Evil God Average Chapter 4 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Evil God Average Chapter 4 Bahasa Indonesia

November 22, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Seriya
Editor: CTian & Ise-kun 

Chapter 4 – Dorongan

Setelah mengalami kejadian yang menyayat hati yang dimana para bandit dan korbannya kabur setelah melihat ku, aku berdiri terpaku untuk beberapa saat, tetapi aku berusaha menenangkan diriku dan memutuskan untuk melihat apa yang ada di dalam tas yang dilemparkan dia padaku sebelumnya.

Seperti yang aku duga dari pengalaman menyakitkan sebelumnya, di dalam tas itu berisi koin emas.

Aku tidak tahu apa mata uang yang dipakai di dunia ini, namun di tas ini ada cukup banyak di dalamnya, dan aku rasa jumlahnya cukup untuk memulai hidup di dunia ini.

… Sakitnya cukup berbanding lurus.


Ketika aku menghitung jumlahnya dengan sangat teliti, aku menemukan disini ada 5 koin emas, 48 koin perak, dan 114 koin tembaga.

Bisa-bisanya ditimpuk ke muka dengan benda seberat ini, kau sudah berjuang dengan baik karena tidak terluka wahai tubuhku.

Aku nggak yakin, tapi mungkin saja kalau pemilik gerobak ini yang tadi itu baru saja mau memohon untuk hidupnya kepada para bandit dengan uang ini.

Dan kemudian aku muncul, dan dia melemparkannya padaku tanpa memeriksa apa yang ada didalam tas itu…

Memikirkan tentang itu lagi, aku merasa sedikit jengkel.

Meskipun itu bukanlah tujuanku, aku adalah penyelamatnya, tapi dia melemparkan sesuatu padaku dan kabur, jadi kalau aku marah ya rasanya wajar dong.


Dan sekarang, aku memutuskan untuk menyimpan uang ini sebagai ganti rugi.

Lagian, aku juga tidak akan mungkin bisa mengembalikan uang ini setelah semua yang terjadi tadi.

Setelah mengatur masalah ini di pikiranku, aku mengambil beberapa koin perak dan tembaga ke kantong jubahku dan melemparkan sisanya ke dalam kotak itemku, tas kulit dan semuanya.


Nah sekarang, apa yang akan aku lakukan untuk sekarang ini.

Dari apa yang kulihat dari reaksi sebelumnya, jika aku mengunjungi sebuah kota, kemungkinan mereka untuk membiarkan ku masuk itu kecil.

Masih lebih baik kalau mereka cuman takut dan lari; kalau sesuatu tambah memburuk, aku bahkan mungkin akan diserang.

Tetapi jauh dari pemukiman manusia seperti ini adalah mustahil.

Aku nggak punya kemampuan apapun untuk bertahan hidup, dan kalaupun ada juga, aku ragu apakah bisa digunakan di dunia ini atau tidak.

Pada akhirnya, aku tak punya pilihan lain selain pergi ke kota ntah bagaimana caranya demi bertahan hidup.

Tidak bisakah aku mengontrol skill menjengkelkan ini…?


Tunggu, tunggu sebentar?

Para bandit dan pemilik gerobak terlihat ketakutan setelah mereka menatap mataku.

Dengan kata lain, mungkinkah “takut” mereka hanya terbatas pada efek dari mata mistik, dan aura itu sendiri efeknya tidak begitu berarti?

Aku sempat berpikir bahwa mereka adalah satu kesatuan, tapi efek yang diperlemah pada manusia hanya tertulis pada [Evil God Aura], dan itu belum tentu berpengaruh pada [Mystic Eyes of Wicked Authority].

Jika [Evil God Aura] nggak terlalu bermasalah, dan hanya [Mystic Eyes of Wicked Authority] yang jadi masalahnya, maka hal tersebut masih bisa ku atasi.

Karena membuat kontak mata adalah syarat untuk mengaktifkan efeknya, maka tidak akan terjadi apa-apa kalau mata kami tak bertemu.

Untungnya jubah ini memiliki tudung, jadi aku menariknya turun hingga menutupi mataku, aku akan jadi seseorang dengan atmosfer yang sedikit mengerikan… Setidaknya aku berharap seperti itu.


Aku tak dapat menyangkal bahwa ada beberapa angan-angan yang bercampur didalam diriku, namun mengingat bahwa aku tak memiliki pilihan lain, jadinya aku memutuskan untuk mengikuti rencana asliku dan mencari kota.

Pertama-tama ke arah mana aku harus pergi sekarang, tapi────


“…Ayo pergi ke arah sini.”


Aku memutuskan untuk tidak pergi ke arah gerobak tadi kabur, tapi pergi ke arah sebaliknya.

Aku pikir seharusnya ada pemukiman manusia dalam arah di mana gerobak tadi datang serta di mana ia pergi, tapi aku tidak tahu mana yang lebih dekat.

Kemungkinannya sekitar 50:50.

Dalam hal ini, jika aku bertemu dengan pemilik itu gerobak itu lagi, sepertinya hanya akan jadi masalah, jadi mari pergi ke arah sebaliknya.


Dan seperti itulah, aku sekali lagi memulai untuk berjalan.


◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆


Aku tidak punya jam jadi aku tidak bisa mengatakan waktunya secara akurat, tetapi aku pikir setelah berjalan sekitar 2 jam, hutan sudah terlewati dan aku mencapai padang rumput yang luas.

Kalau itu adalah aku yang di dunia lama ku, maka aku tidak akan bisa bergerak lagi karena kelelahan dari tadi, tetapi karena kekuatan dari kemampuan fisikku, aku bahkan tidak berkeringat.

Jalan raya membentang melalui daratan itu, dan di kejauhan aku telah melihat sebuah kota.

Kota itu dikelilingi oleh tembok, dan terlihat seperti kota besar yang tenang.

Itu hanyalah apa yang bisa kulihat, tapi itu terlihat bahwa aku perlu berjalan satu jam lagi untuk sampai disana.

Setelah melihat daratan itu dan memastikan bahwa disini tidak ada hewan apapun yang terlihat menyeramkan, aku berjalan menuju kota.


Ketika aku hampir sampai ke kota, aku dapat melihat bahwa di ujung jalan raya itu ada bangunan kecil yang ditetapkan sebagai pintu masuk, dan didepan itu berdirilah beberapa orang dan gerobak-gerobak mereka.

Aku dengan segera menempatkan diriku di ujung dari barisan itu, dan mendengarkan informasi sebisa ku.

Karena aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana akal sehat dunia ini, aku bahkan tidak tahu prosedur mengenai bagaimana cara untuk masuk ke kota.

Para pedagang yang mengendarai gerobak mereka memperlihatkan kepada penjaga gerbang sebuah kartu, dan gerobak mereka menjalani pemeriksaan sebelum bisa lewat.

Untuk mereka yang berjalan kaki, beberapa dari mereka memperlihatkan kartu seperti halnya para pedagang, dan beberapa dari mereka membayar dengan uang dan menerima kartu kayu.

Kartu-kartu itu kemungkinan adalah kartu tanda pengenal atau semacamnya.

Tetapi meskipun disini terlihat bahwa orang-orang itu tidak memilliki itu, dalam hal ini terlihat bahwa mereka membayar satu koin perak sebelum mereka boleh lewat.

Aku khawatir apakah ini sistem seperti itu akan baik-baik saja, tapi bagi ku itu lumayan praktis.

Sembari menjepit koin perak yang kupunya di kantong jubahku, aku menunggu giliranku datang.


“Berikutnya… Hanya satu orang?” (penjaga gerbang)

“Iya.” (Anri)


Ini giliranku sekarang jadi aku berjalan ke depan penjaga.
Di dalam diriku, hatiku berdegup kencang, namun aku tidak akan membiarkannya terlihat.
Untungnya, karena tudungnya tertarik kebawah hingga menutupi mataku, sehingga mereka tidak menjadi takut.


“Seorang wanita huh. Apa kau punya tanda pengenal?” (penjaga gerbang)

“Nggak.” (Anri)

“Kalau begitu bayar depositnya, dan kami akan memberikanmu sebuah tanda pengenal sementara. Depositnya 1 koin perak.” (penjaga gerbang)


Bukan sebagai bea cukai, tetapi deposit huh?
Aku bertanya-tanya apakah mereka akan mengembalikannya lagi atau tidak ketika aku pergi.
Aku mengambil sebuah koin perak dalam saku jubahku, dan menyerahkannya.


“Kami sudah menerimanya. Ketika kau meninggalkan Kota, kembalikan tanda pengenal sementara itu dan kami akan mengembalikan depositnya. Bahkan jika kau mendapatkan tanda pengenal resminya, Jangan buang tanda pengenal sementaramu.” (penjaga gerbang)

“Baiklah… gimana cara mendapatkan tanda pengenal resminya?” (Anri)

“Apa kamu datang dari desa perkotaan atau semacamnya? Jalan tercepat adalah dengan mendaftar ke Guild Petualang dan mendapatkan Kartu Petualang. Disini juga ada tempat ibadah, dan Guild Pedagang, tetapi yang pertama tidak bisa dilakukan kecuali kau adalah penduduk atau penganut. Dan yang terakhir, hanya pedagang yang dapat masuk jadi mungkin kau tidak bisa melakukan apapun tentang itu, nona.” (penjaga gerbang)


Yah, tidak peduli bagaimana kau melihatnya, aku ragu aku terlihat seperti pedagang.

Sejak mata kami tidak saling bertemu, aku tidak tahu ekspresi apa yang dia buat, tetapi penjaga ini cukup baik.

Guild Petualang, gereja, dan Guild Pedagang; untuk sekarang ini aku tahu bahwa kota ini setidaknya memiliki instansi.


“Baiklah kalau begitu, ini tanda pengenal sementaramu. Pastikan jangan sampai menghilangkannya.” (penjaga gerbang)

“Ya.” (Anri)


Mengambil kartu kayu itu ke saku jubahku, aku pergi melalui gerbang itu.


Kota ini kebanyakan berbentuk bulat, dan jalan terbentang dari gerbang yang aku masuki menuju ke alun-alun pusat, kemudian semua jalanan menuju ke gerbang berada di sisi yang berlawanan.

Aku tidak tahu apa arah yang ditujukan peta ini, tetapi dari kata-kata orang yang berjalan di depanku, gerbang yang ku lalui adalah gerbang timur, dan disini kelihatannya diantara gerbang barat dan selatan.

Sisi utara tidak memiliki gerbang, namun perkebunan di kota ini────yang mana terlihat dinamakan Riemel──── sang pemilik tanah.

Jalan tempat aku berjalan sekarang ini, dan persimpangan di alun-alun pusat terlihat dari jalan utama kota ini.

Disini ada kios-kios dan toko-toko yang berjejeran sepanjang jalan utama, dan kebanyakan rumah penduduk terletak sedikit lebih jauh dari lokasi dimana kebanyakan toko berada.


Ketika berjalan aku mengintip ke kios-kios dan toko-toko, dan memeriksa nilai mata uangnya.

 Benda-benda di jalan kios-kios tidak memiliki label harga, dan sepertinya kau perlu untuk bertanya pada pemiliknya untuk mengetahui.

Di sisi lain, harga yang dijual di toko sudah terlihat di label dari kayu.


Dua buah yang berukuran sekitar kepalan tanganku ini seharga 1 koin tembaga.
Sepotong rentang roti harganya sekitar satu sampai dua koin tembaga.
Pakaian jenis gaun yang dipakai oleh orang-orang yang berjalan-jalan di sekitar kota seharga 15 koin tembaga.
Pedang panjang sepanjang 1 meter harganya 1 perak dan 50 tembaga.
Perisai kayu seharga 50 tembaga, sementara itu perisai perunggu seharga 1 perak, turun harga menjadi 90 tembaga.


Sepertinya 100 koin tembaga sama nilainya dengan 1 koin perak.

Untuk sekarang aku sama sekali tidak melihat adanya tempat yang menggunakan koin emas, jadi aku tidak tahu berapa nilai tukarnya.

Benda-benda yang berada di depan toko-toko kemungkinan adalah barang murah, dan barang yang lebih mahal yang harus dibeli dengan koin emas mungkin berada lebih jauh di dalam toko.

Hanya dengan melihat harga makanannya, 1 koin tembaga sepertinya memiliki nilai setara dengan 100 Yen, tetapi karena harganya beragam, sebaiknya tidak usah memikirkan untuk mengkonvertnya menjadi mata uang yen.


Menurut investigasi harga yang kulakukan, aku memasuki toko baju untuk membeli benda-benda yang aku perlukan sebelum membeli yang lainnya.


Celana dalam setinggi pinggang seharga 6 tembaga per potong
Pakaian dalam seperti boneka bayi seharga 10 tembaga per potong.
Sepatu tumit rendah seharga 9 tembaga sepasang.


Aku megambil tiga potong setiap jenis pakaian dalam, dan sepasang sepatu, jadi jika dijumlahkan semuanya ada 57 tembaga, dan ketika aku membayarnya dengan 1 koin perak, aku mendapat kembali 43 tembaga.

Aku tidak menemukan bra.

Untuk menjaga kehormatan ku, aku mengatakan ini agar kaliantahu, tetapi apa yang tidak aku temukan bukan hanya ukuranku tapi semua bra.

Mari anggap bahwa aku tidak melihat pakaian dalam untuk ukuran dada yang lebih besar itu dipajang di dalam toko.

Karena aku tidak bisa memakai pakaian dalam di tempat seperti ini, aku dengan sabar menghadapi sensasi dingin ini sedikit lama lagi, dan hanya mengambil sepatu.

Diantara “tidak memakai pakaian dalam” dan “ketahuan bahwa aku tidak dapat memakai pakaian dalam” yang mana ya enaknya kira-kira… itu adalah pertanyaan yang sulit, tetapi aku akan pergi dengan tidak ketahuan.


Untuk sekarang aku meninggalkan toko baju, matahari telah terbenam, dan indahnya matahari sore menerangi kota.

Toko-toko di area ini mulai tutup dan orang-orang meninggalkan jalan ini untuk pulang.

Sepertinya kota ini tidak memiliki kehidupan malam.

Berbicara tentang hal itu, disini tidak ada lampu jalan, jadi setelah matahari terbenam kota ini menjadi gelap.

Satu-satunya tempat yang melakukan kegiatannya dimalam hari mungkin hanya bar dan toko-toko yang sedikit tidak senonoh.

Aku harus bergegas menemukan tempat untuk tidur atau semacamnya untukku.

Setelah memutuskan hal itu, aku mulai berjalan menuruni jalan utama untuk mencari sebuah penginapan.


Ketika aku bergantung pada gambar di papan iklan untuk mencarinya, aku menemukan beberapa penginapan.

Kebanyakan penginapan itu nampaknya memiliki bar di lantai pertama dan ruang tamu di lantai 2, dan beberapa dari itu juga memiliki papan iklan dengan kasur, dan papan iklan dengan mug yang saling berdekatan satu sama lain.

Diantara semua itu aku... Tidak memilih yang manapun, dan tetap memutuskan untuk mencoba dan menemukan penginapan tanpa bar

Bukan maksud gimana, tapi bar dan sejenisnya itu baunya seperti akan ada banyak masalah nantinya.


"Oh, seorang tamu? Selamat datang, ini adalah sebuah penginapan."


Seorang wanita yang kira-kira berumur 40-an itu berkata padaku ketika aku membuka pintunya.

Ngomong-ngomong, aku tidak terlalu memerhatikannya untuk sekarang, tetapi untuk beberapa alasan itu terlihat bahwa kita dapat mengerti satu sama lain.


"Berapa harga untuk 1 malam?" (Anri)

"Satu malam harganya 1 perak, sarapan 5 tembaga, makan malam 10 tembaga, dan satu baskom air panas harganya 5 tembaga." (pelayan di penginapan).


Air panas?
Ahh. Di tempat pemandian?
Aku penasaran jika mendapatkan air bukanlah hal yang biasa.
Itu sedikit mengejutkan.


"Lima malam, tolong dengan makanan dan airnya." (Anri)


Setelah berkata itu, aku menyerahkan 6 koin perak.


"Baiklah, ruangmu ada di lantai 2, pintu terakhir di kanan. Ini kuncinya. Apakah kau ingin segera makan?" (pelayan di penginapan)

"Ya, jika itu dimungkinkan." (Anri)

"Segera. Saya akan menyiapkannya sekarang jadi duduklah di kursi manapun yang kamu suka."


Setelah aku menerima kunci yang dilekatkan ke plat kayu, aku duduk di samping ruang makan dan menunggu makanan datang.


◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆


Setelah aku selesai makan, aku menerima se bak air panas, dan menaiki tangga, aku memasuki ruangan yang mereka berikan kepadaku.

Ngomong-ngomong, makan malamnya roti, sup dengan banyak sayuran, dan buah-buahan sebagai penutupnya.

Menunya sederhena, tapi enak.

Membuka pintu dengan kunci yang kuterima, aku menemukan bahwa ini adalah ruangan 6 tatami, dengan sebuah kasur dan satu set meja.

Setelah masuk dan mengunci pintunya, aku menaruh sebaskom air panas di lantai, dan menjatuhkan diri di depan kasur.

Langit-langit dengan tekstur kayu memasuki pandanganku, dan pemandangan tak biasa di depanku ini membuatku benar-benar merindukan rumah karena menyadari fakta bahwa aku berada di dunia lain.

Karena bagaimana sedihnya perasaanku ini, tanpa sadar air mataku memburamkan penglihatanku... Ini bukanlah apa yang diharapkan, tetapi ini fakta bahwa hatiku dipenuhi dengan kegelisahan.

Itu terlihat bahwa aku akan jatuh ke dalam lingkaran depresi tanpa akhir jadi aku bangun karena aku merasa seperti aku akan tertidur jika aku terus terbaring di sana, dan setelah memeriksa sekali lagi kalau pintu telah terkunci, aku melepas jubah dan pakaian yang kupakai dan menempatkannya di atas kasur.

Aku merendam pakaian yang kuterima disamping se baskom air, kemudian memerasnya, dan mulai membersihkan diriku dimulai dari rambutku, kemudian tubuh bagian atasku, dan terakhir tubuh bagian bawahku.

Setelah aku merasa segar, aku mengambil pakaian dalam yang baru saja aku beli, dan mengambil pakaian yang aku taruh di atas kasur.

Aku sekarang ingin pergi tidur, jadi mungkin akan baik-baik saja jika aku tidak mengambil jubahnya. Selimut itu tipis dan sedikit dingin, oleh karena itu aku menaruh jubah itu di atasnya.


Baru sejam setelah matahari mulai terbenam, tapi mungkin karena banyak hal yang sudah terjadi dan aku kelelahan, kelopak mataku terasa berat. Tidak ada yang perlu ku lakukan lagi ‘lagian juga, jadi aku sebaiknya bergegas dan pergi tidur. Memikirkan ini, aku merangkak menuju tempat tidur.

No comments:

DMCA.com Protection Status