Katahane no Riku Chapter 6 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Katahane no Riku Chapter 6 Bahasa Indonesia

January 02, 2017 Pipo Narwastu


Translator: Exicore
Proofreader: Ise-kun

Chapter 6: Seandainya Saja Semuanya Hanya Mimpi

Sudah banyak hari yang terlewati sejak Riku hidup di garnisun.
(Note: Garnisun ‘dari bahasa Belanda garnizoen, sendirinya dari bahasa Prancis garnison’ adalah suatu korps pasukan yang ditempatkan di suatu benteng untuk mempertahankannya melawan musuh yang dapat menyerangnya.)

Tidak ada masalah mengenai kebutuhan sehari-hari. Hidupnya meningkat dalam segala cara dibandingkan dengan saat ia berada di Perikka.

Tapi, tempat itu masih tidak terasa seperti rumah baginya.

Dia pasti akan menyadari tatapan dari banyak mata saat ia ada di aula makan.

Dengan tatapan dingin dan tidak setuju, mereka akan merapat satu sama lain dan memulai pembicaraan di antara diri mereka sendiri. Tapi itu tidak berarti tidak ada yang berbicara kepada Riku. Tentu saja, ada. Hanya Vrusto, yang mana ditugaskan untuk menjaganya, yang berbicara kepadanya. Tapi itu semua sepertinya karena posisinya, karena ia merupakan bawahannya, Vrusto memerintahkannya untuk tetap ada disampingnya.

Riku terbiasa dengan latihan keras dari Vrusto. Dia sudah bisa bertahan dari rasa sakit dari latihan itu tanpa masalah, tapi meski begitu, dia tidak bisa terbiasa dengan tatapan benci yang mereka berikan.

“Manusia terlalu dibenci…”

Saat ia menggerakkan sendoknya yang dipenuhi dengan sup ke mulutnya, ia bergumam.

Vrusto, yang mana duduk disampingnya, mendengarkan hal itu, dan menghembuskan nafas panjang sembari bermain dengan pisaunya.

“Yah, itu sudah jelas. Sampai sekarang, mereka telah menekan kami para Iblis. Lagipula, kau dari keluarga Spiritualist, benar kan? Akan lebih aneh lagi bila mereka tidak membencimu… Bahkan aku, bila tidak diperintahkan oleh Kapten, tidak akan mengurusmu.”

“Mengurus… Aku sudah tujuh tahun.”

“Tujuh tahun itu masihlah seorang bocah. Jangan pikirkan tentang hal itu dan lanjutkan makanmu. Setelah itu, latihan.”

“…Baik.”

Sedikit demi sedikit, dia bisa mendaratkan serangan ke Vrusto, tapi masih ada perbedaan karena pengalaman. Semuanya tidak berjalan sebaik itu. Setiap kali Riku maju untuk menyerang, Vrusto akan membalasnya dengan sesuatu yang dua atau tiga kali lipat lebih hebat dari serangannya. Hal itu sudah pasti akan menjadi pertarungan bertahan yang berat pada satu pihak yang mana membuat Riku hanya bisa menyerang bila Vrusto tidak berhati-hati atau jika ia mampu bertahan dengan baik.

Leivein bilang dia punya bakat, tapi akhir-akhir ini, Riku merasa bahwa hal itu tidak benar. Ia mulai ragu bahwa dirinya punya bakat.

“Sendokmu berhenti bergerak… Makanlah yang benar. Jika kau pingsan saat latihan, itu akan menjadi masalah bagiku, kau thau? Atau apa? Kau tidak menyukai makanannya?”

“Bukan… Bukan itu…”

Riku menggunakan sendoknya untuk mengambil irisan tipis daging dari supnya.

Saat ia masih di rumah keluarga Barusak, dia tidak pernah melihat daging dan sayuran seperti itu dalam sup. Akan ada lebih banyak sayuran dan daging dengan ukuran yang lebih besar. Saat ia menggigitnya, lemak dari daging itu akan cocok dengan sup dan terasa sangat nikmat.

Dia tidak masalah selama dia punya sesuatu untuk dimakan, ia terima. Tapi bagi Riku yang masih berumur tujuh tahun, hal ini membuatnya merindukan rumah.

“Kalau begitu, apa? Ah, benar juga. Apakah kau terganggu karena dagingnya?”

Vrusto tertawa.

Gigi taringnya, yang mana terlihat seakan melihat ke arahnya, bersinar. Riku merasa sedikit takut.

“Jika kau tidak mau, berikan kepadaku. Lagipula, kami Iblis sangat menyukai daging.”

Riku melihat ke arah daging itu.

Irisan tips daging ada di sendok itu.

“Hal yang paling disukai… Iblis…?”

Hal yang paling disukai Iblis.

Hal yang paling diinginkan oleh Iblis.

Dengan kata lain, sesuatu yang Iblis mau dan mereka makan.

Jika ada orang yang bertanya tentang daging apa yang akan mereka rebus, bakar dan makan, maka itu adalah…

“Ugh!!”

Tepat saat ini, di tenggorokannya, sesuatu yang pahit berkumpul dan naik.

Identitas asli daging itu muncul dalam kepalanya. Menaruh tangannya di mulutnya, dia berusaha menekan keinginannya untuk menangis. Bila ada hal yang Iblis paling suka, maka itu pasti adalah sesuatu benda tertentu. Sejak ia datang kemari, setiap harinya, dia pasti akan selalu makan daging. Itu berarti selama ini, dia telah memakan…

“He-hei, jangan terkejut seperti itu! Ini hanyalah daging babi. Bagian yang lebih dalam lagi dari tempat pelatihan adalah peternakan babi, kau tahu?”

“Eh, babi?”

“Ya, babi. Jika itu memang mengganggumu, apakah kau mau kita pergi kesana sebelum latihan?”

Vrusto memperlihatkan ekspresi terkejut. Tanpa sadar, Riku membuka mulutnya. Sakit kepalanya pelan-pelan menghilang. Dia yakin bahwa ia adalah orang yang telah memakan rasnya sendiri dan akhirnya membenci dirinya sendiri, tapi untung saja, ia salah. Telah kembali tenang, ia melanjutkan memakan dagingnya.

“Kau sepertinya kurang mengerti tentang Iblis. Kami membenci Manusia, tapi itu tidak berarti kami akan langsung memakan mereka, kau tahu? …Sebenarnya… Bocah… Apakah kau pernah memakan Iblis?”

“… Tidak.”

“Benar kan? Sama saja dengan kami. Tidak mungkin kita memakan Iblis atau pun Manusia.”

Saat ia meminum sup itu menggunakan sendok, dia mulai memikirkan semua hal yang ia katakan.

Dalam buku dan buku bergambar, selalu tertulis bahwa Iblis memakan Manusia. Ia telah berkali-kali membaca hal ini dan ayahnya juga mengatakan hal yang sama.

Tapi kenyataannya berbeda. Riku memikirkan kemungkinan bahwa Vrusto sebenarnya berbohong, tapi melihat tindakannya, ia sepertinya tidak berbohong.

Kalau begitu, apakah itu berarti ayahnya dan buku itu yang berbohong?

Dia tidak ingin meragukan ayahnya, tapi dia juga tidak ingin berpiikir bahwa Vrusto berbohong. Riku merasa bahwa ia tidak tahu apa-apa lagi. Membuka mulutnya, dia ingin bertanya kepada Vrusto, tapi tepat pada saat itu, sebuah suara keras menggema di aula makan.

“Dengarkan!!”

Pintu itu terbuka lebar.

Karena arah cahaya, ia tidak bisa melihat orang itu dengan jelas, tapi ada bayangan kecil dan besar yang dibuat oleh orang yang berdiri di pintu itu. Dia tidak bisa melihat wajah mereka, tapi dari suaranya, dia tahu siapa itu. Saat ia ingin melihat sumber suara tersebut, ia merasakan tekanan di bagian belakang kepalanya.

“Bodoh! Turunkan kepalamu!”

Vrusto menundukkan kepalanya dengan paksa.

Melihat dengan sudut matanya, dia menyadari bahwa semua Iblis yang ada di aula makan menunduk kepada bayangan itu. Semua Iblis yang memiliki fisik kuat itu tunduk di depan bayangan kecil itu. Meskipun bayangan itu kecil, kehadirannya membuat dampak yang lebih besar daripada bayangan besar di belakangnya.

Bayangan kecil itu… Leivein, melangkah, memasuki aula makan. Kemudian, membuka mulutnya.

“Semuanya, angkat kepala kalian. Kita akan keluar.”

————————————————————-

Kerajaan Shiidoru berada pada puncak masa kejayaannya.

Dengan kekuatan luar biasa dari empat keluarga spiritualist, mereka bisa dengan mudah mencabuti tunas kejahatan yang disebut Iblis sebelum mereka tumbuh menjadi lebih besar.

Semua orang tersenyum dan tidak ada yang menderita. Kerajaan itu seperti bunga yang sedang mekar, dan satu-satunya kesalahannya adalah karena adanya keberadaan Bom Waktu bernama Raja Iblis yang disegel di sana.

Di Kerajaan Shiidoru, setiap setahun sekali; ada sebuah acara yang diadakan sebagai sebuah kebiasaan.

Acara itu disebut; [Gerakan Pembersihan Iblis]

Iblis yang terkutuk; akan terus mengganggu kedamaian dunia dengan tindakan mereka. Banyak kota dan desa yang diserang, dibakar dan makanannya dicuri. Bagi pria, mereka akan menjadi budak, bagi wanita, mereka akan diperkosa, dan bagi anak-anak, mereka akan dimasak. Saat api perang menyebar, para spiritulaist yang dipekerjakan oleh bangsawan akan maju dan menyerang para Iblis saat mereka ada di markas mereka.

Dan kemudian, mereka akan kembali ke Ibukota penuh dengan kebanggaan.

… Membawa banyak kepala Iblis.

Riku pernah melihat parade ini sebelumnya.

Di tengah, ia akan melihat ayahnya. Berdiri di kereta yang ditutupi oleh bunga, sosoknya yang dengan agung melambaikan tangannya ke publik adalah hal yang ia kagumi. Dia hanya bisa bertanya-tanya mengenai berapa banyak kepala yang diputuskan oleh Halberd yang dipegang oleh ayahnya. Membayangkan hal itu saja merupakan tindakan yang angkuh. Pemandangan itu membuat hatinya tenang. Dia memutuskan untuk menjadi seorang spiritualist terkenal sama seperti ayahnya.

Itu adalah sumpah yang ia buat sendiri… Dia akan selalu mengingat hal itu; itu adalah kenangan yang indah.

Itu seharusnya menjadi kenangan yang indah.

“Mungkinkah… Itu hanya skema kerajaan?”

Gumam Riku dengan nada terkejut.

Tempat Garnisun Naga Iblis mengirim lima ratus orang prajurit sudah diduga akan kalah karena serangan para spiritualist. Tanpa diketahui oleh para spiritualist, mreka akan segera mencapai desa itu. Dan kemudian, Batalion Naga Iblis akan memisahkan diri, setiap bagiannya akan terdiri dari seratus orang prajurit, dan mereka akan maju melewati hutan.

“Di balik cerita kepahlawanan, ada banyak hal kotor yang terjadi.”

Saat Vrusot mengambil senjatanya, ia mengatakan hal itu.

Dengan menyamping, ia melihat ke arah Riku; yang mana sedang dalam suasana hati yang buruk, dia terus berbicara.

“Tapi kali ini kita beruntung, kau tahu? Adalah hal yang bagus karena kita tahu desa yang mana yang diserang.”

“Tapi, bukankah lebih baik mengevakuasi semua orang? Bila mereka menyerang, maka… kita hanya perlu membuat desa terlihat seperti sudah ditinggalkan…”

“Bodoh. Jika kita melakukan itu, kita hanya akan menyebabkan desa lain diserang. Untuk mengurangi korban sebanyak mungkin, lebih baik bagi kita; yang berpengalaman dalam pertempuran, untuk bertarung dan memberikan waktu bagi orang-orang di desa untuk lari. Apa? Saat Kapten melihat kesempatan yang bagus, ia akan segera memberikan perintah unutk mundur. Hal yang orang-orang itu inginkan hanyalah kehormatan. Mereka hanya ingin mendapatkan kepala Iblis yang bagus dan menyatakan bahwa itu adalah pemimpin mereka dan menunjukkan bahwa mereka hebat karena telah menghancurkan desa Iblis, meski itu hanyalah desa kecil yang tidak terurus.

Riku melihat ke bawah.

Dia melihat ke bayangan hitam miliknya dan terus menggerakkan kakinya yang ingin berhenti.

Semua yang ia percaya terbukti hanyalah sebuah kebohongan… Seakan ia ada dalam sebuah mimpi buruk.

Sejak hari dimana ia diusir dari rumah keluarga Barusak, mungkin sejak hari itu ia sudah tersesat dalam mimpi. Sembari memikirkan hal itu, dia memperbaiki posturnya yang sedang membawa Halberd miliknya.

“Manusia sangatlah dibenci, iya kan?”

“Sudah berapa kali kau mengatakan hal itu?”

Mendengar perkataan Vrusto, Riku terdiam.

Sekarang dia akan bertarung dalam pertempuran, meski itu adalah hal yang selalu ingin ia lakukan, dia tidak bersemangat.

Dia hanya merasa aneh. Melihat Riku seperti itu, Vrusto mulai menggaruk pipinya dengan kukunya yang tajam.

“Bocah, jangan mati.”

“…Baik.”

“Ah, berhentilah bersikap seperti itu. Jika kau mati, semua waktu yang kubuang untukmu akan menjadi sia-sia. Semuanya akan sia-sia, kau mengerti? Dan kemudian, orang-orang akan berpikir itu karena aku tidak melatihmu dengan benar. Jika hal itu sampai mempengaruhi karirku, apa yang harus aku lakukan? Jika mungkin, kau seharusnya mendapatkan sesuatu semacam piagam dalam pertempuran ini.”

“…Baik.”

“Sadarlah!”

Vrusot memukul punggung Riku dengan keras.

Karena kekuatan itu, ia sedikit terdorong maju ke depan, seakan ia akan jatuh, namun ia berhasil memperbaiki posisinya. Karena itu, ia menatap Vrusto dengan tatapan protes.

“Aku, aku tahu itu! Aku masih belum mau mati… Tapi… Apakah sumber informasi ini bisa diandalkan? Mungkin saja ini adalah tipuan, iya kan?”

“Sebenarnya, sumber informasi ini bisa diandalkan. Aku dengar itu adalah informasi dari Iblis yang menyusup ke dalam Ibukota untuk mendapatkan informasi tersebut setelah lama berusaha. Yah, aku tidak terlalu peduli detailnya.”

“Hei, Vrusto! Kemarihlah!”

Dari depan, seorang Iblis datang dan bersalaman dengan Vrusto. Mereka berdua berbicara dengan akrabnya. Riku berpikir bawha mereka berdua pastilah teman baik.

Dan seakan mengiyakan dugaannya, Vrusto tersenyum lebar.

“Bocah, segeralah menuju ke sana, oke? Ada apa, Seiji? Oh, Frank juga ada.”

Ia meninggalkan Riku sendiri, terlihat begitu senang, dia mulai berlari dan maju lebih jauh lagi.

Bergerak ke samping Iblis yang ia panggil Seiji dan Frank, mereka mulai berbicara, seperti teman dekat. Riku tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.

Mengikuti suasana, ia kembali melanjutkan perjalanan.

Sekarang, karena Vrusto tidak ada lagi di sisinya, dia tidak punya teman berbicara. Jika Leivein ada di dekatnya, mungkin dia bisa berada di samping Leivein. Tapi dia mengomandoi pasukan lain, jadi dia tidak ada. Dan bahkan jika dia ada di sampingnya, Leivein adalah seorang Kapten dari Divisi Naga Iblis. Tidak mungkin dia; seorang tentara yang baru saja masuk, bisa melakukan hal itu dengan mudah.

“Akan bagus bila semua ini hanya mimpi.”

Dia tahu dia tidak bisa terus menerus memikirkan bagaimana kehidupannya sebelumnya. Dia mengerti dia sudah dibuang oleh ayahnya. Tapi…

“Hei, apakah kita akan membunuh anak manusia itu?”

“Tidak juga.”

“Dia tercium seperti manusia, jadi sulit bagi kita untuk tidak menganggapnya sebagai musuh.”

“Apakah kau akan membunuhnya saat pertempuran sedang memanas?

“Lupakan. Sekarang Kapten tidak ada di sini, tapi jika ia mengetahuinya; dia akan menjadi sangat marah.”

“Apa yang Kapten pikirkan waktu itu, ya?”

Dengan tatapan dingin ditambah dengan ucapan mereka, pikiran bahwa ia tidak seharusnya tinggal di sana semakin kuat.

Riku mulai ragu akan keputusannya untuk tinggal bersama para Iblis.

Dia berlari menjauh sebagai seorang pembelot saat perang memanas bisa memberinya kesempatan, mungkin.

Tapi, bahkan sebelum ia mampu berpikir untuk melarikan diri, ia tersadar; ia tidak mungkin bisa bertahan. Riku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.

“Tembakkan panah pemusnah!!”

Dari pepohonan di kiri dan kanan, panah menghujani mereka.

No comments:

DMCA.com Protection Status