Evil God Average Chapter 7 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Evil God Average Chapter 7 Bahasa Indonesia

December 25, 2016 Pipo Narwastu


Translator: KIV
Editor: CTian

Chapter 7: Ganti Pekerjaan?
Tiga hari telah berlalu semenjak aku tiba di dunia ini.
Hari pertamaku disibukkan dengan mencari jalan ke kota. Di hari kedua, aku sibuk mencari uang melalui misi yang diberikan oleh guild.
Setelah dua hari menjadi petualang, aku menyadari sebuah hal yang sangat penting.

Aku nggak boleh terus hidup seperti ini.

Karena aku menghampiri gereja setelah mendaftar sebagai petualang, aku hanya bisa mengumpulkan tanaman herbal. Tapi keesokan harinya aku bisa menyelesaikan dua misi karena ada waktu berlebih.
Imbalan yang hanya satu keping perak itu langsung habis hanya untuk penginapan.
Kalau harus memperhitungkan uang makan, aku benar-benar dalam kesulitan.
Untuk sementara ini aku aman karena uang terima kasih saat itu masih ada, tapi hanya tinggal menunggu waktu hingga semua uangnya habis.
Aku yakin ada banyak pemula lain yang tidak mengambil misi penaklukan. Bagaimana cara mereka hidup?
Setelah kutanyakan, kakak resepsionis bercerita bahwa mereka bisa jadi adalah penduduk lokal di sekitar sini, atau mereka menyewa kamar murah bersama-sama.
Dengan kata lain, kondisiku sekarang besar pasak daripada tiang.
[EN: “Besar pasak daripada tiang” itu maksudnya gaya hidupnya tidak sebanding dengan pemasukannya]
Bagi orang modern sepertiku, mengubah gaya hidup itu mustahil.
Jujur saja, hotel yang sekarang kutinggali saja tidak dapat dikatakan “kelas atas”.
Selain itu, seorang gadis sepertiku mana mungkin mau tidur dengan orang yang tak kukenal, terlepas dari fakta apakah ada pria di luar sana yang berani menyerangku.
Sepertinya aku memang tidak punya pilihan selain menambah penghasilan.
Dengan misi pengumpulan, usaha sekeras apapun tidak akan menambah hasilnya. Pilihan yang tersisa hanya misi penaklukkan atau menjadi pengawal.
Aku tidak begitu suka keduanya, tapi kalau terpaksa, aku lebih memilih misi penaklukan.
Bekerja sebagai pengawal membuatku harus berbicara langsung dengan klien, bukan sesuatu yang bisa dilakukan olehku sekarang.
Ditambah lagi, akan timbul masalah bila ada yang tidak sengaja menatap mataku di perjalanan,
Lagipula, aku ragu ada yang mau menyewa pengawal dengan mata tertutup sepertiku.

Misi penaklukan hanya memintamu menaklukkan monster tertentu dan membawa bagian unik dari tubuh mereka.
Monster yang dijadikan target biasanya yang berpotensi atau telah melakukan penyerangan.
Karena itu, mayoritas klien adalah korban, guild, atau petinggi di kota ini.
Misi penaklukkan goblin menjadi misi permanen di guild, karena akan timbul masalah bila berkembang biak.
Karena misinya “menaklukkan”, berarti target harus dibunuh. Bukan hal mudah bagiku.
Aku bukan bermaksud hipokrit, tapi aku benar-benar belum pernah membunuh hewan sebelumnya, kecuali serangga, sih.
Kurasa orang-orang modern yang lain juga begitu.
Mengambil misi penaklukkan benar-benar butuh keberanian. Aku takut kalau jatuh karena panik dan mati konyol dalam misi.

Tapi… kudengar ada sebuah dungeon pemula di bagian selatan Riemel.
Dungeon adalah goa yang berbentuk seperti labirin, dengan monster yang terus bermunculan dan harta karun yang terpendam.
Kudengar dungeon master di sana telah ditaklukkan, dan kini tempat itu jatuh ke pengawasan guild.
Dungeon pemula itu hanya berisi 3 lantai, karena ditaklukkan tak lama setelah terbentuk. Monster seperti kobold dan slime yang terus muncul membuat tempat ini menjadi area pelatihan bagi guild.
Kemudian, sepertinya tak ada lagi yang ingat nama asli dungeon ini. Semua petualang hanya menyebutnya sebagai “Dungeon Pemula”.

Meskipun di bawah kendali guild, monster yang muncul adalah monster sungguhan, walau mereka tidak berbahaya.
Bisa dibilang, tempat ini bahkan lebih aman dari misi penaklukan yang sebenarnya.
Aku yang tidak berani mengambil misi penaklukan memutuskan untuk berlatih ke sana.
Kalau ini pun tidak berhasil, sepertinya aku harus mencari cara lain untuk menambah penghasilan.


Dua jam berjalan setelah gerbang timur kota, gerbang dungeon yang terletak di pinggir danau mulai terlihat.
Melewati tulisan “Selain pihak berkepentingan, dilarang masuk – Guild, Cabang Riemel” aku dengan gugup melangkah masuk.
Walau di bawah naungan guild, tak banyak yang berubah, semuanya batu layaknya gua.
Memegang tantou di tangan kanan, aku maju dengan hati-hati. Ngomong-ngomong, rumornya selama tangan kirimu memegangi dinding kau tidak akan tersesat. Walau tersesat pun nantinya tetap akan sampai di tujuan. Karena mungkin tersesat aku mengikuti rumor itu, setidaknya hingga ada monster yang muncul.


Aku mungkin telah mengelilingi gua selama satu jam, menelusuri dungeon sambil menghabisi monster yang menyerang dengan sekali tebasan tantou-ku… namun sayangnya bukan itu yang terjadi.
Jangankan diserang, aku bahkan belum melihat satu monster pun datang mendekat.
Awalnya kukira kalau kondisi guanya begini, tapi ide itu kubuang dengan segera.
Ini bukan hal yang alami; soalnya kalau begini tidak mungkin bisa menjadi tempat pelatihan yang efektif.
Karena percuma bagiku meneruskan, aku beristirahat dan berpikir.

Aku samar-samar mengetahui alasannya, walau tidak mau mengakuinya.
Sebuah permasalahan pasti timbul bila kusadari.
Tapi… aku tidak bisa selamanya lari dari kenyataan.
Aku harus mengumpulkan keberanian dan menghadapi kenyataan.

…situasinya jadi begini karena auraku kah? (TLN: Evil God Aura, remember?”)

Aku sempat lupa karena efeknya lebih lemah dari mataku (Evil God Eye). Auraku memiliki “efek yang lebih lemah pada manusia”. Dengan kata lain, “efeknya sangat kuat pada mahluk selain manusia.”
Soalnya tidak mungkin aura yang bahkan membuat naga lari terbirit-birit tidak membuat kobold dan slime ketakutan.
Lantai pertama dungeon ini sebenarnya memutar, tapi aku heran kenapa tidak menemui seekor monster pun.
Benar juga, aku baru sadar kalau tidak pernah diserang seekor monster pun selama tersesat dan menjalankan misi di hutan.
Karena Evil God Aura yang kumiliki, monster yang ada mungkin melarikan diri tanpa kuketahui.
Tidak diserang monster mungkin hal baik, tapi aku jadi tidak bisa menyelesaikan misi penaklukan. Mereka pasti tidak akan mengira kalau monster yang menyerang manusia akan kabur dariku.
Kalau aku mengambil misi penaklukan, monster-monsternya mungkin akan melarikan diri dari jauh. Kecuali kalau mereka terjebak di dalam sarang yang buntu. Hmm… aku tidak yakin misi seperti itu akan sering datang.

…gawat.
Misi pengumpulan upahnya kecil, sementara aku akan kesulitan karena tidak cocok dengan misi penaklukan dan penjagaan.
Apa aku tidak punya pilihan lain selain mengubah gaya hidupku…?

[inti dungeon “Lakeshore Cave” telah memberikan divine protection]

Hmm?

[Mendapatkan kendali dungeon atas “Lakeshore Cave”.]
[mendapatkan title “dungeon master”.]
[Struktur dungeon akan berubah berdasarkan atribut dungeon master.]
[Nama dungeon berubah menjadi “Holy Land of the Evil God”]

Eh-Tunggu…
Tunggu dulu.

Terkejut dengan hal yang datang tiba-tiba, pandangaku berubah 180 derajat dalam sekejap.
Langit-langit yang awalnya terasa mudah untuk disentuh bertambah semakin tinggi, dan guanya menjadi sangat, sangat lebar.
Batu hitam menggantikan dinding gua yang awalnya adalah batu. Obor-obor yang ada berubah menjadi lilin, dengan api yang memancarkan aura mengerikan.
Kabut tebal berwarna hijau tua mengelilingiku dan aku seakan mendengar auman seram yang mungkin berasal dari dalam neraka.
Tempat yang awalnya tidak berisi satu monster-pun berubah. Wraith dan golem yang tak terhitung jumlahnya kini memenuhi sekitarku.

Hmm… tempat yang awalnya bagaikan dungeon pertama, kini berubah menjadi dungeon untuk raja terakhir.
Kurang lebih aku paham kenapa monster-monster yang muncul tidak menyerang. Suara tadi pun sebenarnya menjelaskan, tapi lebih baik kupastikan…

“Status.”

Nama                    :  Anri
Ras                        : Human Race
Jenis Kelamin         : Female
Umur                     : 17
Job                        : Mage
Level                     : 1
Title                        : Child of the Evil God, Dungeon Master [New]
Mana                     : 3031504
Skills:
– Evil God Aura (Lv.5)
– Mystic Eyes of Wicked Authority (Lv.5)
– Divine Enchantment (Lv.7)
– Abnormal Status Resistance (Lv.6)
– Darkness Magic (Lv.6)
– Item Box (Lv.4)
– Dungeon Create (Lv.1)
Equipment:
– Tantou of the Wicked Demon
– Black Clothes of the Evil God
– Babydoll of Depravity
– Scanties of the Succubus
– Pumps of Darkness

Hmm… sepertinya aku tidak salah dengar. Dengan title dan skill-ku bertambah. aku sepertinya menjadi dungeon master.

<Dungeon Master>
Penguasa suatu dungeon. Dapat menggunakan inti dungeon untuk mengelola dungeon dan membasmi penyusup.

<Dungeon Create>
Skill dasar bagi dungeon master. Digunakan untuk memperluas atau menjaga dungeon. Membutuhkan inti dungeon untuk menggunakan skill ini. Levelnya tergantung jumlah lantai dungeon yang dikendalikan. Level 1 untuk 1-5 lantai.

Dari “suara” tadi, dan dari apa yang kulihat, sepertinya ada inti dungeon di sini untuk digunakan. Antara inti dungeon-nya tertinggal begitu saja setelah dungeon master terdahulu dikalahkan, atau memang intinya muncul kembali.
Aku tidak tahu sejak kapan, tapi sepertinya skill divine enchantment-ku yang menyebar melalui dungeon, membuatku mendapatkan menguasai inti dungeon-nya. Uwah…

Gawat, benar-benar gawat.
Dungeon master dari tempat yang tumbuh tanpa batas pasti akan diburu. Kalau sampai ketahuan, nyawaku dalam bahaya.
Karena ini tempat untuk pemula, mereka pasti akan langsung menyadarinya.
Kalau sudah begini—

“Akan kuanggap ini tidak pernah terjadi.”

Hmm… kalau dipikir-pikir, walau perubahan abnormal ini diketahui, aku bisa memasang muka polos dan tetap tinggal di kota.
Aku belum membuktikan apakah statusku bisa dibaca orang lain, tapi bila mereka tidak membacanya, posisiku sebagai dungeon master tidak akan diketahui.
(TLN: shi—that’s a flag, yo)

No comments:

DMCA.com Protection Status