Evil God Average Chapter 5 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Evil God Average Chapter 5 Bahasa Indonesia

December 09, 2016 Pipo Narwastu


 Chapter 5: Tempat Suci

Cahaya yang menyinari kamar telah membuat ku terbangun.
Sepertinya hari ini aku terbangun sebelum jam alarm ku membangungkan ku.
Karena akhirnya aku bisa terbangun dengan sendirinya dan tidak ingin mendengar suara yang menusuk itu, jadi sambil masih tiduran, aku mengulurkan tangan ku untuk menghentikan jam itu sebelum berbunyi.
Sembari mencari-cari jam alarm, tangan ku menyentuh sesuatu yang keras.
Aku mencoba untuk meraihnya dari atas dan menekan tombol yang ada di atas jam alarmnya... kemudian rasa sakit yang menusuk di pangkal ibu jari ku langsung membuat ku lompat dari ranjang.

"Tss-!?"

Ketika aku melihat ke arah tangan kanan ku yang sakit, aku menemukan sebuah luka yang menyayat vertikal ke bawah pangkal ibu jari ku, dan darah mengalir dari sana.
Untuk mencari tau penyebabnya, aku melihat ke arah tempat saat aku mengulurkan tangan ku tadi, dan mendapati kalau di tempat jam alarm yang biasa diletakan terdapat pisau hitam yang mengerikan disana.
Setelah melihat-lihat ke sekitar ruangan masih dalam keadaan bingung, aku teringat kalau ini bukanlah kamar ku.
Sebuah kamar enam tatami dengan meja set sederhana, dan, semua yang ada di kamar ini benar-benar terlihat asing, sebuah ranjang berkanopi hitam pekat.
Ya, aku terlempar ke dunia lain, dan bermalam di kamar ini.

Mn?
Aneh, kayaknya ada yang aneh deh.
Nggak, maksud ku, terlempar ke dunia lain itu emang udah aneh dari awalnya, tapi yang ini sudah masuk kategori 'sangat aneh', tapi kesampingkan hal itu, tempat ini rasanya sedikit berbeda deh dibandingkan kemarin malam, atau lebih tepatnya...
Ketika aku menarik jubah hitam yang dimana sulit dilihat karena ada di atas selimut hitam, aku berusaha keras untuk membuat pikiran ku berjalan dengan baik.
Tung-, hitam?
Ya, hal aneh mengenai tempat ini adalah ranjang dan selimutnya.
Semalam ketika aku pergi tidur, seharusnya hanya ada ranjang kayu sederhana, dengan seprei putih dan selimut putih.
Dan ketika aku bangun tiba-tiba jadi ranjang berkanopi hitam... aku sedang nggak diculik kan?
Nggak, tapi ruangannya nampaknya adalah ruangan yang sama ketika aku tidur semalam.

Masih tidak dapat memahami situasi, pisau yang sebelumnya itu masuk ke dalam pandangan ku.
Sebelumnya, aku bertanya-tanya kenapa pisau semacam itu bisa ada disini, tapi kalau dipikir lagi, aku menyadari kalau itu mungkin karena kutukannya.
Aku menaruhnya di kotak item, tapi karena kutukannya yang dimana tidak bisa di unequip, pisaunya mungkin menclat keluar ketika aku sedang tidur.
Itu berarti hal ini akan terus terjadi tiap malam dong? Hari ini hanya berakhir dengan goresan saja, tapi kalau aku tidak segera melakukan sesuatu mengenai ini, aku pasti akan terluka serius nantinya.
Sambil menjilati luka ku, aku bingung dengan apa yang akan aku lakukan mulai sekarang.

Setelah mengingat tentang apa yang terjadi pada pisaunya, aku menyadari dengan apa yang mungkin terjadi pada ranjangnya juga.
Ketika aku tidur, Divine Enchantment-ny mungkin saja aktif.
Juga mungkin ada sebuah suara seperti saat kejadian pisau dan jubah itu, tapi sayangnya aku sedang tidur dan nampaknya telah melewatkannya.
Dengan kata lain────

"Aku melakukannya sekarang."

Karena skillnya, sepertinya aku secara tidak sengaja mendemonisasi ranjangnya.
Kira-kira, apakah aku harus menggantinya?
Ranjangnya jadi lebih mewah, jadi aku bertanya-tanya akankah mereka memaafkan ku.

Kesampingkan masalah di pagi hari ini, aku segera mengenakan jubah dan sepatu ku.
Mari pikirkan itu nanti.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆

Setelah sarapan, aku meninggalkan penginapan.
Aku bertanya ke bibi pemilik penginapan mengenai tempat yang ingin aku kunjungi hari ini, jadi yang tersisa sekarang adalah berjalan dan mencari tempat itu.
Tujuanku adalah dua tempat; Guild Petualang dan gereja.
Aku ingin mendaftar ke Guild Petualang untuk mendapatkan Kartu Guild.

Aku tidak memiliki niatan untuk menjadi petualang aktif, tapi sepertinya banyak hal akan menyebalkan tanpa adanya tanda pengenal dan aku juga ingin mempertahankan cara untuk mendapatkan uang.

Tujuan ku pergi ke gereja adalah untuk menghilangkan kutukan.
Aku mendapatkan masalah pagi ini juga, tapi aku bener-bener ingin bergegas pergi dan menyingkirkan kutukan yang ada di jubah dan pisau ini.
Aku menyadari kalau ide 'menghilangkan kutukan = gereja' sebagian besar dipengaruhi oleh game-game yang aku mainkan, tapi mengingat kalau aku tidak dapat memikirkan apapun lagi, jadi tidak ada pilihan lain selain mencobanya.

Karena kutukan benar-benar ada, ku pikir seharusnya ada juga cara untuk menghilangkannya, dan meskipun gereja tidak dapat melakukannya, kalau aku berbicara dengan mereka mengenai masalah ku, mereka mungkin akan mengajari ku caranya.
Sebuah tuntunan untuk anak domba yang tersesat.

Gerejanya rupanya dekat dengan penginapan, jadi aku akan pergi kesana terlebih dahulu.
Tampaknya penginapan tempat aku bermalam tadi berada di sisi barat kota, tapi gerejanya ada di depan perumahan kediaman penguasa di sisi utara, dan Guild Petualangnya ada di dekat gerbang timur.
Belok ke kiri ada alun-alun pusat, aku berjalan ke utara di sepanjang jalan yang berpotongan jalan timur-barat.
Setelah berjalan beberapa saat, aku dapat melihat gedung besar dihadapan ku.
Gedung itu mungkin kediaman penguasa kota ini.
Dalam hal ini, apakah itu berarti bahwa gereja adalah bangunan yang memiliki ciri khas sebuah menara?
Aku secara sembarangan memiliki imej 'gereja = salib', tapi kalau dipikir-pikir lagi, salib hanya terbatas pada agama Kristen di dunia lama ku, dan gereja di dunia ini tidak memiliki salib.
Berjalan hingga pintu masuknya, aku dapat melihat di dalam pintu itu terdapat sebuah ruangan terhormat yang dapat kau sebut sebagai bait suci.
Bangku-bangku yang berjajar, dan ada podium disana, dan orang yang nampak seperti seorang pendeta sedang berkhotbah di podium itu.
Kemudian terdapat sebuah patung seorang dewa yang terlihat suci didalam, dan orang-orang sedang duduk di bangku-bangku dan berdoa ke arah patung itu.

Mn, tidak salah lagi kalau ini adalah gereja.
Tapi tetap saja, dengan suasana yang seperti itu, sepertinya aku dapat mengantungkan harapan ku agar kutukan ini dihilangkan.
Dengan langkah ringan, aku berjalan menuju pintu masuk dan pergi melewati pintu it... MIGYAH-!?
Di saat aku mencoba berjalan melewati pintu itu, wajah ku menabrak sebuah tembok yang tak terlihat.

Mengambil langkah ke belakang dengan terhuyung karena dampak yang aku terima di wajah, di depan ku ada retakan dalam ruang.

Apa ini?

Merasa aneh, aku dengan takut menyentuhnya, ketika retakannya melebar dari tempat dimana jari ku menyentuhnya, dan dengan suara -pan- ringan, sesuatu yang mengelilingi gereja pecah dan menghilang.

"Ah."

Apa ini jangan-jangan itu ya? Sebuah penghalang atau semacamnya?
Penghalang yang dibuat dengan menggunakan kekuatan suci untuk menangkal musuh asing... Tung-, bentar, bentar, kalau begitu kenapa aku dipukul mundur gini?
Dan terlebih lagi, hanya dengan sentuhan ringan penghalangnya juga hancur dengan mudah.

“… … … … … … …”

“… … … … … … …”

“… … … … … … …”

“… … … … … … …”

Ketika aku melirik ke arah sana, aku melihat semua orang yang ada di gereja melihat ke arah ku, terbujur kaku.
Sepertinya suara pecahnya penghalang tadi menggema di dalam juga, dan mereka memperhatikan semua tiap tindakan ku.
Um~mm, ku rasa kalau kemungkinan penghalang tersebut pecah berada pada tingkatan 'tidak mungkin', tapi aku menyadari itu dari sudut pandang mereka, itu terlihat seperti aku benar-benar menghancurkan penghalangnya.
Sekarang sudah jadi seperti ini────

"...............Strategi mundur."

Aku secara putus asa membuat senyuman, dan memiringkan kepala ku dalam keadaan bingung sebelum meninggalkan tempat.

Aku nggak denger teriakan dibelakang, aku nggak denger teriakan dibelakang.
Tudung kepala ku terbuka ketika aku menabrak penghalang tadi dan baru menyadarinya setelah berjalan sampai ke alun-alun pusat.
Secara panik aku mengenakan tudung ku kembali, aku memutuskan untuk mengambil napas di sebuah kafe.

Sembari menyeruput teh hitam yang ku pesan, aku memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi.
Nampaknya memungkinkan bagi gereja untuk memasang perlindungan suci di sana, tapi kenapa aku dipukul mundur?
Aku seorang manusia, dan bukanlah iblis atau semacamnya... Tung-, apa ini karena gelar 『Child of the Evil God』!?
Mn, aku tidak bisa memikirkan alasan lainnya lagian, dan itu juga mungkin nggak salah.
Apa orang-orang dengan gelas ini diperlakukan sebagai bukan manusia? Menyebalkan.
Seperti yang ku pikirkan, aku bener-bener mau mukul Evil God itu.

Dengan mereka yang sudah seperti itu, mungkin akan lebih baik bagi ku untuk tidak mendekati gereja itu lagi untuk sekarang.
Mereka sudah melihat wajah ku tanpa tudung lagian, dan aku secara tidak sengaja bertatap mata dengan mereka sehingga dengan efek dari mata mistis, tidak akan ada hal baik jika aku pergi kesana.
Sepertinya untuk sekarang aku tidak punya pilihan lain selain menyerah untuk menghilangkan kutukannya.
Sambil meminum teh hitam, aku melepaskan helaan napas dalam.

No comments:

DMCA.com Protection Status