Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu Chapter 7 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu Chapter 7 Bahasa Indonesia

December 25, 2016 Pipo Narwastu


Translator: Alice
Proofreader: Ise-kun 

Chapter 7 : Mimpi yang Naga Itu Perlihatkan Kepadaku.

"Hm? Ini.. Dojo klub panahan?" (Makoto)

Bagian dalam pikiranku terasa tidak jelas. Kenapa aku disini?

Tiba-tiba.... Bukan, kan?

Jika aku didalam dojo, sekarang adalah waktunya aktivitas klub. Kegelisahan aneh itu menghilang saat aku menyusun kembali pikiranku.

Aku masih menggunakan dogi-ku.
(TLnote: dogi = seragam yang digunakan untuk latihan dijepang)

Di tanganku, aku memiliki busur panahku.

Ini adalah tempat dimana aku seharusnya berada huh. Tentu saja, setelah mengantarkan kepergian mereka semua, aku berlatih sendirian menggunakan busur.

ini tak bagus. Pikiranku menjalar kemana-mana dalam sedikit waktu dimana aku bisa tetap disini.

"Aku merasa kalau Kapten akan marah padaku lagi" (Makoto)
(TLnote: Kapten = ketua klubnya makoto)


Untuk mengubah moodku, aku duduk dan memutuskan untuk melakukan 'mengenai ke tengah-tengah'

Tembak. Kena.

Tidak ada lawan.

Melanjutkannya, menggunakan panah lain. Kena.

Target yang berada di depanku terkena panahku. Aku mengeluarkan panah bambu dan panah tembakan yang tersisa.

"Un, kondisiku bagus" (Makoto)

Sekarang kalau aku pikir-pikir lagi, sebentar lagi waktunya untuk mengganti posisi huh.

"Kaptennya pasti adalah Higashi. Aku penasaran siapa yang akan menjadi wakil-kapten" (Makoto)

Mu. Lagi, hatiku berisik.

Untuk "mengenai ditengah-tengah'ku jauh dari sasaran bukanlah sesuatu yang sering terjadi.

Mengapa?

Aku menaruh busurku kesamping sekarang dan duduk seiza.

"Wakil-kapten. Wakil-kaptennya.. adalah aku? (Makoto)

Aku menemukan alasan dari kegelisahanku.

Hal membingungkan macam apa ini.

Meskipun, aku tidak ingat ingin menjadi wakil-kapten. Apa tiba-tiba aku menjadi orang yang ambisius?

Kalau begitu, setidaknya aku seharusnya mengincar posisi kapten. Aku benar-benar sederhana ya.

Lebih seperti, perubahan posisi seharusnya 'belum' terjadi.

Setiap tahun sebelum liburan festival bon, para senpai akan mengumumkan kapten dan wakil-kapten yang berikutnya. Mungkin di dalam kelompok, mereka sudah memutuskan ini dari dulu.

Seharusnya itu adalah adatnya.

Aku melihat di sekitar dojo.

Aku melihat sebuah bayangan yang tampaknya sedikit bergerak. tapi ketika aku mencoba melihatnya lagi, tidak ada satupun orang disana. Ilusi optik?

yah, jika tidak ada satu pun yang mendengarnya, itu tidak apa-apa sih.

"fu.." (Makoto)

Perasaanku tenang.

Tembakan ketiga berada tepat di tengah. Panahnya menembus panah yang sebelumnya tertancap disana. Entah gimana bisa seperti itu sih.

Ayo akhiri latihan hari ini.

Tiba-tiba memutuskan untuk menyelesaikannya lebih dulu, aku pergi dengan sedikit menyesal. Jika kondisiku bagus, pasti aku akan sudah melanjutkannya.

Di dalam pandanganku, aku melihat wadah alatku.

Aku menemukan ada busur pribadi yang biasa kulihat.

Itu benar, sebelum menyelesaikannya, aku akan selalu menggunakan yang itu setidaknya sekali. Kenapa aku bahkan hampir lupa untuk melakukan itu?

Suatu kecemasan mendorong kegelisahan didalam diriku.

Memegang busur, aku menarik benangnya. Dibandingkan dengan yang sebelumnya, busur ini memberikan lebih banyak daya tahan. Namun, yang itu untukku terasa lebih nyaman.

"Fu!!" (Makoto)

Tidak sengaja aku mengeluarkan suara dari sensasi ini yang belum kurasakan untuk waktu lama. Aku sudah melakukan ini setiap hari Namun kenapa aku merasa seperti ini?

Panah yang kutembakkan ke tempat yang lumayan jauh dari target itu pun menembusnya.

Sial. Meskipun aku selalu mencoba untuk tidak mengenai sasaran.

"Tidak ada pilihan lain. Meskipun mengambilnya cukup merepotkan" (Makoto)

Menghela napas panjang, Aku kesana untuk mengambil panah, lalu setelah mengakhiri pekerjaan merepotkan tadi, aku meletakkan semuanya sesuai dengan urutannya dan selesai menggantinya.

Mengganti bajuku ke seragamku, Aku selesai memeriksa semuanya lagi dan menuju keluar.

Di tempat itu, seorang gadis berada disana.



"Senpai, otsukaresama (TN: terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini)"

Orang yang mengatakan kalimat itu adalah kouhaiku.
(TLnote:Kouhai = adik kelas)

Aku ingat bahwa dia adalah gadis yang telat bergabung di klub kami. Dia benar-benar orang yang bersemangat dan dapat mengejar kemampuan senpai-senpainya dengan cepat dan sekarang bahkan sudah melampauinya

Lagipula, tidak banyak orang yang memiliki pengalaman dalam pemanahanan sebelum SMP. Orang yang berpengalaman mengatakan demikian.

"Ah, Hasegawa huh. Ada apa? Apa kau terus disini sampai sekarang?" (Makoto)

"A, ya. Aku, sebelum liburan, ada sesuatu yang harus aku.. kau tahu kan.." (Hasegawa)

"N? Kalau itu untuk mengenai target, kau sudah melakukannya kan?" (Makoto)

Kalau aku tidak salah, dia memberitahuku dia memiliki tujuan seperti itu.

Tapi kalau aku ingat-ingat, dia sudah mencapai tujuannya pada bulan juli, saat dia mengenai kepala target.

Di mataku, itu adalah tembakan kebetulan. Dan itu bukanlah di tengah tapi cuma mengenainya.

Meskipun jika itu hanyalah kebetulan, itu berarti bahwa dia sudah meraih tingkat dimana dia bisa mencapainya.  Perkembangannya cepat. Setidaknya dia jauh lebih cepat dari pada aku.

"Tidak, bukan itu, a~... Apa kau tidak tahu!?" (Hasegawa)

"Tentang apa? Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Aa, Apa kau melupakan sesuatu?" (Makoto)

Bahu Hasegawa sedikit terkulai setelah mendengar kata-kataku.

Gadis itu menundukkan kepalanya ke bawah, rambut hitamnya yang merona merah oleh cahaya itu bergoyang karena angin. Sama seperti saat aku mengajarkannya tentang postur, rambutnya diikat dengan gaya rambut ponytail disamping.

Sebuah gaya rambut ponytail selamanya akan menjadi suatu romatisme diantara laki-laki, tapi gaya ikatan rambut samping juga memiliki maknanya juga.

Melihat gadis itu dengan gaya rambut yang berbeda dan ia juga membantuku melakukan hal-hal baru yang telah kulakukan, secara tak sadar aku memberitahunya 'itu cocok untukmu'.

Kemudian gadis itu selalu datang dengan gaya rambut yang sama, itulah yang membuatku mengingat nama gadis itu.

Aku yang memiliki rambut pendek belum pernah mencobanya sebelumnya tapi dengan rambut miliknya itu, apakah itu tidak sakit saat dia mengikatnya seperti itu?

“Misumi-senpai” (Hasegawa)

Suara gadis itu membuatku kembali dari lamunan-ku.

"Un? Apa?" (Makoto)

Jika itu mengenai kesusahannya, aku harus membantunya untuk mengatasinya. Tentu saja, itu harus pada jangkauan dari apa yang bisa kulakukan. Sebagai seorang senpai, aku ingin memperlihatkan kecakapanku.
(TLnote : senpai=kakak kelas)

"Aku sudah mengagumimu untuk waktu yang lama, aku menyukaimu. Tolong, pacaranlah denganku" (Hasegawa)

"??"

“??”

“??”

Keheningan yang luar biasa. Meskipun seharusnya ada suara-suara yang lain. Shh, aku tak bisa merasakan ataupun mendengar apapun.

...Ya?

Apa yang gadis ini katakan?

Akusudahselalumengagumimu?

Akumenyukaimu?

Tolongpacarandenganku?

Apa yang barusan kukatakan? Aku bahkan tidak semenarik itu. Aku ingin bilang bahwa apa yang di dalam itu lebih penting, tapi berdasar dari selera orang, tipe orang seperti itu sangat langka. Sejenis tingkat yang seperti itu.

Mengenai belajar, Yah hanya dimata pelajaran yang aku suka tapi aku biasa-biasa aja mengenai itu.

Selain dari panahan, dipelajaran olahraga. Aku berada di pertengahan atas, bukan. tepat di tengah. (TLnote:nilainya)

Terlebih lagi, kouhai didepanku ini mengagumiku, sedikit, sedikit!

Sedikit okay!?

Namun, di klub, terutama gadis ini, seharusnya dia tidak memiliki sejenis perasaan seperi itu sih?

“Sen,pai?” (Hasegawa)

Setelah pengakuannya, dengan takut dia menaikkan kepalanya yang menunduk. Hasegawa menatapku dengan sungguh-sungguh.

Kau harusnya terlihat lebih ceria, te! Sekarang bukan waktunya untuk itu.

"Tidaktidaktidak. Tunggu, tolong tunggu" (Makoto)

Aku membayangkan situasi. Untuk bisa memahami skenario sekarang ini, aku harus menanyakan beberapa pertanyaan pada gadis itu. Pertama, dari poin yang paling penting.

"Kau, apa yang kau katakan pada hari pertama saat kau mendaftar ke klub, apa itu?" (Makoto)

"Itu? (Hasegawa)

"Dengan pasti kau menyatakannya meskipun aku tidak menanyakannya, bahwa kau sudah memiliki pacar bukan? Apa itu? Apa kau bilang kau sudah putus dengannya!?" (Makoto)

"Itu sebelum aku memasuki klub, temanku memberitahuku mengenai Ibuki-senpai. Aku pikir aku harus melindungi diriku, jadi tak sengaja aku..," (Hasegawa)

"Itu bohong!? (Makoto)

"Ya" (Hasegawa)

Sungguh kata-kata yang menyentuh! Maksudku, untuk berpikir kalau temannya akan sekhawatir itu sampai ke suatu titik dimana dia berhati-hati saat dia memutuskan untuk bergabung, semuanya karena teman buruk-ku yaitu Ibuki ini (nangis T_T)

"Tapi kau, saat aku mencoba memperbaiki postur tubuhmu, kau mencoba memukulku dengan busur sambil bilang 'Hiaaaa!!!' atau sesuatu semacam itu dan berteriak cukup keras" (Makoto)

Itu sebabnya, agar dia tidak salah paham, aku selalu mengingatkan diriku untuk meminimalkan jumlah sentuhan dengannya.

Awalnya, aku menggunakan metode untuk meminta salah satu anggota perempuan untuk mengajarkannya apa yang kuberitahukan padanya, tapi.

Itu akan butuh bantuan dari 2 orang, jadi aku memutuskan itu sangat sia-sia dan menghentikannya.

Jatuh cinta karena itu? Tidak, itu mustahil! Kalau memang seperti itu, aku pasti akan sudah punya pacar sekarang!

Seberapa tidak populernya aku? Yah, itu sampai di titik dimana aku ingin menyegelnya di sejarah gelapku. Seperti itulah seberapa tidak populernya aku sekarang.

Jika aku menyebutkannya satu demi satu, aku akan berakhir berdiri disini seharian, jadi aku ingin menahan diriku untuk melakukannya.

"Itu karena kau menyentuhku secara tiba-tiba? Jadi tak sengaja aku melakukannya. Senpai datang dari belakangku saat hatiku belum siap jadi.." (Hasegawa)

"A~ begitu ya, aku minta maaf. Hey, Hasegawa" (Makoto)

"Ya" (Hasegawa)

"Aku minta maaf, aku tidak berniat untuk pacaran denganmu. Ini mungkin kuno tapi aku ingin mulai pacaran saat aku jatuh cinta. Itu sebabnya jika kau tiba-tiba memberitahuku itu, aku tidak bisa menerimanya" (Makoto)

Kesempatan ini mungkin tidak akan datang lagi untuk kedua kalinya, tapi 'aku akan menyukainya setelah aku pacaran', sejenis pemikiran seperti itu, aku menentangnya.

Jika aku menyukai seseorang, aku akan menembaknya sendiri dan kemudian jika dia menerima, aku, kami akan berpacaran. Itulah bagaimana aku menginginkannya.

Aku memang berpikir itu bodoh. Ibuki juga sering memberitahuku itu. Lalu jika ada seorang gadis yang menyukaimu dan menembakmu, kau akan menunggu sampai kau memiliki perasaan yang sama untuknya untuk menembaknya dan menolak semua gadis-gadis itu? Adalah apa yang dia katakan.

'Apa salahnya jatuh cinta saat berpacaran?' itulah kata yang dia beritahu padaku, kupikir itu memang benar dan aku mengerti itu, tapi tidak peduli apapun, perasaanku tidak akan menerimanya. Aku memang bodoh.

"Aku tidak mau!" (Hasegawa)

"Eeee!?" (Makoto)

Apa-apaan dengan keadaan ini?

Ini tidak masuk ke dalam perkiraanku.

"Kalau begitu, tidak apa kan kalau itu cuma waktu percobaan! Setelah itu tolong jatuh cinta denganku! Apakah tidak bagus, senpai? Ma..Makoto-san!" (Hasegawa)

Bufuwu!!

Apa-apaan perkembangan mustahil ini? Game? Sejenis love game macam apa ini?

Bahkan dengan satu di dalam banyak kesempatan, ini keterlaluan! ini terlalu gampang untuk cowok.
Dengan perhitungan macam apa, segalanya jadi seperti ini!?

Aku sedikit panik.

"H-Hey Hasegawa! Kau, apa itu tidak apa denganmu!?" (Makoto)

"Tolong panggil aku Nukumi! atau apakau kau.. sebenarnya kau sudah memiliki gadis lain di hatimu!?" (Hasegawa)

"Tidak, tidak ada sih, tapi.." (Makoto)

Nadanya sedikit kasar. Untuk ditekan sepanjang waktu terasa seperti ini, huh.

Terlebih lagi saat aku mencoba berpikir sedikit dan menundukkan kepalaku, tubuh yang berkembang baik dimana aku bisa mengetahuinya bahkan dengan melihatnya menggunakan seragamnya, aku tidak bisa tidak sesopan itu dengan melihatnya.

Arah pandangku beralih ke payudaranya!

Pada akhirnya aku harus bicara padanya sambil menatap langsung ke arah wajahnya.

"Tidak apa kan!? Percobaan, jika setelah itu kau menolakku, aku tidak akan menangis, jadi..." (Hasegawa)

Itu bohong! Kau pasti akan benar-benar menangis dengan kondisi yang sekarang.

Uuhh...

Aku tak bisa menolaknya.

"Yah, kalau kau benar-benar baik-baik saja dengan itu. Tapi aku ingin mendengar satu hal terlebih dahulu. Kenapa aku? terasa menyedihkan untukku mengatakannya, tapi apa yang membuatmu jatuh cinta?" (Makoto)

"Penampilan senpai saat menggunakan busur seperti tadi" (Hasegawa)

"Kau melihatnya!?" (Makoto)

ia pun mengangguk.

"Saat pertama aku melihatnya, adalah saat aku mengintipmu yang selalu pulang terakhir" (Hasegawa)

"..Lalu?"

"Kupikir, itu sangatlah indah. Saat itu, bukan hanya di klub, tanpa memiliki ketertarikan terhadap apapun yang lain, aku berlatih dengan busur setiap hari. Untuk masuk kesini, aku berusaha keras jadi saat aku lolos, tujuanku tiba-tiba menghilang" (Hasegawa)

"??"(Makoto)

"Lalu, melihat sosok senpai berkali kali, aku.." (Hasegawa)

"Kau melihatku berkali-kali!? (Makoto)

Aku bahkan tidak menyadarinya. Betapa cerobohnya aku ini.

"Aku mulai berpikir kalau aku ingin tahu lebih banyak mengenai orang ini. Itulah sebabnya aku memasuki klub memanah" (Hasegawa)

Jadi itu sudah dari awalnya. Untuk berpikir kalau kesenangan pribadiku setelah berlatih sudah dilihat dan terlebih lagi oleh seseorang yang bahkan bukanlah anggota klub. Dari sekarang, aku akan menahan, aku tidak bisa melakukan itu. Mari lebih waspada terhadap sekeliling dari sekarang.

"Memberitahumu setelah aku bergabung itu.. tidak bagus lagi jadi" (Hasegawa)

"oh, oh begitu. Terimakasih Hasegawa. Aku sedikit senang" (Makoto)

Aku menghentikan gadis yang mencoba melanjutkannya itu dengan kata terimakasih. Dia merasakan sesuatu dariku setelah melihatku menggunakan busurku. Lagipula, Ini pertama kalinya aku mendengar itu dari seorang gadis dari generasiku.

“Nu.Ku.Mi desu!” (Hasegawa)

"Aku minta maaf, itu bukanlah sesuatu yang bisa diperbaiki dengan usaha. Untuk saat ini tolong maafkan aku. Dan hari ini ayo kita pulang. lagipula ini sudah larut dan gelap. Stasiun dekat dari sini jadi kau seharusnya baik-baik saja kan?" (Makoto)

"A, ya! entah kenapa, setelah aku mengatakannya, aku merasa segar. Senpai, di musim panas, ayo kita banyak bermain, okay?" (Hasegawa)

"Ya, aku sudah tidak sabar lagi untuk melakukannya" (makoto)

Aku melambaikan tanganku ke arahnya. Tiba-tiba aku merasakan suatu deritan dan perasaan yang tidak nyaman. Aku merasa seperti sesuatu di dalam diriku berteriak keras.

Aku sudah ditembak untuk pertama kalinya di hidupku, lagipula ini adalah peristiwa yang sangat penting. Di saat aku melihatnya pergi, tidak aneh kalau diriku merasa sedikit aneh.

Yah aku belum 'melakukannya' sendiri. untuk sekarang.
(TLnote: melakukan maksudnya nembak cewe)

"Wa~ aku terkejut. tak kusangka ini akan terjadi padaku di dalam hidupku" (Makoto)

Memakai sepatuku, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan dojo.

"Kau pulang larut sekali, misumi"

Ditempat itu.

"Higashi" (Makoto)

Teman sekelas yang kupikir memiliki kemungkinan besar menjadi seorang kapten.

Dengan punggungnya yang bersandar di dinding luar, dia menatapku dengan ekspresi yang canggung.

—-

"Sedikit mengejutkan, Misumi sudah mulai melangkah maju juga" (Higashi)

"Y,yeah" (Makoto)

Aku dan Higashi Azuma. Dari gerbang sekolah, aku menemani Higashi dalam perjalanan pulang.

Tanpa ragu, dia melihat kejadian yang merubah kehidupan yang baru saja terjadi tadi.

Aku merasa bahwa tidak biasanya Higashi terlihat gugup, tidak ragu lagi mengenai itu.

Disaat-saat seperti ini, apa yang harus kubicarakan, aku benar-benar tidak tahu.

"Aku tidak berpikir, aku akan bisa menyaksikan kejadian seperi itu. Saat aku melihat orang-orang dari klub, itu bukanlah hal yang mustahil, tapi.." (Higashi)

Menumpahkan senyuman pahit, Higashi menatapku. Tinggi matanya seharusnya sama denganku, namun aku merasa seperti dia sedikit lebih tinggi sekarang. Aku masih dalam masa remaja, jadi aku masih ada kesempatan kan!? (TLnote: untuk tumbuh tinggi mungkin)

"Tapi, aku minta maaf! Aku tidak menduga situasi seperti itu terjadi padamu! Tidak seperti aku datang kesini mengetahui kalau itu akan terjadi, jadi aku benar-benar minta maaf!" (Higashi)

"Apa yang mengganggumu terasa benar-benar kasar. Meskipun itu menyakitkan, aku tak bisa membantah apapun soal itu!" (Makoto)

Mu~ aku merintih.

Sekarang kalau dipikir-pikir lagi.

Higashi pasti memiliki sesuatu untuk dibicarakan padaku jika dia menungguku disini. Dia bukan tipe yang menguping percakapan orang lain.

Dia memiliki sifat seperti anak laki-laki yang jujur. Bukan hanya karena itu, tapi itulah yang membuat berbicara dengannya menjadi lebih mudah.

Tipe seseorang yang membuat orang iri, yang membuatnya populer diantara pria dan wanita.

Bahkan jika aku berkata seperti itu, tubuhnya tidaklah kurus tapi ia memiliki gaya yang terlihat sehat yang membuatku berpikir kalau dia terlihat feminin. Kesampingkan Hasegawa yang terlihat dewasa sebelum waktunya. Aku mohon, tolong bagilah tinggi-mu denganku.

Yah, tidak seperti lebih besar itu lebih baik.

Gayanya yang bagus dan proporsi tubuhnya yang seimbang membuat gayanya bernilai sempurna adalah apa yang kupikirkan.

Didalam diriku, Higashi terlihat sebagai gadis yang menarik. Jika ada peringkat teman-teman cewek yang ideal, di dalam sekolah tanpa ragu dia akan berada dipuncak.

Omong-omong, ada sebuah ranking ane-sama(TLnote: Kakak perempuan) rahasia dan dia berada diperingkat kedua. Bahwa ada banyak anak kelas 3 yang berpartisipasi juga adalah bagian yang menakutkan. (TLnote: karena dia adalah anak kelas 2)

Bahkan bisa membuat senior mendambakannya, hehe, mari kita batasi dulu disini.

"Yah, Nggak apa-apa kok. Lalu? bukankah kau juga punya urusan denganku?" (Makoto)

Umu? Tunggu sebentar. Dia juga memiliki beberapa urusan. Jangan-jangan?

Sekali lagi aku bertemu dengan suatu gagasan. Aku tak bisa melihatnya sih.

"Ya, yea" (Higashi)

Suara higashi yang terlihat memiliki beberapa keraguan. Nada suaranya juga menjadi lebih rendah. Lalu apakah itu sama dengan yang kupikirkan!?

"Apakah kau juga melihatku saat aku mengerjakan 'mengenai di tengah-tengah' sendiri !?" (Makoto)

"Ha!? Apa-apaan itu tiba-tiba? Yah, aku sudah melihatnya sih" (Higashi)

"Gupooo, aku pikir tak ada satupun yang melihatnya" (Makoto)

Aku merasa dalam penderitaan. Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku.

itu adalah waktu rahasiaku. Untuk alasan itulah, aku menerima untuk membersihkan segalanya setelah semua orang pergi!!

Situasi macam apa ini!!

Ekspresi wajah Higashi seperti 'Reaksi macam apa itu setelah sekian lama itu terjadi'

Aku mengeliat lagi!! Aku terjatuh dalam penderitaan!

"Yah, sesekali. Dan tidak seperti kau menutup dojonya, jadi tak ada rahasia pada awalnya" (Higashi)

"Tapi, dojo memanah itu berada dipinggiran sekolah, kan? Saat aktivitas klub selesai dan semuanya pulang, seharusnya tidak ada seorangpun yang tersisa!?" (Makoto)

"Jika seseorang melupakan sesuatu, itu akan langsung ketahuan kan" (Higashi)

"Aku benar-benar memastikan tidak ada hal-hal semacam itu sebelum aku memulainya, jadi itu mustahil" (Makoto)

"Kenapa kau bertingkah seperti anak manja? Bahkan jika hal itu tidak ada, ada orang yang akan datang sambil berpikir begitu kan? Lebih seperti, itulah bagaimana hal itu terjadi padaku" (Higashi)

"Apa ingatanmu baik-baik saja!?" (Makoto)

"Yah, Lagipula aku kan manusia" (Higashi)

Wu wu, aku merasa benar-benar-benar telah dikalahkan.

"Aku akan melanjutkan percakapan, oke?" (Higashi)

Higashi-san terlihat seperti sedang mengasihaniku.

Tidak apa-apa, hanya lanjutkan saja dengan apa yang ingin kau katakan.

Aku pun menyerah dan mengangguk. Saat aku pulang nanti, aku akan memulai game baru. Akan lebih baik jika itu menyembuhkanku.

"Hari ini, sebenarnya sebelum kegiatan klub dimulai. Para senpai memanggilku dan memberitahuku jika aku ingin menjadi kapten yang selanjutnya" (Higashi)

"Dan?" (Makoto)

Apa yang dia coba beritahukan padaku? Lebih seperti, semua orang kan berpikir kalau kau adalah kandidat nomor satu, kau tahu?

"Dan!? Tidak bisakah kau bereaksi lebih dari pada itu!? " (Higashi)

"E?" (Makoto)

Kali ini, giliran Higashi yang kebingungan. Aku benar-benar tidak mencoba untuk bermain-main dengannya saat aku menjawabnya dengan jujur sih. Karena aku mengerti kalau dia bicara dengan serius.

Sebanding dengan seberapa buruknya wajahku (Aku yang mengatakan ini terasa benar-benar konyol sih), Aku berperingkat sabuk hitam mengenai membaca suasana.

"Biarkan aku menanyakannya dengan cara lain. Selain kau, siapa lagi yang bisa menjadi kapten?" (Makoto)

"E,a, Yah itu, umm, Kau mungkin? " (Higashi)

Disana, tiba-tiba saja dia melemparkannya ke arahku yang berada diluar jangkauan.

"Kau tahu kan, aku tidak akan muncul di turnamen. Aku tidak akan melakukan pertandingan di luar, jadi apa yang akan terjadi pada orang-orang yang berada dipuncak klub kita? Terlebih lagi, klub ini selalu disokong oleh wanita" (Makoto)

Itu benar. Selain dari fakta kalau aku tidak akan berpartisipasi di pertandingan, di klub kami, entah kenapa kaptennya selalu saja wanita.

"Kau mengatakan itu tapi kupikir kau memiliki kemampuan untuk menggulingkan itu sih" (Higashi)

"Hey Hey" (Makoto)

"Selain itu, orang yang paling dihormati di klub itu mungkin adalah kau" (Higashi)

“Hey hey hey!” (Makoto)

Apaan sih itu, hari ini tidak biasanya Higashi menjadi negatif.

Untuk seseorang yang bisa dengan riangnya mematahkan bambu jadi dua, untuk gadis itu, ini benar-benar tidak biasa.

"Itu karena senpai-senpai itu tidak tahu kemampuanmu yang sebenarnya. Aku mencoba untuk merekomendasikanmu tapi pada akhirnya mereka bilang mereka ingin aku untuk melakukannya" (Higashi)

Sejenis rekomendasi berbahaya macam apa yang kau lakukan? Diskusi semacam itu tidak dibawa-bawa ke ane-sama yang lain, jadi aku yakin itu tidak akan terjadi sih.

Untuk berpikir kalau kesempatan itu setipis kertas. Hidup yang semalas-malasnya.

Apakah itu cuma imajinasiku, Aku bisa merasakan keringat dinginku mengalir deras.

Kami berdua pun berjalan bersama sekarang ditengah jalan panjang yang menurun. Saat kami selesai melewati ini, kami pun sampai di area pasar. Ada banyak orang lewat, tapi kami hanyalah satu-satunya yang pulang dari sekolah pada saat ini.

“Hey” (Higashi)

Higashi pun mengatakan itu sambil menoleh ke arahku.

Saat aku menoleh untuk menjawabnya, dia memegang kedua lengan disikuku dengan kedua tangannya dengan erat dan Higashi memutar tubuhku untuk menghadap kearahnya.

Tentu saja, kami saling berhadapan satu sama lain.

Aku merasa kekuatan dari kedua tangan yang memegangku telah melemah sedikit.

"Misumi. Tolong, bisakah kau menjadi Kapten?" (Higashi)

"Higashi, aku tak bisa melakukan itu. Sama seperti yang kupikirkan, semua orang di klub juga berpikir bahwa kau akan menjadi kapten, kami pikir kau bisa melakukannya" (Makoto)

"Itu, kalau Misumi menunjukkan kemampuanmu di depan semuanya, itu seharusnya baik-baik saja! Kalau kau menunjukkan pada mereka, kau bisa menembus panah yang sebelumnya dengan panah yang lain, mereka semua akan menerimanya!" (Higashi)

“Higashi!” (Makoto)

Aku bingung dengan apa yang harus kulakukan, tapi aku melepaskan tanganku yang gadis itu pegang dan sebaliknya, aku memegang kedua bahunya.

Tubuh gadis itu sedikit gemetar, pada saat aku memegangnya, dia gemetar dengan beratnya dan kemudian gemetarnya berhenti. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.

Sedihnya, aku tak bisa memilih kata-kata yang dia ingin dengar. Lagipula sudah jelas kalau Higashi memang memiliki kecakapan untuk menjadi kapten. Itu sebabnya aku harus memberinya kepercayaan diri.

"ini mungkin terdengar biasa-biasa saja, tapi aku tahu kau bisa melakukannya. Orang-orang disekitarmu pasti akan bekerjasama juga. Tidak, aku akan membuat mereka melakukannya! Bagaimanapun, kau, coba saja melakukannya, okay?" (Makoto)

"Benarkah?" (Higashi)

Apakah dia ketakutan? Aku belum pernah berteriak pada Higashi sekalipun. Lebih seperti, dia sangat hebat sampai-sampai tidak perlu untuk melakukan itu. Seseorang yang menyenangkan saat berada disampingku.

Itu benar, gadis ini tidak pernah memperlihatkanku sisi lemahnya. Itu sebabnya melihat Higashi yang berada di depanku ini terasa sedikit sulit bagiku.

"Iya, aku jamin. Tentu saja, aku akan membantumu juga" (Makoto)

"Terus, apakah kau akan jadi wakil-kapten?" (Higashi)

"A~ Tentu saja aku a- Ha!?" (Makoto)

"Kau akan melakukannya, kan?" (Higashi)

Apakah aku ketipu?

Apa aku.. ditipu?

Tidak, Kita kan membicarakan soal Higashi. Ini pasti adalah bagaimana dia benar-benar rasakan.

Aku merasa aku tidak bisa menolaknya. menolaknya disini seolah seperti mencoba menolak permintaan raja dan tertangkap dalam putaran yang tak berakhir. tingkat yang semustahil itu!

"Itu curang~ Ya ya, Aku akan melakukannya, wakil-kapten. Untuk tahun yang panjang yang akan datang, mohon bantuannya, ketua di masadepan" (Makoto)

"Heee~ Kalau begitu, apakah tidak apa kalau aku menanyakan satu hal lagi?" (Higashi)

Dengan matanya yang masih berkaca-kaca, dia memperlihatkanku senyumannya.

Deritan, lagi-lagi sesuatu seperti itu..

Suatu alarm berdering. Dan bahkan terdengar lebih kuat dari sebelumnya. Apa ini?

"Hey, Pacaranlah denganku" (Higashi)

"A~ ya ya. Tunggu, waaaa!?" (Makoto)

"Aha! Itu bagus untuk dicoba. Mohon bantuannya ya, ~?” (Higashi)

“Wa wa wa wa” (Makoto)

"Apa~?" (Higashi)

"Bukan 'Apa?'! Kau tadi lihat kan!?" (Makoto)

Suatu kejadian dimana aku ditembak.

Jawaban dari diriku yang tidak keren dan 'hasil' dari itu semua.

“Yeah” (Higashi)

Dia memberiku jawaban yang menjemukan.

Aku tidak tahu, aku tidak pernah melihat Higashi yang seperti ini sebelumnya. Sejenis wajah 'feminin'nya Higashi.

"Tapi kau dalam masa percobaan dengan Hasegawa kan? Aku tidak keberatan kok?" (Higashi)

“Wa?!” (Makoto)

Seolah-olah seperti memberitahuku kalau aku bisa selingkuh.

Higashi itu? Pada kouhai yang juga menembakku dan mereka berdua berada di klub yang sama?

Kreak,Kreak.

Aku merasakan rasa sakit yang seolah-olah berputar di dalam pikiranku dan alarm yang terus menyertainya.

Ini salah. Ini bukan Higashi.

"Hal semacam ini tidak pernah terjadi di kenyataaan!" (Makoto)

Lagi. Perasaan yang sama seolah sedang diawasi yang kurasakan di dojo. Tapi ada sesuatu yang berbeda!

"Jangan berpikir sedalam itu mengenainya. Aku dan gadis itu tidak apa untuk cuma di coba. Kau bisa merasakan kami dengan bebas dan kemudian memilih salah satu yang kau suka. Aku, kalau itu Misumi, Aku nggak apa menjadi yang kedua, kok?" (Higashi)

Dengan wajah yang segar, Higashi dengan lembut berjalan kedepan. Kearah dimana aku berada. Tangannya diletakkan diatas dadaku. Dia menekuk lututnya sedikit, wajahnya dekat dengan pipiku.

Kreak! Kreak! Kreak! Kreak!

Ya, ini salah!

Bau rambutnya Higashi masih membangkitkan nafsu didalam diriku. Tapi!!

Ini salah! Itu tidak 'seperti' ini!

Kenyataannya.

Didalam ingatan yang berada di dalam diriku!

Itu adalah sesuatu yang meninggalkan kenangan yang jauh lebih buruk.

Kreak. Rasa sakit dari alarm itu melemah. Sebagai gantinya, sekeliling mulai melemah. Apakah itu karena air mata? Tidak, bukan itu!

Itu adalah ingatan yang berat tapi itu masihlah ingatan yang penting! Itu, itu bukanlah hal bodoh semacam ini!

Hasegawa dan Higashi.

Mereka keras kepala, tapi mereka tidak sekuat itu mengenainya! Dua orang yang telah kusakiti!

Itu sebabnya ini...

Kepalaku mulai mengetuk. Alarm itu pun berlanjut. Tapi itu lemah. Itu benar, alarm itu adalah kenyataanku.

"ini bukanlah kenyataanku" (Makoto)

Seberapa lemahnya aku ini, aku malu pada diriku yang dipermainkan sampai ke titik ini.

Aku malu pada diriku yang pastinya sudah menginginkan mereka berdua ini untuk melakukan permainan bodoh semacam ini.

Air mata yang mengalir karena penyesalan ini, aku menghapusnya dengan lenganku.

Dunia yang membelok dengan beratnya.

Untuk berpikir kalau ini adalah sebuah ilusi.

Aku yang sudah mengerti seluruh situasinya, sekarang sedang melihat dunia disekitarku lagi dengan tegas.

Di sana aku, berada di dalam kabut yang sangat, sangat dalam.

"Ini sama sekali bukan pada tingkat fatamorgana. Sial, Sialan!!" (Makoto)

Kalau aku sedikit ceroboh, aku pasti akan tertelan oleh ilusi itu lagi. Lain kali, dengan keinginan duniawi macam apa, yang mengenai orang lain yang tak kan bisa kutemui lagi yang akan kunodai?

Hal semacam itu, aku tidak ingin melihatnya lagi. Aku tidak akan bisa menerimanya.

Tapi, sebelumnya, aku memikirkan cara yang jelas untuk keluar dari sini. Aku harus memukul dinding dari dunia kecil ini setidaknya sekali atau hatiku tidak akan puas.

Aku harus terbebas dari rasa penyesalan dan kesedihan ini. Tidak, aku tidak bisa pergi tanpa melakukannya.

"Shen, aku berterimakasih padamu untuk mengingatkanku pada kesedihanku" (Makoto)

Tanpa usaha, aku menemukan dinding. Dinding yang mengelilingiku di kabut yang dalam ini.

Aku minta maaf, Ibuki. Teman burukku yang penting. Aku sudah selalu ingin memberitahuku sesuatu dan karena sifat malu-ku aku tak bisa memberitahumu.

Tapi ini adalah dunia lain. Seperti bicara dengan bahasa asing, mengatakannya disini sama saja dengan mengatakannya pada sumur atau-pun pohon, jadi tak ada masalah kan?

Temanku di duniaku yang sebelumnya. Kelakuannya setelah melihat rupaku yang memalukan, mengapung didalam pikiranku.

Tentu saja, aku terlalu malu untuk mengatakan apapun yang membuatnya seolah-olah dia yang salah, wajah diriku yang aku ingin pukul 'juga' muncul didalam pikiranku.

"Bagaimanapun, kau..!" (Makoto)

Kemarahanku sudah terasa tenang, jadi aku membisikkan aria dari brid berkali-kali.

"Terus menyebut-nyebut gadis ini dan itu!!" (Makoto)

Aku berdiri teguh di permukaan dengan kaki kiriku seolah-olah mencoba untuk menjatuhkannya.

Menggunakan cara menembak lurus yang kulihat di manga tinju sebagai acuannya!

Di tanganku aku membawa bola api!!

"Aku sudah lelah dengan seluruh bualanmu, Ibukiiii!!!" (Makoto)

Pada teman klubku, pada seorang teman yang telah menerima bakat yang tak terhitung banyaknya dari surga, bersama dengan seluruh ketidakpuasanku, aku dengan seluruh kekuatanku memukul dinding!!

——–

Penjelasan :
Chapter ini mungkin tidak jelas dan terlihat 'misterius' mengenai masa lalu dari MC. Jadi apa yang sebenarnya terjadi dikenyataannya, kita belum tahu.

Tapi yang terjadi pasti sudah benar-benar mirip dengan kenyataan.
contohnya seperti dia ditipu untuk menjadi wakil-kapten atau saat dia ditembak cewek. mungkin semuanya benar kecuali pada bagian dimana setelah ditolak, mereka masih terus menyerang :p

Hubungan yang Ibuki dan MC. Ibuki adalah teman yg buruk. Dia menertawakan penderitaan MC setiap kali dia memiliki kesempatan. Dia juga seorang playboy dan orang yang sangat berbakat. MC tidak menyukainya

No comments:

DMCA.com Protection Status