Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 14 Part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 14 Part 1 Bahasa Indonesia

January 26, 2017 Pipo Narwastu


Translator: KIV & Ise-kun

Volume 2 Chapter 4

Part 1

---Dinding perbatasan, area pertunjukan, kaki bukit. Lokasi pameran seni.

Mari kembali ke saat sebelum senja.

Setelah Asuka meninggalkan Kuro Usagi dan izayoi, dia memenangkan lomba kejar-mengejar yang ketat dengan seorang peri bertopi runcing. Setelah itu, dia lalu tiba di bawah dinding perbatasan, berlari ke arah sebaliknya dari yang ditempuh oleh Izayoi di koridor berjendela merah. Kandil yang bergantungan di kaki bukit menciptakan bayangan besar karena disinari oleh cahaya berwarna merah.

Meletakkan peri yang kelelahan di bahunya, Asuka mulai menyusuri jalan besar yang ada di berada di bawah dinding perbatasan.

“Aku tidak akan memakanmu kok, aku hanya ingin ada yang menemaniku.” [Asuka]

“….aguuuh~” [Peri]

Peri yang ada di bahu asuka merenggangkan badan, membentuk tubuhnya seperti bintang, sebelum akhirnya merintih lelah.

Asuka lalu memberikan peri bertopi runcing itu sebuah biscuit yang dibelinya dari kios yang ada di dekat mereka.

“Untukmu. Bukti dari pertemanan kita.” [Asuka]

“--------!” [Peri]

Peri bertopi runcing seketika berdiri, tertarik dengan aroma manis yang memasuki rongga hidungnya.

Biskuit yang baru saja matang itu menyebarkan aroma kacang almond dan karamel yang begitu mengundang selera. Aroma yang akan membuat peri tidak tahan, apalagi setelah kejar-kejaran yang membuat dirinya lelah.

Menghabiskan biskuit yang berukuran hampir sebesar tubuhnya, peri itu mengeluarkan suara lucu “fuaah~♪” sebelum dirinya memanjat ke atas kepala Asuka.

---Asuka berpikir dalam hening: “Sepertinya menyogok dia dengan makanan itu berhasil!”

“Karena kita teman, mari perkenalkan diri masing-masing. Namaku Kudou Asuka, apa dirimu bisa mengucapkannya?”[Asuka]

“…asukaaa?” [Peri]

“Terlalu panjang, kesannya jadi malas. Seharusnya dirimu mengatakan dengan lebih jelas.” [Asuka]

“…Asukaaa?” [Peri]

“sedikit lagi, dirimu pasti bisa. Akhirannya pendek saja.” [Asuka]

Peri bertopi runcing yang memiliki suara seperti anak kecil itu berulang kali memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, sebelum akhirnya meneriakkan nama Asuka dengan penuh percaya diri.

“…asUkA?” [Peri]

“Ya, benar sekali. Tapi tidak dengan nada aneh dan harus bersemangat.” [Asuka]

“…Asuka!” [Peri]

“Hehe, anak pintar. Baiklah, sekarang bisa beritahukan namamu?” [Asuka]

Peri bertopi runcing itu lalu berdiri di atas kepala asuka, dan dengan semangat berteriak.

“Rattenfanger~!” [Peri]

“…? Ratten…?” [Asuka]

Asuka memperlihatkan ekspresi terkejut. Dia tidak tahu makna di balik nama itu, tapi fakta bahwa peri yang bersamanya memiliki nama seperti itu membuatnya merasa sedikit was-was.

Menggunakan kedua tangannya, Asuka menurunkan peri bertopi runcing dari kepala.

“Apakah itu namamu?” [Asuka]

“BUkan~ Komu!” [Peri]

“Komu…? Nama Komunitas? Kalau begitu siapa namamu?” [Asuka]

Peri itu memiringkan kepalanya seperti tidak memahami apa yang ditanyakan.

Asuka tiba-tiba mengingat apa sebutan peri yang dikatakan oleh Leticia tempo hari… [Kawanan Peri].

Apa anak ini termasuk ras peri?

‘Tapi tidak mungkin kalau dia tidak punya nama, kan…?’

Kalau sudah begini, mungkin lebih baik memanggilnya dengan [Rattenfanger], berhubung itulah jawaban yang diberika olehnya. Walau begitu, Asuka masih tidak bisa menghilangkan perasaan was-was saat nama itu disebutkan. Berulang kali, dirinya mengetukkan jari ke pipi sambil memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya mengatakan sesuatu pada si peri.

“Aku kurang lebih paham maksudmu, jadi apa aku boleh memberikanmu nama?” [Asuka]

“? …tidak~ tidak~ RAttenfanger~” [Peri]

“Ya, nama selain Rattenfanger…” [Asuka]

“Tidak~ Tidak~ [Cari] ~” [Peri]

Peri bertopi runcing yang ada di tangan asuka mengatakan itu sambil menggelengkan kepalanya.

“Rattenfanger~! [Cari]~” [Peri]

“…Hmm? Apakah itu namamu?” [Asuka]

“Bukan~ Bukan~ Rattenfanger~!” [Peri]

Asuka menghela nafas, dia sama sekali tidak memahami apa yang dikatakan oleh peri itu. Dia menyerah menyinggung soal namanya untuk saat ini, kemudian melangkah maju untuk melihat pameran yang ditampilkan di dalam gua.

Gantungan lampu-lampu besar yang ada di sini tanpa diragukan lagi merupakan simbol kotanya. Selain dari tempat lilin dan lantera yang dipertunjukan di aula eksibisi, di sana juga terdapat banyak lukisan kaca dengan ukuran yang bervariasi.

Di tempat pameran yang berlokasi di dalam Tembok Perbatasan, Asuka sedang melihat-lihat pamerannya, mengaguminya.

"Jumlah pameran yang ada di sini cukup mengejutkan... Jadi ada sebanyak itu ya komunitas yang datang dan mempertunjukan telenta-talenta mereka." (Asuka)

Produk pamerannya memiliki papan nama di depan mereka yang menunjukan nama dan bendera komunitas yang membuatnya. Di sana ada sesuatu yang menarik perhatiannya Asuka, itu adalah tempat lilin yang berwarna perak yang memiliki ukiran bendera di tengah-tengahnya.

"HeHe, karya tempat lilin perak ini nampak cukup rumit." (Asuka)

"Cantik~!"

Peri bertopi runcing yang telah kembali ke bahunya Asuka berteriak dengan suara imut. Mempertimbangkan fakta bahwa ketika Asuka bertemu dengan peri itu, dia sedang melihat-lihat vas dengan ukiran bunga, jadi dia memang benar-benar menyukai hal-hal yang cantik.

Asuka mengambil tempat lilin itu untuk memeriksa pembuatnya.

"Pembuat: [Will o' wisp]? Itu adalah komunitas yang membuat tempat lilin berjalan itu ya." (Asuka)

Dengan teknik ukiran serumit itu yang digunakan untuk coraknya, itu mungkin berdasarkan corak laras benderanya.

'Tempat lilin ini memiliki corak api terbakar yang terukir di atasnya, itu mencoba untuk membuat apinya sendiri memiliki kekuatan khusus?'

Asuka dan peri bertopi runcing merasa bahwa itu seperti kehangatan api unggun yang sangat menarik mereka ke dalamnya.

'Ntah itu iya atau tidak memiliki bendera komunitas, itu tetap akan mempresentasikan secara berbeda, ya...'

Menunjukan mata merenung, Asuka menghela napas. Ini memang benar, jika [No Name] berpartisipasi dalam perayaan seni ini, mereka akan menghadapi kerugian besar dari yang lainnya.

Sebuah komunitas tanpa nama maupun bendera.

Begitu mereka menganjurkan bahwa faktor pokok tersendiri hanya dibatasi pada nama individu dan seni saja, impresi pertama yang diberikan oleh orang-orang tentunya akan berbeda.

'Kalau aku mau menjadi [Host] yang terkemuka, bendera tentunya dibutuhkan... kita harus mengambil kembali bendera kami dari [Demon Lord] tidak peduli apapun yang terjadi.'

Mendapatkan tekad untuk bertarung, Asuka perlahan mengepalkan tangannya.

Mereka berdua melihat ke pameran dengan jumlah besar. Aula eksibisi ditarik keluar dari interior Tembok Perbatasan agar terlihat seperti goa, itulah kenapa tidak ada cahaya yang bersinar di dalamnya.

Ini mungkin telah direncanakan untuk membawa kemilau pameran. Tempat lilin dan lantera dalam jumlah besar yang memancarkan kehangatan api, lukisan kaca yang bersinar cantik oleh sumber cahaya, berkedip indah dan kilau cemerlang cahaya, jauh lebih diapresiasi daripada karya yang ada di luar sini.

Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat eksibisi dan nampak sampai di tempat kosong yang besar yang sepertinya merupakan pusat pameran.

Meskipun mereka tiba di tempat sebesar itu, Asuka tidak menyadari kerumunan ataupun sekelilingnya seraya matanya terpaku pada sebuah objek yang diletakan di pusat tempat itu.

"Itu...!" (Asuka)

Karena pameran besar yang ada di depan matanya, semuanya nampak menghilang, seolah-olah sebuah ilusi. Dibandingkan dengan pameran lain yang sebelumnya, objek yang ada di depannya adalah sesuatu yang jauh lebih kuat dan mengejutkan.

"Raksasa besi... raksasa besi berwarna merah?" (Asuka)

"Besaaaaar!"

Itu benar, objek yang ditampilkan di pusat adalah pria besar yang terbuat dari besi berwarna merah, terlihat agung dan mengerikan, Asuka dan si peri menengadah untuk melihat tubuh besarnya dan menjadi bungkam karena apa yang dilihatnya.

Kecocokan dekorasi berwarna merah dan emas pada tubuh besarnya adalah sekitar 30 kaki tingginya. Penggambaran pada itu armor cahaya yang digunakan sebagai ide dasar untuk lukisan abstrak membuatnya terlihat seperti dirasuki oleh sebuah keberanian yang luar biasa.

Ditambah lagi, lengan besarnya memiliki ukuran dua kali lipat tubuh manusia.

Melihat pada monospace kepala dan tubuhnya, orang-orang hanya bisa bertanya-tanya bagaimana bisa mereka memindahkannya ke sini melalui pintu masuk sekecil itu.

Hal itu juga bisa dirasakan bahwa penciptanya membuatnya dengan sangat antusias karena dekorasi halus pada armor merahnya.

"Sungguh... Sungguh menakjubkan, komunitas mana yang membuatnya...?" (Asuka)

"Asuka ! Rattenfanger !"

Peri bertopi runcing itu melompat ke bawah dari bahunya Asuka dengan mata berbinar-binar.

Plat nama pada pamerannya tertulis: "Pembuat : Rattenfanger, Judul : Deen".

Merasa sangat terkejut, Asuka mulai bertanya:

"Benda ini dibuat oleh Komunitasmu?" (Asuka)

"HeHe !" Peri bertopi runcing itu membusungkan dadanya. Kelihatannya itu adalah kebenarannya.

Asuka menengadahkan kepalanya lagi untuk menatap boneka besi yang bernama [Deen]. Jika boneka besi dengan ukuran besar ini benar-benar dibuat oleh makhluk-makhluk yang disebut sebagai [Flock Faeries], mereka pastinya menghabiskan jumlah tenaga kerja yang tak terhitung jumlahnya hanya untuk menyelesaikannya.

"Begitukah... Komunitas [Rattenfanger] pastinya sangatlah kuat." (Asuka)

Peri bertopi runcing itu tersenyum malu-malu, dia pasti sangat senang.

"Setelah diamati lebih dekat, item-item lain yang dipertunjukan di sini semuanya adalah pameran utama. Setelah beberapa perbandingan, aku rasa komunitasmu mungkin yang akan memenangkan Gift Game ini." (Asuka)

Peri bertopi runcing itu terus melompat-lompat dengan riangnya sambil terus bersenandung: "Rattenfanger!"

Sedikit tercengang, Asuka menngangkat peri itu dan meletakannya di bahunya, bermaksud untuk melihat pameran lainnya.

——Kemudian sesuatupun terjadi.

"...Yaaaaah....!"

Whooosh~~ Hembusan angin bertiup di penjuru goa.

Hembusan angin memadamkan api yang menyinari goa, Asuka hanya bisa mengeluarkan teriakan lembut namun juga tajam.

Para pengunjung juga mulai berteriak seraya kebingungan dan menyebar layaknya sebuah riak gelombang.

"Apa yang terjadi! Kenapa apinya padam?!"

"Hati-hati! Itu mungkin adalah si iblis Rakshaha!"

"Cepat nyalakan beberapa lantera terdekat!"

Goa yang kehilangan cahayanya terjatuh ke dalam kegelapan, hanya menyisakan teriakan aneh dari orang-orang yang menggema dimana-mana.

Dengan reflek, Asuka menyambar tempat lilis di sampingnya dan menyalakan lilinnya dengan korek api yang telah disediakan.

Dan kemudian sebuah spot aneh muncul di kedalaman goa.

"Ketemu... aku akhirnya menemukannya...!"

Sebuah nada suara aneh bercampur dengan kebencian yang mendalam dan dedikasi yang kuat yang menggema di penjuru goa.  Meskipun Asuka menyadari bahayanya, dia mencari ke seluruh arah, mencoba untuk menemukan orang tersembunyi yang membuat suara itu.

Suara yang menggema itu membuatnya susah untuk mempersempit tempat yang tepat. Sebagai usaha terakhir, Asuka memberikan teriakan kuat.

"Dasar hina! Berhentilah bersembunyi dan keluar sini!" (Asuka)

Teriakan kuat itu menggema di kedalaman goa tapi pelakunya tidak memberikan balasan.

Malahan, suara seruling yang sedang dimainkan menggema di penjuru goa, merangsang indera dan mengejutkan tempat dengan nada aneh.

"——Haha, ketemu... Penipu nekad yang berani menggunakan nama [Rattenfanger]!!!"

Setelah gemuruh keras yang mengguncang di penjuru goa, keheningan muncul. Tepat ketika semuanya sedang melihat satu sama lain——Ribuan objek mata merah mulai menaiki celah-celah goa, membentuk kelompok dan menyerang kerumunan.

Dengan segera seseorang mengeluarkan teriakan gelisah.

"Ini.... adalah... ti... kus! Mereka semua adalah tikus!"

Sesuatu yang memenuhi goa dan menciptakan kekacauan adalah tikus.

Tikus-tikus yang memenuhi lantai mulai membentuk gelombang dan bergerak maju, pemandangan ini membuat Asuka menggigil.

"Me...Meskipun aku memanggil kalian untuk keluar, tapi ini kebanyakan!" (Asuka)

"Ah~!" Peri bertopi runcing itu menjerit.

Asuka berbalik menjauhi gelombang tikus, dengan cepat pergi dengan peri itu berada di bahunya. Yang lainnya juga melakukan hal yang sama, melarikan diri di goa yang sempit, sama seperti serangan panik.

Jika ini berlanjut, akan ada sebuah tragedi serius. Menyadari ini, Asuka berbalik dan menghadapi pasukan tikus.

"Ini... Ini cukup! Hentikan dan kembali ke sarang kalian!" (Asuka)

Asuka berteriak. Tapi tikus-tikus itu terus bergerak maju, menunjukan sama sekali tidak ada niatan untuk berhenti.

Tidak berhasil memanipulasi tikus-tikus, Asuka mulai merasa gelisah. Saat ini juga, sekelompok tikus melompat ke arahnya, membuatnya mengeluarkan kartu Giftnya dengan reflek, memanggil pedang salib perak yang pernah digunakan selama pertempuran [Forest Garo].

"Sial... Sialan...!" (Asuka)

Dia mengangkat pedangnya sampai ke tingkatakan matanya, dan kemudian menebasnya ke samping dengan itu.

Meskipun pedang perak memiliki kekuatan untuk menghancurkan kekuatan jahat, pedangnya tidak memiliki efek apapun ketika menghadapi tikus biasa. Asuka sebagus-bagusnya hanya bisa memotong beberapa di antaranya, dan hampir tidak mungkin untuk menghitung berapa ribu dari mereka yang masih tersisa. Tikus-tikus yang berlari di langit-langit sudah ada di depannya.

Asuka memutuskan untuk mengabaikan tikus-tikusnya dan terus berjalan maju, tapi itu lebih sulit untuk menghindari ribuan binatang kecil yang membentuk kelompok daripada seekor binatang buas besar.

Mereka adalah kelompok iblis yang mungkin dapat selesai memakan keseluruhan hutan dalam semalam.

Tikus-tikus terus melompat ke bawah dari langit-langit untuk menyerang peri bertopi runcing yang sedang gemetaran yang ada di bahunya Asuka.

"Ah!"

"Bahaya!" (Asuka)

Asuka dipaksa untuk melompat ke belakang. Karena dia tidak bisa memerintah tikus-tikus, dia hanya bisa mundur. Dan karena kebingungan, orang-orang yang ada di pintu masuk yang dalam keadaan menunggu untuk pergi tapi tidak bisa pergi, berteriak-teriak dan saling dorong-mendorong satu sama lain, berebut untuk melarikan diri.

"Cepat pergi!" "Arghhh!" "Apa yang terjadi di sini!" "Bi...biarkan aku keluar duluan!" "Berhentilah menutupi jalannya!" "Berhenti mendorong! Cepat keluar!" "Percuma! Mereka sudah menyusul kita, kita tidak bisa..."

"Semuanya dengarkan aku dan lari sama-sama!" (Asuka)

"Yes, sir!"

Asuka yang jengkel mulai berteriak keras. Kekacauan dengan cepat mereda, semuanya dengan apik menghormati Asuka.

Setelah itu semuanya mulai berlari ke pintu keluar goa dengan sikap yang telah diperintahkan, menunjukan adegan yang cukup fantastis.

Asuka, yang sedang melarikan diri dari barisan besar tikus dengan mengikuti di belakang sebagian besar kelompok, mulai merasa curiga dengan warna sebenarnya musuh.

'Gift untuk memanipulasi masih belum menghilang...! Jadi apa yang terjadi...?'

Tikus-tikus masih memfokusan pengejarannya pada Asuka.

Meskipun dia memiliki kekuatan untuk memanipulasi, dia masihlah seorang manusia biasa, jadi dia lebih lambat dalam kecepatan dibandingkan dengan binatang buas. Tidak lama kemudian, tikus-tikus yang sudah mencapai jangkauan targetnya mulai menyerang Asuka.

Tidak gentar dengan pedang yang diayunkan ileh Asuka, tikus-tikus terus menyerangnya.

Metode serangan mereka nampaknya membuat Asuka menyadari sesuatu.

'Tidak mungkin... Target mereka adalah anak ini...?'

Asuka melihat ke peri yang masih belum dewasa yang sedang memegang erat bahunya.

Peri bertopi runcing itu dengan erat memegang Asuka, menunjukan wajah seolah-olah akan menangis. Bagi peri yang memiliki ukuran tidak lebih dari kepalan tangan manusia, tikus-tikus itu pastinya merupakan monster buas di matanya.

"........Guuuuu~!"

Karena targetnya adalah peri yang masih belum dewasa, Asuka dapat melarikan diri dari situasi ini begitu dia melempar peri itu dari bahunya.

Akan tetapi, kehormatannya Asuka tidak mengijinkannya untuk mengabaikan sosok mini yang sedang gemetaran ketakutan.

Asuka menyingkirkan pikiran-pikiran rapuhnya dan kemudian menarik pakaian yang ada di dadanya dan memasukan peri itu ke dalam.

"Wuahh?"

"Sembunyilah di dalam! Jangan sampai jatuh!" (Asuka)

Asuka setelah memutuskan apa yang harus dilakukan kemudian menggunakan seluruh kekuatannya untuk berlari ke depan, kepada lantai yang dipenuhi oleh tikus.

Motif saat ini adalah untuk pergi ke pintu keluar. Meskipun gaun merahnya melindungi Asuka untuk tidak terluka dari tikus-tikus itu, bagian-bagian tubuhnya yang tidak tertutup menderita takdir yang berbeda.

Lengan dan kaki Asuka mulai berdarah karena digigit oleh gigi tajam tikus.

Meskipun begitu, pilihan untuk [Mengabaikan peri muda] masih tidak muncul di hatinya Asuka.

'Pintu keluarnya tidak begitu jauh dari sini...!'

Orang yang masih tetap berlari adalah Asuka dan yang masih belum menyerah dalam pengejaran adalah kelompok jahanam.

Akan tetapi, di saat berikutnya, bayangan-bayangan pedang yang tak terhitung jumlahnya muncul bersamaan dengan bayangan hitam dari seseorang di dekatnya.

"——Beraninya tikus-tikus rendahan memperlihatkan taringnya kepada temanku!" (??)

Bayangan silet yang berkecepatan tinggi layaknya tornado mulai membuat tindakan mengaduk di dalam goa sempit, mencincang dan menyerap tikus-tikus hanya dalam hitungan detik.

Tindakannya pun selesai tanpa memberikan kesempatan untuk berkedip, membasmi musuh tanpa merusak pameran apapun.

Asuka menekan rambutnya yang tertiup oleh angin, dengan ekspresi terkejut, dia berkata:

"Ba... Bayangan itu... Hanya dalam waktu singkat membasmi tikus-tikus itu...?"

Asuka menengok ke belakang dan terkejut lagi.

Berdasarkan dari suara yang tadi itu, Asuka mengetahui bahwa Leticia yang datang untuk menyelamatkannya. Tapi penampilan Leticia benar-benar berbeda, membuat Asuka tercengang.

Penampilan Leticia tidak cocok dengan penampian maid muda seperti biasanya.

Gadis muda yang imut telah berubah menjadi seorang wanita yang memancarkan suasana menggoda, ikat rambut pada rambut pirang cantiknya telah di lepas, memberikan kedipan cemerlang yang berkilau.

Seragam maidnya telah diganti menjadi jaket kulit merah hitam, dengan rok menarik yang nampaknya memiliki penahan padanya. Orang-orang yang melihat pada perubahan dramatisnya tidak akan berpikir bahwa itu adalah Leticia yang lembut seperti biasanya.

Karena marah, kaki indahnya Leticia menjadi piuh, dia mengeluarkan auman ganas, menunjukan taring vampirnya.

"Mana manipulatornya! Keluar sekarang! Kau berani untuk menyerang di tempat publik, kau seharusnya bersiap atas konsekuensinya! Aku akan menunjukan taring dan cakarku dan membuatmu merasakan kekuatan dari bendera komunitasku! Keluar sini dan berikan nama juga komunitasmu!"
(TL Note: kok gw geli ya bacanya :v cuma [No Name] padahal, yang denger pun pasti ketawa2 wkwkwwkwk)

Auman marahnya Leticia menggema di goa, tapi tidak ada respon dari yang bersangkutan. Kelompok-kelompok tikuspun mulai menarik diri untuk mundur.

Goa dipenuhi oleh keheningan total dan sepertinya pelakunya juga telah melarikan diri.

Melihat dari samping, Asuka bernapas lega, meskipun dia tidak tahu apa yang harus dikatakan, itu masih lebih baik untuk bertanya mengenai perubahannya Leticia:

"Apa... apa dirimu Leticia?" (Asuka)



"Yup. Oke, Asuka, apa yang sebenarnya terjadi? Meskipun jumlahnya besar, tapi tikus-tikusnya memiliki posisi yang menguntungkan, itu tidak seperti kamu yang biasanya, kan?" (Leticia)

Nada Leticia sama seperti sebelumnya. Meskipun dia berubah menjadi dewasa, ekspresinya masih tetap lembut seperti biasanya, tapi Asuka yang dipukul keras oleh kekuatan sebenarnya bergumam:

"....Jadi dirimu seimpresif ini." (Asuka)

"Ah?"

Leticia memiringkan kepalanya. Setelah dia mengerti apa yang dikatakan Asuka, dia membalas dengan nada tidak senang:

"I...itu, master. Aku senang kamu memujiku, tapi itu sedikit kasar bagiku. Meskipun Aku terlihat seperti itu, aku juga dulunya adalah seorang [Demon Lord], vampir berdarah murni! Kebanggaan [Ksatria Little Garden]! Meskipun aku telah kehilangan kedewaanku, aku masih dapat mengalahkan jutaan makhluk-makhluk itu tanpa berkeringat!" (Leticia)

Leticia memanyunkan mulutnya tidak senang. Tanpa diragukan, reaksi ini sama ketika dia imut-imut, tapi bagaimana cara Asuka memandang adalah masalah yang berbeda. Mungkin memiliki celaan mengenai dirinya sendiri.

Asuka menundukan kepalanya, mengeluarkan nada suara rumit.

"Tapi, aku..."

"Asuka!"

Tiba-tiba, peri bertopi runcing itu muncul dari dadanya Asuka.

Meskipun wajahnya penuh dengan air mata, dia tetap dengan senang memanggil namanya dan memeluk pipinya.

"Asuka! Asuka!....!"

"Tunggu.... Tunggu sebentar..."

Peri itu dengan erat memeluk Asuka, mengeluarkan suara yang terdengar seperti ingin nangis ataupun tertawa, mungkin itu adalah cara mereka dalam mengekspresikan rasa syukur. Leticia  dengan polos melihat adegan yang sedang berlangsung.

"Aiyaya, dia benar-benar terpikat olehmu. Kita harus membawanya bersama, sekarang ini berbahaya karena matahari telah terbenam." (Leticia)

"Itu... benar." (Asuka)

Sedikit ragu, tapi Asuka masih mengangguk dalam kesetujuan, seperti masih tidak menjamin bahwa tidak akan ada lagi serangan. Keduanya dan juga peri itu mulai berjalan di jalanan yang bercahayakan lampu-lampu berwarna merah, pergi kembali menuju toko cabang [Thousand Eyes]

No comments:

DMCA.com Protection Status