NEET dakedo Hello Work ni Ittara Isekai ni Tsuretekareta Chapter 8 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

NEET dakedo Hello Work ni Ittara Isekai ni Tsuretekareta Chapter 8 Bahasa Indonesia

February 11, 2017 Exicore


Translator: Beo Novel
Editor: Ise-kun
Chapter 8: Hari Yang Membosankan Bagi Yamano Masaru
Pagi hari di penginapan, anak perempuannya pemilik penginapan membangunkanku saat sarapan telah siap dimasak. Dia imut. Dia berumur sekitaran anak-anak SMA, rambutnya diikat kuncir kuda dan rajin membantu sambil selalu menebar senyumannya. Itulah yang membuat aku jadi semangat untuk bangun tidur. Untuk sarapan, aku menuju ke ruang makan, dan sudah ramai di sana. Karena enak dan murah, tidak hanya orang-orang yang tinggal di penginapan saja, tapi banyak adventurer yang datang untuk makan di sini. Tapi, mereka semua yang datang adalah laki-laki. Mereka makan juga, kebanyakan dari adventurer sialan ini datang untuk melihat anak perempuannya pemilik penginapan.

Tentu saja dia itu imut, tapi yang lebih penting adalah aku sudah ada di sini paling awal. Aku mencoba untuk memesan, tapi aku kehilangan kendali atas diriku saat itu. Dia pergi setelah mengambil pesananku dengan anggunnya, dan dari segala arah tatapan haus darah datang berterbangan. Orang-orang di meja sebelah mulai memegang senjatanya. Gertakan ini tiba-tiba berhenti saat pesanan telah tiba. Seperti itu lah ancaman yang kurasakan di awal-awal. Kemudian hari, mereka tampaknya telah menurunkan penjagaannya saat aku mulai memesan lewat si ibu penginapan dan mengabaikan anaknya. Makanan di penginapan ini murah dan enak. Aku telah melihat-lihat penginapan lain, tapi semuanya lebih mahal dibandingkan di sini, atau kalau pun ada yang harganya sama, kondisinya kurang bersih.

Rutinitas sehari-hariku adalah mengamati para adventurer yang memandangi si anak perempuan itu. Para adventurer ini orangnya kasar, cukup lucu melihat konflik mereka. Saat ini, tidak ada satu pun yang bisa mendekati si anak perempuan dengan efektif. Oleh karena itu, tampaknya mereka jadi waspada kepada pelanggan baru sepertiku. Dilihat sekilas umurku nampak sama dengan anak perempuan itu. Itu saja sudah terlihat sebagai sebuah keuntungan. Meskipun aku sama sekali tidak tertarik untuk berpartisipasi di ‘perang’ itu.

Setelah selesai sarapan, sambil bersantai ria memikirkan rencana hari ria, si ibu penginapan menghampiriku.

“Masaru-chan, kamu tidak cepat seperti biasanya hari ini?”

Para adventurer itu sudah meninggalkan tempat ini, hanya beberapa saja yang tinggal. Kebanyakan mereka adalah adventurer kelas rendah yang biasa berkumpul di penginapan murah. Kalau kau tidak bekerja dengan sungguh-sungguh, kau tidak akan sanggup untuk tinggal di penginapan ini.

“Penghasilanku kemarin agak lumayan, jadi aku berencana untuk istirahat hari ini.”

Kantongku penuh dengan hasil penjual orc dan kelinci liar. Aku tidak perlu memaksakan diriku untuk bekerja.

“Lihat ini! Aku sudah rank E.”

Aku mengatakan itu sambil menunjukkan kartu guildku.

“Kamu berhasil menaikkan rank-mu? luar biasa!”

Si ibu penginapan seperti orang tua yang memikirkan anaknya, aku dianggap seperti anaknya.

“Gini-gini aku lumayan kuat lho.”

Aku telah berlatih dengan tekun di pelatihan pemula. Stamina dan skill Fencing-ku sudah meningkat, aku bisa menang 1vs2 melawan teman seperjuangan di pelatihan pemula dan aku juga menang mudah melawan 5 orc.

“Benarkah? Tapi aku diberitahu kalau orang yang baru saja naik rangking berbahaya. Jadi harap berhati-hatilah.”

Dengan patuh aku menjawab “iya”. Tak perlu diberitahu pun, aku tidak ada niat untuk mendekati sesuatu yang berbahaya.

“Oooh, kelinci liar sudah naik rank?”

Sepertinya percakapanku dengan si ibu penginapan kedengaran sama yang lain. Salah satu adventurer yang masih tinggal bertanya kepadaku.

“Iya.”

Tentu saja semua orang yang ada di sini sudah tahu rumor tentangku. Mereka terus saja memanggilku kelinci liar, kelinci liar, tanpa tahu nama asliku.

“Kau sendirian kan? Kami akan memperbolehkanmu bergabung dengan kami, gimana?”

Sikapnya itu…..merendahkan. Sambil berpikir bagaimana menolaknya, orang lain datang.

“Apa? Kau mencari party, kelinci liar? Gabung dengan kami. Rank kami lebih tinggi daripada orang ini.”

“Di party-mu tidak ada yang lebih dari rank D! Kalau mau datang kemari.”

“Dengan orang-orang ini, tak peduli berapa banyak nyawa yang kau punya, tak akan cukup untuk mereka. Kalau kau mau gabung, gabunglah dengan kami.”

“Apa kau bilang?!”

“Tidak, yah……”

Dengan mengabaikanku, tampaknya mereka mulai bertengkar. Penampilan mereka yang mengerikan, selain perilakunya yang kasar, orang-orang ini benar-benar menyebalkan.

“Cukup! Kalian mengganggu Masaru-chan.”

“Tidak, yah, kami tidak memaksanya untuk bergabung kan?”

“Iya.”

Akan tetapi, berkat ibu pemilik, para adventurer itu pun bubar.

“Aku minta maaf, dan terima kasih telah menolongku.”

“Tadi itu memang masalah ya? Tapi orang-orang itu tidak begitu buruk.”

“Begitukan?”

“Meskipun penampilannya seperti itu, mereka bertindak dengan hati-hati, jarang-jarang mereka keluar dengan keadaan terluka.”

Tapi itu tidak baik. Jika dilakukan dengan aman, akan lebih baik, tapi kuharap aku bisa mendapatkan banyak pengalaman lagi, tapi aku khawatir aku tidak bisa bergerak dengan bebas.

“Aku baru saja menjadi adventurer, kan? Kurasa lebih baik kalau memikirkan itu pelan-pelan.”

“Itu benar, tidak perlu buru-buru.”

Ya, lebih baik melakukannya perlahan. Aku di sini baru 2 minggu.

“Sudah waktunya untuk pergi. Aku akan kembali saat makan malam.”

“Hati-hati.”

Kalau aku tinggal lebih lama, mungkin aku akan terlibat dengan orang-orang itu lagi. Meskipun tidak ada tempat khusus yang mau ku datangi, jadi tentunya mari pergi ke adventurer guild.

Saat tiba di guild, aku melihat misi-misi yang ditempel di ruang utama. Pengawalan, mengumpulkan bahan mentah, memanen tanaman obat. Ada juga perekrutan kerja paruh waktu di lokasi konstruksi dan restoran. Yang terkait dengan misi penaklukan, daftar-daftar monster ditempel bersama, biasanya cukup dengan memburunya kau bisa mendapatkan hadiah. Tampaknya tidak ada misi yang bagus. Hadih untuk pengawalan lumayan sih, tapi durasi kerjanya lama. Bahan mentah dan tanaman obat harganya dibatasi oleh rank. Hadiah yang diterima untuk rank E cukup buruk, aku pun tidak pernah melihat tanamannya dan tidak tahu dimana menemukannya. Melamar untuk kerja paruh waktu tidak masuk dalam pilihanku. Hadiah dari berburu kelinci liar masih lebih baik.

“Bukankah ini si Kelinci Liar? Apa kau sedang melihat-lihat misi?”

“Ya begitulah.”

Seseorang di sampingku berbicara kepadaku. Adventurer itu mengenaliku, tapi aku tidak mengenalinya. Aku telah menghilangkan keberadaanku, jadi seharusnya tidak ada yang menyadariku, tapi seperti yang diharapkan, aku bisa tidak menyembunyikannya dari orang di sebelahku ini.

“Apa kau sendirian? Kami akan memperbolehkanmu bergabung dengan misi kami.”

Sekali lagi, aku diundang party dengan sikap merendahkanku seperti itu. Ya memang sih aku adventurer baru, tapi kenapa semua orang bertindak seakan-akan mereka penting? Kenapa? Apa aku sepopuler ini? Apa mereka perlu kemampuan berburu kelinci liarku?

“Tentu saja itu luar biasa, tapi itu cuman berburu kelinci.”

Saat kutanya, dia menyangkalnya.

“Aku tidak tahu apa maksudmu.”

“Itu, Item boxmu. Punyamu luar biasa besar.”

Bukan aku yang populer, tapi apa yang kupunya.. Umm, membosankan kalau aku punya sesuatu untuk kukatakan pada diriku sendiri.

“Tidak apa-apa kalau kau berada di belakang.”

Oh begitu, para adventurer di penginapan mengincar ini toh?

Untuk memastikannya, aku bertanya berapa bayarannya.

“Aku menangkap 35 ekor kelinci liar kemarin. Apa kau tau berapa banyak bayarannya?”

“…..Unh, umm.”

25 gold x 35 ekor kelinci =875 gold. Si adventurer mungkin menghitung di kepalanya. Dan kemudian menunjukkan wajah muramnya.

“Ya begitu lah.”

Aku segera pergi dan meninggalkan adventurer itu sendirian. Entah kenapa aku merasa adventurer lain memperhatikanku. Tidak masalah kalau hanya imajinasiku, tapi akan sangat mengganggu kalau aku ditahan di sini, jadi aku keluar dari guild. Mereka pikir itu hanya sekedar berburu kelinci, dan mereka akan memberikan penawaran yang lebih sedikit, mereka pikir aku bodoh? Umm, haruskah aku pergi berburu kelinci liar lagi hari ini?

Aku menyiapkan equipmentku, keluar dari pintu gerbang dan menuju ke padang rumput. Aku menuju padang rumput lewat jalan utama. Ada beberapa lokasi di dekat kota, dengan menggunakan Presence Detection, aku bisa menemukan kelinci liar.

“Dapat satu…..”

Aku mendekatinya dengan Stealth dan Ninja Walk, dengan ringan melempar pisau dan membunuh kelinci itu. Hewan yang dulunya berbahaya, sekarang hanyalah hewan lemah. Setelah mengalahkan yang ke 10, aku beristirahat. Ini 250 gold, sekitar 25000 Yen Jepang. Kalau untuk mendapatkan uang, cukup sih, tapi yang jadi masalah adalah aku tidak lagi mendapatkan experience point dari kelinci liar! Aku yakin telah banyak yang kukalahkan, tapi hanya dengan kelinci liar, aku belum juga naik level, apa experience pointnya kecil sekali? Aku masih belum yakin tentang itu, yang pasti dari kelinci hidupku berkecukupan. Di sisi lain, hutan kedengarannya cukup mengerikan. Semua orang bilang itu berbahaya. Aku diserang oleh para orc dari  segala arah, kalau itu terjadi pada adventurer baru biasa, aku yakin dia akan mati. Aku melihat sekilas ke hutan. Baiklah, sudah cukup untuk hari ini.

“Berapa banyak yang kau tangkap hari ini? 10? Kelinci liar juga menyerang perkebunan. Pastikan untuk berburu mereka di sana.”

Prajurit penjaga gerbang mengatakan itu, jadi di sana perkebunan?
Setelah memastikan tentang itu, ternyata perkebunan ada di luar gerbang, di sisi yang berlawanan dan tampaknya cukup luas. Aku terkejut karena aku tidak tahu tentang hal itu. Aku tidak ada urusan dengan sisi lain kota ini, jadi tidak perlu kubantu!

Akan tetapi, aku mendapat info bagus tentang kelinci liar. Kupikir dia akan memarahiku karena terlalu banyak memburu kelinci liar, tapi dengan ini, aku bisa tetap berburu tanpa harus menahan diri.

“Aku akan ke sana lain waktu.”

“Seperti yang diharapkan dari Kelinci liar, kau bisa diandalkan.”

Bisakah kau berhenti memanggilku kelinci liar?

“Mau ini?”

Tiba-tiba aku mendapatkan ide, aku mengambil satu ekor kelinci. Sebagai bentuk terimakasih karena telah mendapatkan info yang tidak penting ini.

“Apa tidak apa-apa?”

“Aku bisa menangkapnya kapan saja kan?”

Satu atau dua kelinci tidak masalah.

“Itu benar, terimakasih. Kita akan berpesta hari ini.”

Penjaga gerbang lain mulai mengerubungi kami. Tampaknya mereka punya waktu luang saat lalu lintas sedang berhenti.

“Enaknya, jadi iri! Tidak adil kalau cuma kau yang dapat!” kata beberapa prajurit kekar saat melihat kami.

“Hei, silakan ambil ini.”

Aku mengeluarkan kelinci dan memberikan satu kepada masing-masing prajurit. Totalnya 5 ekor kelinci. Sekarang terlihat seperti mereka sedang memerasku, tapi kemudian aku mengubah pendapatku sambil memberikannya, tidak masalah, dan aku merasa senang. Lagipula nampaknya gaji para prajurit sangatlah rendah.

Aku tidak masuk ke kota dan pergi untuk melihat perkebunan.

Saat ini masing tengah hari, kalau aku kembali sekarang, tidak ada hal lain yang kulakukan. Aku diberitahu kalau perkebunan yang ada di selatan lumayan luas, jadi aku menuju ke sana. Aku berjalan, tapi tidak terlalu cepat, sepanjang tembok kota yang tinggi dan melihat perkebunan. Tembok setinggi satu meter membentang tegak lurus pada tembok kota. Untuk perlindungan terhadap kelinci, harusnya ini cukup.

Sebagian dari perkebunan harusnya tumbuh subur dengan tanaman, tapi yang kulihat saat ini hanya tanah kosong yang tidak di tanami. Karena ada bekas dibajak, apa ini sedang dipersiapkan untuk ditanam? Aku berjalan untuk melihat lebih dekat. Terlihat seperti masuk tanpa izin, tapi mau gimana lagi, tidak ada jalan lain. Dari kejauhan, beberapa orang terlihat sedang bekerja dan salah satunya menyadari kehadiranku. Aku melambaikan tangan, sebagai tanda kalau aku bukan orang yang mencurigakan, dan mereka tampak tidak tertarik, mereka lanjut bekerja. Tidak ingin menganggu, aku berjalan menyusuri tembok. Di salah satu tempat terdapat tumpukan kompos. Baunya sangat mengerikan. Aku tidak tahu pasti itu terbuat dari apa, dan aku tidak ingin tahu, tapi kelihatannya itu sudah cukup maju di bidang fermentasi.

Aku terus berjalan dan jalan utama bisa terlihat. Wajar saja kalau ada orang yang tidak tahu kalau ada perkebunan di sini, karena perkebunan terletak agak jauh di sebelah barat jalan utama. Ada gerbang di situ, tentu aja ada prajurit yang sedang melakukan pemeriksaan, tapi sekarang aku berjalan menuju arah luar kota. Jalan utama mengarah ke timur dan membutuhkan sekitar 5 hari bagi kereta kuda untuk sampai ke ibukota kerajaan. Aku sempat berpikir akan ke ibukota kerajaan, tapi hari ini aku akan menuju ke sungai. Dengar-dengar ada sungai yang mengalir di dekat kota dan jembatan yang indah membentang di atasnya.

Aku tidak melihat jembatannya, tapi dengan segera aku bisa melihat sungainya. Itu adalah sungai kecil. Aku tahu kalau di sekitar situ akan ada jembatan kecil. sambil berpikir “ini yang katanya jembatan indah?”, terus berjalan lebih jauh, aku melihat aliran sungai yang lebih besar. Tidak terlalu besar, tapi memiliki lebar 100 meter dengan arus yang cukup tenang. Sungai kecil yang sebelumnya digunakan untuk mengairi perkebunan. Aku bisa melihat 2 roda air di saluran air. Jembatan batu yang kokoh mulai terlihat.

Aku melihat seseorang sedang memancing di tengah jembatan. Mengenakan leather armor dan membawa pedang dan busur, benar-benar style dunia lain banget. Aku mendekati pemancing itu, seorang kakek berambut putih. Fisiknya terlihat masih kuat dan berpengalaman serta menggunakan equipment lengkap. Apakah dia pensiunan adventurer?

“Apa kau bisa menangkap sesuatu?”

“Cuma begitu-begitu saja. Apa kau tertarik dalam memancing?”

“Iya.”

Sebenarnya aku sendiri tidak tertarik untuk memancing. Soal memancing, pengalamanku hanya sekedar memancing di kolam ikan saat masih kecil. Aku lebih tertarik dengan ikan hasil pancingan.

“Apa yang kau pancing?”

“Ini.”

Kakek pemancing itu menunjukkan ember kayunya. Di dalamnya ada dua ekor ikan aneh. Panjangnya sekitar 30 cm. Apa ini? Kayaknya aku pernah lihat.

“Dari luar memang jelek, tapi rasanya enak.”

Aku ingat. Ada ikan di laut dalam yang seperti ini. Kepala dan mulutnya besar. Dilihat baik-baik, gigi-giginya juga tajam.

“Da-dapat satu lagi.”

Saat sedang melihat ikan-ikan di ember, umpan si kakek berhasil kena. Saat sedang membayangkan apa yang akan dia lakukan dengan pancingan tanpa gulungan, dia mengangkatnya dengan sekali tarik sambil berteriak “heave-ho!”. Ikan terlempar di sebelahku dan berguling kesana-kemari.

“Menjauh darinya. Dia bisa menggigit satu atau dua musuh dengan mudah.”

Dengan refleks aku berpindah. Kakek pemancing mengambil pisau dan dengan terampil menusuk ikan tersebut.

“Apa ada banyak ikan seperti ini di sungai?”

“Benar, lebih baik kalau kau tidak mendekati sungai.”

Pagar pembatasnya hanya setinggi pinggang. Seseorang bisa jatuh dengan mudah kalau tidak stabil ataupun dikejutkan.

“Kalau jatuh?”

“Kalau beruntung, kau hanya akan mendapatkan satu-dua gigitan sebelum mencapai tepi sungai.”

Seremnya, sungai ini benar-benar menakutkan! Aku pasti tidak akan mendekatinya. Meskipun dekat dengan kota, jadi ini alasan kenapa aku tidak melihat satu kapal pun? Dan tentu saja tidak ada orang lain di sini kecuali si kakek pemancing ini.

Ketika aku mendengar ceritanya, aku jadi mengerti kenapa memancing tidak populer di kota ini. Di luar kota memang berbahaya, tapi menangkap ikan juga sama bahayanya. Pancingan biasa bisa rusak kena gigitannya, jadi butuh modal yang tidak sedikit. Belum tentu harga ikannya sesuai dengan tingkat kesulitan saat memancingnya. Tapi walaupun ini di luar kota, sepertinya tempat ini cukup aman dan tidak berbahaya kecuali ikan yang ada di sini. Tidak masalah selama kau tidak kehilangan pancinganmu. Itulah semua yang dijelaskan oleh si kakek pemancing ini.

“Kenapa kau tidak mencobanya?”

“Aku sedang menahan diri.”

Ini bukan memancing seperti yang biasa kutahu. Memancing itu sesuatu yang dilakukan dengan santai, kan?

“Begitukah? Kalau kau berubah pikiran, aku bisa datang kemari kapan saja. Aku akan mengajarimu cara memancing yang baik.”

Aku menolak tawarannya itu.

Aku mengucapkan selamat tinggal kepada kakek itu dan kembali ke kota. Sekarang sudah waktunya untuk makan siang, aku mulai lapar. Kakek itu membawa kotak bekal makan siangnya, jadi dia mungkin akan lanjut memancing hingga sore hari. Tidak terlalu buruk saat memikirkan tentang prospek memancing di masa tua nanti, tapi yang menjadi lawan adalah ikan mematikan! Dunia ini menakutkan.

Aku pergi melewati gerbang yang tidak penting ini. Mereka memeriksa kartuku dan selesai. Mereka di sini tidak kenal denganku, senang rasanya tidak dipanggil kelinci liar kelinci liar. Ini pertama kalinya aku berada di sisi kanan kota, karena sebelumnya aku tidak ada urusan di sini. Secara keseluruhan di sini tidak jauh berbeda dengan sisi lainnya. Banyak toko, kios-kios pinggir jalan, dan orang-orang yang terlihat sibuk atau orang-orang sepertiku yang hanya keluar untuk bersantai

Nah sekarang, apa yang akan kumakan?

Makanan di sini tidak buruk. Hanya saja tidak ada nasi atau kecap, yang ada roti, pasta, dan beberapa jenis bumbu. Adakalanya aku melihat bahan-bahan makanan yang tidak biasa, tidak jadi masalah kalau kau pura-pura tidak mengetahui apa yang kau makan. Sayurannya juga OK. Sayuran di sini banyak yang terlihat seperti sayuran di Jepang, walau tidak terlalu yakin sih, tapi ya sayuran tetaplah sayuran.

Daging! Itu yang jadi masalah. Yang pertama kali kumakan setelah sampai di dunia ini adalah daging kelinci liar, tapi di kota ini yang paling banyak beredar adalah daging orc. Tidak ada daging sapi atau babi. Selain daging, berbagai jenis daging lainnya juga muncul. Setelah mendengar nama-namanya, aku tidak peduli lagi. Orang-orang di sini makan seperti biasa dan rasanya juga biasa. Aku tidak memiliki masalah dengan pencernaan selama di sini, jadi aku tidak mengkhawatirkannya. Aku tidak bisa hidup kalau aku tidak makan.

Tapi serangga! Tidak, aku tidak bisa! Serangga bukan daging.
Walaupun mereka lezat, tapi melihat serangga besar yang dipotong dan kemudian direbus atau digoreng, aku masih tetap tidak sanggup. Untung jumlahnya tidak terlalu banyak, jadi mudah untuk dihindari. Kelihatannya di dunia ini ada orang miskin juga, dan mereka tidak menolak untuk makan serangga.

Aku menemukan kios dengan aroma yang enak dan membeli semangkuk sup. Daging dan sayur, mungkin ada gandum juga, dimasak sekaligus. Aku membawa mangkukku sendiri. Harga supnya 3 koin copper, dengan porsi yang cukup untuk mengisi perutku.

Aku duduk di pojokan alun-alun kota, menikmati sup sambil melihat orang-orang yang berlalu-lalang. Ras-ras yang ada di sini benar-benar bervariasi. Kebanyakan adalah manusia biasa, tapi warnanya pun bermacam-macam, dari putih sampai hitam. Aku melihat minoritas seperti demi-human berekor dan bertelinga kucing atau orang-orang mirip dwarf yang pendek dan gemuk. Katanya ada elf juga, tapi aku tidak pernah melihatnya. Elf merupakan salah satu inti dari dunia fantasy, aku yakin akan melihatnya suatu hari nanti.

Di sisi lain dari alun-alun, walaupun tidak terdengar sampai kemari, ada penyanyi yang sedang bernyanyi sambil memainkan alat musik mirip gitar. Kalau kupikir-pikir soal budayanya, dibandignkan dengan abad pertengahan eropa, tapi aku merasa lebih mirip seperti romawi kuno. Bangunan dan jembatan yang megah. Aku sudah berpikir tentang menghasilkan uang dari pengetahuan modernku, tapi itu tidak akan bisa dilakukan dengan mudah.

Pertama-tama, aku seorang NEET, apa yang bisa kulakukan dan apa yang kutahu benar-benar tidak penting. Aku hanya punya ilmu pengetahuan tingkat lulusan SMA, dan ilmu tentang anime, manga, dan novel. Akan lebih berguna kalau aku bisa membuat senjata api atau meriam, tapi aku tidak ingat bagaimana cara membuat mesiu.

Meskipun dari novel yang kubaca, mesiu telah ada sejak periode sengoku, sejauh yang kuingat itu dibuat dengan jerami. Lebih dari itu aku tidak tahu sama sekali. Selain itu, aku tidak tahu struktur dari senjata api, akan sulit untuk menjelaskan seluk beluk senjata api jadul seperti matchlock. Masukkan bubuk mesiu dan peluru ke dalam laras senjata, kemudian nyalakan sumbunya. Begitu kan caranya? Apa sumbunya dimasukkan ke dalam lubang kecil? Kalau ada lubang kecil, bukankah tekanan di dalam akan keluar saat mesiu meledak?

Mustahil dengan rute membuat senjata api. Aku telah melihat-lihat toko senjata, tapi semuanya rumit dan terbuat dari bahan yang bagus. Seperti yang kuduga, aku tidak menemukan katana di sini, tapi dari awal aku pun tidak tahu cara membuatnya. Sesuatu seperti armor logam juga bukan sesuatu yang bisa dibuat oleh orang amatiran.

Soal kesehatan aku juga kurang tahu. Obat-obatan atau perawatan medis adalah hal yang benar-benar tidak kupedulikan. Hal terbaik yang kutahu hanyalah mencuci tangan, menggosok gigi atau mengenai gemuk dapat meningkatkan resiko diabetes. Itu lah yang kutahu.

Dulu aku pernah punya pengalaman yang sangat terbatas di bidang pertanian. Aku pernah memegang cangkul dan membuat kompos. Untuk rute ini, menurutku tidak baik juga. Walaupun aku bukan dari kota besar, tapi aku tumbuh di daerah yang sudah lumayan berkembang dan pertanian bukan sesuatu yang biasa aku lakukan. Paling-paling aku hanya menonton acara TV tentang pertanian setiap hari minggu. Mungkin ada pengetahuan berguna tentang pertanian yang kuingat, tapi kalau aku pergi ke tempat para petani, apa yang akan terjadi?

“Apa kau punya pengetahuan tentang pertanian?

"Dari mana kau mempelajarinya?”

“Aku melihatnya di TV.”

“Apa?”

“Secara praktek aku tidak punya, tapi aku melihat acara TV itu setiap minggu.”

“Acara TV…..?”

“Ya, mereka menanam padi dan membangun rumah kaca.”

“Kau tidak punya pengalaman, kan?”

“Tidak.”

“GET OUT!”

Ummu, Itu tidak akan berhasil.

Dunia hiburan kurang baik. Anime, novel dan dialog di manga, yang dituangkan dalam sebuah buku, mungkin bisa dijual dan menguntungkan. Kalau aku membuat sesuatu seperti permainan kartu atau papan, mungkin bisa dijual juga. Apa yang akan terjadi kalau aku menyebarkan hiburan ke dunia yang akan hancur 20 tahun lagi ini. Contoh jika raja iblis menyerang dan para penduduk kecanduan main mahjong, mereka akan mudah untuk dimusnahkan. Mengerikan. Kehancuran dunia ini menjadi salahku. Kalau ada ilmu pengetahuan yang menguntungkan, akan langsung kupraktekkan, untuk kepentingan membangun dunia ini. Tapi kalau kupikir-pikir lagi, aku benar-benar tidak punya pengetahuan yang bisa dipraktekkan.

Tiba-tiba aku tersadar. Bagaimana jadinya kalau aku tidak menerima cheat skill?.

Pertama, aku akan tersiksa sampai mati melawan kelinci liar. Kalaupun aku bisa melakukan sesuatu mengenai itu, aku akan terhenti di gerbang. Sampai di gerbang, aku tidak mengerti bahasa dunia ini. Penampilanku aneh. Dan tidak punya uang. Kalau pun aku berhasil masuk ke dalam kota, aku tidak bisa mendaftar ke Adventurer Guild karena tidak mengerti bahasa dunia ini. Dan tentu saja tidak mungkin aku mengerjakan misi.

Tidak-tidak. Itu adalah rute dimana aku pasti akan mati di pinggir jalan.

Masih belum menyerah, aku meninjau skenario lain, misalnya aku hanya mendapatkan cheat skill bahasa dunia ini. Uang yang kuperoleh cukup untuk masuk ke kota dan mendaftar ke guild. Oke, masih baik-baik saja sampai situ. Tapi selanjutnya mustahil bagiku untuk mengambil misi penaklukan. Bahkan mengalahkan kelinci pun akan sulit. Aku tidak tahu tentang tanaman obat dan padang rumput berbahaya. Aku bisa langsung mati kalau orc muncul.

Kalau begitu, aku hanya bisa mengambil misi pekerjaan sambilan, seperti menjadi kuli pengangkut barang atau bersih-bersih selokan. Kehidupan yang keras. Apa mereka akan mempekerjakanku sebagai tukang cuci piring di penginapan? Aku cukup terampil dalam memasak. Menggunakan resep dari duniaku, penginapan akan semakin maju dan aku bisa menikahi anak gadisnya. Ahh tidak tidak. Aku mungkin akan dibunuh oleh para adventurer. Bagaimana dengan hidup mandiri. Aku mungkin bisa membuka kios kecil-kecilan dan perlahan-lahan menjadi besar. Bahkan mungkin akan buka cabang. Menghasilkan banyak uang, dan menikah.

Itu yang akan kulakukan di dunia lain ini?..... Mending buka kedai ramen di Jepang. Tak peduli berapa lama aku bekerja dan mengembangkan usahaku, dunia ini akan berakhir dalam 20 tahun. Bahkan tidak ada bedanya kalau bekerja di bagian administrasi atau manufaktur. Mungkin.

Bagaimana dengan melatih diri? Aku akan bergabung dengan guild dan mengikuti pelatihan pemula. Apakah aku bisa mengalahkan orc? Mungkin sanggup kalau hanya satu orc. Dalam keadaan normal, aku tidak hebat soal kegiatan fisik. Bagaimana kalau menggunakan busur dan panah. Mungkin aku bisa bertarung menggunakan busur dan panah. Dan kemudian aku bergabung dengan party teman pelatihanku? Aku akan bergabung. Tidak, mungkin itu tidak akan terjadi. Kalau aku tidak punya cheat skill, apa mereka mau orang lemah sepertiku ikut bergabung? Umm, pada saat itu, mungkin aku akan memohon-mohon kepada mereka. Kami akan menjadi teman party dan bertahan dalam situasi hidup-mati bersama-sama. Hidupku masih akan sulit juga.

Dengan ini aku akan bergabung dengan party dan jauh lebih aman menjadi adventurer. Sedikit demi sedikit, yang penting tidak mati, mengumpulkan uang, dan menjadi kuat…..menjadi…..kuat? Apakah sistem EXP untuk naik level juga termasuk cheat? Apa orang normal mendapatkan EXP untuk naik level? Aku tidak tahu karena aku tidak bisa melihat status orang lain. Orang lain tampaknya tidak memliki sistem naik level. Uhum. Ini juga cheat. Kalau tidak ada sistem naik level, tanpa latihan yang berat dan sungguh-sungguh, aku tidak akan jadi kuat.

Umurku 23 tahun. Aku sudah melewati masa pertumbuhan dan kalau ingin menjadi kuat, pasti ada batasnya. Hampir pasti aku tidak akan bisa bertahan hidup. Sangat sulit.

Sihir. Aku bisa menggunakan sihir, dan kekuatan sihirku berasal dari usahaku sendiri. Bagian itu belum diperkuat dan aku memilki MP dari awal. Mari mempelajari sihir. Apa aku bisa menguasainya? Mungkin bisa. Aku merasa itu lebih baik daripada mencoba busur dan pedang. Dengan Fire Magic level 3 ku, seberapa jauh yang bisa kucapai? Dalam 10 tahun, tidak 5 tahun. Salah satu pilihan terbaik adalah menjadi wizard. Kalau level 5 mustahil, setidaknya bisa lanjut sampai level 4. Aku tidak tahu apa aku akan baik-baik saja dengan Fire Magic level 4 untuk 20 tahun ke depan. Dan bagaimana saat berhadapan dengan raja iblis? Tidak. Aku tidak bisa membayangkannya. Dunia ini akan hancur dalam waktu 20 tahun! Ini bukan kisah dimana aku bisa melakukan segala hal sendirian! Revisi revisi! Aku mau revisi!

Cheat. Kalau tidak ada, aku akan mati. Dengan tambahan bisa mendapatkan skill, sistem naik level, dan menaikkan status, bahkan ikan kecil sepertiku mampu bertarung. Dan disaat yang sama, aku memahami ketidakmampuan diriku. Apa aku harus belajar lebih giat. Tapi kalau aku melakukan itu, aku tidak akan pergi ke Hello Work dan datang ke tempat ini. Aku ingin tahu, bagaimana kehidupan jika aku belajar dengan sungguh-sungguh. Mungkin aku menjalani kehidupan yang biasa.

Kehidupan yang biasa? Ketika aku gagal di ujian masuk universitas, aku sudah menjadi pecundang. Tidak, banyak orang yang mendapatkan pekerjaan yang tepat walaupun hanya lulusan SMA, apa hanya aku yang tidak mampu? Kalau tidak ada cheat, aku tidak akan bisa melakukan apapun.

Aah percuma saja, aku jadi depresi. Aku mendapatkan cheat dan datang ke dunia yang baru lagipula, aku harus menikmatinya. Selain mendapatkan sedikit bahaya dan mengikuti pelatihan yang melelahkan, tidak ada hal buruk di sini. Masalahnya hanya tidak ada TV atau manga, tapi hal itu sudah kuduga sebelumnya. Lagipula aku punya cheat, aku bisa menjadi kuat di dunia ini. Meskipun aku dikalahkan oleh instruktur, aku tidak kalah dengan teman-teman seperjuanganku yang lain, walaupun aku masih level 2. Aku ingin tahu, jika dengan aku menaikkan level dan skill-ku, apa aku akan bisa menjadi tidak terkalahkan. Uh hum, sekarang aku merasa lebih baik. Kalau aku bisa bertahan hidup selama 20 tahun, aku bisa kembali ke Jepang. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang mustahil, jadi tidak masalah untuk berbalik atau melarikan diri, yang penting aku tidak mati.

Aku berdiri setelah duduk cukup lama di pojokan alun-alun. Sama sepertiku, di alun-alun ini banyak yang sedang menghabiskan waktu luangnya. Aku menghilangkan keberadaanku jadi tidak ada satupun yang memperhatikanku. Waktu terus berlalu disaat aku sedang berpikir tadi, tapi sekarang masih terlalu cepat untuk kembali ke penginapan. Apa aku nonton penyanyi yang ada di sana saja?

Saat melewati pusat alun-alun, aku harus berhati-hati. Karena kereta kuda berlalu-lalang, kalau kau tidak fokus, kau bisa ketabrak dan mungkin kau bisa bereinkarnasi ke dunia lain. Ada juga kotoran kuda yang berceceran di tanah. Memang sih ada tukang bersih-bersih, tapi tetap harus berhati-hati. Pernah sekali aku hampir mengenainya.

Penyanyinya adalah seorang pria muda berusia 20 tahunan, tampangnya biasa saja dan mengenakan topi lebar dengan bulu putih dan mantel hijau tua. Dia duduk di atas karpet kulit yang dibentangkan di tanah, memetik gitar kecilnya dengan perlahan, bukan, mungkin itu kecapi?

“Ada yang mau request?”

Dia bertanya saat melihat aku sedang berjalan mendekatinya. Kau mau aku request, huh, dan kemudian memberimu tip. Tidak masalah kalau hanya mendengar gratisan. Tapi aku tidak bisa bersikap tak tahu malu seperti yang lainnya.

“Mainkan lagu yang ceria.”

Setelah mengatakan itu, aku meletakkan koin copper sebagai tip ke dalam mangkuk kayu. Satu koin copper setara dengan 100 yen, tapi itu hanya hitung-hitunganku saja. Kemudian aku duduk agak sedikit menjauh dan si penyanyi mulai bernyanyi dan memainkan kecapinya, berbeda dengan melodi yang dimainkan sebelumnya.

Seperti yang diharapkan dari seorang pro, suaranya merdu. Lagunya bercerita tentang seorang pemuda yang merantau menjadi pedagang, apakah hidupnya sukses? Meskipun kesulitan dan mengalami kegagalan, pada akhirnya dia menjadi kaya. Ya, seperti cerita inspirasi yang ada dimana-mana.

Aku duduk dan mendengar lagu lainnya. Ketika aku menambahkan tip yang ketiga kalinya, penonton bertambah banyak dan si penyanyi tambah bersemangat. Selain dariku, dia juga mendapatkan banyak tip.

Kalau menilai secara jujur, suaranya bagus, keahlian memainka alat musiknya juga bagus, tapi lagu-lagunya terlalu monoton. Banyak lagu yang bisa dijual kalau mereka merilisnya di Jepang, tapi rasanya tidak memuaskan. Kalau soal musik, di sini masih belum berkembang.

Aku rindu dengan lagu anime dan lagu populer Jepang. Aku ingin memperkenalkan setidaknya satu lagu kepada mereka, tapi sayangnya aku tidak pandai menyanyi. Aku juga tidak bisa memainkan alat musik. Aku tahu banyak lagu yang tetap menarik untuk didengar, walaupun dinyanyikan dengan suara pas-pasan, tapi aku tidak ingin menarik perhatian. Dan aku tidak bisa menyelamatkan dunia dengan nyanyian.

Akhirnya aku sampai pada kesimpulan. Selain bertarung, masih ada beberapa skenario hidup lain. Apapun caranya, aku akan kembali ke Jepang setelah 20 tahun. Bukan berarti aku tidak perlu uang, hanya saja untuk saat ini aku lebih memprioritaskan diri untuk menjadi lebih kuat.

Tapi apa yang Dia maksud saat Dia bilang OK jika aku tidak menyelamatkan dunia? Dia bilang ini hanya uji coba dan aku memberikan laporan dan masukan, apa dia sedang bertaruh? Mungkin. Itulah sebabnya, Dia mungkin memilih seseorang yang tidak berguna sepertiku. Aku yakin dia pernah bilang, hanya orang-orang berbakat yang bisa menemukan tawaran pekerjaan ini.

Itu benar. Kalau Dia memang ingin menyelamatkan dunia, akan lebih baik kalau Dia membawa seseorang yang lebih kuat dan lebih bersemangat. Ya itu benar. Aku tidak perlu melakukan apapun. Kalau aku memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup selama 20 tahun ini, tentu saja semuanya akan berakhir dengan baik-baik saja.

Tiba-tiba aku tersadar dan kulihat semua penonton sudah pergi. Tampaknya aku tadi melamun sebentar. Si penyanyi sedang menghitung recehan yang diperoleh.

“Terima kasih telah mendengarkan sampai akhir hari ini.”

Ya, aku telah memberinya tip 4 kali. Meskipun masing-masingnya hanya 1 koin copper, setidaknya bisa untuk membeli 2 makanan murah. Itu bukan hal kecil.

“Bagaimana nyanyianku?”

“Uhmm. Biasa aja sih.”

“Eh, jahat.”

Penyanyi itu mengatakan sambil tersenyum kecut. Sebenarnya dia sudah berada di level pemenang kontes nyanyi amatir. Tapi masih kalah kalau dibandingkan dengan penyanyi profesional di bumi.

“Aku setuju dengan pendapatmu. Kupikir aku tidak terlalu buruk, tapi aku juga belum sampai pada level penyanyi teater.”

Penyanyi ternyata punya kesulitan juga.

“Aku sudah menulis beberapa lagu originalku, tapi tidak laris.”

“Apa perlu kuajarkan beberapa lagu dari daerah asalku?”

Tiba-tiba terlintas ide tersebut. Tentu saja aku mengajarinya lagu anime.

“Benarkah? Lagu apa?”

Mari kita bernyanyi lagu pembuka anime robot terkenal dengan semangat. Tentu saja dalam bahasa Jepang. Seperti yang kuduga, aku tidak pandai bernyanyi dengan bahasa lokal.

“Tunggu sebentar. Nyanyikan sekali lagi.”

Si penyanyi menyiapkan buku catatan, dan aku bernyanyi beberapa kali.

“Aku tidak mengerti bahasanya, tapi itu bercerita tentang kisah kepahlawanan kan?”

“Ya, tentang prajurit yang akan pergi berperang.”

“Arti-arti dari liriknya……?”

Aku menerjemahkan lirik tersebut ke dalam bahasa Dunia Razgrad di buku catatan si penyanyi. Tentu saja nama robotnya tetap ada. Untuk menghindari kesalahan, aku menyuruhnya untuk mencoba berulang-ulang hingga pengucapannya tepat dan akurat. Kalau ada orang Jepang lain yang datang ke dunia ini, mereka mungkin akan terkejut mendengar lagu ini!

Selagi ada kesempatan, aku juga mengajarinya beberapa lagu penutup anime dan soundtrack film. Penyanyi itu benar-benar senang.

“Tapi, tidak masalah kalau aku menyanyikannya?”

“Ya, kalau orang dari daerah asalku mendengarnya, mereka akan menangis bahagia.”

“Okelah kalau begitu.”

“Semoga berhasil dan terus sebarkan kalau kau menjadi terkenal.”

“Terima kasih! Aku akan melakukan yang terbaik.”

Tentu saja kau harus melakukan yang terbaik, aku harap lagu anime bisa tersebar di dunia lain ini. Dan aku ingin mengejutkan orang Jepang yang datang ke sini setelahku.

Aku menemani si penyanyi hingga malam tiba. Sudah saatnya untuk kembali ke penginapan. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa bersantai hari ini. Akan lebih menyenangkan lagi kalau aku tidak sendirian.

Aku berpikir untuk membuat harem setelah datang kesini, tapi bagaimana cara membuatnya? Apa ada gadis yang jatuh cinta kepadaku? Tunggu, apa gadis akan jatuh dari langit? Tidak.

Ngomong-ngomong soal cewek di dunia, yang pernah kujumpai adalah si gadis petugas kejujuran, tiga resepsionis perempuan di guild, anak gadisnya pemilik penginapan dan satu di tempat pelatihan. Mustahil kalau mengincar gadis-gadis resepsionis. Mungkin saja mereka sudah punya pacar atau sudah menikah, dan untuk mulai memulai, aku hanya tahu wajah mereka. Si gadis petugas kejujuran, sepertinya dia masih terlalu muda? Gadis dari tempat pelatihan sudah pergi jauh. Eh? Dimana tempat untuk mencari cewek? Dapat dari pinggir jalan? Mustahil! Penginapanku penuh dengan bajingan dan sesekali kalau ada perempuan, itupun tipe amazon…..

Ermm, biasanya di novel fantasi ada adegan menyelamatkan gadis dari perampok di luar kota kan? Apa aku akan baik-baik saja kalau bepergian sendiri? Demi seorang cewek? Tidak. Tidak. Mustahil. Skenario lain, kehidupan di sekolah? Masuk ke sebuah sekolah dan menjadi terkenal! Sial, aku sudah 23 tahun! Aku bukan usia anak sekolahan lagi. Apa di disini ada sekolah sihir? Mungkin. Belajar sihir…..tidak. Aku bisa mendapatkan skill dengan naik level. Malahan yang jadi masalah adalah aku tidak akan bisa naik level kalau ada di sekolah.

Aku jadi teringat, aku harus belajar sihir penyembuh di suatu tempat. Untuk mendapatkan experience point, resikonya cukup tinggi, jadi aku harus bisa berhemat. Cukup mudah untuk naik level dan mempelajari skill di dunia ini. Tapi dimana aku bisa mempelajarinya, besok aku akan bertanya ke resepsionis. Tapi jangan bilang kalau aku harus belajar di sekolah sihir.

Setelah kembali ke penginapan, matahari sudah benar-benar terbenam dan ruang makan telah dipenuhi oleh para adventurer yang sedang minum-minum. Pada dasarnya penginapan ini memang ramai, tapi tak biasanya semua meja penuh. Memikirkan apa yang akan aku lakukan, tempat duduk yang di dekat kasir kosong dan cepat-cepat aku menyelinap ke situ. Aku memesan yang biasa ke pelayanan, paket makanan harian yang paling murah. Paket itu disebut ‘Hasrat sang Koki’. Awalnya aku agak cemas makanan jenis apa yang akan muncul. Memang sih, kemampuan memasak koki penginapan sangat baik. Bahkan jika aku tidak tahu daging apa yang digunakan, rasanya tetap enak. Kemudian si ibu pemilik penginapan membawa makanan pesananku. Sepotong roti kecil dan sup. Seporsi pasta dengan daging yang menumpuk seperti gunung.

“Ini pelayanan spesial.”

Si ibu pemilik penginapan memberikan aku banyak makanan. Mungkin aku bisa tumbuh lebih besar. Tapi aku sudah lewat masa pertumbuhan.

Aku mengucapkan terimakasih dan kemudian melahap makanannya. Kalau pelayanan yang biasa, aku mungkin tidak akan puas, tapi aku senang mendapatkan porsi yang lebih besar dengan harga yang sama. Pasta hari ini luar biasa. Aku tidak peduli daging apa yang digunakan. Rotinya sedikit keras, tapi saat dicelupkan ke sup, rasanya lumayan juga. Aku rindu makan nasi, tapi tak terlalu sih. Aku melihat ke sekeliling ruang makan yang ramai ini. Si anak pemilik penginapan kelihatannya sedang beristirahat. Tidak mungkin pemilik penginapan membiarkan anaknya yang berharga menemani para adventurer yang sedang minum-minum kan? Setidaknya aku bisa menjumpai si anak manis saat sarapan. Malam ini ada tambahan beberapa gadis pekerja paruh waktu yang membantu di ruang makan dan dapur. Setelah menghabiskan makananku, aku merasa lebih tenang. Pelanggan yang tersisa adalah mereka yang datang untuk minum-minum. Karena aku tidak suka minum-minum, aku memutuskan untuk beristirahat. Aku tidak ingin mendekati adventurer yang mabuk.

Setelah kembali ke kamar, karena kenyang aku jadi mengantuk. Sebelum tidur, aku menyempatkan diri untuk menulis laporan hari ini selama 10 menit. Topiknya berkaitan dengan apa yang terjadi dan apa yang kuamati hari ini. Lebih mirip diari dibandingkan laporan. Hari ini aku tidak banyak menangkap kelinci liar. Sepertinya catatan hari ini sudah OK, tidak ada balasan dari Itougami dan kemudian aku merangkak ke ranjang penginapan yang keras dan tipis ini.

No comments:

DMCA.com Protection Status