Evil God Average Chapter 12 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Evil God Average Chapter 12 Bahasa Indonesia

February 27, 2017 Christian Tobing

Translator: KIV
Editor: CTian


Chapter 12 – Evil God Pencuri

Foreword: kata ‘penyusup’ di chapter sebelum ini diubah menjadi ‘penantang dungeon’ atau sekedar ‘penantang’ untuk ke depannya.

Setelah mengusir orang-orang yang sepertinya adalah tim survei yang dikirim oleh guild petualang, jumlah penantang dungeon jadi meningkat tajam 2 hari setelahnya. Dalam sehari, setidaknya ada 3-5 tim yang datang menyerang. Muak mendengar alarm yang terus menerus berbunyi karena kehadiran mereka, aku mengubah pengaturannya agar hanya berbunyi begitu ada yang mencapai lantai 4. Hingga saat ini, sekitar 80% ‘pengunjung’ tumbang di lantai pertama, dan sisanya binasa tak lama setelah memasuki lantai 2. Satu-satunya yang pernah mencapai lantai 3 adalah tim survei guild waktu itu yang kembali mencoba menantang dungeon ini. Walau begitu, belum ada seorang pun yang pernah menginjak lantai 4.

“Gyaaaah!!”
“Si-Sial… di tempat seperti ini…”

Menyaksikan mereka melalui dungeon core memang membutuhkan cukup banyak mana, selain itu aku telah merombaknya agar bisa mendengarkan suara. 
Berkat perombakan itu, aku jadi tahu alasan mengapa banyak tim survei yang hancur begitu memasuki lantai 2. Sepertinya ada miasma yang memenuhi seluruh dungeon ini. Memang sih, aku samar-samar ingat ada kata tersebut dalam atribut dungeon ini, tapi kukira miasma itu memang karakteristik dungeon-nya, bukan karena ulahku. ‘Miasma’ atau apalah itu kesannya bau, mana mungkin aku mau menerimanya sebagai kesalahanku.

“Dungeon yang menyeramkan. Dungeon master di sini pasti benar-benar orang berbahaya.”
“Sepertinya kita memang harus terus siaga.”

Ngomong-ngomong, berdasarkan informasi yang kucuri dengar dari mereka, sepertinya ada berbagai jenis miasma. Miasma di tempat ini tidak memberi dampak fisik seperti racun, namun efeknya menyerang psikis seseorang. Sederhananya, miasma tempat ini memperkuat rasa takut, membebani mental padahal penantang dungeon diharuskan selalu melangkah dengan hati-hati. Tapi ya, kerusakan yang diakibatkan hanya memiliki dampak psikis bukan fisik. Selama orang yang masuk bisa mengendalikan diri, harusnya tidak akan ada masalah. Hanya saja mengendalikan diri sendiri itu bisa dikatakan memberikan beban psikis juga.

“Ugh… miasma-nya terlalu tebal! Berbahaya kalau kita memaksa maju!”
“Tunggu, ini masih lantai 2 kan!? Kalau di awal saja sudah sesulit ini, seberapa parah di bawah sana!?"

Mungkin karena terhubung dengan jalan keluar, miasma di bagian atas begitu tipis hingga tak begitu memiliki pengaruh. Tapi dibandingkan itu, lantai dua dan seterusnya memiliki miasma dengan ketebalan yang semakin ke bawah semakin tebal.
…Apa penyebabnya karena aku ada di lantai paling bawah?
Tunggu, tunggu. Evil God Aura harusnya tidak begitu berpengaruh bagi manusia, jadi mungkin ada faktor lainnya. Berarti aku tidak salah.
Sebanding dengan jumlah petualang yang menyusup, jumlah item yang terkumpul juga semakin meningkat. Jujur saja, butuh banyak waktu hanya untuk mengelompokkan berbagai item yang terkumpul. Melihat sekilas, sepertinya ada barang-barang yang tidak kuketahui tercampur di dalamnya, jadi terkadang aku harus memindahkannya ke item box dulu untuk memeriksa namanya… melakukan semua itu, tanpa sadar aku sudah menghabiskan begitu banyak waktu.
Walau telah bekerja sepenuh tenaga dan menghabiskan banyak waktu hanya untuk menyortir, ada banyak hal yang ternyata tidak kubutuhkan. Misalnya seperti pedang produksi masal, seberapa banyak pun yang kumiliki, mereka tidak ada gunanya toh tidak bisa kugunakan. Terpikirkan olehku membawanya ke kota untuk dijual. Tapi kalau orang yang kehilangan item mereka di dungeon tak sengaja melihatnya, mereka pasti merasa curiga, membuatku ragu untuk merealisasikannya. Mungkin aku sebaiknya berhenti mengumpulkan pedang. Hmm… tapi orang-orang mungkin akan memulai rumor aneh lagi kalau aku berhenti di tengah jalan, membuatku urung melakukannya. Sepertinya aku harus meminta monster-monster di sini hanya mengumpulkan uang. Aku sudah muak melihat pedang.
“Aah… tidak, kesadaranku… to-tolong… pedang yang kubeli dengan tabungan 2 tahunku… jangan…”
Sedikit iba, kucoba menaruh pedang-pedang yang terkumpul itu dalam peti harta. Dengan skill dungeon create, aku membuat dan memasang Treasure Chest Creation Box (TLN: kotak pembuat peti harta). Dengan box itu, benda apapun yang kumasukkan akan dipindahkan ke dalam peti harta yang tersebar acak di seluruh dungeon. Kotak kreasi itu sebenarnya adalah benda yang biasa digunakan untuk menarik mangsa, karena dungeon pada umumnya memperoleh mana dengan menyerap penantang dungeon yang mati. Memasukkan senjata kuat atau batu berharga ke dalam peti, para mangsa yang serakah biasanya akan tertarik mendekat. Dalam kasusku, aku memasukkan barang-barang yang tidak dibutuhkan seperti senjata, entah kenapa rasanya aku menggunakannya sebagai tempat sampah.
Walau kukatakan tidak butuh, pedang dan senjata sejenis dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi, jadi bukan berarti mereka bukanlah tawaran menarik. Selain itu, begitu ada kabar menyebar kalau mereka yang kehilangan barang di dungeon bisa menemukannya kembali dalam peti harta di dungeon, kami bisa menjual barang-barang tersebut dengan alasan kamilah yang menemukannya. Tapi, ya… kalau dilakukan terlalu banyak tentu saja akan membuat orang lain curiga, jadi kami hanya bisa menjualnya sedikit demi sedikit.
Selain itu, aku tidak begitu sreg hanya memberikan hadiah hiburan yang sebenarnya tak dibutuhkan, jadi aku terkadang memasukkan senjata yang sudah kuperkuat dengan skill. Walau mengandung kutukan, tapi kalau melihat tantou-ku, statusnya kurasa akanbagus.

“Oh! Pe-pedang ini…!?”
“Mungkin sebaiknya kita pergi ke gereja.”
(TLN: mencoba menghilangkan kutukan dengan holy magic or something)

“Saya sudah kembali, Anri-sama.”
“Selamat datang.”
Tena akhirnya kembali dari menjual beberapa barang di kota. Mengingat jumlah petualang yang mampir ke sini makin meningkat, aku membuatkan pintu belakang khusus untuk Tena. Aku bukannya berprasangka buruk, tapi hampir setengah petualang yang datang ke sini adalah pria bertampang kasar (TLN: bisa dibilang berwajah preman). Kalau di kota mungkin ceritanya lain, tapi aku bisa membayangkan mereka mungkin akan melakukan ‘sesuatu’ pada Tena kalau kebetulan mereka bertemu. Tentu saja, aku juga tidak bisa mengatakan Tena akanbenar-benar aman di kota, jadi kuperintahkan dia membeli sebuah jubah untuk dipakai di kota agar tidak menunjukkan wajahnya terlalu sering.
“Saya sudah meletakkan bahan makanan di gudang.”
“Terima kasih. Lalu bagaimana dengan permintaanku?”
“Ah, ya, silahkan.”
Aku meminta Tena secara tidak langsung untuk pergi dan melihat bagaimana tanggapan guild petualang terhadap dungeon ini sembari dia belanja. Saat kutanyakan hasilnya, Tena memberikan selembar perkamen. Di dalamnya tertulis hal seperti berikut:
================================================================================
Permintaan        : Taklukkan Dungeon Master dari dungeon baru di selatan Riemel,
    “Wicked Cave of the Robber” (TLN: gua pencuri jahat)
Hadiah               : 30 keping emas
Syarat                 : Serahkan dungeon core
Batas Waktu       : Tidak ada
================================================================================

“Wicked Cave of the Robber?”
Apa mereka menemukan dungeon baru lagi di sekitar sini?
“Sepertinya guild menamakan dungeon ini seperti itu.”
Eh… jadi yang dimaksud itu dungeon ini? Benar juga, para petualang dan guild tidak mungkin bisa tahu nama asli dungeonnya,  jadi  wajar kalau mereka menamainya sendiri… ya, wajar sekali.
Tapi kenapa harus ‘robber’ sih… (TLN: pencuri)
Memang sih aku mengambil item dan uang dari adventurer yang pingsan, jadi sebenarnya aku tidak bisa mengelak kalau disebut ‘pencuri’. Tapi harusnya kami memberikan kesan lebih positif dibandingkan dungeon lain. Impresi mereka terhadap dungeon ini kejam sekali…
Lalu, ketimbang disebut permintaan, lebih tepat kalau perkamen tadi disebut sebagai DPO. (TLN: daftar pencarian orang) Ugh… tidak kusangka aku akan masuk DPO di dunia ini… hmm, tidak, aku sebenarnya sudah mengira sih, saat mendengarkan penjelasan seputar dungeon.
Hadiah sebesar 30 keping emas termasuk jumlah yang cukup besar, membuatku menerima banyak penantang dungeon yang datang tiba-tiba. Kalau penaklukkan dungeon-nya tidak ada peningkatan, guild mungkin akan menambah jumlah hadiahnya, membuat jumlah orang yang mencoba menaklukkan dungeon menjadi semakin meningkat.
Kalau ini dungeon biasa, para penantang pasti akan langsung mati begitu dikalahkan. Tapi selama tidak ada kesialan yang kelewat buruk, siapapun tidak akan mati di dungeon ini. Dengan kata lain, tidak seperti dungeon lain, selama mereka tidak menyerah para petualang dapat mencoba untuk menantang lagi. Jadi walaupun jumlah penantang baru akan menurun, jumlah para penantang yang kembali mengakibatkan total pendatang tidak akan terlalu menurun.

Aku harus memperkuat dungeon ini agar mereka tidak bisa menembus lantai terbawah. Untuk itu, aku kembali menyibukkan diri di ruang kerja.


No comments:

DMCA.com Protection Status