Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 8 part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 8 part 1 Bahasa Indonesia

November 19, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Exicore
Editor: Ise-kun

Chapter 8

Part 1

<Legenda Perseus>


Peserta:
*Sakamaki Izayoi
*Kudou Asuka
*Yo Kasukabe

*Pemimpin [No Name]: Jin Russel
*Pemimpin [Perseus]: Laius Perseus

Kondisi untuk menang: Mengalahkan pemimpin dari Host.

Kondisi untuk kalah:
*Saat pemimpin dari Komunitas yang berpartisipasi menyerah.
*Saat pemimpin dari Komunitas yang berpartisipasi kehilangan hak untuk berpartisipasi.
*Saat Komunitas yang berpartisipasi tidak bisa memenuhi kondisi kemenangan.

Detail dari Arena dan Peraturan:

*Pemimpin Komunitas Host tidak diperbolehkan meninggalkan area terdalam markasnya – Yaitu bagian terdalam dari Istana Putih.
*Anggota dari Komunitas Host tidak boleh memasuki area terdalam markasnya.
*Peserta tidak boleh dilihat oleh anggota Komunitas Host(Kecuali pemimpin Komunitas Host).
*Peserta yang telah dilihat akan dieliminasi dan kehilangan hak mereka untuk berpartisipasi.
*Peserta yang telah dieliminasi akan kehilangan hak untuk bertarung melawan pemimpin Komunitas Host tapi masih boleh melanjutkan Game.

Sumpah: [No Name] bersumpah untuk menghormati segala peraturan di atas berdasarkan bendera dan harga diri kami saat bermain dalam Gift Game.

Stempel [Perseus]

Part 2

Setelah mereka menandatangi [Geass Roll], mereka segera dikelilingi oleh cahaya yang memenuhi pandangan mereka.

Gerbang antardimensi berpindah dan melempar mereka, menuju ke gerbang permulaan Gift Game.

Dan saat Izayoi dan yang lainnya berdiri di depan sebuah pintu terkunci, mereka menyadari bahwa daerah di sekitar Istana Putih telah terpisah dari Litte Garden dan sekarang melayang di tengah lokasi antah berantah. Ini adalah lokasi di dalam Little Garden yang tidak termasuk dalam Little Garden.

“Di diskulaifikasi saat terlihat? Dengan kata lain, mereka ingin kita membunuh Laius tanpa diketahui?” (Izayoi)

Izayoi menatap Istana Putih sembari mengatakan apa yang ia pikirkan dengan nada yang mengatakan bahwa ia tidak terlalu tertarik.

“Jika memang begitu, Laius juga akan meniru legendanya dan tidur, iya kan? Tapi meski begitu, pertarungan ini tidak akan mudah.” Jawab Jin.

“YES. Laius seharusnya berada di bagian terdalam Istana dan menunggu kita. Tapi sebelum itu, kita harus berhasil melewati rintangan di dalam Istana. Tidak seperti Perseus, kita tidak punya Gift Hades. Dan karena kita tidak punya kemampuan untuk tidak terlihat, kita harus menyusun rencana.” Kuro Usagi mengatakan hal yang harus diperhatikan sembari menaruh jarinya di depannya. Gift Game kali ini diatur berdasarkan terhadap mitologi Yunani, legenda Perseus.

Jika mereka tidak bisa menghindari terlihat oleh anggota [Host] sebelum mencapai bagian terdalam Istana, maka mereka tidak akan bisa bertarung melawan Laius karena telah di diskualifikasi.

Asuka memasang ekspresi serius setelah mengetahui dan kemudian membaca peraturan dari Gift Game:

“Mereka yang dilihat tidak akan bisa melawan pemimpin Game. Dan, bila pemimpin kita, Jin-chan tereleminasi sebelum kita mencapai bagian terdalam dari Istana, maka itu akan menjadi kekalahan kita. Bila seperti itu, maka akan ada tiga peran yang akan dimainkan.” (Asuka)

Yo yang berdiri disamping Asuka mengangguk tanda setuju. Dalam situasi normal, Gift game seperti ini perlu ratusan orang dan dibagi ke dalam sepuluh pasukan untuk mencoba mencapai bagian terdalam labirin dengan sukses.

Tapi dalam Game ini, mereka hanya punya empat orang. Jadi membagi peran adalah hal yang penting.

“Hm, pertama kita akan perlu orang untuk mengisi peran sebagai orang yang mengikuti Jin-chan untuk mengalahkan pemimpin Host; yang lain untuk mencari dan mengalahkan musuh yang tidak terlihat; dan yang terakhir adalah untuk keluar dari awal dan mengalihkan perhatian musuh.” (Yo)

“Kasukabe, hidungmu tajam, pendengaran dan penglihatanmu pun bagus jadi kau bertugas untuk mencari dan mengalahkan musuh yang tidak terlihat.” (Izayoi)

“Kuro Usagi hanya bisa bergabung sebagai juri, maafkan Kuro Usagi, tapi Kuro Usagi akan menyerahkan tugas mengalahkan pemimpinnya kepadamu, Izayoi-san.” Ujar Kuro Usagi.

“Ara? Kalau begitu aku yang bertugas untuk mengalihkan perhatian?”

Kata Asuka dengan wajah yang terlihat sedikit kesal.

Namun, Asuka sudah tahu bahwa Gift miliknya tidaklah bisa digunakan untuk melawan Laius. Terlebih lagi, lebih efektif untuk menggunakan Gift Asuka yang bisa menghadapi banyak musuh sekaligus sebagai pengalihan. Meskipun dia mengerti, tapi dia tetap saja tidak puas. Menyadari hal itu, Izayoi kemudian berbicara untuk mengejek Asuka yang sedang marah:

“Maaf tentang itu, Ojou-sama, aku ingin menyerahkan tugas ini padamu, tapi jika kita tidak menang, maka tidak akan ada arti dalam Game ini. Jika seseorang harus menghadapi bajingan itu, maka aku adalah kandidat terbaik untuk melakukan itu.” (Izayoi)

“......Hmph, lupakan, aku akan biarkan kau bersinar sekarang. Tapi jika kau kalah, kau sebaiknya bersiap, karena aku tidak akan mengampunimu!” (Asuka)

Izayoi hanya mengangkat bahunya seakan tidak perduli. Namun, Kuro Usagi memasang ekspresi khawatir saat ia mengatakan hal yang ia khawatirkan:

“Meskipun itu sangat disayangkan, tapi tidak ada jaminan bahwa kita akan menang. Jika kita tidak mengincar kesempatan saat Laius sedang teralihkan, maka itu akan menjadi pertarungan yang sulit.” (Usagi)

Empat pasang mata sekarang fokus ke Kuro Usagi setelah mendengarkan apa yang ia katakan

“……Apakah orang itu memang sekuat itu?” Ujar Asuka terlihat sedikit khawatir.

“Tidak, Laius-san sendiri tidak punya kekuatan yang harus kita takuti, tapi masalahnya adalah Gift yang ia punya. Jika Kuro Usagi benar, maka Gift miliknya adalah–“ (Usagi)

“Mantan Demon Lord yang telah menjadi bawahannya.” (Izayoi)

“Yep, mantan Demon Lord…… EH?” (Usagi)

Kata-kata Izayoi membuat Kuro Usagi terdiam untuk sementara.

Namun, Izayoi berekspresi seakan tidak peduli dan kemudian melanjutkan:

“Menurut legenda yang mengelilingi Perseus, dunia ini tidak mungkin memiliki kepala Medusa karena sudah diberikan kepada Dewa Perang. Tapi, mereka masih bisa menggunakan Gift untuk mengubah orang lain menjadi batu – [Perseus] yang mana telah menjadi salah satu bagian dari bintang-bintang. Jadi, sederhananya, benda yang mengitari lehernya itu adalah… Demon Star, iya kan?” (Izayoi)

“……Demon Star?” =

Asuka dan yang lainnya tidak mengerti apa yang Izayoi bicarakan, mereka melihat ke arah masing-masing sembari memiringkan kepala mereka.

Hanya Kuro Usagi yang terkejut dan terdiam.

Karena dia menyadari betapa luar biasanya perkataan Izayoi.

“Izayoi-san… Mungkinkah kau… Telah mempelajari rahasia dibalik rasi bintang Little Garden……?” (Usagi)

Kuro Usagi menggelengkan kepalanya saat menanyakan hal itu sembari terus menatap Izayoi seakan ia menatap sesuatu yang luar biasa.

“Yep, kemarin saat aku melihat bintang-bintang, aku telah memikirkan hal itu, dan setelah bertemu dengan Laius, aku bisa hampir memastikannya. Hanya pada saat aku punya waktu lebih untuk mengamati Demon Star aku baru berhasil mencapai kesimpulan itu. Lagipula Shiroyasha memberikanku peralatan untuk melakukan penelitian.” (Izayoi)

Izayoi tertawa dengan bangga sementara Kuro Usagi memasang senyum yang memiliki arti tersembunyi sembari menatap Izayoi.

“Mungkinkah, Izayoi-san adalah seseorang yang menggunakan otaknya?” (Usagi)

“Apa maksudmu? Aku memang menggunakan otakku. Aku bahkan bisa mnmbuka pintu dari Kuro Usagi tanpa menggunakan gagangnya, benar kan?” (Izayoi)

“…… Tidak, tidak, lebih tepatnya, pintu itu memang tidak punya gagang sejak awal dan hanya panelnya saja yang tersisa.” (Usagi)

Ujar Kuro Usagi dengan tenang. Izayoi juga menyadari hal itu dan memutuskan untuk menambahkan sesuatu:

“Ah, jadi begitu? Tapi bahkan walau pintu itu ada gagangnya, aku tetap bisa membukanya tanpa menggunakan gagang itu ‘tau?” (Izayoi)

“………………. Bisakah Kuro Usagi memintamu untuk menunjukkan buktinya?” (Usagi)

Kuro Usagi menatap dingin Izayoi.

Seakan merespon ke permintaan Kuro Usagi, Izayoi berjalan ke arah pintu besar itu.

“Yah, hal semacam itu – Tentu saja dilakukan seperti ini!” (Izayoi)

Diikuti dengan suara *Crash* yang keras, dia menendang pintu besar dari Istana Putih hingga terbuka lebar.

Part 3

Istana Putih adalah bangunan dengan lima lantai yang mana bagian dalamnya terletak di lokasi tertinggi dan satu-satunya cara untuk mencapainya adalah dengan melewati tangga. Meskipun tidak diketahui berapa orang dari [Host] yang berpartisipasi, tapi mereka pasti sudah menjaga ketat daerah sekitar tangga agar tidak ada seorapun yang mampu melangkah maju.

Bersiaga karena suara pintu yang didobrak yang telah menjadi pertanda dimulainya Game, para kesatria [Perseus] mulai bergerak.

“Jaga tangga Timur dan Barat!”

“Kau, pergi ke posisi dan berjaga di tangga depan sembari menunggu perintah!”

“Musuh kita hanya empat! Jumlah orang yang bisa mereka korbankan terbatas! Selama kalian menanggapinya dengan tenang, tidak akan ada kesempatan bagi mereka untuk menang!”

“Pertempuran ini demi bendera kita! Kita tidak boleh kalah!”

Dibawah perintah komandannya, para kesatria [Perseus] mulai memperlihatkan gerakan rapi dan teratur menuju ke posisi masing-masing.

Game yang menggunakan daerah Komunitas bukan hanya untuk pamer. Lagipula, menggunakan tempat seperti itu akan memberikan keuntungan bagi Host.

Tidak perlu dikatakan lagi, bahwa kondisi kemenangannya sederhana dan mereka juga tidak perlu menggerakkan satu jari pun, karena mereka hanya perlu melihat musuh.

Di aula yang terletak di bagian terdalam Istana, Laius sedang duduk di atas sebuah singgasana dengan kepercayaan diri tinggi bahwa ia akan menang. Dan apa yang ada di pikirannya bukanlah Gift Game yang sekarang ia hadapi tapi amarah terhadap anak buahnya yang tidak mencegah Autoritas untuk Menantang diambil.

(Hmph…… Orang-orang tidak berguna itu, membiarkan Komunitas [No Name] mendapatkan Autoritas untuk Menantang.)

Tidak peduli seberapa setia mereka, Komunitas-nya tidak butuh lawan seperti itu.

-- Tapi Laius tidak menyadari bahwa ia sedang menghadapi organisasi yang memilik anak-anak nakal yang tidak akan kalah ke pahlawan yang terkenal dan punya kemampuan luar biasa yang tidak tertandingi.

Part 4

Tangga depan telah hancur karena Asuka yang terus melawan para kesatria. Dan semua kesatria, yang datang untuk menghadang Izayoi dan yang lainnya di depan, ditahan oleh Gift yang Asuka bawa – Pohon Air.

“Sudah cukup! Mengapa kalian membuang-buang waktu menghadapi gadis ini?!”

“Pergi! Orang-orang yang memiliki Gift tidak terlihat, pergi dan cari orang-orang yang tersisa kemudian tangkap! Biarkan kami menangani yang ini!”

Sesaat setelah ia dilihat, Asuka telah membuang haknya untuk menantang pemimpin Game. Perannya adalah sebagai umpan dengan menggunakan kemampuannya, tapi pikiran untuk berlarian kesana kemari tidak cocok untuknya. Meskipun dia memiliki kemampuan utnuk membuat musuh saling bunuh, tapi ia tidak menggunakannya karena itu tidak akan menyenangkan. Karena itu, Asuka memutuskan untuk membuat dirinya sendiri menjadi fokus utama para kesatria dan membuat mereka tidak mampu mengabaikan dirinya – Dengan cara menghancurkan Istana Putih.

“Dari kanan ke kiri! Hancurkan mereka!” (Asuka)

Bersamaan dengan teriakan itu, ombak mulai mengarah ke para kesatria. Di saat yang sama, dekorasi dari Istana hanyut terbawa ombak dan tempat itu menjadi kacau. Lukisan yang berharga pun ikut basah karena air.

Biasanya, saat Gift Game akan dimulai di dalam markas, semua barang yang dimiliki oleh Komunitas akan disimpan dalam tempat perbendaharaan Komunitas. Namun karena Game dimulai secara tiba-tiba, tidak ada persiapan yang cukup dan tidak ada Gift yang cukup pula untuk melindungi daerahnyra.

Menggunakan hal itu, Asuka mulai menghancurkan hal yang ada di daerah mereka. Meskipun mereka tidak perlu lagi untuk bertarung melawan Asuka, mereka tidak mungkin membiarkannya melakukan apapun seenaknya.

“Fufu…… Selain dari musuh yang tidak terlihat, semuanya seharusnya ada disini, iya kan?” (Asuka)

Asuka melihat ke sekeliling. Meskipun para kesatria menggunakan Sendal Terbang, dihadapan jumlah air yang banyak dan Asuka yang mengendalikannya, mereka ragu untuk langsung menyerang.

“Ini… Ini tidak bagus! Jika terus begini, maka seluruh daerah lantai satu dari Istana akan tenggelam!”

Teriakan dan tangisan putus asa dari para kesatria bisa terdengar menggema di seluruh Istana. Asuka duduk di atas salah satu cabang Pohon Air dan memberikan perintah.

“Sudut kanan atas. Sapu mereka!” (Asuka)

Pohon Air yang dikontrol oleh kata-kata Asuka, mengeluarkan semburan air bertekanan tinggi dan menyebabkan para kesatria dengan Sendal Terbang jatuh satu per satu. Dan para kesatria yang berhasil menghindarinya akan dijatuhkan oleh air bertekanan tinggi yang datang dari bawah, yang mana membuat mereka mundur karena jumlah pilar air yang mengejar mereka. Asuka terus mengulangi hal itu menggunakan Gift miliknya untuk mengontrol Gift Pohon Air sembari memikirkan hal itu.

(Gift yang dibuat untuk mengontrol Gift lain… apakah itu benar?)

Dia membenci dunia yang selalu menjawab ‘iya’ akan setiap pertanyaannya. Namun, di dunia Little Garden, dimana banyak sekali tipe manusia dengan warna berbeda dan etnis berbeda, pasti akan banyak sekali jenis jawaban berbeda yang berisi keraguan, sesuatu tanpa kejelasan apakah itu ‘iya’ atau tidak’. Kuro Usagi telah mengatakan kepada Asuka bahwa bahkan walau dia tidak bisa menghilangkan kekuatan untuk mengendalikan orang lain, dia masih bisa memilih untuk tidak membiarkan kekuatan itu berkembang lebih jauh.
[XTLN: Maksud dari kata warna disini berarti perbedaan dengan jumlah yang hampir tidak terbatas.]

Pilihan untuk mengontrol Gift itu adalah pilihan yang dibuat agar ia tidak menghancurkan warna dunia ini. Selama dia mengendalikannya dan tidak mengembangkan kekuatan itu untuk mengendalikan keinginan orang lain, dia tidak akan bisa mengendalikan hati orang di sekitarnya seperti Izayoi dan Yo, benar kan?

(Tapi…… Itu masalah yang berbeda. Sekarang, aku hanya harus mengendalikan Pohon Air ini, sudah butuh seluruh tenagaku hanya untuk melakukannya, benar-benar menyedihkan.)

Asuka menyentuh cabang Pohon Air itu dengan lembut. Seakan merespon, denyutan bisa dirasakan di daerah yang ia sentuh.

Meskipun dia mengerti cara menggunakan kemampuannya, masih ada ekspresi tidak puas di wajahnya. Masalah yang paling besar adalah fakta bahwa kekuatannya hanya mampu menghasilkan kekuatan yang setara dengan kekuatan dari anak ayam. Dan itu yang membuatnya harus menghabiskan seluruh tenaganya untuk mengendalikan Pohon Air. Alasan mengapa Asuka membawa Pohon Air yang mana merupakan hal yang membuat Komunitas hidup hari ini dan tidak memilih untuk membawa gift lain dari perbendaharaan Komunitas adalah karena fakta bahwa hanya Pohon Air yang akan mendengarkan perintahnya.

Bagi Asuka yang punya harga diri yang tinggi, tidak bisa mengendalikan Gift yang lain membuatnya merasa tidak puas.

(Tapi, kurasa ini cukup untuk sekarang. Lagipula, dibandingkan dengan sebelumnya saat aku selalu berhasil menggunakan kekuatan [Dominasi], jika aku tidak punya tembok yang harus kulalui, maka itu akan membuatku tidak bisa maju. Jadi, mulai dari sekarang, aku akan berlatih untuk mengendalikan berbagai jenis sihir.)

Hu~* Dia mengeluarkan nafas dan seakan merespon, pohon air melancarkan serangan lain ke arah para kesatria.

Perannya adalah untuk membuka jalan dan menjadi umpan. Karena ia memiliki peran itu, Asuka akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyebabkan kehancuran sebanyak mungkin. Asuka berdiri sehingga membuat gaun merahnya berkibar-kibar karena angin saat ia mengangkat tangannya di atas Pohon Air yang patuh.

No comments:

DMCA.com Protection Status