Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 8 Part 2 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 8 Part 2 Bahasa Indonesia

January 30, 2017 Pipo Narwastu


Translator: Kirz
Proofreader: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume  4 Chapter 8 Part 1/2: Machikaneta Saikai (Reuni yang Telah Dinanti-nantikan)

Meskipun Subaru tidak memiliki niat untuk membuat bunga cinta mekar, tetap saja sikap dinginnya Ram membuat Subaru merasa dirinya tidak ada gunanya datang kemari. Namun, fakta kalau Ia tidak dapat menanyakan apa yang seharusnya Ia tanyakan, adalah, dapat dimengerti, karena Subaru ketakutan.

"Di saat seperti ini, apa aku masih takut untuk menyebut nama Rem... bahkan.. meskipun aku ingin menyebutnya..." (Subaru)

Ia takut di saat ingin memastikan hal itu.
Setelah mengetahui kalau Emilia dan Petra tidak dapat mengingat Rem, sekarang, Ia ingin bertanya dengan kakak dari gadis itu sendiri, apakah Ia telah melupakan gadis itu juga?

Akan tetapi, datang kemari, dan tidak ditanyakan soal mengapa Rem tidak ada, itu menandakan kalau sudah tidak ada guna-nya lagi untuk menanyakan hal itu.

"Yah jugaan aku nggak bisa berbuat apa-apa terhadap pemikiranku ini. Maka dari itu untuk sekarang ini, Emilia-tan, mari kita ikut saja dengan Ram.  ——Ada apa?" (Subaru)

Subaru menengok ke arah Emilia, yang sedari tadi terdiam. Sejak turun dari gerobak, Ia sama sekali tidak membuka mulutnya, hanya melihat ke arah sekitarnya dengan terlihat cemas. Menyadari panggilan Subaru, Ia mengucapkan "Enggak..." sambil sedikit menggelengkan kepala-nya.

"Aku cuma, nggak bisa tenang. Gimana ya aku bilangnya, ada perasaan aneh... yang nggak bisa kuucapkan dengan kata-kata" (Emilia)

"Nggak bisa tenang, yah. Aku saja, orang yang pemalu, yang enggan untuk meninggalkan rumahnya, menganggap tempat ini seperti dunia yang baru, 'tau? Kurasa semua orang pasti akan punya perasaan yang seperti itu....  Namun walau begitu, Aku nggak begitu membenci diriku sendiri" (Subaru)

Melihat ke arah sekitar bersama dengan Emilia, keadaan sekitar benar-benar terlihat seperti desa yang tidak terurus. Mungkin, jika dibandingkan dengan Desa Arlam, rumah-rumah disini terlihat lebih tua, dan tingkat kerusakannya lebih parah, namun semua ini hanyalah sebuah pendapat, yang tidak begitu penting.

Meski begitu, bukan berarti tempat ini tidak memiliki keganjilan. Keganjilan apakah itu, Subaru tidak begitu yakin.

"Tapi kita nggak ada rencana lain lagi meskipun kita berusaha mempertahankan kewaspadaan kita, Emilia-tan. Mereka berdua Ram dan Ros-chi sudah disini, seenggaknya kita akan aman, menurutku" (Subaru)

"Aku tadi begitu bukan berarti aku ingin mempertahankan kewaspadaanku... Nggak kok, Aku sudah merasa baik sekarang. Cuma andai saja, aku bisa berbicara dengan Puck..." (Emilia)

Batu kristal di dadanya—————— menyentuh batu hijau yang dikalunginya, Emilia dengan gelisah menyebut nama dari arwah yang tersegel di batu itu. Ketidakhadiran dari Arwah itu, yang biasanya selalu bersama dengannya, tentu saja membuat dirinya tidak henti-hentinya merasa cemas.

Melihat dirinya yang begitu kalang kabut, Subaru membenci dirinya sendiri karena ia bukanlah orang yang diharapkan Emilia.

"――Subaru?" (Emilia)

"Ayuk dah. Apapun yang terjadi, serahkan saja pada pelindung ke-2 mu ini" (Subaru)

Tanpa banyak pikir lagi, Ia memegang tangan yang tadi menyentuh batu kristal itu, dan memalingkan pandangannya ketika Ia mengucapkan ini. Lalu, memegang tangannya dengan erat, sebelum Emilia dapat menolaknya, Ia pun dengan cepat melangkah ke depan. Dan dengan otomatis, Emilia hanya bisa menuruti paksaannya.

Melakukan itu tanpa banyak pikir lagi, Ia merasa kalau tingkahnya itu dapat membuat api keluar dari setiap pori-pori wajahnya. Namun, walau begitu, Ia memilih untuk tetap mengikuti emosi-nya, dan hanya dapat berharap kalau tingkah-nya itu tidak terlihat aneh.
(TLN: Mungkin maksud dari api keluar dari setiap pori2 itu keringat(?))

"――Hu-um" (Emilia)

Hanya saja, tidak seperti Subaru, yang hatinya sedang berdegup kencang, Emilia sedikit mengangguk, dan tidak melepas tangannya Subaru.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

(TLN: Nanti roswaal berbicara ada ~ ~ nya, buat yang bingung, silahkan disimak dulu eps 4 animenya, agar teringat nada dia berbicara dan bisa lebih menjiwai membaca chapter ini, wkwkwk :v)

――Inilah satu-satunya rumah di 'Sanctuary' yang masih terlihat awet dan layak untuk ditempati.

Dibangun dari batu, bangunan tidak bertingkat itu ukurannya sebesar Rumah Keluarga pada umumnya di dunia nyata. Ruangannya terlihat sederhana, siapa yang melihatnya pun pasti akan merasa kalau hidup disini akan terasa nyaman namun sederhana.

Karena sudah terbiasa dengan tempat yang mewah, seperti Mansionnya Roswaal dan Mansionnya Crusch, Subaru merasa tempat ini sangat sempit. Tapi, tentu saja, lama kelamaan pasti, dengan membiasakan diri bersikap seperti orang yang sederhana, Ia akan dengan mudah terbiasa untuk hidup di tempat yang seperti ini.

Begitulah, kesan pertama dari tempat yang menjadi tempat mereka bertemu sekarang ini.

Dan kemudian,

"Yaaaa~~~, Emilia-sama dan Subaru-kun. Da~~~ku merasa kalau pertemuan ini telah kita nanti-nantikan, ya~~~~ kan?" (Roswaal)

Dengan senyum cerianya, dan dengan melambaikan tangannya ke arah mereka, begitulah cara Roswaal menyapa mereka setelah lama tidak bertemu.

Ini adalah pertama kalinya Subaru bertemu secara empat mata dengan Roswaal, setelah mereka berpisah di Ibu kota pada waktu itu. Dan sebagaimana mereka tidak bertemu di perulangan waktu Subaru sebelumnya, itu artinya sudah sebulan lebih mereka tidak bertemu. Mengingat semua kebenciannya yang terkumpul selama waktu itu, yang diinginkannya saat ini hanyalah mengerahkan pukulannya tepat di wajahnya tanpa banyak basa basi lagi, akan tetapi,

"Ya~~~ah, daku senang melihat dikau aa~~man, Emilia-sama. Ram sudah memberitahu daku tentang masalah yang ada di Ma~~aansion. Kalau saja terjadi apa-apa dengan dikau, Tentu saja daku akan kehilangan tujuan daku untuk tetap hiiii~~dup" (Roswaal)

"Kalau memang itu yang kau rasakan, harusnya paling nggak kau mempersiapkan diri lebih baik.... Sebetulnya, apa sih yang telah terjadi padamu? Apa-apaan ini!?" (Subaru)

Di saat Roswaal nampak lega melihat Emilia baik-baik saja, Subaru dan Emilia nampak terkejut. Begitu banyaknya hal yang awalnya ingin mereka tanyakan, namun semua itu seketika hilang, seperti kabut yang menghilang, di saat mereka melihat keadaan Roswaal.

Terbaring di kasur... tubuhnya dipenuhi luka-luka yang tidak bisa diabaikan begitu saja, perban yang menutupi dirinya dibasahi oleh darah, membuat dirinya terlihat begitu menyedihkan.

Terhadap pertanyaan Subaru, dan Emilia yang terus diam menatapi-nya, Roswaal menggunakan tangan kirinya, yang sedikit terluka, untuk membuka dengan pelan penutup mata yang menutupi mata kirinya.

"Aaa~~~yaaa~~, kalian menanyakan tentang iii~~ni? Daaa~~~ku ini hanyalah manusia biasa, bagaimana pun ju~~~~ga. Di lihat dalam keadaan menyedihkan seperti ini, benar-benar membuat harga diri daku jatuh, jadi bisakah dikau memaklumi daku ini yang ingin beriii~~stirahat sebentar" (Roswaal)

"Keadaanmu itu memang benar-benar buruk. Apa yang sebenarnya terjadi, Roswaal? Terluka seperti itu.. bagaimana kamu bisa.., mou~" (Emilia)

Tidak teralihkan oleh candaannya Roswaal, Emilia menjawab sambil mengerahkan jari-nya yang gemetaran ke arah Roswaal, bimbang apakah ingin menyentuh tubuh yang dipenuhi oleh luka itu atau tidak. Melihat dirinya seperti ini, Roswaal tersenyum sedih, lalu mengalihkan pandangan-nya ke atap rumahnya, membisikkan 'Yahh kalau begitu..',

"Dari ma~~~na daku harus memulainya~~~ hm? Yaaa~~~ah, dikau bisa bilang daku yang cedera ini diakibatkan oleh permasalahan soal kehormatan, dan kebenaran, sehingga da~~~ku tidak ada pilihan lain" (Roswaal)

"Berhentilah berusaha menghindar dari pertanyaanku, dengan mengucapkan kata-kata yang berbelit-belit kayak gitu. Aku ini nanya serius denganmu, Roswaal, jadi tolong jawab pertanyaanku ini dengan serius juga" (Emilia)

"...Yaaa~ampun, sepertinya Emilia-sama dalam mood yang buruk hari ini. Taaa~pi, mengingat dimana kita sekarang ini, mungkin daku tidak akan bisa melakukan tindakan menghindar seperti itu" (Roswaal)

Bahkan Subaru merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres di saat Ia melihat Emilia berbicara dengan keras kepala, yang begitu penasaran, dan juga disaat Roswaal mengucapkan itu. Emilia sedikit mengangkat alisnya, namun, akhirnya menyadari kalau yang dikatakan Roswaal itu benar, Ia pun langsung menggigit bibirnya.

"Kepalaku dah pusing, aku nggak bisa tenang lagi. Apa sebenarnya tempat ini? Meskipun tempat ini dipanggil 'Sanctuary', tetap saja tempat ini menurutku bukan tempat yang seperti itu. Terus kalau gitu tempat ini.." (Emilia)
(TLN: Karna arti sebenarnya Sanctuary itu tempat suci yang biasa dijadikan tempat perlindungan)

"'Kuburan Penyihir', begitu mudah untuk diiiiii~ngat, ya..?" (Roswaal)

"――!"

Nada bicaranya Roswaal menurun di saat Ia mengucapkan itu. Kalimat yang pernah diucapkan oleh Garfiel terdengar lagi di mulutnya Roswaal, ucapannya itu memiliki makna yang dalam dan luar biasa.

Dengan cepat, Emilia menengok ke arah Subaru. Melihat kemarahan terpancarkan dari kedua matanya, Subaru mengangguk, menenangkan kegelisahannya Emilia.

"Sabar dulu, mari kita tanyakan dulu semua yang ingin kita tanyakan. Kalau kita terus-terusan bersitegang seperti ini, pembicaraan ini cuma akan jadi melenceng kemana-mana, dan kita nggak bakalan dapat satupun kesimpulan dari semua masalah ini" (Subaru)

"Ooh~ yaaa? Baru sebentar kita tidak bertemu, tapi dikau sudah semakin baik dalam memecahkan permasalahan, ya? Subaru-kun, aaa~pa yang membuat cara berpikir dikau itu berubah seperti sekarang ini?" (Roswaal)

"Kalau kita terus bersitegang kayak tadi, bakalan lama nunggu sampai redanya, jadi aku berhentiin dulu ribut-ributnya itu sampai kita mendengar apa yang ingin kita tahu. Ah, iya, sebenarnya ada satu hal yang ingin kuketahui..." (Subaru)

Subaru menatapi Roswaal yang sedang tersenyum sinis, Ia pun menaikkan jarinya,

"Kami telah membentuk aliansi dengan Crusch-san, tapi seharusnya kau sudah dengar tentang hal ini dari Ram... kau senang karena telah meninggalkanku, ya kan?" (Subaru)

" ――Sa~~ngat senang. Ba~~~~gaimanapun juga, tindakan daku benar dalam melibatkan dikau" (Roswaal)

Melihat Roswaal tersenyum dengan puas, Subaru menghela napas lalu menutup kedua matanya. Subaru sesungguhnya sudah tahu tentang ini, tapi tetap saja faktanya, semua tindakkannya tepat sesuai yang direncanakan oleh Roswaal. Meskipun Ia sudah menerima, tentang dirinya yang dimanfaatkan, tetap saja tidak enak rasanya mendengar konfirmasi itu darinya.

Meskipun demikian, Subaru telah mempersiapkan pertanyaan yang selanjutnya,

"Pertama-tama, ini adalah pertanyaan tentang para penduduk desa Arlam. Karena Ram selamat, sudah pasti mereka baik-baik saja, dan telah dievakuasi dengan aman, kan?" (Subaru)

"Dikau bisa menjaaaa~minnya. Mungkin memang rakyat daku sekarang ini tidak begitu mempercayai daku, namun daku teee~tap tahu tentang tugas daku sebagai pemimpin. Hal seperti membahayakan nyawa untuk melindungi rakyat daku, tentu saja daku akan melakukan hal itu juga. Daku bisa pastikan kalau semuanya telah berlindung di Katedral dari desa ini" (Roswaal)
(TLN: Katedral adalah gedung Gereja Katolik yang di dalamnya terdapat tempat duduk khusus bagi para uskup)

"Katedral.... Ah, kita bisa membahas tentang tempat itu nanti saja, oke selanjutnya yang ingin kutanyakan adalah.." (Subaru)

Ia lega karena yakin kalau para penduduk telah aman. Karena waktu itu Subaru hanya memutuskan untuk mengevakuasi mereka sekaligus membantu persiapan keberangkatannya, apakah nantinya mereka akan selamat, itu menjadi pertanyaan terakhir yang terus membuatnya penasaran dari perulangan sebelumnya.

――Karena mau bagaimanapun juga, momen saat itu tidak dapat diulang lagi.

Menurunkan bahunya dengan lega, Subaru menatap Emilia. Menerima ini, Emilia menunduk, menundukkan dagunya yang ramping.

"Kalau gitu, katakan padaku tentang tempat ini. Kamu memanggil tempat ini Sanctuary, tapi Garfiel memanggil tempat ini 'Makam sang Penyihir Keserakahan'. Mana sebetulnya yang benar?" (Emilia)
(TLN: Waktu itu garfiel menyebutnya 'Makam Sang Penyihir Keserakahan' saja, maaf ane mis-translate waktu itu :v)

"Kedua-duanya benar, Emilia-sama. Tempat ini adalah tempat dari Penyihir Keserakahan yang dulu―― tempat peristirahatan terakhirnya Echidna. Dan bagi daku secara pribadi, tempat ini adalah tempat yang seharusnya dipanggil Sanctuary" (Roswaal)

"――Penyihir" (Subaru)

"Echidna...." (Emilia)

Mendengar jawabannya, tenggorokan Emilia dan Subaru langsung tersendat secara bersamaan.

Roswaal berbicara dengan pelan, segala kelakuan badutnya yang Ia tunjukkan sebelumnya hingga saat ini, menghilang dari suaranya. Justru karena hal inilah, untuk pertama kalinya, kata-katanya terdengar jujur.

Mengambil napas dalam-dalam, Emilia mengedipkan mata-nya beberapa kali, dan lanjut bertanya lagi,

"Penyihir keserakahan.... dia adalah penyihir lain yang telah dibunuh oleh penyihir kecemburuan, ya kan?" (Emilia)

"E~~ee, yap benar. Tidak peduli dalam buku sejarah dunia apapun dikau mencarinya saat ini, namanya tidak disebut lagi. Namanya saat ini cuma, berada dalam ingatan beberapa orang yang mengenalnya.." (Roswaal)

"Tunggu tunggu tunggu, yang kau ceritakan itu nggak masuk akal" (Subaru)

Subaru memotong pembicaraan seriusnya Roswaal dengan lambaian tangannya yang cepat. Roswaal pun menyipitkan satu mata-nya yang terbuka, menatap ke arah Subaru, yang sedikit demi sedikit tertekan oleh aura yang dibuat Roswaal saat ini.

"Kalau aku nggak salah ingat, penyihir keserakahan.... telah dikalahkan oleh penyihir kecemburuan 400 tahun yang lalu. Tempat ini menjadi tempat peristirahatan terakhir dari penyihir itu sejak 400 tahun yang lalu dapat kupahami... tapi mendengar kau bilang kalau kau mengenalnya, itu sama sekali membingungkan.." (Subaru)

"Daa~~~ku tahu tentang ini sendiri, tapi daaa~ku takut kalau sebetulnya daku tidak boleh menceritakan ini. Karena cerita ini telah diceritakan secara turun temurun melalui generasi ke generasi di keluarga Mathers.... hanya untuk para ahli warisnya Roswaal" (Roswaal)

"Diceritakan secara turun-temurun.... kalau gitu kepala dari keluarga Mathers, dulu pernah berhubungan sama si Penyihir Keserakahan ini?" (Emilia)

"――Echidna" (Roswaal)

"Eh?" (Emilia)

Secara tiba-tiba, mendengar nama itu dilontarkan, kedua mata Emilia terbuka lebar. Roswaal menoleh ke arahnya, dan, seolah-olah ingin memastikan sekali lagi maksud dari ucapannya, Ia pun membisikkan "Echidna" sekali lagi,

"Too~~long, panggil Ia dengan namanya. Panggilan seperti 'Penyihir Keserakahan', mau bagaimanapun dikau mengatakannya, nama itu tetap saja berkesan jahat, yaaa~~ kan? Jugaan, nama itu terlalu panjang" (Roswaal)

"...Etto, baiklah aku mengerti. Jadi, Echidna menemui ajalnya di desa ini, dan desa ini kemudian dikelola oleh keluarga Mathers dari generasi ke generasi... benar kan?" (Emilia)

"Eeeee~, yap benar. Meskipun menyebut 'mengelola' rasanya terlalu berlebihan untuk kualitas pengelolaan disini(TLN: Maksudnya mereka tidak becus). Pengaruh Echidna tetap begitu keras disini, dan tanpa langkah yang benar, tidak mungkin bisa menginjakkan kaki disini. Fakta kalau kalian bisa masuk ke sini... kalian benar-benar harus berterimakasih terhadap Frederica yang telah membantu kalian, ya?" (Roswaal)

Mengangguk seakan telah mengerti, kedua mata Roswaal menunjukkan kalau Ia telah paham. Melihat ini, Subaru pun kembali melanjutkan topik pembicaraannya,

"Aku paham kalau tempat ini adalah makamnya Echidna, dan tempat ini dikelola olehmu. Apa yang tidak kupahami adalah tujuan dari adanya tempat ini, dan mengapa kau dan para penduduk belum pergi juga dari sini" (Subaru)

"Daku mungkin telah mengatakan hal yang aneh, ta~~pi nampaknya dikau mudah mencernanya. Oke, karena tempat ini adalah makam Penyihir, daaa~~ku benar-benar ingin tetap merahasiakannya..." (Roswaal)

"Mungkin kalau untuk penyihir kecemburuan aku bisa menebaknya, tapi kalau untuk penyihir bernama 'Echidna' ini, aku benar-benar nggak tahu apa yang telah dilakukannya. Tapi Mendengar sebutan 'Penyihir' saja seharusnya sudah memberikan kesan jahat darinya. Dan bersamaan dengan fakta kalau dia itu 'Setengah-Elf', semua pasti beranggapan kan kalau Emilia-tan itu imut cuma dari sebutan itu?" (Subaru)

"...Uhk. B-Bisa nggak, nggak ngomongin hal yang nggak ada hubungannya dengan topik kayak gitu. Serangan-dadakan itu juga ada batasnya, 'tau!" (Emilia)

Mendengar ucapan ngegombalnya disisipkan di akhir pembicaraan seriusnya, Emilia, yang wajahnya mulai memerah, langsung menyentak pinggangnya Subaru. Subaru pun tersenyum sinis melihat reaksi Emilia yang benar-benar imut, tapi kemudian, Ia menyadari Roswaal dari sudut matanya memberikan tawa yang mengganggu 'Ohohoho~~',

"Dalam waktu si~~~ngkat yang telah dikau habiskan bersama, kalian mulai jadi semakin dekat, ya. Setelah meninggalkan Ibu kota dalam perselisihan kalian waktu itu, daku penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi nampaknya lebih baik dari yang daku duu~ga sebelumnya" (Roswaal)

"Ini adalah cinta yang kudapat setelah menjalani petualangan yang panjang, dan sulit, 'tau! Banyak yang ingin kuceritakan sebetulnya, tapi mari kita kesampingkan dulu tentang itu sampai kau selesai menjawab semua pertanyaan kami. Jadi balik lagi, apa tujuan adanya tempat ini, dan mengapa kau belum juga pergi dari sini" (Subaru)

"Nampaknya dikau sudah bukan lagi bocah yang naif, dan sudah mulai bisa diandalkan. Oke Jaaadi~~~~~..., alasan mengapa para penduduk dan daku belum juga kembali dari sini.... Sederhananya, kita tidak bisa kembali meskipun kita mengii~~nginkan nya..." (Roswaal)

"Nggak bisa pulang meskipun kau menginginkan-nya?" (Subaru)

Tidak dapat mengerti jawabannya, Subaru mengerutkan jidatnya.

Roswaal pun mengangguk, dan tersenyum kepada Subaru yang terlihat penasaran, sambil berkata,

"Karena sekarang, kiiitaaa~~ semua, dan tentunya juga semua penduduk yang berada di desa ini, telah menjadi tahanan di sini. Daaa~~~aan, semenjak kalian masuk kesini, sepertinya kalian telah mengalami situasi yang saa~~~ma" (Roswaal)

Previous ChapterDaftar Isi – Next Chapter

No comments:

DMCA.com Protection Status