Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 4 Part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 4 Part 1 Bahasa Indonesia

November 15, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Google Translate
Editor: Bing Translate
Proofreader: Yahoo Translate

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation


Klik Untuk Mensupport Kami Agar Bisa Terus Rilis Tepat Waktu: Support Link

Volume 4 Chapter 4 part 1/3: Tsuginaru basho (Tempat Berikutnya)

— —Setelah Beatrice melemparnya dari Perpustakaan Terlarang, Subaru kembali kepada semua orang yang ada di ruang tamu dengan tangan kosong, terlihat agak malu pada dirinya sendiri.

Ruang tamu masih sama dari sebelum Subaru pergi. Satu-satunya yang membedakan adalah Otto yang sedang duduk di tempat Subaru duduk sebelum dia pergi, dan nampak baru saja selesai mendiskusikan sesuatu dengan Emilia.

Membuat ekspresi yang meyakinkan semua orang kalau ia sangat marah terhadap pria yang berbicara secara mendalam kepada Emilia., dia pun berjalan ke arah Otto.

"Aku lihat kau dengan senangnya ngobrol dengan Emilia-tan ketika aku pergi, akan lebih baik kalau kau pergi dan mati aja sekarang." (Subaru)

"Itu bukan kebiasaan ku buat duduk diam dan menunggu waktu berlalu... Lebih penting lagi, orang macam apa yang mengatakan sesuatu seperti itu secara tiba-tiba setelah kembali!? Sangat tidak mengenakan ketika kau selalu mengarahkan kemarahanmu padaku 'tau!" (Otto)

"Ja-jangan ngomong seakan kamu mengerti ya! Begitu aku membeli minyak mu dan memenuhi janji ku, semua berakhir diantara kita! Jadi jangan salah paham ya!" (Subaru bicara dengan nada kewanitaan)

"Bisakah kau tidak bicara seperti ada sesuatu diantara kita yang mungkin akan menyebabkan kesalahpahaman!?" (Otto)

Dalam jeda waktu yang singkat, Otto berteriak ke Subaru karena menjadi tsundere, Subaru yang seakan tiba-tiba kehilangan ketertarikan, menoleh ke arah Emilia.

Mengamati percakapan mereka, dia sudah jelas sedang meninggu dia dan Otto selesai bicara, dan melihat Subaru yang melihat ke arahnya, Emilia kemudian bertanya,

"— —Apa kamu bisa bertemu dengan Beatrice?" (Emilia)

Pertanyaan sulit yang tiba-tiba. Disisi lain jawaban untuk pertanyaannya adalah YA, tapi jawaban untuk pertanyaan yang sebenarnya adalah TIDAK.

Ketika dia masih bisa bicara dengannya, dia sebenarnya belum menyinggung topik yang pentingnya. Dia hampir saja tertawa terhadap betapa lemah, lembek, dan pengecutnya seorang karakter utama ini.

"Nggak, hanya saja yaah.. begitulah." (SUbaru)

"Oh... oh baiklah, sepertinya memang seperti yang diduga. Ketika Beatrice bersembunyi menggunakan 'Pintu Persilangan', menurut ku sudah tidak mungkin untuk menemukannya. Baik itu Ram maupun aku lagipula sangat jarang untuk bisa menemuinya, jadi..." (Emilia)

"Ehm, sebenarnya, aku udah menemukannya. Tapi dia, gimana ya ngomongnya... Sepertinya dia sedang dalam suasana hati yang buruk, sedikit murung... Intinya, aku nggak bisa dapet jawaban darinya. Bodoh, kan?" (Subaru)

"Kamu... menemukannya?" (Emilia)

Mengira kalau Subaru tidak akan bisa bertemu dengannya, mata Emilia terbuka lebar keheranan. Sedikit terkejut dari reaksinya, Subaru mengeluarkan kata 'Ah?' dan menganggukan kepalanya.

"Aku sudah memikirkan ini untuk beberapa saat, tapi... Kamu dan Beatrice sebenarnya sangat akrab, ya?" (Emilia)

Emilia bergumam dengan suara kecil, menyentuh pelan bibir bagian bawahnya dengan jarinya seolah memikirkan sesuatu.

Menanggapinya, Subaru memberikan ekspresi ketidaksetujuan, bekerja keras untuk meningkatkan lebih jauh lagi ekspresinya agar tidak ada seorang pun yang menyalah artikannya.

"Aku dan Beako, temenan? Tolong deh... Dia itu bagaikan musuh besar ku, bahkan dari pertama kami bertemu juga. Pertama kali kami bertemu, dia udah menyerap abis semua Mana ku 'tau!? Aku tidak tau apakah ada cukup waktu untuk menghilangkan impresi pertama itu!" (Subaru)

"Meskipun kamu bisa baikan sama Julius? Setelah semua yang terjadi diantara kalian? Subaru, kamu terkadang seperti ini, menjadi keras kepala terhadap sesuatu yang saaaaaaangaaaaat tidak berguna." (Emilia)

"Menjadi keras kepala adalah tolak ukur seorang pria! Aku adalah tipe orang yang akan selalu membawa pemikiran bodoh seperti itu, meskipun aku tahu itu adalah omong kosong. Ditambah, AKU MASIH BELUM BAIKAN dengan Julius. Aku, benci, orang, itu,SE-LA-MA-NYA!!" (Subaru)

"Iya, iya." (Emilia)

Emilia membalas bantahannya Subaru dengan tawa kecil. Melihat Emilia, Subaru menegangkan wajahnya menunjukan ketidakpuasannya. Meskipun begitu, didalamnya, dia merasa lega kalau topik pembicaraan itu telah berakhir.

Dia masih tidak memiliki waktu untuk memikirkan percakapannya dengan Beatrice. Ekspresi sedihnya di akhir-akhir, dia tidak mengerti bagaimana untuk memikirkannya.

"Ngomong-ngomong, kemana perginya Frederica? Bisa-bisanya dia meninggalkan Emilia ku dan Otto sendirian..." (Subaru)

"Kesampingkan masalah aku dianggap milik seseorang ini... Frederica pergi untuk mempersiapkan satu kamar tamu lagi... Karena kita memerlukan tempat untuk menempatkan Rem untuk beristirahat." (Emilia)

"Ah, begitu ya."

Subaru menanggapinya dengan bisikan kecil. Emilia yang terlihat sedih, sedikit menutup matanya.

Sementara Subaru membenci dirinya sendiri karena telah menyebabkan ekspresi itu diwajahnya, dia tidak dapat menahan perasaan sakit yang mengisi hatinya setiap kali  teringat Rem.

Akan tetapi, dengan sebuah kedipan dan gelengan kepala, Subaru menyingkirkan perasaan duka diwajahnya untuk mencegah rasa sakitnya menyebar ke Emilia. Melonggarkan bibirnya, dia berkata,

"Kalau begitu, aku sebaiknya membawa Rem dari gerobak naga. Dia tidak seharusnya tiduran disana seorang diri... Oh, maaf atas yang sebelumnya aku katakan, Otto." (Subaru)

"Tidak, tidak, aku tidak menyalahkan mu. Lagipula, aku menyadari kalau... banyak hal telah terjadi diantara dia dan Natsuki-san. Aku tidak bisa memaksamu untuk menjaga emosi mu dikondisi yang seperti ini." (Otto)

"Hanya saja, ketika aku berpikir kau yang menyentuh Rem ku dengan tangan kotor, mata duitan mu itu, aku jadi kelepasan... Aku bener-bener minta maaf." (Subaru)

"Tidak mungkin kau mengatakan hal seperti itu kalau kau bener-bener minta maaf! Juga aku benar-benar tidak berpikir itu adalah kata-kata dari seseorang yang baru saja menganggap wanita lain sebagai miliknya!!" (Otto)

"Itu hanya bagian dari rencana ku saja untuk membuat Emilia-tan cemburu akan cinta padaku. Jangan membuat ku mengatakan itu, bodoh!" (Subaru)

"Kau sendiri yang mengatakannya keras-keras!!" (Otto)

Sambil menyeringai pada reaksi yang ditunjukan oleh Otto, Subaru melirik sekilas wajah Emilia. Setelah mengamati percakapan mereka dengan seksama, bibir Emilia nampaknya melunak sedikit, dan ekspresi sedih yang sebelumnya juga telah menghilang. Memastikan ini, Subaru menghela napas lega.

"Subaru dan Otto-kun beneeeeer-bener dekat ya. Meskipun kalian baru saling bertemu baru-baru ini..." (Emilia)

"Huh, Apa itu yang membuat mu cemburu!? Dibandingkan perasaan ku kepadamu, Otto hanyalah sebuah mainan! Aku ingin hubungan yang nyata dan bergairah dengan mu, Emilia-tan!" (Subaru)

"Kenapa aku yang malah dicampakan!? Meskipun semua ini tidak memiliki dasar dalam kenyataannya, aku tetap tidak menyukainya!!" (Otto)

Melihat mereka yang terus dan terus memanas, Emilia tiba-tiba saja tertawa. Menutup mulutnya dengan tangannya, pundaknya bergetar mengikuti tawanya, Emilia memaksa ucapan "Maaf" ditengah tawanya sebelum akhirnya dapat melanjutkan kata-katanya.

"Aku tidak berpikir ini adalah situasi dimana aku tertawa seperti ini, tapi aku tidak bisa mengendalikannya... Apa kalian yakin kalian baru mengenal satu sama lain baru-baru ini?" (Emilia)

"Dia seorang pedangan pengembara 'tau? Begitu urusannya selesai, dia akan langsung pergi dari sini... Sebenarnya, hanya memikirkan ada karakter pria lain selain diriku datang mendekati Emilia-tan itu... Aaaah aku tidak tahan!" (Subaru)

"Aku tidak tau kenapa bisa begitu, tapi dalam waktu singkat, aku sudah cukup mengenal mu, aku bisa tau itu mungkin adalah sesuatu yang benar-benar mengerikan makanya aku tidak menyukainya— —!" (Otto)

Melihat Otto yang memegang kepalanya dengan kedua tangannya dengan ekspresi yang ntah kenapa trauma diwajahnya, Subaru mendengus keras, memutar mulutnya.

Paling tidak, pernyataan itu sebenarnya adalah perasaan yang sebenarnya. Semenjak menyerahkan hatinya untuk Emilia, Subaru terus mengejarnya dengan gigih, dan hatinya sudah diatur untuk meledak kapan pun ada pria lain yang mendekatinya.

Hal ini tentu saja karena rasa kepemilikan dan kecemburuannya jauh lebih tinggi dari orang biasanya

No comments:

DMCA.com Protection Status