Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 4 Part 3 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 4 Part 3 Bahasa Indonesia

December 11, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Kirz
Proofreader: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 4 Chapter 4 part 3/3: Tsuginaru basho (Tempat Berikutnya)

Membaringkan Rem dikasurnya, Subaru menarik selimut hingga menutupi dadanya. Detak jantungnya, kembang kempis di dadanya saat Ia bernafas, memberikan bukti kalau ia masih hidup. Hingga hari dimana Ia membuka kedua matanya lagi, Subaru penasaran betapa lama Ia(Rem) akan menghabiskan waktunya disini.

"Kurasa semua itu tergantung dari seberapa kerasnya aku mencoba, ya" (Subaru)

Menjadikan perasaannya sebagai sumpahnya yang baru, Subaru dengan lembutnya mengusap rambut Rem yang berada dikeningnya, dan lalu, Ia berbalik menghadap ke Emilia, yang telah berdiam diri dibelakangnya.

"Maaf membuatmu menunggu lama. Frederica dan aku malah keasikan ngomongin macem-macem hal, dan aku malah berakhir kena asam urat" (Subaru)

"Itu bagus kalau kamu nggak terlalu hanyut sama percakapan. Apa yang kamu dan Frederica bicarakan emangnya?" (Emilia)

"Aku menanyakan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan rehabilitasi seorang gadis yang mengurung dirinya di sebuah ruangan. Berapa lama Ia telah mengurung diri, sejak kapan itu mulai terjadi, bagaimana Ia memperlakukan orang lain setelah itu terjadi... semua itu sangat berkaitan dengan kesembuhan jiwanya" (Subaru)

"Hmmm, jadi begitu. Subaru, kamu benar-benar tahu banyak tentang seseorang yang mengurung diri. Hebat" (Emilia)

"Emilia-tan, Aku tahu kamu nggak bermaksud melakukan ini tapi... terkadang omonganmu itu menusukku. Sama seperti yang barusan itu" (Subaru)

Rasanya sedikit mengkhawatirkan melihat betapa polosnya dia memuji Subaru. Emilia, dengan ekspresi polosnya memiringkan kepalanya dan melihat ke arah Subaru yang kini sedang mengerutkan keningnya. Subaru meresponnya dengan senyuman kecut, dan mengangkat bahunya.

"Jadi, kamu nggak berhasil membuat Beatrice mengatakan semuanya?" (Emilia)

"Mulutnya tertutup rapat dan dia nggak mau mengalah. Ngomong-ngomong, aku tau aku sudah pernah menanyakan ini sebelumnya, tapi... dimana Puck?" (Subaru)

"-Aku nggak tau, nggak ada jawaban darinya. Memang ini sesekali terjadi, tapi timingnya sangaaaat buruk kali ini. Mou, nyusahin banget ini." (Emilia)

Memasukkan tangannya kedalam bajunya, Emilia mengeluarkan batu kristal berwarna hijau. Mirip dengan liontin, batu itu sedikit berkilau. Didalamnya, ada sebuah cahaya yang mempesona disekitar tempat dimana Roh Agung itu berada.

Itu merupakan penghubung yang menyegel kontrak antara Emilia dan Puck, dan Subaru, sudah melihat wujud ini didalam kristal itu hampir setiap hari, sudah begitu kenal dengan hal ini. Hanya saja, seperti apa yang dapat disimpulkan dari percakapan tadi, bahwa tidak ada tanda-tanda kehadiran nya dalam batu kristal itu belakangan ini. Roh itu menghilang ——Sulit untuk dipercaya, tapi memang Roh itu tidak menjawab ketika dipanggil.

"Ini, sesekali terjadi? Walau begitu, itu pasti sangat menjengkelkan bagimu" (Subaru)

"Kapanpun disaat aku benar-benar, benar-benar membutuhkan bantuan Puck, Ia selalu datang. Jadi, kupikir tidak mungkin Ia tidak menyaksikan semua ini... Aku sudah menanyakannya tentang apa yang Ia lakukan disaat Ia tidak bersamaku, tapi Ia tidak pernah memberitahuku" (Emilia)

Mendengar perkataan sedihnya Emilia, Subaru menggaruk kepalanya, mengatakan, "Begitukah...". Ia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap fakta bahwa Puck, yang tahu segalanya, memilih untuk tetap diam. Dengan ini, semua sosok penting yang dapat dimintai pertolongannya terkait dengan masalah yang membuatnya cemas, seketika semuanya memilih untuk diam.

"Puck dan Beako, mereka berhenti berbicara denganku secara bersamaan. ... Betapa terpukulnya diriku" (Subaru)

"Aku tahu...... Neh, Subaru, apa yang harus kita lakukan sekarang?" (Emilia)

Subaru, meletakkan tangannya di dahinya, berpikir keras ketika Emilia menanyakan keputusannya.

Kedua matanya menatap kebawah menanggapi panggilan darinya. Melihat kepercayaan dan keyakinan yang tampak dari tatapannya Emilia, Ia membenci dirinya karena merasa senang disaat-saat seperti ini. Menyadari bahwa Emilia menaruh harapan pada dirinya, terlepas dari perasaan yang mencekik itu, Subaru mengerti apa yang harus Ia lakukan.

"Selama kedua orang itu yang mungkin saja mengetahui sesuatu sehingga tiba-tiba menutup mulutnya, kita nggak ada pilihan lain selain terus bergerak maju. ...Meskipun kita menemukan orang itu, entah dia mau mengatakan tentang semuanya kepada kita atau nggak itu beda lagi masalahnya.." (Subaru)

"Maksudmu si Roswaal, kan?" (Emilia)

"Yap, sudah waktunya bagi dia untuk menumpahkan isi perutnya dan memberitahu kita tentang segalanya apa yang telah terjadi, menurutku" (Subaru)

Melihat Emilia yang paham akan situasinya, Subaru menganggukkan kepalanya. Selama Emilia menerima jalan pikir yang dibuatnya, mungkin saja Emilia berpikiran sama dengannya.

Emilia meletakkan tangannya di dadanya, dan terlihat lega kalau pendapat mereka berdua bisa selaras.

"Aku sangat senang, ternyata Subaru setuju denganku. Aku penasaran apa yang akan aku lakukan kalau ternyata kamu nggak setuju sama usulanku seperti yang Roswaal dan Ram selalu lakukan terhadapku" (Emilia)

"Aku bisa aja nggak setuju, itu semua tergantung dari usulannya, tapi secara keseluruhan, aku seratus-persen selalu berada dibelakangmu, 'tau? Meskipun aku tidak setuju denganmu, itu terjadi karena rasa cintaku terhadap Emilia-tan, aku harap kamu mempercayaiku" (Subaru)

"Cinta... —Subaru, kamu beneeeeeeran pinter nyari kesempatan buat ngegombal ya" (Emilia)

Ucapan manis tak bertanggung jawab Subaru membuat Emilia terkejut, dan dengan cepat Ia mengalihkan pandangannya. Pipi Subaru sedikit memerah ketika dia mengepalkan tangannya, disaat Emilia, sambil tetap memalingkan wajahnya, Ia berkata,

"Kalau gitu, Aku ada usulan untukmu, Subaru, karena kamu selalu berada disisiku" (Emilia)

"Baiklah, aku akan mendengarnya, apapun yang kamu inginkan" (Subaru)

Subaru meletakkan tangannya pada dadanya dalam kepatuhannya. Melihatnya, Emilia menutup salah satu matanya dan mengatakan "Karena kamu kelihatannya tertarik", menekan bibirnya dan melihat kembali kearahnya.

Lalu, setelah menarik napas yang begitu dalam, Emilia menatap langsung kearah kedua bola mata hitamnya Subaru.

"Banyak hal yang ingin kita bicarakan dengan Roswaal, dan kita juga ingin tahu apa yang terjadi dengan para penduduk desa, ya kan? Itulah mengapa, Aku ingin pergi ke 'Sanctuary'" (Emilia)

"Sanctuary......" (Subaru)
(TL Note: Tempat Suci yang biasanya jadi tempat perlindungan, lengkapnya bisa dilihat di Wiki xD)

Itu merupakan nama tempat yang sering kali ia dengar di Mansion nya Roswaal. Subaru sayangnya tidak pernah bisa berhasil menemukan letak tempat tersebut, tapi para pengungsi yang dituntun oleh Ram tengah menuju kesana untuk menghindari para Pemuja Penyihir. Setidaknya, sekarang para Pemuja Penyihir yang diketuai oleh Betelgeuse itu telah dimusnahkan, tingkat ancaman yang berada pada 'Sanctuary' seharusnya tidak setinggi tingkat ancaman di mansion.

"Ngomong-ngomong aku pernah bilang kalau tempat itu adalah tempat yang ingin aku kunjungi suatu saat, jadi kurasa saat inilah waktu yang tepat. Aku sudah memutuskan kalau sekarang adalah waktunya, Aku akhirnya akan berbicara dengan Roswaal mengenai segalanya" (Emilia)

"T-Tu-Tung-Tunggu dulu! Kamu nggak berpikiran untuk meninggalkanku kan!?" (Subaru)

"Eh?" (Emilia)

Memegang tangannya menanggapi kata-kata yang begitu semangat terdengar dari mulutnya, Subaru mematahkan semangat yang berkobar dalam pernyataan tegasnya Emilia. Meskipun demikian, Subaru memang harus mengatakannya.

"Emilia-tan, Aku tau kamu lagi semangat, dan aku juga setuju, tapi kamu nggak bisa begitu saja meninggalkanku. Aku tau aku lemah dan bodoh, tapi aku benci kalau aku nggak mampu mencoba melakukan yang terbaik dengan berada di sisimu. Aku tau ini egois, tapi kumohon mengertilah!" (Subaru)

Mendengar kegigihan Subaru, ucapannya yang begitu keras kepala, kedua mata Emilia pun terbuka lebar.

Tapi sesungguhnya dirinya salah paham terhadap pemikiran Subaru yang sebenarnya. Subaru ingin tetap bersama Emilia. Jika Ia tidak bersamanya, Ia tidak dapat melindunginya. Ia tidak dapat melakukan apapun untuknya. Ia tidak berpura-pura terhadap perasaannya, Ini hanyalah anggapannya yang menganggap keberadaannya diperlukan untuk menolongnya. Ini tidak ada hubungannya dengan dirinya yang ingin mendapat balasan atas perbuatannya, Ini hanyalah sesuatu yang murni ingin dilakukannya.

Ekspresinya Emilia menunjukkan keheranannya terhadap kegigihan dari ucapan yang di lontarkan Subaru. Memutuskan kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuat dirinya(Emilia) mempertimbangkan keputusannya, Ia melanjutkan penjelasannya.

"Nggak ada gunanya kamu mencoba menghentikanku. Aku tetap ingin pergi bersamamu. Aku nggak ingin ditinggalkan begitu saja. Entah mau itu 'Sanctuary' atau Roswaal yang ingin kita tuju, nggak ada yang bisa menghalangi rasa cintaku yang membara——" (Subaru)

"Tidak mungkin aku meninggalkan mu disini. Ikutlah bersamaku" (Emilia)

"Aku nggak mau ditinggalin kamu, gak gak GAK! —bentar, kamu bilang apa tadi?" (Subaru)

Subaru, yang hampir ingin roboh dan ingin memohon-mohon dan meminta-minta, menanyakan pertanyaan ini.

Melihatnya, Emilia meletakkan tangannya di bibirnya, pipinya sedikit memerah.

"Seperti yang udah aku bilang, ikutlah bersamaku. Aku gelisah nanti kalau cuma aku sendiri yang pergi" (Emilia)

"Eh, Emilia-tan......" (Subaru)

"Subaru, Aku percaya padamu. Aku pikir kamu nggak lemah kok, atau bodoh. Aku, membutuhkan kekuatanmu" (Emilia)

"———" (Subaru)

Ucapan itu tidak pernah terbayangkan oleh Subaru. Mulutnya menganga, Emilia terlihat bingung melihat sikapnya Subaru itu. Mengangkat tangannya, seolah-olah dirinya bingung ingin menyentuh Subaru atau tidak,

"Ah, uhm, ap, apa ada yang salah? Apa aku ngomongin sesuatu yang aneh lagi?" (Emilia)

"Rasa motivasiku berada dalam genggamanmu. Mau nantinya rasa motivasiku ini akan menjadi ada atau nggak ada, itu semua tergantung dari ucapanmu. Aku tidak dapat berbuat apa-apa" (Subaru)

Sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Subaru mengeluarkan ucapan manisnya kepada Emilia. "Eh? Eh?? Maksudmu apa?", tidak dapat menyadari apa maksud dibalik ucapannya itu, Emilia pun bingung harus bagaimana membalasnya. Melihat dirinya begitu kebingungan, Ia hampir ingin mengusap wajah Emilia. Bagaimanapun juga Subaru hanya mampu memegang tangannya, menikmati setiap sisi dari gengamannya.

"—Sepertinya kalian telah membuat kesepakatan" (Frederica)

"Gyaa—!?" (Subaru)

Interaksi mereka, yang mana terlihat seperti dua orang yang sedang bercumbu, secara tragis dihentikan dengan munculnya suara ketukan dari pintu diikuti dengan masuknya Frederica.

Emilia tidak terkejut dengan kedatangannya, tapi Subaru, berusaha keras untuk menyembunyikannya perasaan deg-degan nya, tidak dapat berbuat apa-apa melainkan menoleh kearahnya(Frederica). Meskipun Frederica seharusnya dapat dengan mudah membaca perasaan Subaru, namun tidak ada nampak tanda-tanda terkait hal itu dalam sikap tenangnya, tapi tetap terlihat menunjukkan ekspresi mengerikannya.

"Aku nggak keberatan tentang kalian yang ingin pergi ke 'Sanctuary'. Akan tetapi, persiapannya akan membutuhkan waktu sekitar dua hari" (Frederica)

"Persiapan itu, apa itu berarti kau ingin ikut pergi bersama kami juga?" (Subaru)

"Nggak juga. Sebagaimana aku masih bertugas disini, Aku tidak bisa menemani kalian pergi. Aku lebih memilih untuk menunjukkan arah jalan yang menuju 'Sanctuary' kepada naga darat yang kau bawa bersamamu" (Frederica)

"Maksudmu si Patrasche?" (Subaru)

Subaru membuka lebar kedua matanya terhadap hal yang tidak Ia perkirakan itu. Reaksinya mendapat balasan "Yap, Kenapa memangnya" dari Frederica, yang melanjutkan penjelasannya seolah-olah itu sudah jelas.

"Naga darat itu makhluk yang cerdas. Kalau kau melatihnya dengan benar, mereka dapat mengerti jalan mana yang benar tanpa memerlukan pemandu jalan lagi. Selagi ia tampaknya sangat pintar, menurutku ini tidak akan menjadi masalah" (Frederica)

"Oh Patrasche, kamu semakin lama semakin berguna! Beneran dah, apa sesungguhnya yang membuat hal ini terjadi?" (Subaru)

"Lebih penting lagi, ada beberapa hal yang harus aku katakan pada kalian berdua" (Frederica)

Subaru memiringkan kepalanya mencoba untuk memahami partner nya (Si patrache), tapi Frederica mengabaikan pertanyaannya, menegakkan tubuhnya yang kuat, Ia melihat kearah kedua orang itu,

"Kalau kau ingin pergi ke 'Sanctuary', ada beberapa hal yang aku ingin kalian mengingatnya. Terutama Emilia, Aku ingin kau berhati-hati terhadap masalah berkaitan dengan umurmu dan penampilanmu" (Frederica)

"——Ya, Aku sudah mempersiapkan diriku. Bagaimanapun juga, Aku udah dengar kalau tempat itu dipenuhi oleh masalah yang cukup rumit" (Emilia)

Terhadap peringatan yang diberikan Frederica, Emilia menunjukkan tatapan serius, kedua matanya terlihat penuh dengan tekad. Untuk menunjukkan bahwa Ia menghargai keputusan Emilia, Subaru berjalan ke samping dirinya.

"Terus terang, Aku nggak tahu apapun yang berkaitan dengan tempat itu kecuali panggilannya yang disebut 'Sanctuary' .....tapi tujuanku yang paling penting ialah mendukung Emilia-tan. Jadi aku akan mendengar apapun yang ingin kau katakan" (Subaru)

"Sebenarnya, aku merasakan adanya motif tersembunyi darimu" (Frederica)

Kejengkelan dan rasa takjub tampak pada kedua mata Frederica di saat yang bersamaan, lalu, berkedip sekali, Ia menurunkan rasa sentimennya, dan mengangkat jarinya.

"Kalau begitu, akan kuceritakan kepadamu mengenai 'Sanctuary' ini. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kalian ingat" (Frederica)

"Yang harus kami..." (Subaru)

"...Ingat?" (Emilia)

Subaru dan Emilia memiringkan kepalanya secara bersamaan. Melihat kejadian ini, Frederica mengangguk sambil mengucap 'YAP', dengan suaranya yang dipelankan.

"——Berhati-hatilah dengan seseorang yang bernama Garfiel. Saat berada di Sanctuary, kalian berdua harus berhati-hati, jika bertemu dengan orang itu" (Frederica)

No comments:

DMCA.com Protection Status