Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 3 Chapter 88 Part 2 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 3 Chapter 88 Part 2 Bahasa Indonesia

September 21, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Kirz
Editor: An-chan

Etoo... Ini adalah chapter sponsor. Karena barusan kami mendapatkan donasi dan donatur tersebut menunjuk novel ini, jadi kami percepat perilisannya.

Katakan terima kasih dulu dong buat mas donaturnya :3

Btw, chapter ini ada 6 part...

Anyway... happy reading :)

Volume 3 Chapter 88 Part 2:  Sorezore ni, Karera no Chikai!

—Dari waktu Subaru tiba di Ibu Kota, semuanya telah berakhir.

Percakapannya dengan Emilia sewaktu di jalan, semuanya telah hilang dari benak Subaru.

Terhadap gadis yang sedang duduk dengan nyaman di sebelahnya saat ini, Subaru seharusnya merasa puas dan lega, karena telah berhasil, berhasil, berhasil menyelamatkan nyawanya. Namun disaat ia terus-menerus memacu kecepatan gerobak naganya, orang yang hanya ada di benaknya, adalah gadis lain.
(TL Note: benak = Ingatan/Isi Kepala, untuk lebih lengkapnya: http://www.sinonimkata.com/sinonim-149108-benak.html)

"Siapa itu .. Rem?" (Seorang Gadis)

Terlihat bingung, Gadis itu mengatakannya sambil memiringkan kepala.

Subaru merasa bingung terhadap candaan gadis itu, sesuatu di dalam suara dan ekspresinya, Subaru berharap kalimat "Ohh engga-engga aku cuma bercanda kok~" terdengar keluar dari mulutnya..
Entah itu Petra, ataupun anak kecil lainnya, tidak ada satupun yang mengingat Rem.

Setelah mengetahui fakta ini dari semua orang di gerobak, Subaru memerintahkan si pengemudi untuk bergegas ke Ibu kota secepatnya. wajahnya yang putus asa, seolah-olah ia sedang berjalan menuju kematian.

Ini tidak mungkin. Pasti ada kesalahan disini.

Semuanya telah berjalan dengan baik. Semuanya telah terselamatkan, semua tujuan telah berhasil diraih. Walaupun menahan begitu banyak rasa sakit dan kesedihan, membawa begitu banyak luka, sampai hatinya tak akan pernah bisa untuk disembuhkan. Pada akhirnya semua itu telah berjalan dengan baik.

Tapi tetap saja–
(TL Note: Oke Subaru mulai sadar, saat ini dia lagi jalan sama Crusch menuju ruang tengah, tadi itu Flashback, disaat sebelum dia sampai Ibu Kota dan SETELAH IA BERHASIL MENYELAMATKAN CRUSCH & REM, author nya memang menulisnya seperti ini, adegan waktu itu di skips dan dijadikan misteri, dan nanti semuanya pasti akan dijelaskan di chapter slanjutnya, jadi baca terus ya :v..)

"Aha! Wah ternyata ada Subaru-kyun! Kau hebat Crusch-sama, kau berhasil menemukan seseorang yang suka ngelantur itu!" (Seseorang)

Dalam perjalanan menuju ke ruang tengah, karena terlihat berduaan di lorong, seseorangpun memanggil mereka (Subaru & Crusch).

Bergoyang-goyang dengan mengenakan gaun yang roknya tidak menutupi lutut, terbebaskan dari pakaian kstaria-nya, serta kuping kucingnya yang bergerak-gerak. Ferris berjalan mendekati mereka berdua dan dengan lemah lembut menggenggam tangannya Crusch.

"Ferris-san..." (Crusch)

"Panggil Ferris aja nyan~! Ferris dan Crusch-sama sudah saling mengenal dari dulu nyan~. kalau kamu masih saja menambahkan -san di namaku, aku akan mati dalam kesepian dan keputusasaan Nyan~" (Ferris)

Menggenggam tangan Crusch dengan satu tangannya, Ferris menggunakan tangannya yang lain untuk mencubit bahu Crusch. Dengan hubungan kasih sayang yang seperti itu, Crusch terlihat seakan-akan tidak yakin apa yang harus ia lakukan terhadap perbuatannya tadi, memang sudah sifatnya yang seperti itu. Dan dengan kata "Maaf" , Ia menundukkan kepalanya.

"Karena sudah bertingkah seperti yang barusan.. Meskipun ini tidak mudah, Aku akan mencoba melakukan yang terbaik, Ferris.. Yap. Hanya Ferris" (Crusch).

"Gak apa kok nyan~, karena Ferris akan selalu menjadi sahabat Crusch-sama, dan selalu berada di sisimu. Dan  menjadi satu dengan sisi imutnya Crusch-sama Nyan~, Ferris akan mencari seribu juta alasan untuk jatuh hati terhadap Crusch-sama nyan~, hanya dengan itu sudah membuat hati Ferris merasa bahagia Nyan~!" (Ferris)

Bermain-main dengan mengayun-ayunkan kedua tangan Crusch keatas dan kebawah, pada akhirnya Ferris memberinya sebuah kecupan.
(TL Note: Anyway buat yang bingung "kok tngannya utuh?",  kami gk pingin spoiler :v, liat aja nanti di chapter slanjutnya)

Melihat mereka berdua, kegelisahan yang muncul, membuat hati Subaru tidak tahan.

Walaupun Crusch telah berubah secara drastis, Ferris tetap saja memperlakukannya sama seperti biasa, dan tetap menerima apa adanya sama seperti biasa, ini adalah sesuatu yang jauh diluar dari apa yang bisa dimengerti Subaru.

Didalam senyumnya Ferris, berapa banyak tekanan batin yang selama ini ia sembunyikan dibalik senyumnya itu? Subaru tidak tahu, biarpun, fakta tentang ini dengan sendirinya memenuhi hati kecil Subaru dengan penuh perasaan.

"Subaru-kyun, sana ke ruang tengah nyan~. Emilia-sama dan Willhelm ojii-san sudah menunggu kita nyan~" (Ferris)

"…A..ah" (Subaru)

Subaru telah memasukkan beberapa maksud tertentu dalam ucapannya barusan, tapi Ferris mungkin tidak menyadarinya. Mengatakan "Mari, Crusch-sama", Ferris menuntun Crusch dengan genggaman tangannya.

Dalam atmosfir yang tak nampak diantara Subaru dan Ferris, Crusch mencoba untuk menyebunyikan keragu-raguannya yang tampak terlihat dari dahinya. Crusch melihat kearah mereka, kearah Subaru lalu dilanjutkannya menoleh kearah Ferris, dan pada akhirnya tak sanggup mengatakan apapun, tetap diam dibelakang Ferris

Mengambil nafas dalam-dalam, Subaru mengigit bibir dan memejamkan matanya.

Benaknya sedang diambang batas. Hatinya merasa kesepian. Dalam kondisi yang seperti itu, Subaru sebenarnya tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Tapi tak ada yang dapat dilakukannya. Dia tidak mungkin dapat berbohong hanya untuk menenangkan dirinya.

Karena satu-satunya hal terakhir yang ingin Subaru lakukan, yaitu menyalahkan nya karena rasa sakit hatinya.

Dengan cara seperti ini, dia memperlambat langkahnya masuk menuju ke ruang tengah.

Menyadari seluruh mata tertuju padanya, Subaru melihat ke sekeliling ruangan. Selain dirinya, di sana sudah ada empat orang, Emilia, Wilhelm, dan satu langkah di depan Subaru, terdapat Crusch dan Ferris.

Mengetahui bahwa ia yang terakhir sampai di ruangan itu, Subaru langsung menutup pintu yang ada di belakangnya, dan seperti biasa ia duduk di samping Emilia.

"Subaru.." (Emilia)

"Tidak masalah. Aku sudah tenang sekarang, Emilia-tan — Aku, baik-baik saja" (Subaru)

Terhadap panggilan kekhawatiran dari Emilia, Subaru membalasnya dengan senang hati. Hanya saja kedua matanya tidak tertuju pada Emilia. Lebih seperti, Dirinya tak sanggup untuk melihatnya.

Kalau Subaru melihat kedua mata Emilia sekarang, ia bisa saja membongkar rasa dengki yang sedang membara pada dirinya. Perasaan ini benar-benar mengisi penuh hatinya yang tidak dapat dikontrolnnya lagi.

"Sekarang semuanya telah hadir di sini, mari kita mulai saja!" (Ferris)

Dengan bunyi tepuk tangan, semua perhatian tertuju pada Ferris.

Tidak mungkin bagi Crusch untuk memimpin jalannya rapat ini dengan kondisinya yang seperti sekarang, jadi dia serahkan semuanya pada Ferris.

Meninjau kurang lebih setiap orang yang datang, Ferris berjalan menuju ke bagian depan ruangan dengan lengannya yang diangkat ke udara.

"Selama tidak ada yang keberatan Nyan~, mari kita diskusikan masalah yang sedang melanda kita saat ini" (Ferris)

Demikianlah, dengan senyumannya, sebuah rapat di mana setiap orangnya berkeinginan menyelesaikan masalah dengan caranya masing-masing, dimulai.

No comments:

DMCA.com Protection Status