Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bab 10 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bab 10 Bahasa Indonesia

March 01, 2017 Exicore

Penerjemah: Kirz

[Chishikiyoku no Gonge] (Inkarnasi dari Rasa Haus Akan Pengetahuan)


――15 menit telah berlalu, sejak mereka meninggalkan rumah dimana Roswaal memulihkan diri.

"Yak kita sampai. Inilah yang disebut makamnya, tapi sebenarnya makam ini cuma makam yang tua" (Garfiel)

Mengatakan ini, Garfiel menaikkan dagunya mengarah ke bangunan tua yang berada di ujung Sanctuary ini. Dibangun dari sekumpulan batu, gaya arsitektur nya terlihat primitif, dan tidak ada sedikitpun kesan berbau magic dari tempat itu.

Tidak diketahui sudah berapa tahun bangunan tua ini dibangun, namun dilihat dari temboknya yang sudah retak, dan dipenuhi tanaman-tanaman liar yang merambat, sudah pasti bangunan tua ini telah dibangun lebih dari seribu tahun yang lalu.

Jalan masuk kedalam bangunan tua itu terlihat mirip dengan hutan, dan hampir seluruh bagian dari bangunannya (kecuali pintu masuk) telah ditutupi pepohonan, membuat tidak mungkin seseorang bisa mengetahui ukuran sebenarnya dari bangunan ini, hanya dengan melihat sepintas. Jika tempat ini adalah tempat peristirahatan dari 'Penyihir Keserakahan', maka kemungkinan tempat ini mirip dengan pyramid yang ada di dunia nyata saat ini.

"Orang yang kuat ingin diistirahatkan ditempat yang besar; Rupanya kenyataan ini akan sama disemua jaman, dan didunia manapun, ya..." (Subaru)

Menyentuh dagunya dan merenungkan pemikiran ini, Subaru memiringkan kepalanya memikirkan besar dari Bangunan ini.

Sebagai seseorang yang masih hidup, Subaru sama sekali tidak pernah tertarik memikirkan akankah orang lain akan mengingatnya disaat dirinya sudah meninggal nanti. Tapi kembali lagi, memang faktanya kalau dirinya itu bukanlah orang yang begitu penting sampai-sampai dikenang oleh orang lain, apalagi sampai dibuatkan seperti yang dilihatnya saat ini.

Akan tetapi,

"Baguslah kalau memang kita berhasil sampai ke kuburannya, tapi memangnya apa tujuan kita kesini?" (Emilia)

Berada disampingnya Subaru, Emilia melihat kearah bangunan tua itu, dan menanyakan Garfiel pertanyaan ini dengan ekspresi penasaran. Subaru memiliki pertanyaan yang sama juga, dan sedang menatapi punggung dari pria berambut pirang yang menuntun mereka kemari itu. Dalam merespon pertanyaan ini, Garfiel menggeratakkan taring giginya lalu melihat balik,

"Lu bakal dijelasin nanti alasannya sama si Roswaal brengsek itu setelah lu pada balik nanti. Jadi untuk saat ini, apa yang gua inginkan terhadap Emilia-sama cuma masuk kedalam sana" (Garfiel)

"Apa yang perlu aku lakuin sekarang cuma masuk kedalam sana? Nggak ada kah sesuatu gitu yang perlu aku lakuin setelah aku masuk kesana? (Emilia)

"Sekarang ini masih ada matahari. Jadi meskipun lu masuk sampai kedalam makam itu, 'Pengujian' nya nggak akan mulai. Lu belum ada persiapan apa-apa juga, maka dari itu pertama-tama lu harus cek dulu apakah dirimu ini memenuhi 'persyaratan' untuk masuk kesana" (Garfiel)

"Tu Tu Tunggu, tunggu sebentar! Yang kau omongin makin nggak ngerti aku. Pengujian, persiapan, persyaratan, kau belum jelasin semua itu bagaimanapun juga!" (Subaru)

Menyela pembicaraan didepan Garfiel, yang sepertinya ingin memaksa Emilia untuk masuk kedalam, Subaru meminta Garfiel menjelaskan semua ucapannya. Namun Garfiel hanya menunjukkan ekspresi kesalnya yang telah Ia tunjukkan sejak sejam tadi, sambil menghisap udara dari lubang hidungnya,

"Emang gua peduli, masalah buat lu? Dah masuk aja sana, dan setelah lu balik ke Roswaal nanti, lu bakal ngerti semuanya. Kalau lu minta gua jelasin semua hal itu, yang ada gua malah mengacaukannya dan ujung-ujungnya lu nggak bakal paham juga" (Garfiel)

"Sekarang ini rasanya seperti kau meminta kami menandatangani sebuah kontrak tanpa membaca isinya terlebih dulu, nggak mungkin kami mau ngelakuin hal seperti itu. Kalau memang kau buruk dalam memilih kalimat yang pas dalam berbicara, cukup jawab saja pertanyaanku satu demi satu dengan benar" (Subaru)

"Aaaah.... serah lu dah. Gua bakal ngejawab pertanyaan lu cuma sampai matahari terbenam, jadi cepetin jangan bertele-tele" (Garfiel)

Mengangkat kedua tangannya dengan pelan, nampaknya Garfiel menerima sarannya. Lega karena mereka pada akhirnya dapat berdiskusi, Subaru pun memikirkan apa yang pertama harus Ia tanyakan ––Lalu kemudian,

"Inilah Makamnya... maksudmu itu makam dari 'Penyihir Keserakahan', kan?" (Subaru)

"Itulah yang gua dengar. Sebetulnya, Gua nggak tau mayat siapa yang dikuburkan disini. Tapi paling nggak, semua orang-orang di desa ini bilang kalau tempat ini adalah makam dari penyihir keserakahan" (Garfiel)

Jawaban yang agak konyol itu membuat Subaru merasa ada sesuatu yang aneh, tapi Ia tidak mempermasalahkan keanehan ini untuk saat ini dulu. Kemudian, melanjutkan membahas apa yang Garfiel ucapkan sebelumnya...

Dua hal yang sepertinya sangat penting untuk dibahas saat ini adalah 'Pengujian' dan 'Persyaratan'.

"'Pengujian' yang akan dihadapi saat berada didalam makam itu, sesungguhnya apa? Jujur saja.. dari pengalamanku beberapa minggu yang lalu, kalimat itu memberi kesan buruk terhadapku" (Subaru)

"Santai, gua juga nggak suka di uji seperti itu. Yaaah tentang 'Pengujian' nya..... Gua nggak tahu juga" (Garfiel)

"Oi" (Subaru)

"Sumpah, gua nggak lagi bercanda sekarang. Gua cuma tau kalau hal itu bakal terjadi didalam makamnya. Dan mereka yang gagal menuntaskan 'Pengujian' itu, nggak bakal bisa keluar dari 'Daerah Pengujian' yang memang tak memiliki jalan keluar" (Garfiel)

"Keluar....siapa?" (Subaru)

"Orang yang memiliki 'Persyaratan'. Orang-orang yang telah memiliki persyaratan nggak bakal bisa keluar dari 'Daerah Pengujan'. Selama 'Pengujian' nya belum selesai, Penyihir tidak menginginkan mereka pergi" (Garfiel)

Ucapannya terdengar tidak meyakinkan, tapi Garfiel sepertinya tidak memiliki maksud untuk merusak topik pembicaraan. Telah berusaha memilih kata-kata yang mudah dicerna sebaik yang Ia bisa, Ia menceritakan apa yang memang Ia dengar. Tapi tetap saja, kalau jawabannya tidak langsung menjawab inti pertanyaan dari Subaru, kemungkinan karena memang sudah dari awal pemahaman dirinya sendiri terhadap hal ini tidak begitu yakin.

Namun, setelah menjabarkan setiap ucapan dari Garfiel tadi, Subaru berhasil memahami situasi saat ini dalam pikirannya. Sehingga, apa yang ia dapat setelah menjabarkan setiap ucapannya adalah,

"Cuma mereka yang memenuhi persyaratan yang dapat memasuki Makam itu, dan kalau mereka 'Yang telah memiliki persyaratan' itu gagal dalam pengujiannya, maka mereka tidak akan dapat 'KELUAR DARI SANCTUARY'... apa maksudmu seperti ini?" (Subaru)

"Aaah.....? kurang lebih kaya gitu....kayaknya?" (Garfiel)

"Meskipun aku telah memikirkannya dengan baik-baik tapi tetap saja aku merasa nggak yakin dengan hal ini..." (Subaru)

Memutar-mutar lehernya, Garfiel, yang kemungkinan masih tidak mengerti dengan masalah ini, mengucapkan ini. Membiarkan saja sikapnya untuk saat ini, Subaru menoleh kearah Emilia yang berada disampingnya. Menoleh balik kearah Subaru, Ia pun menarik kesimpulan dari masalah ini dengan mengucapkan,

"Tadi, disaat aku memasuki 'Sanctuary', kesadaranku secara tiba-tiba menghilang.... itu kenapa ya, apa sesungguhnya itu?" (Emilia)

"Itu kayaknya gara-gara pembatasnya, apa jika Ia mendekati pembatas itu Ia akan pingsan? Tapi Otto dan Aku baik-baik saja..." (Subaru)

"Itu mungkin karena lu nggak termasuk di persyaratannya" (Garfiel)

Disaat Subaru mengerti alasan dibalik mengapa Emilia secara tiba-tiba pingsan tadi, Garfiel secara tiba-tiba menunjuk kearah Subaru dan Emilia,
dengan jari kiri dan kanan di kedua tangannya,

"Emilia-sama, sebagai setengah-elf, termasuk di 'persyaratan' itu. Tapi, Subaru, sebagai seseorang yang memiliki darah murni keturunan manusia, kagak termasuk di persyaratan itu. Jadi lu bisa masuk dan keluar secara bebas ditempat ini. Tapi, lu nggak bisa ngikutin 'Pengujian' nya" (Garfiel)

"Tunggu tunggu sebentar. Jadi, dilihat dari apa yang kau katakan, apa sesungguhnya maksudmu seperti ini?" (Subaru)

Menarik nafas, Subaru pun berfikir. Lalu, mengingat lagi kejadian disaat pertemuan dirinya dengan Garfiel, dan disaat Garfiel menuntun mereka kedalam Sanctuary ini. Dan akhirnya, Ia pun sadar kalau sesungguhnya,

"Orang yang dapat menjalani Pengujian itu adalah Setengah-Elf... atau, orang yang memiliki darah campuran antara manusia dengan 'demi-human'. Jadi itu artinya semua orang yang hidup di Sanctuary ini adalah orang-orang yang seperti itu?" (Subaru)

"––Aaah, gua belum sempet bilang ya" (Garfiel)

Mendengar ucapannya Subaru, Garfiel mengangguk terlihat puas, lalu mengejamkan mata.

Lalu disaat setelah, Ia membuka kedua matanya lagi, warna kedua bola matanya berwarna emas, dan berbentuk lonjong seperti binatang-binatang karnivora pada umumnya. Ujung dari taringnya membesar, dan kuku dari jari-jarinya terlihat tajam seperti pedang.

Aura mengerikan yang terpancarkan dari tubuh kecilnya semakin kuat–– Tidak, ini bukanlah sekedar aura semata. Rambut pendek pirangnya memanjang hingga menutupi punggungnya, dan bulu berwarna emas-pun juga mulai tumbuh pada lengan dan kakinya, hingga menutupi tubuhnya.

"Gua juga sebenarnya memiliki darah seperti itu. Dan 'Melempar' adalah kekuatan spesialku" (Garfiel)

"Sugoooiinaaa. Apa boleh aku memeluknya?" (Subaru)

Memeras otaknya mencari cara untuk menahan rasa kegembiraannya, Subaru menghimpit tangannya di ketiaknya untuk menutupi jari-jarinya yang bergetar. Bagaimanapun juga, permintaannya itu sesungguhnya telah ditolak mentah-mentah, melihat Garfiel yang telah kembali ke wujud semulanya lagi.

Telah melihat perubahan Garfiel didepan kedua matanya, Emilia menghembuskan nafasnya, dan maju selangkah kedepan,

"Jadi, desa ini adalah tempat bertemunya para spesies demi-human.." (Emilia)

"Lebih tepatnya, tempat ini adalah tempat bercampurnya para spesies berdarah-campuran antara manusia dengan demi-human. Segala macam orang yang memiliki ras seperti itu saling bertemu disini. Menurut gua si Roswaal brengsek itu penggila 'Demi-Human'" (Garfiel)

"Jadi itu alasannya kenapa Roswaal berkata seperti itu. Karena bagiku, tempat ini..." (Emilia)

Mengucapkan itu, Emilia kemudian menempatkan jarinya pada bibirnya dan terdiam bisu dalam pikirannya.

一Bagi Subaru, kenyataan dari informasi ini tidaklah mudah untuk diterima oleh Emilia. Dengan kata lain, saat ini artinya semua orang di tempat ini, meskipun tidak sepenuhnya sama, memiliki satu hal yang sama dengan Emilia. Dengan masa lalu Emilia, dijauhi dan ditolak oleh masyarakat, kemungkinan mereka semua telah mengalami semua rasa sakit itu,

Bagi Emilia, kemungkinan hal ini dapat membuka kembali luka lama-nya. Tapi, jika ada orang lain yang dapat mendukungnya disaat seperti ini, apakah yang akan Ia rasakan?

Subaru menyadari bekas luka lama-nya, dan ingin menjaganya agar tidak terbuka kembali, namun Subaru, belum pernah merasakan rasa sakit yang sama, sehingga tidak mungkin tahu bagaimana cara menyembuhkannya tanpa membukanya kembali. Kenyataan ini, memenuhi isi pikirannya.

"Ini benar-benar nggak terduga, tapi sekarang aku sudah mengerti keadaaan yang sedang dialami desa ini dan persyaratan dari pengujiannya. Maka.... satu-satu masalah saat ini adalah Pengujian nya ini. Kau bilang kau nggak tahu pengujiannya seperti apa, tapi paling nggak kau tahu kalau pengujiannya itu akan terjadi setelah matahari terbenam, kan?" (Subaru)

"Ya, kata orang-orang begitu. Gua nggak tahu secara rincinya sih. Setidaknya yang gua tau, lu disini itu untuk cek apakah dirimu itu memang memenuhi persyaratan. Jadi kalau lu dateng kemari malem-malem, Pengujian nya akan mulai, memang begitulah kenyataannya" (Garfiel)

Menunjuk bangunan tua itu dengan mengacungkan jempolnya, dan mengarahkan dagunya kearah Emilia, Garfiel mengungkapkan tujuan atas tindakannya saat ini. Mengangguk terhadap apa yang baru saja Ia dengar, Subaru termenung menatapi makam yang menunggu mereka, dengan mulutnya yang terbuka.

Bangunan yang tua, dipenuhi oleh tanaman liar yang merambat, dikelilingi kepekatan udara yang kurang sehat, sedang menunggu mereka saat ini. Kalimat 'Pengujian' hanya menambah dalam kesan serius yang nampak dari bangunan ini, membuatnya berfikir kalau ekspedisi kali ini lebih dari sekedar ekspedisi mengunjungi sebuah bangunan yang tua.

Dan, terlebih lagi, itu artinya Ia telah mengirim Emilia ke tempat yang berbahaya–– Kenyataan ini, tidak dapat dibiarkan begitu saja oleh Natsuki Subaru.

"Maafkan aku, Ram. Sepertinya aku akan mengingkari peringatanmu lebih cepat dari perkiraanku" (Subaru)

"Lu bilang apa?" (Garfiel)

"Secara tiba-tiba melihat Emilia menerjang bahaya kedalam sana membuatku merasa gelisah hingga membuat hatiku hancur. Jadi, sebagai pemandu dan pelindungnya... kenapa nggak Garfiel coba masuk dulu kesana?" (Subaru)

Menaikkan jarinya, Subaru mengemukakakan usulannya. Garfiel terdiam untuk beberapa saat, lalu kemudian tersenyum lebar dan sekali lagi Ia memukul lututnya sambil tertawa terbahak-bahak, lalu mengucapkan,

"Lu nggak berani ya mengorbankan dirimu, beraksi menghadapi bahaya" (Garfiel)

"Denger aku dulu, bukan berarti aku nggak berani buat beraksi, tapi kalau sewaktu-waktu sesuatu terjadi padaku, kemungkinan diriku untuk melewatinya sangat kecil, jadi kupikir dirimu lebih cocok untuk itu. Melihat dirimu dapat mengguncang tanah hanya dengan sebuah hentakan kaki, kemungkinan dirimu dapat kembali hidup-hidup sangat tinggi. Kau memang yang terkuat, bagaimanapun juga" (Subaru)

"Oo? Y, Yaaa, Gua memang yang terkuat. Walau gua nggak tahu banyak tentang pengujian itu, tapi tetap nggak peduli bahaya apa yang akan gua hadapi, gua akan tetap bersikap seperti 'Penipeni yang tak pantang menyerah'!" (Garfiel)

Tidak jelas sesungguhnya apa yang ia ucapkan, tapi Garfiel terlihat berkobar dalam perasaan semangatnya, sambil mengusap lubang hidungnya. Tidak ingin meredam rasa semangatnya itu, Subaru pun terdiam tidak mengatakan apapun. Tapi kemudian pada akhirnya, secara cepat kobaran api semangat itu menguap, dan kemudian Garfiel mengatakan 'Tapi'

"Sayangnya gua nggak bisa masuk. Karena gua belum menandatangani hal semacam kontrak" (Garfiel)

"....Kontrak?" (Subaru)

"Ya, ribetin banget dah memang ini. Dan lagipula, gua memang seharusnya nggak boleh ngelakuin ini" (Garfiel)
(TLN: melakukan yg dimaksud itu masuk kedalam sana)

Menendang kerikil ditanah dengan kakinya, Garfiel mengatakan ini sambil mendecahkan lidahnya. Ia tidak terlihat bercanda, jadi kelihatannya memang fakta kalau Ia tidak boleh masuk. Apa yang akan terjadi jika Ia mengingkari perjanjian itu–– Bukanlah hal yang dapat ditanyakan oleh Subaru, didepan Emilia saat ini, mengingat betapa sebuah janji itu begitu penting bagi dirinya.

Bagaimanapun juga, sudah tidak ada pilihan lain lagi untuk menghadapi situasi kali ini. Membiarkan Emilia pergi sendirian kedalam itu tidak mungkin, dan rencana melibatkan Garfiel pun tak dapat dijalankan. Maka itu artinya hanya ada satu pilihan yang tersisa, tidak lain dan tidak bukan ialah.

"Aku mau cari Otto dulu, bisa nggak kamu tunggu sebentar disini?" (Subaru)

"Menunggu kamu mencari dirinya, yang ada matahari keburu terbenam–– Nggak apa-apa kok, aku tetap akan masuk kesana" (Emilia)

Disaat Subaru mencoba mencari orang lain untuk dikorbankan, secara lembut dirinya ditahan oleh Emilia. Seolah-olah dirinya sudah siap, Emilia menatapi jalan masuk ke Makam tersebut, kedua matanya terlihat waspada, waspada terhadap apa yang mungkin akan terjadi didalam sana.

Emilia juga tentunya berfikir, dari kalimat 'Pengujian' dan 'Kuburan sang Penyihir Keserakahan', sudah pasti hal yang tak akan disangka-sangka akan terjadi disana.

Memiliki kewaspadaan dan kegelisahan yang sama seperti yang Ia(Subaru) miliki, tapi tak mampu untuk melindungi dirinya dalam genggamannya, bukankah itu terlalu menyedihkan.

"Baiklah kalau gitu agak kedalam..... nggak, disekitaran pintu masuknya, kasih aku cek dulu sebentar disitu, gimana...?" (Subaru)

"Menurut gua lebih baik kalau lu jangan ngelakuin itu nggak? Karena Subaru kan nggak termasuk di persyaratannya. Kalau lu tetap aja bersikeras ingin tetap masuk tanpa di undang oleh makam penyihir itu, yang ada lu bakal berakhir kaya Roswaal" (Garfiel)

"Kaya roswaal.... jadi maksudmu tuh orang terluka, gara-gara Ia masuk kesana?" (Subaru)

Disaat ingatan akan tubuh Roswaal yang dipenuhi perban terngiang-ngiang kembali dikepalanya, Subaru mencoba menahan keheranannya, disaat dirinya melihat Garfiel, yang sedang melipat kedua tangannya, mengangguk membenarkan ucapannya,

"Yah Lu nggak bakal bisa ngelakuin hal itu saat malam hari. Menurut gua Ia melakukan hal itu karena memang dia itu orang yang seperti itu(keras kepala). Nggak heran gua kalau orang biasa, tanpa memiliki persyaratan masuk kedalam sana, kemudian berakhir terluka parah seperti itu" (Garfiel)

"jadi itu maksudnya dari 'Luka-luka itu bukan disebabkan oleh siapapun'.." (Subaru)

Omongan berputar-putarnya Roswaal pada akhirnya dapat dimengerti. Disaat Ia bercerita sebelumnya kalau lukanya bukan disebabkan oleh siapapun 'Secara langsung', maksud dari perkataannya waktu itu rupanya mengarah pada hal ini.

Tapi kemudian, pertanyaan yang lainnya pun muncul. Kenapa Roswaal memasuki makam itu?

――Dirinya yang tak lolos persyaratan untuk masuk kesana, seharusnya Ia sudah tahu tentang hal itu.

".....Lebih baik aku cek dulu kedalam" (Subaru)

Mengkesampingkan sanksi yang akan didapat seperti yang terjadi pada Roswaal untuk saat ini, Subaru menundukkan kepalanya disaat Ia membuat keputusan ini.

Mendengar ucapannya, secara cepat Emilia dan Garfiel terlihat kaget,

"Oioi, lu denger gua nggak? Bahaya kalau orang biasa tanpa memiliki persyaratan masuk kesana. Roswaal memang jadi seperti itu saat malam hari, tapi meskipun ini sore bukan berarti lu bakal aman" (Garfiel)

"Bener itu. Itu bahaya 'tau, Subaru? Kalau aku yang pergi, aku yakin aku nggak akan kenapa-napa. Aku nggak akan pernah berterima kasih atas apa yang akan kamu lakukan, karena menurutku, masalah ini adalah urusanku, diriku yang sebagai setengah-elf, jadi..." (Emilia)

"Aku berterima kasih karena kamu khawatir kepadaku, tapi" (Subaru)

Memberikan senyuman lembutnya kepada Emilia, yang sedang menarik ujung dari lengan bajunya, kemudian Subaru secara lembut menyentuh jarinya yang sedang menyentuh lengan bajunya,

"Kalau kita tenang dan saling membagi tugas, bukankah ini keputusan yang bagus? Masuk kedalam itu bahaya, kenyataan itu 'SAMA' untuk kita, dirimu maupun diriku. Satu-satunya jalan keluar dari masalah ini yang kita tahu adalah aku diharuskan, membawa diriku kedalam keadaan yang sedikit lebih berbahaya. Jadi sisanya mari kita lakukan yang terbaik yang kita bisa" (Subaru)

"Memangnya apa yang bisa kita lakukan?" (Emilia)

"Kalau sesuatu terjadi didalam sana, Aku tidak akan bisa menyembuhkan Emilia-tan. Kecuali kalau Garfiel menuntaskan seseorang yang misterius dan berbahaya itu, dan melakukan sihir penyembuhan, maka kalau begitu akan berbeda lagi ceritanya" (Subaru)

"Terhadap luka, sebenarnya lu cuma bisa mengusapnya dengan ludahmu dan maka semuanya akan baik-baik saja, benar kan?" (Garfiel)

"Dari apa yang kau katakan.... yak kurang lebih seperti itu. Selagi kita berdua bisa saja terluka, Aku ingin membuat Emilia si penyembuh tetap aman sebagai jaminannya" (Subaru)

Hanya memberi lirikkan kepada Garfiel, yang mengucapkan ucapan itu dengan semangat, Subaru mencoba untuk membujuk Emilia.

Emilia nampaknya agak terbujuk dengan usulan Subaru, tapi, terhadap dirinya yang memutuskan untuk tidak menyerahkan hal penting kepada orang lain, membuat dirinya membalas ucapannya dengan mengatakan 'Tapi', sambil menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi,

"Luka parah... atau luka yang dapat mengancam-nyawa, Aku nggak bisa mengurusnya. Puck nggak merespon juga, jadi apa yang bisa kuperbuat terbatas. Roswaal memang sudah membaik sekarang, tapi..." (Emilia)

"Yah, luka-luka itu memang kelihatannya sangat mengerikan, ya. .....Tapi tetap, aku mencoba untuk percaya pada kemampuan bertahan hidupku. Menurutku aku ini yang terbaik didunia ini, 'tau?" (Subaru)

Ia tersenyum kearah Emilia, yang tidak membiarkan dirinya pergi; saat ini, ucapannya terdengar sangat serius.

Memang faktanya kalau, sangat jarang menemukan seseorang yang pantang menyerah seperti Subaru. Kalau Ia diberikan kesempatan tak terhingga untuk terus mencoba, tidak peduli berapa kalipun, Ia kemungkinan akau terus berusaha mencoba.

Tidak peduli berapa kali hatinya hancur, Ia akan terus berusaha mencoba mencari jawaban atas masalah yang sedang Ia hadapi.

Karena itulah, Natsuki Subaru–––.

"Kalau gitu bagaimana kalau aku berjanji padamu? Jadi kamu nggak akan merasa khawatir lagi. Aku berjanji, Aku akan kembali lagi bersama Emilia-tan, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu" (Subaru)

"–––Oke" (Emilia)

Menangkat jari kelingkingnya, mengucapkan hal ini dengan sangat gentle, Ia akhirnya mendapatkan jawaban positif yang tak terduga. Seperti Subaru yang saat ini terdiam, Emilia ikut mengeluarkan jari kelingkingnya juga, dan dengan pelan memiringkan kepalanya,

"Ehm, apa yang mau kamu lakukan dengan jari ini?" (Emilia)

"Eh? Ah, ya kita akan saling mengaitkan jari kelingking kita masing-masing..... uuuuuuuuuuōu, betapa kecil, imut dan beningnya jari kelingking Emilia-tan...!!!!" (Subaru)

Jari mereka berdua saling mengait satu-sama lain, Subaru terkejut oleh sentuhan yang tak terduga ini. Lalu, menatapi kedua bola mata berwarna ungu yang saat ini sedang menunggu reaksinya, Ia pun dengan pelan menelan ludahnya, dan kemudian,

"Janji-Kelingking. Yang-berbohong-akan-mendapatkan-ribuan-jarum" (Subaru)

"Janji Kelingking!" (Emilia)

Jari kelingking mereka kemudian dilepaskan secara bersamaan, dengan begini, janji antara Subaru dan Emilia telah terbentuk.

Sekarang ini, mereka telah membuat janji yang tidak mungkin dapat diingkar oleh Emilia. Dan janji ini tidak dapat diremehkan begitu saja oleh Subaru.

"Jadi, kali ini aku cuma akan melihat sebentar kedalam. Sebetulnya, aku akan terus memanggil-manggil saat aku didalam nanti, jadi pastikan kalau tetap memanggil-manggil diriku dari luar, jadi aku nggak merasa sendirian nanti" (Subaru)

"Ampun dah... gua jadi ragu entah lu itu orang yang jahat ataukah pengecut" (Garfiel)

"Aku ini orang yang sangat berhati-hati terhadap hal apapun. Tapi pada akhirnya, Aku mengingkari nasihat yang diberikan oleh Ram..." (Subaru)

Subaru merasa salah terhadap gadis berambut-merah itu, diucapkan akhir kalimat pengucapannya.

Hasrat gila dari sang Penyihir–– Apa yang gadis itu katakan benar-benar hal yang mengerikan, dan hal itu Ia tidak ingin Emilia mengetahuinya. Karena sudah pasti, Ia bakal bersikeras ingin pergi kedalam sana sendirian, dengan sikap yang lebih keras kepala dari sikapnya tadi.

"Subaru. Kalau kamu merasa ada sesuatu yang berbahaya, kamu cepetan buru-buru kembali ya" (Emilia)

Emilia kemudian menempatkan kedua tangannya didepan dadanya, dan melihati kepergian Subaru dengan tatapan yang cemas.

Dan sebagai balasannya, Subaru memberikan acungan jempol namun kali ini dengan jari kelingkingnya, dan tersenyum hingga menunjukkan giginya yang berkilau, dan kemudian melangkah maju kedepan–– kedepan menuju Makam tersebut.

Menyebrangi tanaman liar dibawah kakinya, Ia berkonsentrasi penuh pada kegelapan yang saat ini berada beberapa meter didepannya, didalam pintu masuk itu. Kuburan itu sangat sunyi, dan saat ini, tampaknya tidak ada tanda-tanda suara dari kecemburuan, maupun suara yang mengerikan, yang secara tiba-tiba muncul akan menyerangnya.

Tapi tetap saja, didalam kegelapan itu, apa yang benar-benar sedang menunggunya, tidak diketahui.

"Eeeii, santai lah. 'Kalau kau nggak masuk kedalem kandang macan, nggak mungkin bisa kau dapet bayi macam kan' Tapi bukan berarti saat ini aku menginginkan bayi macan ya!" (Subaru)

Sebagai penggila bulu mofumofu, Ia ingin memelihara bayi macan suatu hari, tapi Ia tidak ingin mengambil resiko lebih seperti ini.

Bagaimanapun juga saat ini, Subaru tampaknya, telah terpengaruh oleh kebiasaannya Garfiel, menghibur dirinya sendiri dengan 'idiom', untuk menenangkan pikirannya, kemudian Ia pun maju melangkah kedalam Makam itu.

Dan, disaat Ia melangkah masuk kedalam ruangan yang dingin didalam sana–––,

"――Eh?" (Subaru)

Subaru merasakan perasaan aneh di bawah kakinya.

Terkejut, Subaru melihat kebawah dan tak mampu berkata apa-apa. –––Permukaan tanah, telah menghilang dari bawah kakinya.

"Tu, tunggu.... ini terlalu cepat..." (Subaru)

–––Terlalu cepat sebelum Ia dapat memanggil mereka diluar.

Permukaan tanah yang Ia pijak dari tadi telah menghilang, dan disekitarnya tidak ada satupun yang dapat Ia jadikan tumpuan disaat dirinya berputar-putar kebawah. Tangan yang Ia ulurkan dengan cepat tidak mampu menyentuh dinding maupun lantai, dan dengan begitulah, tubuh Subaru terhisap kedalam kegelapan dibawah kedua matanya–––.

"aaaaaaaaaAAAAAH–––!?" (Subaru)

Dalam dan semakin dalam, Ia terjatuh kedalam jurang yang tak berujung tersebut.

–––10 menit telah berlalu sejak Ia terbangun dipermukaan paling bawah jurang.

Berjalan ditengah-tengah kegelapan yang nampaknya tidak berujung, diakhir perjalanannya, Ia bertemu dengan seorang gadis yang kesepian.

Lalu, dalam menjawab pertanyaan gadis tersebut, Subaru menceritakan segala hal yang terjadi mengapa Ia bisa terbawa ke jurang ini.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

(Kembali ke saat setelah echidna memperkenalkan dirinya)

"Jadi begitulah, setelah semua hal yang terjadi, akhirnya aku terjatuh dan kemudian berjalan, merasa putus asa dan agak lapar, hingga kemudian aku secara tak terduga bertemu olehmu. .... dah puas?" (Subaru)

"Hu-um, Aku puas. Nampaknya kamu itu orang yang jauh diluar ekspektasiku" (Echidona)

Menutupi mulutnya dengan punggung tangannya, gadis itu tertawa pelan 'Kukuku', disaat Ia menyadari Subaru menatapinya dengan tatapan waspada.

Energi panas telah menyelimuti kedua kaki Subaru, seolah-olah dirinya telah siap untuk kabur kapan saja, dan tangannya terlihat terbuka dan tertutup, seolah-olah bersiap-siap untuk menangkap gadis itu kapan saja.

Tapi sesungguhnya, rencana bodoh Subaru ialah..

"Nggak perlu waspada gitu. Dan lagipula, kamu tentunya sudah yakin bukan kalau betapa kecilnya kesempatanmu untuk menang kalau berhadapan denganku? Keberanian dan sok kuat itu dua hal yang berbeda, namun sering salah diartikan" (Echidona)

"Maafkan aku, tapi mengakui kekalahan bukanlah diriku. Dan disaat kau bilang 'tidak ada yang perlu diwaspadai'.... mengingat diriku saat ini berdiri didepan seseorang yang memanggil dirinya sendiri 'Penyihir Keserakahan', apa memang pantas yang kau bilang itu masuk akal?" (Subaru)

"Oh iya bener juga katamu. Aku yang salah" (Echidona)

Disaat gadis itu mendengar ucapan Subaru yang dipenuhi protes, gadis itu―― yang bernama Echidna, tak mampu mengatur sikapnya. Malah justru terlihat bergembira, mungkin karena melihat sikap keras kepala Subaru yang lucu, perubahan sikap yang ditunjukkan oleh gadis tersebut benar-benar melampaui suatu perubahan dimensi.

Hampir seperti membaca sebuah manga, gadis itu seakan-akan menilai seorang karakter hanya dengan melihat tatapan kedua matanya. Bagi gadis itu, sejak awal Subaru memang tak akan bisa berdiri di tingkatan yang sama dengan dirinya.

Tentu saja karena hal ini, Subaru menatapinya dengan tatapan yang begitu waspada.

Seseorang yang memancarkan aura yang mengerikan hingga melampaui aura mengerikannya Paus Putih. Seseoang yang dipanggil 'Penyihir Keserakahan'. Apakah dirinya ini nyata, bukanlah pertanyaan yang patut ditanyakan saat ini. Pertanyaan yang pantas ditanyakan saat ini ialah, apakah Ia adalah seseorang yang tidak dapat dihadapi dengan mudah, seseorang yang dianggap luar biasa oleh orang-orang seperti Subaru ?

Namun, disaat keringat dingin saat ini mengucur keluar membasahi jidat Subaru, gadis itu memberinya senyum yang ceria,

"Bagaimanapun juga, diperlakukan sangat kejam seperti itu benar-benar membuat hatiku merasa sakit. Seperti yang kau lihat, aku ini cuma gadis biasa yang berhati lembut dan baik hati, 'tau? Kalau lelaki melihat diriku dengan mata seperti itu, Aku tak tau harus berbuat apa lagi" (Echidona)

"Kau lagi nggak bicarain tentang gadis yang memiliki 'DAFTAR ORANG MATI', yang akan ditulisnya di catatan besar berwarna merah, nggak kan? Seperti yang kau tahu, sejak aku datang kemari, sensor kewaspadaan yang berada dalam diriku ini, telah meningkat dengan sangat gila" (Subaru)

Setelah merasakan 'KEMATIAN' berkali-kali sejak datang ke dunia ini, Subaru telah mendapatkan beberapa kemampuan baru. Meskipun kematian nya memberi Ia kesempatan memiliki kemampuan baru, namun tetap Ia bersikeras untuk menjauhi pengalaman mengerikan itu lagi, memaksa dirinya untuk lebih waspada lagi.

Dan berdasarkan hal itu, tingkat bahaya dari gadis ini tidak jauh berbeda saat Ia berdiri dihadapan Betelgeuse.

Namun,

"Kayaknya kita nggak bakal bisa berbicara dengan baik kalau suasananya kaya gini. ――Karena itu, bagaimana kalau begini?" (Echidona)

Mengucapkan ini, Echidna dengan pelan menaikkan tangan kanannya didepan wajahnya. Subaru pun menarik nafas dan dihembuskannya, disaat melihat gerakan yang dibuat oleh gadis itu, dan kemudian, gadis itu membuat sentilan dari jari tangannya yang terangkat.

Suara sentilan pun terdengar―― dan dunia berubah didepan kedua mata Subaru.

Pemandangan ruang berbatu yang dingin dibawah tanah itu lenyap, dan berubah menjadi ladang rerumputan yang ditiupi oleh angin. ――Dan jauh diatas sana terlihatlah sebuah bukit yang kecil,

"Apaa――!?" (Subaru)

"Daripada bermain-main disana gimana kalau kita main-main disini aja?" (Echidona)

Tertawa melihat keterkejutan Subaru melihat sekiling tempat ini, dan bukit kecil diatas, Echidna―― duduk disalah satu kursi yang berada dibawah meja berwarna putih, menunjukkan kursi duduk yang berada didepan kursinya, kepada Subaru, dan menyuruhnya untuk datang dan duduk disana.

Tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, Subaru terlihat ragu-ragu disaat Ia mendatangi dirinya. Dan saat ini terlihat beberapa cangkir teh yang telah tertata rapi diatas meja tersebut.

Melihat Subaru yang terdiam menatapinya, Ia mengucapkan

"Jangan khawatir, nggak ada apa-apa kok didalamnya. Aku bisa meminumnya terlebih dahulu kalau kamu mau? Tapi kalau kamu itu tipe orang yang percaya kalau Penyihir itu nggak bisa diracuni, maka nggak ada gunanya aku melakukan itu" (Echidona)

"....Baiklah aku menyerah. Sejak aku datang kemari, semua akal sehatku telah diacak-acak. Apa sih yang telah terjadi sekarang ini? Apa mungkin kau bisa menggunakan sihir perpindahan-tempat juga?" (Subaru)

Sebelum ini, Subaru sudah pernah merasakan sihir perpindahan-tempat yang diberikan Beatrice kepadanya.

Dengan kedua tangannya, Beatrice melempar Subaru keluar dari 'Perpustakaan Terlarang' dan memindahkannya ke peternakan di Arlam Village.
(TLN: kejadian ini terjadi setelah Ia dilempar keluar di Chapter 3 Prelude: Arc 3 Ch 71)

Menurut perkataan Julius, sihir ini adalah sihir yang telah menghilang(jarang menemukan guru yg dapat mengajari), tapi didepan kedua matanya saat ini adalah seorang Penyihir, maka masuk akal hal ini dapat terjadi.

"Perpindahan-tempat.... ohh, sihir kegelapan. Nggak, kamu salah paham. Sihir itu memiliki banyak kerugian. Aku nggak suka dengan sihir itu, jadi aku nggak pernah pake sihir itu. Saat ini aku cuma melakukan trik kecil. Aku bebas dapat berbuat apapun disini. Karena disini adalah benteng perlindungan ku, bagaimanapun juga" (Echidona)

"Benteng perlindunganmu...?" (Subaru)

Mengerutkan dahinya disaat mendengar perkataan Echidna, Subaru melihat kesekitarnya sekali lagi.

Angin yang menggerakkan rumput-rumput tidak ada habisnya, dan di setiap arah tidak terlihat apa-apa selain cakrawala. Memang faktanya, pemandangan kali ini benar-benar terlihat begitu fantastis, entah pemandangan kosong ini benar-benar nyata atau tidak, tapi itu adalah masalah yang berbeda.

Menyadari hal ini, Subaru menelan ludahnya dan kemudian mengangkat bahu dengan senyum diwajahnya,

"Sayangnya, aku tidak melihat kastil ataupun gubuk disekitar sini. Apakah benteng perlindunganmu sedang dalam masa pembangunan saat ini atau semacamnya? Ataukah mereka telah menyita semuanya kecuali meja dan kursi mu saja gara-gara kau nggak bisa bayar pinjamannya?" (Subaru)

"Fufufufufufu. Kamu benar-benar orang yang lucu ya. Didepan kedua mataku, cuma beberapa orang yang dapat mengucapkan kata-kata kasar seperti itu, kecuali penyihir lainnya seperti diriku. Beneran dah, setelah kematianku, Aku nggak nyangka kalau jumlah orang yang seperti itu bakal bertambah" (Echidona)

Echidna teringat oleh jumlah keberapa kalinya Ia telah mendengar dan menertawakan candaan yang seperti itu, dan telah menambah Subaru kedalam daftar seseorang yang dapat memberinya rasa kegembiraan yang besar.

Tapi disisi lain, Subaru saat ini begitu serius disaat Ia mendengar kalimat yang terdengar jelas ditengah-tengah ucapan gadis itu. Karena baru saja tadi, Gadis itu mengucapkan 'Setelah kematianku'.

"Kalau memang benar kalau kau itu Penyihir Keserakahan, maka harusnya kau saat ini sudah mati kalau aku nggak salah ingat. Aku datang kemari untuk mengunjungi makammu, sebenarnya" (Subaru)

"Oh kalau begitu aku benar-benar sangat berterima kasih. Kalau kamu ingin membawakanku beberapa bunga, tolong taruh bunga-bunga itu didekat pintu masuk tempat ini ya. Aku ini orang yang nggak suka sama alcohol, jadi kalau kamu ingin menyuguhkan sesuatu padaku, tolong berikan sesuatu yang manis-manis yah" (Echidona)

"Jadi budaya 'sesajian' juga ada didunia ini, ya.... maafkan aku, tapi aku nggak bawa apa-apa dan aku lupa untuk membeli bunga. Jadi tolong nikmati saja senyumku ini" (Subaru)

Senyumannya itu adalah senyuman yang indah, seindah bunga yang bermekaran–– meskipun bunga-nya itu bunga yang beracun sih.

Disaat Subaru memamerkan senyumannya, Echidona tertawa dengan gembira. Kemudian dia mengambil secangkir minuman yang terletak dimeja, lalu meminumnya, dan kemudian Ia mengucapkan,

"Aku belum pernah meminum teh segembira ini selama hidupku. Seperti yang ku duga, masih banyak hal yang harus aku temukan dalam hidupku, meski diriku telah mati. Menemukan penemuan-penemuan baru yang tak ada habisnya" (Echidona)

"Kau tahu, pembicaraanku antara diriku dengan dirimu saat ini benar-benar terlihat aneh. ......Sialan, aku akan meminum ini. Aku minum aja dah nih air!" (Subaru)

Bertingkah dengan sangat waspada didepan seseorang yang sama sekali tidak menunjukkan pertahanan, membuat dirinya merasa bodoh, jadi Subaru, seolah-olah menutupi sikapnya itu, menyambar secangkir minuman yang ada diatas meja dan meneguk habis isinya dengan sangat cepat.

Ini bukanlah air, ataupun teh, ataupun teh hitam, namun memiliki rasa yang tak dapat dipahami. Rasanya enak, juga.

"Meminum sesuatu yang diberikan Penyihir kepadamu, kamu benar-benar orang yang berani ya" (Echidona)

"Haaa~. Setelah sejauh ini, bagaimana bisa aku merasa takut sekarang. Terlebih lagi, kalau memang kau ingin membunuh ku maka seharusnya aku sudah menjadi abu sekarang. Jadi nggak mungkin aku akan takut cuma dengan secangkir teh" (Subaru)

Melambaikan tangannya, Ia pun menempatkan cangkir yang kosong itu kembali ke meja sambil berkata 'Terima kasih atas tehnya', dan kemudian melanjutkan,

"Rasanya nggak terlalu enak atau buruk juga tapi, teh apa sebenarnya ini?" (Subaru)

"Mengingat cangkir ini terbentuk didalam benteng perlindunganku. Maka aku menamainya, cairan tubuhku" (Echidona)
(TLN: WTF..)

"KENAPA KAU MEMBIARKAN DIRIKU MEMINUMNYA!?" (Subaru)

Subaru terbangun melompat hingga menjatuhkan kursinya, dan berusaha memuntahkan apa yang telah diminumnya. Tapi, gadis itu hanya tertawa 'kukuku' dengan pelan, menanggapi reaksi dramatis Subaru saat ini.

"Jahatnya. Diriku nggak seburuk itu kali" (Echidona)

"Meskipun cairan itu berasal dari tubuh seorang gadis yang cantik, tetap aku nggak mau meminumnya tanpa persiapan terlebih dahulu! Dan meskipun aku telah siap, tetap aku nggak suka meminum apapun yang berasal dari cairan tubuh! Hal yang kusuka itu normal, 'tau!?" (Subaru)

Ia itu adalah tipe orang yang tidak menyukai hal seperti ludah seseorang ataupun keringat, setidaknya itulah yang Ia katakan.

Namun jika itu adalah milik Emilia tau Rem, Ia mungkin tidak keberatan untuk melakukan itu, dan kenyataan ini tetap disembunyikan didalam hatinya, dan Ia pun melanjutkan berbicara,

"Sial, aku nggak bisa muntahin ini. –––Oi, air ini nggak akan membahayakan tubuhku atau semacamkan kan?" (Subaru)

"Santai saja. Air itu akan mudah dicerna oleh tubuh tanpa gangguan sedikitpun. Karena, air itu adalah cairan tubuh, bagaimanapun juga" (Echidona)

"Yang kau katakan itu bukan hal yang baik, jadi berhenti menunjukkan ekspresi seperti itu!" (Subaru)

Melihat sikap Echidna yang agak sombong, Subaru memanas. Dan Echidna, menanggapi Subaru yang menyuarakan keberatannya, Ia hanya memiringkan cangkir kosong yang berada ditangannya, dengan wajah yang santai, dan kemudian Ia mengucapkan 'Bagaimanapun juga',

"Kamu ini benar-benar orang yang menarik. Fakta kalau kau berdiri didepanku dengan sangat santai ini buktinya" (Echidona)

"Apa seseorang biasanya saat melihat kecantikanmu, akan pingsan seketika? Biar aku katakan ini dulu, Mataku ini setiap hari sudah dibekali pemandangan gadis-gadis yang kuanggap sangat cantik. Jadi meskipun aku melihat dirimu, aku nggak menganggap dirimu itu seimut gadis yang kuanggap sangat cantik itu" (Subaru)

"Nggak bukan itu, disaat manusia biasa, berdiri memuntahkan isi perutnya didepan diriku. Penampakan yang seperti itu, benar-benar terlihat lucu kan?" (Echidona)

"Apanya yang lucu memang dari itu!?" (Subaru)

Dari awal, percakapan mereka tidak menghasilkan apa-apa selain hal yang tak penting. Subaru pun akhirnya melihati sisi lain dari gadis yang duduk di kursi itu,

Rambutnya dan sekujur tubuhnya begitu putih layaknya salju. Bajunya yang hitam hampir terlihat seperti Ia sedang mengenakkan pakaian berkabum, dan hal yang tersisa dari masa mudanya itu memancarkan pesona kecantikannya. Ia pun merenung dan memikirkan bagaimana bisa seorang gadis cantik berpakaian berkabum, bisa terikat oleh hal yang berbau magic, tapi tetap saja, walau begitu gadis itu tidak pernah menghilangkan aura mengerikan dari dirinya, yang membuat dirinya dianggap sebagai sebuah ancaman.

"Kalau gitu–––" (Echidona)

Kemudian, menatapi Subaru yang kewaspadaannya tak kunjung juga menghilang, gadis itu menempatkan cangkir kosongnya ke meja, dan, menggerakkan jarinya pada pinggiran cangkir itu, sambil berbicara,

"Berbicara seperti ini terasa sangat santai bagiku tapi.... tidak untukmu, kan? Kurasa ada sesuatu yang ingin kamu katakan, atau ingin ditanyakan?" (Echidona)

"...Yap benar. OH IYA BENER BANGET!! Terhanyut dalam atmosfir seperti sekarang ini membuat diriku benar-benar lupa, tapi kau benar. Apa kau ini... nggak, sebelum itu, sebenarnya dimana ini? Apa kita sekarang ini benar-benar sedang berada didalam makam?" (Subaru)

Menurut Subaru, tempat ini terhubung dengan tempat dimana Ia terjatuh saat dimakam tadi.

Ia benar-benar percaya kalau tempat yang suram sebelumnya tadi, berasal dari bagian bawah makam itu. Dan menurutnya sekarang ini, Ia telah dipindahkan ke padang rumput. Meskipun entah mengapa Ia ragu apakah pemikiran ini benar.

Terhadap pertanyaan Subaru, Echidna dengan lembut membelai rambutnya sendiri dengan tangannya, dan lalu mengucapkan,

"Yang kau bilang itu setengah benar dan setengah salah. Tubuhmu memang berada didalam makam, tapi alam bawah sadarmu saat ini berada didalam benteng perlindunganku. Aku menyebut tempat ini, alam mimpi" (Echidona)

"Alam mimpi....? Tapi, aku nggak ingat pernah ngeliat mukamu, sampe-sampe aku memimpikanmu seperti ini" (Subaru)

"Kamu saat ini berada didalam 'sebuah mimpi', tapi bukan berarti ini adalah mimpimu. Ini adalah benteng perlindunganku––– jadi, saat ini kamu berada didalam 'mimpiku'. Tapi apa kamu yakin... kalau kamu tidak mengenal ruangan yang mirip seperti ini?" (Echidona)

Terhadap pertanyaan Echidna, Subaru menahan nafasnya. Dan kemudian Ia dengan pelan menggelengkan kepalanya,

"A, Apa alasanmu mengatatakan hal seperti itu..." (Subaru)

"Aku memang nggak ada bukti. Tapi, entah bagaimana, aku cuma merasakannya. Aku merasa dirimu yang tidak tahu ini, sesungguhnya sudah tahu dari awal; Aku cuma merasa kalau kamu bersikap, seperti itu" (Echidona)

"....memang benar, kalau aku nggak tahu dari awal. Tapi, kurasa yang kau katakan itu sepenuhnya nggak salah juga" (Subaru)

Apa yang dikatakannya sesungguhnya tidak buruk, tetapi bagi Subaru, Ia merasa apa yang dikatakannya itu terasa seperti tuduhan baginya.

Apa yang dikatakan Echidna tidaklah salah, namun apa yang dikatakan Subaru juga tidaklah salah.

Disaat Ia diberitahu kalau dirinya saat ini berada didalam sebuah mimpi, Subaru, disaat setelah dirinya terkejut, Ia dapat dengan mudah mempercayai hal itu. Seolah-olah Ia sudah tahu dan dianggap benar oleh hatinya.

Kenapa bisa seperti itu―― Ia tak dapat menemukan alasannya meskipun Ia mencari diantara sekian ingatannya,

"Oke aku akan menganggap kalau ini adalah mimpimu untuk saat ini. Jadi kalau gitu sekarang, bagaimana cara aku keluar dari sini?" (Subaru)

"Untuk bangun dari alam mimpi, salah satu diantara mereka harus memiliki keinginan untuk bangun sendiri, atau dibangunkan dari luar. Namun, kalau ada seseorang yang ingin mencoba membangunkanku dari luar, sayangnya tubuhku sudah tidak ada lagi, dan sangat sulit untuk membangunkan dirimu sendiri dari dalam mimpi orang lain. Jadi, kamu nggak akan bisa bangun sampai aku menginginkan kamu pergi, dan memutuskan dirimu untuk bangun" (Echidona)

"――! Kalau gitu, apa kau berencana.............." (Subaru)

Subaru menggigil disaat mendengar kalimat Echidna.

Benteng Perlindungannya, rupanya kalimat itu mengartikan bahwa tempat ini adalah alam kehidupan miliknya. Arwah subaru, saat ini terkerat dalam genggamannya. Kehendak gila dari sang penyihir yang dikatakan Ram―― kebenaran dari ucapannya itu, saat ini terngiang-ngiang dikepala Subaru.

"..........untuk tidak membiarkanku pergi dari sini..?" (Subaru)

Meskipun Ia saat ini telah memasang kewaspadaan yang tinggi, namun Ia telah mengucapkan hal yang dapat membawanya kedalam keadaan yang fatal. Fakta kalau gadis itu telah menunjukkan sosok sesungguhnya dari dirinya, Ia sudah paham kalau dirinya tidak mungkin dapat menghadapi gadis itu.

Dan sementara, dalam merespon pertanyaan Subaru, gadis itu hanya mendesah kemudian mengucapkan,

"Nggak, nggak juga lah. Aku akan membiarkanmu pergi kalau kamu menginginkannya, 'tau? Aku bukanlah orang yang kamu panggil kemari, tapi kamulah yang datang sendiri padaku, bagaimanapun juga" (Echidona)

"Bagaimana menurutmu tentang diriku yang tegang saat ini? 'Serius-san' saat ini nggak bernapas sama sekali, lho" (Subaru)

"'Serius-san', tidak terlihat seperti dirimu, Ia saat ini tidak berada didepanku. Mungkin Ia saat ini sedang muntah-muntah dibawah pohon?" (Echidona)

Dihadapan Echidna yang terlihat lemah ini, Subaru tetap merasa dirinya tidak memiliki kekuatan apapun.

Sesungguhnya, apa yang ingin gadis itu lakukan dengan datang berbincang-bincang dengan dirinya?

Pembicaraan mereka begitu singkat, bahkan Subaru sama sekali tidak memahami sosok seperti apa gadis itu sampai saat ini. Namun, mengingat dirinya seorang penyihir, tidaklah heran kalau sangat susah untuk memahami dirinya dengan cepat.

"Kalau begitu, bisakah kau membiarkan diriku pergi. Karena kemungkinan diluar sana seorang gadis sedang menunggu dan mulai khawatir terhadap diriku. Kalaupun aku ada waktu untuk meminum cairan tubuhmu, aku lebih memilih untuk kembali pada gadis itu sehingga dia nggak akan khawatir denganku" (Subaru)

"Baiklah aku nggak masalah sih, tapi kamu yakin nggak masalah?" (Echidona)

"Nggak masalah dengan apa?" (Subaru)

"Kembali dan pergi meninggalkan diriku. –––Kesempatan untuk berbicara dengan penyihir keserakahan itu, nggak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti itu meskipun mereka berusaha mati-matian" (Echidona)

Inilah yang dikatakannya, dan ini adalah pertama kali Subaru mengerti ucapannya dan meresponnya dengan serius.

Yak. Ia terlihat sangat serius. Selama ini dia hanya berfokus terhadap ancaman dari gadis itu, dan telah mengabaikan hal yang paling penting. Jika dia adalah penyihir keserakahan, jika memang dia benar-benar dilahirkan memiliki nama ini, maka,

"Apa kau...... tahu jawaban, dari hal yang ingin kutahu?" (Subaru)

"Kau ingin menanyakan padaku, tentang keberadaan seseorang―― kan?" (Echidona)

Merespon perkataannya Subaru, sekali lagi, Echidona tertawa 'kukuku..'. Kali ini tawa-nya terdengar sangat bahagia, bertentangan dengan perasaan sesak yang saat ini Subaru rasakan, yang mana lebih kuat dibanding sebelumnya.

Atmosfir seketika berubah, suasana dari padang rumput tak berujung itu tiba-tiba runtuh. Langit pun retak, rerumputan terbakar, dan dunia disana mulai terlihat hancur.

Merasakan goncangan dari hal yang tak nyata tersebut, Subaru dengan cepat menempatkan kedua tangannya ke meja, yang sudah pasti kalau benda itu nyata. Tapi disaat Ia menyentuhnya, benda itu hancur berhamburan seolah-olah berubah menjadi pasir, dan kemudian,

"Seperti yang kuduga, kamu ini benar-benar makhluk yang lucu" (Echidona)

Gadis itu melihat keatas, lalu kemudian pemandangan disekitar Echidna pun menghilang, dan benda berbentuk aneh pun menutupi dunia disana. Sebuah bayangan pun muncul, lalu kemudian bayangan itu mengulurkan tangan dan kakinya untuk mengikat dan melekat pada tubuh Subaru.

Terhadap perubahan yang mendadak ini, Subaru mencoba mati-matian untuk melarikan diri, tapi semua hal yang berada disekitarnya telah runtuh. Tangga untuk melarikan diri tidak ada. Dan dengan begitu, dunia benar-benar lenyap.

"Kalau kamu ingin bertukar pikiran, maka tempat ini cukup. Untuk mencari tahu apa yang ingin kamu tahu. Rasa ingin tahumu yang menggebu-gebu――atau dengan kata lain, keserakahan-mu, Aku dengan senang hati mengizinkannya" (Echidona)

Apa yang tersisa disekitar mereka saat ini adalah, ruangan yang hanya berisi kursi dan telah diduduki oleh mereka berdua. Mereka saat ini berjarak begitu dekat, hingga sangat mudah untuk bersentuhan jika Subaru menjulurkan tangannya.

Mereka saat ini berada didalam sebuah dunia dimana mereka saling berhadapan, duduk satu sama lain, bertukar pikiran.

Disaat udara dingin menerjang tulang belakang Subaru, sedang duduk santai dikursinya, Echidona terlihat bersemangat.

Ia pun menepukkan kedua tangannya, dan menatap Subaru dengan kedua matanya yang berkilauan,

"Ayolah, kamu mau nanyain apa? Kalau yang kamu tanyakan tentang hal yang aku ketahui, maka aku dengan senang hati akan menjawab semuanya. Apakah ini tentang 'Penyihir Kerakusan' Daphné, yang menciptakan binatang yang berasal dari Tuhan, untuk menyelamatkan dunia dari kelaparan? Ataukah tentang 'Penyihir Nafsu' Carmilla, yang menciptakan rasa emosi bahkan kepada mereka yang bukan manusia, untuk melengkapi dunia dengan rasa cinta? Ataukah tentang 'Penyihir Kemurkaan' Minerva, yang memukul dan menyembuhkan setiap orang, dari kesedihan akan dunia yang penuh konflik? Ataukah tentang 'Penyihir Kemalasan' Sekhmet, yang telah melepas Naga, diatas air terjun yang besar, demi memberi kedamaian pada dunia? Ataukah tentang 'Penyihir Keangkuhan' Typhon, yang terus menilai seseorang berdasarkan ketidakadilan dan kekejaman yang dialami dirinya saat masih muda?" (Echidona)

Mereka semua belum pernah didengar oleh Subaru sebelumnya―― atau lebih tepatnya, mereka semua adalah legenda yang seharusnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Dijejalkan oleh tumpukkan informasi, Subaru tak dapat berkata apa-apa. Sementara didepan dirinya, Echidna masih tetap tertawa.

"Ataukah ini tentang 'Penyihir Keserakahan' Echidna, Inkarnasi dari Rasa Haus Akan Pengetahuan, yang tetap tinggal bersama penyesalannya didunia, untuk mencari setiap kebijaksanaan yang masih tersisa didunia ini?" (Echidona)

Menunjuk dirinya sendiri, seolah-olah Ia sedang menghina dirinya sndiri, dan kemudian setelah itu Ia melanjutkan mengucapkan 'Ataukah..',

"Penyihir Kecemburuan, yang telah memusnahkan setiap Penyihir dan menjadikan mereka santapannya, serta menjadikan setiap isi dunia sebagai musuhnya––– apakah yang ingin kamu tanyakan, tentang dirinya?" (Echidona)

-=Chapter 10 End=-

(TLN: Maafkan ane atas keterlambatan perilisan novel yang teramat sangat menakjubkan ini, njeer kata-katanya :v, soalnya ane lg fokus ujian, jd waktu terbatas, tapi setelah ini semua selesai, perilisan akan lebih cepat dari skrng ini, maaf sekali lagi ya :) )

Previous Chapter – Daftar Isi – Next Chapter

No comments:

DMCA.com Protection Status