ReZero Arc 4 Chapter 9 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

ReZero Arc 4 Chapter 9 Bahasa Indonesia

February 16, 2017 Exicore

Translator: Kirz

[Bosho] (Kuburan)

 "Dan kini kita menjadi tahanan disini... kalimat itu terdengar meresahkan..." (Subaru)

Menghadap Roswaal yang sedang terbaring diatas tempat tidurnya, Subaru mengucapkan kalimat ini tepat setelah mendengar apa yang telah dikatakan kepadanya. Ketika mendengar ucapan Roswaal tadi, secara logika semestinya Ia tertawa disaat mendengar ucapannya seolah-olah ucapannya hanya sekedar gurauan, tapi sayangnya, sebagaimana situasi sekarang ini, ucapan yang dikatakan Roswaal itu nampaknya memang sebuah fakta. Dan bagaimanapun juga,

"Jadi, itu artinya penduduk disini-lah yang telah menyebabkanmu terluka seperti ini?" (Emilia)

Nampaknya Emilia juga sama seperti Subaru yang percaya dengan ucapan-nya Roswaal.
 Diperban hingga darah dari luka-nya membasahi perbannya, Tubuh Roswaal saat ini dalam kondisi yang menyedihkan. Melihat kondisinya yang seperti ini, setidaknya apa yang dikatakannya pasti benar dan beralasan, sehingga tidak bisa ditertawakan begitu saja.

"Kalau memang benar penduduk dari desa inilah yang telah memberikan luka serius pada Roswaal, itu artinya saat ini kita sedang dalam situasi yang serius..." (Subaru)

Memegang dagu-nya, memikirkan sekuat apa orang yang telah melukainya, Subaru berpikir keras sambil memegang dagunya.

Padahal Roswaal L. Mathers, orang yang dianggap pelindung dirinya di dunia lain ini, adalah pengguna sihir yang hebat, yang tingkatan sihirnya hanya dapat dijangkau oleh beberapa orang saja.

Dan faktanya, kekuatan dari orang yang menduduki posisi sebagai Kepala Penyihir dari Kerajaan Lugnica ini benar-benar tidak dapat dikalahkan Subaru, dan dapat dengan mudah mengalahkan sekumpulan musang yang mengaum. Sehingga melihat keadaannya berakhir menjadi seperti ini――――

"Ah, kau salaa~ah paham. Luka-luka daku ini buu~kan perbuatan siapaa~pun. Kalian tidak perlu khawatir memikirkan yang aneh-aneh, atau merencanakan sesuatu demi membalaskan dendam daku, o~~ke?" (Roswaal)

"Jangan khawatir. Kondisi mu nggak cukup untuk membuatku ceroboh melakukan balas dendam seperti itu... Tapi, Apa maksudmu? Yang kau ucapkan itu berbeda dari yang kau ceritakan sebelumnya. Dan bukannya sekarang kau itu tahanan rumah?" (Subaru)

"Dilihat dari daku yang terluka dan tertahan seperti ini, menyebut daku sebagai tahanan rumah, tentu saja tidaaa~k salah. Tapi bukan berarti daku terluka saat ditangkap, daku sudah dalam kondisi terluka dari awal, dan barulah penduduk menemukanku dan menangkapku...... Tapi kalau daku menceritakan hal ini dengan panjang lebar, penafsiran mu jadi agak beda nanti" (Roswaal)

Terhadap cara berbicara Roswaal yang berbelit-belit, Subaru benar-benar bingung. Berusaha berpikir jernih, Ia memutuskan untuk bersikap tenang dan berusaha mengerti setiap kalimat dari apa yang orang itu ucapkan, sehingga berarti dengan kata lain,

"Jadi para penduduk di 'Sanctuary' ini nggak ada hubungan dengan luka-lukamu ini, kan?" (Subaru)

"Sebenarnya, tidak bii~sa juga dibilang kalau mereka tidak ada kaitannya dengan hal ini sih, tapi kalau kau menanyakan kepada daku apakah mereka lah orang yang memang harus bertanggung jawab terhadap luka-luka daku ini, maka jawaban-nya adalah tidak. Ya Beee~~gitu~lah.." (Roswaal)

"Oh jadi dengan kata lain, mereka cuma secara nggak langsung juga ikut terlibat ya" (Subaru)

Roswaal pun terlihat terkejut, dan untuk beberapa saat terlihat malu karena Subaru dapat menganalisa maksud dari ucapannya. Dan kemudian mengeluh dengan pelan, lalu bergurau mengucapkan 'Saat ini rasanya seperti melihat anak kecil yang mulai tumbuh...'.

Melihat sikapnya itu, Subaru menganggap sikapnya itu sebagai tanda bahwa kebenaran sudah dekat. Bertekad untuk tidak berhenti bertanya, Ia pun menyiapkan pertanyaan selanjutnya dan bersiap untuk melontarkannya kepada Roswaal, namun..

"――Barusu, Gimana kalau kau tunjukkin rasa kasihanmu sedikit sama Roswaal-sama?" (Ram)

Mengucapkan itu, Ram, yang tadi awalnya tidak ada disini, tiba-tiba muncul memotong pembicaraan. Dengan ujung dari roknya yang bergoyang, gadis itu memasuki ruangan dengan anggun, dan meletakkan beberapa cangkir teh yang telah diseduh dengan sangat hati-hati ke meja.

Harumnya menyebar ke seluruh ruangan, dan dengan terciumnya aroma ini, Subaru baru sekarang menyadari betapa keterlaluan dirinya tadi. Disaat Ia ingin melanjutkan bertanya, Ia secara tiba-tiba sadar betapa parahnya luka-luka Roswaal terlihat.

"Menekan Roswaal-sama begitu keras disaat dirinya sedang terluka parah, dan menggali informasi sedalam-dalamnya, sudah puaskah kau sekarang? Lihatlah penderitaan Roswaal-sama, dirinya hampir menangis itu, Simpati dikit dong!" (Ram)

"Disaat dirimu telah berhasil membuatku menyadari perbuatanku... jangan mengatakan sesuatu yang dapat merusak mood ku lah! Maksudku, emangnya yang kulakuin dari tadi itu menyakitinya dan membuatnya ingin menangis? Menurutku enggak tuh!" (Subaru)

"Uhuhu~~hu~~, Saki~~~t.., daku benar-benar merasa saa~kit. Omonganmu yang jahat dan tidak berperasaan itu benar-benar tepat menyakiti luuuukaaaakuuuu...." (Roswaal)

Subaru pun merespon perkataan Ram dengan bantahan yang keras. Seakan-akan mengganggu Subaru disaat Subaru protes, Roswaal berakting diatas kasurnya. Dan disaat jidat Subaru mulai mengerut dalam kekesalannya, Emilia mengatakan 'ehem' dan mencoba mendinginkan situasi panas dalam ruangan ini.

Ketika kedua matanya melihat kearah tiga orang yang sedang menatapi dirinya, Ia pun memulai dengan mengucapkan 'Bagaimanapun juga',

"Semua orang pasti juga akan berpikir kalau kondisi Roswaal saat ini memang buruk, jadi ayo kita cepat selesaikan pembicaraan ini. Kenapa dia nggak disembuhin aja pake sihirmu?" (Emilia)

"Melakukan sihir penyembuhan itu diluar dari kemampuan Ram...." (Ram)

Terhadap tatapan kosongnya Ram, dan terhadap ucapannya yang terdengar menyesal, Emilia menoleh kearah Roswaal dengan sedikit harapan. Melihat sikapnya, Roswaal melambaikan tangannya,

"Daku juga, Daku ini ahli dalam sihir penghancur doang taa~~uuu. Kalau soal hancur menghancur, menyakiti atau menipu, daku benar-benar bisa melakukan semua itu, tapi daku benar-benar tidak berguna kalau soal mantra penyembuhan" (Roswaal)

"Menyedihkan sekali ya. Daripada cuma fokus sama mantra penghancur, seharusnya kau itu juga mempelajari mantra-mantra yang dapat melindungi lah..." (Subaru)

Meskipun begitu, disaat Subaru memainkan game yang mengharuskan Ia membangun sebuah karakter, Ia cuma akan memilih untuk memperkuat skill serangan dari karakternya. Sehingga Ia tidak bisa memarahi Roswaal dengan kasar.

Dan disaat yang sama ketika Subaru mendapat kesimpulan ini, Emilia mengeluh 'Yah yaudah deh kalau gitu', dan kemudian,

"Sebenarnya puck sekarang nggak ada disini, jadi kondisiku saat ini lagi nggak baik, tapi aku tetap akan menggunakan sihir penyembuhku. Dan aku juga butuh konsentrasi tinggi saat melakukan sihir ini, jadi mari kita selesaikan dulu pembicaraan ini" (Emilia)

"Roh-sama...?" (Roswaal)

Terkejut mendengar informasi yang dikatakan Emilia, dengan cepat kedua alis mata Roswaal pun naik, dan Ia kemudian menyipitkan kedua matanya. Ekspresinya yang dingin itu, tidak seperti sikap santainya yang biasanya, dan Subaru jarang melihat dirinya berekspresi seperti itu. Subaru pun secara reflek menaikkan bahu-nya dan mengatakan 'Oi Oi'

"Jarang melihatmu serius seperti ini. Apa menghilang-nya Puck begitu mengagetkan bagimu? Aku nggak nyangka kalau kau itu begitu dekat dan penggemar gila bulu si mofumofu juga" (Subaru)

"Sayangnya, daku bisa dekat dengan Roh-sama dan menyentuh bulu-bulunya hanya jika daku menawarinya ma~yonna~~ise. Betapa mengerikan-nya hal ini. ――――――Jadi, begi~~tu ya" (Roswaal)

Tanpa mengabaikan ejekan-nya Subaru, Roswaal mengerutkan jidatnya dan merenung. Disaat Ia seperti ini, Ia secara tiba-tiba menolehkan mata kiri kuningnya kearah Emilia,

"Emilia-sama, kau nggak merasa sakit, atau merasakan hal yang berbeda dari bia~~asanya, nggak kan?" (Roswaal)

"...? nggak ada, selain Puck yang nggak nunjukkin wajahnya. Sebetulnya Puck sudah nggak muncul sebelum kita tiba di 'Sanctuary', jadi.... Ah, tapi ada satu hal aneh yang kurasakan" (Emilia)

Menaikkan jarinya seakan-akan ingin bertanya, Emilia kemudian dengan cepat menoleh kearah sekitarnya ――Tidak hanya disekitar ruangan, tapi Ia sepertinya juga melihat keseluruh bagian Sanctuary diluar ruangan, dan setelah melakukan itu, Ia pun memelankan suaranya dan berkata,

"Sejak masuk ke 'Sanctuary'... Nggak, mungkin sejak memasuki hutan, Aku merasakan keberadaan roh-roh mulai melemah. Dan tadi, sejak kita masih diluar tadi, Aku.... merasa ada tatapan yang aneh" (Emilia)

"Tatapan, aneh?" (Subaru)

Terkejut terhadap apa yang dia dengar, Subaru memiringkan kepalanya, dan Emilia pun membalas 'Ya' sambil memegang dagunya mengkonfirmasi perkataannya. Ia telah menjelaskan hal yang membuat ekspresinya begitu suram sejak Ia bersama-sama dengan Garfiel dan yang lainnya sebelumnya, dan kemudian Ia pun melanjutkan,

"Aku merasa sedang ditatapi. Rasanya beneran nggak enak banget....... Aku pikir ini cuma bayanganku ajah, jadi aku nggak cerita dengan dirimu tadi" (Emilia)

"Apa yang dirasakan Emilia-sama itu bu~~kan cuma bayangan saja. Roh memang tidak akan tahan berdiam disini, dan lagi, penghuni dari tempat perlindungan ini cuma akan memberi perasaan tidak nyaman kepadamu" (Roswaal)

Dalam merespon perkataan Emilia yang gelisah, Roswaal melontarkan kalimat itu tanpa banyak pertimbangan. Melihat Emilia menjadi terlihat kesusahan, Subaru secara cepat menoleh kearah Roswaal dan ingin mengucapkan sesuatu tapi,

"Yaaaaaa, gimana kalau lu cukup hentikan semua ini. Nggak baik kasar sama orang yang lagi sakit bro. Jugaan 'Paruh-mulut mu itu udah panas' kan?" (Garfiel)

"Menurutku ucapanmu benar juga.... tapi aku nggak begitu ngerti dengan seluruh ucapanmu. Mungkin aku mau protes sedikit, bisa nggak kita berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dipahami?" (Subaru)

Melihat kearahnya, Subaru mengangkat bahunya disaat Ia melihat Garfiel bersender di pintu masuk ruangan, menunjukkan giginya. Melihat reaksi Subaru, Garfiel membuat suara dengan menggertakkan gigi-giginya, dan melihat kearah seluruh ruangan.

"Rumah nenek padahal dianggap Rumah yang paling bagus dan luas didesa ini, tapi kalau diisi dengan banyak orang, ternyata jadi keliatan sempit, ya. Gua rasa, keputusan gua benar nggak ngajak ntuh cerewet satu" (Garfiel)

"Oh akhirnya kau menyinggungnya juga, Mana Otto... Apa dia pulang? Atau kau telah memakannya?" (Subaru)

Emilia pun terlihat terkejut mendengar pertanyaan Subaru, namun Garfiel tertawa terbahak-bahak dan memukul lututnya, seolah-olah yang dia katakan sekedar gurauan.

"Darah pemakan daging memang mengalir dalam tubuh gua, tapi gua tetap gak nafsu buat makan dia. Nanti yang ada ntuh orang bakal lebih ribut lagi pas gua ingin memakannya. Ia akan mengoceh tentang dirinya yang khawatir dengan naga dan gerobaknya.... Yaah, dia memang orangnya pinter banget nyari alasan" (Garfiel)

Ia pun berjalan dengan melambaikan satu tangannya, dilengkapi gaya preman nya, menuju kursi yang terletak dekat tembok ruangan, dan duduk disana lalu melihat kearah Ram, yang telah melihati dirinya dari atas kebawah,

"Tehnya dunk.." (Garfiel)

"Kalau gitu aku mau keluar dulu ambil daun yang jatuh, maukah kau menungguku dulu?" (Ram)

"Aku jadi memiliki perasaan buruk nih, memangnya mau kau apain daun-daun jatuhnya?" (Subaru)

"Aku nggak mau ngorbanin daun teh yang berharga cuma buat orang yang nggak paham dengan bau maupun rasa. Itulah jawaban Ram" (Ram)

Bersikap dingin seperti ini, Ram pun langsung keluar dari ruangan. Menunjuk Ram dari belakang, Subaru pun menoleh kearah Garfiel, dan bertanya 'Apa yang kau suka dari dia memangnya?' Sambil menoleh kembali kearah Ram,

"Wanita yang keras-kepala itu pas banget buat dikejar, kan? Dan sebagai seorang pria, menyukai wanita yang sempurna tidaklah aneh bukan?" (Garfiel)

"Hal seperti sebagai seorang pria-lah, wanita-lah, kita sekarang lagi nggak bicarain hal yang lebai kaya gitu, jadi berhenti nyinggung hal kaya gitu lagi. Tapi mau bagaimanapun, Ram itu gadis yang baik, 'tau. Menyebut dirinya seperti itu...." (Subaru)

"Haaah!? Apa maksud lu? Gua itu udah memperlakukannya dengan baik seperti yang di idam-idamkan setiap wanita 'tau? Jugaan, kita udah pernah..." (Garfiel)

Disaat Subaru berbicara dengan blak-blakan, Garfiel mengerutkan jidatnya seolah-olah menyadari sesuatu, dan kemudian kedua alis matanya naik. Wajahnya pun terlihat kecewa, dan kemudian Garfiel menatap kearah Roswaal di kasur dengan tatapan yang tajam,

"Buset dah, lu belum juga cerita ke mereka? Kalau cuma lu doang yang terlibat dalam masalah ini, gua sih santai, tapi, karena ntuh setengah-elf.... ehm, karena Emilia-sama ada disini, beda lagi masalahnya" (Garfiel)

"――Eh?" (Emilia)

Garfiel melontarkan rasa kekecewaannya. Dan Emilia terkejut ketika namanya di sebut ditengah-tengah ucapannya. Tapi, tidak peduli dengan keterkejutannya, Garfiel tetap menyerang Roswaal dengan ekspresi yang lebih terlihat kesal lagi dari sebelumnya.

"Sejak Emilia-sama masuk kedalam 'Sanctuary' ini, kita semua telah terlibat dalam kekacauan ini tau. Apa yang mau lu lakuin terhadap hal ini sekarang? Lu bahkan nggak ada sampe ngebahas inti permasalahan saat ini. Buset dah, lu semua disini cuma buat main-main?" (Garfiel)

Kata terakhir dari ucapannya tidak hanya ditujukan kepada Roswaal, tapi kepada Subaru dan Emilia juga, yang terdiam. Dan terutama, tatapan kemarahan yang Ia tujukan kepada Emilia tidaklah lucu, sehingga seolah-olah ingin melindungi Emilia, Subaru pun maju berdiam diri disamping Emilia.

"Santai bro. Aku tau kau ini lagi marah, tapi aku nggak ngerti apa penyebab kemarahanmu. Kalau kau terus-terusan ngoceh sama orang yang nggak tau apa-apa, yang ada cuma bikin kau tambah kesal kan?" (Subaru)

"Tapi justru itulah yang bikin gua enek. Disaat orang yang bertanggung jawab terhadap semua ini nggak tau penyebab kekesalan gua..." (Garfiel)

"Tapi orang yang seharusnya 'bertanggung jawab terhadap semua ini' dan menjelaskan kepada Emilia seharusnya itu kau sendiri dan Roswaal disana itu, kan?! Kalau memang kau peduli dengan masalah itu dan ingin melakukan sesuatu terhadap masalah itu, penuhilah tanggung jawabmu dan jelaskan lah masalahnya kepada kami. Berpikir kalau kami bakal ngerti tanpa perlu diberi penjelasan lagi, membuat mu terlihat egois seperti diriku tadi 'tau!" (Subaru)

Disaat Ia menatap kearahnya, Subaru merasakan aura kemarahan Garfiel menjadi semakin kuat. Tubuh Garfiel memang lebih pendek dari Subaru, dan bahkan disaat Ia sedang duduk saat ini, perbedaan tinggi badan-nya sangat jauh. Tapi sesungguhnya, tubuh pendeknya itu tidak berarti apa-apa baginya. Tidak, melihat betapa menyeramkan nya aura yang dibuat olehnya, bagi Subaru, Garfiel terlihat seperti batu yang besar.

Mengetahui kalau memang dirinya sangat lemah, membuang pandangannya dan melangkah mundur adalah satu-satunya hal yang tepat,

Namun,

"Subaru..." (Emilia)

Dengan kuat, Subaru merasakan jari yang lembut menarik lengan bajunya. Suara yang terdengar penuh dengan ketergantungan pada dirinya, memberi kekuatan pada lututnya yang bergetar.

Emilia saat ini sedang berdiri dibelakangnya. Menggantungkan dirinya kepada Subaru, dalam kepasrahannya.

Akankah Ia membiarkan begitu saja lututnya bertekuk dihadapannya Emilia, akankah Ia akan melakukan hal selemah itu?

"――Tch" (Garfiel)

Mereka semua pun merubah ekspresinya, dan orang pertama yang merubah ekspresinya ialah Garfiel. Disaat ia mendecak lidahnya, dan bersender ke senderan kursinya, Ia pun menggaruk rambut kuningnya, yang pendek.

"Aaaah! Oke dah Oke, Gua udah ngelampiasin kemarahan gua ke elu. Dan juga dah ngebentak, Gua minta maaf dah, oi!" (Garfiel)

"Nope, Kau belum benar-benar minta maaf itu. Tapi sebelum itu, nggak pernah ya ada orang yang memberitahumu kalau sifatmu itu ngeselin banget?" (Subaru)

Secepat dia menjadi emosional dan berpikiran pendek, secepat itu pula dia kembali sadar dan mengakui kesalahannya. Menurut Subaru kepribadian yang seperti itu adalah kepribadian yang buruk untuk dimiliki, sehingga daripada memarahinya, Ia memilih untuk langsung saja memberikan senyum sinis kepadanya.

Melihat ini, Garfiel melontarkan ketidakterimaan nya 'Haaaaa',

"Berisik banget dah lu, Oke gua akan diem aja dah, lanjutin dah pembicaraannya kaya tadi, karena kalau gua ikutan, pembicaraan ini jadi ngawur dan menjadi menjengkelkan" (Garfiel)

"Melihat dirimu yang bisa ngaca dengan baik seperti ini, tapi kemudian mengabaikannya saja dan nggak merubah sikapmu.... benar-benar dah, luar biasa banget kau itu" (Subaru)

"Memuji gua kaya gitu nggak ada gunanya, karena gua juga nggak bakal ngerti dengan ucapan pujian mu yang rumit kaya gitu. Duhhh" (Garfiel)

Melihat Subaru yang awalnya kesal menjadi kagum, Garfiel mengeluh. Dan kemudian, Ram, yang baru balik dari luar, membawakan kepadanya secangkir teh panas.

"Inilah yang namanya teh berkualitas-rendah" (Ram)

"Bisa nggak dirimu itu ngomong lebih sopan dikit disaat memberikan sesuatu?" (Garfiel)

Ram pun membalas dengan 'Gitu ya', dan memberikan teh nya dengan ekspresi yang tenang. Garfiel pun menerima teh nya, dan, meskipun teh nya masih panas, ia langsung menghabiskan-nya dalam sekali tegukan. Meskipun dia ini pemakan daging, nampaknya Ia tidak memiliki lidah yang sensitif. Melihat dirinya yang menghabiskan secangkir teh dalam sekali teguk, Ram pun mengeluhkan,

"Seperti biasa, kau itu memang orang yang nggak menghargai teh. Nggak pantas bagi Ram" (Ram)
(TLN: Maksudnya nggak pake dinikmatin dulu gitu, langsung aja main telan :v)

"Tapi ini rasanya cuma kaya daun. Kalau misalnya dirimu mau basahin tenggorokanmu yang kering, pake air tuh pas banget kan?" (Garfiel)

"Walau aku setuju kalau teh nya itu rasanya cuma kaya daun, aku tetap keberatan dengan pendapatmu yang ekstrim itu. Ram, gimana kalau memberinya secangkir teh lagi?" (Subaru)

Ketika Subaru mengatakan hal itu, Ram menyerahkan secangkir teh lagi kepada Garfiel. NAMUN, warna teh nya kali ini mirip seperti 'warna daun yang berjatuhan', meskipun subaru sudah menyadari hal ini, tapi tetap saja Subaru tidak bisa berhenti untuk... yaah, menyuruhnya untuk menyuguhkan teh nya.

"Hei, Lu itu tau aja dah. Lu ternyata juga tau kalau secangkir teh itu nggak cukup...... PFFFFTT!! HAAAH!? OOI....., Ini diambil dari daun yang gugur...?" (Garfiel)

"Kalau nantinya itu juga akan membasahi tenggorokanmu, mau itu air putih kek, ataupun teh ataupun air dari daun yang gugur sama saja, kan? Karena kau telah menelan separuhnya, jadi kau diharuskan untuk menghabiskannya. Kalau kau nggak menghabiskannya.... Akan ku pelintir itumu nanti" (Ram)

Tanpa berkata dengan jelas apa sesungguhnya yang ingin dipelintirnya, Ia memberikan tatapan tajam pada selangkangannya Garfiel. Hanya dari itu saja, Subaru sadar kalau target serangannya benar-benar vital, dan secara reflek merapatkan kedua kakinya disaat mendengar ancaman itu. Garfiel akhirnya menghabiskan teh itu dengan terpaksa, menahan rasa pahit. Dan disisi lain, Roswaal, yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka, secara tiba-tiba berbicara,

"Aaa~~ha. Akankah kaaa~lian semua masih peduli dengan kondisi daku dan masih mau memberikan daku kesempatan untuk beristirahat? Atau memang rencana kalian untuk membuat daku tertawa dan membuuu~ka kembali luka-luka daku? Kalau memang begitu, rencana kalian benar-benar suuu~kkses" (Roswaal)

Mengatakan itu, Roswaal dengan pelan menyentuh perban yang menyelimuti kepalanya sambil merintih kesakitan. Memang faktanya, saat ini mulai terlihat darah muncul lagi membasahi perban di kepalanya. Dan setelah kejadian itu, situasi di ruangan yang dari tadi santai, berubah, dan Ram, yang ekspresi diwajahnya mulai berubah, mendekati Roswaal. Ia kemudian memegang tangannya, yang sedang menekan lukanya, dan,

"Maafkan aku, Roswaal-sama. Meskipun begitu Ram tetap berada disisimu..." (Ram)

"Bukannya ini gara-gara lelucon tehmu tadi yang bikin dia tertawa?" (Subaru)

Niat mengganggunya dihentikan oleh tatapan menyeramkannya Ram, sehingga Subaru menahannya, dan dengan cepat menoleh kearah Roswaal. Setidaknya, pendarahannya terlihat tidak begitu parah. Pendarahannya nanti juga akan berhenti ――dengan kata lain, sekarang kemungkinan adalah waktu yang pas untuk dilakukannya proses penyembuhannya.

"Roswaal, mending sekarang aja yuk nyembuhin lukamu itu.." (Emilia)

"Tidaaak~~, itu tidak perlu Emilia-sama" (Roswaal)

Mendapat pikiran yang sama dengan Subaru, para roh mulai bermunculan disekitar Emilia disaat Ia berjalan mendekati Roswaal. Namun, Ia dihentikan oleh Roswaal yang menggelengkan kepalanya. Para roh pun, yang bersinar dengan cahaya berwarna biru, menjadi goyah, seolah-olah disebabkan karena ketidakyakinan tuan-nya.

Menatapi roh-roh disamping Emilia, Subaru sadar akan sesuatu.

――Disaat para roh itu muncul disekiling Emilia, ntah kenapa Subaru tidak mengerti juga, Garfiel menatap kearah Emilia dengan tatapan dingin yang dipenuhi kebencian.

"Bagaimanapun juga, sekarang ini, ada hal yang jauh lebih penting daripada pusing dengan luu~kaku. Hidup daku tii~dak dalam bahaya juu~gaan, jadi tolong pentingkan masalah yang lain terlebih dahulu" (Roswaal)

"Meskipun kau berkata seperti itu, tetap saja aku nggak bisa. Disaat ada seseorang yang terluka, tapi disuruh mengabaikannya demi kepentingan yang lain, menurutku itu terlalu.." (Emilia)

"Meskipun daku memberitahumu kalau ini penting agar kau bisa menduduki singgasanamu?" (Roswaal)

Sikap riangnya Emilia yang biasanya pun menghilang, dan dia yang awalnya keras kepala mementingkan kesembuhannya Roswaal, seketika berhenti. Mendengar pernyataan dari Roswaal, Emilia menjadi terkejut. Mata kiri berwarna kuning yang saat ini menatapinya, tatapannya seolah-olah melihat kedalam pikirannya Emilia, berkilau penuh misteri,

"Bagi keluarga Mathers, 'Sanctuary' ini cuma dianggap sebagai tempat yang diwariskan secara turun-temurun, namun bagi masa depan Emilia-sama, tempat ini sangat penting... yap, begitu berhar~~ga. Oleh karena itu, apapun alasannya daku memang berniat mengajakmu ketempat ini. ――Tapi ternyata, kau muncul lebih awal dari perkiraan daku... ya?" (Roswaal)

"Begitu penting bagiku....? Nee, apa maksudmu itu..." (Emilia)

"Masalah yang ada di 'Sanctuary' ini ada kaitanya dengan masalahnya Emilia-sama(Note:masalah menghilangnya puck). Jadi kemungkinan, ditempat ini, kau bisa menemukannya.
Soulmate nya Emilia" (Roswaal)

"――!?"

Membeku ditempat, Subaru menyaksikan ekspresinya Emilia yang mulai berubah. Menyadari perubahan sikap ini, Roswaal terlihat mengamati ekspresinya Emilia, dan terlihat menganggap seolah-olah ini semua sesuai dengan rencananya. Sementara disisi lain, Subaru, yang masih tidak paham apa yang telah terjadi diantara mereka berdua, hanya bisa menahan jengkel.

Namun, sebelum perasaan yang tertahan itu membludak, Roswaal langsung menunjuk kearah Garfiel yang terdiam.

"Kau, Garfiel. Tuntun kedua orang ini ke 'Sanctuary'. ――tidak, maksudku ke kuburan" (Roswaal)

"――Eee, menurut lu itu ide yang bagus?" (Garfiel)

Mengayunkan cangkir kosong ditangannya dari sisi ke sisi, Garfiel tertawa pelan. Terhadap pertanyaannya, Roswaal hanya mengangguk dan dengan lembut mengelus rambut merah-nya Ram yang saat ini sedang mengganti perban yang menutupi lukanya.

"Yang paling utama dan terpenting adalah memahami situasi. Menjelaskan situasi dan masalah lainnya, akan lama sampai matahari terbenam, dan tidak mungkin bagi seseorang 'bisa' mendatangi kuburan pada saat itu" (Roswaal)

"Ah, kalau begitu, matahari jugaan bakal segera terbenam. Akan jadi ribet situasinya nanti kalau sampai itu terjadi. Baiklah, gua akan menuntun kalian" (Garfiel)

Bangun dari kursi, Garfiel meletakkan cangkir teh nya ke meja didepannya, dan menoleh kearah wajah Subaru dan Emilia. Melihat kearah dua orang yang dari tadi menyimak pembicaraan ini, namun pada akhirnya tidak mengerti apa-apa, Ia memiringkan kepalanya lalu menunjukkan taringnya,

"Jangan keliatan begok gitu lah. Kalau kalian nggak pingin jadi kaya 'Hoikoro yang mengamuk dari kemarin', atau hal bodoh lainnya yang mirip dengan itu, lebih baik kita berangkat saja sekarang" (Garfiel)

"Tunggu, tunggu, tunggu! Kami nggak mengerti apa yang kalian bicarakan dari tadi. Dan aku juga belum selesai berbicara dengan Roswaal, 'tau. Setidaknya kasih aku selesaikan pembicaraanku dengan Roswaal dulu sebelum...." (Subaru)

"Luka-lukanya sudah terbuka. Mengganti perban lukanya dan membiarkannya berstirahat, adalah yang terpenting sekarang. Barusu seharusnya mengikuti apa yang diinstruksikan oleh Roswaal-sama, dan segera pergi menuju kuburan" (Ram)

Subaru mencoba untuk melawan paksaannya Garfiel, namun seketika dihentikan oleh komentarnya Ram. Ia menatap Subaru dengan tatapan dingin-nya yang seperti biasanya sambil meletakkan tangannya di kasur,

"Tenanglah, Kita akan berbicara lagi malam ini. Roswaal-sama nggak kemana-mana kok. Tapi kalau kau nggak segera mendatangi kuburan sebelum matahari terbenam, kuburan tersebut akan pergi meninggalkanmu" (Ram)

"Baru pertama kali dalam hidupku aku mendengar kuburan yang hidup seperti itu!" (Subaru)

Disaat Ia merespon perkataan Ram sambil menggaruk-garuk kepalanya, Ia merasakan tatapan Emilia yang begitu serius kepada wajahnya. Kedua matanya nampak begitu pasrah, dan nampaknya Ia menyerahkan masalah ini kepada Subaru untuk memutuskan apa yang harus mereka lakukan.

Tetap berdiam disini dan menyelesaikan pembicaraannya dengan Roswaal, ataukah mengikuti permintaannya dan pergi ke makam bersama Garfiel. ――Dan pada akhirnya Ia pun memutuskan.

"Baiklah aku mengerti. Kami akan pergi ke kuburan itu. Karena ini lebih penting kan? Dan pastikan kau telah mempersiapkan jawaban yang tepat untuk seluruh pertanyaan kami disaat kami kembali nanti" (Subaru)

"Maa~aaf ya, situasinya jadi seperti ini. Maa~lam nanti, kita akan mendiskusikan semuanya, sampai ke akar akarnya" (Roswaal)

Mendengar keputusan Subaru, Emilia nampak tenang, dan Roswaal mengangguk dengan puas. Garfiel dan Ram juga nampak menerima keputusannya, dan mereka berdua(Garfiel dan Ram) pun akhirnya mulai menjalankan tugasnya masing-masing. Namun, sebelum itu, Subaru berkata 'Ada satu hal', sambil mengangkat satu jarinya.

"Sebelum kami pergi ke kuburan, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu" (Subaru)

"Mmm~~? Oke boleh saja, kalau pertanyaanmu bisa daku jawab dengan mudah, kau boleh melakukannya dan tanyakan apa saja pada daku" (Roswaal)

"Baiklah kalau begitu, kupegang kata-katamu. ――'Rem', apa kau pernah mendengar nama itu sebelumnya?" (Subaru)

Memberanikan diri mengganti topik pembicaraannya, Subaru menanyakan pertanyaan yang vital itu. Mendengar pertanyaan Subaru, orang pertama yang bereaksi adalah Ram. Tapi, reaksinya bukanlah apa yang diharapkannya.

Disaat nama itu terdengar di kedua kupingnya, Ram memiringkan kepalanya seolah-olah mendengar sesuatu yang tidak dikenalnya. Dan disaat Subaru kehilangan harapan, Roswaal mengatakan nama itu lagi dengan pelan.

"....Pernah?" (Subaru)

"Fumu~. Maaf, daku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Daku rasa nama itu mirip dengan nama-nya Ram, tapi mungkin nama itu cuma salah pengucapan dari namanya Ram saja" (Roswaal)

"Begitu.... ya. Oke, nggak apa. Kalau kau memang nggak ingat, ya mau gimana lagi" (Subaru)

Memalingkan pandangannya, Subaru menerima jawaban itu dengan lapang dada.

Jawaban dari Ram dan Roswaal telah menghancurkan harapan yang tersisa di hati Subaru. Padahal mereka berdua, adalah orang yang telah menghabiskan waktu cukup lama bersama dengan Rem, orang yang akan Rem lindungi, dan orang yang Rem kagumi dan cintai. Namun mereka berdua telah melupakan dirinya.

Menerima kenyataan ini, hatinya pun menjadi suram. Dan Ia pun sadar akan sesuatu.

――Kalau didunia ini, satu-satunya orang yang bisa mengingat dirinya hanyalah, dirinya sendiri.

"Subaru, kamu nggak apa-apa?" (Emilia)

Terdengar begitu khawatir, Emilia dengan lembut menyentuh ujung dari lengan baju Subaru. Menikmati kelembutan dari ujung jarinya, Subaru, tidak mau membiarkan dirinya melihat kegelapan yang saat ini menyelimuti wajahnya, menutup kedua matanya, dan menaikkan pandangannya.

"Aku nggak apa-apa kok. Aku nggak mengharapkan sesuatu yang spesial kok. Aku sudah tahu kalau akan seperti ini jadinya. ――Aku telah memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya" (Subaru)

"Hu-um. Ayo kita lakukan. Aku akan membantumu" (Emilia)

Emilia mengangguk terhadap keputusan Subaru, dan menjanjikan bantuannya tanpa pamrih. Disaat kesuraman yang menyelimuti hatinya terhapuskan oleh sikap lembut nya Emilia, Subaru menaikkan pundaknya.

"Saat Rem bangun nanti... Cintaku tidak sepenuhnya hanya tertuju pada Emilia-tan lagi... Kamu nggak cemburu kan nantinya?" (Subaru)

"Perasaan Subaru hanya untukku, dan kalau perasaan itu berkurang, mungkin bisa jadi... Tapi aku nggak mungkin begitu, kan? Bagianku dan Bagian-nya Ram, kamu pernah bilang kan kalau kamu telah mengatur semuanya seadil-adilnya.." (Emilia)

Menjawab candaan genit Subaru, Emilia mengatakan hal yang tidak disangka Subaru sebelumnya. Takut dengan apa yang didengarnya, Subaru tidak bisa mengucapkan sepatah katapun disaat mendengar itu, dan sementara Emilia, wajahnya mulai memerah, dan berkata sambil tersenyum,

"Yuk, Subaru. Aku ingin Ram bisa ketemu sama Rem-san juga" (Emilia)

"A, Aaah, iya. Hu-um, benar itu" (Subaru)

Meskipun Ram tidak bisa ingat, setidaknya pertemuan mereka akan menjadi pertemuannya dengan adiknya. Akankah pertemuan itu akan membawa ingatan mereka kembali, atau akan membawa kembali cinta yang selama ini telah hilang diantara mereka.

Meskipun harapan itu begitu lemah, tapi ia tetap akan mengharapkannya selama masih berarti.

"Barusu" (Ram)

Disaat Emilia mengikuti Garfiel keluar ruangan dan Subaru mulai mengikuti juga, tiba-tiba dirinya dihentikan oleh seseorang yang memanggilnya.

Menoleh ke sumber suaranya, ternyata itu adalah Ram yang dengan cepat langsung berjalan mendekati dirinya. Disaat setelah Ia mengambil perban pengganti yang akan menutupi lukanya Roswaal, Ia berjalan mendekati Subaru.

"Ada apa? kalau kau berencana untuk main perban-perban nan, nanti setelah kami pergi, kau bisa bermain dengan Roswaal sepuasnya...." (Subaru)

"Nanti cuma Emilia-sama yang boleh masuk ke kuburan. Barusu nggak boleh ikut masuk" (Ram)

Mengabaikan candaannya, nada suara Ram yang tajam membuat Subaru menjadi berhenti bercanda.

Ram berbicara dengan pelan, dan berbicara dengan suara yang bahkan Roswaal pun tidak dapat mendengar ucapannya. Melihat Subaru mengerutkan jidatnya, untuk memastikannya, Ia mengatakannya sekali lagi.

"――Kalau kau nggak mau terjerat oleh keinginan gila si Penyihir, jangan pernah, sekali-sekali, memasuki kuburan itu" (Ram)

Ia mengucapkan itu sekali lagi.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

――Udara didalam kuburan begitu dingin dan bersih, dan, terasa seperti, sensasi dunia yang baru telah mendatangi Subaru.

Melangkah, setiap ia melangkah sepatu-nya menghasilkan sebuah suara, dan, entah sesungguhnya Ia menginginkannya atau tidak, hal ini membuat kehadirannya semakin ketahuan. Tapi walaupun begitu, suara dari langkah kakinya ini memberikan rasa tenang pada dirinya.

――Karena didalam kegelapan yang membuatnya tidak bisa melihat beberapa meter kedepan, yang membuat keberadaannya menjadi diragukan, suara dari langkah kakinya ini bisa menjadi penghibur bagi dirinya.

Tidak tahu dimanakah Ia saat ini, tembok yang selama ini menjadi tumpuannya telah menghilang. Terus melangkah, akankah Ia hampir mencapai ujung dari tempat ini? Subaru mendapat ilusi kalau dirinya sudah tidak berjalan lagi.

Tapi suara dari langkah kakinya menyangkal ini.

Langkah kakinya memberikan bukti kehadiran dirinya, bergantung pada penghibur kecil ini, Ia terus melanjutkan berjalan.

Berapa lamakah waktu yang telah terlewati, mustahil untuk dicari tahu dalam kegelapan seperti ini. Bahkan pikirannya menjadi samar-samar, dan tenggorokannya, telah menyerah untuk memanggil seseorang, membeku. Berjalan terus seperti ini, rasa lelah belum juga menghampirinya, tapi karena hal ini, Ia jadi tidak bisa merasakan tubuhnya lagi.

Tanpa peduli apapun, Ia terus berjalan. Ia harus terus berjalan. Ia tidak boleh menyerah.

Ia melarang dirinya untuk berhenti. Berjalan, dan terus berjalan. Meskipun beban yang dibawanya begitu berat, Ia harus tetap semangat dan tetap berjalan.

Karena kalau tidak, bagaimana Ia bisa menampakkan wajahnya lagi didepan――

"――Begitu rupanya, Jadi itu yang menjadi sumber semangatmu. Sangat menarik" (???)

Sebuah suara pun terdengar, dan kemudian menghilang lagi, menghilang seolah tertelan bumi.

Kegelapan yang tidak bisa digambarkan yang terasa begitu luas darimanapun Ia menghadap, secara tiba-tiba, menjadi terang seperti saat siang hari, dan pintu masuk gang yang terbuat dari batu pun terbentuk – yang lebih lebar dari dunia. Lumpur yang memenuhi kakinya, dan udara yang begitu kotor, membuat perasaan mual muncul dalam dirinya.

Dunia benar-benar tampak berbeda saat ini, kehancuran yang besar terlihat didepan kedua matanya―― momen yang pernah Ia lihat sebelum Ia masuk kedalam kuburan, kembali terlihat, dan Subaru tak tau harus berkata apa lagi.

Dan kemudian didepan dirinya, seseorang secara tiba-tiba muncul. Dan itu adalah――

"Maafkan aku atas sambutan yang lucu ini. Aku sesungguhnya nggak mau seperti ini, tapi mau gimana lagi, tubuh ini adalah perwujudan dari keserakahan. Rasa ingin tahunya... nggak bisa kutahan" (???)

Putih seputih putri salju, adalah kesan pertama yang nampak dari gadis itu.

Rambut panjangnya yang menghiasi punggungnya begitu putih seputih salju dialam mimpi, dan kulitnya begitu cerah, dan terlihat cantik. Kebijaksaanaannya terpancarkan dari kedua matanya, yang dipakaikan ditubuhnya saat ini adalah gaun simple berwarna hitam-pekat, dan kombinasi dari dua warna tersebut semakin memancarkan kecantikannya.

Siapapun yang melihatnya akan terpukau dengan kecantikannya―― Tapi sebaliknya, apa yang dirasakan Subaru saat ini adalah perasaan takut yang luar biasa, yang belum pernah dirasakan olehnya sebelumnya.

Bahkan tekanan yang Ia rasakan disaat bertemu dengan Paus Putih, tidak separah saat ini.

Didepan Subaru yang tidak dapat berkata apa-apa, Gadis itu menggoyangkan rambut putihnya, dan menyipitkan kedua matanya, kemudian, seolah-olah mulai mengerti apa yang terjadi pada Subaru, Ia pun mengangguk.

"Maaf atas ketidaksopananku ini. Aku belum memperkenalkan diriku. Diriku benar-benar tidak sopan, jadi tolong maafkan diriku. Soalnya aku sudah lama tidak berbicara dengan seseorang, dan sepertinya, cara berbicaraku juga masih kaku" (???)

Tidak seperti nada suaranya, gadis itu hanya sedikit merubah ekspresinya disaat Ia menggelengkan kepalanya dengan lembut.

Lalu, melihat kearah Subaru, yang telah terdiam, gadis itu menaruh tangannya dibawah dagunya.

"Namaku Echidona. Orang yang dipanggil Penyihir Keserakahan, apa kau paham?" (Echidona)

-=Chapter 9 End=-

(TLN: Huuh~ benar2 panjang chapter 9 ini :v, tak nyangka saia bisa menghabiskannya juga. Oke, sgini dulu ya..~ pantengin terus Isekai Novel ^_^! dan jangan lupa, recehnya.. :v)

No comments:

DMCA.com Protection Status