Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 6 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 6 Bahasa Indonesia

January 23, 2017 Pipo Narwastu


Translator: reisen
Proofreader: Ise-kun

Regular chapter adalah tiap hari Senin
Kuota chapter bonus: 0 ($0/$1)
*Note: Chapter bonus adalah chapter yang rilis di luar jadwal
Untuk meningkatkan kuota: klik dan tunggu 5 detik kemudian klik "skip ad" http://viid.me/qsCPDm
Kuota chapter akan diupdate tiap rilis chapter baru  

Chapter 6: Masa Lalu

Ketika pertama kali melihat laki-laki itu, umur berapa dia?

Saat ia dalam tahap sudah balig / baru dewasa, mungkin? Sekitar 3 sampai 4 tahun.

Pada suatu malam ia memimpikan sebuah keadaan, dimana seorang laki-laki yang sedikit lebih tua darinya menatap dirinya dengan mata hitam yang berkilau dan bercahaya layaknya batu obsidian gelap.

“Ayo Chiiko, buka mulutnya, waktunya makan.”

Tersenyum manis, laki laki itu mengarahkan sendok berisi seperti padi putih kepadanya.

---Eh? Apa ? Apakah aku harusnya makan benda ini?

Padi itu sepertinya telah dibasahi air, menjadi benda tebal yang lengket. Bagaimana pun ia melihat, benda itu tidak terlihat enak sama sekali.

Akan tetapi, dia yang ada di mimpinya memakan dengan senang sekali.

Tapi karena di dalam mimpi, ia tidak tahu rasanya seperti apa. Tapi ia dapat dengan jelas merasakan rasa puas pada mimpinya setelah memakan benda itu.

Ketika dia memakan padi itu, laki-laki dengan mata hitam tersebut tersenyum senang kepadanya.

Entah mengapa, dia ingin terus melihat senyum si laki-laki, jadi dia makan sampai perutnya kekenyangan.

**

Calcedonia memulai khotbahnya di atas mimbar dengan penuh semangat antusias di depan para jemaah.

Ia berbicara tentang ajaran dewa yang tertulis di berbagi kitab suci. Untuk menyalurkan hal ini ke para kesetiawan juga merupakan tugas penting bagi pendeta.

Sebagian besar orang di dunia ini- dunia yang Tatsumi dipanggil oleh Calcedonia, rata-rata buta huruf semua. Mereka tidak dapat membaca maupun menulis. Sehingga, pengajaran harus dilakukan secara lisan seperti sekarang.

Tentu, tidak hanya Calcedonia yang melakukan kewajiban ini. Pastor pendeta-pendeta lain juga bergantian dalam melakukan khotbah. Tapi seperti hari ini, ketika gilirannya yang memberikan khotbah, aula di dalam kuil selalu penuh dipenuhi para jemaah.

Alasan mereka datang adalah untuk mendengarkan ceramah dari para pendeta. Tapi tidak hanya itu alasan mereka datang ke aula hari ini.

Mimbar khotbah berada di lokasi terdalam aula jadi semua pengunjung dapat penglihatan mata burung. Banyak yang datang untuk melihat <Holy Maiden> memberikan khotbah di atas mimbar dengan suasana khidmat.
(TL note : Mereka datang cuma untuk cuci mata, bukan dengerin khotbah)

Tapi di mata orang yang datang untuk melihat <Holy Maiden>, ada sedikit hal yang membingungkan.

Normalnya <Holy Maiden> adalah tipe yang selalu membaca bacaan kitab dengan suasana khidmat tanpa mengubah nadanya. Tapi hari ini, gaya dan suasananya berbeda.

**

Dan dari situ, ia selalu memimpikan lelaki tersebut.

Setelah mengalami mimpi beberapa kali, ia mulai memperhatikan kalau bentuknya di dalam mimpi sangat kecil. Di atas itu, ia sadar kalau ia bukanlah seorang manusia.

Di taruh di telapak tangan laki-laki itu, ia diangkat sampai sebatas matanya. Lalu ia memberikan benda sejenis biji kepadanya, dan dia mematuk-matuk benda itu dengan gembira.

Ya, rasanya di dalam mimpi-mimpi itu dia berwujud seekor burung kecil. Dia memiliki bulu berwarna abu-abu silver. Dan dia dapat merasakan sesuatu bergoyang-goyang di atas kepalanya. Ketika dia menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, benda di atasnya juga ikut bergoyang.

Ia memberikan biji itu padaku yang dengan gesit mengambil isinya untuk dimakan. Lalu dengan senang mengeluarkan suara “Cuit!”

“Enak kan, Chiiko?”

Laki-laki itu bertanya sambil tertawa nyaring. ‘Chiiko’ sepertinya adalah namanya di mimpi tersebut.

Laki-laki itu selalu bersama dengannya.

Apakah itu di tangannya, di pundaknya atau di kepalanya, ia selalu bersama laki-laki tersebut di mimpinya. Dan ketika ia tumbuh dewasa, juga laki-laki di mimpi itu.

Dan akhirnya, setiap tahun kehidupannya di dalam mimpi, ia mulai memiliki perasaan kasih sayang terhadap laki-laki itu.

Selama ia berada di sisinya, ia akan selalu memenuhi hatinya dengan perasaan berdebar-debar penuh kehangatan, jadi ia mulai tertarik dengan laki-laki tersebut.

Waktu pun semakin berlalu, dan dia mencapai umur 10 tahun, dan di saat itu ia mulai sadar sesuatu.

Bahwa mimpinya dengan laki-laki tersebut bukanlah mimpi, tetapi adalah ingatan masa lalu yang ia alami kembali. Ia mengalami kembali kehidupan masa lalunya lewat mimpi.

Dan dengan hal itu sebagai pemicu, semua ingatan kehidupan sebelumnya langsung muncul sekaligus. Di atas semua itu, wajah laki-laki yang merupakan masternya- dia yang menatapnya, ketika umurnya telah mencapai batasnya, dengan sangat kuat sampai-sampai menggoncangkan hatinya.

**

Calcedonia berkotbah di atas mimbar seperti biasanya, tapi entah mengapa yang lain merasa kalau dia sedikit berbeda hari ini. Normalnya <Holy Maiden> selalu membaca kitab-kitab suci dewa seperti air terjun dingin yang tak henti-hentinya mengalir tanpa merusak sosok keagungannya. Biasanya, para jemaah melihat sosok tersebut dengan tatapan kagum, tapi hari ini mereka memandangnya dengan penuh kebingungan.

Biasanya dia hanya sekedar membaca kitab-kitab dengan senyum kecil dan tanpa merubah ekspresinya. Tapi hari ini berbeda. Hari ini, di matanya yang seperti basah, orang-orang bisa melihat pandangan kebingungan diikuti dengan cahaya yang memabukkan ketika ia sedang membaca kitab-kitab dengan semangat. Lalu terkadang ia menghembuskan nafas yang dipenuhi hasrat panas tersembunyi di dalam hatinya.

Melihat tingkah laku <Holy Maiden> yang tidak biasa, teman-teman dan para jemaah memiringkan kepala dan melihatnya kebingungan.

Ada beberapa jemaah yang malah lebih kagum dari biasanya karena daya tarik Calcedonia yang ia miliki hari ini.

Dan walaupun dari semua pandangan yang menatapnya, pikiran Calcedonia hanya terisi oleh sosok laki-laki di mimpinya, yang sekarang ia dapat bertemu dengannya kembali.

**

Ada dua pikiran yang ada di hatinya. Pertama adalah bertemu laki-laki itu – masternya – sekali lagi, dan yang satunya adalah kekhawatiran akan laki-laki tersebut yang kehilangan harapan setelah kehilangan Calcedonia di mimpinya.

Jadi ia membuat keputusan kuat, ia akan mempelajari sihir bagaimana pun caranya, lalu kembali ke sisinya menggunakan sihir tersebut.

Di dunia yang ia tempati sekarang, terdapat sebuah kerajinan gaib yang dinamakan sihir. Ia yang masih muda saat itu berpikir naif jika ia dapat menggunakan sihir, ia mungkin dapat kembali ke sisinya.

Tapi saat itu ia masih belum tahu. Sihir untuk melintasi antar dunia memang benar-benar ada, tetapi hal tersebut berasal dari era yang hilang, dianggap tidak lebih dari sekedar legenda.

Karena ia tidak tahu sama sekali selebihnya, yang pertama ia lakukan adalah berkonsultasi pada orang tuanya.

Ia memberi tahu orang tuanya tentang laki-laki yang ada di mimpinya.

Awalnya orang tua yang menyayanginya tersebut mendengarkan ceritanya sambil tersenyum, tetapi ketika mereka sadar berapapun lamanya waktu berlalu ia tidak henti-hentinya berbicara tentang laki-laki itu, mereka mulai merasa ada yang tidak enak.

Lalu si gadis tiba-tiba ingin mempelajari ilmu sihir. Dan alasannya karena ia ingin bersama laki-laki tersebut.

Akhirnya orang tua si gadis, berpikir kalau dia sudah menjadi gila, berniat untuk membuangnya.

Tempat dimana si gadis dan orang tuanya tinggal berada di desa sepi kecil di wilayah pinggiran dari kerajaan Largofiely.

Jika gosip muncul karena tingkah laku anak mereka aneh, tidak hanya dia, melainkan seluruh keluarganya akan dikucilkan dari desa kecil tersebut.

Jadi mereka memberi tahu si gadis kalau tidak memberi tahu siapapun tentang mimpinya. Tetapi, karena ia masih kecil yang tidak tahu apa-apa, terkadang ia memberi tahu orang lain tentang mimpinya, membantah peringatan orang tuanya.

Seiring waktu, para warga desa menjadi acuh dan tidak ramah, menyebabkan orang tuanya memutuskan untuk membuang gadis tersebut.

Tapi akhirnya mereka tidak dapat menjualnya menjadi budak, jadi mereka menyerahkan gadis terebut ke pendeta yang kebetulan sedang mengembara dan melewati desa mereka.

Mereka memberinya uang dengan tabungan sedikit mereka ke pendeta itu agar ia dapat membawanya ke kota yang lebih besar, dan mungkin menaruhnya di panti asuhan.

Alasan yang diberikan ke gadis kecil itu adalah, ‘karena sihir tidak dapat dipelajari di desa kecil seperti ini, jadi kami meminta pendeta untuk membawamu ke kota besar dimana kamu bisa mempelajari sihir.’

Dan akhirnya ia meninggalkan desa kelahirannya sambil memegang tangan si pendeta tanpa ada seorang pun yang melihat kepergiannya.

Selama perjalanan, si pendeta tidak berkata apapun ke gadis tersebut. Karena si pendeta sudah mendengar dari orang tuanya bahwa gadis tersebut telah gila, ia merasa tidak perlu untuk berbicara dengannya.

Ia hanya diberi makan dan istirahat secukupnya, sambil si pendeta terus melanjutkan perjalanannya. Dan akhirnya kota tujuan mereka adalah ibokata kerajaan Largofiely, kota Levantes.

Si pendeta, yang merupakan anggota dari kuil Savaiv di Levantes, dipanggil untuk ditugaskan mengatasi pernikahan anak dari keluarga penting di suatu kota tertentu.

Di dunia ini, merupakan status dan kekayaan yang tinggi untuk dapat memanggil pendeta Savaiv dari pusat kuil di ibukota ini dan ditugaskan mengatasi pernikahan.

Dalam perjalanan kali ini adalah situasi seperti itu, dan di perjalanan ini ia dipercayakan gadis kecil ini.

Si pendeta, yang telah kembali ke Levates menaruhnya di tempat tinggal para pembantu yang nantinya akan dipekerjakan sebagai pelayan.

Kebutuhan perjalanan gadis itu seperti makanan dan tempat menginap sudah termasuk ke uang yang diberikan orang tuanya ke pendeta tersebut. Tapi si pendeta tidak banyak memakainya, dan mengambil sisanya.

Si pendeta lumayan senang dengan kejadian ini, dan ingatan tentang gadis tersebut tidak lama hilang dari pikirannya.

Ada banyak anak-anak sepertinya di kuil. Anak-anak yang entah mengapa kehilangan keluarganya, atau anak-anak yang dibuang orang tuanya sama sepertinya. Si pendeta sama sekali tidak peduli situasi gadis tersebut yang hampir sama dengan anak-anak lain.

Tapi hasilnya, kejadian ini merupakan sesuatu yang menguntungkan bagi gadis itu.

Karena ini, ketika ia bekerja sebagai pelayan untuk para pendeta, ia tanpa sengaja mencuri perhatian pemegang pangkat pendeta tertinggi yang ada di kuil, yang melihat bakat kemampuan sihir yang ia miliki.

**

“…jadi seperti itu ceritanya…”

Kata Tatsumi kaget mendengar masa lalu Calcedonia.

“Ia mungkin tidak terlihat begitu, tapi gadis itu telah melewati banyak penderitaan dan kesulitan.”

Sebelum Giuseppe, mengadopsi Calcedonia, ia ternyata menjalani kehidupan sulit lebih yang Tatsumi dapat bayangkan.

Setelah Calcedonia meninggalkan ruang tamu, Tatsumi dan Giuseppe melanjutkan percakapan mereka di ruang tamu.

“Setelah ia menjadi anak angkatku, ia mulai rajin bekerja, ia mempelajari sihir dengan giat, sama halnya ia menjalankan kehidupan menjadi pendeta. Ia juga melakukan hal-hal lain. Dan akhirnya Karena kerja kerasnya, mimpinya menjadi kenyataan.”

Ia menemukan ritual untuk upacara pemanggilan di pinggir pojok salah satu arsip kerajaan di bahan tumpukan-tumpukan. Dan setelah bertahun-tahun belajar dan mempersiapkan bahan-bahannya, ia akhirnya berhasil memanggil Tatsumi. Sebagai bukti kerja kerasnya, Tatsumi sekarang dapat duduk di sini.

“Jadi begini, menantu, aku harus melakukan suatu bentuk rasa terima kasih sekali lagi.”

“Ya?”

“Menantu, kamu menerima cucuku seperti itu, walaupun ia memanggilmu ke sini tanpa ada diskusi sebelumnya. Bahkan kalau kamu memarahinya, tidak ada yang akan merasa keberatan, tapi kamu tidak melakukannya.”

Umumnya bagi seseorang, jika dipanggil ke dunia lain tanpa ada diskusi sebelumnya, wajar dapat bertindak kasar.

Tetapi Tatsumi tidak memiliki keluhan sedikit pun, bahkan merasa berterima kasih kepada Calcedonia.

Giuseppe, yang terkagum dengan Tatsumi secara halus menerima Calcedonia, berterima kasih dengannya.

“Kalau mungkin, aku sangat ingin kamu menerima cucuku sebagai istri di sini sekarang juga, menantu.”

“Ho, ho, ho” tawa pelan lepas, tapi Tatsumi di lain sisi, tidak tertawa.

Awalnya, ia tidak mengerti maksud perkataan Giuseppe. Tapi tidak lama, maksud arti itu meresap ke pikiran Tatsumi, dan akhirnya ia mengerti apa arti ucapan Giuseppe.

Dengan itu, Tatsumi dengan indah memuncratkan teh yang ia minum dari mulutnya.

**

Dari situ, mimpinya dengan lambat terus berjalan.

Karena dia sekarang anak angkat dari pendeta tertinggi di kuil Savaiv, ia dapat melakukan pembelajaran sihir sambil mengembangkan kekuatan sihirnya sendiri. Dan di saat yang sama, ia mulai mencari cara untuk dapat berpindah dunia.

Tentu, ia dengan rajin menjalankan kewajiban hariannya sebagai pendeta, dan kadang memakai kemampuan penyembuhan untuk mengobati orang yang terluka.

Ketika ia menjalani kehidupan sehari-hari seperti ini, mimpi laki-laki itu—kehidupan sebelumnya yang ia alami kembali—lantas menjadi kebahagiaan terbesarnya.

Karena di mimpi itu ia dapat bersama master tercintanya, walau tidak mungkin ia dapat bertemu dengannya kembali di dunia nyata.

Bersamaan dengan dia tumbuh besar, laki-laki di mimpinya juga tumbuh besar.

Mungkin karena bantuan para dewa ia di reinkarnasikan pada periode dimana ia seumuran dengan laki-laki tersebut.

Ia berterima kasih dengan ini, yang dikatakannya saat masih muda. Dewa Savaiv merupakan satu-satunya dewa yang ia tahu ketika ia berada di desa pertanian pinggiran waktu itu.

Karena dia dan laki-laki di mimpinya berumuran sama, hal ini menambah perasaan cinta yang mulai ia rasakan, dan perasaan tersebut terus tumbuh kuat.

Setiap kali dia melihat laki-laki itu di mimpinya—masternya—perasaannya juga ikut bertambah kuat seiring waktu.

Tetapi, mimpinya tidak semuanya mimpi indah.

Ia masih dapat merasakannya dengan jelas, hari dimana masternya kehilangan keluarganya.

Master dan keluarganya terluka parah di suatu tempat yang sangat jauh. Saat kejadian itu terjadi, ia lumayan sedikit mengerti, tapi ketika mulai mengulang kejadian tersebut di dalam mimpi, ia dipenuhi rasa kesedihan kembali.

Masternya adalah laki-laki di dalam mimpi, tapi ia juga sangat menyayangi keluarganya.

Seperti masternya, keluarganya pun juga menyayangi dirinya, dan sangat mencintainya. Tapi keluarga itu semuanya meninggal, dan meninggalkan laki-laki tersebut sendirian.

Di waktu ini ia mulai mengetahui bahwa hari-hari ia tidak dapat bertemu laki-laki itu mulai bertambah banyak. Ia akhirnya mengerti kalau lukanya sangat parah.

Di dunia ini, tidak ada yang namanya sihir penyembuhan. Luka parah hanya dapat diobati dengan waktu yang lama.

Saat si laki-laki tidak ada, salah satu tetangga yang mengurusnya. Ia tahu orang tersebut karena ia masih ingat. Ketika masternya jalan-jalan dengan dia berada di pundaknya, master sering menyapa orang itu.

Dan akhirnya, setelah waktu yang lama, masternya kembali pulang, tapi ia kembali dengan hati yang penuh dengan kesedihan.

Mereka berdua pindah dari rumah yang besar ke tempat yang lebih kecil. Dan di saat itu mimpi yang ia alami mulai menjadi setiap hari.

Karenanya, ia mempercepat persiapan. Ia merasa waktu untuk berpisah dengannya semakin dekat.

Sudah tidak ada waktu lagi. Ia merasa cemas dengan keadaan masternya setelah kehilangan dirinya, dan mempercepat persiapan upacara pemanggilan.

Cara-cara upacara dipercepat. Dan ia hanya istirahat seminim mungkin ketika ada waktu saja. Dan dalam waktu dekat, persiapan tersebut akhirnya selesai. Dan di saat yang sama, waktu berakhirnya ia bermimpi juga tiba.

Di dalam mimpi, si laki-laki yang telah kehilangan dirinya dipenuhi oleh rasa kesedihan. Ia mau menghiburnya. Ia ingin setidaknya berguna bagi laki-laki tersebut, walau hanya sedikit saja. Ia ingin berada di sampingnya. Lalu, mulailah upacara pemanggilan laki-laki itu.

Upacara ini berlangsung beberapa hari, dan ia tidak boleh makan ataupun tidur selama proses berlangsung.

Walau ia memiliki tenaga lebih besar dari yang lain dan kekuatan sihirnya yang luar biasa, masih ada kemungkinan jikalau ia tidak berhasil.

Terlebih lagi, ia hanya dapat melakukan ritual ini sekali, jika gagal, ia harus menunggu beberapa tahun lagi untuk melakukan percobaan kedua.

Sosok laki-laki yang kehilangan dirinya mulai muncul di pikirannya. Mengapa sosok tersebut melayang di depannya dengan jelas padahal ia masih sadar? Ia tidak mengerti. Mungkin ada hubungannya dengan ritual upacara karena hubungannya dengan laki-laki tersebut semakin kuat.

Laki-laki itu kehilangan kemauan untuk hidup, dan sedang putus asa, ia merasa khawatir padanya. Laki-laki itu hanya memandangi kandang kosong dengan mata hampa. Seperti ini, ia terus menjalani hidupnya tanpa melakukan apa-apa.

Kalau begini terus, apa nanti ia akan hilang dalam keputusasaan? Ia bisa saja mengambil nyawanya sendiri karena kesedihan yang berkepanjangan.

Dengan hati yang terus khawatir, ia terus melanjutkan ritual tersebut.

Lalu.

Lalu, keinginannya mencapai laki-laki itu.

Ia tidak akan bermimpi tentangnya lagi. Karena, laki-laki yang tidak dapat bertemu langsung kecuali di mimpinya, baru saja muncul di hadapannya.


No comments:

DMCA.com Protection Status