Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 4 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 4 Bahasa Indonesia

January 13, 2017 Pipo Narwastu


Translator: reisen
Proofreader: Ise-kun

Chapter 4: Kuil Holy Maiden Savaiv

Ibukota kerajaan Largofiely, Levantes.

Di tengah kota pemerintahan terdapat tempat raja dan keluarganya tinggal. Dan penduduk lainnya terpencar di sekitarnya. Kota Levantes memiliki populasi sekitar 40 ribu penduduk, dan merupakan kota dengan penduduk terbesar di kerajaan Largofiely.

Dan di kota Levantes ini berdiri menara ajaran Savaiv.

Kepercayaan yang ada di dunia ini kebanyakan menganut 4 dewa, the four great Gods (4 dewa besar).

Mereka masing-masing adalah dewa panen Savaiv, dewa matahari Golaivaa, dewa bulan malam Gravabi, dan dewa laut Dragabe. Di benua Zoisalight dimana tempat kerajaan Largofiely berada, di mana pun pasti ada kuil dan candi dari 4 dewa tersebut.

Dan dewa panen Savaiv merupakan dewa dengan pengikut terbesar di sini.

Pengikut utama dewa panen yang memberikan hasil panen melimpah adalah petani. Karena sebagian besar mata pencaharian di dunia ini adalah petani, sudah bisa dibayangkan bagaimana keyakinan terhadap dewa ini.

Ditambah lagi, tugasnya meliputi kelahiran, jadi Dia juga disembah sebagai dewa kelahiran. Dan selain itu, Dia juga terkenal sebagai dewa pelindung pernikahan.

Di dunia ini sudah biasa upacara tukar cincin (Ijab Qabul) saat pernikahan dilakukan di candi atau kuil Savaiv. Ini sudah menjadi tradisi dari kaum raja dan bangsawan sampai ke rakyat biasa. Pernikahan selalu dilakukan di kuil Savaiv atau bangunan sejenisnya dimana terdapat pendeta yang bertindak sebagai saksi.

Mungkin karena itu, diantara keempat ajaran lainnya, kuil Savaiv dibangun paling megah.

Tiap hari, banyak para penganut agama datang untuk berdoa pada dewa. Karena itu, gerbang dibuka 24 jam per hari. Dan yang paling menonjol di sini adalah ksatria pendeta berjaga di dua sisi gerbang.

Di lorong kuil besar Savaiv ini Calcedonia mempercepat langkahnya.

Di bawah kuil Savaiv terdapat sumber kekuatan sihir terbesar di seluruh kota pemerintahan dan sekitarnya. Tempat ini dikenal dengan nama ‘tanah suci’. Tempat ini hanya dipakai untuk ritual-ritual dan kegiatan keagamaan khusus.

Calcedonia memilih tempat seperti ruang bawah tanah itu untuk memanggil Tatsumi, karena ia butuh jumlah sihir besar yang berlimpah di situ.

Setelah meninggalkan ruang upacara tersebut, Calcedonia menuju ke kamarnya, yang terletak di asrama para pendeta yang tinggal di kuil.

Ia pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian dari pakaian suci khusus ritual yang digunakan untuk upacara pemanggilan ke jubah biasa pendeta sehari-hari.

Calcedonia yang lari ke ruangannya dengan cepat berganti pakaian.

Bercermin di cermin besar spesial yang ada di ruangannya, ia memastikan kalau pakaian dan rambutnya sudah tertata rapi.

Cermin tersebut terbuat dari kaca berkualitas mewah. Hanya kelompok khusus setengah manusia yang memiliki keturunan atribut api dapat membuat barang-barang kaca dan porselen karena teknologi tersebut hanya dapat diturunkan. Jadi barang seperti ini mahal untuk didapatkan.

Setelah memeriksa tidak ada yang aneh, Calcedonia lalu memasang simbol suci Savaiv di sekitar lehernya dan ingin langsung keluar dari kamarnya secepatnya, tetapi ia terhenti.

Ia akhirnya sadar sehabis memanggil Tatsumi, lalu berlari untuk ganti pakaian, ia tidak tahu dimana Tatsumi sekarang.

Tapi dia tahu kalau Tatsumi masih bersama kakeknya, pendeta tertinggi ajaran Savaiv. Dan yang harus ia lakukan hanyalah bertanya kepada seseorang dan ia dapat menemui mereka.

Calcedonia keluar mencari seseorang berstatus tinggi untuk bertanya dimana kakeknya. Walaupun ada banyak orang di sekitar, mengingat status mereka, mereka seharusnya tidak tahu dimana kakeknya berada. Tapi tentu, para senior selalu tahu dimana lokasi kakeknya.

Bahkan, Calcedonia tahu semua senior di sini secara akrab.

Sebenarnya, terbalik. Tidak ada yang tidak mengenal dirinya di kuil ini karena ia pemegang gelar <Holy Maiden>. Dan nyatanya, lebih dari setengah penduduk kota Levantes tahu wajahnya.

Ia memiliki bakat dan pengetahuan sihir yang luar biasa jauh dari kebanyakan orang. Dan ia memiliki keahlian di sihir. Terutama atribut <Holy>, sihir penyembuhan dan sihir pemurnian, digabung dengan kecantikannya, Calcedonia diberi gelar sebagai <Holy Maiden> saat itu.

Dan ketika Calcedonia berjalan di lorong, siapa pun tanpa terkecuali selalu melihatnya sejenak.

Bahkan ketika berjalan sekarang ini, ia berpapasan dengan 2 pendeta junior yang pindah kepinggir dan sedikit menundukkan kepala mereka. Ketika ia melewati mereka, mereka melihat Calcedonia dengan pandangan penuh aspirasi tersembunyi,

“Ah, Nona Calcedonia, dia cantik seperti biasanya…”

“Setuju… tapi apakah nona Calcedonia tidak biasanya…. Sangat senang?”

“Iya, aku juga berpikir seperti itu? Dia terlihat tidak biasanya sangat gembira hari ini.”

“Apa ada sesuatu yang baik terjadi? Tapi…”

“Hmmm? Ada apa?”

“Untuk dapat membuat nona Calcedonia gembira seperti itu... Siapa coba yang bisa melakukan itu?”

Kedua pendeta junior tersebut berdiri bingung sambil memiringkan kepala mereka.

Calcedonia begitu senangnya sampai kedua pendeta junior itu berpikir ia hampir melompat-lompat kegirangan.

Calcedonia akhirnya dapat menemukan salah satu pendeta senior yang dapat memberi tahu dimana kakeknya berada.

Kata pendeta senior itu, kakeknya berada di ruang tamu bersama seorang tamu.

Keberadaan kakeknya di ruang tamu bersama Tatsumi mudah sekali ditebak oleh Calcedonia sewaktu normal, tapi sebelum diberi tahu oleh pendeta senior, ia tidak tahu mereka dimana. Ini membuktikan betapa senangnya dia.

Dari pertama kali Calcedonia menjadi manusia, yang ia pikirkan hanyalah 1 laki-laki, ia tidak pernah melupakannya sekali pun.

Dia masih memiliki ingatan kehidupan yang sebelumnya. Kenapa ia masih memiliki ingatan tersebut ia tidak tahu, tapi sudah dipastikan ia masih memiliki ingatan itu.

Di dunia ini, orang-orang percaya akan adanya renkarnasi.

Jadi, terlahir kembali bukan lah hal yang aneh. Walaupun itu dari burung ke manusia. Tapi untuk masih memiliki ingatan kehidupan sebelumnya adalah hal langka. Setidaknya Calcedonia masih belum pernah bertemu seseorang dengan ingatan kehidupan sebelumnya selain dirinya.

Tapi ia sama sekali tidak peduli. Yang paling penting adalah ia masih mengingat Tatsumi, kehidupan sebelumnya bersama Tatsumi adalah kehidupan yang sangat bahagia.

Setelah lama mendapatkan ingatan kehidupan sebelumnya, ia memiliki sebuah keinginan yang dari dulu tersimpan di dalam hatinya yaitu untuk bertemu dengannya kembali.

Untuk itu, ia mempelajari ritual dan mitologi pemanggilan selama bertahun-tahun. Dan tentu, tidak 1 hari pun ia lewatkan untuk memperbanyak kekuatan sihirnya sendiri.

Dan sekarang setelah berhasil memanggilnya ke dunia ini dan bertemu dengannya, Calcedonia harus menjelaskan alasannya mengapa ia memanggil Tatsumi.

Tatsumi dipanggil ke dunia ini secara sepihak. Dengan kata lain, ia ditarik dari dunia sana ke sini, tanpa dapat memilih untuk meninggalkan kehidupnya di sana.

Ia mungkin membenci Calcedonia. Ia mungkin sangat benci padanya. Tapi baginya, bertemu kembali dengan Tatsumi adalah suatu kebahagiaan terbesar yang dapat ia peroleh.

Di kehidupan sebelumnya ia adalah seekor burung, tapi Tatsumi tetap menyayanginya.

Ia sangat bahagia sekali di sisinya. Sampai-sampai ia tidak menginginkan hal lain lagi di hidupnya.

Mereka tumbuh besar bersama, mereka tinggal bersama, mereka selalu bersama.

Ketika ia memikirkannya, ia dipenuhi kebahagiaan.

Dan di saat ini seseorang memanggilnya.

“Oh, nona Celcodonia ternyata. Aku tidak percaya dapat bertemu dengan nona hari ini. Apakah ini bukan karena keberkahan dewa Savaiv sang pengatur pernikahan?”

Yang menyelanya barusan adalah seorang pemuda berpakaian rapi.

Jika ingatannya tidak salah, ia adalah anak tertua dari salah satu rumah bangsawan, seseorang yang beberapa kali memberi surat lamaran pada dirinya.

Ia berjalan ke Calcedonia, berlutut sambil mencium belakang tangannya.

Merasa ini sesuatu yang tidak sopan, Calcedonia tanpa sadar mengerutkan alisnya membentuk kerutan wajah yang indah, tapi orang yang digitukan tidak sadar.

Sejujurnya, Calcedonia tidak tahu siapa nama orang ini, walau ia sedikit ingat. Karena, tidak hanya orang yang di depannya yang mengirim surat lamaran kepada Calcedonia.

Kakeknya yang seorang pendeta tertinggi ajaran Savaiv dapat banyak surat lamaran pernikahan setiap harinya. Diantaranya adalah surat lamaran langsung dari keluarga raja.

Tetap saja Giuseppe menolak semua pelamar yang datang untuk menikahinya. Karena kakeknya tahu dimana hatinya berada, ia menghargai perasaan Calcedonia.

Karena kuil adalah organisasi yang mengikuti kepercayaan, jadi kuil tidak termasuk bagian negara mana pun. Karena itu, di dalam kuil, bahkan status keluarga kerajaan sekalipun tidak ada nilainya.

Sebagai orang yang secara resmi mengabdi pada dewa, pendeta tidak harus tunduk bahkan di depan raja sekalipun. Tetapi itu hanya bukti tertulis resmi saja, jadi di hadapan raja, mereka tetap menghormati kehadirannya.

Selama ini, Gioseppe selalu menjadi tameng bagi Calcedonia dari para pelamar-pelamar yang datang dari keluarga kerajaan dan bangsawan. Karena Calcedonia juga seorang pendeta, tidak ada yang dapat memaksa dia untuk menikah. Tidak sekalipun bagi keluarga raja maupun bangsawan.

Berulang-ulang, Calcedonia mengabaikan puja-puji dari pemuda di depannya.

Ia hanya ingin langsung ke tempat Tatsumi secepat mungkin, dan lagi pemuda ini terus menundanya.

Awalnya, pemuda itu memuji Calcedonia. Tetapi lama kelamaan menjadi pamer dirinya sendiri. Sejujurnya, Calcedonia tidak tertarik sama sekali.

‘Aku ingin bersama Master ketimbang mendengarkan pidato yang membosankan ini!!’ teriakan Calcedonia di dalam hati, tapi di luar ia membuat senyum palsu dan mengatakan sesuatu yang sopan dalam percakapan.

Percakapan kosong terus berlanjut bahkan sampai Calcedonia sudah tidak tahan mendengarnya lagi.

Dan di saat itu seseorang mendekati mereka.

“Calsey.”

Ia memanggil Calcedonia dengan nada akrab memakai nama panggilan. Melihatnya, wajah Calcedonia langsung senang, sedangkan wajah pemuda menjadi kiat.

“Morga.”

“Ka-kalau bukan pak <Freedom Knight>… Tidak, maksud saya tuan Morganeich.”

Pendatang baru ini tinggi dan ramping, dengan perawakan yang macho namun berwajah sangat tampan. Berambut merah dan bermata coklat kemerahan, ia memiliki tubuh yang keren sebagai orang yang masih muda. Ia tidak memakai jubah pendeta yang ada di kuil, melainkan memakai baju logam berlapis baja dan pedang panjang di pinggangnya. Baju baja itu terukir simbol suci ajaran Savaiv di bagian dadanya, dan juga terdapat beberapa simbol pelindung suci lainnya.

Pakaian berlapis baja dengan simbol suci Savaiv, ini berarti ia adalah seorang ksatria pendeta.

Ksatria pendeta, organisasi para ksatria yang ditugaskan untuk menjaga kuil dan pendetanya.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kuil-kuil tidak termasuk bagian negara mana pun. Karena hal itu, dalam masa krisis, mereka tidak dapat meminta bantuan dari negara mana pun.

Jadi kuil-kuil tersebut perlu sebuah pasukan keamanan sendiri untuk perlindungan. Dan pasukan itu adalah fraksi ksatria pendeta.

Dan tentu saja, itu hanya bukti resmi tertulis, dan jika kuil-kuil tersebut memang benar-benar dalam bahaya, penguasa setempat akan melakukan penyelidikan dengan ijin pihak kuil.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Yang mulia Chrysoprase sedang menunggumu.”

“Aku tahu, Morga.”

Setelah menjawab pemuda yang bernama Morga, Calcedonia kembali menghadap bangsawan muda itu.

“Aku minta maaf, kakekku, maksudku yang mulia Chrysoprase memanggilku, aku minta maaf atas kekasaranku dan kepergian tiba-tiba ini.”

Ia menunduk sopan kepadanya. Dan bangsawan muda itu sadar kalau ia tidak dapat menahan Calcedonia lebih lama.

Pemuda itu menjawab.

“Tidak-tidak, mau bagaimana lagi kalau nona dipanggil yang mulia Chrysoprase, aku tidak dapat menahanmu lebih lama lagi. Kalau ada waktu, mari bertemu kembali.”

Dengan itu ia membungkuk pergi ke Calcedonia. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Morganeich, pemuda itu akhirnya pergi. Dan di pikrannya, Calcedonia menjulurkan lidahnya dan bersiul tidak suka* kepada si pemuda. Lalu Calcedonia menoleh ke Morganeich.
(TL Note: Suara yang terbentuk oleh lidah dan bibir untuk menunjukkan rasa kesal dan ejekan. Jelasnya di sini https://www.youtube.com/watch?v=cnAh8OR4qPk )

“Terima kasih, Morga. Beneran deh, orang tadi terlalu keras kapala…”

“TIdak apa-apa, dan yang mulia betulan sedang menunggumu. Apa kamu tidak segera pergi?”

“Ah! Tidak! Aku seharusnya tidak membuat Master menunggu lebih lama lagi-"

Kata Calcedonia kegagapan, sambil panik berjalan cepat.

Melihat punggungnya berjalan menjauhi dirinya, Morganeich memandang Calcedonia dengan tatapan dalam tertentu.

No comments:

DMCA.com Protection Status