Asteria; - Canis Major Prolog [Original Novel] - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Asteria; - Canis Major Prolog [Original Novel]

October 27, 2016 Pipo Narwastu


Author: Ram-kun

Chapter 00; Welcome to Asteria

[Baiklah, siapa yang sudah menemukan jawabannya?]

Seorang wanita yang berdiri di depan kumpulan para siswa di sebuah ruangan kelas mulai menanyakan jawaban dari soal matematika yang sebelumnya sedang di bahas.

Soal matematika tersebut merupakan soal Perbandingan. Berikut soalnya;

Perbandingan usia si A dengan si B adalah 5:3

Si A dan si B selisih usianya 10 tahun.


Umumnya untuk soal ini yang di tanyakan adalah berapakah usia si A dan si B sesungguhnya, tetapi Bu guru mencoba untuk mengetes muridnya dengan pertanyaan yang lain, yaitu ‘berapakah total usia mereka berdua 10 tahun kedepan’.

[…………..]

Tidak ada jawaban dari para siswa. Sebagian masih sibuk dengan coret-coretannya, sebagian lagi sedang mencari rumus yang sesuai di dalam buku teksnya, sebagian lagi ada yang hanya diam melihat temannya mencari jawaban dan sebagian lagi ada yang melamun.

Oi oi, apa kalian terjebak dengan pertanyaan yang tidak biasa ini?

Padahal sebenarnya ini cukup mudah jika kalian berpikir diluar kotak dan tidak terlalu bergantung dengan rumus-rumus yang ada dibuku.

Aku sebenarnya tipe orang yang malas belajar dan hampir tidak pernah serius dalam belajar, namun melihat mereka berusaha dan kebingungan dengan pertanyaan sederhana ini membuatku merasa prihatin dengan para pelajar di negri ini.

Pandanganku kualihkan pada gadis itu.

Dengan rambut hitamnya yang mencampai punggung dengan potongan poni rapih sejajar di depan dahinya, ia sedang serius mencari jawaban dengan penuh antusias.

Hmmm.. bahkan dia juga sama dengan yang lainnya.

Tapi itu sesuai dengan dugaanku.

Aku cukup mengenal baik gadis itu.

Ia adalah tipe orang yang rapih dan teratur, namun kurang dalam kreatifitas dan tidak mampu menangani masalah atau sesuatu hal yang baru dengan cepat. Tipikal orang yang seperti kereta api yang hanya dapat berjalan di atas rel yang sudah dibuat.



Wajahnya mulai berkeringat karena tidak dapat menemukan penyelesaian pada pertanyaan tersebut.

Aku menghela nafas melihat keadaannya.



Jika kalian pikir baik-baik, kalian harus mencari tau usia si A dan si B yang sesungguhnya terlebih dulu.

Si A =5 dan si B=3.

Makanya selisihnya adalah 2.

Sedangkan selisih umur mereka sesungguhnya 10 tahun.

2=10 tahun, berarti 1=5 tahun.

Jadi si A = 5 x 5 tahun = 25 tahun.

Sedangkan si B = 3 x 5 tahun = 15 tahun.

Inilah caraku mencari jawabannya.



Kulihat dibuku, ada rumus untuk menjawab usia si A dan si B.

Jika menggunakan cara formal sesuai rumus, untuk penyelesaian persoalan matematika ini, pertama kalian harus mengetahui usia dari si B terlebih dahulu.

Jadi gunakan cara selisih untuk menjawab soal.



Diketahui:

Perbandingan usia A dan B yaitu 5:3

Selisih perbandingan adalah 5 - 3 = 2

Selisih umur adalah 10 tahun.

Penyelesaiannya ; (perbandingan si B : selisih perbandingan) x selisih umur.

Jadi 3/2 x 10 = 15. Jadi usia si B adalah 15 tahun.

Dengan demikian maka;

15 tahun + 10 tahun = 25 tahun. Jadi usia si A adalah 25 tahun.



Sampai sini adalah hal yang mudah jika kalian tau rumusnya. Namun seperti yang terlihat, mereka terhenti disini.

Aku mulai melihat Bu guru mulai terlihat agak kesal karena tidak ada yang mau menjawab.

Melihat ekspresi wajah Bu guru, aku akhirnya mengangkat tangan kananku.

[Iya kamu! Berapa jawabannya?] (bu guru)

[60 bu!] (aku)

[Ya! Tepat sekali. Jelaskan dari mana kamu mendapatkan jawaban 60!] (bu guru)

Seluruh penghuni kelas dalam sekejab langsung mengarahkan pandangannya padaku. Mungkin karena mereka heran padaku yang biasanya tidak tertarik dalam pelajaran, tiba-tiba menjawab dan dengan jawaban yang tepat pula.

Kulihat gadis itu juga mengarahkan pandangannya padaku.

Hmm.. akhirnya untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir ini kau mulai melihat kearahku. Padahal bagaimana pun aku menyapa dan berbicara kepadamu, kau selalu acuh dan hanya menjawab dengan super sangat singkat.

[Usia si A telah di ketahui 25 tahun dan usia si B 15 tahun jadi jumlah usia mereka 40 tahun. Jika yang ditanya berapa jumlah usia mereka dalam 10 tahun kedepan, berarti hanya tinggal menambahkan 20 tahun lagi dari jumlah usia mereka saat ini. Jadi hasilnya 60 tahun] (aku)

Usia si B bertambah 10 tahun dan usia A juga bertambah 10 tahun dalam 10 tahun kedepan. Jadi hanya perlu menambahkan 20 tahun lagi.

[Hmm.. kamu benar, tapi jika kamu menjawab soal seperti ini dalam test, jangan menuliskan seperti penjelasanmu itu. Tulis rumus dan cara yang benar ya.] (bu guru)

Jika itu bu guru, dia pasti akan memasukan angka-angka lagi dan menulis rumus tambahan untuk penyelesaian soalnya. Tapi aku berbeda. Sejujurnya aku tidak banyak tahu soal matematika dan rumus-rumus yang memusingkan kepala seperti itu. Menghapalkan rumus-rumus dan mencari jawaban sesuai dengan yang ditulis di rumus, bukankah itu sama saja membangun rel kereta dan berjalan diatas rel tersebut?

Aku hanya menggunakan akal. Aku tidak begitu suka matematika, tapi aku suka menggunakan logika berpikirku. Makanya materi matematika yang ku kuasai hanya logika matematika, perbandingan, peluang, dan aljabar. Itu pun tanpa rumus sama sekali. Selain dari materi-materi itu aku malas mempelajarinya dan hanya akan mencontek jawaban dari teman-teman sekitar saat adanya test atau ujian.

Teman-teman sekelasku setelah mendengar jawaban dari ku mulai beribicara masing-masing.

[Iya juga ya]

[Ga kepikiran Cuma ditambah 20 aja]

[Eh, tapi bagaimana nih menulis rumusnya untuk soal ini?]

Disaat memperhatikan teman-teman sekelasku berbicara masing-masing dengan orang di dekatnya, secara insting mataku mengarah pada gadis itu.

Ia masih menatap kearahku.

Pandangan kami bertemu sesaat sampai ia mengalihkan kembali pandangannya ke buku catatannya.

Hhhh.. aku hanya bisa menghela nafas.



Ting-Tong-Ting-Tong-Ting-Tong



Suara bel sekolah berbunyi menandakan saatnya istirahat.

[Ayoo! Mau ke kantin tidak?]

Seorang lelaki yang duduk disebelahku mengajakku pergi ke kantin. Tapi sejujurnya aku ini sedang malas untuk beranjak dari kursi ku. Sikap gadis itu padaku tadi saat mata kami saling bertemu membuatku kembali depresi untuk kesekian kalinya.

[Males ah. Kau saja yang beliin makanan minta dibungkusin dan kita makan di kelas, aku tunggu disini aja] (aku)

[Enak aja! Memangnya aku ini pelayanmu?]



Orang ini adalah temanku dan satu-satunya dari teman-temanku yang bisa disebut sahabat. Awal pertemuan kami saat kelas 2 SMP. Di awal semester dia pindah ke sekolahku dari luar kota dan menjadi anggota kelasku. Hingga saat ini entah mengapa kami selalu sekelas. Sekelas sejak kelas 2 SMP hingga kelas 3 SMA, 5 tahun sekelas dan 5 tahun menjadi teman yang duduk bersebelahan. Kalo kami ini lawan jenis, bukankah kami akan terlihat sebagai pasangan yang langgeng dan direstui takdir?

[Hmm.. kalo gitu kita suit saja. Kalo aku menang kau yang belikan makanan. Kalo aku kalah, kita sama-sama ke kantin gimana?] (aku)

[enak aja! Kalo aku menang kau sendiri yang belikan baru adil] (sahabatku)

[hhh, yaudah terserah. Gunting – Batu – Kertas ya?]

Kami pun bersiap melancarkan suit Gunting-Batu-Kertas.

Aku tidak berniat kalah sedikitpun karena aku benar-benar malas untuk beranjak ke kantin. Karena itu, aku berniat sedikit kelicikan.

Aku memperhatikan dengan serius tangan kanannya yang akan mengeluarkan suitnya. Aku tau kalau dia ini bukan tipikal orang yang memiliki kebiasaan mengeluarkan suit yang dapat dibaca dengan mudah.

[oke mulai hitungan ke tiga. Satu… dua… TIGA!!]

Aku berkonsentrasi penuh memperhatikan tangannya. Waktu seakan berjalan sangat lambat karena konsentrasi penuhku. Sepersekian detik sebelum dia mengeluarkan suitnya, aku melihat jari telunjuk dan tengahnya mulai keluar dan memisahkan diri dari kepalan tangannya. Dengan kata lain ia akan mengeluarkan… Gunting.

Spontan aku mengeluarkan batu sepersekian detik setelah dia mengeluarkan gunting. Jika dilihat baik-baik, aku mengeluarkan suitku sedikit lebih lambat dari miliknya.

Mengerutkan dahinya, ia menyadari sedikit kejanggalan dari suit kami yang agak kurang serempak. Tapi jika ia protes dengan alasan seperti itu, dia tau kalau aku pasti akan menjawab “sedikit kurang serempak dalam suit hal yang wajar, jangan cari alasan kau”.

[Hhhh.. oke oke aku kalah. Mau beli apa?] (sahabatku)

Dengan sedikit mengeluh, dia menerima kekalahannya.

Dia memang benar-benar sahabatku kan? Ia sudah sangat mengenaliku dengan baik dan dengan cepat langsung mengalah agar hal ini tidak semakin merepotkan.

Aku tersenyum ke arahnya. Tidak! Lebih tepat disebut menyengir kearahnya.

[Nasi goreng Om Beben tidak pakai acar. Minumnya air mineral saja] (aku)

Sedikit kesal dengan cengiranku, dia mengambil uang yang kuberikan dan bergegas ke kantin.


Asteria Online VR, adalah game online bertemakan RPG yang saat ini sangat terkenal diseluruh dunia. Dan tentu saja aku juga memainkannya. Awalnya sahabatku yang mengajak, tapi aku menolak karena tidak punya perangkat VRnya. Agar aku dapat bermain bersamanya, ia mencarikanku seseorang yang mau menjualkan perangkat VRnya dengan harga murah padaku. Melihat usahanya agar bisa bermain game itu bersamaku, aku pun tidak mungkin menolak lagi untuk bermain game ini bersamanya.

Aku cukup mengenal game bertemakan RPG. Karena sebelumnya kami juga memainkan berbagai game lain. Karena perkembangan yang pesat dalam industri game, perangkat VR pun mulai popular sejak 3 tahun lalu dan menggeser game-game RPG sebelumnya.

Di Artesia Online, aku membuat karakter bernama Rugard. Jika ditanya apa artinya Rugard, maaf aku sendiri juga tidak tau.

Aku menggunakan nama itu spontan saja kubuat dan terdengar cukup keren juga.


Aku berkali-kali mencoba berbagai class yang ada untuk mengetahui cara bertarung mana yang cocok denganku. Dan akhirnya, aku konsisten menggunakan karakter dengan class Knight karena memiliki daya tahan yang tinggi sehingga dapat bertahan lama di pertempuran garis depan.

Class atau Job adalah sebutan untuk profesi sang karakter yang akan menentukan gaya bertarungnya. Class adalah hal yang umum dalam sebuah game RPG.

Sebelum menggunakan class knight, aku menggunakan berbagai class lainnya. Saat merasa class tersebut kurang cocok dengan gaya ku, aku menghapus karakternya dan membuat karakter dengan class yang baru. Jika kalian bertanya-tanya mengapa aku menghapusnya, itu agar aku bisa tetap menggunakan nama Rugard pada karakter yang baru. Bila Rugard yang sebelumnya belum di hapus, pastinya akan muncul konten “Nama ini sudah digunakan”.

Sedangkan sahabatku menggunakan karakter bernama Lawbang. Mungkin beberapa dari kalian sudah menyadarinya maksud dia menggunakan nama ini.

Ya, Lawbang maksudnya adalah lubang. Jika ditanya kenapa lubang, sudah pasti karena ia menggunakan nama ini dengan niat lelucon kotor. Di tambah lagi classnya Lawbang adalah Lancer, class petarung jarak dekat dengan focus utama dalam menggunakan senjata panjang sejenis Spear, Pike, Glaive, Lance, Javelin dan sebagainya. Sudah terlihat jelas maksud dari lelucon kotornya itu.

Kami biasa bermain duet saat menjalankan Quest dan berburu. Tetapi kami tidak selalu berduet. Nyatanya kami juga sering ber-party 3 orang. Kami berparty bersama seseorang dengan nama karakter Alphard. Classnya Alphard adalah Hunter, yang merupakan class paling fleksibel karena dapat menggunakan berbagai senjata jarak jauh maupun dekat. Fokus utama class ini adalah melacak dan memburu targetnya. Aku belum pernah menggunakan class Hunter karena terlanjur nyaman dengan class Knight, tapi sepertinya jika aku menggunakan class ini lebih dulu dari Knight, mungkin aku juga akan menggunakan class Hunter sebagai class utama dalam game ini.

Kenapa? Karena Hunter itu keren. Kemampuan bertahan hidupnya cukup tinggi karena di dukung dengan skill-skillnya yang menakjubkan. Ditambah lagi, Hunter bahkan mampu melacak class Assassin yang merupakan class yang paling hebat bersembunyi.

Rugard, Lawbang, dan Alphard agak terkenal sebagai Trio. Tetapi meskipun kami dikenal sebagai trio, sebenarnya Alphard biasa bermain sendiri dan tidak pernah tergabung dalam Guild manapun.

Guild merupakan perserikatan bisa juga dibilang sebagai organisasi.

Rugard dan Lawbang berkali-kali masuk dan keluar berbagai guild, tapi Alphard tidak pernah sama sekali.


Hmmm… aku penasaran seperti apa Alphard yang sebenarnya dikehidupan nyata.


[Nih!]

Seseorang menaruh bungkusan dan sebotol air mineral didepanku.

Sepertinya dia sudah kembali dari kantin.


Aku membuka bungkusan itu dan mulai makan. Di sisi depan mejaku, ia juga membuka bungkusan miliknya yang rupanya isinya sama denganku.

Nasi goreng Om Beben. Dari namanya saja kalian pasti sudah tau kalau nasi goreng ini yang jual dipanggil Om Beben. Terlihat sama dengan nasi goreng pada umumnya, tapi kalau boleh jujur, masakan Om Beben rasanya konsisten. Rasa bumbu dan garamnya selalu tepat dan tidak pernah ada keluhan kurang rasa atau kelebihan bumbu sehingga cukup banyak penggemar nasi goreng Om Beben ini dan pastinya antrinya sangat merepotkan.

Hehehe, dia memang sahabat yang baik kan?


[Ngomong-ngomong, kau sudah dengar acara Festival yang diselenggarakan pihak pengembang Asteria?] (sahabatku)

[Hm? Belum. Festival apa?] (aku)

[Pihak Asteria mengembangkan perangkat baru yang bernama Player Collar. Sejenis kalung yang dapat membaca reaksi dan pergerakan otak lalu memindahkan seluruh indra yang kita miliki kedalam game Asteria terbaru. Dengan kata lain, ini terobosan baru dari game Virtual yang sebelumnya hanya menggunakan perangkat Visual dan Audio dalam bermain.](sahabatku)

[Jadi maksudnya kesadaran dan seluruh indra kita ikut bermain dalam game?] (aku)

[Iya, jadi serasa benar-benar bermain di dunia lain kan?] (sahabatku)


Aku mulai tertarik. Sebuah perangkat yang memindahkan kesadaran dan seluruh indra ke dalam game? Player Collar? Kalung yang dipasang di leher untuk masuk ke dunia virtual? Bagaimana cara kerjanya? Tingkat keamanannya? Dan berapa mahal harganya? Masih banyak sekali pertanyaan yang ada dibenakku.

[Festival diselenggarakan serempak di setiap cabang diseluruh dunia. Di festival itu, harga Player Collar diskon 90% dari harga asli sekitar 1.000 USD menjadi 100 USD. Itu harga khusus festival karena nantinya para pembeli di festival akan de daftarkan sebagai beta tester. Penggunaannya cukup dipasang di leher dan kau akan dapat melihat layar menu di pandangan matamu seperti di dalam game. Bisa dibilang seperti smart gadget masa depan. Dikatakan bahwa alat ini aman karena tidak menggunakan operasi dan dapat dilepas-pasang. Data pemain akan disimpan di dalam memori Collar tersebut dan bisa kau akses kapan saja dan dimana saja. Hanya saja untuk memulai game belum dijelaskan caranya. Sepertinya semuanya akan jelas jika kita mengikuti festival itu] (sahabatku)

Wow, dia memang hebat.

Hanya dengan melihat ekspresiku yang penuh tanda tanya, ia menjawab hampir semua pertanyaan dibenakku.

[Hmm.. 100 USD ya. Berarti kisaran 1 jutaan rupiah. Kalau untuk acara hebat seperti ini sih itu terbilang sangat murah. Ok aku ikut. Kapan acaranya?] (aku)

[Masih 2 bulan lagi. Aku juga berniat mengajak yang lainnya] (sahabatku)


‘Mengajak yang lainnya?’ jangan-jangan..


Aku mengecilkan suaraku dan bertanya..

[Maksudmu, kau juga akan mengajak dia?] (aku)

[Iya, tentu saja] (sahabatku)

Oi oi, dia juga akan mengajak gadis itu? Padahal kukira kita akan bersenang-senang berdua saja, tapi dia juga mengajak gadis itu dan yang lainnya?

Bukan berarti aku tidak suka dengan mereka, tapi sudah dipastikan bahwa suasanya tidak akan membuatku nyaman. Terutama gadis itu.. dia pasti akan menganggapku seperti udara meski kita berada dirombongan yang sama.

[Jangan jadi lembek kau!] (sahabatku)

Mendengar perkataannya yang tidak terduga, aku menatap kearahnya dengan ekspresi bertanya.

[Mau sampai kapan kau begitu terus? Udah hampir satu tahun loh. Jangan jadi laki-laki yang cengeng dan lemah. Sudah kukatakan berapa kali untuk melupakan semuanya. Jika kau terus seperti itu, ia akan semakin illfeel padamu. Kalau ia menjauhimu, kau cukup jual mahal aja lagi padanya] (sahabatku)

[hhh.. iya iya aku tau. Tapi yang kutakutkan itu bagaimana suasananya nanti? Teman-teman yang lain juga pasti akan berpengaruh.] (aku)

[Kau tidak perlu bergabung dalam percakapan mereka. Jika kau ingin bicara, kau bisa bicara padaku. Lagipula disana banyak hal yang menyenangkan. Kau juga pasti akan asik sendiri nantinya] (sahabatku)

Benar juga. Jika aku sibuk sendiri disana, maka aku tidak perlu berinteraksi dengan yang lainnya, terutama gadis itu.

Sejujurnya, aku sudah beberapa bulan ini ikut mengacuhkan dia seperti yang disarankan oleh sahabatku ini. Tetapi untuk hal formal seperti menyapa saat bertemu di jalan atau di sekolah tidak bisa ku abaikan karena rasa moralku akan sopan santun. Tapi meski begitu, ia tetap mengabaikanku meskipun aku menyapanya hanya untuk formalitas.

Jika dipikirkan, siapa yang sebenarnya kekanak-kanakan? Siapa yang salah? Sudah hampir setahun aku memikirkan hal itu dan ini membuatku frustasi.

[Yasudah kalau begitu.] (aku)



Ting-Tong-Ting-Tong

Bel yang menandakan jam istirahat telah berakhir.

Meski begitu kami masih melanjutkan makan selagi guru mata pelajaran selanjutnya belum memasuki kelas.

Tiba-tiba ada sesuatu terbang melewati kami berdua.

Sahabatku yang melihat ‘itu’ wajahnya langsung pucat dan segera mundur beberapa langkah dari kursinya. Menunjukan ekspresi geli.

[Kecoak! Oi, itu disebelah] (sahabatku)

Aku melihat si kecoak yang di tunjuk.

kecoak. Serangga yang paling dibenci dan ditakuti mengganggu acara makan kami.

aku mengambil suapan nasi goreng yang terakhir kedalam mulutku, menangkap kecoak itu dengan tangan kiri ku dan memasukannya kedalam bungkusan nasi goreng yang sudah kuhabiskan. Aku meminum air mineral beberapa teguk sebelum akhirnya beranjak dari kursi dan membuang bungkusan berisi kecoak itu kedalam tempat sampah.

Sekembalinya dari lokasi tempat sampah menuju kursi ku, sahabatku masih menatap kearahku dengan tatapan tidak percaya atas apa yang kulakukan.

[Iuuuuh] (sahabatku)

[Sama kecoak saja takut. Lembek kau!] (aku)

Aku mengembalikan ‘kata’ itu padanya.

[Bukannya takut. Cuma geli tau] (sahabatku)

Jujur saja, aku bingung kenapa ada orang-orang yang sampai segitunya takut pada kecoak. Yaa, meskipun mereka berdalih dengan mengatakan bahwa mereka bukannya takut tetapi geli.

Aku duduk kembali ke kursiku dan menghabiskan sisa air mineralku.

[Memangnya tidak geli ya?] (sahabatku)

[Tidak. Sama saja seperti menangkap belalang saat masih bocah] (aku)

[Diih, kecoak dianggap sama dengan belalang. Oh iya, aku selama ini tidak pernah melihatmu takut atau geli terhadap sesuatu. Kira-kira hal macam apa yang membuatmu takut atau geli? Atau mungkin makhluk yang tidak kau sukai?] (sahabatku)

Aku pun bingung, kira-kira apa ya yang tidak kusukai?

Saat kupikirkan dalam-dalam, aku membayangkan sesosok cicak atau katak. Hmm.. sepertinya mereka yang tidak kusukai.

[Sepertinya cicak atau katak.] (aku)

[Masa? Cicak dipegangnya enak loh. Serasa empuk-empuk gimana gitu] (sahabatku)

Merinding.

Tiba-tiba setelah mendengarnya mengatakan kalau cicak itu ‘empuk’ membuatku merasa geli.

Sesaat kemudian, matanya menatap kearah lain, atau lebih tepatnya kearah dinding di sebelah kami. Ia pun mengambil sesuatu yang menempel di dinding itu.

[Nih, cobain] (sahabatku)

Ia menaruh benda yang diambilnya tadi ke atas tanganku.

Sensasi sesuatu yang bergerak dan terasa ‘empuk’ membuatku spontan mengibaskan tanganku untuk melepaskan benda itu dari tanganku. Ya, itu bukan lain adalah cicak.

Melihat reaksiku, dapat kulihat senyum mengejeknya.

Sialan ini anak! Dia mulai menemukan cara untuk menjahiliku.


Ia mengambil kembali cicak yang kujatuhkan tadi dan sudah pasti dengan niat mengarahkannya padaku. Aku pun langsung lari kearah tempat sampah, mengambil bungkusan yang aku buang tadi dan mengambil isinya.

Tau aku juga memiliki ‘senjata’, membuat pergerakannya lebih hati-hati. Kami mulai saling menyodorkan ‘senjata’ kami masing-masing sambil menghindari ‘senjata’ lawan.

Merasa sulit untuk menghindar, spontan aku mengambil buku teks terdekat sebagai perisai, begitu pun juga dia dan permainan ‘Pedang-Pedangan’ kami semakin seru.


[HEY!! Ngapain kalian? Cepat duduk di kursi masing-masing!]

Guru pelajaran selanjutnya ternyata sudah masuk dan menyuruh kami untuk berhenti. Bisa kulihat seluruh isi kelas melihat kearah kami dengan pandangan aneh.



Hari Festival.

Bisa kulihat banyak sekali orang disini.

Stand-stand yang menjajakan berbagai makanan, minuman, bahkan pakaian untuk cosplay, jaket, dan aksesoris bertemakan Asteria Online.

Rupanya pengunjung festival ini bukan saja para pemain Asteria Online, tetapi juga keluarga dan rombongan yang memang berniat untuk menikmati sebuah festival. Sebenarnya rombongan kami yang merupakan pemain Asteria Online hanyalah aku dan sahabatku ini.


Kami berlima. Dan lelaki dirombongan kami hanyalah aku dan sahabatku. Dengan kata lain sahabatku ini mengajak tiga perempuan termasuk gadis itu. Dua gadis lainnya adalah teman gadis itu dan juga teman sekelas kami. Bisa dibilang inilah lingkaran lingkup pertemanan masa sekolahku.

Kulihat wajahnya yang menikmati suasana festival ini, membuatku teringat kencan pertama kami ke taman bermain dulu. Merasa aku menatap kearahnya, ia menoleh kearahku. Tetapi sebelum pandangan kami bertemu aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Ingat! Harus jual mahal. Jangan tunjukan perhatianku padanya.


Kami berkeliling mencari berbagai makanan dan jajanan. Diantaranya ada yang menarik perhatianku.

-Kerupuk Kulit Spesial-

Hah? Makanan apa ini? Jika dilihat baik-baik, ini adalah kerupuk kulit yang diberi berbagai bumbu, saus, dan toping seperti keju dan dikemas seperti popcorn. Heeeee, ga pernah kepikiran kerupuk kulit bisa dimodifikasi seperti ini.

Aku memesan satu dengan mayonnaise, keju, dan saus pedas.

[Eeh, apa itu?] (sahabatku)

[Kerupuk kulit] (aku)

[Hah? Kerupuk kulit kok seperti ini?] (sahabatku)

[Tidak tau. Justru karena unik aku jadi ingin tau rasanya] (aku)

[Aku coba ya! *Kraus Kraus] (sahabatku)
(Author: ane coba pakai efek suara dan gerakan dengan tanda *.)

[Hoi hoi. Dasar tidak sopan. Yang beli saja belum mencobanya.] (aku)

hhh, aku menghela nafas singkat melihat kelakuannya.

[Enak. Tapi nanti kalau kebanyakan makan itu bisa membuat kerongkongan jadi seret loh] (sahabatku)

[Nanti tinggal beli minum saja kan] (aku)

Hmm.. lumayan. Tapi benar seperti yang ia bilang. Meskipun tampilannya seperti ini, tetap saja ini kerupuk kulit. Kalau kebanyakan makan, bisa membuat seret kerongkongan.

Kami menghabiskan waktu dengan berkeliling. Sambil memakan kerupuk kulit yang kubeli, sesekali aku memperhatikan dia. Aku tau akan lebih baik jika aku melupakan perasaanku terhadapnya. Tetapi merealisasikannya lebih sulit daripada mengatakannya. Andaikan ingatan dapat dihapus dengan mudah seperti di film-film, mungkin aku tidak akan keberatan untuk menghapus ingatanku tentang dia.


[[[Perhatian! Untuk para pengunjung yang ingin membeli perangkat Player Collar yang akan dijual pada festival ini, penjualan sudah dimulai di area pusat. Harap mengantri dengan tertib karena kami menyediakan banyak loket penjualan sehingga kalian tidak perlu takut akan mengantri terlalu lama. Sekian dan terimakasih]]]

Sudah saatnya.

[Ayo! Penjualannya sudah dimulai] (teman perempuan berkacamata)

[Iya ayo! Meskipun tadi dia bilang menyediakan banyak loket penjualan, tetap saja yang mau beli itu ribuan orang. Kalau dapat antrian paling belakang nanti tidak punya banyak waktu untuk mencobanya sebelum acara beta testernya dimulai] (teman perempuan berkuncir)

Hah?

[tunggu! Kalian semua mau beli Player Collar juga?] (aku)

[Tentu. Ini alat teknologi terbaru dengan harga yang murah. Kapan lagi bisa mendapatkannya dengan diskon 90% kalau tidak sekarang?] (Teman perempuan berkuncir)

[Kami juga mau mencobanya. Sepertinya gamenya keren. Kalau sudah bosan, aku tinggal menjualnya saja. Hehehe] (teman perempuan berkacamata)

Hoo, jadi mereka berniat mencoba gamenya juga.

Kulihat kearah gadis itu.

[…..] (gadis itu)

Hmm? Sepertinya bisa kuanggap dia juga akan membelinya.

Hhhh.. entah mengapa aku tidak pernah terbiasa dengan sikapnya ini.


Aku memasuki area pusat. Area pusat merupakan sebuah ruangan dengan langit kubah seperti stadion besar. Luasnya hampir sama dengan Stadion Sepak bola. Disini terdapat banyak orang yang sudah mulai mengantri untuk mendapatkan Player Collar.


Waaw, baru kali ini aku menghadiri acara sebesar ini.

pandanganku teralihkan oleh sekumpulan rombongan yang berada di dekat rombongan kami. Bisa disimpulkan mereka bertiga karena percakapan yang terjadi hanya melibatkan 3 orang ini. Selain itu mereka bertiga mempunyai kesamaan, sudah mendapatkan Player Collar dan menggunakan kostum dengan kata lain mereka sedang ber-cosplay.

Satu lelaki dengan kostum class Warrior, perempuan berkostum class Mage dan yang satu lagi… WoooW.. kostum Elf berambut pirang dengan class Archer. Sejujurnya, aku ini penggemar berat wanita berambut pirang, terutama Elves. Kenapa? Karena Elves bisa dikatakan sebagai ‘Eternal Beauty’. Bayangkan jika pasangan hidupmu seorang Elf.

Ketika kalian sudah memasuki masa tua, ia tetap terlihat sebagai wanita muda dan……. oh tidak, cukup sampai disini saja. Fantasi ku semakin meliar.

Tapi sayangnya rambut pirangnya palsu. Kurang memuaskan sekali.

Aaakh!, aku ingin segera log in di Asteria terbaru ini agar bisa melihat Elve perempuan yang terlihat lebih nyata.


Si Warrior menghadap kemari dan berjalan mendekati kami.

[Hei, ada apa? Kau dari tadi sepertinya memperhatikanku terus. Apa kau terpesona dengan penampilanku ini?] (warrior)

Haaah? What the f***… si warrior bajingan ini sedang merayu gadis itu.

Kuakui, tampilannya cosplay nya tidak bisa dibilang ‘Low Budget’, serta wajahnya yang cukup tampan bisa membuat beberapa wanita melayang.

tapi tetap saja, menurutku aku masih lebih tampan dari dia. Hanya saja aku tidak begitu suka merayu perempuan.

[Eh.. eh.. a.. anu.. haaa..] (gadis itu)

[oh kau malu-malu? Manisnya] (si Warrior)

[Eeeeeeeeh?] (gadis itu)

Tampaknya ia bingung dan malu karena tiba-tiba.

dan bisa kulihat wajahnya yang memerah.


Hoi hoi, kenapa kau malah malu-malu begitu? Ada apa dengan atmosfir ini?

ada perasaan sangat tidak suka dalam lubuk hatiku dengan adegan ini. Aku pun memberanikan diri untuk menyela agar adegan ini tidak berlangsung lama.

[Hei kawan. Kulihat kau sangat antusias dengan festival ini sampai-sampai datang dengan kostum yang hebat iini. Melihat antusiasmu ini, apakah kau juga player di Asteria sebelumnya?] (aku)


Ia berhenti merayu gadis itu saat mendengarkan pertanyaanku. Bisa dilihat ia merasa sedikit terganggu saat sedang asik merayunya. Tapi dengan cepat ia menghadap kearahku dengan senyum untuk menyembunyikan sedikit perasaan terusiknya.

[Tentu. Apakah kau pernah mendengar Guild ‘The Max’?] (si Warrior)

[Hmm.. tentu. Salah satu guild terkenal di server nasional ](aku)

[Hey, mereka juga cukup terkenal di server internasional. Yaah walaupun belum sehebat tiga guild terhebat itu. Dan aku salah satu anggota dari The Max. Nickname ‘Maxis’. Dia(Mage) “Celes”, dan ini(Archer) “Mirda”] (Maxis)

[Haloo] (Mirda)

[Hmm.. *melambaikan tangan] (Celes)

Mereka memperkenalkan dirinya dengan menunjukan profilnya menggunakan Player Collar. Sebuah jendela berisi profilnya muncul di depannya. Wooow, jadi inikah fitur yang dimiliki Player Collar. Benar-benar seperti alat masa depan.

The Max sebenarnya memang cukup terkenal karena masih sangat aktif sampai sekarang. Tetapi kalau kuingat-ingat, The Max masih belum mencapai ranking 5 besar. Sedangkan tiga guild terhebat yang dimaksud Maxis adalah ketiga guild yang tidak pernah lengser dari rangking 3 besar nasional. Mereka sering kali bertukar-tukar peringkat 1-3 yang berarti kalau kompetisi mereka sangat ketat untuk jadi nomor 1 nasional. Ketiga guild itu adalah “Senggol Bacok”, “Pembersih Kuman”, dan “All Hail MILF” atau disingkat “AHM”.

[Hoo, oke salam kenal Maxis. Semoga kita nanti dapat bermain bersama.] (aku)

[Ooh, Tentu!] (Maxis)

Aku dan Maxis bersalaman. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengannya. Yang tadi itu hanya kata-kata formal saja.

[Ngomong-ngomong, aku sudah memperkenalkan diriku, tapi kau belum memberitahu siapa dirimu. Bukankah itu tidak sopan bung?] (Maxis)

Aduh sial. Padahal aku sengaja dan berharap dia lupa bertanya. Karena bila aku memberitahu Nickname ku, nanti dia bisa mengontakku. Aku tidak begitu berniat menambah jumlah kontak temanku, apalagi dengan orang yang baru kutemui.


[Oh maaf, salahku. Player Asteria diantara kami baru hanya aku dan temanku ini. Sedangkan gadis-gadis itu baru akan mulai. Aku tidak punya guild tetap dan Nicknameku ‘Rugard’. Sedangkan temanku ini ‘Lawbang’.] (aku)

[Haloo] (sahabatku)

[Eh tunggu sebentar. Kau Rugard? Dan kau Lawbang. Kalian kan si Trio itu?]

[Benar. Kau pernah mendengar nama kami?] (aku)

[Tentu saja! Siapa yang tidak tau kalian. Sekelompok trio gila yang ikut Party vs Party hanya dengan tiga orang, ditambah lagi kalian masuk semi final.] (Maxis)

[Heeh, segitu terkenalnya kah kami? Jadi agak malu] (sahabatku)

Hmm, tak kusangkan dia mengenal nama kami. Meski kutahu hal itu membuat kami banyak di bicarakan, tetapi tetap saja aku agak terkejut dia sebagai orang yang baru kami temui ini mengetahui tentang kami.

Pertarungan Party vs Party adalah event turnamen pertarungan Tim di arena. Jumlah maksimal party delapan orang, jadi pastinya mereka yang berpartisipasi akan tergabung dengan delapan orang. Tetapi saat itu kami tidak punya orang yang bisa diajak ikut lagi, dan karena party sudah bisa dibuat asalkan kau terdiri dari dua orang atau lebih maka kami mengikuti turnamen hanya bertiga dan tidak disangka berhasil sampai semi final.


Kami kalah telak di semi final bertemu party dari guild Pembersih Kuman. ‘Sabun’ ketua dari Pembersih Kuman sangatlah kuat dan berpengalaman. Selain hebat secara individual, ia hebat dalam memberikan perintah sehingga kerja sama mereka sangat sulit dipecah. Anggota yang lainnya pun juga tidak kalah hebat.

[Antrian selanjutnya] (??)

Tidak terasa giliran kami tiba.

[Oh, sepertinya giliran kami. Sampai ketemu lagi nanti] (aku)

[Tentu! Aku ingin mencoba duel dengan kalian. Nanti saat sudah log in, persiapkan dirimu ya.] (Maxis)

[Hahaha, tentu.] (aku)

Maxis dan yang lainnya memisahkan diri dari kami. Kulihat sekilas gadis itu..

Hmm.. dia terlihat agak lega tadi karena aku yang tiba-tiba menyapa Maxis, tetapi sepertinya sikapnya tidak berubah padaku. Bukankah seharusnya aku mendapatkan terima kasih? Hhhh.. aku tidak mengerti jalan pikir perempuan.


[Nah, para Player Asteria sekalian. Apakah kalian siap untuk event utama Festival ini? Sebentar lagi kita akan memulai acara Beta Test yang kalian tunggu-tunggu]

[Huoooooooooh]

Sorak para peserta di area pusat ini sungguh hebat. Yang mengikuti event ini sekitar ribuan….tidak, puluhan ribu orang. Sungguh jumlah yang hebat untuk acara beta test. Mayoritas dari mereka berasal dari luar kota. Karena acara ini secara internasional, sehingga tiap-tiap negara hanya mengadakannya di salah satu kota saja. Dan kebetulan cukup dekat dengan tempat tinggalku.


Sepertinya masih akan ada berbagai sambutan-sambutan formal sebelum acaranya dimulai. Mungkin aku bisa keluar sebentar untuk membeli minum.

Sejujurnya sejak tadi kerongkonganku terasa serat karena kerupuk kulit tadi. Aku lupa membeli minuman karena asik melihat-lihat fitur dari Player Collar yang sedang ku pakai ini. Sayang sekali kalau saat acara penting nanti rasa seret ini akan mengganggu konsentrasiku. Jadi aku memutuskan untuk keluar sebentar dan membeli minum.

[Eh mau kemana kau? Acaranya sudah mau mulai tau.] (sahabatku)

[aku mau keluar sebentar beli minum. Gara-gara kerupuk kulit tadi kerongkonganku jadi seret] (aku)

[Hhhhh… bukannya dari tadi. Cepetan sana keburu acaranya mulai] (sahabatku)

[Iya-iya. Cuma mau beli minum doank kok] (aku)

Bisa kulihat gadis itu melihatku yang sedang mengarah keluar dari sini. Tetapi langsung fokus lagi kearah pembawa acara.

Apakah ia sedikit khawatir padaku? Hahaha, pede sekali diriku ini.

Sesampainya diluar, aku mencari stand minuman. Tetapi aku tidak ingin membeli minuman yang berasa. Yang kubutuhkan sekarang adalah air mineral untuk membersihkan mulut dan kerongkonganku.

Tak kunjung ketemu, aku akhirnya mencari di dekat area masuk. Ah itu dia. Ada stand yang menjual air mineral.

Setelah membayar, aku bergegas membuka tutup botolnya. Tetapi suara pertengkaran tiba-tiba menarik perhatianku.

[kamu ini bagaimana sih? Kamu lebih memperdulikan klien kamu itu daripada keluargamu? Kita kan sedang liburan. Kau tidak bisa lihat anakmu itu jadi sedih saat kau bilang mau ketempat klienmu karena dia memanggil?] (???)

[Maaf sayang, tapi ini klien yang sangat penting. Aku tidak bisa merusak image ku padanya] (???)

[Bilang saja padanya kalau kau sedang berlibur bersama keluargamu! Apakah ia pantas untuk menyuruh seseorang meninggalkan keluarganya begitu saja saat sedang liburan?] (???)

[Iya aku tau sayang, tapi..] (???)


Sambil meminum air mineral yang baru kubuka, aku menyaksikan pertengkaran hebat ini.

Wow, suara mereka keras sekali. Sampai-sampai seluruh orang yang ada disini memperhatikan mereka.

Sepertinya mereka terdiri dari sepasang suami-istri dan seorang anak yang sedang berlibur berkunjung ke festival ini. Karena sang suami tiba-tiba mendapat panggilan dari klien berharganya, ia memutuskan untuk menemuinya tetapi istrinya malah marah-marah. Yaah, wajar sih.

Anak mereka sedang main sendirian dengan sebuah bola karet di dekat tangga yang menurun disamping trotoar. Hmm? Bukankah itu sedikit berbahaya?

Tidak lama kemudian, kekhawatiranku menjadi nyata. Bola karet yang sedang ia mainkan jatuh menuruni tangga dan menggelinding menuju jalan raya. Tanpa berpikir sama sekali, bocah itu mengejar bolanya.

[HEI NAK!! Itu Berbahaya!!] (aku)

Sontak aku berteriak memanggil anak itu dan berlari mengejarnya tanpa mepedulikan botol air mineral yang kujatuhkan.

Sekelilingku melihat kearahku yang sedang berlari mengejar anak itu, termasuk kedua orang tuanya yang bodoh karena asik saja bertengkar dan lupa untuk terus memperhatikan anaknya.


Tiba-tiba, Player Collarku mengeluarkan warna biru terang.

Dijalan raya dari arah kanan sebuah mobil MVP melaju cukup cepat.

Bocah itu memasuki jalan raya diikuti olehku dibelakangnya.

Aku menangkap baju anak itu, dan melempar dia kebelakang tepat sebelum ia menabrak mobil.

Anak itu terlempar kembali ke trotoar.

Andai saja ada waktu sekitar setengah detik lagi, aku mungkin bisa menghindari mobil itu.

Sayangnya mobil itu berhasil menabrakku dari sisi kanan dengan hantaman yang keras.

Bisa kurasakan tangan kanan, pinggul, dan beberapa rusukku patah seketika.

Tidak selesai sampai situ, aku terlempar kedepan dan menghantam aspal.

Di depan mataku mobil itu siap untuk melindasku.



Di sebuah ruangan besar, terdapat puluhan ribu orang tidak sadarkan diri.

Tidak lama kemudian, satu persatu dari mereka membuka mata dan terbangun.

Aku sadar dan terbangun. Kulihat sekelilingku terdapat banyak sekali orang dengan kondisi yang sama.

Ini dimana?

Kulihat sekeliling, kami berada di sebuah ruangan besar seperti goa, dengan lingkaran besar berpola seperti lingkaran sihir tergambar di seluruh lantai ruangan ini.

Ini dimanna?

Apa yang terjadi?

Kenapa aku bisa ada disini?

[Khhhk..] (aku)

Aku mengingat kembali ingatan terakhir yang kuingat sebelum berada disini.

Spontan aku memeriksa seluruh tubuhku, dan ternyata dalam keadaan baik semua.

[Apakah tadi itu hanya mimpi?] (aku)


Kulihat orang-orang di sekelilingku.

Hmm? Bukankah mereka peserta festival? Tetapi bukan hanya mereka. Aku juga melihat beberapa diantaranya ada orang asing seperti orang Kaukasoid, Mongoloid Utara, dan beberapa ada orang Negroid dan Mongoloid Malaya sepertiku.

(Author; Kaukasoid itu sebutannya Kulit Putih [Eropa, Timur Tengah, Russia], Mongoloid Utara itu sebutannya Kulit Kuning [Cina, Jepang, Korea], Negroid itu Kulit Hitam [Afrika, Papua], dan Mongoloid Malaya itu sebutannya Kulit Coklat/Sawo Matang [Asia Tenggara, India].

Ketika pandanganku menelusuri orang-orang ini, aku melihat ada sahabatku dan gadis itu.

Ketika aku hendak memanggil dan mendekati mereka, tiba-tiba di depan mataku muncul jendela menu dari Player Collar. Ah, begitu. Aku masih menggunakan Player Collar rupanya.



-Loading-





-Acces your profile data-





-Complete-






-Welcome to Asteria, Rugard-


-----

No comments:

DMCA.com Protection Status