Kumo desu ga, Nani ka? Chapter 8 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Kumo desu ga, Nani ka? Chapter 8 Bahasa Indonesia

November 30, 2016 Pipo Narwastu


Translator: KIV

007 - Laba-laba Tanpa Kecerdasan Hanyalah Laba-laba Biasa

Zzzz.

Fuaaaah~

Tidurku lelap sekali. Apa tidurku terlalu lama? Rasanya lemes banget. Ah, sudahlah. TIdur tanpa rasa khawatir memang paling mantab.

Kira-kira aku tidur berapa lama ya? Dulu biasanya aku hanya tidur 4 jam sehari. Tapi sekarang rasanya seperti aku tidur seharian setelah bergadang semalam suntuk. Hmm… tapi manusia dan laba-laba rasanya benar-benar berbeda, jam internalku jadi tidak karuan. Ya, sepertinya aku butuh jam.

Sudah berapa lama sejak aku lahir? Rasanya sudah dua hari, atau mungkin tiga? Di dalam sini siang dan malamnya tidak jelas.

Aku tidak tahu kalender apa yang digunakan di sini, aku bahkan tidak yakin satu hari itu 24 jam. DI bumi, satu tahun adalah lama revolusi bumi mengelilingi bumi dan satu hari adalah lama bumi berotasi 360 derajat pada sumbunya. Apa planet ini memiliki ukuran dan massa seperti bumi? Apa planet ini mengelilingi bintang dengan kecepatan serupa? Mungkin tidak. Ah, sudahlah, itu kan penjelasan secara ilmiah, tapi karena ini dunia sihir, bisa saja kalau dunia ini beroperasi dengan hukum fisika berbeda.

Lagipula aku tidak bisa memastikannya. Aku akan meninggalkan tempat ini kalau ada kesempatan, tapi untuk sekarang aku lebih memilih hidup santai…

Hmm, daripada tidak ada kerjaan, aku sebaiknya memikirkan misteri yang kuhadapi hingga saat ini

Pertama, bagaimana aku mati? Ah, benar juga, aku langsung mengasumsikan kalau aku mati dan reinkarnasi sebagai laba-laba, tapi sebenarnya aku sama sekali tidak ingat bagaimana caraku mati.

Hmm…

Yang terakhir kuingat adalah saat guru pelajaran bahasa, Oka-sensei, sedang membacakan sesuatu. Aku tidak fokus karena mengantuk, dan tiba-tiba ada ledakan yang begitu menyakitkan, dan ingatanku terputus di situ. Kalau memang aku mati, mungkin karena rasa sakit itu, walaupun penyebabnya sendiri tidak kuketahui.

Yah, teori yang paling bisa diterima adalah aku mati karena rasa sakit itu dan reinkarnasi menjadi laba-laba. Tapi kalau aku tidak mati… mungkin saja aku hanya merasuki laba-laba, sedangkan tubuhku koma di rumah sakit? Oh, ada lagi yang lebih gila, mungkin saja ini bukan ingatanku. Dan tubuh asliku sebenarnya masih ada di kelas.

Hmm… aku yakin bisa mendapatkan ide yang lebih gila kalau terus berpikir. Tapi kalau diriku ini bukan ”aku”, bagaimana cara membuktikannya? Aku bisa saja mengatakan hal aneh seperti “Cogito Ergo Sum”… tapi untuk saat ini anggap saja aku telah direinkarnasi. Ok. Dan “Cogito Ergo Sum”… asumsikan saja bahwa “aku” adalah aku.
(TL Note: Cogito Ergo Sum: “I think, Therefore I am.” Quote dari seorang filsuf asal Perancis, RenĂ© Descartes.)

Selanjutnya, tubuh yang kugunakan saat ini. Tubuh laba-laba ternyata memudahkan sekali. Aku tidak kesulitan berjalan dengan 8 kaki, dan rasaya jadi lebih mudah bergerak ketimbang saat menjadi manusia. Aku bisa berlari di dinding, dan yang aneh, aku bisa berjalan di langit-langit. Tapi ya kekurangannya aku tidak punya tangan dan kepalaku tidak bisa berbalik untuk melihat ke belakang.

Tidak punya tangan memang susah. Aku bisa menggunakan kaki depanku, tapi rasanya tidak begitu enak. Aku tidak bisa merasakan ketepatan dan kelincahan seperti tangan manusia. Lagipula, di ujung kakiku ada kuku tajam, jadi tidak mungkin bisa kugunakan seperti jari. Sayang sekali sih, tapi ya sudahlah.

Ada satu lagi masalah yang lebih penting: aku tidak bisa melihat ke belakang.

Ini benar-benar berbahaya. Laba-laba tidak punya leher, kepalaku menempel langsung ke tubuh jadi tidak bisa menoleh. Mataku lumayan banyak, jadi sudut pandangku lumayan lebar. Walau begitu, aku tetap rentan terhadap serangan mendadak karena tidak bisa melihat ke belakang.

Aku mungkin bsia menggunakan benang untuk berjaga-jaga. Karena tidak bisa melihat, aku harus menggunakan cara lain. Dengan benang, aku mungkin bisa merasakan apa yang terjadi di belakang tubuhku. Tapi praktiknya mungkin akan susah. Aku mungkin perlu latihan. Aku memang dalam posisi aman di sarang, tapi lebih baik berjaga-jaga, kan?

Terakhir soal “skill”. Ada begitu banyak yang ingin kuketahui, tapi sekarang fokus saja pada satu hal: apa yang dimaksud sebagai “skill”?

Kalau menggunakan logika game, skill itu semacam kemampuan atau teknik. Hal yang bisa dilakukan akan bergantung pada skill yang dimiliki. Semakin banyak skill, maka kamu bisa melakukan lebih banyak hal. Aku tidak tahu bagaimana dengan dunia ini, tapi sebaiknya tidak kusamakan.

Prioritas utamaku sekarang adalah mencari tahu skill apa yang kumiliki, dan skill apa yang bisa kudapatkan.

Untuk sekarang, ada 3 skill yang kuketahui: [Appraisal LV1], [Acid Resitance LV2], dan [Poison Resistance LV2]. Aku mendapat appraisal dengan menukar poin.

Ah, poin juga misterius. Aku menghabiskan semua poinku untuk appraisal, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menambah poin itu kembali. Kalau ini game aku mungkin akan mendapat poin ketika naik level, tapi aku tidak tahu kalau dunia ini ada sistem level atau tidak. Mungkin poinku bertambah seiring waktu berjalan? Entahlah.

Kemungkinan terburuk ya… poinku tidak akan bertambah. Mungkin saja skill point bawaan sejak lahir dan hanya bisa digunakan sekali. AKu akan syok kalau itu benar.

Semoga saja aku salah…

No comments:

DMCA.com Protection Status