Boku No Heya Ga Danjon no Kyūkeisho Ni Natte Shimatta Kudan Chapter 1.2 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Boku No Heya Ga Danjon no Kyūkeisho Ni Natte Shimatta Kudan Chapter 1.2 Bahasa Indonesia

January 23, 2017 Pipo Narwastu


Translator: ozonajah
Editor: Kirz

Regular chapter adalah tiap 2 minggu di hari Senin
Kuota chapter bonus: 0 ($0/$5)
*Note: Chapter bonus adalah chapter yang rilis di luar jadwal
Untuk meningkatkan kuota: klik dan tunggu 5 detik kemudian klik "skip ad" http://viid.me/qsWwdl

Chapter 1.2: Masalahku Terbawa Pulang

Makhluk hidup yang tergeletak di bawah bayangan tiang yang besar itu, bukanlah sesosok Goblin, tidak salah lagi kalau Ia itu adalah seorang ksatria wanita. Aku yakin dia itu seorang ksatria wanita, bukannya seorang prajurit wanita, karena aku merasakan keanggunan darinya bahkan dari jarak sejauh ini. Ksatria wanita cantik yang ada di cerita-cerita tentang pahlawan yang di panggil ke dunia lain. Kemungkinan wanita ini seperti itu. Dadaku berdebar, dipenuhi kebahagiaan dan perasaan campur aduk, bukan berdebar karena ketakutan.

Tapi apakah itu artinya kalau tidak akan ada Goblin disana?
Kalau berbicara tentang tempat yang mencurigakan, apa mungkin ini hanyalah sebuah tipuan? Mungkinkah ksatria wanita itu hanyalah sebuah umpan? Semua ini memang terlihat mencurigakan, akan tetapi...

[Orang-orang tidak mungkin tidur diatas lantai bebatuan yang dingin seperti itu. Tapi kalau dia itu memang manusia, aku harus segera menolongnya] (Toru)

Kau harus menolong orang yang membutuhkan pertolongan, kata nenekku yang baik hati. Terlebih lagi dia ini seorang gadis... kemungkinan besar dia akan mati jika aku membiarkannya seperti itu.

[Saatnya mengumpulkan keberanianku. Meskipun aku ini cuma penduduk-A, setidaknya aku bisa melakukan ini!] (Toru)
(TL : Penduduk-A = Tokoh yang tidak dipedulikan karena tidak memiliki peran besar)

Aku menumpu kekuatanku pada pickaxe di tanganku, sambil mengatakan itu. Lalu aku pun berjalan ke depan dengan berhati-hati seolah-olah tidak ingin melewatkan satupun suara(Note: Ia waspada terhadap sekitarnya). Sekali-sekali, aku memastikan keadaan dengan memukulkan Pickaxeku ke tanah sebelum melangkahkan kakiku ke depan. Aku berjalan mendekati tiang itu sambil memeriksa sekelilingku, untuk meyakinkan kalau tidak ada satupun Goblin yang muncul dari titik buta ku. Meskipun si ksatria wanita itu tidak bergerak sedikitpun, aku dapat mendengar suara nafas kelelahan darinya... Yah begitulah menurutku.

(EDN: Pickaxe - adalah alat untuk menggali tanah atau membelah batu, diayunkan seperti cangkul, memiliki dua mata, yang satu tajam seperti mata cangkul dan yang satunya lagi runcing seperti pasak)

Aku mendengar tegukannya dan sadar dia baru saja menelan ludahnya sendiri. Apa maksudnya? Apakah si ksatria wanita itu menangis disaat tergeletak di lantai bebatuan ini? Aku mengarahkan senter di kepalaku ke arahnya beberapa kali. Kurasa kali ini aku akan mengarahkan cahaya senter ini langsung ke wajahnya.

Apakah dia itu hanyalah umpan sebagai perangkap ataukah bahaya sedang menglilinginya? Semua kesenangan beberapa waktu yang lalu langsung menghilang dan digantikan dengan ketegangan yang mengerikan mengelilingiku. Tapi, jika kondisi sekarang ini adalah kondisi yang mengancam-nyawa, dia akan terkena bahaya jika aku tidak segera menyelamatkannya.

Aku pun akhirnya melangkahkan kakiku menuju bayangan tiang itu. Tentu saja satu-satunya yang aku perhatikan hanyalah ksatria wanita itu, tapi lama-kelamaan aku juga menyinari dinding, langit-langit, dan lantai dengan senterku. Aku maju dengan perlahan sambil memeriksa semuanya. Ini seratus kali lebih menegangkan dibanding saat aku memasuki kantor agen itu.

Aku sudah sangat dekat dengan ksatria wanita itu. Tidak salah lagi dia itu manusia dan bukan Goblin. Masih ada kemungkinan kecil kalau ini hanyalah sebuah tipuan. Wajah yang sangat cantik itu sekarang dapat terlihat. Tetapi, suara tangisannya benar-benar terdengar lebih keras sekarang.

[Hiks... Hiks...!!]

Kenapa kau menangis? Bahkan, dia masih belum melihat ke arahku. Senter di kepalaku kemudian mulai menyinari setiap ujung dan sudut ruangan. Tindakanku ini memberitahukanku kalau tidak ada orang lain di ruangan ini selain diriku dan ksatria wanita ini. Tapi beberapa langkah dibelakang ksatria wanita itu, di ujung ruangan ini, ada sebuah dinding batu dengan semacam pintu yang sepertinya lebih kuat dari pintu besiku. Di sana juga ada tombol dari batu seperti tombol untuk membuka pintu itu. Mungkinkah ini benar-benar jebakan? Mungkinkah Goblin dengan jumlah yang banyak akan keluar dari pintu itu?

Pelan-pelan dan sangat berhati-hati. Situasi kali ini adalah situasi paling menegangkan dalam hidupku. Akankah situasi kali ini akan berubah menjadi saat kematianku? Aku mengambil batu kecil dan mencoba untuk melemparnya ke ksatria wanita itu tanpa membuat suara apapun. Aku terkejut batu itu langsung mengenai armornya dengan sekali coba.

[Hii... Hii... Hentikan!]

Oh? Bahasa Jepang?
Tidak, bukan itu. Itu bukanlah bahasa Jepang.
Itu adalah bahasa misterius yang bukan termasuk bahasa Inggris juga. Tapi entah kenapa aku dapat mengerti ucapannya seakan-akan itu adalah bahasa Jepang.

Seperti yang kuduga ini adalah perangkap, tapi di saat yang bersamaan gadis di depanku ini benar-benar ketakutan. Waktu mungkin sudah tidak banyak lagi, jadi aku berbicara meyakinkannya.

[A-Ano..... apa kamu nggak apa-apa?] (Toru)

[Ja-Jangan mendekat!!]

[Entah kamu baik-baik saja atau enggak, bisakah kamu bicara menggunakan bahasa Jepang? Aku nggak begitu ngerti sama bahasa asing ini] (Toru)

[Ti-Tinggalkan saja aku sendirian! Kumohon!]

Entah kenapa aku menjadi tenang. Aku masih bisa mengerti ucapannya, walau hanya sedikit. Aku dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang meskipun si ksatria wanita itu menggunakan bahasa asing. Bisa dibilang, sepertinya ksatria wanita itu saat ini tidak bisa bergerak.

[Aku akan ke sana sekarang] (Toru)

[Sudah kubilang jangan mendekat!]

[Tapi kamu nggak bisa bergerak, 'kan?] (toru)

[Aku bisa bergerak! Aku ini bisa bergerak kok!]

[Nggak, kamu nggak bisa...] (Toru)

Sepertinya Ia tidak berpura-pura. Tapi jika benar kalau dia itu memang berpura-pura, dia pasti seorang aktris terkenal. Meskipun aku melihat dia dari jauh, dia benar-benar cantik seperti seorang aktris. Mengabaikan tangisannya, aku dengan hati-hati melangkah ke depan.

[Aku akan datang menolongmu] (Toru)

[Tidak! Berhenti! Jangan sakiti aku! Kumohon jangan bunuh aku!]

Eh? Ksatria wanita itu mengatakan hal yang aneh.
Kami sudah berjarak hanya beberapa langkah saja.

[Apa yang kamu bilang tadi?] (Toru)

[Aku akan melakukan apapun dari mencuci sampai bersih-bersih! Kumohon jangan bunuh aku! Goblin-sama!]

[Go-Goblin!?] (Toru)

Oh begitu rupanya. Sepertinya si ksatria wanita dan aku memiliki pemikiran yang sama kalau orang di hadapannya kali ini adalah sesosok goblin. Tapi aku langsung tahu kalau dia itu seorang ksatria wanita, bukannya seorang goblin, ini adalah kesalahpahaman yang menyedihkan. Nenek bilang padaku kalau aku ini tampan, jadi jangan samakan aku dengan Goblin.

[Oh, apa karena senter ini ya?] (Toru)

Saat aku memikirkan ini dengan seksama, aku bisa melihat dirinya dengan jelas karena cahaya dari senter di helmku. Tapi dari sisi dia, cahaya ini pasti terlalu silau dan membuat dia tidak dapat melihat dengan jelas. Dia pasti hanya bisa melihat bayangan gelap wajahku. Ditambah lagi dia tidak bisa bergerak karena suatu alasan. Aku pun melepas helmku. Dan agar dia dapat melihat dengan jelas, aku pun mendekatkan wajahku tepat di depan wajahnya dan mengarahkan cahaya senter dari bawah wajahku.

[HIIIIIIIIIIII!!!!]

Dia pingsan dengan wajah cantiknya yang tegang.

[Jahat amat!]  (Toru)

Begitulah kataku, tapi aku langsung sadar pasti sangat mengerikan melihat 'wajah yang terkena cahaya dari bawah', di tempat segelap ini.

[Dia benar-benar ketakutan... Tapi kelihatannya Ia masih hidup] (Toru)

Sepertinya tidak ada luka atau semacamnya.
Dia masih bernafas. Dapat terlihat dari pergerakan dadanya yang tertutup armor besi, aku menyimpulkan kalau tidak ada yang salah padanya.

[Sekarang apa? Ah...] (Toru)

Terkena cahaya dari senterku, aku sadar ada semacam cairan keemasan yang mengalir keluar di sekitar bagian bawah tubuhnya. Aku tidak tahu apakah itu keluar dengan sendirinya atau karena dia ketakutan setengah mati sampai membuat dia hilang kesadaran...

[Bahaya kalau kita tetap berada di sini. Terlebih lagi bekas ini akan membuat dia malu] (Toru)

Ambulan tidak mungkin datang ke dalam dungeon jadi aku memutuskan untuk menggendongnya ke area yang aman, Yah, benar, apartemenku. Aku menaruh pickaxe ke sabukku dan menggendong dia.

[Mari kita taruh tangan ksatria wanita ini ke leherku... oke, Aku akan memegangmu dengan erat. Siap, be-berat! Ugh berat amat! Rupanya aku nggak bisa bawa perisainya juga, biarin perisainya ditinggal disini aja dah] (Toru)

Aku memegang pahanya dengan erat dan dengan sempoyongan berjalan kembali ke kamarku. Awalnya. Aku berpikir ini adalah momen terbaikku, tapi saat melihat cairan keemasan itu membasahi bajuku. Yah.. mau bagaimana lagi.

Previous Chapter - Daftar Isi - Next Chapter 

No comments:

DMCA.com Protection Status