Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 3 Part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 3 Part 1 Bahasa Indonesia

October 27, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Google Translate
Editor: Bing Translate
Proofreader: Yahoo Translate

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 4 Chapter 3 Part 1/2: Kinsho-ko no shōjo (Gadis Perpustakaan Terlarang)

— —Perlahan, hanya fokus untuk memutar knop pintu ditangannya, Subaru menahan napasnya.

Dia merasa kalau ini adalah pintu yang benarnya.
(TL Note: Asli ane ga ngerti maksud 2 kalimat diatas apa)

Berkeliling mansion diam-diam seperti ini, dia secara tiba-tiba menyadari sebuah pintu yang menarik perhatiannya.

Meninggalkan Emilia dan yang lainnya di ruang tamu, diberikan sedikit waktu, Subaru berkeliling mansion sendirian, dan menemukan pintu itu ketika dia menapakan kakinya disebuah lorong yang ada di lantai dua.

Disaat dia menyentuh knop pintunya, keragu-raguannya mulai berubah menjadi keyakinan, dan begitu dia mulai mendorong membukanya, sudah tidak ada keraguan lagi dipikirannya.

Dan, setelah mengetahui keberadaan 'ruang itu', disaat itu juga, dia melangkahkan kakinya kedalam,

"Yo, sudah lama ya nggak ketemu" (Subaru)

Perpustakaan Terlarang, persis seperti yang dia ingat, perpustakaan itu terbentang dihadapan matanya.

Gadis kecil, yang merupakan pemiliki ruangan remang-remang itu, juga sama sekali tidak berubah — — Duduk di sebuah pijakan tangga seolah itu adalah kursi darurat, dia sedang membalikan lembaran bukunya.

"— —Mansionnya berisik sekali, dan sudah kuduga kau sudah kembali ternyata" (Beako)

Dia sedikit mengangkat matanya untuk melihat Subaru sebentar. — —Tetapi setelah menggumankan kata-kata itu seakan dia bosan, dia langsung kehilangan ketertarikan, dan menjatuhkan kembali pandangannya kebuku-nya.

"Kalau kau sudah kembali, itu berarti Nii-cha juga sudah kembali. Aku merasakan gadis itu, dan beberapa serangga menyebalkan lainnya, sepertinya" (Beako)

"Puck masih belum keluar, dia sepertinya masih mengisi baterainya. Ah, aku nggak suka saat kau membicarakan Emilia-tan seakan dia itu sama dengan kategori itu 'tau! Meskipun aku tidak keberatan kalau itu Otto." (Subaru)

"Kau emang beneran berisik 'ya." (Beako)

Beatrice mendenguskan hidungnya terhadap obrolan kecilnya Subaru, dan mengatur kembali posisi kakinya dibalik gaun mewahnya. Melihat itu, Subaru melanjutkan berjalan mendekatinya sambil merangkai kata-kata.

"Tapi beneran dah, sudah lama sekali sejak aku melihatmu terakhir kali. Semenjak kejadian dengan Bete... Ah, bentar, itu tidak terjadi... terakhir kali adalah sebelum aku pergi ke Ibu Kota 'kan? Sudah sekitar 10 hari sejak saat itu..." (Subaru)

"Sama sekali tidak lama, sepertinya. Ketika Betty berada didalam ruangan ini, aliran waktu diluar tidak begitu berpengaruh lagi." (Beako)

"Nah itu, kau mengatakan sesuatu yang aneh lagi, ya ampun. Juga, ketika kau sedang berbicara dengan seseorang, kau seharusnya tidak terus sambil membaca bukunya! Melihat ku lagi setelah 10 hari, aku ngerti kalau kau sangat senang sehingga kau ingin menyembunyikan blush mu itu, tapi tetap saja..." (Subaru)

"Aku bisa membuat mulutmu memuntahkan darah sampai kau berubah menjadi pucat kalau terus berisik 'tau!" (Beako)

Terhadap perasaan jengkel yang sama sekali tidak disembunyikan gadis itu, Subaru pun mengendurkan ketegangan yang ada diwajahnya.

Kapanpun dia datang untuk berbicara dengan gadis yang menjaga Perpustakaan Terlarang itu, Subaru selalu saja ingin melakukan sesuatu yang bisa memancing sikap keras kepalanya dan mengacaukan ekspresi datarnya.

Membuat lelucon dan bertingkah konyol, mengganggunya samapi dia sangat jengkel, kemudian terus mendesaknya sampai dia akhirnya tidak tahan lagi dan menendang Subaru keluar.

Ada bagian dalam diri Subaru yang menikmati interaksi itu. Tapi kenapa dia selalu saja punya perasaan seperti ini terhadap gadis itu? Dia tidak begitu yakin mengetahuinya.

"Aku menganggap kenyataan kau yang telah kembali sebagai tanda kekacauan yang terjadi disekitar sini telah diatasi, sepertinya." (Beako)

"Kau menyadarinya... Yah sudah sewajarnya sih kau sadar. Emilia dan Ram lari berkeliling mansion untuk mencari mu 'tau? Ada baiknya kau meminta maaf pada mereka nanti." (Subaru)

"Betty? Minta maaf? Ke siapa, dan buat apa, aku tidak bisa membayangkan kenapa aku harus melakukan itu?" (Beako)

Mendengus dengan hidungnya yang terbentuk sempurna, Beatrice menutup bukunya dengan suara tepukan yang keras, dan berdiri dari tempat duduknya. Kemudian, menaruh kembali buku tebal hitam itu ke raknya dengan berjinjit, dia mengulurkan tangannya sekuat yang dia bisa untuk menggapai buku yang ada disebelahnya.

Melihat dia yang kesulitan menarik keluar buku itu, Subaru berjalan kesebelahnya.

"Yang ini? Nih." (Subaru)

"....Bukan, yang disebelahnya lagi, sepertinya. Kalau kau mencoba untuk membantu seseorang yang tidak memintamu, setidaknya cobalah bantu dengan benar." (Beako)

"Loli yang tau terima kasih sekali ya... Oy, awas bukunya jatuh. Kau bisa terluka nanti kalau bukunya jatuh mengenai kakimu." (Subaru)

Ketika Sebaru menarik bukunya keluar dengan satu tangan, dia mendapati bukunya ternyata diluar dugaan cukup berat. Ketika dia secara hati-hati memberikannya kepadanya, Beatrice menerimanya, memeluknya didadanya. Subaru sekilas mencoba membaca judulnya, tapi bagi seseorang yang nyaris tidak mengerti apapun selain alpabet "Yi", buku itu diluar kemampuan Subaru untuk bisa mengertinya.

"Ku rasa aku tidak perlu berterima kasih kepadamu, sepertinya." (Beako)

"Aku tau kau sedang mencoba mengikuti jalan seorang tsundere gitu, tapi sayangnya kau sudah mengatakan itu, kau mengatakannya secara tidak langsung yang memiliki arti sama dengan "Terima kasih"." (Subaru)

Setidaknya, dia yang mengakui tindakannya Subaru secara umum dapat dianggap sebagai ucapan terima kasih, itu saja sudah menjadi bukti niat baik dalam diri Beatrice.

Menanggapi jawabannya Subaru, Beatrice mengerutkan dahinya dan memalingkan wajahnya. Melihat sikap keras kepalanya, Subaru menggaruk-garuk kepalanya sendiri.

"Aku tidak keberatan kalau kau tidak pernah berterima kasih sekalipun nanti, tapi pastikan setidaknya berterima kasihlah kepada mereka berdua, oke? Mereka benar-benar khawatir, meninggalkan mu sendirian di mansion gini." (Subaru)

"Bukan berarti aku meminta mereka buat..." (Beako)

"Jangan bilang begitu. Kebanyakan orang tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi akhirnya dilahirkan juga, dan meskipun kalau kau tidak mau orang-orang khawatir kepadamu, mereka tetap akan khawatir... Dan bagian kedua itu hanya terjadi kalau kau punya orang-orang baik disekitar mu." (Subaru)

Tidak perlu untuk menetapkan kalau Emilia dan Ram adalah orang-orang baik itu. Emilia setiap harinya selalu memberikan nilai 100 untuk kategori orang baik, meskipun nilai Ram mungkin minus, bagaimana dia bisa termasuk didalamnya itu adalah hal lain.

Bagaimanapun, Beatrice tidak menunjukan adanya tanda setuju padanya. Sebaliknya, dia berbalik, kemudian sedikit menggigit bibirnya dan berkata,

"Tapi pada akhirnya, mereka tetap meninggalkan mansion, sepertinya... tanpa Betty." (Beako)

"Apa maksud mu? Apa kau mau bilang kalau kau tidak mau ditinggal? Kau itu mengurung dirimu sendiri dengan sihir Pintu Hikikomori. Apa semerepotkan itu buat keluar sebentar?" (Subaru)

"Itu namanya 'Pintu Persilangan'. Jangan seenaknya mengganti namanya dengan nama konyol seperti itu, sepertinya. Selain itu, saranmu itu benar-benar menghina bagi Betty." (Beako)

Tanpa mengakui kata-katanya Subaru, Beatrice masih memalingkan wajahnya, sikap keras kepalanya tak tergoyahkan. Subaru merasa kali ini ada sesuatu yang berbeda, dan berbahaya, melebihi tingkah Beatrice yang biasanya. Subaru mengerutkan alisnya dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Dengan dia yang bertingkah seperti ini bahkan sebelum mereka memulai berbicara mengenai apa yang ingin Subaru tanyakan padanya, Subaru bertanya-tanya bagaimana untuk menanyakannya. Meskipun begitu, dia mungkin masih ada satu trik lagi untuk menaikan suasana hatinya....

"Oh ya sudah lah. Kalau kau tetap keras kepala begitu, aku kasih tau Emilia-tan saja kalau kau tidak mau berhenti bilang 'terima kasih' dengan air mata bersyukur mengalir dari matamu." (Subaru)

"Kau sebaiknya jangan membuat kebohongan!! Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mengeluarkan air mata, sepertinya." (Beako)

"Apa, kau bilang kau terlalu malu buat nangis? Kalau kau bilang begitu ketika kau masih anak kecil seperti ini, kau nanti bakalan kesulitan lho buat menunjukan emosimu ketika dewasa nanti. Anak kecil tidak boleh mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan dan tinggal nangis aja kalau lagi sedih." (Subaru)

"Ntah kenapa aku malah geli dibilangin gitu sama pria yang nangis dipangkuan wanita yang disukainya." (Beako)

"Bisakah kau melupakan hal itu?" (Subaru)

Mungkin Emilia sendiri paham untuk tidak mengingatkan Subaru hal memalukan seperti itu.

Dia sudah bertingkah seperti orang idiot ketika melarikan diri dari ketakutan yang ada didalam hatinya,  yang mana tanpa sadar telah membangun bendungan yang sangat besar.

Ketika terbaring di pangkuannya Emilia, semuanya runtuh, dan semua emosi yang dia pendam semenjak dia disummon ke dunia ini mengalir keluar melalui derasnya air mata.

Diingatkan saat itu lagi, wajahnya terasa ingin meledak menjadi kobaran api. Meskipun bersamaan dengan panas itu, jauh didalam hatinya dia juga merasakan pancaran cahaya yang bersinar dari ingatan itu.

Menggaruk pipinya, sambil mencoba membangun kembali segel ingatan itu, Subaru mencuri pandang ke arah Beatrice. Terlihat bosan seperti biasanya, dia duduk kembali di pijakan tangga itu dengan buku yang sudah diambilkan oleh Subaru. Dia secara perlahan mulai membaca buku itu.

Jelas sekali dia sedang mencoba untuk mengakhiri percakapan, tapi kalau Subaru membiarkannya melakukan itu, maka tidak ada artinya baginya untuk datang kemari.

"Ngomong-ngomong, kesampingkan masalah menangis itu... Aku ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, apa tidak apa?" (Subaru)

"Kau aku persilahkan untuk bertanya, sepertinya." (Beako)

Bersamaan dengan balasannya itu, ditemani dengan suara lembar buka yang dibalik miliknya, terdapat pesan tidak tak tertulis 'apakah aku akan menjawabnya atau tidak itu lain cerita'. Tidak ada indikasi ingin membantu darinya, tapi setidaknya dia memberinya ijin untuk bertanya. Subaru diam-diam bergumam 'baiklah kalau begitu' disela-sela hembusan napasnya, dan berniat untuk segera membicarakan perihal kedatangannya— —.

"——Kalau dipikir-pikir, dilihat dari semua kekacauan yang terjadi diluar, bukankah reaksimu itu sedikit datar?" (Subaru)

Akan tetapi, apa yang keluar dari mulutnya tidak membawa maksud dari apa yang dia ingin ucapkan, dan malah menyalakan kembali percakapan yang baru saja ingin dia tutup.
(TL Note: Kok ane rada gagal paham ya)

Mendengar kata-katanya Subaru, Beatrice mengangkat matanya. Merasakan dengan jelas tatapan matanya, Subaru menarik napas kecil,

"Ke... ketika kau sedang duduk disini bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, diluar sedang ada kekacauan besar-besaran 'tau? Kelompok aneh mengepung mansion, dan..." (Subaru)

"Hentikan!" (Beako)

"Kalau saja aku ntah bagaimana bisa membawa bala bantuan kesini bersamaku dari Ibu Kota, kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi nantinya. Dan, bukan berarti mudah juga bagiku untuk kembali kemari..." (Subaru)

"Aku benar-benar ingin kau berhenti sekarang, sepertinya." (Beako)

"Itu sebenarnya adalah perjalanan yang sulit, kalau aku ceritakan semuanya padamu, kau dan aku pasti akan menangis di endingnya, tapi pada akhirnya kami berhasil melewati rintangan-rintangan itu...!" (Subaru)

Dengan suara gubrakan keras, kata-kata Subaru terhenti secara paksa.

Melihat sekeliling, asal suara tersebut berasal dari buku yang Beatrice pegang di tangannya yang dia tutup dengan segenap kekuatannya. Subaru mencoba untuk mengerti ekspresi dan maksud dari Beatrice, tapi Beatrice kemudian menatap wajahnya dengan tatapan tajam dan tanpa ampun dan berkata,

"Gimana kalau kau katakan saja apa maksud dari kedatanganmu kemari yang sebenarnya, dasar pengecut." (Beatrice)

"....Ya" (Subaru)

Dia benar, dan sudah melihat dengan jelas percobaan melarikan dirinya Subaru. Yang ingin melarikan diri dari jawaban atas pertanyaan yang akan ditanyakannya.

"Apa kau..." (Subaru)

Menelan ludahnya, dia menutup paksa kedua napasnya, mendengarkan suara detak jantung miliknya. (Subaru)

Melihat dari celah-celah matanya yang tertutup, dia melihat senyuman manisnya, tersenyum balik ke arahnya.



"Apa kau... ingat Rem?" (Subaru)

No comments:

DMCA.com Protection Status