Ubau Mono Ubawareru Mono Chapter 48 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ubau Mono Ubawareru Mono Chapter 48 Bahasa Indonesia

January 04, 2017 Pipo Narwastu


(Author Note: Chapter ini terdapat konten "gore"-nya, jika kalian tidak kuat, silahkan skip chapter ini.)
(TL Note: Tentunya ente-ente pada ga mau nge-skipnya kan? <(") )

Chapter 48: Pemburu Pemula ⑤

"Jadi, kalian sudah mempertimbangkan pembicaraan kemarin 'ya?" (Zero)

Aku dapat melihat pria yang dipanggil Zero datang mendekatiku perlahan-lahan, tapi aku tidak melihat adanya celah di pergerakannya.

"Kau tahu kalau ini adalah kebohongan yang konyol." (Yu)

Aku berkata seperti itu sembari mengoper dua batu teleportasi ke Nina dan Lena.

"Kau tahu, kami terkejut karena ada seseorang yang sedang bertarung dengan boss di lantai 20. Jadi kalian berhasil mengalahkannya 'ya?"

Ah jadi makhluk-makhluk rendahan ini masuk setelah kami.

"Setelah itu kami menunggu untuk melihat apakah mereka yang sedang bertarung dengan boss-nya dapat sampai ke tempat ini atau tidak. Lantai 25 ini khusus lho. Kau tidak bisa menggunakan skill deteksi apapun dan tentu saja dengan... Teleportasinya juga."

Jadi dia menyadarinya ya.

"Tentu saja kami tidak merubah pikiran kami sedari kemarin. Kami ingin bermain dengan kalian. Apa?" (Zero)

Zero terkejut. Dalam sekejap aku meluncurkan 5 bola api ke si naga, dwarf gendut, dan elf.

”<<Spear Whirlwind >>!” Zero menggunakan skill tombaknya dan melepaskan teknik rangking 2.

tiga bola api berhasil ditangkis dan dua sisanya dengan mudah ditahan oleh Bob menggunakan perisai sihirnya.

"Meskipun ini hanyalah 【Black Magic】 rangking 1, perapalan instant dan jumlahnya sungguh mengagumkan."

"Ya, ijinkan aku untuk menghadapinya dengan sihir milikku. Wahai roh api, dengarkanlah panggilanku. Berkumpulah di jariku dan ubahlah musuhku menjadi debu, <<Fire Bullets>>!” (Seya)

Mantranya Seya membuay perluru api kecil tapi jumlahnya adalah lebih dari selusin. Peluru api keluar dari jari-jarinya menargetkanku.

Kerena pelurunya sendiri tidak memiliki banyak kekuatan, aku dapat membalasnya dengan <<Earth Wall>>.

"Ho~ Sepertinya kita akan bisa bersenang-senang! Boll, Seya, kita akan bermain!" Zero tersenyum sambil menyembunyikan niat membunuh ganasnya.

"Nina, Lena, cepat coba gunakan batu telepotasinya. Kalau nggak bisa, larilah ke lantai 24 dulu." (Yu)

"Gak mau, aku membencinya!" (Nina)

"..Kita akan mengalahkannya bersama-sama." (Lena)

Aku tidak punya waktu untuk mengirimkan chop ataupun ceramah kepada mereka sekarang. Aku hanya bisa memikirkan sebuah rencana.

"Kalian atasi elf-nya. Aku akan mengatasi naga dan dwarf-nya." (Yu)

"OH? Apa kau mendengarnya Bob? Dia akan melawan kita di saat yang bersamaan. Gimana nih?" (Zero)

Akan tetapi tanpa mendengarkan si naga, kampaknya Bob sudah diayunkan. Kampaknya tidak diarahkan ke kepala-ku, tapi ke bahu-ku. Aku perlu menghentikannya dengan pedangku.

"U..gh..." Aku tidak bisa melakukan apapun, tapi mengeluarkan erangan kecil.

"Untuk bisa menerima serangan dari kampakku. Sungguh pemula yang mengagumkan." Meskipun begitu Bol sama sekali tidak terlihat terkejut.

"Jangan lupakan aku!" (Zero)

Dari belakang Zero menusukkan tombaknya, dengan kecepatan yang luar biasa, menargetkan kaki-ku. Aku tidak bisa bergerak keculi aku menggunakan sebuah teknik.

"<<Sword Dance>>!” (Yu)

"Hehe.. Skill 【Swordmanship】-nya bahkan melebihi pemula yang biasanya. Makan ini, <<Spear Spiral>>.” (Zero)

Zero membalasnya dengan skill tombak level 3. Itu adalah serangan dengan memutar tombak. Jika itu mengenaiku, akan jadi gawat.

Akan tetapi, ketika dia sedang menepis seranganku, aku melepaskan skill lainnya, teknik pedang level 3 <<Vertical Slash>>. Aku mengayunkan pedangku ke bawah namun Zero menghindarinya seakan dia tahu apa yang akan datang.

"Beneran dah, pemula ini sungguh mangsa yang mantap." (Bol)

Sembari mengatakan itu, Bol datang dan aku menggunakan <<Firewall>> untuk menutup jalannya. Akan tetapi, dia langsung menerobos masuk. Dia diselimuti api, tapi dengan segera dia keluar dari sana seakan tidak terjadi apa-apa.

"Apa kau pikir kau dapat melukai-ku? Perlengkapan-ku ini bukan gurauan." (Bol)

Serius, pertahanan sihirnya ntuh dwarf juga tinggi. 【Dragon Eye】-nya Zero juga pastinya bisa memprediksikan serangan lawan dalam batas tertentu.

Apa ini karena perbedaan level kami terlalu tinggi? Bukan, di luar sana pasti ada orang-orang yang memiliki skill-skill yang lebih buruk dari orang-orang ini.

__ _

"Mati!"

Lena melancarkan <<Wind Blade>> akan tetapi serangannya tidak bisa menembus 【Barrier】-nya Seya.

"Ayolah, biarkan aku menikmatinya lagi. Wahai roh air-" (Seya)

"Oh, tidak bisa!" (Nina)

Di saat yang bersamaan, Nina menyerang dan mengacaukan rapalannya.

"Beraninya kau menggangguku, nona. Wahai roh api, dengarkanlah panggilanku. Berkumpulah di jariku dan ubahlah musuhku menjadi abu, <<Fire Bullets>>!” (Seya)

Seya kemudian merubahnya menjadi sihir rangking rendah untuk aktivasi yang lebih cepat. Meskipun begitu, hanya dalam hitungan detik Nina sudah mengambil jarak dan terus berulang seperti ini.

Nina terus mengganggu Seya yang mencoba untuk menggunakan sihir rangking tinggi dan ketika Nina sedang tidak bisa melakukannya, Lena menutupinya dengan sihirnya.

"Menyebalkan!" (Seya)

Di titik ini, Lena sudah menyelesaikan persiapannya dan sebuah <<Flame Lance>> diluncurkan ke arah Seya.

"Level sihir seperti ini tidak akan bisa merusak 【Barrier】-ku!" (Seya)

Di saat <<Flame Lance>>-nya mengenai 【Barrier】, skill lainnya muncul. Itu adalah <<Earth Lance>>. Lena menyembunyikannya menggunakan api yang sebelumnya. 【Barrier】 yang sudah melemah tidak bisa memblok sihirnya sehingga hancur sepenuhnya dan menusuk bahunya Seya.

"Cih..."

Seya mencoba menarik tombaknya dari bahunya tapi Lena memanipulasi ujung tombaknya agar berbentuk seperti kait pancingan. Itulah kenapa ketika dia mencoba menariknya keluar, bagian dari dagingnya ikut tercungkil.

"Ini... Sungguh, kalian sudah ditakdirkan untuk mati. AKAN KUBUNUH KALIAN!" (Seya)

"Sebelum itu terjadi, akan kubunuh kau terlebih dahulu." Ketika perhatiannya Seya sedang tertuju kepada Lena, Nina sudah mempersiapkan serangan. Dia mempersiapkan <<Critical Strike>> di kedua belatinya.

"Kau, beraninya... Wahai roh tanah, lindungilah tubuhku dan jadilah perisaiku, <<Earth Shield>>.”

Seya menggunakan 【Spirit Magic】 rangking 1 untuk memblok serangan. Meskipun begitu, belatinya Nina dapat dengan mudah menembus perisainya dan memaksanya untuk merapal perisai lainnya. Melihat serangannya gagal, Nina mundur kembali.

"Kau juga bahkan menggunakan skill belatinya tanpa merapal... dan dengan kedua tangan juga..." (Seya)

Seya terkejut tapi tetap menjaga semangat bertarungnya. Dia sudah merapal sihir lainnya dan air dalam jumlah yang besar terbentuk disekitarnya. Sudah tidaklah mungkin bagi Nina untuk secara ceroboh menyerang lagi.

__ _

Sekarang, Yu sedang dipaksa pergi menuju lorong sempit.

"Kau nampak tidak punya banyak pengalaman dalam pertarungan melawan pembunuh seperti kami. Apa kau pernah membunuh seseorang sebelumnya?" (Zero)

"Ini adalah rencanaku." (Yu)

"Hee? Kau bilang ini sudah direncanakan? Meskipun begitu Bol sudah menunggumu di sisi lain." (Zero)

"Aku akan memaksakan jalanku kalau begitu." (Yu)

"Aku terkejut dengan level 【Swordmanship】-mu, tapi ingin melawan Bol dan aku di saat yang bersamaan? Kau sungguh bodoh. Yang lebih penting lagi, pedang panjangmu akan menjadi tidak berguna di lorong sempit ini sementara tombakku dapat menyerangmu dengan mudah." (Zero)

"OH? Apa kau pikir begitu?" (Yu)

Yu kemudian menyarungkan pedangnya dan mengeluarkan sarung tangannya. Suara logam dari Black Steel Gauntlet-pun menggema di penjuru lorong ketika bertemu dengan kepala tombaknya Zero.

Yu menarik tombak itu dan membuat Zero tertarik mendekatinya. Setelah itu dia mengirimkan tinjuan ke wajahnya.

"Ugh... Aku tidak pernah menyangka kau akan bertarung dengan tangan kosong." (Zero)

Meskipun terkena pukulan dengan kekuatan yang seperti itu, Zero masih tetap berdiri seakan tidak ada yang terjadi.

"Kau cukup keras." (Yu)

Yu sudah bergerak untuk menyerangnya lagi.

(Sekarang mari kita lihat apa yang akan terjadi kalau aku membuat lubang di kakimu.)[Yu]

"Terima ini!" (Yu)

"Hahaha itu sama sekali tidak sakit." (Zero)

Pukulannya Yu mendarat di kakinya Zero tapi diblok oleh sisik naganya.

"Kau benar-benar punya kulit yang keras ya." (Yu)

Setelah Yu mengatakan itu, sarung tangannya menyala mereah dan bau akan sesuatu yang terbakar dapat tercium. Akan tetapi di saat itu, si dwarf sudah sampai ke tempatnya dan mengirimkan sebuah serangan. Yu menyadarinya karena pancaran haus darah yang keluar sangat kuat. Pukulannya kemudian mendarat di tangan kanannya Zero dan benar-benar memotongnya.

"Ah, maaf. Aku lupa menyembunyikan rasa semangatku." (Bol?)

Saat itu, Yu berpisah dari Zero dan Bol. Yu mengamati kejadian dimana lengannya Zero secara perlahan 'tumbuh'.

"Kau lebih seperti kadal daripada naga sih." (Yu)

Regenerasinya Zero cukup gila karena skill 【Rebirth】-nya. Lukanya kemudian pulih dalam sekejap.

"Sekarang kita akan menuju ke ronde dua."

Serangan Zero dan Bol secara perlahan demi perlahan sukses mengenai Yu dan sedikit demi sedikit juga melukai tubuhnya Yu.

"Konyol sekali. Padahal kau barusan dipenuhi luka, tapi sekarang..."

Tentu saja, Yu juga bisa menggunakan sihir pemulihan.

"Kau juga mempunyai skill pemulihan ya?"

"Terus kenapa? Masalah? Kau juga punya skill regenerasi yang gila itu tuh." (Yu)

Melihat Zero yang begitu tenang, Yu merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Bol, ini tidak ada habisnya. Ayo kita dapatkan wanitanya dulu." (Zero)

"Kau!" (Yu)

Zero terlihat senang melihat Yu yang tidak sabaran. Bol dengan senyum busuknya mengeluarkan sebuah pisau dari tas itemnya dan melarikan diri. Yu mencoba untuk mengejarnya tapi tombaknya Zero menusuk kaki kanannya Yu sampai ke tanah. Dia tidak mempedulikannya lagi. Dia mengaktifkan <<Firewall>> di kaki kanannya tanpa melihat ke belakang. Akan tetapi ini malah lebih menjadi bumerang daripada melukai Zero.
(TL Note: Hmmn kok ane ga mudeng ya sama paragraf d atas)

Bol mempersiapkan pisaunya dan kemudian dengan sebuah cahaya yang dikeluarkan dari pisaunya, dia menggunakan skill 【Throwing】 untuk memperkuat serangan.

Pisaunya terbang di udara untuk menargetkan Lena.

Lena menyadarinya karena teriakan kerasnya Yu. Pisau yang dilempar itu dengan mudah menembus 【Barrier】 pertama. 【Barrier】 kedua berhasil merubah arahnya sedikit. Meskipun begitu pisaunya masih bergerak menusuk ke lehernya Lena.

....

..

Pisaunya menusuk lehernya Lena.

No comments:

DMCA.com Protection Status