Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 2 Part 2 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 2 Part 2 Bahasa Indonesia

October 16, 2016 Pipo Narwastu


Chapter 2

Aset kuat yang berhasil mereka summon susah payah, dia tidak ingin membiarkannya lepas sebisa mungkin.

"Dan kau menyembunyikan kenyataan ini dari kami. Melihat dari itu, kami seharusnya masih bisa memilih Komunitas yang berbeda, apa aku benar?" (Izayoi)

"........"

"Keheningan mu memberitauku segalanya, Kuro Usagi. Kalau kau tetap bungkam terus, situasinya hanya akan makin memburuk. Atau memang tidak apa bagimu kalau aku pergi ke Komunitas yang berbeda?" (Izayoi)

"Tidak, bu-bukan itu! Tolong tunggu sebentar!" (Usagi)

"Itu yang sedang kulakukan saat ini, iya kan? Katakan saja semuanya padaku tanpa kau sembunyikan apapun itu." (Izayoi)

Izayoi duduk di batu terdekat dan mengambil sikap mendengarkan. Tapi bagi Kuro Usagi, memberitahukannya segalanya tentang keadaan Komunitasnya memiliki resiko yang terlalu besar.

(Setidaknya kalau saja mereka menyadarinya setelah mereka menandatangani Perjanjian Pendaftaran Komunitas--!)

Setelah mereka menandatangani Perjanjian Pendaftaran Komunitas, mereka tidak bisa keluar dengan mudah meskipun kebenarannya terbongkar. Mereka berencana untuk membuat mereka menggunakan kekuatannya sedikit demi sedikit untuk mengembalikan Komunitas-nya, tapi sepertinya baik itu Jin maupun Kuro Usagi memiliki keberuntungan yang teramat buruk. Lawannya adalah anak bermasalah kelas dunia.

"Kalau kau tidak mau memberitau ku apa-apa, maka aku tidak akan memaksanya. Aku hanya tinggal bergabung dengan Komunitas-Komunitas yang lainnya." (Izayoi)

"...Kalau aku memberitau mu... Apa kau mau membantu kami?" (Usagi)

"Yaa kalau itu cukup menarik." (Izayoi)

Dia tertawa dengan keras, tapi tetap saja, matanya tidak.

Kuro Usagi menyadari hal itu sehingga pandangannya menjadi keruh.

Berlawanan dengan dua orang gadis itu, yang mana hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kuro Usagi, mata anak laki-laki dengan tampang jahat itu terlhat seakan mencoba mengerti apa sebenarnya dunia Little Garden itu.

"...Aku mengerti. Kalau begitu Kuro Usagi akan memperkuat tekadnya dan memberitau mu mengenai situasi buruk yang melanda Komunitas kami dengan penceritaan semenarik mungkin." (Usagi)

Kuro Usagi berdeham. Dia melakukannya terutama karena putus asa.

"Pertama-tama, Komunitas kami tidak memiliki [Nama]. Sehingga, ketika seseorang ingin memanggil kami, mereka merujuk kami dengan nama sanaran 'No Name'." (Usagi)

"Hee... Kasar juga ya. Nah, terus?" (Izayoi)

"Kemudian, kami tidak memiliki Emblem yang merupakan kebanggaan Komunitas kami. Emblem juga berperan penting untuk mengindikasikan wilayah sebuah Komunitas." (Usagi)

"Hmm. Terus?" (Izayoi)

"Selain [Nama] dan [Emblem], kami tidak memiliki anggota inti lagi. Secara gamblangnya, dari 122 anggota, hanya Jin-bocchan dan Kuro Usagi saja yang memiliki Gift yang cukup kuat untuk bisa berpartisipasi dalam Gift Game, sisanya adalah anak-anak dibawah umur 10 tahun!" (Usagi)

"Benar-benar mendekati kehancuran 'ya..." (Izayoi)

"Tepat seperti yang kau katakan--♪" (Usagi)

Tertawa akan kata-kata santainya Izayoi, Kuro Usagi membenturkan kepalanya ke lututnya dengan bunyik gedebuk. Mengatakannya dengan keras, dia hanya bisa berpikir kalau Komunitasnya benar-benar sudah diambang kehancuran.

"Dan bagaimana bisa terjadi seperti itu? Apa Komunitas Kuro Usagi itu sedang melakukan pembibitan atau apa?" (Izayoi)

"Bukan, semua orang tua mereka diculik. Oleh tangan dari bencana terburuk Little Garden... [Demon Lord]." (Usagi)

Mendengar kata [Demon Lord], Izayoi, yang daritadi hanya mengangguk-angguk saja, menaikkan suaranya untuk pertama kalinya.

"De...Demon Lord!?" (Izayoi)

Matanya berkilauan seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainannya.

"Demon Lord! Apa itu? Seberapa keren dia!? Apa ada seseorang di Little Garden yang disebut dengan nama sekeran itu?" (Izayoi)

"Ya-yah... Iya. Tapi sepertinya sedikit berbeda dengan apa yang Izayoi-san bayangkan." (Usagi)

"Benarkah? Tapi kalau dia menyebut dirinya Demon Lord, maka yang pasti dia itu kuat, kejam, dan bengis sehingga tidak akan ada yang mempermasalahkannya jika aku menghancurkannya." (Izayoi)

"Ya-yah... kalau kau bisa mengalahkan salah satunya, kau mungkin akan mendapat banyak terima kasih dari banyak tempat. Tergantung kondisinya. Mungkin juga kau bisa menjadikannya sebagai anak buah mu setelah mengalahkannya." (Usagi)

"Hoo" (Izayoi)

"Demon Lord merupakan dewa perang yang berasal dari kelas istimewa khusus di Little Garden yang dimana memiliki otoritas yang dinamakan [Host Master]. Kalau seseorang ditantang oleh mereka untuk melakukan Gift Game, maka berakhir sudah, tidak ada yang bisa menolaknya. Kami ditantang bermain game oleh Demon Lord dengan otoritas Host Masternya, dipaksa untuk berpartisipasi, dan Komunitas kami... Diambil segala yang dibutuhkan untuk bisa berfungsi sebagai Komunitas yang benar." (Usagi)

Itu bukanlah kiasan. Komunitas Kuro Usagi diambil status, prestis, dan bahkan semua anggotanya. Semua yang tersisa hanyalah tanah kosong yang telah hancur dan para anak-anak. Meskipun begitu, Izayoi tidak menunjukan adanya tanda simpati, dia hanya merubah posisi tempat duduknya saja.

"Tapi tidak memiliki Nama maupun Emblem benar-benar sesuatu yang memalukan. Apa yang paling menyakitkan adalah tidak ada yang bisa digunakan untuk mengindikasikan suatu wilayah. Apa kau tidak kau tidak bisa membuat yang baru?" (Izayoi)

"Itu... Kalau itu..." (Usagi)

Dia meletakan kedua tangannya didadanya dan berhenti bicara.

Apa yang dikatakan Izayoi adalah benar. Sebuah Komunitas tanpa Nama dan Emblem tidak bisa menunjukan kebanggaannya juga tidak bisa mendapatkan kepercayaan orang-orang. Ketiadaan Emblem di dunia Little Garden ini berarti Komunitas mu tidak bisa diakui sebagai sebuah organisasi oleh yang lainnya.

Itulah kenapa Kuro Usagi dan yang lainnya mempertaruhkan harapan mereka pada satu-satunya cara dengan memanggil rekan-rekan baru dari dunia lain.

"I-itu mungkin. Akan tetapi mengganti nama berarti benar-benar pembubaran bagi suatu Komunitas. Tapi itu tidak baik! Apa yang kami inginkan lebih dari apapun... Yaitu melindungi tempat untuk rekan-rekan kami bisa kembali!" (Usagi)

Untuk melindungi tempat rekan-rekannya bisa kembali. Itu adalah pertama kalinya kata-kata Kuro Usagi mencerminkan perasaan aslinya.

Untuk melindungi tempat mereka yang kalah dalam Game oleh Demon Lord untuk kembali, mereka bersumpah untuk melindungi Komunitas, bahkan meskipun itu berarti mereka akan dikecam oleh sekeliling mereka.

"Sebuah jalan yang berduri. Tapi sambil melindungi tempat untuk rekan-rekan kami bisa kembali, kami perlahan akan membangun kembali Komunitas kami... dan suatu hari nanti, kami akan mengambil kembali Nama dan Emblem Komunitas kami dan menunjukannya dengan bangga. Sampai saat itu, tidak ada pilihan lain bagi kami, tapi untuk bergantung kepada Pemain kuat seperti Izayoi-san! Maukah kau meminjamkan kekuatan menakjubkan mu ke Komunitas kami...!?" (Usagi)

"...Phuun. Kebanggan dan rekan-rekan dari Demon Lord..." (Izayoi)

Kuro Usagi meminta dengan membungkuk rendah. Sebaliknya, Izayoi menanggapinya dengan suara apatis terhadap pengakuannya itu. Sikapnya bahkan seakan seperti dia tidak mendengarkan apa yang Kuro Usagi barusan katakan.

Bahu Kuro Usagi pun turun dan dia terlihat seakan dia akan menangis.

(Kalau dia menolaknya... Komunitas kami akan...)

Kuro Usagi menggigit bibirnya. Kalau mengarah ke penyesalan yang seperti ini, akan lebih baik untuk menjelaskan segalanya dari awal.

Orang itu, Izayoi, dengan malas mengatur ulang duduk sila-nya dan setelah 3 menit hening...

"Kedengarannya menyenangkan." (Izayoi)

"..........Eh?" (Usagi)

"Jangan malah 'Eh'. Aku bilang aku akan bergabung dengan Komunitas mu. Berbahagialah sedikit, Kuro Usagi.", kata Izayoi yang kedengarannya kesal.

Kuro Usagi yang kebingungan bertanya 3-4 kali sambil berdiri.

"E... A-apa? Apa arahnya seperti ini?" (Usagi)

"Iya. Atau kau tidak membutuhkan ku? Kalau kau mengatakan hal yang kasar, aku beneran akan pergi ke tempat lain." (Izayoi)

"Ja-jangan begitu dong, kau tidak boleh pergi kemanapun! Kami memerlukan Izayoi-san!" (Usagi)

"Jujur itu lebih baik. Pergi bangunin ular itu sana dan cepat ambil Gift itu. Sehabis itu kita akan pergi melihat air terjun di ujung sungai dan juga [Ujung dari Dunia]." (Izayoi)

"I-iya!" (Usagi)

Kuro Usagi dengan senangnya pergi melompat ke atas Dewa Ular dan bergerak mendekati rahangnya.

Izayoi sedang mengamati mereka yang sedang mendiskusikan sesuatu dari kejauhan, ketika secara tiba-tiba cahaya kebiruan mengisi sekeliling. Ketika sumber cahaya yang bergerak lambat itu akhirnya bisa dipindahkan dari kepala Dewa Ular ke tangannya Kuro Usagi, dia melompat kembali ke hadapan Izayoi.

"Kyaa-Kyaa-Kyaa-♪ Lihat ini! Kami mendapatkan anak pohon dari pohon air sebesar ini! Kalau kami memiliki ini, kami tidak perlu beli air lagi dari Komunitas lainnya! Gift ini benar-benar sangat membantu!" (Usagi)

Dia melompat-lompat sambil berteriak 'ukyaa♪' sembari memeluk anak pohon dari pohon air. Izayoi tidak begitu mengenal keadaan Komunitas ataupun Little Garden, tapi sepertinya itu adalah hal yang sangat penting bagi Kuro Usagi.

"Baguslah kalau kau sangat menyukainya, tapi bisakah aku menanyakan mu sesuatu?" (Izayoi)

"Silahkan, silahkan! Aku tidak hanya akan menjawab satu, tapi bahkan tiga atau empat pertanyaan kalau kau mau-♪." (Usagi)

"Perut mu gendut juga." (Izayoi)

"Siapa yang kau sebut gendut!?" (Usagi)

Marah, terus senang, terus marah lagi, dia memang kelinci yang sangat sibuk.

"Yah, itu nggak penting sih, tapi kalau kau sangat menginginkan benda itu, kenapa nggak kau tantang aja ini ular? Dari yang kulihat, sepertinya kau jauh lebih kuat darinya." (Izayoi)

Kuro Usagi menunjukan sedikit reaksi terkejut, tapi kemudian matanya menjadi murung.

"Aah... mengenai itu. Alasan dibalik itu karena fakta kalau Kelinci disebut sebagai [Keturunan Bangsawan]. Kelinci memiliki hak khusus, seperti [Host Master], tapi disebut [Judge Master]. Kalau seseorang dengan otoritas [Judge Master] menjadi pengadil dalam Game, kedua partisipan tidak akan bisa melanggar aturan Gift Game--, atau lebih tepatnya, kekalahan pelanggar aturan sudah dapat diputuskan." (Usagi)

"Hee, lumayan juga. Itu berarti kalau kami bersengkongkol dengan Kuro Usagi, kami jadi tidak terkalahkan di Gift Games." (Izayoi)

"Bukan itu maksudku! Melanggar aturan = Kekalahan. Mata dan telinga kelinci terhubung dengan pusat Little Garden. Itu berarti terlepas dari apa yang diinginkan oleh Kelinci, kekalahan harus diputuskan secara adil, dan Chip dapat dikoleksi. Dan kalau kami mencoba tidak adil, maka..." (Usagi)

"Maka...?" (Izayoi)

"Kami menghancurkan diri sendiri." (Usagi)

"Kau menghancurkan dirimu sendiri...?" (Izayoi)

"Dengan cara yang spektakular juga! Sebagai kompensasi atas kepemilikan hak [Judge Master], ada beberapa [Pembatas] juga.
  • Pertama, setelah menjalankan tugas sebagai pengadil Gift Game, selama 15 hari tidak dapat mengikuti Gift Game lainnya.
  • Kedua, tidak dapat berpartisipasi tanpa adanya persetujuan dari Host.
  • Ketiga, tidak dapat berpartisipasi dalam Game yang berada diluar Little Garden.
Yah, masih ada lagi sih, tapi alasan utama kenapa aku tidak bisa menantang Dewa Ular-sama ke dalam Game adalah ketiga hal itu. Selain itu, pekerjaan pengadil merupalan satu-satunya pemasukan Komunitas Kuro Usagi, tak dapat dihindari jika tidak ada banyak kesempatan untuk bisa berpartisipasi dalam Community's Games." (Usagi)

"Begitu ya. Meskipun dengan kemampuan mu yang seperti itu, kalau kau tidak bisa berpartisipasi, tidak ada yang bisa kau lakukan lagi." (Izayoi)

Dia mengangkat bahunya dan mulai berjalan menyusuri tepi sungai.

Dia berjalan menuju Air Terjun Tritonis yang Agung di Ujung dari Dunia. Kuro Usagi, yang sedang memegang anak pohon dari pohon air yang memiliki tinggi kira-kira sama dengannya, bisa mengejarnya dengan joging pendek.

"Kuro Usagi juga punya pertanyaan untuk mu, Izayoi-san." (Usagi)

"Gak boleh... Bercanda. Apa pertanyaannya?" (Izayoi)

"Eh? Ah, ok. Kenapa Izayoi mau bergabung dengan kami?" (Usagi)

"Hm... Aku bisa menjawab mu secara langsung, tapi nggak asik kalau gitu sih. Aku akan merubah pertanyaannya sedikit. Kenapa menurut mu aku ingin melihat [Ujung dari Dunia]?" (Izayoi)

Kuro Usagi berpura-pura merenungkan pertanyaannya sambil mengambil langkah panjang.

"Itu... Karena menyenangkan? Izayoi kan mengaku kalau dirinya Hedonis." (Usagi)

"Hampir benar. Terus kenapa aku menganggapnya menyenangkan?" (Izayoi)

Mumu~. Kali ini Kuro Usagi memikirkan pertanyaannya dengan serius.

"Waktu habis." (Izayoi)

"Ada waktunya!? K-kau tidak bisa melakukan itu! Menambahkan batas waktu untuk sebuah Game itu melanggar aturan, kecuali kalau sudah disepakati terlebih dahulu!" (Usagi)

"Apa kau serius? Kalau begitu Kuro Usagi akan meledakan dirinya sendiri dong?" (Izayoi)

"Kenapa aku harus meledakan diri sekarang!?" (Usagi)

Izayoi terus berjalan maju, meledekin Kuro Usagi di perjalanan.

Empat jam telah berlalu semenjak ketiganya - Izayoi, Asuka, dan Yo - dipanggil ke Little Garden. Matahari perlahan terbenam dan sudah hampir senja.

"Jadi, apa jawaban yang benar dari pertanyaan mu itu?" (Usagi)

"Gimana ya... Sederhananya, itu karena ada rasa petualang didalamnya. Di dunia ku, para leluhur sudah mengambil setiap bagian kemungkinan dalam berpetualang, (TL Note: Maksudnya seperti tanah, wilayah, ekosistem, dsb) hampir tidak ada yang tersisa yang cocok untuk ku. Jadi aku berpikir, kalau itu dunia lain, maka mungkin akan ada banyak hal yang luar biasa yang pantas untuk ku. Dengan kata lain, pergi melihat [Ujung dari Dunia] adalah untuk mengisi sensasi-sensasi yang diperlukan bagiku untuk bertahan hidup, atau semacam itulah." (Izayoi)

"Gi-gitu ya. Izayoi-san ingin merasakan sensasi berpetualang, apa aku benar?" (Izayoi)

"Yup. Hidup dalam sensasi adalah dasar dalam menjadi hedonis 'bukan?" (Izayoi)

"Begitu ya... Nn? Kalau begitu alasan kau mau meminjamkan kekuatan mu ke Kuro Usagi-?" (Usagi)

Sudah agak gelap. Kalau mataharinya sudah benar-benar tenggelam, kita mungkin tidak akan bisa melihat pelangi. Ayo cepat." (Izayoi)

Kuro Usagi buru-buru mengejar Izayoi yang mengganti kecepatan berjalannya.

Bahkan setelah matahari terbenam, pemandangan yang bagus tetaplah pemandangan bagus, tapi Izayoi mungkin ingin melihatnya baik itu sebelum maupun sesudah matahari terbenam.

Melihat matahari terbenam, Izayoi bergumam.

"Sepertinya matahari pergi mengelilingi dunia, sama seperti teori Geosentris..." (Izayoi)

"Kau menyadarinya? Mataharinya murni diciptakan oleh dewa untuk mengelilingi Little Garden. Mereka berkata di Eselon Teratas Little Garden terdapat Game untuk mengendalikan matahari." (Usagi)

"Lumayan sesuatu juga itu. Aku jadi ingin mengikutinya suatu hari nanti." (Izayoi)

Bagi Kuro Usagi, tawa Izayoi tampak terlihat benar-benar senang untuk pertama kalinya.

Setelah itu, mereka berjalan sekitar setengah jam lagi sebelum sampai ke tujuan akhir, Air Terjun Tritonis yang agung.

"Oohhh---!"

Air Terjun Tritonis yang Agung berwarna merah karena sinar senja, cipratan airnya yang kuat menciptakan segudang pelangi.

Anak sungai yang berbentuk lonjong berlanjut hingga ke jarak yang jauh, air itu mengalir melewati [Ujung dari Dunia] dan kemudian jatuh ke langit tanpa batas dibawahanya.

Kuro Usagi menjelaskan sambil menahan angin dan cipratan air yang jatuh dari sisi atas tebing.

"Jadi, bagaimana? Ini yang namanya Air Terjun Tritonis yang Agung, lebarnya sekitar 2800 meter. Mungkin tidak ada air terjun yang seperti ini di dunianya Izayoi-san, kan?" (Usagi)

"--Aah. Jujur saja ini luar biasa. Jadi air terjunnya memiliki lebar dua kalinya Niagara. Apa yang ada dibawah [Ujung dari Dunia]? Apa dunia ini memang ditopang oleh kura-kura raksasa?" (Izayoi)

Berdasarkan teori yang pertama, dunia tidaklah berbentuk bulat, melainkan mengambang di atas air, dipunggung sebuah kura-kura raksasa. Izayoi mungkin sedang berpikir seperti itu.

Izayoi mengintip dari tebing berharap untuk melihat kura-kura raksasa. berharap dapat menemukan kura-kura raksasanya.

Dia membayangkan sesuatu seperti lubang dalam yang gelap dibawah, tapi hanya melihat langit senja dibawah tebing dan dimanapun juga.

"Sayangnya tidak seperti itu. Penompang dunia ini adalah tiang-tiang yang diketahui sebagai [Sumbu Dunia]. Tidak ada yang tahu ada berapa banyak tepatnya,  tapi salah satunya menembus Little Garden... nah itu, tiang besar yang ada disana itu. Ada legenda yang mengatakan kalau alasan dibalik keberadaan Little Garden di bentuk yang tidak sempurna ini adalah karena disuatu tempat ada seseorang yang menarik salah satu [Sumbu Dunia] keluar dan membawanya kerumah, tapi..." (Usagi)

"Hahaa, hebatnya. Kalau begitu kita harus berterima kasih sama idiot itu." (Izayoi)

Memandangi Air Terjun Tritonis yang Agung berwarnakan merah gelap bersamaan dengan matahari yang perlahan tenggelam, Izayoi tiba-tiba menanyakan Kuro Usagi sebuah pertanyaan, seolah-olah dia baru saja mengingatnya.

"Air Terjun Tritonis yang Agung, ya? Apa Atlantis ada di hulu sungai ini atau semacamnya?" (Izayoi)

"Hm, ntah lah. Selain luasnya Dunia Little Garden yang sama dengan luas permukaan matahari, Kuro Usagi tidak begitu mengenal keadaan yang ada diluar Little Garden. Namun--, kalau kita bisa memindahkan markas kami ke Eselon Teratas, disana mungkin ada dokumen-dokumen yang memiliki informasi tentang itu." (Usagi)

"Haah, 'Kalau kau mau tahu, teruslah bantu kami sampai saat itu.' begitu ya?" (Izayoi)

"Tidak, tidak, bukan seperti itu. Kalau kau menginginkan petualangan, maka inilah rekomendadi dari Kuro Usagi." (Usagi)

"Yah, makasih, memang seperti itulah dirimu." (Izayoi)

Izayoi mulai mencari tempat untuk menikmati pemandangan indah itu, dan kemudian dia tiba-tiba mulai bicara.

"Yah, kau memanggil ku ke dunia yang tidak masuk akal dan terlihat menarik ini. Aku akan melakukan bagian ku untuk itu. Tapi aku tidak akan membantu mu untuk membujuk dua orang lainnya. Aku tidak keberatan kau mau menipunya, membodohinya, atau apapun itu, tapi aku lebih suka kalau itu tidak akan menyebabkan masalah untuk kedepannya. Kalau kita ingin melakukannya secara tim, akan lebih baik untuk membicarakannya baik-baik." (Izayoi)

"...Aku mengerti." (Usagi)

Kuro Usagi memiliki penyesalan yang dalam di hatinya.

Ya, mereka adalah rekan-rekan yang akan bertarung bersama-sama dalam Komunitas yang sama. Dengan mencoba mengambil keuntungan dari mereka hanya karena mereka adalah anak bermasalah, mereka hanya akan kehilangan semua kepercayaan yang tidak akan bisa dia dapat lagi.

Pentingnya Komunitas membuat Kuro Usagi melupakan kenyataan ini. Hal itu sangatlah kasar terhadap para rekan baru.

(Harusnya aku menceritakan ini dari awal... Apa Jin-bocchan disana baik-baik saja ya?)

Part 4

Setengah jam sebelum Kuro Usagi dapat menyusul Izayoi saat itu.

Di sebuah kafe pinggir jalan Air Mancur Alun-Alun, Asuka dan Yo sedang merangkum apa yang mereka dapat pelajari dari mendengarkan penjelasan mengenai Komunitas sambil memegang cangkir dengan satu tangan.

"Begitu ya. Aku mengerti kurang lebihnya. Dengan kata lain [Demon Lord] adalah istilah yang digunakan untuk dewa dan semacamnya, yang mengayunkan hak khusus mereka di dunia ini, dan Komunitasnya Jin-kun dipermainkan dan dihancurkan olehnya. Semacam itukah?" (Asuka)

"Tentu saja, nona. Para dewa memang menyukai manusia bermuka tebal sejak jaman dahulu kala.Menghancurkan sesuatu yang sangat kau cintai merupakan peristiwa yang sangat lumrah baginya." (Galdo)

Galdo Gasper membentangkan lengannya lebar-lebar sambil  tertawa dengan ironis sembari duduk di kursi kafe pinggir jalan.

"Mereka kehilangan Nama, Emblem, dan semua kekuatan utama mereka. Yang tersisa hanyalah bagian luas tanah di wilayah pemukiman. Kalau mereka mau membentuk Komunitas lainnya saat itu terjadi, maka Komunitas sebelumnya akan dikenang sebagai sesuatu yang luar biasa. Sekarang mereka tidaklah lebih dari Komunitas tak bernama dan tak terhormat lainnya." (Galdo)

"..."

"Coba pikir sedikit. Apa yang bisa dilakukan oleh Komunitas yang tidak memiliki nama? Jual beli? Menjadi Host? Tidak akan ada yang mau mempercayai sebuah organisasi yang tak memiliki Nama. Lalu mengikuti Gift Game? Ya, itu masih mungkin. Tapi akankah para Pemilik Gift mau berkumpul ke Komunitas yang prestis dan kebanggannya menurun drastis?" (Galdo)

"Tepat sekali. Mungkin tidak akan ada yang mau bergabung." (Asuka)

"Ya. Dia bukanlah apa-apa tapi hantu yang tak tahu malu dari masa lalu yang menempel pada masa kejayaan mereka, memegang sebuah mimpi yang mustahil.

Dia dengan kasar tertawa keras pada Jin dan Komunitasnya, hampir merobek tuksedo warna warninya.

Wajah Jin merah terang dan tangannya sedang menggenggam  di atas pangkuannya.

"Masih ada lagi. Katanya dia ingin membangun kembali Komunitasnya, tapi dia hanyalah parasit yang bergantung pada Kuro Usagi untuk mensupport Komunitasnya." (Galdo)

"..."

"Aku jadi sangat merasa kasihan kepada Kuro Usagi. Kelinci memiliki banyak Gift kuat sehingga mereka disebut sebagai [Keturunan Bangsawan], Komunitas manapun akan senang menerima mereka dengan tangan terbuka. Memiliki Kelinci di Komunitasnya merupakan keuntungan besar. Dan lagi, tiap hari dia lari kesana kemari merusak dirinya sendiri untuk bocah-bocah bodoh itu, mensupport Komunitas lemah itu, bergantung pada satu-satunya pendapatan minimnya." (Galdo)

"...Begitu ya. Aku mengerti situasinya. Kalau begitu Galdo-san, kenapa kau memberitahu kami begitu sopannya tentang ini?" (Asuka)

Tanya Asuka dengan maksud tersembunyi dibalik kata-katanya. Galdo menyadarinya dan tertawa.

"Biar kukatakan terus terang. Maukah kalian datang ke Komunitas ku bersama dengan Kuro Usagi jika kalian berkenan?" (Galdo)

"A-apa yang kau katakan Galdo Gasper!?" (Jin)

Jin Russell memukul mejanya dengan marah dan menentangnya.

Tapi Galdo Gasper dengan ganas menatap kembali Jin.

"Diam, Jin Russell. Kalau kau mau merubah Nama dan Emblem dari dulu, setidaknya akan ada beberapa orang yang mau bertahan. Kau memojokkan Komunitasmu sendiri dengan keegoisan mu, sudah itu kau berani mensummon orang-orang dari dunia lain?" (Galdo)

"I-itu..." (Jin)

"Apa kau pikir kau bisa memperdaya seseorang yang tidak tahu apa-apa? Dan jika hasilnya kau akan membuat mereka menanggung kesulitan yang sama dengan Kuro Usagi... maka sebagai penduduk Little Garden, aku berkewajiban untuk memperingatkan mu." (Galdo)

Dihajar dengan tatapan hewan buas seperti sebelumnya, Jin sedikit bimbang.

tapi yang lebih parah dari kata-kata Galdo, perasaan bersalah dari tindakan yang tak bisa dibenarkannya terhadap Asuka dan Yu membuat hatinya menjadi berat.

Komunitas Jin berada dalam situasi yang mengerikan.

"...Jadi, bagaimana nona-nona? Aku tidak akan meminta jawabannya sekarang. Kalian memiliki waktu 30 hari untuk bebas di Little Garden untuk memutuskan sebelum bergabung dengan sebuah Komunitas. Kalian seharusnya memeriksa Komunitas yang memanggil kalian dan Komunitas kami, [Fores Garo], kemudian setelah mempertimbangkan baik--" (Galdo)

"Tidak perlu. Aku sudah sangat puas dengan Komunitasnya Jin-kun." (Asuka)

'Ha?'Jin dan Galdo berusaha untuk memahami motifnya dari ekspresinya.

Seakan tidak ada hal khusus yang terjadi, Asuka meminum sisa minuman yang ada di cangkirnya dan menoleh ke arah Yo dengan senyuman.

"Bagaimana menurut Kasukabe-san mengenai ini?" (Asuka)

"Tidak banyak, aku tidak masalah dengan keduanya. Aku hanya datang ke dunia ini untuk mencari teman lagian." (Yo)

"Oh, diluar dugaan. Kalau begitu, bisakah aku mencalonkan diri untuk posisi teman nomor satu mu? Kita memang kutub yang berlawanan, tapi ntah kenapa aku merasa kita bisa akur dengan baik." (Asuka)

Yo diam berpikir beberapa saat, kemudian mengangguk dengan sedikit tersenyum.

"...Iya, Asuka berbeda dengan wanita lainnya yang aku kenal, jadi mungkin tidak apa-apa." (Yo)

"Aku jadi senang Ojou! Aku sangat senang Ojou bisa mendapat teman, aku benar-benar terharu."

Kucing belacu itu menangis haru.

Mereka berdua menjadi bersemangat sendiri.

Ekspresi Galdo menjadi tegang setelah diabaikan sepenuhnya, kemudian terbatuk sambil menjaga ketenangannya.

"Permisi, tapi bisakah kau memberitahu ku alasanny--" (Galdo)

"Seperti yang sudah kubilang, aku sudah sangat puas. Dan seperti yang sudah kau dengar, Kasukabe-san hanya datang kesini untuk mencari teman, dia masalah mau bergabung dengan Jin-kun ataupun Galdo-san, kan?" (Asuka)

"Iya." (Yo)

"Dan aku sendiri, Kudou Asuka, aku meninggalkan kekayaan, jaminan masa depan ku, dan kehidupan yang banyak orang dambakan, untuk datang ke Little Garden. Apa kau mengira kalau undangan yang bermuka dua dari organisasi berskala kecil yang hanya menguasai wilayah yang sangat kecil itu menarik? Kalau begitu, maka kau harusnya coba lagi setelah kau menyadari batasan mu, dasar pria harimau penipu." (Asuka)

Asuka menolaknya dengan datar.

Galdo Gasper gemetaran karena marah. Sebagai orang yang mengaku dirinya seorang gentleman, dia mungkin sedang kesulitan mencari kata-kata yang cocok untuk menanggapi  pernyataan yang teramat menghinaannya Asuka.

"Tu-... Tunggu sebentar, nona-" (Galdo)




"Diam!" (Asuka)

Krash! Mulut Galdo tertutup dengan paksa dan kasar dengan cara yang terlihat tidak biasa dan menjadi diam.

Dia tampak bingung, berusaha keras untuk membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar.

"...!?..!??"

"Aku masih belum selesai bicara. Masih ada hal-hal yang ingin aku tanyakan padamu. Duduk dengan tenang dan jawab semua pertanyaan ku!" (Asuka)

Kata-kata Asuka memiliki kekuatan, kali ini Galdo dipaksa duduk, retakan-retakan muncul dikursinya.

Galdo panik.

Dia tidak tahu bagaimana wanita itu melakukannya, tapi kebebasan anggota tubuhnya telah terambil, dia sama sekali tidak bisa melawannya.

Penjaga toko bertelinga kucing yang terkejut itu buru-buru datang menghampiri mereka.

"To-tolong bertengkarnya jangan disin-" (??)

"Kau datang disaat yang tepat. Aku ingin penjaga-toko-san untuk menjadi saksi sebagai pihak ketiga. Kau mungkin akan mendengar banyak hal yang menarik." (Asuka)

Setelah menenangkan penjaga toko bertelinga kucing, dia melanjutkan pembicaraan.

"Kau bilang kau menantang area Komunitas ini ke dalam sebuah kontes dimana kedua pihak setuju dan memenangkan semuanya. Tapi ntah kenapa rasanya berbeda dengan Gift Game yang aku dengar sebelumnya. game antar Komunitas harusnya terdiri atas Host dan penantang, keduanya mempertaruhkan macam-macam chip-nya. ...Hei, Jin-kun, apa mempertaruhkan seluruh Komunitas sebagai chip itu hal yang biasa?" (Asuka)

"Ha-hanya jika tidak ada cara lain, pada saat tertentu saja. Tapi itu sama saja dengan mempertaruhkan seluruh keberadaan Komunitas itu sendiri, sangat jarang terjadi." (Jin)

Penjaga toko bertelinga kucing mengangguk setuju.

"Kupikir juga seperti itu. Meskipun kami yang baru saja tiba disini mengetahuinya. Dapat memaksa pertarungan antara Komunitas hanya dapat dilakukan oleh Host Master yang memiliki hak yang dikhawatirkan sebagai Demon Lord. Kenapa kau, yang tidak memiliki hak itu, bisa memaksa pertandingan penting yang mereka harus meresikokan seluruh Komunitasnya berkali-kali? Bisa beritahu kami?" (Asuka)

Wajah Galdo Gasper terlihat seperti dia akan berteriak, tapi bertentangan dengan keinginannya, dia mulau berbicara.

Orang-orang disekitar perlahan mulau menyadari alasan dibalik kekacauan ini.

Dengan kata lain, fakta kalau tidak ada yang bisa menolak wanita muda ini, perintah dari Kudou Asuka.

"Ada banyak cara untuk memaksanya. Yang paling mudah adalah menculik wanita dan anak-anak dari Komunitas lawan dan memerasnya. Kami membiarkan orang yang tidak merespon untuk diurus nanti, kemudian perlahan-lahan menyerap mereka semua. dan memaksa yang tersisa kedalam keadaan dimana mereka tidak bisa menolak tantangan untuk mengikuti Game." (Galdo)

"Yah, seperti yang sudah ku duga. Rencana sesimpel itu pantas untuk ikan kecil seperti mu. Meskipun begitu, akankah para anggota dari organisasi yang kau dapatkan dengan cara busuk itu mau bekerja untuk mu dengan sukarela?" (Asuka)

"Kami mengambil beberapa anak kecil sebagai sandera dari tiap Komunitas." (Galdo)

Salah satu dari alisnya Asuka berkedut sedikit.

Cara Asuka bicara dan ekspresinya tidak berubah, tapi suasana disekitarnya memberinya perasaan yang tidak enak. Bahkan Yo yang berbeda dalam pemilihan Komunitas melihat kearahnya dengan mata menyipit seolah-olah dia sedang melihat sesuatu yang menjijikan.

"...Oh. Semakin dan semakin hina. Terus, dimana anak-anak itu disekap sekarang?" (Asuka)

"Aku sudah membunuhnya." (Galdo)

Suasana disekitarnya membeku dalam sekejap.

Jin, penjaga toko, Yo, dan bahkan Asuka meragukan pendengarannya untuk sementara dan tidak tahu harus berpikir apa. Hanya Galdo Gasper yang melanjutkan pembicaraannya menuruti perintah yang diterimanya.

"Dihari pertama kami mengambil anak-anak itu, tangisannya benar-benar membuat ku kesal sehingga aku membunuh mereka semua tanpa pikir panjang. Setelah itu, aku mencoba untuk lebih berhati-hati setelah membawanya, tapi 'aku rindu ayah', 'aku ingin bertemu ibu', tangisannya benar-benar membuat ku jengkel sehingga aku membunuh mereka semua. Setelah itu aku langsung membunuh bocah-bocah disaat bersamaan mereka tiba. Tapi kalau mereka mengetahui aku membenuh seseorang dari Komunitas-Komunitas itu, akan menjadi kehancuran organisasi. Jadi anak buah yang aku percaya mengurus tubuh-tubuh bocah-bocah yang sudah mati it-" (Galdo)

"Diam!" (Asuka)

Clang! Mulut Galdo menutup lebih cepat dari sebelumnya.

Suara Asuka menjadi lebih mengerikan seakan dia menindak Galdo seperti sedang mencoba memeras jiwanya.

"Hebat. Sangat sulit untuk menemukan orang yang melambangkan kejahatan sepetimu. Seperti yang diharapkan dari Little Garden, rumah bagi makhluk-makhluk bukan manusia. Kan, Jin-kun?" (Asuka)

Dia sedikit bingung dari tatapan dinginnya Asuka, tapi dia menolaknya dengan cepat.

"Penjahat seperti itu jarang ada, bahkan di Little Garden." (Jin)

"Begitukah? Sedikit disayangkan... Ngomong-ngomong, dengan pengakuan seperti ini, apakah hukum dari Little Garden akan menghukum sampah ini?" (Asuka)

"Tentu saja, mengambil sandera dari Komunitas yang menolak ataupun membunuh rekan-rekan pengikutnya adalah pelanggaran hukum, tapi... Kalau dia bisa keluar dari Little Garden sebelum hukum mengadilinya, maka berakhir sudah." (Jin)

Hal itu bisa dianggap sebagai bentuk hukuman atas dirinya sendiri. Kalau Galdo sebagai pemimpin meninggalkan Komunitas, sudah jelas bagi Fores Garo yang bukan apa-apa melainkan rombongan yang tak beraturan akan hancur.

Tapi Asuka masih belum puas hanya dengan seperti itu.

"Oh. Kalau begitu tidak ada yang bisa kita lakukan." (Asuka)

Dia dengan jengkel menjentikan darinya.

Itu pastinya adalah tanda.

Kekuatan yang menahan Galdo menghilang dan kebebasan anggota tubuhnya kembali padanya.

Galdo menggila dengan amarahnya dan menghancurkan meja kafe-nya.

"Da-dasar bajiiiingan!!" (Galdo)

Bersamaan dengan raungan kerasnya, tubuhnya mengalami perubahan yang radikal. Tuksedo yang menyelimuti tubuh besarnya terkoyak karena ototnya yang membesar, dan rambut-rambut yang ada ditubuhnya berubah warna menjadi perpaduan hitam dan kuning dengan pola bergaris.

Giftnya mendekati sesuatu yang seperti manusia serigala. Dia adalah bagian dari ras gabungan yang disebut sebagai manusia harimau.

"Bajingan, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan... tapi kau tahu siapa yang berdiri dibalik ku, kan!? Aku dibawah perlindungan Demon Lord yang menjaga Gerbang Little Garden Nomor 666! Jika kau berurusan dengan ku, itu berarti kau juga berurusan dengannya! Apa kau tahu maksud-" (Galdo)

"Diam! Aku masih belum selesai bicara." (Asuka)

Clang! Sekali lagi mulutnya menutup dengan suara keras. Tapi amarahnya tidak bisa dihentikan hanya dengan itu lagi.

Galdo mengangkat tangannya, lengan yang seperti batang kayu dan menyerang Asuka.

Yo melangkah diantara mereka.

"Bertarung itu tidak baik."

Dia menangkap salah satu tangannya Galdo, kemudian memelintirnya kebih jauh, menyebabkan tubuh besarnya berbelok dan menyematkannya turun.

"Gi...!" (Galdo)

Mata Galdo terbuka lebar dengan kekuatan yang diluar dugaan dari tangan kecilnya gadis itu.

Hanya Asuka yang tertawa dengan senangnya.

"Nah, Galdo-san. Aku tidak peduli siapa yang ada dibelakang mu. Hal yang sama juga mungkin akan dikatakan oleh Jin-kun. Lagian, tujuan akhirnya kan memang ingin mengalahkan Demon Lord yang menghancurkan Komunitasnya." (Asuka)

Mendengar kata-kata itu, Jin mengambil napas dalam-dalam. Kenyataannya, Jin hampir pingsan ketakutan ketika Demon Lord disebut, tapi mendengar Asuka yang menyebut tujuaanya telah membantunya untuk bisa kembali ke dirinya yang biasanya.

"...Iya. Tujuan akhir kami adalah mengalahkan Demon Lord dan mendapatkan kembali kebanggan dan rekan-rekan kami. Ancaman yang seperti itu tidak akan mempan kepada kami lagi." (Jin)

"Nah, seperti itulah. Itu berarti kau tidak akan mungkin bisa menghindari kehancuran mu sendiri." (Asuka)

"Si-Sial...!" (Galdo)

Untuk alasan yang tidak diketahui, Galdo yang sedang disematkan kebawah oleh Yo, berbaring di tanah, tak bisa bergerak.

Setelah Asuka menjadi tenang kembali, dia mengangkat dagunya Galdo dengan ujung kakinya, kemudian berbicara dengan senyum jahatnya:

"Akan tetapi, aku tidak akan puas hanya dengan kematian Komunitas mu saja. Sampah seperti mu harus dicabik-cabik dan dihukum, sambil menyesali semua dosa-dosa mu. ...Tapi ada proporsi yang aku miliki untuk kalian semua yang ada disini." (Asuka)

Jin dan pegawai-pegawai toko mengangguk terhadap kata-katanya Asuka, saling menatap satu sama lain dan memiringkan kepala mereka.

Asuka menarik ujung kakinya pergi dan kali ini dia memegang dagunya Galdo dengan jari-jari feminim, cantiknya.

"Ayo kita bermain Gift Game. Dengan mempertaruhkan keberadaan 'Foren Garo' mu dengan kebanggaan dan jiwa dari 'No Names'." (Asuka)

    No comments:

    DMCA.com Protection Status