Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 12 Part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 12 Part 1 Bahasa Indonesia

January 05, 2017 Pipo Narwastu


Translator: KIV
Proofreader: Ise-kun

Volume 2 Chapter 2

Part 1

--dinding perbatasan timur laut, area bisnis. Koridor berjendela merah.

Setelah Izayoi dan Asuka memasuki koridor berjendela merah, mereka membaur dengan keramaian, menyembunyikan diri dari Kuro Usagi.

Keduanya bersembunyi di gang antara dua toko. Menyembulkan kepala mereka dari balik dinding bata merah, memata-matai sekeliling mereka.

“…nggak ada?” (Izayoi)

“Un, sepertinya begitu. Tapi tidak kusangka dia bisa mengejar kita begitu cepat…” (Asuka)

“Berarti umpan untuk memancing amarah Kuro Usagi berhasil, walaupun awalnya bercanda, nggak kusangka umpannya terlalu efektif.” (Izayoi)

Memastikan areanya aman, Asuka kembali ke jalan utama, roknya berkibar saat dirinya berbalik.

“Baiklah, kalau begitu sekarang saatnya melancong. Maukah dirimu menjadi pendampingku, Izayoi-kun?” (Asuka)

“Oh? Tapi kalau disandingkan dengan dirimu itu, bukankah aku ini terlalu serampangan dan kasar?” (Izayoi)

“Hah? Bukankah terlalu memperhatikan hal remeh seperti itu bukan sifat seorang gentleman?” (Asuka)

Keduanya tertawa, melemparkan ungkapan sarkasme kepada satu sama lain.

Karena sama-sama anak bermasalah, keduanya jadi terlihat begitu serasi.

Izayoi berdiri di samping Asuka, mengangkat kedua bahunya.

“Kalau begitu izinkan aku sebagai pendamping amatiranmu, Ojou-sama. Mungkin sebaiknya kita menyusuri koridor merah ini berhubung ini adalah tempat berjualan. Karena dipenuhi berbagai produk khas atau tersedia terbatas, berkeliling di sekitar sini mungkin bisa dianggap sebagai melancong.” (Izayoi)

“Begitukah? Karena Izayoi yang aneh sampai berkata begitu, aku percaya deh.” (Asuka)

“Tentu saja. Karena Ojou-sama juga seorang gadis, pasti kau tertarik untuk berbelanja, ‘kan?” (Izayoi)

“…soal itu, mungkin iya, mungkin tidak.” (Asuka)

Wajah Asuka sekilas menjadi kelam.

Izayoi berpikir ada sesuatu yang janggal, tapi Asuka menarik tangannya dan melangkah maju, membuatnya melewatkan kesempatan untuk bertanya.

“Baiklah, ayo. Mungkin di toko sebelah sana ada yang menjual lilin berjalan.” (Asuka)
(TLN: googling Sebastian dari Beauty and the Beast)

“Begitukah… kalau Ojou-sama mau, mungkin aku bisa merebut paksa benda itu dari suatu tempat lho?” (Izayoi)

“Ahh, tega sekali dirimu! Itu melanggar hukum tahu!” (Asuka)

Setelah menggelengkan kepalanya, Asuka memperlihatkan senyumannya yang licik nan nakal.

“Apapun benda yang kau inginkan---- pertama-tama kau harus menantang orang dengan Gift Game dan menang. Peraturan di Little Garden seperti itu, ‘kan?” (Izayoi)

“Haha, kau benar.” (Asuka)

Ketika Asuka yang tersenyum berkata demikian, Izayoi hanya bisa membalas dengan tertawa.

Mempertahankan ekspesi itu di wajah mereka, keduanya menyusuri koridor berjendela yang dipenuhi warna merah.


Part 2

---di sisi lain, Kasukabe yang telah tertangkap kini tengah minum teh di salah satu toko cabang milik [Thousand Eyes].

Kali ini, karena pergi tiba-tiba, Kasukabe tidak sempat membawa kucing belacu bersamanya. Dirinya sekarang duduk di sebuah ruang berbentuk kotak, memandangi pemandangan yang ada di luar. Shiroyasha, yang telah diberitahu inti permasalahannya, memulai pembicaraan:

“Haha, jadi itu yang terjadi, benar-benar kejahilan yang cocok dengan kalian, tapi menggunakan kata “meninggalkan” mungkin sudah kelewatan untuk ukuran lelucon. Bukankah itu terlalu kejam?” (Shiroyasha)

“Itu… ya, kurasa sedikit kejam. Tapi Kuro Usagi juga salah kok. Kalau saja dia bilang sejak awal komunitasnya tidak punya uang, kami tidak akan sampai melakukan hal drastis seperti itu.” (Yo)

“Tapi apa kalian sadar kalau itu tidak terlepas dari ulah kalian biasanya?” (Shiroyasha)

“Itu… hmm… mungkin benar, tapi setelah dipertimbangkan lagi, ada juga masalah kurangnya kepercayaan. Mungkin membuat Kuro Usagi merasa panik ada baiknya juga ‘kan untuk dirinya.” (Yo)

Melihat Kasukabe yang memperlihatkan ekspresi terusik, Shiroyasha pun tertawa.

Selagi menyibukkan diri dengan kue jepang dan meminum teh, mereka melanjutkan pembicaraan.

“Oh iya, katanya ada Gift Game berskala besar, apa itu benar?” (Yo)

“Tentu saja benar. Aku juga berharap kamu akan berpartisipasi dalam game itu.” (Shiroyasha)

“Aku?” (Yo)

Memenuhi mulutnya dengan kue layaknya tupai, Kasukabe memiringkan kepalanya, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Shiroyasha.

Shiroyasha mengeluarkan borsur dari kimono-nya dan menyerahkannya pada Yo.


[Gift Game: Duel of the Creators]
Persyaratan partisipasi dan ringkasan:

- Partisipan harus memiliki gift bertipe kreasi (TLN: creation-type gift)
- Partisipan diizinkan untuk dibantu oleh orang lain.
- Jenis duel akan diubah setiap hari
- Semua gift lain selain tipe kreasi akan dilarang.

Mengenai gift yang akan diberikan:

- Partisipan dapat meminta Naga Api [Floor Master] untuk gift yang mereka inginkan.

Sumpah: Sesuai dengan ketentuan di atas, kedua komunitas menyatakan untuk mengadakan Gift Game ini atas bendera dan kejayaan mereka.


                                     [Stempel]                                                                   [Stempel]
                               [Thousand Eyes]                                                            [Salamandra]


“…? Gift tipe kreasi?” (Yo)

“Yup. Maksudnya gift yang diciptakan seseorang, baik itu manusia, roh, dewa, atau para bintang, apa yang diciptakan disebut sebagai gift tipe kreasi. Agar distrik utara mampu bertahan dengan kondisi yang keras, mereka selalu memperhatikan gift yang dapat terus digunakan, mengadakan kompetisi dengan gift jenis ini untuk melihat aspek teknis dan artistiknya. Gift yang didapatkan ayahmu--- [Genome]. Dilihat dari sisi teknis ataupun seninya, gift-nya begitu spesifik, sehingga sulit dipercaya itu dibuat oleh manusia. Walaupun digunakan untuk eksibisi bukan hal buruk, tapi pendaftarannya sudah ditutup. Tapi mengingat [Gift] yang ada dalam ukiran kayu itu, kupikir kamu akan menang dalam pertarungan yang membutuhkan kekuatan…” (Shiroyasha)

“Benarkah?” (Yo)

“Ya, dan untung saja, Jin dapat membantumu. Agar festivalnya lebih meriah, kuharap kamu akan membantuku dengan ikut berpartisipasi. Lagipula, pemenangnya bisa mendapatkan gift yang kuat… nah, bagaimana?” (Shiroyasha)

Ehh~~ Kasukabe memalingkan wajahnya tanda dirinya tak tertarik. Walaupun dia tertarik dengan keberadaan naga, tapi sejujurnya dia tidak suka dengan game… Saat itu, dia tiba-tiba terpikir akan sesuatu dan bertanya:

“Hei, shiroyasha.” (Yo)

“ya?”

“Apakah aku bisa berbaikan dengan Kuro Usagi kalau berhasil mendapatkan gift-nya?” (Yo)

Kasukabe yang tengah memperlihatkan ekspresi kekanan-kanakan terlihat seperti hewan kecil yang lucu.

Melihat Kasukabe berekspresi demikian, Shiroyasa hanya bisa diam terkejut. Lalu tak lama, dia mengangguk sambil tersenyum lembut dengan penuh perhatian.

“Kalau ingin berbaikan dengan Kuro Usagi, tentu saja bisa dengan cara itu.” (Shiroyasha)

“Benarkah? Kalau begitu aku akan ikut.” (Yo)

Asukabe berdiri sembari menganggukkan kepalanya.

Matahari kini berada pada puncaknya, menandakan tengah hari telah tiba.

Part 3

“---tempat ini begitu indah, tidak ada satu tempatpun di rumahku yang terlihat seperti ini.” (Asuka)

Keduanya telah berkeliling santai selama beberapa jam, jarum jam kini menunjukkan jam satu siang.

Asuka duduk di dekat ukiran monumen naga yang berada di tengah koridor berjendela merah yang dibangun dengan bata merah dan kaca grafir.

Dia sebenarnya tidak merasa lelah, dia hanya ingin meregangkan tubuh dan melihat pemandangan kota dengan saksama.

Sebaliknya, Izayoi tengah mempelajari kaca besar berwarna hijau zamrud yang diukir seperti monumen naga. Dia memelototi monumen tersebut lalu menghela nafas sambil mengangkat kepalanya dan berkata:

“Wuah… ini pertama kalinya aku melihat Kristal tektite sebesar ini.” (Izayoi)
(TLN: tektite=batu satam)

“Kristal tektite? Bukannya ini kaca?” (Asuka)

“Bukan, tektite itu kaca yang terbentuk secara alami. Benda itu mineral langka yang diciptakan akibat energi dan panas dari tubrukan meteor. Yang paling terkenal adalah meteorit Nordlinger Ries dari Jerman.” (Izayoi)

“Meteorit... Jerman? Tapi memangnya ada meteor yang pernah jatuh ke Little Garden?” (Asuka)

“Ya, aku juga masih ragu. Warnanya seperti merepresentasikan Kristal Moldavite… eh?” (Izayoi)

Izayo menghentikan langkahnya, dia lalu melihat ke papan yang ada di display tersebut. Apa yang tertulis di sana adalah…

“Display oleh komunitas [Salamandra]”

Judul: Ukiran Tektite Pemimpin Pertama Komunitas, [Sekairyuuo]-sama yang dibuat dengan roh.

Ciptaan: Sarah.

Tulisan ini.... Setelah hening sekian lama, Izayoi meragukan matanya sendiri dan melihat papan tersebut sekali lagi.

“Dibuat dengan roh…. Hei, apa ini berarti tektite-nya dibuat oleh seseorang?” (Izayoi)

“Bukankah katamu tadi harusnya tektite terbentuk secara alami?” (Asuka)

“Ya. Benda ini secara teknis penciptanya bukan manusia sih… eh, namanya Sarah, ya. Heh, ini jadi menarik. Kalau tidak salah Chibi-chan kenal dengan orang ini. Kalau mungkin, aku ingin bertemu dengannya.” (Izayoi)

Memperhatikan papan tampilan itu, Izayoi mulai tersenyum, memperlihatkan niat jahatnya.

Asuka melirik wajah Izayoi dan tiba-tiba bertanya:

“Aku sudah lama penasaran… bagaimana Izayoi-kun bisa punya pengetahuan tentang banyak hal?” (Asuka)

“Tidak kok. Lebih tepat dibilang kalau kepalaku dipenuhi trivia dibandingkan pengetahuan…. Wuah? Ada tempat lilin berjalan di sebelah sana!” (Izayoi)

Setelah menemukan tempat lilin berkaki dua yang berjalan, Izayoi menelantarkan Asuka dan lari dengan cepat.

Asuka dengan cepat mengikutinya. Tempat lilin itu sebenarnya adalah salah satu benda seni yang ditampilkan. Ada sebuah papan dengan nama [Will o’ Wisp] yang tergantung di lehernya(?).

“Kalau ada tempat lilin berjalan dan lentera terbang… mana monster labunya? Kudengar dia keluar saat Halloween, apa dirimu pernah mendengarnya, Izayoi-kun?” (Asuka)

“Ha?”

Mendengar ucapan cepat Asuka, Izayoi berhenti sejenak sambil membelalakkan mata.

“Oi, oi, Ojou-sama, pengetahuanmu cetek ya? Apa maksudmu Jack-o-Lantern? Kita hidup di zaman modern, setidaknya kau pun pernah mendengar soal Halloween ‘kan… ah, benar juga~ Ojou-sama berasal dari masa setelah perang, ‘kan?” (Izayoi)

Izayoi membelokkan tubuhnya dan bertanya.

Halloween baru dikenal di jepang pada tahun 90-an. Bahkan walau dikenal lebih awal, tetap saja itu setelah tahun 80-an. Itulah kenapa, Asuka yang hidup tak lama setelah perang berakhir mungkin tidak tahu banyak hal soal Halloween.

Bagi Asuka, Izayoi adalah orang yang berasal dari masa depan. Karena hubungan internasional yang dilakukan Jepang, pengetahuan tentang hal terkini menjadi hal lazim. Izayoi yang kebetulan mengetahui semua hal itu membuat dirinya dalam mata Asuka sebagai orang yang penuh pengetahuan.

Asuka memperhitungkan keadaan dengan melihat mata Izayoi.

“Begitukah… apa di masa di mana Izayoi-kun tinggal, Halloween bukan lagi sesuatu yang aneh?” (Asuka)

“Begitulah, apa Ojou-sama suka dengan hal-hal berbau Halloween?” (Izayoi)

Asuka melihat ke langit, mengenang masa lalunya.

Dia tersenyum, seperti melecehkan dirinya sendiri.

“Masa di mana aku hidup benar-benar membosankan. Walaupun sebutan [Putri Konglomerat] terdengar hebat… tapi orang-orang terpenting, orangtuaku, sudah tiada. Selain itu, aku punya kekuatan mengendalian orang, itulah kenapa aku harus masuk asrama, terisolasi dari masyarakat.” (Asuka)

“…Oh? Terdengar seperti bukan gayamu. Tidak pernah terpikir untuk mencoba kabur?” (Izayoi)

“Tuh, benar ‘kan? Kalau saja aku tidak menerima surat “undangan” itu, aku sudah berencana menyelinap kabur di perjalanan ke rumah kakekku. Untuk tempat tujuannya… ya, sebagai perayaan perang berakhir, aku ingin mencoba merasakan Halloween di suatu tempat.” (Asuka)
(TLN: undangan ke Little Garden)

Berdiri di tengah koridor, Asuka memperlihatkan senyuman aneh. Tapi Izayoi bisa merasakan kesedihan yang terpancar dari matanya.

Dengan kehidupan membosankan seperti dalam kurungan, dia seharusnya menyembunyikan pandangan kuatnya terhadap dunia luar termasuk soal budaya.

“[Trick or Treat!] ---bukankah kalimat itu terdengar lucu? Aku juga ingin berpakaian seperti hantu dan mengambil permen dari orang dewasa yang memasang ekspresi pahit.” (Asuka)

“Apa kita juga perlu mengenakan labu besar di kepala?” (Izayoi)

“Ya! Aaah, benar juga, bukankah aku cocok kalau berpakaian penyihir?” (Asuka)

‘Itu benar’, respon Izayoi. Asuka berputar 360 derajat, mengibarkan gaun yang dia kenakan.

Bagi Asuka yang biasanya diam, tindakan ini membuatnya terlihat seperti lady yang sesungguhnya.

“Aku… benar-benar bahagia bisa datang ke Little Garden, ini tempat yang hebat. Walau aku tidak bisa merasakan Halloween seperti yang dirumorkan… tapi ini lebih baik daripada hidup di tempat tua itu. Tinggal di sini membuatku bisa banyak berharap setiap harinya.” (Asuka)

“…benarkah? Kalau begitu aku ikut bersyukur untukmu.” (Izayoi)

Izayoi diam-diam memperhatikan Asuka yang dari tadi terus memutar tubuhnya.

Berputar-putar--- melangkah kecil, kembali berputar. Asuka menari hingga dia berada di sisi Izayoi dan melihat wajahnya. Ekspresinya kini tak lagi kelam.

Izayoi membalas Asuka dengan senyuman khasnya yang terlihat jahil dan menjengkelkan.

“Baiklah, sebaiknya kita terus berjalan! Kalau terlalu lama di sini, Kuro Usagi akan menemukan kita.” (Asuka)

“Ah, ya… tapi, Ojou-sama.” (Izayoi)

“Hmm?”

“Apa kau tahu, Halloween sebenarnya merupakan festival panen?” (Izayoi)

‘Eh?’ Asuka terdiam sejenak karena pertanyaan itu. Izayoi yang mengacuhkannya, melanjutkan:

“Ngomong-ngomong, dulu pernah ada pertanian besar di belakang markas [No Name]. Kalau berhasil memulihkan lahan di situ, kupikir akan jadi hal yang sangat bermanfaat bagi komunitas… menurutmu bagaimana?” (Izayoi)

“Ya, aku sudah tahu soal itu.” (Asuka)

Asuka telah mendiskusikan hal tersebut dengan Kasukabe dan Lily tadi pagi, mengenai bagaimana pemulihan lahan akan begitu membantu komunitas. Dia lalu memiringkan kepalanya dengan wajah bingung, tidak tahu kenapa Izayoi tiba-tiba menyinggung hal tersebut.

Izayoi menyeringai, mendekatkan wajahnya kepada Asuka dan berkata:

“Setelah memulihkan lahan itu… bagaimana kalau kita merayakan Halloween kita sendiri--- bagaimana pendapatmu soal usulku ini, Ojou-sama?” (Izayoi)

“Kau ingin berpartisipasi dalam Halloween, ‘kan?” tawa Izayoi.

Izayoi mengatakan [Halloween kita sendiri]--- dan hanya ada satu makna di balik ungkapan tersebut.

“Dengan kata lain, dirimu ingin komunitas kita--- untuk mengadakan Halloween sebagai Gift Game?” (Asuka)

“Yup, karena sekarang kita tinggal di Little Garden, kita sebaiknya merasakan secara langsung bagaimana menjadi [Host].” (Izayoi)

Usulan Izayoi membuat mata Asuka berbinar, membuatnya mengeluarkan suara bahagia.

“Proposal yang menarik! Tidak hanya kita bisa membantu komunitas, event-nya juga pasti akan menarik!” (Asuka)

“Haha, Ojou-sama memang pengertian! Kalau begitu kita harus menyiapkan Gift Game Halloween saat kita menjadi Host untuk pertama kalinya. Tapi, kita masih harus menyiapkan beberapa hal untuk rencana itu.” (Izayoi)

Mata Asuka berkilau dengan cahaya yang hangat, benar-benar berbeda dari sikapnya selama ini.

Memperlihatkan senyuman malu yang jarang terlihat, Asuka memikirkan bagaimana aktivitas mereka ke depannya. Dia lalu menggumam:

“Supaya bisa mengadakan Halloween… oh, berarti pertama kita harus memulihkan lahan, lalu baru bisa mengadakan festival panen.” (Asuka)

“Tentu saja. Dan proposal ini bisa digunakan untuk membalas simpati yang diberikan Shiroyasha. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.” (Izayoi)

“Hah? Kesampingkan Kuro Usagi, bagaimana caranya kita membalas Shiroyasha dengan itu?” (Asuka)

“Hmm? Ah, Halloween awalnya merupakan festival panen untuk memperlihatkan rasa syukur penduduk pada matahari. Festival ini sebenarnya adalah ritual celtic---- Lupakan yang tadi, itu tidak penting. Walaupun substansi terima kasihnya berbeda, kurasa dia tidak akan keberatan.” (Izayoi)

“Begitukah?” Balas Asuka.

Walaupun tidak tidak begitu paham, tapi karena itu adalah festival untuk berterima kasih pada matahari, itu merupakan langkah terbaik untuk berterima kasih pada Shiroyasha. Lagipula, bukan hanya para anak bermasalah, bahkan Kuro Usagi dan yang lain juga telah dibantu olehnya.

Kalau tidak ada Shiroyasha, kemungkinan besar mereka tidak akan datang ke Little Garden.

Asuka tersenyum tanda setuju. Alasan untuk berterima kasih pada Shiroyasha dan Kuro Usagi sudah tak lagi terhitung jumlahnya.

“Oh iya, tujuan kita sekarang adalah menjadi [Host] yang bisa memuaskan Shiroyasha.” (Asuka)

“Walau kau berkata begitu, kita tidak bisa melakukan apapun. Pertama-tama kita harus memenangkan semua jenis Gift Game.” (Izayoi)

“Tentu saja. Karena ini festival besar, akan ada banyak Gift Game yang menakjubkan.” (Asuka)

“YES! Festival saat ini sedang mengadakan 2 Gift Game besar, kompetisi dengan menggunakan [Creation-Type Gift]!” (??)

“Tipe kreasi? Apa kita punya yang seperti itu?” (Izayoi)
“Ya! [Genome] milik Kasukabe-san adalah salah satu contohnya! Tidak peduli gift-nya buatan manusia, roh, dewa, atau bintang sekalipun, siapapun bisa berpartisipasi kalau memiliki gift tipe kreasi jenis apapun♪” (??)

“Oh? Walau aku tidak begitu paham, apa kita bisa mendapatkan gift yang hebat?” (Asuka)

“Tentu saja! Karena kita bisa mendapatkan gift yang diberikan langsung oleh Tuan Lantai Sandora-sama, tentu saja itu hebat!” (?)

“Benarkah? Bukankah kita sebaiknya mengabari Kasukabe-san untuk mengajaknya bergabung? Maaf, tapi bisakah kau sampaikan itu kepadanya, Kuro Usagi?” (Izayoi)

“……”

“YES! Serahkan saja pada Kuro Usagi♪ Lalu, karena Kuro Usagi harus segera pergijadi bisakah kalian menyerah tanpa perlawanan?” (Usagi)

Karena Kuro Usagi bertanya dengan cara yang sopan tapi memaksa, mereka berdua seketika menjawab:

“TIDAK MAU!”

Di saat yang sama dengan itu, Izayoi sudah mulai melarikan diri dengan cepat.

Saat Asuka mencoba kabur, dia ditubruk oleh vampir blonde terbang berpakaian maid, Leticia, yang kini menahannya.

“Ah!”

“Hehe, sebaiknya kamu menyerah dan terima takdirmu, Asuka.” (Leticia)

Leticia menyiagakan sayap hitamnya, memeluk Asuka sambil tersenyum.

Asuka mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, namun sebelum itu dia berteriak ke arah Izayoi:

“Izayoi-kun! Dirimu yang terakhir! Kalau tertangkap, jangan harap aku akan memaafkanmu!” (Asuka)

“Aku mengerti! Serahkan saja padaku, Ojou-sama!” (Izayoi)

Wahahahahaha! Izayoi mengatakan itu sambil berlari menembus koridor berjendela merah. Sebagai [Bangsawan Little Garden], Kuro Usagi bukan orang lemah, kekuatan fisiknya bahkan mampu membuat beberapa dewa bertekuk lutut.

“Mau ke mana kau! Kuro Usagi sudah muak! Setelah Kuro Usagi menangkapmu, Kuro Usagi akan mengundang semuanya dalam seminar bermakna dari Kuro Usagi!” (Usagi)

“Ha! Menarik sekali! Kalau mau mengajakku bergabung dengan kumpulan pemuja Indra, tangkap aku dulu!” (Izayoi)

Izayoi lalu menambah kecepatannya. Dia tidak lagi berlari dalam garis lurus, namun kini menggunakan bangunan sebagai papan loncat hingga dirinya tiba di sekumpulan kubah. TIdak ingin mengaku kalah, Kuro Usagi berlari vertilkal di dinding, mencoba mengejar Izayoi.

Kerumunan yang menyadari kegaduhan tadi menunjuk ke arah Kuro Usagi dan berteriak:

“Lihat! Ada kelinci! [Kelinci Bulan] sedang mengejar seseorang!”

“Apa yang dilakukan [Bangsawan Little Garden] di bawah sini?”

“Apa dia datang dari atas untuk memberi ucapan selamat atas upacara pengangkatan Sandora-sama?”

Tidak menghiraukan pandangan dari kerumunan, Kuro Usagi tiba di atas atap.

Izayoi dan Kuro Usagi menatap satu sama lain, menjaga jarak di antara mereka.

“…kalau begitu ayo pastikan peraturannya. Kalau aku tertangkap, kau menang. Dan kalau aku tidak tertangkap hari ini, aku yang menang. Begitu ‘kan?” (Izayoi)

“YES. Kuro Usagi akan mendisiplinkanmu begitu tertangkap, tapi kalau Izayoi-san berhasil kabur…” (Usagi)

“Oh iya, aku baru saja mau menyinggungnya. Sebenarnya dalam surat itu, setengahnya hanya lelucon.” (Izayoi)

“Ah~? begitu ya~? Jadi semuanya hanya bercanda, tapi menggunakan [Meninggalkan komunitas] sebagai taruhan? Benar-benar lelucon yang tidak lucu.” (Usagi)

Kuro Usagi memelototi Izayoi tanpa ampun, sepertinya itulah alasan di balik kemarahan dirinya.

Memang, bila ada seseorang yang menganggap [Meninggalkan komunitas] sebagai suatu hal sepele, pasti akan ada kekacauan dalam birokrasi sebuah komunitas. Tak peduli seberapa dekat hubungan mereka, etiket tetap harus dijaga. Bagi Izayoi dan yang lain, keusilan kali ini sudah terlewat kejam.

Izayoi yang mugkin sudah mengetahui jawabannya dalam hati hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya.

“Hmm, yang kau katakan memang benar. Leluconnya memang sudah kelewatan. Kalau keusilannya tidak bisa membuat orang tertawa, berarti leluconnya memang tidak menarik. Aku harus mengakuinya.” (Izayoi)

“…apa ini artinya kau akan menyerah tanpa perlawanan?” (Usagi)

“Apa yang kau katakan. Kalau tidak melakukan apa-apa saat antisipasi di sekitar sini sudah melonjak tinggi, bagaimana mungkin mereka akan menerimanya?” (Izayoi)

Izayoi menunjuk ke bawah kakinya. Di sana ada kerumunan yang berkumpul karena keributan yang terjadi, mereka mengangkat wajah mereka sambil berteriak gaduh. Bisa melihat [Bangsawan Little Garden] dengan kata lain, Kuro Usagi, adalah hal yang jarang terjadi.

“Jadi aku punya usulan. Bagaimana kalau kita mengadakan game singkat di antara kita?” (Izayoi)

“Eh?”

“Hmm, anggap saja sebagai ungkapan maaf, kau tidak perlu mempertaruhkan apapun. Kalau aku--- Eh~ Apa yang kau mau? Bagaimana kalau mendapatkan hak untuk memerintahkan satu hal apapun kepadaku?” (Izayoi)

“Eh----?”

Kuro Usagi begitu terkejut hingga tubuhnya mengejang. Karena kejutan itu, bahkan telinga kelincinya sampai berdiri tegak.

Kalau bisa membuat orang yang mengusik dunia dan akhirat mematuhi sebuah perintah, siapapun pasti tidak akan bisa menolak… Tapi, Kuro Usagi menggelengkan kepalnya dengan muram.

“Itu… Itu tidak boleh, Izayoi-san.” (Usagi)

“Ah? Lalu bagaimana kalau mempertaruhkan uang? Itupun kalau kau mau menerima uangku yang sedikit ini.” (Izayoi)

“Tidak… bukan begitu. Kuro Usagi bisa memahami penyesalan Izayoi-san. Tapi… tapi Kuro Usagi juga salah, jadi kalau mau Gift Game-nya berlanjut… maka kedua pihak harus memiliki kondisi yang setara.” (Usagi)

Kali ini giliran Izayoi yang membelalakkan matanya karena terkejut.

Dengan kata lain, Kuro Usagi juga akan menggunakan [satu perintah apapun] sebagai taruhannya bersama dengan Izayoi.

“Gift Game hanya bisa dilakukan bila kedua pihak setuju. Bahkan walau Kuro Usagi memenangkan Gift Game dengan hukuman, Kuro Usagi tidak akan merasa berhasil. Jadi kalau mau lanjut, game-nya harus adil! Kuro Usagi pasti akan memberikan Izayoi-san pelajaran yang bermanfaat!” (Usagi)

“…HAHAHA! Bahkan Kuro Usagi yang rendahan bisa berkata searogan ini.” (Izayoi)

Izayoi tertawa jahat, lalu keceriaan di matanya memudar. Taruhan game ini adalah harga diri seseorang. Karena kedua pihak telah setuju, wajar saja kalau mereka akan menggunakan kekuatan penuh untuk melawan.

Dengan ini, babak terakhir petak umpet antara anak-anak bermasalah dan Kuro Usagi akan segera dimulai.

No comments:

DMCA.com Protection Status