Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 6 Part 2 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 6 Part 2 Bahasa Indonesia

January 02, 2017 Pipo Narwastu

Translator: Kirz
Editor: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 4 Chapter 6 Part 2/2: Seiiki e no Dōchū (Sepanjang Jalan Menuju Sanctuary)

"Karena kita semua percaya dengan hal ini(janji), maka kita semua melakukan apa saja untuk memenuhi janji yang kita buat. Karena 'Janji' dapat menjaga setiap kepercayaan orang lain, kan?" (Emilia)

"Kalau untuk itu~... Aku benar-benar minta maaf―― !" (Subaru)

Di dalam gerobak tanpa ada sedikitpun keributan, Subaru menjatuhkan badannya serta menurunkan kepalanya kebawah menghadap kedepan.

Melihat dirinya menempelkan dahinya pada lantai dalam posisi DOGEZA*, untuk beberapa saat, Emilia mengedipkan kelopak matanya dalam keheranan, lalu beberapa detik kemudian, setelah merenungkan apa yang baru saja Ia katakan ditambah dengan pose Subaru saat ini, kelihatannya Emilia mulai mengerti.
(TLN: Bagi yg blm tau, dogeza itu tata krama di Jepang dgn berlutut langsung di tanah dan membungkuk hingga kepala menyentuh lantai(atau pendeknya Bersujud). Digunakan utk menunjukkan rasa hormat kpd yg paling dihormati (orang kelas tinggi), atau sbg permintaan maaf yg mendalam)

"Ah, Aku nggak menyalahkan-mu kok. Yah memang bener sih kamu nggak jaga janji kamu, terus nggak minta maaf juga, dan malah berbalik menyalahkanku, sehingga aku sampai berucap 'Apa-apaan sih ini!'" (Emilia)

"Ouw ouw ouw telingaku sakit!" (Subaru)

"Tapi kemudian, setelah aku memikirkannya, Aku sadar aku ini egois dan selalu melihat sisiku saja. Maafkan diriku yang keras kepala ini sehingga nggak pernah meminta maaf kepada Subaru. Jadi itu adalah salahku. Benar-benar, minta maaf." (Emilia)

"Ouw ouw ouw dadaku sakit!" (Subaru)

"Setuju dan berpikiran seperti itu, mungkin hal itu begitu bermakna dan bebannya begitu berat bagiku... Karena diriku ini Pengguna-Roh, maka sebuah 'pernjanjian' bagiku begitu penting, tidak seperti orang normal lainnya. Kami para Pengguna-Roh harus mengutamakan perjanjian yang telah kita buat dengan Roh-roh kami, dan itulah mengapa aku sangat sensitif ketika ketemu sama hal yang beginian...... Yah bagiku, 'Janji' itu begitu, begiiiiiiiitu penting. Sekarang aku baru kepikiran, Subaru, renungkanlah perbuatanmu" (Emilia)

"Ouw ouw ouw hatiku sakit!" (Subaru)

Disaat Ia(Emilia) tanpa berpikir panjang mengatakan semua ini, seolah-olah ingat akan semua yang telah Subaru lakukan kepadanya, Emilia mulai mencibir. Menyadari ini, Subaru menekan kepalanya ke bawah semakin keras.

Semuanya sudah jelas sekarang, kenapa Ia begitu marah padanya saat di Istana Kerajaan pada waktu itu.

Kemarahannya bukan cuma sekedar marah karena tidak menepati janji. Baginya, 'janji' itu sangat penting, dan bebannya sangat berat. Disaat Subaru tidak memedulikan ini dengan mudahnya, bahkan bagi orang yang berhati-lembut seperti Emilia pun tidak akan bisa tinggal diam.

Karena tanpa sadar, Subaru telah menginjak-injak sesuatu yang begitu penting di hati Emilia.
(TLN:Janji yg dimaksud sblm wktu pemilihan calon raja slanjutnya itu, diskitaran eps 8 atau 9 di anime, ane lupa menit keberapa :3, fans ny rezero pasti tau lah :V)

"Apa kamu sudah menyadari perbuatanmu sekarang?" (Emilia)

"Aku menyesalinya. Lebih dalam dari lautan, lebih tinggi dari pegunungan, lebih luas dari langit, dan lebih besar dari alam semesta" (Subaru)

"Baiklah, aku memaafkanmu" (Emilia)

Secara lembut mengelus dahinya Subaru disaat Ia mendongak kewajahnya, Emilia kemudian menyentuh bibirnya sendiri dengan jarinya, tersenyum kecil. Lega karena tidak ada lagi tanda-tanda kemarahan dari dirinya(Emilia), dan juga karena tingkahnya yang begitu manis, Subaru pun tidak bisa berkata-kata.

Mengabaikan Subaru yang mulutnya terlihat seperti seekor ikan yang sedang bernapas(mulutnya menganga), Emilia mengalihkan pandangannya ke jalan didepannya, dan mengatakan,

"Garfiel di 'Sanctuary', dan Roswaal serta Orang-orang dari pedesaan..... banyak sekali orang yang akan kuajak bicara, saat ini jantung-ku sedang berdetak kencang." (Emilia)

"Jangan khawatir, aku nggak akan membiarkan Emilia-tan dalam keadaan bahaya apapun. Tolong percayalah pada pelindung keduamu ini, diriku" (Subaru)

"Kamu yang kedua? Terus, siapa yang pertama?" (Emilia)

"Sekarang ini, dia lagi mengendarai gerobak naga dan lagi bercumbu sama Patrasche-ku" (Subaru)

Melihat kearah Subaru, yang telah menyebut Otto sebagai 'Tameng Utama' tanpa persetujuannya, kali ini, Emilia tidak bisa menahan dan tertawa terbahak-bahak. Melihat dirinya yang tertawa terbahak-bahak, Subaru pun merasa senang, dan di pikirannya, Ia membayangkan berapa banyak rintangan yang telah menanti mereka di depan sana.
(TLN: tmeng utama atau bisa disebut dijadikan sasaran utk mlindungi smuanya)

Sejak Ia datang ke dunia ini, Ia selalu disuguhi masalah demi masalah tanpa henti.

Bahkan di sepanjang perjalanan menuju Sanctuary, prasangka buruk dan rasa khawatir dari kebohongan apa yang ada ditempat itu pun menggebu-gebu di hatinya. Bagaimanapun juga, Frederica sendiri telah menceritakan kejanggalan dari tempat itu, dan Roswaal serta kenyataan kalau para penduduk desa yang lainnya belum kembali, memunculkan prasangka buruknya, dan ditambah lagi ketidaksanggupannya Subaru untuk membuat Puck muncul, serta... apa yang ditinggalkannya di Mansion... membuat dirinya khawatir tanpa henti.

"Apa kamu sedang memikirkan Rem-san?" (Emilia)

"....Kamu bisa menyadarinya?" (Subaru)

Subaru secara tiba-tiba terdiam. Menatapi wajahnya(Subaru), Emilia memiringkan kepalanya.

Rambut putihnya turun melewati bahunya disaat Ia melakukan itu, lalu Emilia mengangkat ujung kepang rambutnya dan mengayunkannya dari sisi ke sisi, sambil mengatakan, 'Iyah!', dan

"Seperti dirimu yang selalu memperhatikanku, kupikir aku akan berlaku yang sama padamu juga" (Emilia)

"Jadi itu artinya, Emilia-tan, kamu selalu memikirkanku sepanjang waktu?" (Subaru)

"Ah, sebenernya sih cuma setengahnya setengahnya setengahnya dari itu" (Emilia)

"Itu artinya cuma 3 jam dong....!" (Subaru)

"Setengahnya lagi setengahnya lagi setengahnya lagi dari itu.." (Emilia)

"Hatiku terasa sakit kalau mendengar waktu yang sebenarnya, jadi cukup hentikan!" (Subaru)

Meminta Emilia untuk berhenti, yang sedang mencoba menyebutkan hitungan waktu yang sebenarnya, Subaru menghela napas pelan, dan menggaruk pipinya, lalu,

"Aku telah mempercayakan dirinya(Rem) pada Frederica dan Petra, jadi nggak usah khawatir. Seharusnya ya begitu.... tapi tetap saja, kekhawatiran ini, yang seharusnya nggak muncul dalam diriku, aku nggak bisa menjelaskannya dalam kata-kata" (Subaru)

"Kamu khawatir karena memang kami khawatir, yah mau gimana lagi. Itu menandakan betapa berartinya dia baagimu. Berpikiran seperti itu, sebenarnya aku agak cemburu sih" (Emilia)

"Dengar dulu, rasa khawatirku itu sekuat rasa khawatirku dengan Emilia-tan....... bentar, kamu sengaja menipuku supaya ngomong begitu kan?" (Subaru)

"Hu-um, memang. Maaf ya" (Emilia)

Menjulurkan lidahnya, dengan bertingkah seperti itu, Ia(Emilia) sudah memaafkannya.

Di depan Subaru, yang tak dapat berbuat apa-apa selain menelan ludahnya, Emilia berkata 'Tapi...' melihat ke arahnya,

"Satu-satunya orang yang lebih kamu khawatirkan itu Beatrice, kan?" (Emilia)

"........Mungkinkah, Emilia-tan, perasaan kita saling terhubung satu sama lain? Aku bisa sepenuhnya 'MELIHAT DENGAN JELAS'!" (Subaru)
(TLN: maksud ny subaru, emilia gampang bgt baca isi hatinya subaru)

"Biasanya kamu bakalan bilang 'Mana mungkin aku khawatir', tapi hari ini, kamu nggak ada ngomong gitu. Pasti itu artinya kamu benar-benar lagi khawatir" (Emilia)

Di skak mat olehnya, Subaru hampir saja ingin bersuara 'Guu', dan menggigit bibirnya dengan ekspresi jengkelnya.
Namun secara cepat Ia merubah ekspresinya, lalu

"Aku ini nggak khawatir 'tau? Cuma saja, setelah pertengkaranku dengannya waktu itu, aku nggak dibolehin menemuinya lagi setelah ini. Sehingga, meninggalkan Mansion tanpa pernah bisa melihatnya lagi, memberikan sedikit perasaan nggak enak di hatiku, hanya itu saja. Yah hanya sedikit. Cuma seujung." (Subaru)

"Dari kata-katamu itu terdengar agak jahat bagiku, mungkin aku terlalu memikirkan hal itu..." (Emilia)

"Kamu nggak perlu memikirkannya, cukup aku saja" (Subaru)

Menyembunyikan kebahagiannya karena Ia(Subaru) telah mendapatkan reaksi yang diinginkannya, Subaru pun melihat ke arah Emilia, yang sedang memiringkan kepalanya, seakan-akan masih belum paham maksudnya, kemudian...

"Kalau hikikomorinya Beako makin parah, menjadi Hikikomori seperti diriku, aku akan merasa bertanggung jawab..." (Subaru)

"Hikikomori..... Subaru, kamu tau banyak tentang hal itu kan? Beatrice, apa Ia akan keluar?" (Emilia)

"Akan sangat susah, sebenarnya. Tanpa mencari saat-saat yang pas dan langsung saja memaksanya keluar, itu nggak bagus, tapi kalau terlalu banyak menghabiskan waktu untuknya, cuma akan memanjakannya saja. Hikikomori itu orangnya jengkelin..... Bentar! Aku juga sama!" (Subaru)

Setelah diakhiri dengan konyol seperti itu, Ia mencoba untuk mengembalikkan arah topik pembicaraan nya lagi.

Bagaimanapun juga, selama mereka masih dalam perjalanan menuju 'Sanctuary', permasalahan ini mereka abaikan dulu sampai mereka kembali nanti.

"Setelah aku balik, aku akan membicarakan banyak hal dengan Beako. Terakhir kali aku ketemu dengannya, aku gagal membuatnya mengatakan segala hal yang ingin kuketahui" (Subaru)

"Beatrice dan Puck, kurasa mereka tahu banyak hal dan menyembunyikannya dari kita" (Emilia)

"Aku juga merasa begitu. Bahkan dengan Frederica juga, tapi rasanya, semua orang yang berkaitan dengan Mansion itu, punya kebiasaan mengatakan sesuatu yang berkesan, dan memilih untuk menjelaskannya belakangan. Hal ini udah jadi kaya penyakit yang menular. Penyakitnya itu bukan jenis penyakit yang baik juga. Dan si Beako itu, mengembalikan Injil itu lagi, mengatakan hal yang sampai sekarang masih nggak bisa hilang dari kepalaku..." (Subaru)

Injil, yang Beatrice berikan balik padanya sambil mengatakan hal yang membingungkan, sekarang aman dalam genggaman Subaru. Jika benda ini hanya menjadi ancaman baginya, Ia bisa saja meninggalkannya, tapi sayangnya, Ia bisa menanyakan tentang benda ini kepada Roswaal, sehingga Ia tetap membawa benda ini bersamanya.

Tapi karena benda ini sangat menyeramkan, maka Ia menaruhnya dibagian paling bawah dalam tas nya, seolah-olah membuatnya tidak terlihat.

"――Rasanya kita udah masuk hutan ya" (Emilia)

Emilia, secara tiba-tiba mengangkat wajahnya, dan mengibaskan rambut yang mendiami dahinya, mengatakan ini disaat dirinya melihat ke sekeliling. Mengikutinya, Subaru juga mengangkat wajahnya, tapi dari dalam Gerobak Ia tidak bisa melihat dengan jelas. Melangkah maju ke arah jendela dan menengok keluar, ternyata benar kalau warna alam di sekitarnya telah berubah menjadi hijau. 

"Kamu padahal nggak nengok keluar tapi bisa tau ya" (Subaru)

"Meskipun campuran, darah Elf masih ada dalam diriku. Mereka bilang kalau Elf itu ras yang berasal dari hutan, sehingga hutan dan Elf memiliki ikatan yang tak dapat dipisahkan――" (Emilia)

Begitulah, Ia berkata sambil tersenyum yang hanya sepintas,

Tiba-tiba, sesuatu yang halus mengejutkan kulit Subaru, lalu Ia melihat ke sekeliling untuk melihat apa sebenarnya itu. Tapi tentunya, sesuatu yang mengejutkan itu, bukanlah sesuatu yang dapat di lihat oleh kedua matanya.

Divine Protection 'Perlindungan Angin' yang belum pernah terlihat di manapun, berada dalam gerobak itu.

Namun,

"–––!? Oi, oi!" (Subaru)

"––––––"

Badannya Emilia yang ramping itu gemetar dengan keras, setelah itu, dirinya terlihat akan jatuh, dan kemudian Subaru, merosot menangkapnya dengan cepat.

Gemetarannya berhenti dalam pelukannya(Subaru), terkapar dengan lemah, kedua mata Emilia tertutup, wajahnya terlihat menderita disaat dirinya terbaring terengah-engah.

"Eeh, Emilia-tan!? Kamu kenapa, Emilia!?" (Subaru)

Emilia kelihatannya tidak bisa menjawab. Ia terlihat seakan-akan sedang kesakitan, selain napasnya lemah, napasnya juga kelihatan dipercepat olehnya dan ekspresi wajahnya terlihat tersiksa, namun tubuhnya tidak demam ataupun berkeringat.

Mengangkat tubuhnya secara pelan dengan kedua tangannya, Subaru langsung sadar kalau Ia tidak sanggup mengurus hal ini sendiri. Jadi, dengan cepat kedepan, memasukkan kepalanya ke jendela kecil yang terhubung ke kursi pengemudi, kemudian Ia

"Otto! Ada yang aneh nih, Emilia tiba-tiba lemas! Apa kau ada obat atau..." (Subaru)

"Ah- Natsuki-san, maaf" (Otto)

Subaru yang berbicara dengan gawatnya tiba-tiba terhenti. Otto, yang mengucapkan kata-kata ini, dahinya terlihat berkeringat. Menoleh ke arah Subaru, Ia menjawab dengan suara yang terdengar seperti sudah kehilangan seluruh kekuatannya.

Subaru pun menyadari dua hal–– yang pertama, gerobak ini telah berhenti. Patrasche dan Furufu telah dihentikan langkahnya, dan terjebak diantara pepohonan. Yang mengherankannya adalah kepekaan-nya beberapa saat yang lalu, yang tidak menyadari kalau gerobak ini telah berhenti, tapi sekarang, ada masalah lain, masalah yang jauh lebih serius.

Itulah hal kedua yang Ia sadari,

"Dengan santenya main masuk aja dari depan, lu emang punya nyali, orang asing" (???)

Seakan-akan sedang menggertak, tidak seperti sanjungan dari kalimat yang Ia ucapkan, tidak ada sedikitpun tanda keramahan dari dirinya, dari cara Ia mengucapkannya.

Hanya dengan satu ucapan yang seperti ini, siapapun pasti hampir bisa memahami karakter seperti apa orang yang mengucapkan kalimat ini.

Dipastikan berkarakter seperti itu, pria yang sedang menjual tampangnya di depan gerobak naga itu memang terlihat pas seperti itu.

Dengan rambut jabrik pirangnya, bekas luka berwarna putih yang menonjol di dahinya, lirikan tajam kedua matanya yang tidak kalah dengan Subaru dalam hal kekejaman, dan terlihat seperti seekor binatang buas, dan juga gigi taring di mulutnya yang menonjol keluar, yang terlihat sangat putih. Punggungnya yang melengkung membuat dirinya terlihat pendek untuk ukuran seorang pria, tetapi aura ganas yang berasal dari seluruh tubuhnya menghilangkan keinginan untuk meremehkannya hanya karena tubuhnya pendek.

"Gua nggak tau lu dari mana, tapi lu keliatan kaya orang yang 'bertaruh dengan tujuan yang jahat'" (???) 

"Eh, hah?" (Subaru)

Mendengar dialek(cara berbicara) yang masih asing di telinganya, Subaru hanya mengeluh kebingungan, tapi lawannya, mendengarkan, dan mengira kalau Ia takut, dan melepas tawanya 'Ha..ha..',

"Eaa takut lu, oi? Tapi emang bener nasib lu apes sekarang. Bagaimanapun juga, tempat yang mau lu datengin itu sebuah pemukiman, dan apalagi, lu malah ketemu gua" (???)

Pria itu tertawa dengan jahat, menggertakkan gigi taringnya ketika Ia tertawa, dan, menyatukan kedua tinjunya, bersikap tenang, dan siap untuk bertarung. Dan dengan posisi seperti itu, Ia melihat ke arahnya tanpa berkata-kata,

"Ketemu sama GARFIEL artinya keberuntungan lu udah berakhir. Sekarang HANCURLAH jadi 'PAZO-MAZO yang berterbangan ke kanan dan ke kiri!'" (Garfiel)

Preman yang telah menyebutkan namanya sendiri itu, memaki-maki dengan mengatakan hal yang membingungkan, menghentakkan kakinya ke tanah.
(TLN: bahkan saia jg garuk2 kepala awalnya, bingung sama dia ngomongin apaan :v)

Dan sesaat setelah itu, serangan yang luar biasa, seolah-seolah dapat membalikkan dunia, menghantam Subaru.

No comments:

DMCA.com Protection Status