Asteria; - Canis Major Chapter 2 [Original Novel] - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Asteria; - Canis Major Chapter 2 [Original Novel]

November 11, 2016 Pipo Narwastu


Author: Ram-kun

Chapter 02; Bukan Pahlawan atau Pahlawan? Part 1

Setelah menghabisi goblin terakhir, aku menghampiri Lawbang yang sedang menggeledah mayat-mayat goblin yang bertebaran. Menyadariku mendekatinya, ia mengarahkan pandangannya padaku dan mulai bertanya.

[Jelaskan situasinnya!] (Lawbang)

[Sekumpulan goblin menyerang para gadis. Mega terluka dan Marry dibawa seekor Hobgoblin. Maxis sedang mencari lokasinya dan aku akan segera menyusulnya. Kau tolong jaga mereka! Mungkin saja akan ada goblin-goblin lainnya yang masih berkeliaran disekitar sini.] (Rugard)

Sepertinya dia ingin ikut denganku menyusul Maxis. Tetapi melihat keadaan para gadis terutama Mega yanag sedang terluka, ia mengerti keadaannya.

[Baiklah, hati-hati!] ucap Lawbang padaku sambil mengulurkan kepalan tangannya.

[Sip! Kau juga.] jawabku sambil meninju kepalan tangannya.

Aku menyangkutkan kedua kapak batu pada ikat pinggangku dan membawa kedua pisau yang kami dapatkan sedangkan Lawbang mengambil pedang pendek dan mulai menyerut ujung tongkat kayu yang dia bawa untuk menajamkannya sebagai tombak sederhana.

Sebelum pergi, aku melihat keadaan Mega yang mulai menggigil dan merintih kesakitan. Aku segera berlari menuju arah Maxis dan meninggalkan urusan Mega pada yang lainnya.









“”””Sudut Pandang Ketiga””””””



Di sepanjang jalan, Rugard melihat berbagai tanda anak panah yang sepertinya ditinggalkan oleh Maxis untuk menuntunnya kelokasi dimana dia berada. Setelah berlari selama sepuluh menit, Rugard melihat sosok Maxis yang sedang bersembunyi dibalik pohon.

[Bagaimana?] tanyaku cepat setelah berhenti berlari.

[Marry baru saja dibawa masuk ke sana] Maxis menunjuk sebuah goa dibelakangnya.

Di depan mulut goa seekor Hobgoblin setinggi dua meter dengan sebuah kapak besar terlihat sedang menjaga pintu masuk. Sepertinya mereka harus mengalahkan Hobgoblin itu terlebih dulu, atau paling tidak salah satu menarik perhatiannya agar yang lainnya bisa masuk kedalam goa.

Jika dipikirkan baik-baik, Rugard tidak mungkin menyuruh Maxis untuk menarik perhatian si Hobgoblin dan menahannya. Tetapi dia sendiri juga tidak yakin dapat menangani Hobgoblin itu karena ini memang pertama kali baginya.

Tidak ingin berlama-lama karena mencemaskan Marry, Rugard mengeluarkan kedua kapak batunya dan menyerahkan salah satunya pada Maxis.

[Kau ambil ini! Aku akan menahan si besar itu dan kau masuk kedalam selamatkan Marry. Hati-hati karena kita tidak tau apa saja yang ada di goa itu] (Rugard)

[Tapi, kau serius mau melawan makhluk itu? Mau dilihat bagaimanapun jika kau terkena kapaknya itu, kau pasti mati.] jawab Maxis mengkhawatirkan Rugard.

[Justru kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri! Tugasmu juga berat. Kau tidak tau ada monster macam apa saja didalam sana kan? Fokus saja pada tugasmu sendiri, dan aku akan menyelesaikan tugasku.] (Rugard)

Mendengar kata-katanya, Maxis merenung sebentar sebelum akhirnya memasang wajah dengan kebulatan tekat.

[Baiklah, hati-hati!] (Maxis)

[Ya! Kau juga!] (Rugard)

Rugard mengambil ancang-ancang dengan posisi yang terlihat siap melemparkan kapak batunya kearah Hobgoblin yang sedang melihat kearah lain.

Dengan segenap kekuatannya, dia melemparkan kapak batunya kearah kepala Hobgoblin itu dan kapak batunya mendarat di mata kirinya.

[Ghruaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrkhh!!!!??] suara teriakan kesakitan dari Hobgoblin menggema keseluruh hutan hingga membuat burung-burung terdekat terbang menjauh.

Rugard berlari menuju Hobgoblin dengan kedua pisau ditangannya siap untuk menyerang. Hobgoblin yang masih merintih kesakitan sambil menutup luka mata kirinya dengan salah satu tangannya menatap kearah Rugard, dan mengambil kapak besar di sampingnya bersiap menghadapimya.

Hobgoblin menyerang Rugard dengan kapak besarnya secara membabi buta. Gerakannya cepat dan sangat bertenaga. Bisa-bisa Rugard akan tewas seketika bila mengenainya sekali saja. Sambil menghindari serangan-serangannya, dia menggiring Hobgoblin menjauh dari goa untuk pindah lokasi pertarungan agar Maxis dapat menyusup masuk kedalam goa.

Maxis berhasil memasuki goa setelah Rugard dan Hobgoblin menjauh.

Gelap. Pandangannya tidak mampu menembus kegelapan goa yang tidak mendapatkan cahaya matahari. Dia mengambil ponselnya dari saku dan menyalakan lampu flash sebagai alat penerangan. Cahayanya sangat terang membuat tempat ia berada seperti ruangan dengan lampu neon yang umum ada di bumi.

Masuk semakin dalam terasa semakin dingin. Dalam keheningan, ia mulai mendengar suara tangisan Marry dan gelak tawa goblin.

[Tidak..*hiks Kyaaaa!… *Hiks.. hentikan! K-kumohon HENTIKAN!!!] teriak Marry yang sedang ditelanjangi sambil menangis.

[Guheheheheheeh] gelak tawa dua ekor goblin sambil terus berusaha merobek kain pakaian Marry.

Meskipun gelap, para goblin dapat melihat kulit putih nan bersih mulai memamerkan dirinya. Marry kini benar-benar telanjang sambil berusaha menutupi bagian dada dan bagian diantara kedua kakinya.

Goblin dengan tudung kepala dan menggenggam tongkat, mulai mengeluarkan lidahnya sambil meneteskan liurnya melihat keindahan tubuh Marry, diikuti dibelakangnya oleh goblin biasa yang hanya mengenakan cawat.

Goblin bertudung mulai menggenggam kedua kaki Marry dan berusaha untuk melebarkan keduanya. Marry pun sontak bereaksi.

[JANGAAAAN!!!] teriak Marry sambil menendang-nendangkan kakinya kearah goblin bertudung dan *buk!. Suara tendangan mendarat dihidung goblin bertudung dan mulai mengeluarkan darah dari lubang hidungnya.

Dengan marah, goblin bertudung mengambil tongkatnya dan mengucapkan kata-kata yang tidak dapat Marry mengerti. Sesaat kemudian, ujung tongkat itu mulai memancarkan cahaya dan muncul sebuah bola api kecil. Rupanya ia mengeluarkan mantra sihir.

[Tidak! Hentikan! K-Kumohon Hentikan! Panasss!!] teriak Marry yang merasakan hawa panas dari bola api itu dengan kulitnya yang tak terbungkus.

[Hieh,hehhehhehhehhehheh…. Wkawkawkawkawka] tawa goblin bertudung dan goblin bercawat dibelakangnya.

Marry yang sudah hampir pasrah menatap lurus kedepan dengan tatapan putus asa. Di tengah keputusasaannya itu tiba-tiba ruangan tempat dia berada mulai terlihat terang seperti ada lampu yang menyala dan bayangan seseorang muncul dibelakang goblin bercawat.



Tanpa sempat menoleh kebelakang, *Zraassh. Goblin bercawat menerima hantaman sebuah kapak batu dikepalanya dan tewas seketika. Goblin bertudung dengan tongkat segera mengeluarkan mantra, namun kapak bernoda merah darah itu dengan cepat mengarah kearahnya sebelum mantranya selesai dan merobek wajahnya.

[Ghuaaaaaaakh!!! Khaaaakkhhh!] teriak goblin bertudung sambil mundur beberapa langkah.

Sayangnya, kapak batu itu mulai retak dan patah. Sudah tidak dapat digunakan lagi.

Marry yang masih terisak tangis bersyukur ada seseorang yang datang menyelamatkannya. Dan rupanya yang menyelamatkannya Maxis.

[Marry!! Kau tidak apa-apa?] Tanya Maxis mengkhawatirkan keadaan Marry.

[Max*Hiks, Maxis!!] ujar Marry sambil berlinang air mata.

Mengetahui musuhnya belum sepenuhnya kalah, Maxis menghadap ke goblin bertudung dan bersiap untuk mengakhirinya. Ia mengeluarkan pedang tumpulnya dan memasang kuda-kuda untuk menyerang lawannya.

[Aku mungkin bukan jagoan atau pahlawan yang sebenarnya. Aku hanya lelaki yang berpura-pura menjadi pahlawan agar terlihat keren. Maka rasakanlah amarah dari pahlawan tiruan ini!!!] ujar Maxis dengan kilatan amarah pada matanya.

Goblin bertudung yang sudah bangkit mengeluarkan kata-kata aneh yang sepertinya itu sebuah mantra. Mendengarnya, Maxis segera mendekat dan melancarkan serangan kearah leher goblin bertudung sebelum ia menyelesaikan mantranya. *Dhukk!! Suara pedang tumpul Maxis memukul bagian leher Goblin bertudung dan membuatnya pingsan seketika.

[Hmph. Kau itu pengguna Magic, jadi butuh casting time sebelum meluncurkan serangan. Bodoh sekali melawan dengan Magic pada pertarungan jarak dekat. Belajar lagi sana, amatir!!] (Maxis)

Setelah menggurui goblin bertudung yang pingsan, Maxis segera membuka baju luarnya dan menyerahkannya ke Marry. Melihat Maxis yang berusaha mengarahkan pandangannya kearah lain, membuat Marry kagum dengan sikap gentle yang di perlihatkan oleh Maxis.

[uumm, terima kasih] ucap Marry sambil tersenyum kearah Maxis.

*deg *deg. Jantung Maxis mulai berdegup kencang.

“aaah, Marry memang sangat menawan. Itulah mengapa aku langsung merayunya saat pertama kali bertemu dengannya. Tetapi sekarang berbeda lagi. Wajah itu, senyum itu telah mencuri hatiku. EH!! Tidak-tidak! Bukankah Rugard menyimpan rasa pada Marry. Dari pernyataan Risty bahwa mereka mantan kekasih, tetapi… sepertinya sekarang cinta Rugard hanya bertepuk sebelah tangan. Tapii, meski begitu bukankah tidak baik bila menikung teman? Meskipun baru sehari, tetapi aku sudah sangat respect pada Rugard. Haaaaaaaah!” Maxis mulai sibuk dengan pikirannya sendiri.

Melihat Maxis yang hanya termenung, Marry menunjukan rasa penasaran.

[Ada apa?] (Marry)

[Aaah, tidak. Tidak apa-apa. Hanya pikiran yang tidak penting. Hahahaha. Maaf ya, aku mungkin tadi jadi terlihat menjijikan bengong sendiri.] jawab Maxis gugup.

[Tidak. Kau tidak menjijikan. Bagaimana pun kau pahlawan yang sudah menyelamatkanku.] ucap Marry sambil tersenyum.

[Ah tidak-tidak! Aku hanyalah pahlawan imitasi. Hanya bermain game yang kubisa. Itu pun tidak dapat mencapai tingkat para pemain pro. Bagaimanapun, aku ini hanyalah pecundang yang hanya suka pamer.] jawab Maxis jujur sambil depresi karena kejujurannya sendiri.

[Tidak! Kau pahlawan. Mungkin kau bukan pahlawan bagi dunia, tetapi sekarang kau pahlawan bagiku. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku.] ucap Marry sambil membungkuk untuk menunjukan bahwa ia benar-benar berterima kasih.

Mendengar perkataan Marry barusan sontak membuat Maxis gugup dan wajahnya sedikit memerah. Dengan senang, dia menjawab [iya, sama-sama] dengan sedikit malu.









*Bruak. *zekzekzekzek *Bruk. Sebuah pohon tumbang dan jatuh akibat serangan yang kuat.

Hah...hah..hah.. hampir saja aku mati. Si besar itu tidak tanggung-tanggung. Bukan hanya aku yang akan hancur, tetapi sekelilingku juga akan hancur olehnya. Tidak, sebenarnya sekelilingku sudah hancur olehnya.

Di sekeliling kami, beberapa batang pohong tumbang berserakan seperti pengerusakan hutan. Pohon-pohon itu adalah korban dari serangan si besar, jelek nan bau ini.

Ototnya keras, jadi tidak mungkin mengandalkan pisau-pisau ini untuk membunuhnya. Sejujurnya, aku sudah berkali-kali melancarkan serangan dengan pisau-pisau ini. Tetapi hanya dapat memberikan goresan-goresan kecil karena ototnya yang keras dan pisau-pisau ini mulai menumpul.

Saat aku masih sibuk menganmbil nafas, si besar mulai menuju kearahku lagi sambil bersiap mengayunkan kapaknya. Tiba-tiba, ia berhenti dan terlihat kesakitan.

[Grrr..? Ghuaaaaaaakh!!!] si besar mulai menjerit.

Aneh. Mengapa dia mulai menjerit kesakitan? Kulihat wajahnya mulai memucat, tubuhnya sedikit menggigil dan pergerakannya mulai melambat.

Tunggu! Bukankah ini.. pernah kulihat. Tapi siapa dan dimana ya? Aku berusaha mengingat-ingat setiap keping memory ku.

Ah, benar juga. Dia menunjukan reaksi yang sama seperti Mega sebelum aku pergi menyusul Maxis. Tetapi kenapa? Sebenarnya apa yang terjadi pada Mega dan si besar ini?

Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul dalam pikiranku. Saat mengamatinya, aku memperhatikan luka gores pada tubuh si besar itu. Lukanya mulai terlihat membiru.

Aku menatap kedua pisau yang kugunakan dari tadi. Jangan-jangan…

Ya. Jika perkiraanku benar, maka yang menyebabkan Mega dan si besar ini mengalami reaksi yang sama adalah karena pisau ini. Lengan Mega terdapat luka gores benda tajam dan si besar ini telah menerima beberapa sayatan pada tubuhnya oleh pisau ini.

Sepertinya pisau ini sudah dilumuri racun. Baiklah. Jika pergerakannya melambat, maka kecemasanku terkena serangannya menjadi sedikit berkurang.

Aku berjalan dengan tenang menuju si besar. Dia mulai mengeluarkan erangan dan mengayunkan kapaknya kearahku dengan ayunan vertikal. Lambat. Tepat dugaanku bahwa ia keracunan. Dengan mudah aku menghindar kekiri dan melancarkan serangan balasan. Aku mengarahkan tusukan pisau pada tangan kananku ke ketiak kanannya yang berbulu lebat dan bau itu. *Jleb pisau itu sekarang bersarang di ketiaknya yang mulai memancurkan darah yang deras.

Sebuah saraf besar terletak didekat kulit dibagian ketiak. Pukulan pada saraf ini akan menyebabkan sakit parah dan kelumpuhan parsial. Apalagi bila pisau yang terbenam di ketiak akan berakibat fatal karena robeknya arteri utama yang langsung menuju jantung. Sehingga pendarahan hebat akan terjadi.

[Grrr.. GrrrRaaah!!! Grraaaaaaaah!!!] si besar menjerit.

Dengan luka seperti itu, ia akan kehilangan banyak darah. Tangan kanannya pun sudah tidak bisa digunakan lagi.

Mengambil segenggam tanah dan menggenggamnya dengan tangan kananku yang sedang kosong. Dengan segera aku berlari kea rah si besar dengan pisau ditangan kiriku. Si besar yang gerakannya melambat dan hanya dapat menggunakan satu tangan berusaha menyerangku tanpa berpikir untuk melindungi dirinya. Aku menghindari serangannya yang sekarang sangat mudah untuk dihindari dan melemparkan tanah yang tadi kugenggam kearah mata kanannya. Tanah tepat mengenai matanya dan mengootori matanya.

[GRaaaaah! Grah! Grah!] si besar mulai panik karena tidak bisa melihat dan berusaha membersihkan tanah itu pada matanya dengan tangannya.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan sigap aku mengarahkan pisauku yang tersisa ke ketiak kirinya dan *Zraasssh pancuran darah sama seperti sebelumnya.

Tangan kirinya yang mulai tak bertenaga menjatuhkan kapak besar yang sejak tadi ia genggam. Aku terdiam melihatnya dan mengira ia tidak berdaya lagi, tetapi tiba-tiba dia mengangkat kakinya dan berusaha mengarahkannya padaku.

Hei, hei. Apakah ia berusaha melancarkan tendangan? Dia bahkan tidak bisa menendang dengan benar. Sepertinya bagian kakinya harus kuatasi juga.

Tetapi tidak lama kemudian ia jatuh terlutut dengan keadaan lemas. Sepertinya efek racun dan kehilangan banyak darah sudah membuatnya benar-benar tak berdaya sekarang. Hanya saja ia masih tetap hidup.

Aku mengambil kapak besar yang ia jatuhkan tadi dan mengangkatnya dengan kedua tanganku.

Ugh!! Berat sekali. Mungkin beratnya sekitar 20 kg. Pantas saja dapat merobohkan pohon.

Aku menopang berat kapak besar ini di pundakku dan berdiri didepannya yang sedang dalam posisi berlutut. Satu-satunya mata yang tersisa berusaha untuk tetap menatap kearahku dengan amarah meskipun melihat saja sepertinya sudah sulit karena masih tersisa tanah yang tadi kulemparkan.

Aku bersiap dan memasang kuda-kuda untuk melancarkan serangan terakhir untuk menghabisinya.

[Selamat tinggal!] aku mengucapkan salam perpisahan.

*Zrash!! Tengkorang si besar pecah bagaikan cangkang telur.









Aku bergegas menuju goa menyusul Maxis sambil membawa kapak besar yang kudapatkan sebagai rampasan dari si besar. Tetapi setibanya didalam, aku terhenti karena gelapnya didalam sini. Aku mengambil ponselku dan menyalakan lampunya untuk penerangan.

Berlari, aku menyusuri setiap sudut goa. Tiba di salah satu ruangan aku berhenti, terkejut dengan apa yang ada didepanku dan dengan segera kututup hidung dan mulutku.

Sesosok tubuh wanita dengan robekan pada bagian perut dan hingga kemaluannya, serta keadaannya mulai membusuk memaksaku menutup hidungku karena bau dan menutup mulutku untuk menahan mual.

Aku melihat di sudut-sudut lain ruangan ini dan terdapat dua tubuh lagi dengan keadaan yang hampir sama.

Apa ini ulah para goblin?

Setelah menenangkan perutku yang sudah mulai membaik, aku mulai mendekatinya. Perlahan-lahan melangkah, tiba-tiba kakiku terasa seperti menginjak sesuatu yang licin.

Perlahan kulihat kakiku yang menginjak bagian itu sambil ku terangi dengan ponselku agar terlihat jelas.

Cairan seperti lendir dengan berbagai bahan makanan yang belum tercerna. Hiiiiiiii!! Ini sih muntahan. Muntah siapa ini? Salah satu dari goblin itu atau perempuan-perempuan ini? Tetapi sepertinya muntahan itu masih baru.

Dengan perasaan jijik, aku menggesekkan sol sepatu ku ke dinding goa, memeperkannya agar setidaknya sedikit lebih bersih.

Setelah agak bersih, aku melanjutkan lagi apa yang tadi ingin kulakukan. Aku mendekati salah satu dari mayat-mayat perempuan itu untuk memeriksanya.

Kuperhatikan baik-baik robekan dari bagian perut hingga kemaluannya. Ini Rahim. Sepertinya rahimnya dirobek dari luar. Mungkin saja para goblin itu ‘memanen’ anak dengan cara ini. Sungguh biadab. Sepertinya perempuan-perempuan ini tidak akan bisa tenang di alam sana karena kematiannya yang tragis ini.

Selagi aku menunjukan simpati dan rasa kasihan terhadapnya, aku lihat ada cincin terpasang di jari manisnya. Mungkinkah perempuan ini sudah menikah?

Aku melepaskan cincin itu dari jarinya dan menaruhnya disakuku.

[Maaf ya, kusimpan ini. Mungkin suatu saat akan berguna] (Rugard)

Aku memeriksa kedua mayat lainnya, dan sepertinya masing-masing dari mereka juga menggunakan cincin. Aku mengambil cincin-cincin itu dan segera meninggalkan ruangan itu.

Aku mencari jalan menyusuri goa. Setelah beberapa saat, aku tiba di ruanngan yang cukup besar hingga cahaya ponselku tidak cukup untuk menerangi seluruh ruangan ini. Aku memasuki ruangan itu lebih dalam dan cahaya ponselku mulai menangkap dua sosok mayat goblin di ujung ruangan. Goblin bercawat yang kepalanya hancur dan goblin bertudung yang wajahnya terluka.

Aku melirik tongkat kecil dengan tali dan serpihan batu di sebelah mayat goblin bercawat. Sepertinya Maxis yang membunuhnya dengan kapak batu yang kuberikan. Setelaah itu, mataku menangkap robekan-robekan kain di dekat dinding.

[I..inii…. bukankah ini pakaian Marry?]

Perasaan gelap mulai muncul dan rasa aneh yang terasa di perutku. Aku mengeratkan rahangku sekuat tenaga karena perasaan ini.

[uuuh….. uh…] suara seseorang terdengar dari belakangku.

Kutengok kebelakang dan tidak melihat adanya siapapun. Hanya ada mayat goblin dengan tudung.

[G-geeh…. Uuuuh..] suara itu terdengar lagi.

Aku perhatikan lagi, sepertinya itu berasal dari goblin bertudung.

Aku berjalan mendekatinya dan memeriksanya. Rupanya ia masih hidup dan sekarang pingsan sambil sesekali mengerang kesakitan. Melihat keadaannya, perasaan gelapku mulai semakin melonjak tak tertahankan.

Aku menendang-nendang kecil kearah goblin bertudung dengan tujuan membangunkannya.

Setelah beberapa saat tubuhnya terus berguncang, goblin itu mulai sadar dan membuka matanya. Setelah matanya terbuka sepenuhnya, aku langsung menendang bagian mulutnya hingga ia tersungkur kebelakang.

[gg…guuh.. akh..khhaaakk] rintih si goblin bertudung.

Merintih kesakitan sambil menutup mulutnya yang berdarah dengan kedua tangannya. Si goblin bertudung melihat kearahku. Dapat kulihat beberapa giginya berceceran akibat tendanganku.

Aku menatapnya dan mendekatinya. Ia mulai menggigil dan mundur menyeret pantatnya untuk menjauhiku. Ia berusaha berbicara, tetapi luka dimulutnya sepertinya menyulitkan dia berbicara. Yah, lagipula meskipun ia berbicara aku tidak akan mengerti apa yang ia katakana dan aku tidak peduli.

Aku melihat kakinya yang sepertinya masih sehat, dan menginjak lutut kirinya hingga menekuk arah sendi yang sebaliknya.

[Gyaaaaaaaaaaaaah!!!!] jerit si goblin bertudung.

Tidak, aku belum puas. Perasaan gelap ini belum sepenuhnya hilang.

[A-awokwa.. A-awokwa!] ucapnya sambil melihatku dengan air mata.

Hooo. Jadi goblin bisa menangis juga rupanya. Suatu fakta menarik baru saja kudapatkan.

Tak menghiraukannya, aku mulai menendangnya bertubi-tubi. Rintihan dan tangisannya terdengar indah diruangan yang menggema ini bagaikan permainan musik klasik disebuah studio.

Aku menendangnya lagi! Menendangnya lagi! Lagi! Lagi! Lagi! Dan lagi! Lupakan kapak yang sedang ku panggul. Jika aku menggunakan ini, rasanya akan membosankan.

Hingga akhirnya tendanganku mengenai dadanya dan si goblin bertudung berhenti bergerak. Sepertinya aku tidak sengaja memicu serangan jantung dengan tendanganku. Melihatnya berhenti bergerak, aku memutuskan untuk berhenti.







Aku memutuskan keluar dari goa. Sepertinya Maxis sudah berhasil menyelamatkan Marry dan membawanya keluar dari sini.

Aku berjalan mendekati sungat terdekat dan membersihkan darah yang menempel pada pakaian serta kapak besar ini. Aku melepas kemeja hitam yang ku kenakan, membasahinya dan menggunakannya untuk mengelap darah yang menempel di bagian-bagian celana jeansku dan kapak besar ini. Setelah bersih, aku merendam lagi kemejaku, menguceknya, dan memerasnya. Setelah kandungan air pada kemejaku berkurang, aku mengikatkannya di pinggulku menunggunya kering sebelum nantinya kukenakan lagi. Dari dalam goa aku mendapatkan dua buah pisau. Keduanya kubersihkan dengan air sungai karena mungkin saja pisau ini juga dilumuri racun. Sepertinya yang ada pada goblin tidak ada yang berharga selain senjata mereka.

Ngomong-ngomong soal racun, aku jadi teringat dengan Mega. Bagaimana keadaannya?

Dengan sedikit cemas, setelah selesai aku segera menyusuri sungai menuju lokasi teman-temanku berada. Setelah berjalan beberapa saat, mereka sudah mulai terlihat.

Diantara mereka, aku melihat Marry yang menutupi tubuhnya dengan pakaiannya Maxis sedang menangis dan Mega yang sedang berbaring berusaha menenangkannya dengan pelukan. Apa Mega baik-baik saja? Mungkin Lawbang sudah melakukan sesuatu seperti mengeluarkan racunnya misalnya gitu?

Dengan perasaan lega, aku bersyukur dalam hati karena mereka semua baik-baik saja. Melihat keadaan Marry sekarang, aku tidak ingin menginterupsi mereka dengan kehadiranku karena mungkin saja mood Marry jadi berubah saat melihatku tiba-tiba bergabung dengan mereka. Jadi aku memutuskan membiarkan mereka lebih dulu sekalian berniat mengecek perangkap yang kubuat sebelumnya.

Setelah sampai, perangkapku sepertinya menangkap sesuatu karena dapat kulihat lubang yang tak tertutupi ranting-ranting serta dedaunan yang ku gunakan untuk menutupnya.

Aku mengintip kedalam lubang dan melihat dua ekor hewan terperangkap di dalam lubang dan tidak bisa keluar. Dapat dua? Lucky!

Dua ekor kelinci dengan tanduk kecil tumbuh di tengah dahinya. Yang menarik perhatianku bukanlah tanduknya, melainkan ekor mereka yang lurus dan panjang seperti ekor kucing.

Aku menggenggam sepasang telinga salah satunya dan mengangkatnya keluar dari lubang. Ini?! Bukan hanya ekornya yang mirip kucing, tetapi bentuk tubuhnya juga mirip kucing. Tidak! Ini adalah kucing berkepala kelinci dengan tanduk. Saat aku melihat jejaknya memang mirip dengan kucing tetapi aku benar-benar tidak mengira kalau yang kudapatkan malah kucing berkepala kelinci.

Hmmm… yasudahlah. Sepertinya makhluk ini juga bisa dimakan.

Aku menahan kedua kaki belakangnya dengan lutut kiriku agar ia tidak bisa berlari dan menahan kepalanya ketanah untuk meredamnya meronta dengan tangan kiriku. Dengan posisi tengkurap, ia tidak bisa kemana-mana dan siap untuk disembelih. Aku mengeluarkan pisau dengan tangan kananku dan bersiap untuk memotong pembuluh darah dilehernya. Tetapi sebelum memotongnya, tanganku berhenti ketika kulihat ekspresi wajahnya.

Matanya yang besar dan berbinar seolah-olah berkata [Tolong jangan makan aku! Tidak lihat betapa imutnya diriku iini?] dan terus menatapku seakan-akan menghipnotisku.

Aku mengguncangkan kepalaku untuk membersihkan perasaan yang tidak kuperlukan yang baru saja muncul.

[Yah, kuakui kau imut sekali dan aku jadi tidak tega menyembelihmu. Tetapi sekarang aku dan teman-temanku butuh makan kawan. Di hutan bukankah yang berlaku itu hukum rimba?] aku berkata padanya menolak untuk melepaskannya.

Ia semakin melebarkan matanya dan mengeluarkan suara*uuuunnnh seakan-akan berkata [Kumohon! Plis lepaskan aku!].

[Tidak! Tidak kawan! Maaf ya] ucap maafku sambil menyayat lehernya.

Darahnya mulai mengalir keluar dan kuarahkan kedalam lubang perangkap agar tidak meluber kemana-mana. Lupa masih ada satu kelinci lagi di dalam, ia terkena sedikit cipratan darah di wajahnya dan mundur menjauh dari tetesan darah yang masuk kedalam lubang.



Aku mengambil kelinci terakhir, dan bersiap menyembelihnya dengan cara yang sama.

*uuuuuuunnhh…. Dia mengeluarkan suara seolah berkata [Tidak! Kumohon lepaskan aku] sambil menatapku mengharapkan penuh belas kasihan.

[Kau ikut-ikutan juga? Tapi maaf kawan. Aku memang punya hati, tetapi aku juga punya perut yang lebih penting untuk diurus.] (Rugard)

*UUnnnnnnnnnnhhhh!!! erang dia dengan wajah panik yang berlumuran darah seolah berkata [Tidak! Kumohoooon.. aku punya enam istri dan tiga puluh anak yang menantiku pulang disarang.]

Hhhhh… aku menghela nafas. Apakah ini cara mereka mempertahankan diri dari pemangsa selama ini? Benar-benar tidak habis pikir dengan makhluk-makhluk dunia ini. Tanpa pikir panjang lagi, *sret!...

Previous Chapter - Daftar Isi - Next Chapter -

No comments:

DMCA.com Protection Status