Evil God Average Chapter 10 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Evil God Average Chapter 10 Bahasa Indonesia

February 02, 2017 Pipo Narwastu


Translator: KIV
Editor: CTian

Chapter 10: Dimulainya Kehidupan Hikkikomori

Sudah sekitar empat hari semenjak gadis budak bernama Tena tinggal bersamaku.

Awalnya dia terkejut dengan semua hal, namun perlahan tapi pasti dirinya pun akhirnya terbiasa.

Ketimbang ‘terbiasa’ mungkin lebih tepat dikatakan kalau dia sudah menyerah berpikir soal hal berbahaya dan abnormal.

Sepertinya dulu dia sering membantu ibunya saat masih di desa, jadi dia bisa melakukan hampir semua pekerjaan rumah termasuk hal yang tak bisa kulakukan seperti memasak atau mencuci yang kuserahkan sepenuhnya kepada dia.

Dan ya, lebih baik kuingatkan sekali lagi, ini bukan berarti aku benar-benar gak bisa memasak atau mencuci, lho ya.

Masalahnya setiap kali aku memegang pisau untuk memasak, tanto yang kumiliki akan melepas paksa pisau dari tanganku, kemudian saat aku mencoba mengenakan afron, jubahku akan melepaskannya.

Bahkan saat aku mau menyapu dengan sapu juga menjadi hal yang mustahil. Sepertinya sapu dianggap sebagai senjata.

Kemudian, urusan mencuci, karena aku tidak bisa mengganti pakaian, Tena hanya mencuci pakaiannya sendiri.

Untung saja, kalau bisa dikatakan demikian, sepertinya karena aktivasi dari divine enchantment, pakaian yang dia gunakan mengalami status restorasi setelah beberapa saat, mengakibatkan kotoran dan koyakan menghilang.

Tena adalah seorang budak, tapi perintahku saat ini sebagai majikannya hanya satu:

’jangan melakukan hal yang akan merugikanku.’

Sepertinya dia begitu setia kepadaku yang telah menyembuhkan penyakit dan menyelamatkan hidupnya, sehingga tanpa kuperintah pun, aku yakin dia akan bekerja dengan penuh semangat.

Selagi melihatnya bekerja dari pinggaran mataku, aku mengucapkan “status”.

===================================================================

Name : Anri
Race : Human Race
Sex : Female
Age : 17
Job : Mage
Level : 1
Ti[tle : Child of the Evil God, Dungeon Master
Mana : 3031504

Skill:

– Evil God Aura (Lv.5)
– Mystic Eyes of Wicked Authority (Lv.5)
– Divine Enchantment (Lv.7)
– Abnormal Status Resistance (Lv.6)
– Darkness Magic (Lv.6)
– Item Box (Lv.4)
– Dungeon Create (Lv.2)

Equipment:
– Tantou of the Wicked Demon
– Black Clothes of the Evil God
– Babydoll of Depravity
– Scanties of the Succubus
– Pumps of Darkness

Kin:
– Tena

===================================================================

Kolom “Kin” ditambahkan dengan nama Tena di dalamnya.
(TLN: Kin = famili/bawahan juga bisa)

Aku sudah memeriksanya dengan Tena, dan sepertinya hanya aku yang bisa melihat status tadi. Tena sama sekali tidak bisa melihat statusku.

Lalu, Tena juga mencoba melafalkan “status” namun dia tidak bisa melihat apapun.

Saat aku fokus pada nama Tena yang muncul dalam tampilan statusku, detail status dari Tena ditampilkan.

Tena sendiri tidak bisa memunculkan tampilan seperti yang kulihat. Entah karena dia menjadi budakku, atau karena divine enchanment yang kuberikan, status yang dia miliki dianggap sebagai bagian statusku sehingga aku bisa melihat seperti berikut:

====================================================================

Name : Tena
Race : Human Race
Sex : Female
Age : 14
Job : Mage
Level : 3
Title : Slave, Disciple of the Evil God
Mana : 60532

Skills:
– Abnormal Status Resistance (Lv.4)
– Darkness Magic (Lv.4)

Equipment:
– Miko Outfit of the Evil God

Subordination: Anri

=====================================================================

Aku memutuskan untuk menerima label “slave”(budak) sebagai sesuatu yang tidak bisa kuubah, lalu “Disciple of the Evil God” sepertinya karena divine enchantment, ya.

Nilai Mana-nya sekitar 60 ribu poin, tapi karena dungeon master pada umumnya memiliki sekitar 10-20 ribu poin, Mana yang dia miliki mungkin melebihi manusia biasa.

Tidak jelas berapa nilai mana yang dia miliki sebelum diberikan divine enchantment, tapi dia sendiri tidak tahu apapun soal sihir, jadi kurasa nilainya bisa segitu karena divine enchantment. ‘sebenarnya, dia sendiri tanpa sadar punya bakat alami untuk sihir’… adalah salah satu kemungkinan, tapi tak dapat dipungkiri divine enchantment juga turut andil. Lagipula skill yang dia miliki secara sistem adalah skill yang sama seperti yang kumiliki.

“Miko Outfit of the Evil God” adalah kantoui yang dimodifikasi oleh divine enchantment. Tapi tidak ada equipment terdaftar bukan berarti dia tidak mengenakan pakaian dalam atau sepatu, karena sepertinya pakaian tanpa atribut defense tidak dianggap sebagai equipment. Aku tidak menyuruhnya ‘go commando’ lho.
(TLN: go commando = tidak mengenakan pakaian dalam.)

Saat aku membelikan pakaian dalam dan sepatu, Tena sempat menolak, tapi akhirnya kupaksa demi kesehatan jiwaku. Kudengar tidak ada majikan yang repot-repot memberikan hal seperti itu pada budak mereka, tapi karena pakaian miko tanpa dalaman itu pakaian fetish orang mesum, aku jadi tidak bisa tenang bila dia di sekitarku.

Ditambah lagi, sepertinya ‘Miko Outfit of the Evil God’ tidak mengandung kutukan, jadi Tena bisa berganti pakaian… ini diskriminasi.

“Tena.”

“Ya, Anri-sama?”

Saat aku memanggil Tena yang meletakkan secangkir teh di hadapanku, Tena dengan segera membalas. Btw, awalnya dia memanggilku dengan sebutan ‘goshujinsama’ (TLN: tuan/nona) tapi itu malah tak membuatku tenang jadi kubuat dia memanggil menggunakan namaku. Sudah kubilang jangan menambahkan ‘-sama’ tapi sepertinya dia tetap bersikukuh menarik garis pembatas, sehingga akhirnya aku menyerah.

Tena baru saja akan berdiri menunggu di belakangku, jadi kuperintahkan dia membuatkan teh untuk dirinya lalu duduk di depanku. Tena menjadi gelisah soal itu, dan mencoba menolak, tapi karena aku ingin bicara dia akhirnya pun menurut. Walaupun dia dibesarkan di desa, kenapa dia bisa melayani orang dengan terampil adalah sebuah misteri.

“Apa kamu mau mengunjungi keluargamu?”

Mendengar pertanyaan spesifik yang tiba-tiba kukeluarkan, tubuh Tena yang tidak menyangkanya seketika menegang.

Kudengar Tena adalah budak utang yang diambil pedagang budak sebagai jaminan pinjaman. Karena kupikir dia ingin kembali ke desanya setelah dipisahkan secara paksa, aku ingin mendengar apa pendapat Tena.

Aku mungkin akan sedikit mengalami masalah tanpa dirinya, jadi aku mungkin akan menghindari dia pergi, tapi aku tidak keberatan menyuruhnya pulang untuk sementara, itu pun kalau dia menginginkannya.

Kami mungkin akan terus bersama setelah ini, jadi kupikir sebaiknya aku harus sedikit perhatian agar ke tidak puasan tak muncul dalam dirinya.

“Tidak mungkin kalau aku tidak mau.”

“Kalau begitu…”

“Tapi sejujurnya, aku tidak tahu harus bagaimana saat menemui mereka. Kupikir keluargaku juga sama.”

Itu mungkin ada benarnya.

Keluarga yang menjual anak gadisnya demi uang dan gadis yang dijual demi uang; bahkan walau itu tak terhindarkan, sudah jelas bahwa itu bukan masalah sepele.

“Baiklah. Tapi kalau kamu sudah memutuskan ingin menemui mereka, katakan saja. Akan kuizinkan kalau cuman untuk beberapa hari.”

“Te-Terima kasih banyak!”

Matanya sedikit berkaca-kaca, namun senyuman Tena benar-benar menawan.



Baiklah, demi Tena yang juga tinggal di sini, aku akan memperkuat dungeon sebagai prioritas utama. Selama empat hari aku telah mengubah sedikit struktur dungeon, dan setiap hari aku menambahkan lantai, dan sekarang sudah 9 lantai. Aku tidak bermaksud terus menerus menambahkan lantai, tapi karena aku ingin membuat dungeon ini sebisa mungkin tak dapat ditembus demi kemanan kami, aku berencana membuat sekitar 30 lantai.

Aku tidak terpikir bertarung secara langsung, tapi kusisakan 1 juta poin sebagai cadangan, dan tiap hari kugunakan 2 juta poin untuk memperkuat dungeon. 1 juta poin untuk menambahkan lantai dan 1 juta lagi untuk dekorasi serta memperkuat daya tahannya.

Di hari pertamaku menghabiskan poin untuk menambahkan ruangan di tempat tinggalku dan menambahkan perabotan. Aku butuh ruangan yang bisa digunakan Tena. Yang kubuat adalah tempat tinggal dengan kasur dan meja seadanya, tapi setidaknya penampilannya bisa disebut sebagai ‘rumah’. Paling tidak, dengan adanya bak mandi taraf hidup di sini lebih baik ketimbang penginapan yang ada di kota.

Di hari kedua, aku membuat lingkaran teleportasi di setiap lantai. Sebagai dungeon master aku bisa bergerak ke mana saja dalam dungeon, tapi Tena tidak demikian. Karena aku akan menyuruhnya pergi ke kota untuk membeli berbagai hal, aku butuh cara agar dia bisa mencapai pintu masuk dengan mudah. Untungnya aku bisa membuat lingkaran teleportasi yang tidak bisa digunakan untuk orang yang Mana-nya belum terdaftar, jadi tidak ada penyusup yang bisa menggunakannya. DItambah lagi, di lantai selain area tempat aku tinggal, aku membuat dua lingkaran teleportasi: jalan satu arah ke pintu masuk dan satu lagi jalan untuk benda non-hidup ke daerah pemukiman. Lingkaran pertama digunakan untuk mengirim penyusup keluar dan lingkaran kedua untuk mengambil jarahan dari para penyusup tadi.

Di hari ketiga, aku menambahkan monster yang akan bermunculan. Awalnya di sini hanya ada wraith dan golem besi hitam yang berkeliaran, tapi sekarang kutambahkan skeleton lord dan chaos elemental juga. Secara berurutan, penjelasan soal mereka adalah: roh orang mati yang kebal terhadap serangan fisik dan bisa menggunakan sihir kuat; boneka besi dengan tinggi 3 meter; kerangka ytlnang bisa mengayunkan pedang besar dengan mudah; dan kumpulan miasma yang bisa menyerap semua atribut selain atribut ‘Holy’.
(TLN: u know, atribut surgawi)

Tentu saja, aku sudah memastikan monster-monster baru itu agar tidak membunuh orang. Karena mereka semua bukan mahluk hidup, mereka pasti akan menurutiku.

Di hari keempat, aku memasang perangkap di setiap lantai.

Karena tidak untuk membunuh, tentu saja aku tidak meletakkan perangkap mematikan yang bisa langsung membunuh seseorang. Sebagian besar hanya perangkap seperti perangkap beruang, lubang perangkap, gas lumpuh, gas tidur, dan lingkaran teleportasi satu arah. Ngomong-ngomong, perangkap terakhir itu yang paling menyebalkan. Perangkapnya berbentuk lingkaran kecil jadi hanya bisa digunakan di lantai yang sama, tapi lingkaran tersebut akan memindahkan satu orang dalam satu kelompok ke suatu tempat secara acak. Kalau kukepung mereka dengan monster saat sendirian, pertarungannya akan sangat mudah.

Dengan lantai baru untuk hari ini, dungeon-ku sekarang menjadi 10 lantai.

Karena angka 10 itu enak dilihat, kuputuskan membuat sebuah ruangan setelah turun dari lantai 9 dengan satu boss yang menjadi penjaga gerbang masuk area tempat tinggalku. Monster yang tidak bisa muncul terus menerus dan harus dipanggil khusus disebut boss monster.

Menghabiskan 1 juta poin untuk satu monster, aku berhasil menempatkan No Life King. Penampilannya terlihat seperti monster tengkorak dengan jubah mewah dan mahkota di kepalanya. Mengeluarkan aura kematian yang pekat dari tubuhnya, monster ini benar-benar pantas disandangkan sebagai raja para undead. Karena sudah repot-repot kupanggil, kugunakan sisa poin untuk menambahkan singgasana yang cocok untuk ruangan boss.

… dengan ini, kalau kujadikan pintu masuk area tempat tinggal sebagai pintu rahasia, sekuat apapun ksatria yang datang sampai tempat ini mungkin akan mengira No Life King sebagai penguasa dungeon ini.

Nah, sekarang tempat ini sudah seperti dungeon yang sebenarnya. Tentu saja aku masih akan memperkuatnya, tapi yang sekarang sepertinya sudah cukup untuk mengatasi sebagian besar penyusup.

Previous Chapter - Daftar Isi - Next Chapter

No comments:

DMCA.com Protection Status