Wagamama Onna ni Tensei Shita yo Chapter 3 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Wagamama Onna ni Tensei Shita yo Chapter 3 Bahasa Indonesia

December 23, 2016 Pipo Narwastu


Translator: KIV

Chapter 3: Datangnya Tuan Rumah

“Nyonya, apa semuanya baik-baik saja?”
Suara seseorang terdengar dari balik kelambu, membuatku terbangun dari tidur singkatku.
“Ya…”
“Nyonya, bagaimana kondisi anda? Makanan anda sudah siap.”
“Kalau begitu, aku ingin berendam air panas terlebih dahulu.”
“Baiklah, saya permisi.”
Berta meinggalkan ruangan dan tak lama, pintu kembali terbuka.
Dia mungkin pergi menyiapkan air panas.
Air panas yang berasal dari sihir.

Benar, sepertinya ini adalah sebuah dunia yang memiliki sihir.
Ada bathtub di sebelah kasur dan di dalamnya adalah air yang berasal dari sihir.
Praktis sekali.

Ngomong-ngomong, Amalie juga punya kemampuan sihir.
Tapi, karena takut menggunakan sihir, Amalie tidak pernah melatih kemampuannya.
Sayang sekali! Mubazirbanget, kan?
Amalie sebenarnya punya cukup banyak kekuatan sihir.
Buktinya, ruangan akan jadi berantakan begitu amarahnya terusik.
Karena tidak pernah dilatih, sihirnya jadi tidak terkendali.
Sihirnya akan terlepas tergantung suasana hatinya.
Amalie yang merepotkan itu adalah aku.

Seharusnya, aku juga bisa mengisi air panas ke bathtub tanpa bantuan orang lain.
Tapi aku tidak pernah melakukannya.
Setiap kali terpikir, aku langsung membayangkan diriku tenggelam atau terbakar dalam air panas.
Bakat yang percuma, ya?

Baiklah, begitu sehat, aku akan mulai berlatih.
Aku sudah tidak sabar~!!

“Nyonya, airnya sudah siap.”
“terima kasih.”
Aku berpegangan pada Berta untuk turun dari kasur.
Kemudian, aku mandi dengan dikelilingi beberapa pelayan.

Tanaka Yuri mungkin akan merasa malu, tapi ini hal biasa bagi Amalie.
Sekarang ini, tubuhku tidak bertenaga, dan setiap langkah yang kuambil jadi berbahaya.
Jujur saja, aku merasa terbantu.
Haa, airnya nikmat sekali.
Aku senang bisa terlahir kembali di dunia dengan budaya berendam, aku benar-benar bersyukur dari lubuk hatku.
(TLN: お風呂 = berendam or something else, terserah)

Setelah berganti pakaian, tedengar suara pintu terbuka dari arah ruang tamu.
“akan saya lihat.”
Berta meninggalkan ruangan.
Dari balik pintu, suara orang yang berbicara dengan pelan dapat terdengar.

“nyonya, tuan telah tiba.”
Ucap Berta yang baru saja kembali ke kamarku dengan tenang.
“eh..”
Begitu ya, dia datang…
Dia tidak datang saat hidupku dalam bahaya, jadi aku tidak berharap dia akan datang saat kondisiku sudah tidak serius.

Hubungan antara suami dan istri rumah ini, tentu saja begitu dingin.
Yah, karena dipaksa menikahi istri yang cerewet, tentu saja membuatmu akan menghindar, kan?
Begitu anakku lahir, suamiku tidak pernah datang menjenguk, dan aku tidak pernah diizinkam datang ke kediaman utama.

Ngomong-ngomong, suamiku dan istri pertamanya tinggal di kediaman utama.
Sedangkan aku, istri kedua tinggal di sebuah rumah terpisah.
Amalie sepertinya tidak puas, tapi sebenarnya kupikir tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Sembari berikir demikian, beberapa pelayan merapikan penampilanku.
Mereka mengeringkan rambut dan merias wajahku.
Berlawanan dengan sifat Amalie yang menggebu-gebu, wajah yang dimiliknya begitu lucu seperti anak kecil.

Ujung mata Amalie yang biasanya terangkat karena marah, sebenarnya sedikit sayu.
Kulit putih yang seperti keramik, mata biru keperakan dan rambut pirang yang begitu lembut membuatnya terlihat layaknya boneka.
“Berta, karena aku baru saja mandi, rias tipis saja sudah cukup, SUamiku tidak akan peduli dengan wajahku.”
“…Baik, Nyonya.”
Begitu persiapan selesai, aku keluar menghampiri Christhard-sama yang duduk di atas sofa.
“maaf membuatmu menunggu.”
“….kau terlihat sehat.”
Saat aku mendekat, Chirsthard-sama berdiri dan melihat tepat ke arahku.
Setelah melihat wajahku dengan sedikit curiga, dia bergegas menuju pintu.
“Kalau begitu, aku akan pergi ke istana.”
“Baik. Selamat jalan.”
Pintu pun menutup.
Atmosfer yang rapuh memenuhi ruangan.
Semuanya terdiam, tak ada satupun yang bergerak.

Apa mereka tenggang hati?
Tidak, ini berbeda, mereka takut pada amarahku.
Biasanya, aku akan membuat sebuah badai besar.
Aku akan mencaci maki dan mencari-cari kesalahan semua orang.
HIdup Amalie benar-benar melelahkan.

“Bisakah kalian menyiapkan sarapan?”
Dengan ucapakanku, tali transparan yang mengikat mereka terlepas dan mereka pun bergerak.

“ba-baik, akan segera kami siapkan.”
Semuanya bergegas meninggalkan ruangan.

“Nyonya…”
“ada apa?”
Berta yang masih bertahan lalu bertanya kepadaku.
“tidak… apakah makanannya perlu saya bawakan ke ruang tamu?”
“Ah, kalau begitu tolong.”
“Baik. Saya permisi.”
Berta membungkuk kemudian ikut meninggalkan ruangan.

Fuh, kejadian yang melelahkan.
Aku ingin segera sembuh.

No comments:

DMCA.com Protection Status