Asteria; - Canis Major Chapter 1 [Original Novel] - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Asteria; - Canis Major Chapter 1 [Original Novel]

October 27, 2016 Pipo Narwastu


Author: Ram-kun

Chapter 01; Tujuh Pengetahuan Dasar.


[-Welcome to Asteria, Rugard-]


Pesan itu muncul di layar menuku.

Apa ini?

Apakah ini di dalam game Asteria terbaru?

Benarkah?

Selagi aku disibukan dengan pikiranku sendiri, muncul sebuah notifikasi.


[-1 New Message-]


Pesan masuk? Dari siapa?

Kulihat orang-orang disekitarku juga sibuk dengan layar menu mereka masing-masing. Apa mereka juga dapat?

Tanpa ragu-ragu, aku membuka pesan itu.


[-Tujuh Pengetahuan Dasar-]

[-1. Nama asli dilarang.-]

[-2. Orang yang mati harus dikremasi-]

[-3. Yang bukan berasal dari dunia ini dapat berkembang lebih pesat daripada pribumi.-]

[-4. Status dasar, skill, bakat, rank, serta class yang dapat kalian pilih ditentukan oleh kualitas diri kalian-]

[-5. Kebebasan berserikat yaitu bebas bergabung dengan guild, dan membuat guild.-]

[-6. Menentang kebijakan gereja akan di cap sebagai ‘Kafir’.

[-7. Exceed dan Demon tidak pernah akur.-]


Rupanya goa termpat kami terbangun merupakan bagian dari reruntuhan. Entah itu reruntuhan apa, tetapi cukup mencurigakan karena disana terdapat berbagai hal-hal mistis seperti lingkaran sihir, patung-patung seram, serta sebuah altar aneh diatas tangga yang menjulang cukup tinggi. Kalau kuperkirakan, tinggi altar itu dari lantai tempat kami berpijak sekitar 4-5 lantai sebuah gedung. Keluar dari goa, kami melihat sebuah padang rumput yang luas hingga terlihat garis horizon. Di berbagai sudut padang rumput yang luas itu terlihat kumpulan pepohonan yang bisa dipastilkan sebagai hutan. Pemandangan seperti ini tentunya mengagetkan puluhan ribu orang yang ada disini karena di bumi sudah pasti sangat sulit untuk menemui pemandangan seperti ini.

Kami menggunakan altar sebagai panggung dan memulai rapat besar.

Salah satu orang naik keatas altar. Dia seorang kulit putih dengan rambut cepak dan badan yang tinggi. Mungkin sekitar 190cm dan tubuhnya cukup terlihat bagus dengan hanya menggunakan kaos yang tidak bisa menutupi kekekarannya..

[Ehem. Mungkin karena kita harus segera memulainya jadi aku berinisiatif untuk memimpin rapat ini. Jadi kita akan mulai membahas permasalahan-permasalah yang saat ini ada dibenak kita semua. Jika ada yang ingin bertanya atau mengutarakan pendapat angkat tangan kalian dan jika perlu kalian juga bisa naik ke altar ini agar semua orang disini dapat melihat kalian. Ok?]

Mereka mulai berbicara satu sama lain dengan orang-orang yang ada didekat mereka hingga seseorang berkepala botak berkata [Hei!! Perkenalkan dirimu dulu sebelumnya! Kami mana mungkin akan terus memanggilmu dengan ‘Kau’ atau ‘Hei’ terus jika kau ingin memimpin diskusi ini.] dengan lantang.

[Oh maaf. Aku berasal dari Mexico dan… namaku.. emm…] orang mexico itu ragu untuk melanjutkan.

[Apa? Kenapa? Kau tidak ingat namamu sendiri?] tanya si botak dengan nada yang terdengar sedikit mengejek.

[Ermm.. bukan. Kau tau mengenai pengetahuan dasar pertama? Sepertinya akan terjadi sesuatu yang buruk bila kita mengabaikan ini.] (Orang Mexico)

Dengan pernyataan dari orang mexico itu, sepertinya hal pertama yang akan kami bahas adalah soal nama.

[Memangnya kenapa? Mungkin itu hanya peraturan untuk game yang mengharuskan kita menggunakan nama akun game masing-masing untuk menjaga privasi. Di dalam game online itu hal yang wajar kan?] (si botak)

[Tidak. Untuk berjaga-jaga kita tidak boleh mengabaikan ini dan menganggap remeh. Kita bahkan tidak tau kalau ini benar-benar game atau bukan. Apa kau melihat menu log-out pada Collarmu? Kita bahkan belum log in sama sekali.] seseorang dengan rambut berponi yang menutupi salah satu matanya menjawab si botak.

[Hah? Apa kau juga seorang pengecut seperti si mexico culun ini? Kau pikir apa yang akan terjadi bila hanya menyebutkan nama? Hah?] si botak semakin meninggikan suaranya. Sepertinya ia tipe orang yang tempramen. Orang yang benar-benar paling tidak ingin aku terlibat dengannya.

[Kalau begitu kenapa kau tidak menyebutkan sendiri namamu saja dan lihat apa yang akan terjadi, botak!] jawab si pria bermata satu itu.

[Apa??!! Kau berani menyebutku apa, bocah culun??!!] si botak mulai dikendalikan emosi.

Beberapa orang mulai berisik membicarakan si botak. Bahkan beberapa ada yang berteriak [benar-benar! Kalau tidak kau saja yang menyebutkan namamu? Botak!] tanpa diketahui siapa yang bersuara itu.

[HAH? Siapa tadi yang berani lagi menyebutku botak?! Oke kalau itu yang kalian inginkan.]

Si botak naik ke altar dan menghadap kami semua. [Namaku adalah Ronald Bradley! Ingat itu baik-baik dasar kalian pengecut!!!] ujar si botak sambil menghina kami semua.

*huuuuuuuu… beberapa orang, tidak. Bahkan hampir semua yang ada disini menyoraki si botak.

[Apa kalian?!! Cuma sekumpulan penakut yang Cuma bisa meledek orang dari belakang. Kalau mau maju keatas sini satu-satu!] ujar si botak memprovokasi.

[Sudah-sudah.] Si orang mexico berusaha menenangkan. [Tuan Bradley, terima kasih karena telah menunjukan keberanian anda dan maaf karena paranoidku yang berlebihan.] ujar si orang mexico dengan tulus dan sungguh-sungguh. Kesungguhannya dalam meminta maaf bahkan sampai membuat si botak menjadi diam dan tergagap.

[A-ah s-sudahlah. Kalian para pengecut hanya harus belajar lagi dan contohlah diriku yang pemberani ini.] jawab si botak dengan bangganya.

Sambil melihat kearah kami semua, orang mexico itu mulai bicara.

[Baiklah, perkenalkan namaku Lawrenz Crus. Baiklah, kita mulai diskusi ini.] (Lawrenz)

Tiba-tiba Player Collar milik Lawrenz berkedip-kedip sambil mengeluarkan bunyi. Lalu muncul jendela menu berwarna merah muncul. Ada tulisan terlihat di jendela itu, entah mengapa membuat Lawrenz menjadi pucat. Dengan cepat, Lawrenz menghadap kami dan berteriak.

[Semuanya!! Jangan pernah sebutkan nama asli kalian!! Jangan pernah!!!] teriak Lawrenz dengan sekuat tenaga sehingga suara yang terdengar memekik seluruh sekitar altar.

Tiba-tiba sebuah asap hitam dan rantai entah dari mana muncul dan mengikat seluruh tubuh Lawrenz. Ujung rantai itu terlihat memiliki pasak dan perlahan-lahan naik dari bawah kaki menuju dada Lawrenz. Lawrenz terlihat panik, begitu juga para penonton. Setelah mencapai dada, pasak itu dengan cepat masuk kedalam dada Lawrenz begitu saja seperti menembusnya.

Lawrenz pun terdiam.

Kami semua terdiam.

Di dalam keheningan itu, tiba-tiba Lawrenz muntah darah dan ambruk. Si botak menghampirinya, diikuti beberapa laki-laki yang dengan segera naik ke Altar.

[Minggir!! Aku seorang dokter, biar aku yang memeriksanya.] teriak seseorang yang merupakan salah satu dari pria yang naik ke altar.

Dia membalikkan tubuh Lawrenz yang jatuh telengkup. Memeriksa matanya dan detak jantungnya.

[D-dia… mati..] ujar si dokter seusai memeriksa Lawrenz.

Orang-orang mulai gaduh. Bahkan beberapa ada suara jeritan perempuan. Suasana mulai rebut dan tidak kondusif.

[M-Mengapa dia mati?] ucap salah seorang.

[Apa dia mati karena menyebutkan namanya?] salah seorang lagi ikut berbicara.

[Tapi, bukankah Tuan Bradley tidak apa-apa?] seseorang menimpali.

[Terus kenapa ini terjadi????] jerit suara seorang perempuan.

[Tidak! Tidak! Aku tidak ingin mati!!] teriak seseorang dengan putus asa.

[Mati? Tidak!! Aku juga tidak ingin mati!!] seseorang diantara yang mendengarnya mulai tertular keputusasaan dari orang yang memulai tadi.

Beberapa dari mereka mulai semakin gaduh. Jeritan dan teriakan mulai menyebar dimana-mana.

[DIAAM KALIAN SEMUAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!] teriak seseorang dengan rambut perak yang berdiri kebelakang. Dia salah satu dari orang yang naik ke altar tadi saat Lawrenz tiba-tiba jatuh.

Mereka semua yang ada disini mulai melihat kearah orang itu. Dengan menarik nafas panjang, orang itu melanjutkan kata-katanya.

[Kalian pikir dengan panik dan putus asa akan menyelamatkan kalian? Hah? Kalian tidak ingin mati? Mati hah? Semua makhluk bernyawa juga tidak akan menginginkannya bodoh! Dan untuk para perempuan, berhentilah menjerit karena itu memekikkan telingaku atau kuperkosa kalian!] si rambut perak berkata demikian, tapi aku tidak merasakan bahwa ia dikendalikan oleh emosi. Justru dialah yang mengendalikan emosinya dan menyalurkannya pada tiap-tiap kata yang di keluarkan. Orang ini berperawakan kasar, tapi menurutku dia tipikal orang dengan karisma tinggi yang dapat menjadi pemimpin dimana semua pengikutnya akan mematuhi bahkan mengaguminya.

[Baiklah, kita lanjutkan saja. Yang terjadi biar lah terjadi.] jawabnya dengan santai. [Pertama, aku ingin menanyakan sesuatu.] si rambut perak mendekati Bradley dan menatap matanya dalam-dalam.

[KAU!! Apakah Ronald Bradley nama aslimu?] tanya si rambut perak dengan sedikit melotot pada si botak.

[E..Errmmm.. i-itu..] si botak mulai kaku dan berkeringat. Wajahnya juga panik dan terlihat ketakutan.

[Jawab dengan tegas! Atau kepalamu yang bundar itu mau kujadikan bola sepak?] si perak semakin mengintimidasi si botak.

Meskipun si botak lebih tinggi dan besar dari si perak, tetapi kami semua dapat melihat bahwa si botak tidak ada apa-apanya dihadapan si perak. Dia benar-benar mati kutu. Dengan rahang yang bergetar, ia mulai berbicara.

[I-itu namaku. Atauuu.. bisa dibilang b-bukan nama juga sih..] jawab si botak dengan bertele-tele.

[Jangan bertele-tele kau! Katakana dengan jelas!] si perak mulai semakin melotot.

[i-… tu.. namaku.. yang.. b-biasanya ku pakai saat kencan buta. Ha..hahaha] si botak mulai berusaha tertawa.

[Jadi itu bukan namamu? Hah?] si perak semakin melotot dan mendekatkan matanya ke si botak.

[I-i-i-i-iya.] jawab sibotak terbata.

[Kalian dengar semuanya??!! Si botak ini tidak menyebutkan nama aslinya dan Lawrenz yang menyebutkan nama aslinya seperti yang kita lihat telah mati. Ini berarti kita harus menganggap serius pesan itu mengenai tujuh pengetahuan dasar ini. Dengan ini kunyatakan bahwa nama asli dilarang!] seru si perak pada kami semua.

Orang-orang mulai bergemuruh. Beberapa diantara mereka mulai membicarakan si botak dan merendahkannya. Bahkan ada yang dengan lantang berkata bahwa kematian Lawrenz karena salah sibotak itu. Mendengarnya, si botak hanya bisa jatuh lemas dan melihat kebawah. Bisa kubayangkan bahwa perasaannya saat ini mengatakan bahwa ia serasa ingin mati saja. Kalau kau ingin benar-benar mati, tinggal sebutkan saja nama aslimu disini kan? Dasar botak!

[Kalian semua, apakah kalian mengingat nama orang lain selain nama kalian sendiri?] tanya si dokter.

Mereka mulai bergemuruh lagi. Si perak menjawab si dokter.

[Tidak. Hanya namaku yang kuingat, tetapi kenangan sebelum tiba di tempat ini masih bisa kuingat dengan jelas.] (Si perak)

Satu persatu dari mereka mulai menyatakan kalau kondisi mereka juga sama dengan si perak.

[Berarti, pengetahuan dasar yang pertama ini mungkin alasan mengapa kita tidak bisa mengingan nama selain dari nama kita sendiri.] (si dokter)

[Baiklah, kalau begitu mulai dari sini aku yang akan memimpin diskusi. Bagi kalian yang ingin berpendapat atau bertanya angkat tangan dan naik ke altar. Akan merepotkan bila suara kalian tidak terdengar dari sana oleh yang lainnya. Dan juga, karena merepotkan bicara tanpa nama, sebaiknya kita menggunakan nama akun saja. Kalian bisa memanggilku Latti.] (si perak)

Diskusi pun dimulai kembali sehingga kami menemukan beberapa kesepakatan diantaranya;

1. Patuhi semua yang ada pada tujuh pengetahuan dasar yang tertulis pada pesan yang didapat.

Dikarenakan tidak tau apa akibat bila mengabaikan tujuh pengetahuan dasar ini, maka kami semua sepakat untuk mengikutinya saat ini sambil mencari tau informasi lebih lanjut.

2. Berbagi informasi dengan fitur broadcast yang terdapat pada Player Collar.

Player Collar masih berfungsi dengan baik. Diantaranya terdapat fitur untuk berkomunikasi via pesan maupun telepati. Sedangkan broadcast sebutan untuk pesan massal yang dikirimkan ke sejumlah besar pengguna sekaligus. Maka kami memanfaatkan fitur ini untuk saling berbagi informasi.

3. Berpencar dan cari kota atau pemukiman manusia diarea sekitar.

Jelas sekali kalau kami berada di lokasi yang tidak terlihat adanya manusia. Maka dari itu kami akan berpencar ke kota terdekat guna mencari informasi dan kebutuhan hidup.

4. Ini bukanlah game.

Kesimpulan ini kami dapatkan setelah adanya kerusuhan sebelumnya. Nampaknya ada beberapa orang yang tidak bisa tenang hingga menimbulkan kekacauan dan berakhir pertengkaran. Kami merasakan sakit dan dapat terluka. Tidak mungkin ini didalam game.

5. Kami dapat mengerti satu sama lain bahkan dengan menggunakan bahasa yang berbeda.

Si botak, Latti dan si Dokter Louise mengaku menggunakan bahasa inggris karena melihat semua yang ada disini berasal dari berbagai Negara yang berbeda. Sedangkan beberapa orang ada yang mengaku tidak bisa berbahasa inggris, namun mereka bertiga terdengar baginya seperti menggunakan bahasa dari negaranya. Bahkan Latti mencoba menggunakan bahasa-bahasa yang berbeda seperti jerman, perancis, jepang, mandarin, dan arab. Sepertinya mereka semua bisa memahaminya, tetapi bagi mereka yang tau mengenai bahasa-bahasa itu, mereka tau perbedaannya saat Latti menggunakan bahasa yang berbeda. Misalnya ia berganti dari bahasa inggris ke bahasa spanyol, maka orang-orang yang tidak mengerti bahasa spanyol tetap bisa mengerti ucapan Latti, tetapi mereka tau kalau Latti sedang menggunakan bahasa lain. Sebenarnya siapa Latti ini? Berapa banyak bahasa yang ia kuasai?


Setelah rapat besar, aku berhasil berkumpul dengan orang-orang yang ku kenal karena aku menhubungi mereka lewan pesan. mereka adalah rombonganku dan rombongan Maxis. Ternyata Maxis dan teman-temannya masih menggunakan kostum. Kecualikan Maxis dan teman-temannya, anehnya aku tetap tidak bisa mengingat nama-nama dari rombonganku.


[Yooo! Sahabatku yang tidak kuketahui namanya] (sahabatku)

Dia menyapaku dengan nada bercanda.

[Anda siapa ya?] (aku)

Aku menjawab candaannya.

[Seorang pria tampan dan pemberani serta baik hati, jujur dan tidak sombong] (sahabatku)

[Hahahahaha]

Kami berdua pun tertawa untuk mengakhiri candaan kami ini.

[Haduuh kalian ini masih saja sempat-sempatnya bercanda padahal keadaannya seperti ini] (Suara Perempuan)

Salah satu teman perempuanku yang berkuncir menunjukan reaksinya terhadap kelakuanku dan sahabatku. Sama saja, aku tidak bisa mengingat namanya.

[Baiklah-baiklah saatnya kita mulai serius. Pertama-tama, apakah kalian semua tidak bisa mengingat nama-nama orang yang kalian kenal selain nama kalian sendiri?] (Maxis)

Maxis memulai memasuki pembicaraan dengan lansung ke masalah utamanya.

[Tidak] (aku)

[Tidak!] (sahabatku)

[Aku juga tidak] (teman perempuan berkacamata)

[Anehnya tidak] (teman perempuan berkuncir)

[Sama, aku juga tidak] (Celes)

[Tidak sama sekali] (Mirda)

Dan terakhir kami semua menatap gadis itu.

[Hmm.. aku juga tidak] (gadis itu)

Begitukah? Dengan kata lain kau juga melupakan namaku ya?

Hhh, sebuah rasa frustasi tidak penting muncul.


[Baiklah, karena tadi kita sudah setuju untuk menuruti apa yang pesan itu katakan, jadi sebaiknya kita tidak membocorkan nama masing-masing untuk saat ini. Jadi, sebaiknya kita menggunakan nama dari nickname Player Collar kita saja seperti si Latti itu.] (sahabatku)

[Iya, sepertinya itu yang terbaik untuk saat ini] (aku)

[Iya, aku juga setuju] (Maxis)

Dan semuanya kelihatannya tidak ada yang keberatan.

kesimpulannya, aku sebagai Rugard, sahabatku sebagai Lawbang, teman perempuan berkacamata sebagai Mega, teman perempuan berkuncir sebagai Risty, gadis itu sebagai Marry, lalu ada Maxis, Celes, dan Mirda yang memang sejak awal tidak kuketahui nama aslinya.


Kami memutuskan untuk bergerak menuju hutan yang terlihat di seberang padang rumput. Sekitar tiga kilometer jaraknya, jadi mereka berjalan sambil berbincang-bincang.

Aku tidak ikut dalam perbincangan karena tidak terlalu tertarik, jadi aku hanya mendengarkan saja percakapan mereka. Lawbang juga hanya berjalan dibelakangku sambil mendengarkan.

[Ngomong-ngomong kalian bertiga belum pernah memainkan Asteria Online kan? Apa kalian ke festival cuma karena ingin mencoba Asteria terbaru, atau kah kalian ini sedang kencan berpasangan atau gimana?] (Maxis)

Hey, memulai pembicaraan seperti itu? Sepertinya ia berusaha langsung akrab dengan ketiga gadis itu. Dasar orang ganteng. Lagian kalau kencan berpasangan, bukankah jumlah lelakinya kurang? Ada-ada saja.

[yaampun, tidak lah. Lagipula kalau kami kencan pasangan bukankah jumlah laki-lakinya kurang?] Mega menjawabnya dengan sedikit malu-malu.

[Ya mungkin saja salah satunya pasangan bertiga. Hahaha] (Maxis)

[Haaaah?] aku dan Lawbang menunjukan reaksi tersinggung.

[Hahaha, bercanda-bercanda. Lagian kalian berdua juga terlihat terlalu tampan jika hanya memiliki satu kekasih, bukankah begitu?] (Maxis)

[Hmm.. Benar juga. Aku terlalu tampan sehingga sepertinya sayang jika cintaku hanya dimiliki seorang perempuan saja.] (Lawbang)

Aku tertawa kecil dalam hati mendengarnya. Ya, dia memang selalu seperti itu.

[Mereka berdua memang tampan, tetapi justru aku khawatir mereka malah terikat hubungan terlarang. Rata-rata orang homo kan selain identic dengan kekar, banyak juga yang identic dengan tampan. Hehehe.] (Risty)

Aku akan mengabaikannya saja. Memang jika Lawbang itu lawan jenis, aku pasti sudah jatuh cinta padanya karena betapa dekatnya kami. Tapi sorry, tidak ada sama sekali dalam benakku niatan untuk menyukai sesama jenis dan tidak akan pernah. Padahal kalau dipikirkan baik-baik sebenarnya Risty itu menyimpan rasa pada Lawbang. Tapi si bodoh ini entah dia menyadarinya atau tidak perasaan Risty, ia selalu menggodanya sehingga bisa dilihat perasaan Risty makin lama semakin berkembang.

[Aaah Risty manisku, apa kau cemburu dengan hubungan aku dan Rugard? Apakah itu bisa kuartikan sebagai tanda bahwa kau ingin lebih kuperhatikan? Hmm?] (Lawbang)

[K-kau.. appa, apaan-apaan sih? Siapa juga yang cemburu sama pasangan homo. Week] Jawab Risty dengan wajahnya yang mulai memerah.

Tuh kan, seperti yang kukatakan. Hhh..

[Hey sahabatku! Apa tidak sekalian kau nembak Risty sekarang dan buktikan kalau kita ini bukan pasangan homo? (aku)

Aku memberikan sedikit bantuan untuk Risty. Sambil menatap ke arahnya, aku memasang ekspresi muka seperti berkata ‘Berterimakasihlah padaku nanti!’.

Tetapi sepertinya reaksinya malah berbalik. Risty malah terlihat kelabakan.

[Oh benarkah? Risty, apakah itu yang kau mau?] (Lawbang)

[ng..ngNGGAk, bodoh!] jawab Risty sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya.

[Tetapi, bukankah kau juga ingin bukti kalau tidak ada apa-apa diantara aku dan Rugard?] (Lawbang)

[NGGAK bodoh! Iya-iya, kau tidak perlu sampai segitunya karena kita semua tau kalau Rugard masih menyimpan rasa pada Marry meskipun mereka sudah putus hampir setahun] (Risty)

Astaga! Dia menjatuhkan bom yang tidak seharusnya. Sebelum aku mengeluarkan kata-kata, Marry mendekat kearah Risty, menggenggam erat kedua pundaknya dan menatap matanya dari dekat dengan ekspresi melotot yang dengan sekejab membuat seluruh tubuh Risty kaku.

[Ristyyyyyyyyyy!] ucap Marry sambil melotot.

[M-Maaf, maaf, ampun! Aku tidak sengaja. Sumpah!] jawab Risty dengan wajah pucat dan hampir mengeluarkan air mata.

“”Hening””. Beberapa saat tidak ada suara diantara kami ketika melihat adegan ini. Namun suara seseorang akhirnya memecahkan keheningan.

[Sudah-sudah, jangan bertengkar kalian berdua. Sebenarnya aku dan Mirda juga mantanya Maxis. Iya kan Mirda?] suara Celes yang indah dengan nada dewasa berusaha mengalihkan pembicaraan dengan membongkar bagian dari cerita mereka.

[Eeh Celes!] ucap Mirda berusaha mengeluarkan keberatannya.

[Tidak apa-apa Mirda. Kalian semua lihat! Meskipun masa lalu kami seperti ini, tetapi kami tetap akrab kan? Jadi kalian juga seharusnya bisa seperti kami] ucap Celes sambil memeluk Mirda.

[Hmmph] jawab Mirda sambil mengembungkan pipinya.

Suasana pun kembali tenang. Bisa kulihat Maxis mengelap keringatnya, sedangkan Risty yang mengekori Marry yang masih cemberut untuk meminta maaf.

Hadeeeh, ada-ada saja.






Dan akhirnya kami sampai di hutan yang kami tuju.

Pohon-Pohon menjulang tinggi menutupi langit, sehingga didalam hutan terasa lebih sejuk dibandingkan dengan di padang rumput tadi.

[Hei, kalian dengar itu? Aku mendengar suara air.] (Lawbang)

[Benarkah? Mungkin itu sungai. Kita bisa istirahat disana.] (Maxis)

Para perempuan mulai terlihat lega. Bisa dilihat dari wajah mereka kalau mereka sudah kelelahan karena berjalan terus dari tadi. Dan tentunya kami haus dan lapar.

Aku memejamkan mataku dan berfokus pada indra pendengaranku. Benar, bisa kudengar ada suara aliran air. Mungkin jaraknya sekitar 20-30 meter dari sini.

[Ayo, dari suaranya sepertinya lewat sini] ucap Maxis berusaha memimpin yang lainnya.

Hmm.. sepertinya ia terus berusaha untuk terlihat keren didepan para wanita. Seperti yang kuduga dari seorang Maxis.

Kami pun sampai di lokasi sumber suara itu.

seperti yang diduga, sungai yang terlihat dangkal dengan aliran tenang tepat berada didepan kami.

[Yahuuu, istirahat] (Mega)

[Hhhhh, akhirnya] (Marry)

[Aku haus. Ada yang bisa digunakan sebagai wadah air tidak?] (Mirda)

[Pakai tangan saja kan bisa] (Maxis)

[Aku tidak bicara padamu!] jawab Mirda judes.

Mengingatkanku pada masa lalu. Sepertinya keadaan Maxis dan Mirda sedikit mirip denganku dan Marry. Yaaah, meskipun keadaan mereka sepertinya masih lebih baik dariku.

[Kami bertiga akan mencari sesuatu yang bisa dimakan. Kalian para perempuan bisa istirahat. Setelah itu kumpulkan kayu dan daun kering untuk membuat api.] (Lawbang)

[Siaap!] (ladies)


Kami bertiga meninggalkan mereka dan mulai memasuki hutan untuk mencari makanan. Sepertinya kami dapat menemukan buah-buahan atau tanaman muda yang bisa dimakan. Membuat perangkap untuk menangkap binatang sepertinya juga bisa.

[Jadi, kita mulai darimana nih?] (Maxis)

[Kita membuat perangkap dulu untuk menangkap hewan sekaligus membuat senjata seperti tombak bila ada hewan buas yang menyerang] (Lawbang)

[Hey, apa pedang-pedangan yang ada dipinggangmu itu cukup keras?] aku bertanya pada Maxis sambil menunjuk pedang-pedangan yang ada dipinggangnya yang merupakan bagian dari kostum Warrior miliknya.

[Oh, ini? Ini besi asli loh. Meskipun tidak tajam sih] (Maxis)

[Sudah kuduga dari seorang Maxis. Tidak tanggung-tanggung hanya untuk aksesoris. Biasanya orang menggunakan pedang-pedangan dari karton untuk cosplay] (aku)

[Jangan samakan aku dengan mereka. Tentu saja aku ini lebih profesional. Bukan level ku memakai pedang karton] (Maxis)

[Haha, yasudah. Yang penting sekarang kita menyiapkan perangkapnya. Kalian menyebar dan cari jejak hewan, lalu pasang perangkap masing-masing dan cari tanaman yang bisa dimakan. Kita kumpul lagi disini nanti dan gunakan batu atau apapun untuk membuat tanda agar tidak tersesat.] (Lawbang)

Kami bertiga mulai berpencar.

Aku melihat sekitarku untuk mencari tanaman atau jejak hewan sambil berjalan hati-hati dikarenakan banyaknya semak-semak yang mengganggu pergerakanku.

Kulihat ada beberapa tumpuk daun yang terlihat seperti sudah diinjak oleh binatang kecil. Dari bentuk jejaknya sepertinya mirip telapak tangan kucing, jadi kusimpulkan saja kalau ini jejak kelinci karena telapak mereka mirip.

Sejujurnya, aku tidak terlalu paham mengenai perangkap. Jadi aku mulai berpikir bagaimana memulai untuk membuat perangkap. Seingatku di film-film mereka menggunakan kulit pohon sebagai tali, lalu saat seekor hewan menginjaknya kakinya akan terikat oleh tali itu dan hingga akhirnya hewan itu tergantung. Tetapi tetap saja aku tidak tau lebih jelas tentang mekanismenya.

Jadi aku mulai menggali. Menggunakan kayu yang kudapatkan disekitar untuk menggemburkan tanah dan tanah yang sudah digemburkan dengan tanganku. Kugali dengan ukuran 40x20 cm dengan kedalaman sepanjang lenganku. Sekitar 20 menit berlalu dan akhirnya selesai. Huuufh, melelahkan juga. Tetapi aku masih khawatir dengan kedalamannya. Bagaimana bila hewan yang masuk kedalam lubang ini berhasil keluar karena lubangnya kurang dalam? Tetapi menggalinya lagi akan sangat merepotkan. Aku melihat gundukan tanah hasil dari galianku. Aku menggunakan tanah-tanah itu untuk meninggikan bibir lubang yang kubuat tadi hingga jarak dari dasar lubang dan mulut lubangnya meningkat tanpa harus menggalinya lagi. Dan selesai, lubang yang kubuat terlihat seperti bukit kecil dengan lubang di tengahnya. Dengan lubang sebesar ini untuk ukuran kelinci pasti muat dan tidak akan sanggup keluar. Aku menyusun ranting-ranting kecil yang cukup rapuh di depan mulut lubang, dan menaruh daun-daunan diatasnya untuk menutupi lubang itu. Sebagai tambahan, aku menaruh buah bulat kecil berwarna merah yang kutemukan di semak-semak. Sebelumnya kulihat ada burung-burung yang memakan buah ini, jadi kusimpulkan kalaui buah ini bisa dimakan.

Setelah menaruh tiga buah itu diatas lubang perangkap dan meninggalkannya, aku mulai mencari tanaman-tanaman lain yang dapat dimakan.

Setengah jam kemudian, tanganku sudah cukup penuh dengan berbagai makanan yang kutemukan.

*srek-srek. Bisa kudengar suara sesuatu yang bergerak menuju kemari.

Aku mulai meningkatkan kewaspadaanku dan bersembunyi dibalik pohon.

*srek-srek-srek, dari suaranya sepertinya ia akan segera keluar dari tumpukan semak-semak itu. Dan akhirnya sesosok manusia keluar terlihat dengan wajah agak panik. Rupanya itu adalah Maxis.

Aku yang menyadari itu adalah Maxis akhirnya menunjukan diri dan menghampiri Maxis.

[Rugard! *Hosh *hosh.] panggil Maxis padaku.

[Hey, ada apa? Kok panik begitu?] (Rugard)

[Goblin! Aku lihat ada sekumpulan goblin di sungai bagian sana *hosh*hosh. Jika mereka menyusuri sungai, maka gadis-gadis akan berada dalam bahaya!] jawab Maxis sambil berusaha mengatur nafasnya.

Aku akhirnya mengerti kenapa dia panik. Goblin? Jadi kita sekarang benar-benar berada di dunia fantasi? Masih agak sulit kupercaya, tetapi prioritas utama sekarang adalah keselamatan para gadis.

[Apa kau yakin itu goblin?] (Rugard)

[Yakin! Kulit hijau, telinga runcing, muka jelek dan tubuh pendek. Sudah pasti itu goblin!] (Maxis)

Dengan segera aku bergerak menuju tempat pertemuan tim pencari makanan.

[Hei, kita mau kemana?] (Maxis)

[Ketempat pertemuan kita dengan Lawbang. Setelah bertemu dengannya, kita bergegas kembali ke sungai.] (Rugard)

Aku mempercepat langkah kakiku. Keringat dingin mulai membasahiku. Aku harus cepat sebelum hal terburuk terjadi.

Goblin adalah monster humanoid dengan kecerdasan hampir seperti manusia meskipun hanya sampai level anak kecil. Tetapi yang berbahaya adalah kebiadaban mereka yang tidak segan membunuh. Apalagi yang paling parah mereka menculik perempuan dan memperkosa mereka sebagai hiburan sekaligus cara bereproduksi dengan menghamilinya. Itulah hal terburuk yang dapat terjadi yang sangat kutakuti.

Sesampainya disana, kami tidak melihat Lawbang berada disini. Sial, apakah kami harus menunggu dia sebelum kembali ke sungai?

[KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! TOLONG!!]

Aku dan Maxis tersentak mendengar suara jeritan perempuan. Aku mengenal suara ini. Ini suara Mega.

Aku memecahkan salah satu buah merah yang kubawa. Kugunakan sebagai tinta, aku mulai menggambar tanda panah yang menunjuk kearah sungai pada pohon terdekat. Dengan tanda panah merah kuharap Lawbang yang melihatnya akan langsung menyimpulkan untuk ke lokasi yang ditunjuk.

Aku dan Maxis bergegas berlari menuju sungai. Dapat kudengar beberapa kali teriakan dan jeritan hingga membuatku semakin panik. Setelah berhasil menembus kumpulan pepohonan, kami berhasil sampai di lokasi yang dituju.

Disana ada Celes yang memegang kayu yang terbakar sebagai senjata pertahanan diri berusaha menghalangi para goblin mendekati para gadis. Bisa kulihat Risty disampingnya memegang tongkat kayu sedangkan Mega duduk disamping Mirda yang pingsan sambil menahan rasa sakit yang sepertinya berasal dari lengannya karena terdapat luka dengan darah yang mengalir keluar.

[Cih, keparat!] Maxis yang marah segera mengeluarkan pedangnya dan berlari kesana.

Aku menaruh buah-buahan yang ku pegang ke tanah, lalu mengikuti Maxis dibelakangnya. Lima goblin terlihat. Mereka semua bersenjata. Dua menggenggam pisau, dua menggenggam kapak batu dan satu memegang pedang kecil berada paling depan.

[Mati kelian keparat!] Maxis mengayunkan pedangnya kearah goblin berpedang kecil dengan tebasan vertikal.

Goblin berpedang kecil mundur untuk menghindari tebasan Maxis dan secepatnya melakukan serangan balasan dengan menusukan pedangnya kearah Maxis. Maxis yang sedikit panik perhasil menangkis dengan pedangnya dan berhasil menebas balik goblin itu di bagian pundak kirinya. Tetapi seperti yang diduga bahwa serangan Maxis tidak memberi luka berat karena sebenarnya pedangnya hanyalah besi tumpul. Goblin berpedang kecil dengan cepat bangkit meskipun terlihat sedikit merintih kesakitan karena serangan pedang tumpul Maxis. Kemudian dia tertawa dan diikuti oleh teman-temannya menertawakan Maxis karena pedang tumpulnya.

Maxis mulai terlihat kesal, tetapi dia tetap berusaha melawan para goblin meskipun hanya bersenjata pedang tumpul.

Mereka masih menertawakan Maxis. Perhatian mereka semua tertuju pada Maxis sehingga mereka tidak menyadariku yang sudah berada dibelakang mereka.

Aku mendekat perlahan mendekati goblin dengan kapak batu yang berada paling belakang. Perlahan mengulurkan kedua tanganku untuk meraih kepalanya dan dengan cepat kuputar searah jarum jam hingga wajahnya yang jelek itu menghadap kearahku. Leher goblin itu mengeluarkan bunyi *krek seperti sesuatu yang patah. Bisa kulihat wajah jeleknya terkejut sebelum akhirnya matanya mulai kehilangan fokus dan akhirnya tubuhnya jatuh ketanah. Mendengar suara jatuh dibelakang mereka, para goblin menghadap kebelakang dan tatapan mereka kini tertuju padaku.

Tanpa membuang waktu, aku mengambil kapak batu dari goblin yang baru saja kubunuh dan menghantamkannya ke kepala goblin terdekat yang juga menggenggam kapak batu. Darah dan isi kepalanya berceceran di tanah.

Goblin lainnya terkejut dan mulai terlihat panik sambil mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dariku. Melihat kapak lain jatuh ditanah, aku meraihnya dengan tanganku yang sedang kosong dan sekarang aku menggenggam kapak batu dikedua tanganku.

[Hei kalian! Dimana Marry?] karena aku tidak melihat Marry diantara mereka, aku menanyakannya.

[Di..Dia dibawa… o-oleh goblin b-besar.] jawab Mega yang mulai meneteskan air matanya sambil menunjuk arah dengan tangannya yang bergetar.

Goblin besar? Hobgoblin? Sepertinya hal ini akan semakin menyulitkan.

[Maxis! Kejar dan cari tau lokasi mereka! Aku akan membereskan yang ini dulu sebelum menyusulmu nanti] (Rugard)

[Aah, baik!] (Maxis)

Setelah menjawab perintahku, dia dengan segera berlari menuju arah yang ditunjuk Mega.

Dengan ini aku bisa fokus untuk menghabisi para bajingan yang tersisa ini.

Para goblin siap mengambil posisi menyerang. Si pisau di sebelah kiri mulai melancarkan serangan dengan tebasan horizontal yang mengarah pada perutku. Dengan sigap aku menahannya dengan kapak batu ditangan kiriku dan disaat yang sama menyerang dengan kapak batu ditangan kananku dengan serangan vertikal yang mengarah ke ubun-ubun kepalanya.

*Zraash, suara tengkorak kepalanya yang hancur mengeluarkan pancuran darah yang sedikit menghalangi pandanganku.

*tap *tap *tap kudengar suara langkah dengan cepat mengarah padaku. Tetapi tak disangka ternyata goblin berpisau satunya lagi menginjak pundak goblin yang sedang mengeluarkan pancuran darah sebagai pijakan lompat dan tendangan keras menghantam pelipis kiriku.

Sontak aku terkejut dan mundur beberapa langkah. Namun goblin berpisau dan goblin berpedang pendek segera berlari mendekat untuk menyerangku yang sedang menahan rasa pusing akibat tendangan keras yang kuterima tadi.

Siap atau tidak, aku harus menghadapi serangan mereka.

Tiba-tiba sebuah batu meluncur dan menghantam goblin berpedang pendek hingga jatuh. Melihat kejadian itu, aku mulai mengalihkan pandanganku dari goblin berpedang pendek dan fokus pada goblin berpisau yang melancarkan serangan tusukan yang mengarah pada dadaku. Aku menghindar ke kanan sambil mengarahkan kapak batu ditangan kiriku kearah tangannya yang memegang pisau dan memotongnya dengan cepat. Goblin itu jatuh terduduk dan menjerit karena baru kehilangan tangannya.

Goblin berpedang pendek segera berusaha untuk bangkit kembali sebelum akhirnya seseorang memukul kepalanya dengan tongkat kayu dari belakang hingga kepalanya menghantam tanah. Bisa dipastikan goblin itu pasti mati.

Aku menatap satu-satunya goblin yang masih hidup yang sedang menggenggam tangannya yang masih mengeluarkan darah. Wajahnya mulai terlihat pucat dan terlihat takut sambil mengeluarkan suara-suara yang tidak kumengerti.

[Bicaralah yang benar! Jika tidak bisa bicara, maka matilah!] (Rugard)

Ketika aku mengangkat kapak batu ditangan kananku sambil menatapnya dengan niat membunuh, goblin itu mulai semakin menggigil dan mengeluarkan air mata sambil terus menerus berucap kata-kata yang tidak kumengerti.

*Zraassssh. akhirnya kapak batu di tangan kananku kini bersarang dikepalanya

No comments:

DMCA.com Protection Status