Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 6 Part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 6 Part 1 Bahasa Indonesia

December 25, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Kirz
Editor: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Jangan lupa untuk menvoting calon maskot kami dalam kontes menggambar maskot di  http://www.isekainovel.com/p/kontes-menggambar-maskot.html 

Volume 4 Chapter 6 Part 1/2: Seiiki e no Dōchū (Sepanjang Jalan Menuju Sanctuary)

"Aku tidak bisa menemani kalian, jadi tolong berhati-hatilah selama perjalanan kalian. Sama juga, tolong beritahu Tuan kalau Frederica sedang mengawasi keadaan disini" (Frederica)

Di pagi hari saat keberangkatan, Gerobak Naga sudah terparkir di depan Mansion. Datang untuk mengantar kepergian mereka, dengan mengucapkan kalimat ini, Frederica membungkukkan punggungnya.

Pose membungkuknya begitu sopan, membuat siapapun yang menerimanya akan merasa canggung terhadap perlakuannya.

Bagaimanapun juga, menerima perlakuan ini, Subaru dan Emilia saling menatap satu sama lain.

"Aku yang seharusnya minta maaf, aku tau betapa kacaunya situasi sekarang ini.... Roswaal nggak ada, dan seharusnya aku bertindak menggantikan perannya, tapi......" (Emilia)

"Bagaimanapun juga, Emilia dan aku tidak mengerti apa-apa tentang pekerjaan mengurus Mansion. Meskipun aku bisa menangani beberapa tugas rutin yang ada, semuanya akan bisa melihat betapa amatirnya diriku ketika seseorang menghitung kecerobohanku. Aku sudah mencoba untuk melibatkan Otto dalam hal ini (Pekerjaan Mengurus Mansion) demi mengatasi masalah ini, tapi yang kulakukan itu seperti memercikkan air di atas bara api yang panas" (Subaru)


Melihat hasil yang diperoleh selama dua hari ini, Subaru hanya bisa tersenyum masam melihat betapa sia-sianya mereka selama dua hari ini.

Dia dan Otto tanpa adanya satupun tujuan telah mendatangi kantor yang berantakan itu, dan satu hal yang dapat mereka pelajari adalah 'Semua ini mustahil dapat dilakukan tanpa adanya penjelasan dari Orang yang bersangkutan'.... Satu kalimat itu sudah dapat menyimpulkan sejauh mana perkembangan mereka terhadap masalah ini.

Kelihatannya Frederica memiliki ide yang bagus, tapi akan memakan waktu yang lama untuk menutupi keganjilan yang ada setelah berbulan-bulan dirinya menghilang. Sebenarnya, melihat betapa banyaknya pekerjaan yang ada hanya untuk memelihara Mansion ini, dirinya tidak dibenarkan untuk meningkatkan beban kerjaannya lebih jauh lagi.

Emilia dengan penuh perhatian mengurus beberapa tugas sederhana, tetapi pada akhirnya, ia tidak punya pilihan lain selain diam membiarkan beberapa tugas yang tersisa, meskipun ia tahu kalau nantinya akan menumpuk.

"Situasi ini sama dengan situasi dimana kamu menunda mengerjakan tugas liburan musim panasmu, dan berikutnya yang kamu tau, hari liburmu sudah habis. Bagaimanapun juga, aku ini bukan tipe orang yang bakalan nggak ngumpulin tugas" (Subaru)

"Aku beneran nggak paham, tapi bukannya itu bagus ya? Yah sebetulnya, aku merasa nggak enak sekarang ini, dan dadaku saaakit sekali. Bukan berarti aku merasa bersalah, tapi aku tau nggak baik untuk melantarkan semuanya kaya gini" (Emilia)

"'Ini Sebenarnya Bukan Salah Kita', begitulah bagaimana aku akan mengeles dalam urusan ini, tapi pasti ini sulit bagi Emilia-tan, kan? Yah aku juga sangat mengerti, betapa nggak enak rasanya kalau cuma berdiam diri, menyaksikan semuanya perlahan berubah menjadi sangat buruk..." (Subaru)

Hal ini memang menjengkelkan, untuk membiarkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Tetapi ketika Ia merasa kasihan terhadap perasaan bersalahnya Emilia, hal ini juga menjengkelkan karena tidak ada yang bisa ia perbuat untuk membantunya.

Pada akhirnya, Subaru memang tidak berguna, sehingga satu-satunya hal yang dapat dilakukannya adalah memanggil seseorang yang lebih mampu:

"Gerobak naganya sudah siap. Meskipun baru beberapa hari mereka nggak digunakan, Patrasche-nya Natsuki-san keliatan udah nggak sabaran pingin pergi" (Otto)

"Dia itu tipe gadis yang pekerja keras, ya nggak? Pemiliknya yang sebelumnya pasti orangnya keren, nggak kayak pemiliknya yang sekarang... Ngomong-ngomong menurutmu dia bisa nuntun kita kesana? Aku takut kita kesesat di perjalanan nanti dan berakhir terlantar" (Subaru)

Orang yang secara tiba-tiba memutus percakapan mereka ialah seorang pria yang duduk di kursi kemudi Gerobak Naga, yang sedang berbicara dengan dua naga darat, Patrasche dan Furufu ―― Otto.

Selama kemampuan 'Bisikan Binatang' dari Divine Protection itu hanya diberkahi kepadanya, bagi yang melihatnya, ia cuma akan terlihat seperti orang yang memiliki masalah di kepalanya ketika dirinya berbicara dengan para naga darat itu, namun Subaru tidak mengomentari hal ini.

Tidak menyadari kalau Subaru memberikan senyuman hangatnya, Otto hanya mengangguk membalas pertanyaannya dengan jujur mengucapkan 'hu-um'.

"Kurasa cara mengajarnya Frederica sudah bagus, keliatannya nggak akan ada masalah. aku yakin dalam setengah hari saja kita bakalan sampai" (Otto)

"Sip dah, sipp...... Tapi, beneran kau mau ikut juga?" (Subaru)

"Bukannya dah jelas aku memang mau ikut!!" (Otto)

Setelah Otto menghilangkan keraguan-nya(Subaru) terhadap arah jalan yang ditunjukkan Patrasche nanti, Subaru mengangguk dan beralih ke pertanyaan lain, yang mana membuat Otto berteriak di tempat kemudi, memoloti kedua mata Subaru.

"Toh jugaan, Ini akan menjadi pertemuan pertamaku dengan Tuan Margrave. Memang aku memintamu untuk memperkenalkan diriku padanya, tapi membayangkan bagaimana nantinya kau menceritakan tentang diriku padanya kalau aku nggak ada disana...... sungguh mengerikan, maka dari itu aku nggak bisa mempercayai hal ini kepadamu!" (Otto)

"Oy oy, Aku jadi canggung nanti kalau kau tetap terlalu mempercayaiku" (Subaru)

"Ya, meskipun kita baru kenal sebentar, aku sudah mempercayaimu 120%  ——Aku yakin kalau Natsuki-san akan selalu melakukan apa yang 'tidak' kunginkan" (Otto)

Subaru melipat bibirnya terhadap kata-kata ini, dan Emilia, yang awalnya diam menyimak sampai saat ini, secara tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

Kedua pria itu secara bersamaan menatap kearah sumber tawa itu, dan Emilia dengan malunya mengangkat tangannya sambil berdalih,

"Beneran deh, kalian berdua itu sahabat baik ya. Kapanpun Aku melihat kalian berdua, kalian itu selalu bertengkar dengan akrab banget, membuatku iri" (Emilia)

"Kalau kamu mau, aku bisa juga kok akrab dengan Emilia-tan, cuma bedanya aku akan menggombalimu bukannya bertengkar denganmu. Aku memindahkan saat-saat akrabku dengan Otto kepada waktuku ketika bersama Emilia, dan menjadikan waktuku bersama Otto tidak seakrab sebelumnya lagi" (Subaru)

"Kalau kau melakukan itu, maka nggak akan ada hal lain diantara kita selain saling mencaci maki dan bertengkar secara fisik ya!?" (Otto)

Subaru begitu percaya dengan kemampuan bermain kata-kata dan mencaci makinya, namun kalau pada akhirnya ia harus bertengkar dengan Otto secara fisik, ia tidak sepenuhnya yakin kalau nantinya ia bisa menang darinya. Otto memang kelihatannya lemah lembut, tapi Subaru sendiri sudah tahu kalau betapa kuat dirinya(Otto) itu.

Di pengulangan waktu yang sebelumnya, setelah berdebat hebat, Otto telah mendorongnya jatuh dari gerobak. Mengetahui kalau lawannya bukan orang yang lemah, menurut Subaru peluang baginya akan sangat tipis jika mereka berkelahi satu-lawan-satu.
(TLN:Bagi yang lupa, bisa dilihat di menit ke 07:35 di episode 17 Animenya xD, disitulah perdebatan hebat yg dimaksud)

"Kalau tentang itu sih, aku ini nggak jago berantem. Yah aku sudah menyadarinya, tapi tetap kenyataan ini menyakitkan" (Subaru)

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Subaru akan kalah dengan Otto, dan tanpa perlu dikatakan lagi, tentunya ia tidak akan bisa mengalahkan Emilia, yang mengerti tentang sihir. Ia sudah pernah ditangkap hingga terjatuh oleh Frederica, dan tidak perlu dijelaskan lagi mengenai betapa lemahnya terhadap Rem, ataupun dengan si Pengurung diri Beatrice. Sehingga, satu-satunya orang yang kemungkinan dapat Subaru kalahkan di Mansion ini ialah——

"Kalau dipikir-pikir, satu-satunya orang yang bisa saja dapat kukalahkan adalah Petra, dan aku nggak melihatnya disekitar sini. Ada apa dengannya?" (Subaru)

"Aku sebenernya takut buat nanyain ini... cuma kok bisa yang ada dipikiranmu sekarang itu adalah siapa orang yang bisa kau kalahkan? Oh ya sebenernya Petra-chan ada didalam Mansion...... Ah, tuh dia datang" (Emilia)

Sedikit heran dengan pemikiran Subaru yang tak ada gunanya, meraih kemenangan dengan cara memilih lawannya yang pas, kedua mata ungunya Emilia melihat ke arah Mansion. Telah berpikiran negatif, dan sedang melihat kearah yang sama, Ia(Subaru) melihat seorang gadis yang sedang mengayun-ayunkan lengan baju dari seragam maid barunya, berlari ke tempat dimana ia berada.

"Tunggu, tunggu sebentar. Suba-,Subaru-sama....!" (Petra)

"Kamu nggak perlu terburu-buru, aku nggak mungkin melakukan hal yang kejam seperti pergi meninggalkan semuanya tanpa pamitan, cuma Otto yang bakalan berbuat kaya gitu. Ya nggak, Otto?" (Subaru)

"Kau lupa sama ucapanmu tiga detik yang lalu!?" (Otto)

Tersenyum kearah gadis yang sedang ngos-ngosan memegangi lututnya, Subaru bersenda gurau bersama Otto dengan beberapa ejekan yang lucu disaat dirinya sedang menunggu gadis itu mengatur napasnya. Kemudian, mengusap dahinya secara lembut, Petra pun menoleh kearah wajahnya.

Pipinya yang memerah dan kedua matanya yang terlihat menawan. Petra menarik napas panjang-panjang, melepaskan rasa lelahnya, lalu tersenyum.

"Aku ingin memberikanmu ini sebelum kamu pergi. Tolong bawa ini bersamamu" (Petra)

Dan dengan mengucapkan itu, Ia mengulurkan tangannya, memperlihatkan saputangan sederhana yang terlihat biasa saja.

Ditepi kain putih itu telah dihiasi warna emas, dan dengan ujung jarinya(Subaru) yang pas dengan saputangan ini, menandakan kalau saputangan ini dibuat dengan pengerjaan yang teliti. Menerima benda ini, ia membaliknya untuk bisa melihat sisi yang lainnya dari benda ini.

"Ini....dijahit ya. He~e, bagus banget ini" (Subaru)

Yang terjahit dipermukaan kain putih itu, adalah jahitan yang kemungkinan besar dikerjakan oleh Petra sendiri. Di situ dijahit dengan benang berwarna abu-abu, pink serta hitam, dan pola gambarnya sudah pernah Subaru lihat. Lalu Emilia, yang mengintip dari balik pundak Subaru, mengeluarkan tawa kecil 'Ahaha..'.

"Ini gambarnya Puck yang sama dengan yang pernah kamu gambar, Subaru. Sugoi sugoi, jahitannya bagus banget ini" (Emilia)

"Gambar Puck-ku yang berantakan telah dijahit dengan bagus. Seharusnya nggak butuh waktu yang lama untuk mempelajarinya" (Subaru)

"Aku mendapatkan Stempel ini setelah melakukan Senam Radeeo setiap pagi" (Petra)

Lupa untuk berbicara dengan sopan, Petra mengeluarkan sesuatu dari sekitar lehernya. Itu adalah kartu stempel yang Subaru buat dan dia berikan kepada anak-anak di Pedesaan. ——Setiap pagi setelah mereka berpatisipasi dalam senam radeeo pagi, Subaru menye-tempel kertas-kertas yang telah mereka siapkan dengan sebuah gambar yang telah terukir di atas kentang manis, di stempel yang sebelumnya.

Yang dipegangnya saat ini adalah stempel yang paling baru, gambar berantakannya Puck yang diberi nama 'Senin yang Suram'. Ia pasti bekerja begitu keras, hingga menusuk jari-jarinya menjahit mengikuti pola dari gambar ini.
(TLN: Sebetulnya ini diceritakan di Arc 3 chapter 1, dan sebetulnya ini sudah ada di anime di menit awal episode 9, tapi yg diceritakan hanya adegan 'Senam Radeeo Pagi' nya saja, untuk adegan pemberian hadiah stemple nya tdk diceritakan kalau di anime xD)

"Sungguh bagus banget ini. Sebagai orang yang jago menjahit, aku nggak boleh kalah disini" (Subaru)

"Maukah kamu menerimanya.... Eh, Akankah anda menerimanya?" (Petra)

"Yang benar itu, 'Bisakah anda menerima ini'. ——Tentu saja, dengan senang hati aku menerimanya. Sepertinya benda ini nggak pantas untuk dipakai mengusap darah, keringat atau pun air mata, jadi aku akan membawanya sebagai jimat keberuntungan untukku" (Subaru)

Dengan sangat berhati-hati melipat saputangannya, Subaru dengan lembutnya, dan dengan rasa pedulinya yang tinggi, menaruh benda ini ke kantung di dadanya sebelum akhirnya ia kembali melihat Petra. Lalu, selembut yang ia bisa——ia melihat kearah seseorang yang terlihat dengan tatapan ganasnya, menyipitkan kedua matanya dan dengan taringnya yang tajam, menatapi Petra dengan senyuman menakutkannya. Mendengar ucapannya(Subaru), Petra menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya dan kemudian mengalihkan pandangannya.

"Aku akan menunggu kepulanganmu. Ah, Onee-chan sama mas yang cerewet itu juga" (Petra)

"Sepertinya aku cuma sebagai figuran disini.." (Emilia)

"Bentar dulu, nggak terlalu kejam tuh julukanku!?" (Otto)

Emilia dan Otto membalas ucapannya Petra secara bergantian, senyuman masam pun terlihat di wajah mereka. Subaru hanya bisa tersenyum, ketika Petra tampak mengabaikan tekanan yang berasal dari Frederica di belakangnya.

Ia yakin kalau nanti setelah mereka pergi, Petra akan diberi pelajaran keras oleh Frederica. Bertahanlah, Petra!

"Yah kalo gitu, sebenarnya berat rasanya untuk meninggalkan kalian semua, tapi kami harus segera berangkat" (Subaru)

"Kalau kita terlalu banyak menghabiskan waktu ngobrol disini, maka nggak ada artinya dong tujuan awal kita untuk berangkat lebih awal" (Emilia)

Subaru menyela, mengakhiri percakapannya, sebelum akhirnya ia melompat ke ruang muatan di gerobak naga. Setelah itu, ia menjulurkan tangannya,

"Kalau kau bersedia, Emilia-tan. Peganglah tanganku ini" (Subaru)

"Aku yakin pasti seru melihat pemandangan dari kursi kemudi sekali-kali?" (Emilia) 

"Ahh, kejam! E・M・K(Emilia-tan-Maji-Koakuma)!——Ah, wah!" (Subaru)
(TLN: Emilia-tan・Maji・Koakuma = Emilia-tan benar-benar Iblis kecil)

Diperlakukan dengan kejam, Subaru hampir ingin menarik kembali tangannya, tapi sebelum ia melakukannya, tangannya tiba-tiba ditarik begitu kuat hingga dirinya hampir terjatuh dari gerobak disaat Emilia berjalan dengan santai disampingnya.

Rambut putihnya menyentuh hidungnya ketika Ia berjalan melewatinya, sampai ia mencapai ruangan di dalam gerobak Naga dengan suara yang sangat pelan. Dengan lembut Emilia duduk dihadapannya Subaru, kemudian ia memiringkan kepalanya melihat kearahnya,

"Ada apa?" (Emilia)

"Um-, nggak ada" (Subaru)

Dengan ucapan ini, Subaru dengan keras(semangat) menghentakkan kakinya berjalan menuju tempat dimana ia(Emilia) berada, kemudian duduk disamping dirinya. Mengingat ruangan didalam Gerobak Naga ini begitu luas, Emilia tersenyum kepada Subaru yang memanfaatkan ruangan ini seolah-olah ruangan ini sempit.
(TLN: Posisi-nya Subaru duduk sangat dekat dgn Emilia)

Otto, melihati tingkah mereka berdua, menggerutu 'Aku nggak tahan kalau terus-terusan berhubungan denganmu' sambil duduk di kursi kemudi, kemudian ia meraih tali kendali dan mengalihkan pandangannya kedepan.

"Baiklah, kita berangkat. Berhati-hatilah agar tidak menggigit lidah kalian sendiri nanti" (Otto)

"Itu tergantung padamu, jangan bikin gerobaknya berguncang terlalu keras. Dan kalau kau tiba-tiba pingin nge-rem mendadak ——Tolong beri aku isyarat yang pernah kita bicarakan sebelumnya. Soalnya tanpa isyarat itu, sulit bagiku nanti menentukan waktu yang tepat untuk mendesak badannya Emilia-tan" (Subaru)

"Kamu berpikiran seperti itu?" (Emilia)

"Aku! Aku nggak pernah mendengar rencana jahat itu dalam hidupku! Bentar dulu, sejak kapan aku jadi kaki tanganmu!?" (Otto)

Emilia memberikan tatapan jijiknya kepada mereka berdua Subaru dan Otto, dan tampaknya tidak mempercayai protes keras-nya Otto terhadap tuduhan yang diberikan kepadanya. Memikirkan Otto yang meratapi semua ketidakadilan ini, yang memang pantas untuknya, Seolah-olah dirinya tidak ada hubungannya dengan masalah ini, Subaru mengangkat tangannya,

"Baiklah. Tujuan kita 'Sanctuary', Mari kita berangkat——!" (Subaru)

"Siapa kau memangnya bisa berbicara seperti itu!?" (Otto)

Melihat Otto yang ngambek di kursi kemudi, Subaru pun mengatakan 'Kau itu nggak pinter meramaikan suasana, ya' secara protes, sebelum akhirnya ia mengeluarkan kepalanya dari jendela untuk melihat dua orang di luar yang sedang melihat kepergiannya,

"Baiklah kalau gitu, kami percayakan tempat ini kepada kalian. Sama juga......Aku mengandalkan kalian... untuk merawat Rem dengan baik" (Subaru)

"Kumohon, serahkan saja padaku. Sebagai gantinya, aku percayakan Emilia-sama dan Tuan besar kepadamu" (Frederica)

"Berhati-hatilah, dan kembalilah dengan selamat" (Petra)

Ucapan Subaru tidak main-main seperti biasanya, dan disaat mereka mulai berangkat, Frederica dan Petra memberikan salam bungkukkan perpisahan.

Setelah pembicaraan formal yang konyol itu berakhir, kali ini Subaru benar-benar yakin ——(yah walaupun dengan beberapa keraguan), dapat menghilangkan Mansion dari pikirannya.

"Oy, kita udah berangkat nih? Otto. Lambat amat" (Subaru)

"Aku nggak terima diperlakukan seperti ini!!" (Otto)

Dengan percakapan ini, semua ketegangan yang masih tersisa, telah dilepaskan, dan akhirnya mereka pun berangkat menuju ke 'Sanctuary'.

=======================================================================

"Tampaknya aku harus mengajarimu untuk berbicara lebih sopan, serta membungkuk lebih baik lagi" (Frederica)

"Maafkan aku. Aku cuma..... Aku cuma ingin dimanja, walau cuma sebentar" (Petra)

Petra secara cepat menundukkan kepalanya, gerakan-nya hampir sempurna seperti ajarannya Frederica. Ia memang orang yang cepat tanggap, mampu memahami sesuatu dengan cepat, dan tentu saja dia adalah murid yang layak diberi bimbingan.

Interaksinya beberapa saat yang lalu itu bisa dimaklumi untuk gadis seusianya, jadi tidak ada alasan untuk memarahinya lebih jauh lagi hanya karena masalah yang kecil.

"Aku tau kamu sudah kenal dekat dengan Subaru-sama dan Emilia-sama belum lama ini. Tapi tetap, nggak baik untuk melupakan hubunganmu dengannya yang hanya sebatas seorang pelayan dan tuan" (Frederica)

"——Baik nyonya. Aku minta maaf sedalam-dalamnya" (Petra)

Gadis itu telah sadar akan fakta bahwa ia telah berprilaku egois.

Ia mampu berprilaku sesuai yang telah diajarkan kepadanya, dan memandang Subaru serta yang lainnya dengan benar, Tapi dia malah sengaja meninggalkan tugasnya sebagai pelayan, dan memilih untuk mengantar kepergian Subaru dan yang lainnya sebagai seorang gadis biasa... Pasti ada alasan untuk itu, dan mungkin alasannya sepele, tapi pasti alasan itu sangat berarti bagi dirinya.

"Nggak ada gunanya untuk melanjutkan pembicaraan ini lebih lanjut. Lebih baik, sebagai hukuman atas perbuatanmu, kamu akan menyalin beberapa tulisan tambahan siang ini" (Frederica)

"Wa~a..... Jumlah topiknya ditambah lagi gak?" (Petra)

"Ya kamu siap-siap saja kalau misalnya ternyata sebanyak itu. Dan satu lagi, kalau kamu sudah menganggap hal ini sebagai pelajaran untuk memperbaiki sikapmu, maka kamu akan kuanggap sebagai muridku nanti" (Frederica)

Setelah mengucapkan itu, Frederica menepuk tangannya dengan berkata 'Baiklah kalau gitu', lalu melanjutkan berkata,

"Meskipun Emilia-sama dan semuanya telah pergi sekarang, Beatrice-sama masih ada di Mansion ini. Kita nggak boleh santai-santai dalam memasak dan bersih-bersih. Kalau kita tidak cepat-cepat membereskannya, maka tidak akan ada waktu bagi kita untuk belajar. Maka dari itu Petra, cepat selesaikan tugasmu" (Frederica)

Melihati gadis kecil itu berlari pergi dengan bajunya melambai-lambai, Frederica mulai tersenyum, dan menampakkan taring-taringnya. Dengan tindakkan yang sudah ia biasakan, ia menutup mulutnya dengan tangannya ketika ia tersenyum, kemudian ia melihat kearah dimana Gerobak Naga yang sudah tidak terlihat lagi itu pergi ——Kearah Emilia dan yang lainnya, yang telah pergi meninggalkan Mansion.

"Tepat seperti yang kau katakan, Tuanku. Entah mereka bisa mengatasi masalah di Sanctuary atau tidak, itu semua tergantung dari Emilia-sama dan Subaru-sama sekarang" (Frederica)

Menutup kedua matanya, ia membiarkan angin berhembus melewatinya.

"Akankah Emilia-sama bisa mengatasinya? Tempat yang terikat oleh darah Sang Penyihir, Taman Surga yang tak ada satupun jalan keluar itu——" (Frederica)

No comments:

DMCA.com Protection Status