalah jalan yang panjang menuju ibu kota.

[Crusch: ——-]

[Rem: ———–?]

Crusch menyipitkan matanya, di saat yang bersamaan Rem mendengar suara gaduh dan mengangkat kepalanya.

Apa yang Crusch lihat adalah ada sesuatu yang aneh mengenai gerobak naga di depan sana. Suara gaduh yang Rem dengar juga datang dari arah yang sama. Faktanya, kedua petunjuk mengarah ke kesimpulan yang sama.

Di mata Crusch, gerobak naga "tercerai berai". Di telinga Rem, pembukaan dari 'keruntuhan' bergema layaknya suara dari air hujan.

Kabut darah pun menyembur keluar. Wujud gerobak naga yang ada di depan mereka pun tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang kabur.

Naga darat, gerobaknya, dan semua yang terluka di dalam pun tumbang semua, dan kemudian hancur tanpa ampun dengan kehancuran yang luar biasa.

"-! Serangan musuh!" (Crusch)

Keterkejutannya hanya berlangsung sekejap, sebelum Crusch meneriakkan perintahnya. Dengan Crusch yang berada diposisi pengemudi terdepan, naga disekitarnya merasa takut dan langsung mempersiapkan diri untuk bertarung.

Rem, membuang semua rasa sakit dari lukanya dan rasa letihnya, bersama dengan morningstar di tangannya, bangkit seketika itu juga - Disisi lain dari kabut darah terdapat bayangan berbentuk seperti seseorang yang sedang berdiri tegak.

Siapa kira-kira orang itu, yang sedang memperhatikan, berdiam diri ditengah jalan? 

Tanpa senjata, tanpa armor, tanpa rasa takut. Tanpa rasa peduli atau niat yang jahat atau tujuan-!

"-Musnahkan dia!!!!" (Crusch)

Aba-aba dari Crush menggema dari posisi pengemudi terdepan. Mendengar aba-aba darinya, para pengemudi-kesatria mengikuti aba-aba itu dengan seketika menarik tali kendali naga mereka. Dengan berlinang air mata, para naga darat itu menuntun penyerbuan itu - beserta dengan keahlian mereka yang dapat mencabik-cabik semua binatang besar yang muncul.

Mengikuti petunjuk tadi (Yang bayangan itu), saat ini sepertinya kita akan bertabrakan dengan sosok yang tegak itu. Orang itu tidak ada tanda-tanda akan bergerak. Dan tetap saja seperti itu, dan akhirnya kedua objek telah bersentuhan, badan yang ceking itu akan tercabik oleh-

"Crusch-sama!" (Rem)

Dengan berlinang air mata, rem mengangkat Crusch dengan pinggangnya dan menerbangkannya keluar dari sisi gerobak. Tidak ada waktu untuk meraih kemudi, Rem mendarat sambil mengigit bibirnya, memikirkan tentang hal ini.

Dan kemudian, setelah itu,

"Ah yang benar saja? Aku ingin menyerah! Aku bahkan tidak melakukan apa-apa dan seseorang ingin membunuhku. Sungguh, tak seharusnya orang-orang melakukan hal seperti ini" (Pria misterius)

Dia berbicara dengan nyantainya seperti orang yang lagi nyantai jalan-jalan di taman, atau orang yang sedang berjemur, atau situasi nyantai lainnya.

Jika bukan karena puing-puing dari apa yang dijadikan gerobak naga ini hancur, Rem tidak mungkin akan bertemu dengan pemandangan ini, yang membuatnya terlihat begitu menyeramkan.

Tidak peduli bagaimana kau melihat nya, tapi orang itu tidak tampak seperti orang yang luar biasa.

Badannya tinggi dan ceking, dan rambut putih rapinya tidak panjang maupun juga pendek, juga tidak aneh. Baju item nya itu tidaklah flamboyan maupun lusuh, dan wajahnya tidak menarik untuk dilihat. Dia terlihat biasa aja, yang mungkin dia tidak akan peduli walaupun kamu menempatkan ia ditempat yang nantinya dia tidak akan bisa keluar lagi, yang jika kamu berpapasan dengannya dijalan maka dalam 10 detik pasti kamu akan melupakan nya.

Tapi faktanya, disaat sedang berhadapan dengan orang ini, tubuh dari naga darat telah terbelah menjadi dua, kakinya yang kaku posisinya masih seperti sedang berlari, dan juga, beserta dengan si pengemudi dan gerobaknya, yang telah  hancur menjadi berkeping-keping.

Bagian yang paling menakutkan dari hal ini yaitu, Rem tetap saja tidak berpaling dari pandangannya, yang sedang dipandangnya saat ini semata-mata hanya orang yang "berdiri disana" itu.


Tidak melakukan apa-apa, hanya diam disana dan berhasil melewati tabrakan dengan Gerobak Naga yang menyerbu itu, dan tetap diam saja seperti tidak terjadi apa-apa.

"Terima kasih Rem, karena telah menyelematkanku. Tapi.. sepertinya situasi tetap saja tidak berubah" (Crusch)

Masih dalam kondisi di tuntun oleh tangan Rem, Crusch berterima kasih kepadanya, kembali berdiri, dan diwaktu yang sama, dia menarik keluar pedang-ksatria nya dengan cepat dari sarung pedangnya. Untuk pengemudi-ksatria yang mengikuti aba-aba nya dan berakhir menjadi hancur berkeping-keping, Crusch merasa begitu sakit di dalam hatinya dan ia saat ini memejamkan matanya.

"Karena telah membunuh orang-orangku secara kejam, jangan pikir kalau ini akan berakhir dengan begitu saja.. Siapa sebenarnya kau?" (Crusch)

Dengan pedangnya yang mengkilap yang memiliki hawa membunuh, dia melempar kata-kata itu kepada orang misterius itu. Menyimak kata-kata yang dilemparkan kepadanya, orang misterius itu memegang dagunya dan mulai mengangguk seakan-akan ia mengerti.

"Ahh.. begitu ya begitu ya, ya ya, kau tidak tahu tentang siapa diriku ini. Tapi aku tahu tentang dirimu. Semua penduduk ibu kota.. sebenarnya, semua penduduk negeri ini.. kau menjadi topik pembicaraan publik kali ini. Kau termasuk dalam kandidat Calon raja selanjutnya. Bahkan diriku, yang tidak pernah ikut campur dengan hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan dunia, bisa membayangkan bagaimana bebanmu itu.." (Pria misterius)

"Hentikan pembicaraan tidak penting ini. Jawab pertanyaanku, atau berikutnya aku akan menebas mu" (Crusch)

"Wow ekstrim sekali itu! Tapi itu artinya kau tidak akan mampu memimpin suatu negara. Namun perasaan ini, aku benar-benar sedikit tidak mengerti.. Hasrat yang ingin memakai mahkota, dan mengambil semua tanggung jawab, bagaimana mungkin seseorang bisa mengerti perasaan ku ini? Ah, ah, meskipun aku tidak mengerti, aku tidak ingin berselisih dengan mu. Aku tidak se-arogan dirimu itu, tidak sama sekali. Tidak sama sekali sepertimu.." (Pria misterius)

Tidak mempedulikan Crusch, orang ini tetap saja mengoceh secara terus-menerus.

Dan kemudian,

"-Seperti yang telah kukatakan, itu adalah kesempatan terakhirmu" (Crusch)

Sebagaimana dingin dan tegasnya Crusch mengatakan kata-kata itu, tangannya pun mengayunkan blade-of-wind nya itu.

Sihir angin nya dikombinasikan dengan ilmu pedangnya, menghasilkan tebasan yang tidak terlihat.

Terkenal dengan julukan "Hundred-Men-Cut", ini benar-benar tebasan jarak jauh yang benar-benar kuat, yang dapat memotong tubuh seseorang tanpa mengetahui arah datangnya dari mana, atau siapa yang melakukannya.

Dulu, disaat monster "Big Rabbit" muncul di dataran tempat asalnya, dia telah berhasil membunuh semua pasukan monster dari "Big Rabbit" di pertempuran pertamanya, dan itulah saat dimana Crusch Karsten mendapat julukannya sebagai "Hundred-Men-Cut".

Bahkan kokohnya kulit dari "Paus Putih" dapat dengan mudahnya di sobek dengan pedangnya, benar-benar ampuh disaat membunuh monster raksasa itu. Jangankan paus putih, tubuh yang lemah ini tidak mungkin bisa bertahan dengan serangan seperti itu...

Tapi,

"...menyerang seseorang disaat dia sedang berbicara, etika mu itu dimana?" (Pria misterius)''


Kepalanya yang dimiringkan, seakan-akan memamerkan tubuhnya yang tidak apa-apa setelah serangan tadi, orang itu tetap diam saja disitu.

Keberadaannya tidak terpatahkan dengan serangan tadi yang sebenarnya dapat merobek tubuhnya bahkan armor dari Paus Putih sekalipun. Tubuh orang ini sangat — tidak, pakaiannya bahkan tidak terlihat terkena serangan itu.

Dia tidak terlihat seperti menahan serangan tadi, melainkan, ini sesuatu yang beda dan tidak dikenal.

Crusch yang tidak mengerti hanya terdiam kaget menahan napasnya dan Rem pun terbujur kaku di tempat itu, setelah menyaksikan kejadian yang sangat tidak realistis itu. Didepan mereka, akhirnya pertama kalinya orang tersebut mengeluh.

"Kau tahu.." dengan nada bicara yang diturunkan oleh ketidaksenangan dihatinya,

"Aku lagi ngomong. Bukannya aku lagi ngomong  sekarang?! Dan kau memotong omonganku. Bukannya itu agak  kurang ajar namanya? Bukankah itu salah? Aku punya hak untuk bicara.. meskipun sebenarnya aku tidak mau menjelaskan ini, tapi untuk tidak memotong pembicaraan  seseorang selagi ia masih berbicara... bukannya melakukan hal seperti itu sudah lumrah di kalangan sosial? Kau bebas mau mendengarkannya atau tidak, aku tidak akan memaksa mu, tapi aku tidak mengerti apa maksudmu tidak membiarkanku untuk ngomong tadi?" (Pria misterius)

Sebagaimana dia meracau tadi, orang itu sesekali menghentak tanah dengan keras dengan ekspresi yang tidak senang dari wajahnya. Dan sambil ia menginjak tanah, dia menunjuk-nunjuk kearah Crusch dan Rem, mereka berdua tercengang tidak bisa berkata apa-apa.

"Nah sekarang kau malah terdiam, apa maksudnya ini? Kau mendengar ku. Kau mendengar ku 'kan? Bukannya aku lagi bertanya sesuatu kepadamu? Kalau gitu berilah aku jawaban dari pertanyaanku itu, harusnya gitu kan? Tapi kau tidak melakukan itu, tidak ingin melakukan itu. Ah, ah, kebebasan. Oke itu kebebasanmu. Kau melihat aku meracau seperti ini dan kau ingin membunuhku, lalu disaat aku menanyakan sesuatu kepadamu, kau tidak mempedulikanku seperti angin lewat saja. Gitu kan? Yah memang sih kau bebas untuk melakukann itu. Yah, anggap saja seperti itu. Terus, maksudmu itu apa?" (Pria misterius)

Melihat dua orang berdiri terdiam didepannya bersiap-siap untuk menyerang, dia memiringkan kepalanya dan menatap mereka dengan mata tajamnya, dan dibarengi dengan suara tertahannya,

"Kau mengabaikan satu-satunya kehebatanku ya?" (Pria misterius)

Dengan santainya, orang itu maju. Tangannya, mengeluarkan hembusan angin kecil.

Lalu, diposisi yang searah dengan gerakan lengannya - bumi, udara, dunia terbelah menjadi dua.

Berputar berputar dan berputar, Lengan kiri Crusch terputus terbang melayang di udara.

Masih dalam posisi memegang sarung pedang, lengannya yang kaku itu jatuh tergenang dalam lautan darah. Crusch, kakinya tertiup angin, lalu tumbang, menggelepar kesakitan dan kehilangan banyak darah.

"Crusch-sama–" (Crusch)

Terkaget sebentar, Rem langsung berlari ke tempat jatuhnya Crusch. Dia menaruh tangannya di lukanya Crusch dan dengan sisa "Mana" terakhirnya, memakai semua kekuatannya untuk menghentikan pendarahan itu.

Lengan Crush yang bercucuran, daging, tulang-tulang, syaraf-syaraf dan pembuluh darahnya, semua nya telah putus dengan sempurna. Melihat serangan yang cukup bersih dan terlihat mahir ini, Rem menarik napas dengan kekaguman yang tidak sepatutnya terjadi ini.

"Ferris… oh… kau?" (Crusch)

Berada dibawah tangan penyembuhnya Rem, Crusch mencoba melihat dengan penglihatannya yang bayang-bayang, sambil menggerutu, dan, dengan sisa tangannya yang utuh yaitu tangan kanannya, menggenggam erat lutut Rem. Bukti kalau dia masih mempunyai keinginan kuat untuk hidup.

No comments:

DMCA.com Protection Status