Konjiki no Moji Tsukai (Light Novel Version) Prolog Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Konjiki no Moji Tsukai (Light Novel Version) Prolog Bahasa Indonesia

February 23, 2017 Ryuugamine Ikutsuki

Penerjemah: Lady D

Prologue

Setelah matahari terbenam dan suasana sekitar menjadi heing, suara dari api unggun yang sedang melahap kayu bakar mengelilingi daerah sekitarnya.

“Ahh, panaaas. Nah, sudah matang Muir.”

“Terima kasih banyak, Paman.”

Seorang pria bernama Arnold mengambil ikan bakar dari api unggun dan memberikannya kepada gadis yang sedang duduk di sebelahnya, gadis tersebut bernama Muir.

Muir meniup ikan yang panas dengan lembut dan mulai memenuhi mulutnya dengan sebuah gigitan dari ikan tersebut.

Arnold menatap ke arah anggota kelompok lainnya dengan tatapan penuh kebencian, dia menghela nafas dan berkata.

“Oi, berapa lama lagi kau akan terus membaca buku itu Hero? Aku akan memakan semuanya kalau kau tidak cepat ikut.” (Translator Note: Bagi kalian yang ingin protes akan mengapa Hiiro dipanggil sebagai Hero di sini maka aku akan mengatakan saja kepada kalian kalau nama miliknya ditulis dengan Katakana di sini.)

Sementara itu, orang yang sedang diajak bicara terduduk di bawah pohon, Okamura Hiiro menutup buku dengan pelan, memicingkan matanya dan melotot ke arah Arnold.

“Kalau kau berani...”

Hiiro menaikan jari telunjuknya ke arah Arnold dan ujung jarinya mulai mengeluarkan cahaya redup dengan warna biru dengan perasan putih. Arnold yang melihat hal ini menjadi panik.

“A-aku bercanda! Jangan arahkan hal semacam itu ke arahku.”

Melihat Arnold yang mengambil langkah untuk mundur dengan cepat, Hiiro menurunkan jarinya. Muir tersenyum tipis kepada Arnold yang sedang mengeluarkan helaan nafas tanda kalau dia merasa lega.

*srak srak*

Kelima indra mereka merasakan ada sesuatu di luar sana sedang mengawasi mereka.

“... ada sesuatu di sana.”

Pada saat Hiiro mengatakan pikirannya, kedua orang lainnya menganggukan kepalanya di saat yang bersamaan. Arnold dengan lembut mengelus punggung Muir.

“Muir, mundurlah.”

“Ba-baik.”

Dengan suara yang keras, sebuah bayangan besar muncul dari balik rerumputan tinggi.

“Ini adalah...”

Setelah memastikan penampilan dari lawan yang disinari oleh cahaya rembulan; Hiiro meleatakan tangannya ke dagunya dan bergumam kepada dirinya untuk berusaha mengingat sesuatu. Sementara dia melakukan hal semacam itu, Arnold meyeringai.

“Ooh, tidak kah ini mengingatkanku dengan masa lalu? Ini adalah seekor Barbarous Bear. Ngomong-ngomong, kalau tidak salah pas kita bertemu pertama kali Hero kita juga menghadapi monser ini bersama, hah.”

“Benarkah?”

Tidak hanya satu, tetapi ada dua Barbarous Bear yang muncul.

“Ba~iklah Hero, serahkan satu yang baru saja muncul itu kepadaku.”

Arnold menarik pedang besar atau Great Sword miliknya dan menggenggamnya di sekitar daerah pusat tubuhnya sambil tidak mempedulikan Hiiro yang sedang berbicara di belakangnya. Tentunya, Arnold telah berpikir kalau Hiiro baru saja mengatakan “Tentunya” tetapi...

“Aku menolak. Aku sedang kelaparan sekarang. Dengan jumlah dua ekor saja, tidak kah kau bisa menghadapi mereka senderian, Pak Tua?”

“Oi! Dasar brengsek!”

Lalu, salah satu Barbarous Bear melemparkan batu ke arah Arnold.

“Urghh!”

Dengan cepat dia menghindarinya dan menarik nafas dengan keras.

“Wah, itu tadi berbahaya...”

“Berhati-hatilah, Pak Tua. *nyam nyam*.”

“Apa yang sedang kau makan?! Kau benar-benar sulit untuk dipercaya, dasar brengsek!”

Hiiro terus melahap ikan bakar tanpa mempedulikan pertarungan yang terjadi di dekatnya. Melihat Hiiro yang bertingkah seenaknya, Arnold merasakan sambaran syok. Hiiro melirik sebentar ke arah Arnold lalu berkata,

“Hmm. Apakah sudah selesai?”

“Masih belum lah! Ayo bantu!”

“Paman! Di belakangmu!”

“Eh, uuups?!”

Sekali lagi, Barbarous Bear melemparkan batu ke arah Arnold tetapi karena teriakan Muir, dia berhasil menghindarinya dengan selamat. Lalu, Arnold menaikan jari telunjuknya ke arah Hiiro.

“Dengar ya Hero! Pada mulanya, ikan itu adalah hasil tangkapanku! Kalau kau ingin memakannya maka bertarung! Oh dan apakah aku lupa mengatakan kalau ini tapi daging dari Barbrous Bear terasa sangat enak!”

Setelah mendengar kata-kata itu, Hiiro berhenti makan, dia berdiri dengan tenang dan mulai berjalan ke arah Arnold.

“Kau seharusnya memberitahuku lebih awal kalau mereka memiliki daging yang enak.”

Melihat kilauan di mata milik Hiiro, Arnold menurunkan kedua bahunya dan menghela nafasnya.

“…Argh, cukup. Cepat bunuh mahluk itu.”

“U-um Paman, berjuanglah.”

“Aah, Muir memang sangatlah imut. Baiklah, aku merasa bersemangat! Pergilah ke sana dan janganlah bergerak.”

“Ba-baik.”

Muir kemudian memandang ke arah Hiiro dengan wajah agak merona.

“U-um Hero-san juga... um... tolong berhati-hatilah. Tolong jangan sampai terluka... ya?”

“Tentu saja. Sekarang awasi ikanku dan jangan biarkan mereka menjadi kotor, Chibi.” (Translator Note: Chibi di sini dimaksudkan untuk memanggil Muir yang memiliki tubuh kecil.)

“Um, baiklah!”

Melihat Muir tersenyum dengan begitu senang, Arnold menatap Hiiro dengan pandangan tak mengenakan.

“Oi. Aku merasa kalau tingkah Muir kepadamu dan aku menjadi berbeda.”

“Itu hanyalah perasaanmu belaka.”

“Tidak. Aku yakin dengan hal ini! Pada mulanya, Muir adalah anakku, aku tidak akan pernah rela untuk memberikanya kepada...”

“Mereka datang, Pak Tua payah.”

Monster mulai bermunculan dan menyebabkan perkataan Arnold terhenti.

“Urgh cukup! Baca situasinya dasar kalian semua mahluk bodoh!”

Arnold menghentakan tanah mengguakan kedua kakinya lalu melayang di atas langit, mengangkat Greatsword miliknya dan menebas musuhnya dari atas ke bawah dengan seluruh kekuatannya. *jrash* pedang tersebut menemukan sasarannya dan memotong lawannya.

“Baiklah! Sekarang... eeeeh?!?!”

Arnold melihat kalau ada tiga ekor beruang lagi muncul dari belakang dan berteriak dengan penuh keterkejutan.

“H-hei Hero…”

“Aah, merepotkan. Aku rasa tidak ada pilihan lain. Minggir, Pak Tua.”

Hiiro melotot ke arah empat monster yang mengerubungi dirinya dari depan dan seperti apa yang sebelumnya dia lakukan ke Arnold, menaikan jari telunjuknya ke arah para monster.

Ketika sebuah cahaya berwarna biru dengan perasan putih mulai muncul dari ujung jarinya, Hiiro mulai menggerakan jarinya.

Jarinya bergerak seolah dia sedang menulis sesuatu di udara, huruf tersebut terbentuk oleh cahaya biru keputihan yang meninggalkan bekas tipis. Setelah dia selesai, terdapat sebuah huruf kanji melayang di atas udara.

『LEDAKAN (爆)』

Itu tadi adalah sebuah huruf yang tertulis dalam bahasa Jepang.

“Meledaklah 《Word Magic》”

Kata-kata tersebut seolah menjadi pemicu dan huruf tersebut segera melayang ke arah para monster layaknya sebuah peluru.

*Duaaaar*

Setelah huruf kanji tersebut menyentuh tubuh salah satu monster, sebuah ledakan besar terjadi.

Monster yang ada di sekelilingnya juga ditelan oleh ledakan tersebut.

“Mmm, sihirmu masihlah aneh seperti biasanya.”

Arnold datang lalu memastikan kalau ledakan tadi sudah membumi hanguskan monster-monster tadi. Melihat hasil akhirnya, pipinya berkedut di saat yang bersamaan dengan dirinya mulai membayangkan akan bagaimana jadinya jika sihir Hiiro sebelumnya terarahkan kepada dirinya.

“Y-yah semuanya sekarang telah menjadi aman. Mari kita duduk dan makan kembali.”

“Cepatlah dan segera persiapkan daging itu, Lolicon.” (Translator Note: Lolicon adalah cara orang Jepang untuk memanggil Pedofil)

“Siapa yang Lolicon? Siapa...!”

Sementara Arnold mulai menggeram, Muir menggembungkan pipinya dan dengan suara keras dia berkata.

“Ka-kalian tidak boleh berkelahi! He—Hero-san juga!”

“Hmph…”

“Ah, Muir yang marah juga imut.”

Hiiro melihat ke arah Arnold, dia yang sedang dinasehati sambil memasang wajah penuh akan kesenangan.

‘Dia pasti adalah seorang Lolicon.’

Jemari milik Muir terlihat bergerak dengan gelisah seiringan dengan dirinya yang mulai mendekati Hiiro.

“U-um Hero-san?”

“Ya? Apa?”

“A-apakah... itu luka...?”

“Tak usah memikirkannya. Aku tidak akan dikalahkan oleh monster rendahan semacam itu, kan?”

“Me-memang benar, hehehe, seperti yang sudah bisa diharapakan... dari Hero-san.”

“Pokoknya, mari kita lanjutkan acara makan kita.”

“Oh. Aku akan segera menyiapkannya! Aku ingin mencoba membuat saus yang akhir-akhir ini diajarkan oleh Paman! Tolong memakannya bersama dengan ikan!”

“Oh, Aku tidak sabar.”

Melihat wajah Hiiro yang kembali menunjukan perasaan kesenangan, Muir segera berjalan ke arah tempat dimana mereka meletakan tas milik mereka.

Tiba-tiba, Hiiro melihat ke arah langit malam dan memandang kumpulan bintang yang melayang di atas sana, terlihat bisa terjatuh kapan saja.

‘Kalau diingat-ingat lagi, sudah cukup lama aku tiba di dunia ini. Sampai sekarang, aku masih belum bisa terlalu mempercayainya... kalau aku ini dipanggil ke sebuah dunia lain. Ditambah lagi, aku entah bagaimana ceritanya ikut terpanggil bersama dengan para pahlawan panggilan. Aku ingin tahu kenapa semua ini terjadi begitu saja.’

Sambil menikmati bau dari daging bakar Hiiro mengingat saat dimana dia dipanggil pertama kali di dunia lain ini,《Edea》.

No comments:

DMCA.com Protection Status