GATE: Jietai Kano chi Nite Kaku Tatakaeri Prolog Part 2 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

GATE: Jietai Kano chi Nite Kaku Tatakaeri Prolog Part 2 Bahasa Indonesia

February 21, 2017 Ryuugamine Ikutsuki

“Tolong maafkan diri saya yang berkata jujur, tapi ini semua sudah berada di luar kendali. Jumlah pasukan yang telah hilang suda terlalu hebat bahkan sepanjang sejarah Kerajaan hal semacam ini belum pernah terjadi. Apakah yang Mulia memiliki rencana untuk menangani semua masalah?”

Sebagai seorang senator sekaligus bangsawan, Marquis Casel sama sekali tidak merendahkan suaranya pada saat di berhadapan dengan yang Mulia Molt Sol Augustus yang sedang duduk di tahta.

Dengan kehadiran semua senator di aula, bahkan jika salah satu dari mereka berbicara dengan tidak hormat kepada yang Mulia, dia akan dimaafkan. Mereka percaya kalau sifat semacam ini diperlukan dari diri mereka.

Di aula yang redup.

Hiasan utama di aula senta terlihat begitu suram, melupakan dekorasi elegen untuk desain yang kuat dan tenang di saat bersamaan. Terdapat sekita tiga ratus orang berwajah serius terduduk di atas bangku dalam posisi melingkari pusat dari aula. Para pria yang sudah disebutkan tadi semuanya adalah senator dari Kerajaan.

Seandainya seseorang ingin menjadi seorang senator, ada beberapa jalan. Salah satu jalan paling mudah adalah dengan terlahir di suatu keluarga dengan pengaruh besar. Tanpa mempedulikan dari negara manapun, bangsawan mengisi persentase jumlah penduduk, tapi hal yang sama tidak berlaku di ibukota Kerajaan. Jika seseorang melemparkan sebongkah batu ke jendela rumah maka besar kemungkinan batu tersebut akan mengenai seorang bansgawan.
Jadi, jika kau menginginkan posisi dari seorang sentaro, hal semacam nepotisme tak memiliki pengaruh. Hanya bangsawan di antara bangsawan dan yang terbaik di antara yang terbaik saja bisa mendapatkan posisi tersebut.

Apakah kalau kau tidak terlahir dari turunan darah bangsawan maka kau tidak memiliki kesempatan untuk menjadi seorang sentaro? Hal semacam itu tidak benar. Jika seseorang memiliki posisi menteri atau posisi dari seorang jendral prajurit atau lebih, dia memiliki kesempatan untuk menjadi seorang senator.

Untuk menangani proses membingungkan dan berat dari mengatur sebuah negara, keberadaan dari birokrasi adalah hal wajib. Jika salah satu orang biasa memiliki bakat dan kemampuan dari seorang senator, dengan sedikit keberuntungan, kerja keras, dan pencapaian maka dia bisa memiliki kesempatan untuk diserahi posisi senator.

Terdapat banyak sekali jenis menteri; Perdana Menteri, Dalam Negeri, Keuangan, Pangan, Hubungan Asing.

Jika seseorang mengambil jalan dari seorang Menteri yang merupakan mantan jenderal pasuka, begitu mereka pensiun, maka mereka akan diserahi jabatan senator di senat. Orang biasa diperbolehkan juga untuk memegang posisi jenderal dari sebuah pasukan. Diposisikan sebagai seorang perwira di dunia prajurit berarti mendapatkan posisi sebagai seorang ksatria, jadi mungkin bagi mereka untuk melangkah lebih jauh lagi dan menjadi bangsawan.

Marquis Casel terlahir dari sebuah keluarga Baron yang hanya memiliki posisi menengah di hierarki kebangsawanan. Karena pencapaian dan hasil kerjanya sebagai menteri di masa lalulah yang membuatnya mendapatkan kursi di senat. Dia adalah jenis orang yang bekerja keras sambil memenuhi posisi dan tugasnya. Dengan kata lain, tipe yang menyerang dengan begitu dominan.

Oleh kareana itu, dia ditakuti karena sifat tegas dan lidah tajamnya yang katanya bisa membuat orang dewasa menangis.

"Sudah menjadi suatu kesalahan besar untuk menganggap jika lawan lemah serta tak bernyali hanya karena menangkap serta melihat tingkah dari beberapa tawanan!”

"Apa yang harus dilakukan adalah mengawasi dan mengivenstigasi kekauatan lawan demi mengetahui seberapa besar kekuatan mereka. Jadi, keputusan yang bisa kita ambil adalah dengan melakukan kedua hal tersebut kita baru bisa memutuskan apakah lebih menguntungkan untuk menganggap mereka sebagai kawan atau lawan.” Sang Marquis pun lanjut berbicara.

Sama sekali tidak salah jika situasi yang sedang terjadi sekarang dianggap gawat.

Ekspedisi ini telah memakan 60 persen kekuatan dari pasukan Kerajaan. Meski masih mungkin untuk mengembalikannya, pengeluaran serta waktu yang amat banyak sangat dibutuhkan untuk mencapai hal ini.

Hanya dengan kekuatan militer yang kurang dari setengah, bagaimana caranya Kerajaan akan mempertahankan posisi dominannya?

Selama tiga puluh tahun masa kekuasaan yang Mulia Molt, dia telah mengutamakan pemerintahan militer. Konflik dengan negara tetangga di luar batas wilayah dan pengikut serta orang pedalaman semuanya diselesaikan dengan ketakutan disertai kekerasan, memberikan kedamaian dan kestablitias kepada kerajaan.

Di hadpaan kekuatan militer yang begitu menakutkan, semua negara tidak memiliki pilihan lain selain megalah. Mereka yang melawan Kerajaan telah dihabisi dengan begitu mudah.

Tidak peduli seberapa besar perasaan kebencian dari para pengikut, di hadapan pasukan Kerajaan yang mahakuat, mereka tidak memiliki pilihan selain menyembunyikan rasa tidak suka milik mereka.

Tetapi, kini dengan berkurangnya kekuatan Kerajaan yang telah menjadi kurang dari setengahnya, keputusan serta tindakan macam apa yang akan diambil oleh para pengikut dan negara asing yang telah menahan diri dari perasaan tertindas?

Marquis Casel sambil mengibaskan jubahnya, sebagai pemimpin dari grup Liberal, bertanya kepada sang Raja: “Yang Mulia! Bagaiamanan anda berencana untuk menuntun negara ini!?”

Setelah pidato dari Marquis Casel selesai, dia kembali ke tempat duduknya. Memberikan tatapan kepada orang-orang yang tidak setuju kepada dirinya, sang Raja menggerakan tubuhnya dengan pelan namun pasti, mencondongkan tubuhnya ke depan lalu membuka mulutnya.

“Marquis… Aku telah memperhitungkan situasi ini. Setelah kehilangan yang kita lalui, kehabatan dari prajurit Kerajaan akan terkikis untuk sementara, tetapi, tak ada gunannya untuk menangisi hal yang sudah terjadi. Apakah negara asing serta pengikut kita yang telah menyembunyikan perasaan kebencian kepada kita akan melakukan sebuah kudeta dan melangkah maju ke ibukota bersama pasukan mereka? Ahh, memikirkan hal semacam itu membuat kalian semua tdiak bisa tidur, benar? Memang menyebalkan.”

Setelah mendengar ucapan dengan nada bercanda dari sang Raja, tensi ketegangan di ruang aula menjadi sedikit lebih reda dan suara tawa kecil berdatangan dari mulut para senator.

"Apakah kau ingat Pertempuran Akuteku 250 tahun lalu, senatorku? Bagaimana reaksi dari pendahulu kita pada saat mendengarkan kekalahan besar-besaran dari pasukan mereka? Apakah mereka mengeluh soal hilangnya keberanian serta harga diri, lalu melakukan negoisasi damai, dengan begitu maka sama saja dengan menerima kekalahan?”

"Apakah ingatan dari bagaimana tingkah para wanita dari Kerajaan kepada berita tersebut masih ada di dalam pikiran anda?”

"Mereka berkata: “Memangnya kenapa kalau kita kehilangan enam puluh ribu orang?! Kami akan melahirkan bayi dengan jumlah sama dalam waktu singkat!” sambil menaikan rok mereka agar semua orang bisa melihatnya!”

"Ini adalah kisah dari para pahlawan wanita negara ini, aku harap tidak ada hal lain yang bisa dikatakan lebih jauh lagi.”

"Situasi gawat seperti ini sudah pernah dialami oleh Kerajaan dengan jumlah yang tak bisa dihitung lagi semenjak berdirinya sistem yang mengatur seluruh negara. Sang Raja dari Kerajaan kiat sudah selalu bekerja sama dengan senta dan rakyat untuk menyelesaikan semua masalah itu bersama, seperti itulah cara dari bagaimana kerajaan tumbuh menjadi begitu kuat.”

Semua hal yang sudah dikatakan oleh sang Raja adalah sejarah dari Kerajaan. Untuk para sentaor, semuanya adalah cerita yang sudah akrab dengan telinga mereka.

"Tidak ada yang namanya kemenangan pasti dalam perang. Seandainya saja para jenderal dipaksa untuk menerima tanggung jawab dari setiap kekalahan perang, maka tidak akan ada yang namanya jendral potensial. Apakah kita perlu saling menyalahkan sementara lawan kita mengelilingi ibukota?”
Para senator menggelengkan kepalanya tanda kalau mereka tidak setuju dengan tindakan semacam itu.

Jika tidak ada orang yang bisa dilimpahi kesalahan atas kehilangan, maka sudah seharusnya sang Raja mendapatkan hal semacam ini. Menyadari kalau sang Raja telah berhasil menghindari tanggung jawabnya dengan begitu mulus, Marquis Casel membunyikan lidahnya dalam perasaan tidak senang.

Lalu, sang Raja melanjutkan perkataannya.

“Ekspedisi ini terdiri dari prajurit veteran, penyihir bijak sekaligus kuat, dan para orc dan goblin buas yang sudah dipilih dengan begitu baik.

Dengan persiapan dan latihan yang cukup, ditambahi dengan komandan hebat, ini adalah formasi yang luar biasa.

Para jenderal mengambil posisi sebagai komandan, para centurion melakasanakan tugas dari seorang centurion dan para pemegang posisi lainnya juga telah melakukan peran mereka.

Mesekipun semuahal tersebut sudah terjadi, hanya perlu waktu tujuh hari.

Ini masihlah tujuh hari semenjak Gate dibuka. Menghitung dari hari di mana lawan melakukan seragangan balasan dengan sungguh-sungguh, hanya perlu waktu dua hari bagi pasukan Kerajaan hancur lebur.

Para prajurit antara mati atau menjadi tawanan. Mereka hanya bisa memperkirakaan kalau ada satu orang yang kembali hidup-hidup maka hal merepotkan akan terjadi bagi mereka.

Sekarang setelah Gate telah diambil alih oleh lawan, sudah tidak mungkin lagi untuk menutupnya dengan lawan yang mengelilinginya di sekitar bukit Arnus.

Untuk merebut kembali Gate, ribuan kavaleri diperintahkan untuk turun secara langsung. Tapi itu hanya menyebabkan kaki bukit Arnus dikotori oleh mayat para praurit dan kuda.”

“Apakah anda sadar dengan kekuatan senjata lawan? Senjata mereka mengeluarkan suara aneh macam Dor Dor Dor!!! Begitu para musuh di kejauhan bisa mendengar suara tersebut, mereka sudah terjatuh bersimbah darah yang membentuk kolam. Tak pernah diriku yang tua ini pernah melihat sihir dengan kekuatan sehabat itu sebelumnya!”

Godasen, seorang anggota senator sekaligus penyihir memberikan penjelasan akan bagaimana berjalannya pertempuran dengan lawan, dia melakukannya dengan begitu bersemangat.

Unit yang dipimpinnya terhempas bagiakan daun di tengah badai, tanpa bisa melewati kaki bukit. Ketika dia menyadarinya, keadaan sekitarnya begitu sunyi dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa bergerak. Satu-satunya hal yang bisa dilihatnya adalah tubuh dari para prajurit serta kuda mengotori tanah dengan darahnya.

Sambil memejamkan matanya sang Raja pun berujar: “Lawan telah memasuki tanah kita. Meski sekarang mereka hanya terlihat seperti sedang membangun benteng di sekitar Gate, pada suatu hari mereka akan melakukan sebuah invasi. Kita harus menghadapi lawan dari dunia lain yang berada di bukit Arnus bersama dengan para pengikut yang tak menyukai Kerajaan.”

“Mari kita menyatakan perang kepada mereka!”

Seorang ksatria botak, Marquis Podawan berdiri, membuat gestur penuh penghormatan kepada sang Raja dan memberikan ide untuk berperang.

“Kalau terpojok, cara terbaik untuk melawan adalah melawan balik dengan keberanian. Mari kita mengumpulkan prajurit-prajurit pemberani dari berbagai bagian Kerajaan dan melawan negara pengikut kita serta para pemberontak yang berani menghalagi jalan Kerajaan. Lalu, kita akan berbalik arah menuju orang-prang dari dunia lain di bukit Arnus. Untuk membuatnya lebih mudah, menyerang Gate!”

Para senator lainnya hanya bisa menaikan kedua bahunya pada saat mendengar pendapat keras dari Marquis Podawan, seolah mereka semua mengatakan ‘seandainya hal semacam itu mungkin maka kita tidak perlu melakukan hal merepotkan semacam ini’. Jika mereka mengumpulkan prajurit yang tersisa, pertahanan dan kedamaian di sekitar Kerajaan akan runtuh.

Dengan semua orang yang mulai memberikan pendapat mereka masing-masinf, aula tersebut segera menjadi begitu kacau.

Podawan membalas dengan perkataan yang mengejutkan dimana dia berkata kalau dengan membunuh para pemberontak dan menjadikan para wanita serta budak maka kota-kota akan ditinggalkan serta tak perlu memikirkan pemberontakan lainnya... Walau terlihat seperti pemikiran yang benar-benar tidak realistis untuk menangani masalah, tetapi pernah terjadi hal semacam itu di sejarah Kerajaan.

Pada masa-masa dimana Kerajaan masihlah negara kecil yang dikelilingi oleh musuh dari berbagai sisi, ketika mereka menginvasi negara musuh, Kerajaan akan memperbudak semua orang, mengahncurkan kota, membakar hutan dan menyebarkan garam di ladang untuk membuatnya tidak subur. Dengan membuat wilayah yang diinvasi tak bisa dihuni dengan menggunakan taktik bumi hangus, Kerajaan berhasil terhindarkan dari berbagai ancaman.

“Bahkan seandainya kita bisa melakukannya, bagaimana caranya kita bisa mengalahkan musuh di Arnus? Jika kita menggunakan kekerasan, bukankah Pertempuran Godasen akan terulang lagi?”

Seiring dengan semakin banyaknya suara di aula terdengar di telinganya, Podawan menggertakan giginya lalu menjawab.

“Argh... cukup merekrut semua prajurit dari negara pengikut tanpa memberitahukan alasannya. Dengan cara ini kita bisa mengumpulkan pasukan sampai ratusan ribu! Bahkan kalau mereka lemah, mereka masih bisa kita gunakan sebagai perisai hidup pada saat kita menyerang!”

“Akankah mereka menurutinya?”

“Kalau begitu atas alasan apa kita harus memberitahu mereka pada saat mengumpulakn pasukan? Berkata dengan jujur kalau kita kehilang separuh dari pasukan kita sendiri? Jika kita melakukan hal semacma itu kita hanya akan dipermalukan.”

Marquis Casel sedang sakit kepala dikarenakan mendengar pendapat tidak rasional serta tak berguna dari Marquis Podawan.

Perselisihan antara Faksi Perang dan Faksi Damai membuat seluruh aula dipenuhi oleh listrik statis hasil dari konflik yang semakin tumbuh di dalam diri mereka.

“Jadi apa yang sebaiknya kami lakukan, haaaah!?!?” “Dasar kalian pecinta perang!”
Para senator kehilangan ketenangan mereka dan sedang berada di ambang batas untuk saling berbicara menggunakan tangan mereka.

Waktu terbuang. Mereka yang masih memiliki pikiran tenang berusaha untuk memikirkan suatu rencana tapi sama sekali tidak bisa menghentikan perselisihan di aula.

Di tengah keadaan kacau ini, Raja Molt berdiri dari tahtanya.

Merasa kalau sang Raja akan memiliki sesuatu untuk dikatakan, argumen para senator terhenti.

“Meskipun terlihat agak sedikit kasar, perkataan Marquis Podawan amatlah menginspirasi.” Mendengar ucapan dari sang Raja, Podawan segere membungkuk dengan penuh hormat kepada sang Raja. Di depan sang Raja, para senator mulai tenang kembali dan mendengarkan apa yang akan dikatakan Raja mereka.

“Sekarang, masalahnya adalah apa yang kita lakukan? Apakah kita hanya akan menonton saja sambil melihat situasi menjadi lebih buruk? Itu adalah salah satu caranya, tapi aku tidak ingin hal semacam itu untuk terjadi. Jika tidak, satu-satunya pilihan terakhir kita adalah perang. Mari kita mengikuti usulan dari Marquis Podawan dan mengumpulkan pasukan dari semua negara pengikut. Kirimkan pesan untuk setiap negara dan permintaan bantuan dari para pemimpin untuk memukul mundur penyerbu dari dunia lain yang akan menduduki Benua Falmat. Sebuah pasukan Aliansi dari berbagai negara akan dibentuk lalu serangan kepada bukit Arnus akan dilancarkan.”

“Sebuah pasukan Aliansi?”

Perkataan dari sang Raja membuat para senator terlempar ke dalam kekacauan sekali lagi.

“Sekitar 200 tahun lalu, untuk mengusir sebuah suku yang terdiri dari para kavaleri dari utara yang berusaha untuk menguasai tanah Kerajaan, banyak negara bersatu untuk bertempur. Negara-negara ini adalah negara yang biasanya berperang antar satu sama lain bersatu di bawah satu bendera dengan alasan “sekolompok pasukan tak dikenal telah datang, tidak ada waktu untuk mempermasalahkan masa lalu.
Para Raja dan Ksatria yang sebelumnya adalah lawan, berdiri serta bertarung bersama melawan para pasukan penyerbu. Cerita ini telah diturunkan sebagai sebuah satu bab akan cerita dari para pahlawan yang terus dibicarakan secara turun menurun. “

“Jika anda berusaha untuk mengatakannya dari sudut pandang seperti itu, maka akan terlihat seperti suatu kelompok yang benar.” “Tapi, itu terasa seperti....”

Kekhawatiran para senator mulai tumbuh. Bukakah Kerajaan sendiri yang memulai invasi? Pihak Kerajaan telah memutar balikan peran dari kedua kelompok. Menutupi fakta kalau Kerajaan lah yang memulai penyerang, dan menyuruh para negara pengikut untuk mengirimkan pasukan di bawah alasan ‘memukul mundur para penyerbu dari dunia lain’. Ini begitu memalukan... Tentunya, tiada satu orang pun membuka mulutnya untuk menyuaraka pendapat mereka.

Hal semacam itu mungkin benar, Kerajaan hanya perlu memberitahu negara pengikut kalau ‘para penyerbu dari dunia lain tak akan berhenti setelah menguasai Kerajaan, tetapi setelah semua Benua Falmat dikuasai’, mereka mungkin akan mengirimkan pasukan.
Singkat kata, kebenarannya tidak dipermasalahkan, hanya cara dari bagaimana kau mengatakannya lah yang penting.

“Ya—Yang... Yang Mulia?!?! Bukankah itu berarti kaki dari bukit Arnus akan dipenuhi oleh mayat?!” Untuk menanggapi perkataan dari Marquis Casel, Raja Molt menjawab dengan keras.

“Aku menginginkan kemenangan, tetapi tiada yang namanya kemeanangan pasti dalam perang. Oleh karena itu, takdir dari pasukan Aliansi tak akan ada yang tahu. Akan sangat disayangkan seandainya hal semacam mereka dikalahkan terjadi. Jika hal semacam itu terjadi, maka Kerajaan akan memimpin sebuah pasukan koalisi untuk melawan para penyerbu dari dunia lain.”

Jika negara di sekitar mereka kehilangan kekuatan di saat yang bersamaan, pihak Kerajaan akan terus berada di posisi unggul.

“Ini adalah renncana diriku ini untuk menghadapi situasi di depan mata. Anda keberatan, Marquis Casel?”

Sang Raja telah membuat keputusannya.

Marquis Casel memandang yang Mulia dengan wajah kosong setelah memikirkan nasib dari pasukan Aliansi.

<<Bagian Sebelumnya | <Daftar Isi> | Bagian Selanjutnya>>

No comments:

DMCA.com Protection Status