Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 3 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 3 Bahasa Indonesia

January 13, 2017 Pipo Narwastu


Translator: reisen
Prrofreader: Ise-kun

Chapter 3: Reinkarnasi

Selagi ia tersenyum senang, air mata terus mengalir dari gadis yang bernama Calcedonia dan sekali lagi melompat untuk memeluk Tatsumi.

Secara reflex, Tatsumi menangkap perempuan yang mengaku Chiiko tersebut, dan sekali lagi Tatsumi kembali terdorong jatuh ke tempat tidur.

Dan lagi-lagi, badan yang sangat empuk itu menindis tangan Tatsumi, dan ia bingung harus bagaimana. Biarpun ia tidak bangga, Tatsumi tidak pernah memeluk ataupun dipeluk perempuan.

Tentu, waktu masih bayi ia pernah dipeluk ibunya, tapi Tatsumi tidak ingat sama sekali jadi tidak dihitung.

Dan juga, ia tidak tahu kemana tangannya harus ditaruh. Di pundaknya? Atau di pinggangnya? Ia bingung dan hanya melambai-lambaikan tangannya ke segala arah.

Dengan gembiranya dan tidak mengetahui betapa sulitnya ini bagi Tatsumi, Calcedonia mengelus-elus dada Tatsumi dengan kepalanya.

Di saat yang sama, kedua bagian terempuk juga ikut menindis Tatsumi, tapi ia pura-pura tidak tahu.

Sambil Calcedonia terus menerus mengelus dada Tatsumi dengan kepalanya, antena rambut di kepalanya juga ikut bergoyang liar bersamaan.

Melihat ini, sebuah ingatan muncul di pikirannya.

Dulu di saat Chiiko masih sehat, ia selalu menjilat-jilat dan mengelus tangan dan pipi Tatsumi dengan jidatnya.

Juga ada saat dimana Chiiko memiringkan kapala dan melihat Tatsumi seakan-akan ingin dielus kepalanya. Dan di situ Tatsumi langsung mengelus kepala Chiiko dengan jarinya.

Mengenang memori tersebut, Tatsumi tanpa sadar mengelus kepala gadis yang memeluknya itu, badannya bergerak dengan sendirinya.

Mungkin karena terkejut tangan Tatsumi yang tanpa sadar mengelus kepalanya, Calcedonia tiba-tiba mengangkat kepalanya mundur.

“Ma-master…”

“Ah… ma-maaf!! Burung beo peliharaanku juga bertingkah kayak gini, jadi aku gak sengaja…”

Dengan cepat Tatsumi menarik tangannya dan sungguh-sungguh minta maaf. Kebanyakan orang yang lebih tua tidak suka tiba-tiba dipegang kepalanya seperti itu. Sambil berpikir demikian, sensasi rambutnya yang halus masih melekat di tangan Tatsumi dan ingin menyentuhnya sedikit lagi.

Tapi Calcedonia tidak marah sama sekali. Bahkan, ia menjadi lebih senang dengan melebarkan senyumnya.

“Iya…!! Iya…!! Itu benar!! Master sering mengelus kepalaku seperti itu!! Aku ingat!! Tangan master… walau sebenarnya jari master, sangat hangat….!!”

Dengan wajah cantiknya yang dihiasi air mata gembira, Calcedonia memeluk erat Tatsumi.

“Master... ma… masterku…!!”

Calcedonia mengulang-ulang kata itu sambil berfantasi.

Tatsumi hanya dapat melihat.

Tentu, Karena penampilan gadis di depannya dan Chiiko si burung beo sangat berbeda.

Namun, Tatsumi tidak bisa mengelak bahwa ceritanya sedikit benar.

Karena aura dan gerak-geriknya juga mirip sekali dengan Chiiko.

Kadang perasaan bisa mengalahkan logika. Dan perasaan Tatsumi sekarang mengatakan kalau gadis ini tidak bohong sedikit pun.

“Apa kamu… benar-benar… Chiiko?”

“Yaa!! Aku benar-benar Chiiko. Aku dilahirkan kembali di dunia ini sebagai manusia, tapi ingatanku waktu masih menjadi Chiiko… ingatan waktu aku seekor burung beo tidak hilang. Aku dibesarkan master… dan menghembuskan nafas terakhir di pangkuan master… Chiikonya master…!!”

“Du-dunia ini…? Lahir kembali…?”

Kata seperti ‘dunia lain’, ‘pemanggilan’, dan ‘renkarnasi’ yang sering sekali dibahas di novel satu persatu masuk ke pikiran Tatsumi.

Sementara itu, Calcedonia terus mengelus badan empuknya ke badan Tatsumi. Ditambah lagi, di ruangan mirip bawah tanah yang remang-remang itu, mereka berada di atas tempat tidur. Tidak dapat dihindari badan Tatsumi bereaksi sewajarnya laki-laki normal*.
(TL Note: ( ͡° ͜ʖ ͡°) IYKWIM )

Apa yang harus ia lakukan?

Ketika insting dan logika bertarung di kepala Tatsumi, ada suara ketiga di ruangan tersebut yang harusnya hanya mereka berdua saja.

“Tenang tenang Calsey, mundur dulu sebentar. Kamu membuat menantu bingung, kan?”

Terdengar suara lembut lelaki tua yang memiliki kejelasan pada intinya.



Refleks, Tatsumi menoleh ke sumber suara tersebut.

Seorang lelaki tua berdiri di sana.

Tingginya kira-kira sama dengan Tatsumi. Tinggi Tatsumi 168 cm, jadi orang tua itu bisa dibilang orang yang lumayan tinggi.

Orang tua dengan kesan ramah berambut putih dan berjenggot lebat yang panjang. Ia berumur sekitar 70 tahun. Tatsumi tidak tahu berapa umur rata-rata di dunia ini (Tatsumi menerima kalau ia dipanggil ke dunia ini), tapi orang tua ini pastinya lumayan tua.

Tetapi, punggung orang tua ini tegak sehingga tidak memberikan kesan orang yang sangat tua. Atau bahasa positifnya, ia memberikan kesan kakek yang penuh semangat.

Dilihat lebih dekat, ada sebuah pintu yang terbuka di belakang orang tua itu, sepertinya Tatsumi tidak mengetahui kalau ada pintu karena ia terlalu fokus ke gadis yang mengaku renkarnasi dari Chiiko tersebut.

Orang tua itu berjalan lambat ke Tatsumi dan Calcedonia dengan senyum ramah di wajahnya.

Sambil berjalan, jubah putih longgar yang dipakai orang tua itu, sedikit berkibar.

Kalau diteliti lagi, ia dapat melihat kalau pakaian tersebut adalah jubah yang terbuat dari kain putih murni, berkualitas tinggi. Dari penggunaan banyak benang emas dan perak di berbagai tempat dan sulaman yang detail sekali, orang tua ini mungkin dari kelas atas atau orang kaya. Mungkin dua-duanya.

Dari busana yang orang tua itu pakai, Tatsumi mendapat kesan seperti seorang pendeta Kristen yang pernah ia lihat di TV sebelumnya.

“Aku sedikit khawatir dan datang memeriksa Calsey tapi… ho ho ho, sepertinya pemanggilan menantu berjalan lancar.”

“Iya, kek. Aku bisa dengan lancar memanggil master dari dunia itu ke sini.”

“Ho ho ho, begitu, begitu. Mengesankan. Jadi, menantu.”

“Eh? Menantu itu, maksudnya… aku?”

“Iya benar sekali. Selain aku dan Calsey, gak ada lagi kan selain dirimu?”

Orang tua itu melanjutkan berbicara dengan senyum ramahnya.

“Gimana kalau kita ke tempat lain terlebih dahulu? Tempat ini bukan tempat bagus untuk menjelaskan. Dan…”

Mata orang tua itu mengarah ke Calcedonia yang sampai sekarang masih berada di atas Tatsumi.

“Cepat ganti baju sana Calsey. Penampilanmu sekarang agak sedikit menggiurkan bagi remaja menantu sehat ini.”

Diberi tahu seperti itu, Calcedonia langsung lompat mundur dari Tatsumi, dan sadar bagaimana penampilannya sekarang, ia langsung menutup dada besarnya dengan kedua tangan.

“Ti-tidak sopannya aku… dengan penampilan seperti ini di depan master…”

Dengan wajah langsung memerah, Calcedonia buru-buru turun dari kasur Tatsumi dan lari lurus keluar ruangan.

Di saat itu lekuk badan bagian bawah (pantatnya) terlihat jelas di sela-sela kain tipis yang ia kenakan dan spontan Tatsumi langsung melihat.

Melihat Tatsumi, kakek itu tersenyum senang.

Sadar kalau dilihat oleh kakek, Tatsumi juga sama-sama memerah seperti Calcedonia tadi.

“Ho ho ho, menantu ini sepertinya laki-laki normal. Tidak usah takut, reaksi itu adalah reaksi remaja sehat. Bahkan membuatku lega ‘tahu? Menantu bereaksi seperti itu di depan cucuku...”

Tawa ramah terdengar di ruangan bawah tanah ini.



“Jadi kita mulai dengan perkenalan terlebih dahulu. Namaku Giuseppe Chyrsoprase. Negara ini… pendeta tertinggi kepercayaan Saviav sekerajaan Largofiely.”

“Pendeta tertinggi…?”

Tatsumi berkedip-kedip bingung dan memandangi orang tua yang bernama Giuseppe yang duduk di depannya ini.

Tatsumi dan Giuseppe berada di ruangan yang seperti ruang tamu setelah pindah dari ruang bawah tanah tadi.

Dengan sofa empuk, dan nyaman, meja mahal dengan ukiran yang sangat detail, vas bunga mahal dengan susunan bunga indah untuk memberi kesan santai, dan berbagai perabot kualitas tinggi yang menghias interior ruangan lainnya, dapat dilihat ruangan ini adalah tempat untuk orang kelas atas.

Tatsumi hanya diam sambil mengikuti Giuseppe dari ruang bawah tanah ke ruang tamu. Ia sama sekali tidak ingat jalan yang ia lewati, tapi kalau dihitung jaraknya mereka jalan tadi, dapat dikira-kira bangunan ini kemungkinan bangunan besar.

Terlebih lagi, lorong-lorong sepanjang jalan tadi semuanya dilapisi karpet tebal dan tidak ada sampah satu pun. Sepertinya bersih-bersihnya sangat ekstra.

Tidak ada jendela yang ia lewati, jadi ia tidak dapat melihat keluar, tapi dari sinar terang yang terlihat dari jendela di ruang tamu ini, setidaknya ini bukan malam hari. Dan tentu, kalau dunia ini mempunyai malam hari. Lagipula, ini adalah dunia lain yang tidak ia kenal. Maka, tidak aneh kalau dunia ini tidak memiliki malam dan selamanya siang hari.

Sambil berpikir seperti itu, gelas yang sepertinya terbuat dari keramik dengan teh yang baru diseduh ditaruh di meja depan Tatsumi.

“Silahkan. Tehnya panas, jadi hati-hati.”

“Aku.. u-umm… terima kasih…”

Yang menyediakan teh barusan adalah lelaki tinggi muda, berumur sekitar 20 tahunan, yang memperkenalkan dirinya Baldio. Ia beranjak pergi dari meja sambil tersenyum, lalu menunduk sekali sebelum meninggalkan ruangan.

Pakaian yang ia kenakan memiliki desain mirip dengan Giuseppe. Tetapi, ornament dan jahitan masih tidak selangka Giuseppe, jadi walaupun statusnya tinggi, masih tidak bisa dibandingkan dengan Giuseppe.

Ia sepertinya berposisikan sebagai sekretaris Giuseppe atau sejenisnya, dan ia langsung meninggalkan ruangan setelah menyelesaikan tugasnya karena merasa tidak ingin menguping pembicaraan Tatsumi dan Giuseppe.

Karena sudah repot-repot ditawarkan teh, Tatsumi memutuskan untuk meminumnya. Rasa dan aroma teh tersebut seperti rasa teh jasmine.

Mungkin ini adalah teh biasa di dunia ini, atau mungkin di negara ini. Namun ini teh disajikan langsung dari pendeta tertinggi yang kemungkinan berasal dari kelas atas ke tamunya. Pasti menggunakan daun teh berkualitas tinggi.

Tatsumi sambil menilai kualitas minuman itu, menikmati rasa teh tersebut dengan relaks. Dan Giuseppe melihat-lihat penampilan Tatsumi dengan senang.

“Kalau gitu sekarang, aku mau menjelaskan secara detail ke menantu tapi… kenapa ini Calsey belum datang? Tumben dia kok lama sekali.”

Giuseppe melirik ke pintu keluar sambil mengelus jenggot panjangnya.

Seperti kata kakek itu, ia berada di ruang tamu sudah cukup lama. Tatsumi refleks langsung melihat jam tangannya.

Jam tangan ini terbiasa ia pakai langsung ketika bangun tidur. Karenanya, jam ini juga kebawa saat pemanggilan tadi.

Beberapa benda yang ikut terpanggil bersama Tatsumi antara lain tempat tidurnya, gitar akustik peninggalan ayahnya yang waktu itu ia pegang, dan telepon Galapagos lama yang berada di kantong celananya. Dan sisanya adalah baju dan celana jeans yang ia pakai sekarang.
(TL Note: Galapagos = https://en.pimg.jp/012/733/011/1/12733011.jpg )

Melihat Tatsumi memeriksa jam di tangan kirinya, Giuseppe mengangkat alisnya dan dengan penasaran menunduk menuju Tatsumi.

“Katakan padaku, menantu. Benda apa itu?”

Giuseppe melihat jam tangan itu dengan mata bersinar-sinar seperti anak yang baru diberi mainan baru.

Tatsumi tersenyum melihat tingkah laku kakek itu, dan melepas jam tangan di tangannya lalu memperlihatkan ke Guiseppe.

“Ini namanya jam dan sebuah alat untuk mengukur waktu. Di dunia ku, ini benda umum yang dipakai sehari-hari.”

“Oh, jadi ini jam? Ukurannya jadi mengecil dan bentuknya juga aneh.”

Setelah mengambilnya dari Tatsumi, Giuseppe melihat-lihat jam itu dengan penuh penasaran. Di dunia ini juga ada yang namanya jam, tapi dalam bentuk jam pasir atau jam matahari. Tentu, tidak ada jam-jam mekanik rumit seperti jam tangan Tatsumi.



Jam tangan Tatsumi adalah jenis quartz chronograph yang tidak memakai baterai* dan diberikan sebagai hadiah dari adiknya sebagai kado selamat masuk SMA.
(TL Note: quartz chronograph = Jam tangan yang digabung dengan stopwatch. Beberapa jam rumit dapat sampai detik dan second. Sedangkan maksud quartz adalah mesin yang dipakai, berfungsing mengkonversi sumber energy (biasa baterai) untuk menggetarkan Kristal-kristal quartz. Gambar jelasnya di sini https://en.wikipedia.org/wiki/File:Citizen_Attesa_Eco-Drive_ATV53-3023_01.JPG
(TL Note: Jam tangan yang dipakai Tatsumi adalah jam tangan kinetik, yang bersumber dari gerakan (ayunan) tangan, jadi tidak memerlukan baterai.)

Jam ini juga ada di tangannya waktu kecelakaan itu, ajaibnya jam ini tidak hancur dan bahkan masih dapat berfungsi sampai sekarang*, walaupun terdapat goresan-goresan kecil.
(TL Note: Kelemahan jam kinetik ini adalah mudah rusak jika terkena benturan, jadi ajaib masih bisa berfungsi setelah Tatsumi kecelakaan.)

“Hmm, sepertinya ada beberapa jarum di sini… dan dari yang kulihat, jarum ini yang menunjukkan waktu, tapi cuma yang paling kecil yang bergerak…”

“Di dunia ku, sehari dibagi menjadi 24 bagian, dan setiap bagian itu terdapat 60 bagian lagi, dan seterusnya…”

Tatsumi menjelaskan bagaimana waktu bekerja di dunianya dan Giuseppe mendengarkan dengan mata semakin melebar.

“Oh… di dunia menantu, kenapa kok susah-susah memecah waktu seperti itu? Pasti ada alasan-alasan lain kenapa bisa demikian, bukan?

“Kenapa? Hmm…”

Tatsumi bingung harus jawab apa.

Ia dari dulu tahu kalau 1 hari 24 jam dan 1 jam 60 menit adalah hal normal. Jadi kalau ditanya kenapa kok bisa, ia tidak dapat menjawab.

Tatsumi tidak tahu kapan konsep waktu di bumi ditetapkan. Tapi, ia menerima saja pengetahuan tentang waktu layaknya hal biasa. Dan tentu, hal yang wajar itu tidak berlaku di dunia ini.

Tanpa ragu lagi, ini adalah dunia lain.

Tatsumi sekali lagi mengerti kalau hal-hal wajar yang ia tahu sampai sekarang tidak akan berlaku lagi di dunia ini.

No comments:

DMCA.com Protection Status