Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 8 part 3 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 8 part 3 Bahasa Indonesia

December 17, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Exicore
Editor: Ise-kun

Chapter 8

Eh? Kuro Usagi terdiam karena terkejut. Izayoi menggendong dan membawanya serta Jin menjauh dari tempat mereka berada sebelumnya.

Tidak lama, sebuah batu besar yang terlihat sama dengan yang ada di pegunungan, jatuh dari langit.

Melihat Izayoi dan yang lainnya terus menghindar dari batu-batu itu, Laius menghina mereka:

“Oh, benar juga~ Bara manusia memang tidak bisa terbang. Bahkan awan yang jatuh dari langit merupakan masalah bagi kalian.” (Laius)

“Itu… Adalah awan…?” (Usagi)

Kuro Usagi terkejut saat ia melihat bagian luar arenanya juga dijatuhi oleh batu yang sama.

Wanita yang disebut; [Demon Lord Algol] telah melepaskan sinar pembatuan ke tempat itu sebagai persiapan untuk Gift Game ini.

Wanita yang mempunyai kekuatan semacam itu… Kuro Usagi gemetar saat menyebut namanya:

“Spirit Kelas Bintang, Algol…! Mirip dengan Shiroyasha-sama, dia adalah Iblis Spirit Kelas Bintang!” (Usagi)

Dan alasan mengapa ia punya kekuatan [Pembatuan] yang seharusnya dimiliki oleh Medusa adalah karena aturan dari rasi bintang.

Iblis yang diberi nama berdasarkan sebuah bintang. ‘Spirit Kelas Bintang’ yang mana merupakan ras terkuat di Little Garden. Itulah senjata rahasia [Perseus].

“Sepertinya, rekan kalian dan anak buahku sudah membatu sekarang, benar kan? Hm, itu memang hukuman yang tepat bagi orang-orang bodoh itu.” (Laius)

Laius tertawa dengan sombongnya. Sementara Kuro Usagi, Izayoi dan Jin yang mana tidak berlindung dari sinar itu tidaklah membatu. Semuanya karena ia ingin bermain lebih lama.

Dalam Game yang menggunakan wilayah Komunitas sebagai arena, [Perseus] akhirnya ditantang untuk pertama kalinya, dan oleh karena itu, mengakhiri permainan terlalu cepat akan menjadi sangat sia-sia.

Dibandingkan dengan omong kosong yang ia katakan, semangat bertarungnya pasti sudah meninggi sekarang. Tapi, itu juga berlaku bagi Izayoi. Ia telah dipermalukan di Gift Game Shiroyasha, Game ini akan menjadi bayaran untuk itu.

“Ochibi-sama, mundurlah. Aku tidak punya waktu untuk melindungimu.” (Izayoi)

“Maaf… Aku…. Tidak bisa melakukan apapun.” (Jin)

“Bukannya kau akan menyusahkan, tapi, kau masih ingat hal yang aku katakan padamu kan?” (Izayoi)

Jin mengangguk dengan cepat. Apa yang Izayoi maksud adalah percakapan mereka di hari sebelumnya tentang aktivitas Komunitas yang berfokus pada pemusnahan Demon Lord.

Izayoi mengusap kepala Jin dan kemudian berkata dengan suara kecil:

“Rencanamu sudah gagal bukan? Kau sebenarnya berniat melakukan hal itu dengan cara mendapatkan Leticia kembali, benar kan?” (Izayoi)

“… Ya.” (Jin)

Selama Leticia, seorang mantan Demon Lord kembali ke Komunitas, mengalahkan Demon Lord bukanlah hal yang sulit. Tapi, karena bagian paling penting dari Jiwanya telah rusak, dia juga pasti telah kehilangan banyak Gift.

“Bagaimana? Apakah kau masih ingin melanjutkannya?” (Izayoi)

Nada dan ekspresi Izayoi sangatlah santai saat ia menanyakan pertanyaan itu.

Dihadapkan dengan tatapan netral dari Izayoi, Jin menggelengkan kepalanya.

“Masih ada kau di sisi kami, Izayoi-san. Jika kau memang memiliki kekuatan untuk mengalahkan Demon Lord – Tolong tunjukkan hal itu kepada kami disini.” (Jin)

Kali ini, ia akan memastikan seberapa berharganya Sakamaki Izayoi.

Dihadapkan dengan tatapan dan ucapan Jin yang jujur, Izayoi tertawa dengan keras.

“Baiklah, pastikan matamu terbuka lebar, Ochibi-sama.” (Izayoi)

Dan sebelum bergera maju, ia mengusap kepala Jin sekali lagi.

“Jadi, apakah kau sudah siap, Pemimpin Game?” (Izayoi)

“Hm? Apakah kalian tidak akan menyerangku secara bersamaan? Bukankah bocah di belakangmu itu adalah pemimpinnya?” (Laius)

“Oi oi, bukankah kau menilai dirimu sendiri terlalu tinggi? Bagaimana mungkin aku membiarkan Ochibi-sama bergerak hanya untuk melawanmu?” (Izayoi)

Senyum Izayoi membuat Jin merasakan keganasan dari Izayoi yang keluar dari tubuhnya. Sepertinya Iaayoi ingin menjadikan hal ini ajang untuk beriklan.

Tapi, Laius sepertinya tersinggung karena perkataan itu dan berteriak dengan penuh amarah:

“Hmph! Omongan besar dari Komunitas [No Name], kau pasti akan menyesali perkataanmu!” (Laius)

“Ra… GYAAAAaaaaaa!”

Sayap yang bercahaya itu bergerak bersamaan dengan sayap abu-abu yang penuh luka saat Laius terbang lebih tinggi di belakang Algol dan kemudian menembakkan panah dari busur berapinya.

“Hah!” Izayoi menyerang tepat waktu sembari memfokuskan teriakannya untuk menghadang panah berapi yang mendekat dengan jalur yang berkelok ke arahnya.

Hanya dengan itu, panah berapi itu terpental ke arah lain, tidak bisa dilihat lagi. Itu adalah kapasitas paru-paru yang luar biasa tidak masuk akal.

“Tch! Apakah itu bukti bahwa kau punya kekuatan yang cukup untuk mengalahkan Kraken?!” (Laius)

Menyadari bahwa panah api itu hanya akan membuang tenaga, dia menaruhnya kembali ke dalam gift Card-nya dan mengeluarkan Gift lain yang baru saja ia taruh ke dalam, [Senjata Pembunuh Celestial Spirit] – Harpe.

Laius terbang bebas di angkasa sementara Algol bergerak menuju Izayoi untuk melakukan serangan dari dua arah.

“Tahan dia! ALGOL!” (Laius)

RaAAaaa! LaAAAA!”

Algol berteriak dengan suara nyaring sembari menyerang menggunakan tangannya.

Izayoi menghadang serangan itu dan menahan tangan Algol, membuat mereka saling mengunci tangan satu sama lain.

Meskipun sulit dipercaya, tapi sepertinya ia ingin bertarung secara langusng dengan Algol.

“Ha! Ini bagus, benar-benar bagus, luar biasa! Aku bisa merasakan adrenalinku mendidih…!” (Izayoi)

“RaAAaaGYAAAAAaaaa!”

Izayoi dan Algol berada dalam pertandingan kekuatan antar lengan yang mana tidak bertahan lama.

Algol, tidak bisa lagi menahannya, berhasil ditekan oleh Izayoi dan akhirnya menjatuhkannya ke tanah tempat ia berdiri sebelumnya.

“GYAAAAaaaaaa!”

“Haha! Ada apa? Mantan Demon Lord-sama?! Bukankah kau baru saja mengeluarkan teriakan kesakitan?!” (Izayoi)

Dengan senyum tak kenal takut di wajahnya, Izayoi membanting Algol ke tanah dan menginjak perutnya. Dan hanya dengan beberapa injakan, ia sudah bisa menyebabkan retakan di tanah itu terus menyebar seperti jaring laba-laba. Dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan tempat itu.

Selama hal itu terjadi, Laius telah terbang ke belakang Izayoi dan menunggu kesempatan untuk menyerang.

“Jangan terlalu sombong!” (Laius)

“Katakan itu pada dirimu sendiri!” (Izayoi)

Laius memegang Harpe itu dengan satu tangan sembari menyerang ke arah depan dengan gerakan cepat dan Izayoi telah memilih untuk melancarkan tendangan untuk menangkis dengan memutar tubuh bagian bawahnya untuk menambahkan kekuatan gaya sentrifugal. Meskipun Laius hampir bisa menghadang serangan itu dengan gagang senjatanya, kekuatan dari serangan itu masih terlalu kuat untuk ditahan dan ia akhirnya terlempar cukup jauh.

Serangan itu sangatlah kuat bahkan walau ia menangkisnya tepat waktu, serangan itu tetap saja membuatnya merasa pusing. Sebelumnya, kesatria yang telah dikirim terbang ke angkasa dengan kecepatan yang luar biasa dan sekarang Laius diserang dengan kekuatan yang lebih besar. Izayoi bergerak maju dan menangkap Laius di saat yang tepat.

“Ada apa, bahkan dengan sayap itu, kau tidak bisa melakukan apa-apa, benar kan?” (Izayoi)

“Kau… Bajingan….!” (Laius)

Namun, Izayoi bisa menghentikan serangan itu dengan mudah dan melempar Laius ke tanah. Mengikuti hal itu, Laius dipukuli hingga terlempar ke Algol yang sudah kehilangan kesadaran.

“Uugh!”, “Gya!” Dua suara teriakan terdengar.

Menghadapi kekuatan yang terlalu kuat untuk dimengerti, Laius berusaha untuk berdiri sembari berteriak dengan putus asa:

“Kau… Apakah kau benar-benar MANUSIA?! GIFT MACAM APA YANG KAU MILIKI?!” (Laius)

Ya, itu adalah pertanyaan yang masuk akal. Orang yang mampu mengalahkan [Celestial Spirit] dengan kekuatan belaka, dan bergerak lebih cepat dari Sepatu Hermes yang memberikan kemampuan terbang hanya dengan berlari, manusia seperti itu tidak seharusnya ada. Merespon pertanyaan itu, Izayoi mengeluarkan Gift Card miliknya.

“Gift-ku bernama [Unknown] – Hm, maaf, kau pasti tidak mengerti, benar kan?” (Izayoi)

Izayoi menggerakkan bahunya sembari tersenyum dengan tenang. Melihat sosok Izayoi di kejauhan yang mana terlalu santai, Jin berteriak dengan panik:

“Cepat… Cepat akhiri ini! Jangan biarkan dia mengaktifkan Gift Pembatuannya!” (Jin)

Kekuatan Celestial Spirit Algol bukanlah secara fisik.

Tapi, kekuatannya berada pada cahaya terkutuknya yang mampu mengubah dunia menjadi batu, itulah – Yang membuatnya berbahaya.

Namun, Perseus masih ingin mengalahkan Izayoi dengan kekuatannya sendiri dan memutuskan untuk maju dan menantang.

“Algol! Aku izinkan kau untuk mengubah Istana ini menjadi iblis! Bunuh orang itu!” (Laius)

“RaAAaa! LaAAA!”

Nyanyian dengan nada janggal bisa terdengar menggema ke seluruh dunia dan kemudian tembok putih tempat itu seketika berubah menjadi hitam dan mulai berdetak seperti makhluk hidup. Dan dari bayangan hitam yang mulai menyebar ke seluruh istana, pilar-pilar mulai berubah menjadi ular raksasa dan menyerang Izayoi.

Sembari menghindar, Izayoi bergumam:

“Oh, kalau dipikir-pikir, Madusa juga punya kartu yang bagus.” (Izayoi)

Medusa juga punya legenda yang mengatakan ia bisa menciptakan beberapa jenis Binatang Iblis.

Terlebih lagi, [Celestial Spirit] sebenarnya adalah makhluk yang memberikan Gift.

Saat ini, seluruh Istana Putih telah berubah menjadi Istana Iblis dan Laius yang mungkin tidak menyadari keadaan sekitarnya mulai berteriak seperti orang gila:

“Aku tidak akan membiarkan kalian keluar hidup-hidup! Istana ini adalah makhluk yang lahir dari kekuatan Algol! Kalian tidak akan pernah lolos! Karena di arena ini, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi!” (Laius)

Laius berteriak dan nada janggal dari lagu Demon Lord menciptakan tembok baru dari Istana Ibilis, untuk menciptakan ular dan kalajengking dari tembok dan pilar itu dan terus menyerang Izayoi, berusaha mengalahkannya dengan jumlah.

Izayoi yang berada di tengah-tengah ular yang mengerumuninya, mengatakan apa yang ada dipikirannya dengan suara keras:

“-… Hm, ini berarti aku hanya perlu menghancurkan Istana ini bukan?” (Izayoi)

“EH?”

Izayoi yang merespon dengan datar membuat Jin dan Kuro Usagi punya perasaan buruk soal hal yang akan datang.

Mengangkat tinjunya tinggi-tinggi, Izayoi kemudian menghantamkan tinjunya ke tanah.

Ribuan ular dan kalajengking terhempas karena debu dan menghilang dalam awan debu yang muncul di sekitar Izayoi secepat awan debu itu tercipta. Mengikuti hal itu, seluruh istana mulai berguncang dengan keras dan arena itu akhirnya runtuh, membuat pecahan dari lantai empat runtuh ke lantai tiga.

“Woah… WaWoah!”

“Jin-bocchan!”

Kuro Usagi menangkap tangan Jin yang hampir masuk ke dalam daerah yang berbahaya. Mereka yang punya sayap sudah berada di langit, tapi, tetap saja, pemandangan di depan matanya membuatnya menahan nafas karena rasa terkejut.

Arena berbeda dari bagian Istana yang lain dan telah diperkuat dengan pelindung yang stabil dan kuat. Kecuali bisal desirang dengan kekuatan yang mampu menghancurkan gunung dan juga membelah lautan, maka tidak mungkin seseorang bisa meruntuhkan lantai teratas jatuh ke lantai di bawahnya.

“…. Bagaimana… Bagaimana mungkin? Orang itu punya kekuatan untuk menghancurkan gunung dan membelah lautan?” (Laius)

Laius yang berada di langit mengeluarkan teriakan marah dan takut.

Berdiri di atas daerah yang masih tersisa dari Arena, Izayoi melihat dengan tatapan tidak puas saat ia mengatakan sesuatu kepada Laius:

“Oi, Pemimpin Game, apakah ini trik terakhir milikmu?” (Izayoi)

“… Uu…”

Istana Iblis itu masih hidup, tapi menggunakan trik yang sama dua kali tidak akan memberikan perbedaan yang berarti.

Ekspresi wajah Laius berubah karena rasa malu. Baginya, ini adalah pertama kali ia mengadakan Game di daerah Komunitas. Tapi, dia tidak pernah menyangka bahwa semua akan berakhir seperti ini. Ekspersi Laius semakin kelam karena rasa sedihnya, tapi dia kemudian segera kembali memasang ekspresi serius sebelum tersenyum ganas.

“Sudah cukup. Akhiri semuanya, Algol.” (Laius)

Gift Pembatuan telah dilepaskan. Ditemani dengan suara nada janggal yang semakin keras, Algol mengeluarkan sinar cokelat.

Izayoi yang ditutupi oleh sinar itu langsung maju ke depan seakan berusaha memegang mata itu dengan kedua tangannya-

“-…Pui! Sebagai Pemimpin Game, kau masih mencoba melakukan tindakan tidak terpuji!” (Izayoi)

Selanjutnya, ia menghancurkan cahaya itu dengan kakinya.

.. Itu bukanlah metafora dan tidak ada cara lain untuk menggambarkannya. Cahaya cokelat yang dipancarkan oleh Algol dari matanya dihancurkan seperti kaca oleh kaki Izayoi dan tersebar ke udara sebelum menghilang.

“Baga… Bagaimana mungkin?!” (Laius)

Laius berteriak melihat hal itu, tentu saja, hal itu tidak aneh.

Bahkan Kuro Usagi dan Jin yang melihat pertarungan itu dari bawah tidak bisa melakukan apa-apa selain terkejut.

“Menghilangkan efek dari gift [Celestial Spirit] – Bukan, menghancurkannya?”

“Mustahil! Memiliki kekuatan fisik yang luar biasa dan juga kekuatan untuk menghancurkan gift?”

Ini adalah apa yang Shiroyasha maksud dengan keberadaan yang tidak seharusnya ada. Dua Gift ini sangat berlawanan. Seperti penjelasan sebelumnya, di dunia Little Garden dimana banyak Dewa berkumpul, Gift yang bisa menangkis Gift lain tidaklah langka. Tapi, itu terbatas dalam bentuk senjata dan item atau orang yang bisa membuatnya.

Hanya dengan melihat Gift Card miliknya, semua orang pasti tahu bahwa Izayoi tidak punya Gift lain. Masalahnya terletak pada keberadaan [Gift yang mampu menghancurkan Langit dan Bumi] yang berdampingan dengan [Kekuatan untuk menghancurkan Gift lain] secara bersamaan di tempat yang sama.

Dari awal, Jiwa seperti itu tidak seharusnya ada.

“Kalau begitu, Pemimpin Game, mari lanjutkan. Kekuatan [Celestial Spirit] seharusnya lebih baik dari itu, iya kan?” (Izayoi)

Izayoi mengejek musuhnya. Namun, Laius telah kehilangan keinginannya untuk bertarung.

Kesampingkan dulu [Bangsawan Little Garden] untuk sekarang, bahkan [Shiroyasha] sendiri tidak mampu mengetahui asal, kemampuan, dan nama dari Gift serta semua kondisi untuk penggunaannya, karena hasilnya adalah [Unknown].

Memiliki keajaiban dalam dirinya yang mampu menghancurkan keajaiban lain. Gift yang berlawanan dengan Gift itu sendiri.

Diperlihatkan makhluk seluar biasa itu di depannya, Laius telah kehilangan semangat. Dan Kuro Usagi memilih untuk masuk saat itu:

“Sangat disayangkan, tapi menurut Kuro Usagi ini semua sudah berakhir.” (Usagi)

“Apa?” (Laius)

“Saat Algol muncul dalam kondisi terkekang, Kuro Usagi sudah menebak… Bahwa kemampuan Laius-sama masih belum berkembang untuk menguasai [Celestial Spirit].” (Usagi)

“Hudd!”

Mata Laius terbakar api amarah. Meskipun pandangannya cukup ganas untuk membunuh… Tapi dia tidak membantah kata-katanya karena Kuro Usagi benar.

Namun, siapa yang bisa menduga situasi tragis ini bisa terjadi? Mempunyai banyak gift dan juga [Celestial Spirit] yang bisa mengubah dunia menjadi batu, namun dikalahkan oleh [No Name]… Ini adalah sesuatu yang tidak terduga.

“- Hmph! Pada akhirnya kau bergantung pada ayahmu dan juga kakekmu serta Demon Lord? Kau sudah berhasil dikalahkan, dan sekarang, kau tidak bisa lagi melawan?” (Izayoi)

Izayoi, dengan kecewa, mengatakan hal itu. Saat Kruo Usagi akan mengumumkan hasil dari Game, Izayoi memasang senyum jahat saat ia mendorong Laius untuk melakukan tindakan lain.

“Oh, benar juga. Jika kau kalah dalam Game seperti ini… Kau seharusnya tahu apa yang akan terjadi pada Bendera Komunitasmu, iya kan?” (Izayoi)

“Eh? Apa?” (Laius)

Ujar Laius karena ia tidak bisa memahami apa maksud Izayoi.

Dia selalu mengira Izayoi dan yang lainnya berusaha mendapat bendera [Perseus] sebagai alat tukar untuk kebebasan Leticia.

“Ya, hal semacam itu hanya bisa dilakukan setelah mendapat Bendera-nya, ya kan? Selama kita punya Bendera sebagai taruhan, kita bisa meminta Game lain – Benar, di Game selanjutnya, kami akan mengambil Nama-mu.” (Izayoi)

Wajah Laius terus kehilangan warnanya. Dan saat itulah ia menyadari situasi tragis di sekitarnya. Istana yang hancur dan rekan yang membatu. Namun, Izayoi melanjutkan dengan senyum kejam di wajahnya:

“Setelah mendapatkan dua hal itu, aku akan terus menginjak Nama dan Bendera-mu membuat [Perseus] tidak mampu bangkit lagi. Tidak perduli seberapa banyak tangisan, permohonan, teriakan, dan amarah kalian, aku akan tetap melakukannya. Hingga kalian menyerah dan hancur bersama mimpi kalian… Tentu saja… Dalam keadaan, hancur total… Aku dengar, mereka yang terus berusaha menggapai mimpi mereka bersama-sama bisa disebut sebagai Komunitas, benar kan? Tapi, karena memang seperti itu, maka hal itu akan membuat semuanya lebih baik, benar kan?” (Izayoi)

“Tidak… Jangan…” (Laius)

Jika dia kalah dalam Game ini, Benderanya akan diambil. Dan, bila begitu, [Perseus] tidak akan bisa menolak permintaan pertandingan yang lain. Untuk bertanding dalam kondisi ini, akan menjadi lebih mustahil.

Laiu… Yang menyadari hal itu. Bahwa Komunitasnya akan menghadapi krisis besar yang akan menghancurkan mereka.

“Begitukah? Jadi, kau tidak mau? Kalau begitu hanya ada satu pilihan bagimu, benar kan?” (Izayoi)

Ekspresi jahat Izayoi digantikan oleh senyum bahagia.

Dia menggerakkan jari-jari di tangannya yang memanjang keluar sebagai bentuk provokasi kepada Laius.

“Majulah, Laius. Pertaruhkan nyawamu - Dan buat aku menikmati waktu!” (Izayoi)

Hedonis yang ganas itu memanjangkan lengannya dan memberikan satu aksi terakhir sebelum Game berakhir. Dia masih belum puas dan ingin lagi. Laius yang memiliki Komunitas yang berada dalam krisis juga memperkuat tekadnya dan berteriak:

“Aku tidak akan kalah… Tidak boleh kalah… Bagaimana mungkin aku kalah?! Kalahkan dia! ALGOL!” (Laius)

Sepasang sayap bercahaya dan sayap abu-abu mulai bergerak bersama. Untuk Komunitasnya, mereka berdua bergerak dengan determinasi.

No comments:

DMCA.com Protection Status