Katahane no Riku Chapter 4 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Katahane no Riku Chapter 4 Bahasa Indonesia

October 16, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Exicore
Proofreader: Ise-kun

Chapter 4: Desa Tersembunyi dari Garnisun Naga Iblis

Iblis adalah barbarian rendahan. Mereka mirip dengan manusia, tapi bukanlah manusia. Salah satu bagian tubuh mereka memiliki bagian binatang yang aneh dan mereka ganas seperti binatang buas. Mereka sudah menghancurkan sangat banyak negara, dan di tangan mereka, pada akhirnya, bahkan Kerajaan Shiidoru hancur. Raja yang berkuasa pada saat itu, Fifus Shiidoru adalah Raja yang sangat baik, tapi saat pasukan Raja Iblis mendekat, sang Raja mengambil satu keputusan.

“Aku tidak sanggup melihat negeri ini dijajah dan rakyatnya menderita.”

Raja Fifus yang baik berusaha untuk berdamai dengan para Iblis.

Bersama dengan beberapa tentaranya, dia pergi ke wilayah Raja Iblis untuk bertemu dengannya. Tapi di tempat dimana mereka seharusnya bertemu, sang Raja Iblis memenggal kepala sang Raja yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa pikir panjang, ia segera memutuskan jalan menuju perdamaian yang berusaha dicapai Raja Shiidoru. Para iblis yang tidak tahu kata “Negosiasi” mulai bergerak menuju ke ibukota tanpa peduli tentang hal yang sudah terjadi.

Dengan tekad bulat, anak tertua sang raja, Shikus Shiidoru memutuskan untuk mempertaruhkan nyawanya. Karena dia sudah kehilangan segalanya, maka, dia memutuskan bahwa mereka akan bertarung hingga akhir demi keselamtatan penduduk yang tersisa.

Tapi para keluarga Spiritualist menentang hal tersebut.

“Jika sang Raja mati, maka hal yang sama akan terjadi pada rakyatnya. Kita tidak bisa menang melawan Raja Iblis, tapi jika kita bisa menyegelnya, maka hal itu akan mampu mengehentikan invasinya untuk sementara.”

Pangeran Shikus menerima proposal dari para keluarga Spiritualist.

Bersama dengan lima orang Spiritualist, dia pergi untuk menyegel Raja Iblis.

Pasukan pangeran Shikus bertarung melawan Raja Iblis selama tiga hari tiga malam. Di hari keempat, saat matahari terbit, mereka akhirnya berhasil menancapkan pedang penyegel ke tubuh Raja Iblis.

Sembari mengeluarkan kata-kata hinaan, Raja Iblis akhirnya berhenti bergerak.

Karena Raja Iblis telah berhasil disegel, pasukan Raja Iblis kehilangan pemimpinnya dan menjadi tidak tertatur. Para Iblis yang memiliki kecerdasan yang setara dengan binatang tidak akan bisa bertindak sebelum mereka mengangkat pemimpin yang baru. Para Iblis yang kebingungan dibunuh oleh pangeran Shikus dan para spiritualist.

Karena pasukan ibls telah mundur, Kerajaan Shiidoru kembali damai.

Namun, Raja Iblis tidaklah mati.

Sejak saat itu, 5 keluarga spiritualist telah menjaga tempat Raja Iblis di segel.

[Buku tentang peran militer para spiritualist di Kerajaan Shiidoru, diambil dari bab penyegelan Raja Iblis.]

--

Sudah dari beberapa hari yang lalu mereka meninggalkan Kota Perikka.

Sembari berusaha keras menggerakkan kakinya, Riku terus berpikir.

Dia tidak bisa berjalan seperti Piguro dan Leivein, yang mana sekarang berada di depannya. Bahkan walaupun kakinya tersangkut di akar pohon, atau dia jatuh dan terluka, mereka tidak perduli. Sebaliknya, mereka hanya berjalan masuk ke dalam hutan lebih jauh.

Mungkin bila dia berhenti, mereka akan meninggalkannya. Tapi anehnya, pikiran untuk melarikan diri tidak pernah ada di pikirannya. Bahkan walau mereka adalah iblis yang mampu dengan mudah membunuh manusia, mereka tidak membunuhnya karena menganggapnya berguna. Untuk memenuhi ekspektasi itu, Riku terus menggerakkan kakinya.

“…”

Riku melihat ke arah punggung Leivein.

Setelah membunuh orang-orang itu, dia memberi Riku air dan makanan. Dia juga mengobati luka riku. Entah itu rasa sakit atau kedinginan, dia tidak lagi merasakannya.

Tapi setelah itu, dia tidak berkata sepatah katapun ke Riku. Piguro, yang mana berjalan di sampingnya, hanya melihat dirinya seakan melihat ke sesuatu yang menjijikkan, tapi Leivein, bahkan tidak melihat ke arahnya.

Mungkin lebih baik berpikir tentang makanan dan tempat tinggal yang akan dia dapat dari mereka.

“Ah, kita sudah sampai. Meskipun aku berharap dia tidak bisa sampai…”

Piguro, yang berjalan sedikit jauh dari Riku mengatakan hal itu dengan nada orang yang kelelahan.

Levien dan Piguro berhenti berjalan, oleh karena itu, Riku pun juga berhenti. Ternyata, hutan itu berakhir disini. Mereka berdua lebih tinggi dari Riku, jadi dia tidak bisa melihat lebih jauh ke depan dari tempat dia berdiri.

“Riku, kemarilah.”

“B-baik!”

Leivein yang tiba-tiba saja mengatakan sesuatu, mengejutkan Riku.

Mendengarkan suara yang ia tidak dengar selama beberapa waktu, mendengarkan suara itu memberinya kehangatan. Riku dengan senangnya berjalan ke samping Leivein.

Melihat pemandangan ynag terletak di bagian yang lebih dalam dari hutan itu, dia dengan spontan mengeluarkan suara terkejut.

“Waah!”

Apa yang ada disana adalah kota diantara sebuah jurang.

Tembok tebingnya sangat curam seakan mereka sudah di kikis, memiliki banyak lubang digali menembusnya. Tempat yang terlihat seperti pintu masuk itu memiliki kain dengan lambang yang tidak pernah Riku lihat sebelumnya tergantung di depannya. Mereka mungkin menggunakannya sebagai pembatas. Hal aneh lainnya adalah adanya sebuah bendera dengan gambar naga yang berkibar ditiup angin.

Sangatlah berbeda dari apa yang Riku khayalkan sebagai kota Iblis. Dia membayangkan bahwa itu adalah desa kecil dan terpencil karena penilaiannya terhadap mereka. Meski begitu, desa yang berada di antara tembok tebing yang ada didepannya tetap akan Riku anggap sebagai desa Iblis bila seseorang berkata seperti itu kepadanya. Itu karena desa itu tersembunyi dari manusia dan di kelilingi oleh tebing serta berada di tempat antah berantah.

“Apakah ini desa iblis?”

“Bukan, tempat ini bukanlah desa.”

Ujar Leivein sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dan kemudian, mereka berjalan dengan santainya mendekati desa tersembunyi itu.

Riku berjalan seakan berusaha bersembunyi di balik bayangan Leivein.

Ditengah lapangan luas yang dikelilingi oleh tebing, ada beberapa iblis berotot yang mengasah kemampuan berpedang mereka. Ada juga iblis yang menggunakan panah dan berlatih dengan target. Iblis yang bertarung satu sama lain menggunakan tinju, membuat lawannya berdarah, adalah hal lain yang bisa dilihat disana.

Ada juga iblis yang ditendang, dan terbang menuju dinding tebing. Ada juga iblis yang, sementara sedang memuntahkan darah, ia juga diserang oleh iblis yang sepertinya adalah pelatihnya.

Ya, para iblis melakukan latihan perang.

“Ah, kapten Leivein!”

Saat Leivein semakin dekat kepadanya, para iblis berotot itu segera menunduk.

Riku langsung terkejut. Postur Leivein tidaklah jauh berbeda dari Riku. Meski begitu, untuk Leivein, yang mana tidak lagi dianggap sebagai anak-anak, para iblis berotot itu menundukkan kepala mereka.

“Selamat datang kembali, kapten Leivein!!!!”

“Hm.”

Bagi Leivein, pemandangan di depannya adalah hal yang biasa. Ekspresi di wajahnya tidak berubah sedikitpun.

Riku, yang tidak tahu harus melakukan apa, sementara sedang bersembunyi di belakang Leivein, dia melihat ke arah para iblis yang menunduk. Saat ia melakukan hal itu, matanya pada akhirnya bertemu dengan salah satu iblis yang memliki kepala serigala. Iblis berkepala serigala itu memicingkan matanya seakan terkejut akan sesuatu dan hidungnya mulai bergerak seakan mengendus sesuatu.

“Kapten, siapa gadis kecil ini? Untuk suatu alasan tertentu, dia memiliki bau seperti manusia.”

“Itu karena dia adalah manusia.”

Ujar Leivein, tanpa berusaha menyembunyikan apapun.

Tepat pada saat itu juga, para iblis yang sebelumnya menunduk berdiri secara bersamaan. Mereka semua melihat ke arah Riku. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang menunjukkan gigi-giginya. Perasaan seakan setiap bagian tubuhnya ditusuk oleh pedang yang penuh dengan keinginan untuk membunuh, walaupun hal itu tidak membuat dirinya benar-benar takut, tapi hal itu tetaplah bukan sesuatu yang bisa ia hadapi. Riku secara tak sadar mulai melangkah mundur.

“Tidak perlu takut, Riku. Itu hanyalah keinginan untuk membunuh.”

Ujar Leivein sembari terus melangkah maju.

Bahkan walau seseorang berkata tidak ada yang perlu ditakuti, sebaliknya, saat seseorang tidak takut akan apapun itulah yang aneh. Tapi meski begitu, perintah Leivein adalah absolut. Dari saat Leivein mendapatkan namanya, Riku tidak bisa melawan kata-katanya.

Oleh karena itu, sementara masih gemetar, Riku berusaha untuk maju.

“Ini adalah markas batalion pertama pasukan ke empat, yang mana berada di bawah komandoku… Tempat ini biasanya dipanggil Garnisun Batalion Naga Iblis. Saat sedang damai, tempat ini menjadi tempat latihan untuk perang.”

“Kapten Leivein!”

Iblis berkepala serigala yang tadi berbicara sembari meninggikan suaranya.

Dia memanggil Leivein, namun matanya masih melihat ke arah riku.

“Kapten! Dia adalah manusia. Kuharap kapten Leivein tidak berniat mengangkatnya menjadi anak buah kapten!”

“Pemimpin lima orang prajurit, Vrusto, apakah kau tidak punya mata? Sudah jelas kalau kau melakukan hal itu.”

“Apa?!”

“Dia adalah manusia. Manusia yang kaya akan bakat.”

“Aku menentang keputusan Anda!”

Vrusto mengepalkan tangannya menjadi tinju.

Riku gemetar. Di antara sela jari-jarinya, sedikit darah bisa terlihat mengalir keluar. Dia bertanya-tanya seberapa banyak tenaga yang ia gunakan untuk mengepalkan tangannya.

“Manusia adalah sampah. Dari ratusan tahun yang lalu, mereka telah menekan kita, para iblis. Apakah kau lupa bahwa mereka menyegel Raja Iblis saat sedang tidak bersenjata karena menghadiri pertemuan untuk menegosiasikan perdamaian? Mereka bahkan menyalahkan kematian Raja mereka ke Raja Iblis!!”

“Eh?”

Riku bertanya-tanya apakah pendengarannya baik-baik saja.

Kata-kata itu adalah hal yang berlawanan dengan semua cerita yang telah ia dengar sepanjang hidupnya.

Malihat wajah terkejutnya, Vrusto mengejek dirinya.

“Lihat? Kapten, tolong lihat dia. Dia bahkan berpura-pura tidak tahu, gadis kecil ini. Bahkan walau orang sepertinya masuk, tidak akan ada gunanya. Terlebih lagi bros di bajunya itu… Bukankah itu lambang dari keluarga spiritualist yang terkenal?”

“Dia benar Kapten! Gadis ini pasti berusaha menipumu!”

“Ditambah, gadis kecil itu terasa sedikit menjijikkan. Aku tidak tahu kenapa kapten ingin membiarkannya masuk.”

“Tolong, tolong pertimbangkan kembali hal ini.”

Kata-kata Vrusto yang terus berdatangan dan ditambahi oleh perkataan para iblis yang ada disampingnya. Setiap kata-kata itu menusuk semakin dalam ke dalam hatinya tiap kali dia mendengarnya. Seakan-akan mereka berusaha menggencetnya. Dia dengan ragu melihat ke arah wajah Leivein.

Saat kata-kata dari para iblis itu datang, Leivein menutup matanya. Dari wajahnya, tidak ada seorangpun yang bisa tahu apa yang ia pikirkan kecuali bahwa suasana di sekitarnya semakin dingin.

Kehangantan yang Riku rasakan sebelumnya tidak bisa lagi dirasakan seakan kehangatan itu memang tidak pernah ada. Sekarang, Riku merasa kedinginan; sangat dingin seakan ia tidak bisa melakukan apapun.

Jika keadaan terus berlanjut seperti ini dan Riku pada akhirnya dibuang, apa yang harus dia lakukan?

“Jadi begitu. Memang benar, apa yang kau katakan memang ada benarnya. Tapi yang satu ini berguna. Oleh karena itu, aku akan merekrutnya. Aku tidak akan merubah keputusanku. Dan kalian semua harus mendengarkan hal ini. Tidak penting dari mana dia berasal atau apa rasnya, mulai hari ini, dia adalah anggota dari Garnisun Naga Iblis.”

Saat Leivein mengatakan hal itu, Vrusto terkejut.

Iblis lain yang juga mendukung Vrusto ikut terkejut saat mereka melihat ke arah Leivein. Tanpa perduli tentang ekspresi mereka, Leivein berkata dengan tidak pedulinya.

“Pemimpin lima orang prajurit, Vrusto, aku akan mempercayakan dirimu untuk mengurusnya. Tolong latih dia dengan baik.”

“Apa!? Aku!!?”

“Jangan protes. Lakukan saja.”

Leivein pada akhirnya menatap Riku.

Mata biru terang miliknya memantulkan figur Riku kecil di dalamnya. Saat ia menyadari hal itu, agar ia bisa melihatnya dengan lebih jelas, dia memperbaiki posturnya.

“Pihak yang menang bisa mengubah sejarah sesuai keinginan mereka. Pendahulumu menang melawan Raja Iblis. Oleh karena itulah, sejarah milik kami yang kalah, dicoreng. Hal itu sama seperti rambutmu. Sangat langka, dan oleh karena itu, tidak perduli seberapa indahnya rambutmu, pada akhirnya itu akan dibenci. Orang lemah dan sekumpulan kecil orang kuat tidak bisa melawan sekumpulan besar orang kuat. Hanya itu. Ingatlah hal itu.”

Setelah itu, dia mengusap kepalanya.

Dan saat Leivein dengan lembutnya mengelus rambutnya…

“Kau harus mengalahkan semua orang yang menentangmu. Aku mengharapkan banyak hal darimu, Riku.”

Setelah mengatakan hal itu, bersama dengan Piguro, dia meninggalkan tempat itu.

Riku dan para iblis lainnya yang tetap tinggal disana hanya bisa melihat mereka berjalan pergi sembari terkejut. Tapi setelah itu, satu per satu, setiap dari mereka kembali melakukan aktifitas masing-masing. Setelah itu, hanya Riku dan Vrusto yang tersisa.

“Sial… Tapi bila itu adalah perintah kapten Leivein, aku tidak bisa melakukan apapun. Tapi, kenapa dia harus membawa kembali sesuatu seperti manusia. Huh, kapten benar-benar punya hobi yang aneh… Hei, bocah! Kemarilah.”

Sembari menggaruk kepalanya, Vrusto berteriak.

Sangat mungkin untuk mendengarkan beberapa protes di gumamkan olehnya, tapi Riku tidak mendengarkan satupun. Dia menyentuh tempat Leivein mengusapnya, dan melihat kembali ke arah dia pergi.

Iblis adalah orang jahat.

Penampilan mereka berbeda dengan manusia dan memiliki tatapan yang mengerikan.

Terlebih lagi, sejarah yang ia tahu berbeda dari sejarah yang diberitahukan kepadanya.

Tapi meski begitu, dia, orang yang tidak punya tempat untuk kembali, telah diberi tempat itu. Meskipun, hal itu dilakukan dengan paksaan.

Para iblis itu… Apakah mereka iblis yang baik?

Tidak, tidak mungkin ada iblis yang baik. Setelah melihat pemandangan mengerikan tentang bagaimana, mereka tanpa ragu, memotong-motong orang-orang yang sebelumnya mengejarnya menjadi potongan kecil, tidak mungkin iblis yang baik itu ada.

Di dalam kepalanya, Riku memiliki banyak keraguan.

“Jika kau tidak bergerak juga, aku akan membunuhmu, bocah!!”

Mendengar teriakan marah Vrusto, Riku kembali sadar.

Sejak beberapa waktu yang lalu, Vrusto menunggu Riku. Melihat bagaimana ia menghentak-hentakkan kakinya ke tanah berkali-kali, terlihat jelas bahwa dia sedang marah.

“B-baik, aku akan kesana!!”

Apakah iblis adalah orang baik atau bukan, Riku tidak tahu pasti,

Dia tidak mungkin tahu, tapi untuk sekarang, dia harus mengesampingkan pemikiran itu untuk nanti.

Lagipula, Riku tidak punya tempat untuk kembali. Oleh karena itu, dia setidaknya ingin mencoba sebaik mungkin, karena disini, seseorang menerima dirinya apa adanya, walaupun itu hanya bagian kecil dari dirinya. And karena itulah, dia berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Menempatkan tangannya ke tempat tangan orang pertama yang memuji rambut merahnya tadi berada, dia segera berlari mendekat ke arah Vrusto.

No comments:

DMCA.com Protection Status