Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 14 Part 2 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 14 Part 2 Bahasa Indonesia

January 26, 2017 Pipo Narwastu



Translator: KIV
Editor: Ise-kun

Volume 2 Chapter 4 

Part 2

---Dinding perbatasan, observatori, toko cabang [Thousand Eyes].

“Cepat mandi! Sekarang juga!”

Mengenakan afron bergaya jepang, sang asisten penjaga toko yang tengah berjaga segera menaikkan suaranya begitu melihat Asuka.

“Tidak akan kubiarkan kamu masuk ke dalam toko dengan penampilan seperti itu! Letakkan pakaiannya di sini! Mandi yang bersih! Bersyukurlah karena berendam akan menghilangkan rasa lelahmu! ---Hah? Apa? Luka? Kalau udah mandi juga bakalan sembuh! Karena itu, bilas seluruh tubuhmu dengan bersih agar nanti tidak mengotori bagian dalam toko!”

…Tak lama, Asuka yang dipaksa hanya mengenakan pakaian dalam di bawa ke tempat pemandian milik [Thousand Eyes].

Membawa handuk bersih yang diberikan kepadanya, Asuka masuk ke pemandian terbuka dan seketika dibuat terpana karena dapat melihat langit dengan sangat jelas.

“…benar juga, tubuhku benar-benar kotor.”

Ternodai oleh lumpur dan darah tikus, Asuka kini benar-benar terlihat berantakan.

Dibuat musuh jadi berpenampilan seperti ini tentu membuat hati Asuka terluka, mengingat dirinya adalah seorang gadis.

Asuka menghela nafas, luka di tubuhnya mulai sembuh seiring dirinya menyiramkan air berulang kali ke lukanya. Efek yang mujarab ini membuat Asuka jadi mengagumi pemandian tempat ia berada.

“Menakjubkan, air di sini bahkan tidak bisa dibandingkan dengan air penyembuh dari [Water Tree]. Pantas saja tempat ini menjadi pemandian khusus [Thousand Eyes].”

Kembali menghela nafas, Asuka merendamkan tubuhnya ke dalam air panas hingga sebahu. Dia lalu mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan

…Hari ini, Asuka mengalami kegembiraan yang sudah lama tak ia rasakan, hal tersebut membuat dirinya riang sepanjang hari.

Tak perlu memedulikan orang lain, hanya berjalan santai semaunya dan mengagumi budaya aneh yang tersedia di sekitar sini.

Dibandingkan hari-hari sebelumnya, hanya hari ini yang membuat Asuka bisa merasakan hal yang selama ini hanya bisa ia impikan.

Teman yang segan namun lucu, teman yang selalu berisik, teman yang suka mengejek dan melemparkan komentar sarkastik ke satu sama lain.

Walaupun pemimpin terpilih (TLN: Jin) masih begitu muda dan belum dewasa, ia adalah seorang anak yang jujur dan penuh rasa keadilan.

Bagi Asuka sebagai anak bermasalah yang terkurung dalam rumahnya sendiri, Little Garden merupakan cara terbaik untuk bisa kabur dari dunianya.

‘…tapi, hubungan ini tercipta karena [Gift] yang kumiliki.’

Asuka menatap ke arah langit malam yang terasa begitu sepi. Kalau diingat-ingat lagi, alasan ia dipanggil ke sini adalah—

Memenuhi harapan yang dibawa Kuro Usagi dan yang lainnya, Menyelamatkan komunitas], yang membuat mereka bertiga dibutuhkan. TIdak aneh kalau hubungan mereka akan langsung terputus andaikata [Gift] yang ia miliki ternyata tidak berguna.

Musuh yang tak dapat dipengaruh oleh [Gift] yang dimiliki Asuka merupakan sebuah ancaman besar yang dapat menentukan apakah Asuka dapat menetap bersama [No Name] atau tidak.

‘Tikus-tikus tadi… kenapa Gift-ku tidak berpengaruh pada mereka?’

Asuka mengingat kembali beberapa momen sebelum serangan dadakan tadi. Sejauh ini, kekuatannya sudah dua kali tidak efektif.

Yang pertama ketika ia menghadapi pemimpin [Perseus], Laius Perseus.

Saat kedua adalah ketika ia menggunakannya pada pedang, pistol suci, panah sihir, dan senjata lain yang ada di workshop milik [No Name].

Tak dapat disangkal, gift yang dimiliki asuka tidak akan efektif terhadap orang yang lebih kuat dari dirinya.

‘Walaupun aku tidak begitu paham konsep di balik [Kekuatan roh(?)] tapi aku tak seharusnya kalah kalau melawan tikus.’

Asuka kembali memandang langit malam, mengingat kembali apa yang pernah dikatakan Kuro Usagi sebelum ini.

---[Kekuatan roh] merupakan [Gift] yang berasal dari dunia, hal ini juga dikenal sebagai [Life Ranking].

Alasan kenapa manusia biasa seperti Asuka bisa menerima kekuatan tingkat tinggi sebenarnya masih tidak diketahui.

Saat tiba di Little Garden, Kuro Usagi pernah mencoba memberikan jawaban:

“Ada dua cara agar seseorang menerima kekuatan roh: pertama [Memberikan suatu dampak pada dunia, bisa dalam bentuk pengaruh, kontribusi, kompensasi atau hadiah]; dan yang kedua [Keajaiban yang terjadi saat lahir.].

Sebenarnya ada beberapa alasan lain, tapi biasanya alasan-alasan itu dapat diperkecil ke dalam dua kategori tadi. Untuk lebih jelasnya, di contoh pertama biasanya adalah iblis atau orang-orang terkenal; apabila mereka menggunakan tumbal atau sesaji untuk mendapat keabadian, pemilik kekuatan biasanya akan berubah menjadi iblis Raksasha. Tapi manusia sih, biasanya kekuatan berasal dari alasan kedua.” (Usagi)

“Jadi, karena terjadi suatu keajaiban saat aku lahir…?” (Asuka)

“YES! Seperti [Perseus] yang pernah kita lawan, ia adalah putra Zeus dari mitologi Yunani. Secara teknis, manusia dan dewa tidak dapat memiliki anak, tapi masih mungkin untuk membelokkan aturan tak masuk akal tersebut untuk memperoleh keturunan, membuat yang terlahir biasanya memiliki derajat kehidupan lebih tinggi---mereka disebut Protoss, karena darah campuran yang mereka miliki bertahan hingga generasi ke-5… Tapi, Perseus mendapat keistimewaan lebih karena berhasil mengalahkan medusa.

Banyak orang berpendapat kalau kekuatan roh yang didapat Asuka saaat lahir terjadi karena sebab khusus, atau leluhurmu kemungkinan besar adalah dewa-dewi atau pemilik kekuatan golongan satu tadi.” (Usagi)

“Hmm… memangnya hal khusus apa yang terjadi saat aku lahir…” (Asuka)

“Tidaktidak, tidak usah terlalu dipikirkan! Intinya selama kamu paham kalau [Keturunan] sama dengan [Kelebihan], tidak akan jadi masalah.” (Usagi)

Kuro Usagi menyimpulkan dengan contoh lain, benar-benar seperti [Kelinci Bulan] yang bersemangat melompat ke dalam api.

---Sementara itu terkait pengetahuan umum lain, kekuatan yang diberikan Buddha kepada pengikutnya dikenal sebagai [Divinity] yang dapat meningkatkan kekuatan gift setara dengan ras terkuat, tapi Asuka tidak bertanya lebih lanjut.

Kuro Usagi menjamin kalau kekuatan Asuka yang dapat membuat [Fores Garo] Galdo Gasper mendengarkan dan berlutut, pasti merupakan kekuatan roh kelas atas.

‘berati… alasannya hanya ada satu.’

Hanya dengan memikirkan fakta-fakta yang tak dapat ia terima, Asuka menggemeretakkan giginya.

Karena alasan yang paling masuk akal kenapa gerombolan tikus itu tak dapat diperintah---adalah karena kemungkinan mereka [Dikendalikan seseorang yang lebih kuat dari Asuka].

‘….Guuuu!’

“Plop!” Asuka menenggelamkan tubuhnya ke dalam air.

Asuka menyadari kalau di antara mereka bertiga, kekuatan miliknya adalah yang paling tak berguna. Dua orang lainnya dapat dikatakan memiliki [Potensi tersembunyi yang tak diketahui], tapi gift yang ia miliki hanyalah--- [Gift untuk mendominasi gift lain]. Karena itu, apabila musuh memiliki gift yang lebih kuat, sekeras apapun usahanya tetap tak akan berhasil.

Dengan alasan itu pula, Asuka tidak dapat mengendalikan gift kelas atas yang terbengkalai di workshop [No Name]. Setelah bertanya ke sana ke mari, ia lalu mengetahui bahwa semua barang di sana merupakan senjata [divinity], levelnya terlalu tinggi untuk dapat dikendalikan oleh Asuka.

Tapi, kalau kembali ke dasar, [Senjata] pun sebenarnya tidak akan berguna.

Hanya kemampuan bela diri selevel manusia biasa yang dapat terpikirkan oleh Asuka.

Bahkan walau ia bisa mengeluarkan kekuatan dari sebuah senjata, ia masih tidak dapat memiliki kekuatan yang setara dengan Izayoi maupun Kasukabe.

‘…apa keputusanku salah?’

*blub*blub*, Asuka membuat gelembung sambil memeluk lututnya.

Sekarang masih bisa diperbaiki. Kekuatannya sekarang ini terlalu bias pada [Mengendalikan orang lain], kalau aspek itu terus diperkuat, gift-nya akan berevolusi menjadi gift kejam yang dapat membuat ras apapun bertekuk lutut.

Kalau itu terjadi, Asuka hanya akan dikenal sebagai penyihir manipulasi.

“…kuharap tak akan berakhir seperti itu.”

Suara yang lembut, uap dari pemandian, mengepul dan menyebar.

Selain harga diri--- Asuka memiliki rasa keadilan yang cukup kuat.

Apa gunanya nilai tersebut bila pihak lawan tidak dapat menolak apa yang dia katakan. Kalau bukan karena kepercayaan diri Asuka yang tinggi, ia tak mungkin tumbuh dengan hati yang tegar.

“Musuh akan terus menyerang selama para peri kecil itu di sini. Saat itu datang lagi, aku lah yang akan menang…!”

Asuka menggerai rambutnya yang tadi diikat ke atas lalu beranjak dari kolam air panas. Di saat itulah ruang ganti mulai jadi berisik.

“Asuka-san! Lukamu tidak serius, kan?” (Usagi)

Kuro Usagi yang kini hanya mengenakan handuk setelah membuka bajunya, dengan telinganya yang berdiri, tergesa-gesa menuju kamar mandi.

“Tunggu tunggu tunggu! Kuro Usagi! Beraninya kamu melangkah masuk kamar mandi sebelum nyonyamu ini OHOHOHOH!!” (Shiroyasha)

“Wayayaya!”

Plop! Brak!

Shiroyasha yang juga tanpa pakaian menabrakkan dirinya pada tubuh Kuro Usagi, membuat mereka berdua jatuh ke dalam bak mandi setelah berguling tiga setengah putaran.

Sialnya, kepala Kuro Usagi lah yang masuk ke dalam air terlebih dahulu.

Asuka dengan khawatir menuju Kuro Usagi yang baru saja berteriak aneh.

“Tu… TUnggu dulu! Kuro Usagi! Apa dirimu baik-baik saja!? Kepalamu ada di bawah!!” (Asuka)

“*blub*… *blublubub*! *blubulubub* (Ku… Kuro Usagi tidak apa-apa! Asuka-san bagaimana?)”

Kuro Usagi masih khawatir pada Asuka walaupun kepalanya kini ada di dasar kolam dan terus-menerus mengeluarkan gelembung udara.

Shiroyasha menangkap kedua telinga kelinci Kuro Usagi dan menariknya paksa dengan riang.

“Ei!”

“Yahaaa!!”

Kuro Usagi terlempar keluar dari kolam.

Terlihat seperti akan menangis, Kuro Usagi memegangi bahu Asuka untuk memeriksa lebih dekat.

“Lu… Lukanya bagaimana? A… Apa ada infeksi? Apa lukanya membekas? Apa kamu bisa menahannya? Bagaimana perasaanmu?” (Usagi)

“Su-Sudah tidak apa kok! Lukanya sudah sembuh setelah mandi di sini.” (Asuka)

Kuro Usagi terus menyentuh tubuh Asuka dengan tidak sopan, namun Asuka tidak berencana menghentikannya, mengetahui Kuro Usagi sebenarnya bermaksud baik.

Ketika Asuka memikirkan kapan saat yang tepat untuk berhenti, Shiroyasha memperhatikan lekuk tubuh Asuka dengan saksama.

“…Ummu. Tubuh Asuka benar-benar tidak terlihat seperti gadis 15 tahun.” (Shiroyasha)

“Hah?”

“Pertumbuhan dari selangkangan ke dadamu lumayan dan lengkungan ke arah perutmu cukup kencang dan sejajar. Selain itu kulitmu yang terlihat cukup lembut, apalagi kalau memegang bagian empuk antara paha dan pantatmu, aura muda kulit yang menyembul dari jemari itu…” (Shiroyasha)


“teng!”

Dua ember kayu melayang tepat mengenai wajah Shiroyasa.

Ucapan seronoknya tadi hanya bertahan tak lebih dari satu detik dari awal hingga akhir.

Asuka melihat dengan dingin ke arah Shiroyasha, namun tidak menyadari wajahya merah padam.

“…Eh? Apa ini? Shiroyasha ternyata orang yang seperti ini?” (Asuka)

“Sayangnya, iya… Siroyasha-sama memang orang hebat, tapi sifatnya itu lho, sama sekali tidak hebat.” (Usagi)

Begitulah ucapan dingin dari Kuro Usagi.

Asuka berencana meninggalkan pemandian ini, tapi lebih banyak orang mulai muncul di ruang ganti. Mereka yang baru saja masuk adalah Kusakabe Yo, Leticia, dan juga si peri bertopi runcing.

“Asuka!”

‘tap, tap,tap’ peri itu berlari dan memanjati tubuh Asuka.

Mengacuhkan sensasi geli di punggungnya, Asuka menghadap ke arah Kasukabe dan lainnya.

“Jadi? Apa semuanya datang untuk mandi bersama?’ (Asuka)

“Un.” (Yo)

“Sesekali tidak masalah kan. Karena sulit berkumpul seperti ini, sebaiknya kita membicarakan apa yang terjadi hari ini sekalian jadwal untuk besok… apa kamu sudah mau pergi, Asuka?” (Leticia)

‘Oh, begitu ya.’ Asuka pun menggelengkan kepalanya dan kembali ke dalam kolam air panas.

Part 3

Izayoi, Jin, dan si gadis penjaga toko tengah bercengkrama di dalam ruang tamu.

Menggerogoti pancake rumput laut yang disajikan, keduanya ingin tahu bagaimana toko tempat mereka berada bisa ada di daerah utara.

Walau sedikit sungkan, si penjaga toko yang diperintahkan menemani dan berbicara dengan tamu menjawab sambil merengut:

“Maksudmu toko ini kan? Sebenarnya tokonya tidak berpindah tempat. Kalau kukatakan ini berkaitan dengan [Astral gate], apa kalian paham?”

“Sama sekali nggak.” (Izayoi)

Izayoi menjawab tanpa ragu sedikitpun. Menghela nafas, si penjaga toko menggunakan nada ceria sembari menjelaskan:

“Singkatnya, dari berbagai pintu masuk semuanya akan menuju satu tempat yang sama. Mungkin seperti sarang lebah… coba bayangkan ruangan ini bagaikan induk madu dalam sarang lebah, apa dengan begitu lebih mudah dipahami?”

Alasan kenapa [Thousand Eyes] bisa memiliki ruangan lebih luas dari apa yang terlihat mungkin disebabkan hal tersebut.

Kalau dilihat sekilas tokonya seperti tidak ada di sana. Izayoi memperlihatkan rasa ketertarikannya, meminta si penjaga toko melanjutkan penjelasan.

“Oh? Dengan kata lain, setiap toko cabang dan kios yang ada secara teknis adalah satu toko, apa aku benar? (Izayoi)

“Itu tidak benar, tapi juga tidak salah. Ada sedikit permasalahan bahasa yang kurang tepat tadi, terutama karena adanya perbedaan dengan Astral Gate. Begini, Astral Gate dapat terhubung dengan semua [Gate] yang ada, tapi sebaliknya, pintu-pintu yang dimiliki [Thousand Eyes] hanya dapat menghubungkan toko cabang dalam satu tingkatan area yang sama.”

“Oh? Berarti dibagi menjadi [Toko Cabang 7-digit], [Toko Cabang 6-digit]… seperti itu?” (Izayoi)

(TLN: ingat kalau area di Little Garden dibagi menjadi 7 tingkatan: tingkat 1-digit, 2-digit, dst hingga 7-digit. Komunitas No Name berada pada area 7-digit sedangkan lokasi saat ini tempat komunitas [Salamandra] berada pada area 5-digit.)

“Benar. Dan tentu saja, hanya ada satu pintu yang dapat digunakan untuk menuju toko utama.”

Izayoi yang paham lalu menganggukkan kepalanya. Si penjaga toko pun melanjutkan pembicaraan:

“Toko cabang tua di tempat ini sebenarnya sudah ditutup karena lokasi yang kurang strategis. Namun karena Shiroyasha diundang untuk bekerjasama di perayaan ini, ia terpaksa menghubungkan kembali toko ini, memindahkan ruang kosong dan ruang pribadi yang ada ke toko lain untuk sementara. Karena itu, pintu depan yang menuju ke toko jadi tidak bisa dibuka, maaf karena merepotkan.”

“Nggak masalah.” (Izayoi)

“Aiya? Apa yang kalian bicarakan di tempat ini?” (Asuka)

Setelah mengobrol beberapa saat, Asuka dan yang lain muncul dari kamar mandi.

Asuka kini mengenakan mantel mandi tipis, memperlihatkan kulit lehernya yang sedikit bersemu setelah berendam dalam air panas.

Bersandar pada kursinya, Izayoi memandangi para gadis yang baru saja keluar dari pemandian.

“…Hoho? Pemandangannya boleh juga. Bukankah begitu, Ochibi-sama?” (Izayoi)

“Eh?”

“Kau bisa melihat lekuk tubuh Kuro Usagi dan Ojou-sama walaupun ditutupi pakaian tipis yang menutupi lengan dan dada mereka. Lalu coba lihat air yang menetes dari rambut Leticia dan Kasukabe ke tubuh muda mereka yang ramping itu. Ikuti tetesan air yang mengalir dari bahu ke dada mereka, itu sungguh-sungguh…” (Izayoi)

‘Teng!’

Ini adalah serangan kedua yang terjadi karena refleks.

Tentu saja yang melakukan serangan tadi adalah Asuka dan Kuro Usagi yang muka keduanya berwarna merah seperti tomat.

“Apa semua orang di komunitas ini memang mesum!?” (Asuka)

“Shiroyasha-sama dan Izayoi-sama benar-benar bodoh!” (Usagi)

“Sudah… Sudahlah, kalian berdua tenanglah.” (Leticia)

Leticia dengan segera menenangkan mereka berdua, Kasukabe sama sekali tidak peduli sedikitpun, dan Shiroyasha tertawa begitu keras sampai harus memegangi perutnya.

Melihat Jin yang mencoba mengusir rasa pusing yang terus datang, si penjaga toko hanya bisa meletakkan tangannya ke bahu Jin sebagai tanda simpati.

“…turut berduka.”

“…terima kasih.” (Jin)

Di satu sisi, kelompok utama yang dipenuhi oleh anak-anak bermasalah.

Sedangkan di sisi lain, pemimpin utama organisasi yang juga anak bermasalah. (TLN: mengacu ke shiroyasha, nuff said)

Keduanya hanya bisa berbagi kesedihan yang mereka miliki.

Dibandingkan mereka, Shiroyasha dan Izayoi kini saling bergenggaman tangan, seperti telah menemukan pasangan jiwa setelah sekian lama.

Part 4

Setelah Leticia dan penjaga toko meninggalkan ruang tamu. Yang tersisa kini hanyalah Izayoi, Asuka, Kusakabe, Kuro Usagi, Jin, Shiroyasha dan juga si peri bertopi runcing.

Shiroyasha berada di tengah ruang tamu, meletakkan sikunya di meja dan mengumumkan agenda dengan nada serius:

“Baiklah semuanya, sekarang kita diskusikan bagaimana membuat pakaian juri Kuro Usagi menjadi lebih seksi dan imut…” (Shiroyasha)

“Ditolak.” (Usagi)

“Setuju.” (Izayoi)

“Nggak mau!!” (Usagi)

Si badung Izayoi menyetujui proposal Shiroyasha sementara Kuro Usagi seketika menolak.

Asuka yang tidak tahan melihat percakapan mereka beriga tiba-tiba terpikir soal gaun merah yang ia kenakan.

“Benar juga, pakaian yang digunakan Kuro Usagi berasal dari Shiroyasha, kan? Berarti, apakah gaun yang kukenakan juga sama?” (Asuka)

“Oh! Jadi itu pakaian yang pernah kukirimkan ke Kuro Usagi? Kalau tidak salah dia bilang suka tapi merasa gaun itu kurang cocok untuknya. Lagipula dia punya kaki yang indah…” (Shiroyasha)

“Gaun itu dibuat karena kebiasaan aneh Shiroyasha-sama, jadi ditolak. Kuro Usagi pikir pakaiannya lumayan lucu. jadi Kuro Usagi sebenarnya merasa enggan membiarkannya begitu saja di dalam lemari. Untung saja Asuka-sama cocok dengan warna merah.” (Usagi)

“hehe, terima kasih. Pakaian yang dipakai Kuro Usagi juga cocok kok.” (Asuka)

Setelah Asuka berterima kasih, suara ’Uuuu’ keluar dari mulut Kuro Usagi yang memperlihatkan ekspresi kompleks.

“Baiklah, kesampingkan dulu soal pakaian. Sebenarnya aku ingin Kuro Usagi berperan sebagai juri dalam pertandingan besok.” (Shiroyasha)

“Aiyaya? Itu sedikit tiba-tiba, boleh tahu alasannya?” (Usagi)

“Yaa. Ini karena keributan yang kalian ciptakan, orang-orang jadi tahu kalau ada [Kelinci Bulan] di sini sehingga mengharapkan kehadirannya dalam gift game besok. Karena kabar [Bangsawan Little Garden] sudah menyebar, kami mau tidak mau akan membuatmu tampil. Sehingga kuharap kamu bersedia menjadi juri resmi untuk game besok, tentu saja akan ada imbalannya.” (Shiroyasha)

Jadi begitu ya~ Semuanya langsung paham.

“Kuro Usagi paham. Kalau begitu serahkan penjurian untuk Gift Game besok pada kuro Usagi ini!” (Usagi)

“Ummu, terima kasih… baiklah, perihal pakaian jurinya, kamu akan menggunakan rompi berenda warna hitam yang tembus cahaya…” (TLN: tembus cahaya =/= tembus pandang (tidak 100% transparan), karena sedikit buram thus makes it more ero)

“Hentikan.” (Usagi)

“Aku setuju.” (Izayoi)

“Pokoknya ditolak! Ah~ Mou! Normal sedikit dong, Izayoi-san!” (Usagi)

No comments:

DMCA.com Protection Status