Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu Chapter 5 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu Chapter 5 Bahasa Indonesia

November 30, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Alice
Proofreader: Ise-kun

Chapter 5 : Tidak Menyadari Kalau Itu Kejam

N~ Betapa segarnya pagi ini.

Dari Gunung berbatu yang terlihat putih itu, aku merasakan angin segar mengalir kearahku.

Yah, aku akan menyerah untuk terkejut terhadap tubuh superhumanku sendiri. Saat aku menjelaskannya pada seseorang, aku akan cuma memberitahunya apa yang telah kulihat. Apakah itu normal kalau angin ini bukanlah angin segar tapi sebenarnya adalah badai beku?

Untukku yang sudah bisa merasakan maryoku diudara, caraku melihat dunia sudah berubah dan aku merasa ' segar' sih.

Sekarang, aku sudah memastikan diri kalau aku level 1.

Itu aneh.

Jika aku berlevel tinggi dari awal, maka aku akan mengerti kenapa aku tidak akan naik level dengan mengalahkan Liz, tapi...

Jika aku level 1, levelnya seharusnya naik. Atau apakah anjing itu selemah itu?

Ema-san juga menyaksikan aku mengalahkannya di pertarungan itu, jadi apakah itu bisa karena serangan kejutan?

N~ selain dari keberadaanku yang seperti Cheat, konsep level tidak berlaku padaku.

Meskipun aku merasa sedikit sedih mengenai itu, aku sangat tenang.

"Kalau begitu, ayo lakukan"

Aku menuju ke penjaga gerbang-san dan memintanya untuk memberikan sesuatu pada Ema,

Sebuah Surat.

Hebat kan? Untuk berpikir kalau bukan hanya bicara tapi aku juga bisa menulisnya.

Aku bisa membaca dan menulis dengan sempurna.

Cheat banzai. Aku sudah belajar untuk menghormati serangga(dewi) itu sedikit. Sekarang kalau dipikir-pikir aku tak bisa menghindar untuk penasaran apakah hero yang lain itu maha kuasa atau semacamnya.

Dengan ini, kalau aku mencapai pemukiman manusia, aku merasa aku bisa mendapatkan uang dengan melakukan perdagangan diantara manusia dan mamono.

Aku tidak menulis banyak untuk isi suratnya.

Aku akan memeriksanya, apakah aku bisa melakukan sesuatu terhadap Dewa apalah itu.

Kemungkinan besar, aku tak kan kembali tanpa cedera, jadi jangan khawatir tentangku dan kembalilah ke desa. Terimakasih.

Begitulah sedikit dari isi suratnya. Ada beberapa pembicaraan dan penjelasan kecil sih.

Aku tidak berniat untuk kembali ke goa lagi.

Pada akhirnya, bukan hanya dia mengajariku sihir, aku juga bisa mendapatkan peta mengenai area disekitar sini.

Setelah bicara pada Dewa itu, aku berencana untuk langsung menuju ke pemukiman manusia.

Kelihatannya itu adalah tempat aneh dimana orang-orang yang mendapatkan bahan langka dengan berkeliling dunia dan orang-orang yang mencari pengetahuan berkumpul.

Masih ada cukup jarak dengan goa.

Lagipula, antuk sampai kesana, kupikir dengan kecepatan tercepatku (berdasarkan dengan Menghitung waktu yang sudah kulalui) akan butuh sekitar seminggu. Jika sesuatu terjadi di perjalanan, itu mungkin akan membutuhkan sekitar 10 hari.

Di tengah perjalanan, ada beberapa pemukiman dari berbagai ras (semuanya mamono). Aku bisa bicara pada mereka sehingga itu tidak terus menjadi pertempuran sepanjang waktu.

Mengenai makanan, itu seharusnya baik-baik saja untuk saat ini. Lagipula, aku bisa terus pergi selama 3 hari tanpa makan dan minum.

Menurut intuisiku, aku pikir aku pun akan tetap baik-baik saja bahkan jika tanpa makan dan minum selama 5 hari. Untuk Orc, makanan yang mereka berikan padaku pasti penting bagi mereka juga. Aku harus memakannya dengan hati-hati.

Sambil memikirkan hal-hal itu, aku menghindari gunung berbatu dan menuju gunung yang mencolok tinggi. Dewa Pegunungan huh.

Kenyataannya, aku tidak terlalu memikirkan tentang mamono ataupun Dewa yang dipanggil Shen itu.

Karena ada sesuatu yang mengkhawatirkanku lebih dari pada itu.

Selain dari pengorbanan, tidak ada satupun yang pernah melihat Shen adalah hal pertama yang membuatku penasaran. Karena itu berarti, tak ada seorang pun yang masih hidup yang bertemu dengannya.

Dan ada pula fakta kalau orang yang dikorbankan harus melewati kesulitan melewati gurun sendirian adalah hal yang aneh.

Karena jika dia tak bisa mencapai tujuannya, tidak ada gunanya melakukan pengorbanan.

Orang yang dikorbankan sudah mencapai beberapa safe points untuk 'menyucikan tubuh' jadi dia sudah melakukan tugasnya. Adalah apa yang mereka beritahukan padaku.

Apa-apaan dengan logika itu? Bukankah sudah tak ada gunanya lagi dalam pengorbanan?

Karena kenyataannya, Lagipula, Ema hampir akan menjadi makanannya liz.

Itu benar, dan Liz itu.

Tampaknya mamono berada di seluruh bagian di dunia tapi kelihatannya liz itu berada cukup jauh dari daerah dimana ia seharusnya menghuni.

Dan kelihatannya mereka biasanya berburu dalam kelompok.

Kemudian, situasi dimana Ema diserang itu terlalu aneh.

Aku bisa merasakan seseorang mencoba perlahan-lahan menghancurkan desa highland Orc dari percakapan yang kumiliki dengan Ema.

Tapi apakah itu kehendak dari mahluk yang disebut Shen?

Aku merasakan ada pihak ketiga yang terlibat dalam hal ini. Atau bisa saja ini adalah urusan internal diantara highland orc.

Kedua kemungkinan itu berputar-putar dikepalaku.

Jika mereka hanya ingin menghancurkannya maka sistem pengorbanan ini terdengar bodoh. Karena mereka bisa saja menggunakan kabut dan dalam beberapa tahun, itu akan terjadi nanti.

"Perlahan-lahan ya" (Makoto)

Aku merasa kalau ini adalah kunci dari masalah ini.

Sepertinya ada suatu makna dalam penggunaan waktunya.

Jika Shen menginginkan sesuatu yang lain selain dari pengorbanan, ia pasti akan sudah meminta itu dibanding meminta pengorbanan.

Jadi jika ada sebuah keberadaan yang terus mengulur waktu, itu berarti hal itu tidak harus ada hubungannya dengan Shen itu sendiri.

Pihak ketiga, atau pemberontakan huh.

Mungkin ini hanya aku yang melompat ke kesimpulan itu. Bahkan bisa saja hal tersebut berbeda dari apa yang kupikirkan. Lagipula, mereka kan bukan manusia.

Belum tentu mereka memiliki pola pikir yang sama dengan manusia. Jika aku memasukkannya dalam pertimbanganku, dasar yang kupikirkan akan runtuh.

Tapi disituasi sekarang, sejak aku tak punya cukup bahan untuk menganalisanya, aku memutuskan untuk mengikuti garis pemikiran itu dulu.

Jika terjadi pertarungan kemudian biarkan saja itu menjadi pertarungan.

Bahkan mungkin ada suatu bagian dari diriku yang menginginkan itu terjadi.

Sihir, Maryoku.

Memang benar kalau aku ingin menggunakannya.

Ada banyak hal lain yang ingin kupelajari juga, tapi aku harus menyelesaikan ini sebelum Ema berangkat.

Sebenarnya ada sihir untuk membuat cahaya, aku diam-diam mendengar mantranya dari penjaga gerbang jadi aku sudah mempelajarinya!

Moral? Selain dari daftar sihir yang kudapatkan, aku perlu menambah daftarnya dengan berbagai cara.

"Aku seharusnya mencobanya sekarang. Untuk mencobanya langsung saat pertarungan yang sebenarnya dimulai itu akan sedikit..." (Makoto)

Percobaan yang pertama akan dengan kekuatan penuh.

Aku tidak tahu seberapa melelahkannya itu akan terjadi. Jadi aku seharusnya mencoba setidaknya sekali

-

Sekarang, karena itu sudah diputuskan.

Aku seharusnya bersiap lebih dulu

Sambil berbisik, aku membuat sebuah brid api dengan ukuran yang sama seperti kemarin malam. Membuatnya menjadi bola dan membuangnya kemanapun. Sukses.

Bagus.

Ayo lakukan.

Aku mengendurkan tubuhku dan dengan hati-hati aku mengucapkan sebuah aria, menuangkan seluruh energiku sambil membayangkan 'Api yang kuat'. Tapi aku merapalnya didalam pikiranku.

Dan aku mencoba membisikkannya pada brid tersebut. Hal pertama yang ingin kucoba adalah jika aku bisa menggunakannya tanpa harus merapalnya.

Sukses. Aku bisa membuat Api pekat dan berkedip merah yang berkali-kali lipat lebih kuat dari pada malam kemarin.

Aku senang. Jika aku mencoba melakukan ini didalam gua tanpa membayangkan sebuah bola terlebih dahulu, pasti itu akan sudah menjadi sebuah bencana. Kemungkinan besar bukan hanya aku, tapi sekelilingku akan dipenuhi dengan api.

Sekarang sudah waktunya, sebuah target.

Di jalan menuju gunung yang disebut Dewa Pegunungan, di kaki gunung yang berada jauh disana, aku bisa melihat sesuatu yang mirip seperti gerbang. Yang itu seharusnya tidak apa. Jaraknya dari sini sekitar lebih dari 100 meter. Aku seharusnya bersyukur atas penglihatanku yang luar biasa.

Hal yang ingin ku coba, nomor yang kedua adalah memanah.

Malam kemarin, aku juga membayangkan 'mengenai ditengah-tengah' untuk membuat bola api itu terbang dan mengenainya. Dan saat aku melakukannya, aku ingin tahu seberapa fleksibelnya brid ini.

Itu benar

Aku melakukan seiza seperti saat aku melakukannya di klub panahan sebelum aku memegang busur.

Selesai menyiapkan pikiranku, aku mulai berkonsenterasi.

Jika aku terlebih dahulu mulai melakukan ini, aku akan tahu hasil dari apa yang akan kulakukan.

Ini adalah sesuatu yang temanku di klub banyak tanyakan saat kami menyiapkan busur kami. Kenapa kau memulainya dari bagian duduk? Karena itu memberimu rasa percaya diri dalam mengenainya ditengah sasaran?

Jika kau menanyakanku mengapa seperti itu, aku memiliki sebuah ingatan yang membuatku tersenyum pahit. Bahwa aku seperti 'ini' bukanlah sesuatu yang mengherankan lagi. Aku melakukan panahan dengan tujuan melatih tubuhku.

Awalnya saat aku mengenai target, aku merasa senang. Tapi kebahagiaan itu mulai memudar saat lama-lama itu menjadi mudah untuk dilakukan.

Tapi dengan teknik, ada batas untuk seberapa tepatnya kau dapat.

Awalnya, untuk menambah akurasi, aku melakukan banyak tantangan.

Aku berusaha keras sendiri dengan menutup mataku dan tenang. Berkali-kali aku membayangkan gerakanku saat aku mengenai target.

Sikap dan posturku, setiap langkah dan pergerakanku dalam panahan, aku terus berkonsenterasi didalamnya.

Dan sebelum aku menyadarinya, sensei sudah memberitahuku kalau aku bisa menggunakan dojo kapanpun aku menginginkannya dan sebagai gantinya, Aku berhenti duduk bersama dengan orang-orang seumuran denganku.

Sekarang kalau aku memikirkan lagi tentangnya, itu pastilah keprihatinan sensei untukku.

Agar orang lain tidak merasa aneh karena keanehanku.

Setelah itu, untuk waktu yang lama.

Saat aku memasuki dojo, untuk mengubah suasana hatiku aku terus melakukannya. Duduk Seiza, lalu pada saat aku menghadapi targetku aku sudah membayangkan kalau aku bisa mengenainya. Dan pada kenyataannya, memang benar kena sasaran.

Saat aku memasuki SMA dan mengikuti klub panahan.

Dengan kekanak-kanakan, aku tersenyum senang. Lalu kemudian aku sadar ketidaknormalan diriku sendiri.

Saat aku meminta saran dari sensei, dia tidak tahu kalau aku di klub panahan dan benar-benar terkejut.

Pada saat aku bilang, itu karena aku suka menggunakan busur, senseiku mulai tertawa dengan takjub.

Sensei pasti telah memutuskan sesuatu pada waktu itu. Dia memberitahuku dia akan mengajariku memanah.

Panahan yang digunakan untuk pertarungan sebenarnya yang telah diwariskan dalam keluarga sensei adalah sebuah seni bela diri yang aku tidak mengerti. Itu dipenuhi dengan teknik yang dibuat untuk banyak situasi yang berbeda-beda.

Tapi meskipun begitu, hal tersebut tidak mengubah konsep 'mengenai ke tengah sasaran' ku

Setelah belajar selama 1 tahun, sensei memberitahuku bahwa dengan ini semuanya berakhir dan menguji kemampuanku.

Dan aku lulus.

Di kelas dua SMA, yang belum lama berlalu.

Aku telah mendapatkan posisi Wakil Ketua di Klub dan mengikuti petunjuk dari sensei untuk tidak mengikuti satupun turnamen. Para senpai menunjukku sebagai Wakil Ketua karena aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk menggunakan busur.
(TLnote: Yeah menjadi Wakil Ketua tugasnya banyak, bukan berarti mereka memperhatikanmu)

Yah, aku merasa sedikit senang karena Ketua mengandalkanku sih. Hanya seperti itu, aku berkonsenterasi untuk mengajari kouhaiku (Adik kelas) dan menikmati kehidupan sekolahku sampai aku terseret dalam pembicaraan gila mengenai dunia lain.

Yah, kalau dipikir-pikir, aku ini cukup aneh juga. Kouhai yang memanggilku dengan 'Senpai Senpai' benar-benar terasa bagus.

Oh, mau bagaimana lagi kalau aku merasa rindu terhadap kampung halamanku. Kembali ke kenyataan kenyataan. Bagus, semangatku masih stabil.

Yah, setelah sekian lama, aku akan serius.

Incaranku adalah bagian tengah gerbang yang mirip seperti Shinto itu.

Karena kebiasaan, aku menempatkan tangan kiriku seperti seolah-olah aku memegang sebuah busur, dan tanganku yang lain berada lurus sedikit dibelakang wajahku.

Aku mencoba membayangkan meletakkan panah pada busur. Jika aku terbakar saat membawa bola api di tanganku, aku akan membuangnya.

Sekarang perlihatkan padaku, kekuatan dari sihir yang dikeluarkan dengan sungguh-sungguh.

Aku membentuk panah meskipun itu hanya sebuah gambaran yang ada dipikiranku namun bola api itu perlahan-lahan mengubah wujudnya dengan membengkok.

Dan pada saat bentuknya sudah berbentuk silinder seperti sebuah panah. panah itu mengenai gerbang. Sebuah panah api yang menusuk.

"Sukses. Tidak ada masalah dengan kecepatannya" (Makoto)

Ini bukan karena kecepatan dari seseorang yang melemparnya, panah itu terbang persis seperti panahnya ditembak menggunakan sesuatu. (TLnote:kecepatannya persis saat dia pake busur asli. sekarang dia ga pake busur). Pasti bagus untuk terus melatihnya, meskipun rasanya sama seperti memiliki busur ditanganku. ini adalah sebuah langkah besar ke depan yang menenangkanku.

"Huh?" (Makoto)

Panahnya tidak menghilang, terus menusuk di gerbang dan mulai berubah. Seolah-olah panah itu mencoba untuk melawan, panah itu mengeliat dan berubah menjadi sangat besar.

Lalu panah api itu pun meledak.

Bersamaan dengan gerbangnya.

Dengan waktu satu detik, angin panasnya bertiup ke arahku. ini cukup panas sampai-sampai aku ragu untuk bernapas. Apakah ini adalah apa yang disebut dengan membakar sepenuhnya!?

"Ini buruk, gerbangnya menghilang" (Makoto)

Yah, tidak apa kalau cuma gerbang. Berpikir seperti itu, aku mulai berjalan dan melihat hal yang tak bisa dipercaya.

Sesuatu bergerak.

Jika disekitar gerbang, ada mahkluk hidup...

ini buruk.

ini pasti menjadi situasi yang menggerikan disana karena terkena tembakan langsung.

Jika ia bergerak, mungkin aku bisa kesana tepat waktu.

Aku bisa bilang kalau aku tidak memiliki niat untuk menyakiti siapapun tapi tidak ada cara lain. Disituasi ini, jika aku bisa kesana tepat waktu, aku seharusnya kembali ke Goa Highland orc untuk meminta perawatan medis.

Bagaimanapun, Aku harus pergi ke TKP.

Aku lari seolah-olah seperti menghembuskan seluruh keringat dingin keluar dari diriku.

-

"Sialan kau, apa sebenarnya kau ini!?"

"Uwaa, ini sudah..." (Makoto)

Sudah terlalu terlambat. Ada 4 mahluk hidup yang hangus disana.

dan yang satu lagi, separuh tubuhnya sudah terhempas jauh. Bagaimana dia bisa bicara? Pasti dia memiliki daya hidup yang luar biasa.

"Ah yah~ Bukankah kau masih penuh semangat?" (Makoto)

Karena dia bicara padaku dengan normal jadi aku bisa merasakan ketegangan yang kurasakan turun.

"Sebentar lagi aku akan mati!"

"Benar, tentu saja" (Makoto)

"Highland orc sialan itu, apa itu artinya mereka sudah menyadari rencana kami, Ras Demon? Atau apa mereka berniat membunuh naga!?"

"Stop! Stoppu da! Kau, Jangan bicara lagi!" (Makoto)

"Kukuku, hidupku tidak bisa diselamatkan lagi. Jadi biarkan aku bicara sampai akhir"

Hmm Ya kau memang tidak bisa diselamatkan lagi tapi orang yang melakukan itu padamu itu kan aku!? Kau membuat banyak flag yang terlihat berbahaya naik satu demi satu, tau nggak!? Hal bodoh macam apa ini!?

"Jika mereka bekerjasama dengan kami, masalah itu akan sudah selesai dan kami akan memasukkan mereka ke barisan kami, tapi untuk berpikir kalau mereka memiliki monster seperti kau!"

Uooooooooo!!!

Jadi pihak ketiga yang ikut campur dari belakang layar itu mereka!? dan aku baru saja menembak mereka!

"Yah bahkan kau sudah menghancurkan gerbangnya. Orang itu adalah orang yang cepat menyimpulkan. Dengan ini, kemarahan Shen akan menjadi kenyataan"

"Hey tunggu!? Apakah menghancurkan gerbang akan membuat Shen menjadi semarah itu!?" (Makoto)

Ini buruk, ini buruk, ini buruk. Datang sebuah pola untuk memasuki pertarungan dengan boss tanpa pergi ke save point terlebih dahulu.

Jika aku memilih untuk bercakap-cakap dengannya. 'Ini bukan waktunya untuk itu!' adalah apa yang kurasakan ia akan katakan.

Pasti ia akan datang!!

"Ras naga yang perkasa, di wilayahnya sendiri, ia akan melihat gerbangnya hancur. Kukukuku, Rasain!!!"

Setelah mengatakan semua yang ingin ia katakan, ia menghilang seperti pasir. Dia pasti sudah mati sambil mempercayai kata-katanya sendiri.

4 tubuh yang lain juga telah menghilang. Apa mereka mati dengan cara yang sama?

Dan kemudian, suatu getaran muncul.

Terlebih lagi, awan yang menutupi gunung diketinggian itu pun turun.

Awan, tidak, jika kupikir mengenai atributnya, itu mungkin kabut.

Bagaimanapun, itu adalah fenomena yang aneh.

Aku akan mati!

Aku datang dengan niat untuk berbicara dengannya dan kemudian setelah berjabat tangan, aku akan kembali dengan senang hati.

Tidak. Aku tidak berpikir kalau ia adalah mahluk berbahaya yang bisa membuat fenomena yang tidak wajar terjadi!

Apakah aku akan dikubur lalu dibunuh dan kemudian diperkosa!? Kenapa urutannya jadi aneh!?

Prediksiku benar Tapi! Kenapa semuanya menjadi seperti ini!?

Orang jahatnya adalah Ras Devil! Orang-orang dari pihak ketiga itu!

"Shen-sama, tolong dengarkan apa yang aku harus katakan!" (Makoto)

Aku berteriak pada kabut yang telah beberapa meter dari lokasi aslinya.

Pada tempat itu ada sesuatu yang aku kenali. Dengan ekspresi wajah marah dan memperlihatkan taringnya. Naga-sama telah turun.


Namun..

"Shen itu bukan kerang raksasa!??"
(TLnote:  蜃 bisa dibaca sebagai kerang raksasa tapi juga bisa dibaca sebagai naga)

Di dunia lain, pengetahuanku sendiri tidak berguna.

Aku tidak ingin melanjutkan ini.

No comments:

DMCA.com Protection Status