Evil God Average Chapter 13 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Evil God Average Chapter 13 Bahasa Indonesia

March 13, 2017 Christian Tobing

Translator: KIV
Editor: CTian

Chapter 13 - Terpojok

Alarm yang menandakan adanya penantang dungeon berbunyi. Suara yang sudah lama tak terdengar sejak kuubah alarmnya agar hanya berbunyi saat ada yang menembus lantai 4. Aku jadi sedikit tegang. Duduk di ruang kerjaku dan melihat para pengunjung di layar seperti biasanya, aku melihat sebuah tim beranggotakan 4 orang. Dua di antaranya adalah wanita.
Memeriksa status dari para penyusup ini, aku menemukan hal yang mengejutkan.





Name    : Arc
Race      : Human Race
Sex         : Male
Age        : 25
Job         : Swordsman
Level     : 38
Title       : Hero of the Holy Sword

Name    : Zio
Race      : Human Race
Sex         : Male
Age        : 28
Job         : Swordsman
Level     : 33
Title       : None

Name    : Frey
Race      : Human Race
Sex         : Female
Age        : 24
Job         : Mage
Level     : 33
Title       : None

Name    : Widdi
Race      : Human Race
Sex         : Female
Age        : 19
Job         : Cleric
Level     : 31
Title       : None



Wira…? (TLN: wira menurut KBBI memiliki makna pahlawan; laki-laki. Untuk sementara istilah Hero() akan diterjemahkan sebagai pahlawan/wira, tergantung mana yang lebih enak didengar)

Aku terkejut saat melihat title yang dimiliki wira tampan berambut pirang pendek yang berperan sebagai vanguard (TLN: garda depan). Ya, aku tahu ini dunia fantasi, karena itu sosok pahlawan bukanlah suatu hal aneh. Tapi bisa melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri tetap saja adalah hal yang mengejutkan. Ditambah lagi,  karena ‘title’-nya diperlihatkan, berarti dia mendapat pengakuan sebagai seorang pahlawan oleh ‘sesuatu’. Aku tidak tahu dia diakui oleh dewa atau sebuah kerajaan, tapi di antara para penantang dungeon yang datang sejauh ini, tak ada seorang pun yang menyandang title tersebut.
Selain si wira dengan status sewajarnya seorang pahlawan, anggota timnya yang lain juga memiliki level yang jauh di atas rata-rata.
Apa ini berarti aku ada dalam masalah…?
Aku sudah menambah jumlah lantai di dungeon ini hingga lantai 27, tapi aku tetap khawatir apa itu cukup untuk membuat mereka tidak akan mencapi ujung. Asumsikan mereka benar-benar bisa sampai ke bawah sini, apa yang harus kulakukan? Apa yang akan mereka lakukan? Saat aku melihat pedang mengkilap yang dipegang si pahlawan, keringat dinginku bercucuran. Berdoa agar mereka tidak akan sampai ke sini, aku kembali memperhatikan penjelajahan mereka.

“Efek barrier-nya akan habis, barrier-nya kubuat ulang, ya?”
“Ok. Tolong, ya, Widdi.”

Widdi yang mengenakan pakaian biarawati menyampaikan usulannya, kemudian mereka menetap di sebuah ruangan besar. Setelah Widdi melafalkan sihirnya, dalam sekejap mereka semua diselubungi oleh cahaya putih. Cahaya tersebut tak lama menghilang, namun kalau diperhatikan saksama, seluruh tubuh mereka kini sedikit bersinar.

“Setidaknya dengan ini, kita akan sementara terlindung dari miasma, kan?”
“Sampai di lantai 4, miasmanya jadi begitu tebal. Kalau tidak ada barrier Widdi, kita mungkin tidak akan bisa melangkah jauh.”
“Fufu, aku senang bisa berguna. Tapi barrier-ku mungkin sia-sia karena kita punya perlindungan dari pedang suci Arc-sama.”
“Tidak, kok. Walau kita diperkuat pedang suci, kurasa kita tetap akan merasa tidak enak kalau diselimuti miasma jahat seperti ini.”

Ya, maaf sudah menjadi jahat.
Tapi, ternyata priest punya cara melindungi dari dari miasma, ya? Ini informasi penting. Selain itu, enchantment yang ada di pedang suci Arc terbesit di pikiran.

“Ngomong-ngomong, dungeon ini baru saja dibuat kan? Memangnya ada berapa lantai di sini?”
“Biasanya butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa berkembang kan?”

Sepertinya karena mereka harus diam sementara untuk memasang kembali barrier, mereka juga memutuskan untuk bersitirahat di ruangan yang sama. Sembari mengawasi sekitar, mereka duduk dan mulai bercengkerama.

“Sebenarnya waktu dungeon master sebelumnya dibasmi, tempat ini hanya sedalam 3 lantai. Guild yakin kalau dungeon master yang sekarang ini mengambil alih dungeon itu dan mengubahnya menjadi seperti ini.”
“Tapi karena sekarang kita di lantai 4, berarti dungeonnya berubah dalam waktu singkat kan?”
“Kau benar, frey.”
“Yah, tapi aku tetap ragu jumlah lantai dungeon ini mencapai 2 digit. Aku tidak tahu kapan dungeon master yang baru datang, tapi paling lama pun harusnya belum mencapai satu bulan.”

Maaf, tapi tempat ini sudah 27 lantai.
Akan lebih mudah bagiku kalau mereka optimis seperti ini, aku tidak akan merusak kesenangan mereka.

“Dungeon master… ya…”
“Kenapa, frey?”
“Aku penasaran dungeon master-nya seperti apa. Impresi yang ada selama ini terlalu acak… kalau dilihat, dia menyebarkan miasma menyeramkan, tapi di sisi lain semua jebakannya tidak ada yang mematikan…”

Melihat si kakak penyihir yang seksi itu terdiam berpikir, Arc menanyakan hal tadi namun dijawab ragu oleh Frey. Memang kalau menggunakan sudut pandang orang luar, akan terpikir bahwa dungeon master tempat ini tidak jelas. Ngomong-ngomong, miasma ini keluar bukan karena keinginanku. Kalau dari sudut pandangku sih, aku sudah mencoba membuat semuanya konsisten.

“Oh iya, kalau tidak salah belum ada satupun korban jiwa di “Evil Cave of the Robber’, kan? Tiap kali ada yang dikalahkan monster dan pingsan, hanya item dan senjatamu yang diambil dan tubuhmu dilempar kembali ke pintu masuk.”
“Ah... Pantas saja disebut sebagai ‘robber’.”
“Tapi tetap saja kita tidak bisa gegabah. Monster yang muncul adalah musuh kuat yang bisa menghabisi kita dalam sekejap. Walaupun perangkapnya tidak mematikan, tetap saja meretia berbahaya dan bisa membuat kita dalam masalah. Lalu misalnya pedang suciku dicuri, aku tidak mungkin lagi bisa menghadap Dewi Sophia.”
“Aku tidak yakin mahluk jahat bisa menyentuh pedang suci, tapi ada benarnya sih.”

Dewi Sophia, ya? Apa itu nama dewi yang dipuja di dunia ini? Ngomong-ngomong, ketika aku menuju gereja Riemel, sepertinya aku sempat melihat ada patung dewi jauh di dalam gereja. Sayang sekali aku tdak sempat memperhatikan detailnya.
Di duniaku sebelumnya, aku tidak percaya pada dewa. Tapi kalau ada dewa jahat, tidak aneh juga kalau ada dewa-dewi yang lain… eeh, aku malah tidak suka kalau hanya ada dewa jahat, jadi kuharap mereka juga ada. Yah, karena ada priest yang bisa menggunakan skill, setidaknya itu jadi bukti bahwa kekuatan para dewa benar-benar ada.
Melihat dari title yang dimiliki Arc dan dari pembicaraan tadi, mungkinkah dia menerima pedang suci dari si dewi? Kalau dari namanya sih, pedang itu harusnya memiliki kekuatan suci. Karena di dungeon ini ada banyak undead, pedang itu dapat dikatakan sebagai musuh alami mereka.
Karena aku sempat terhalang oleh barrier gereja, aku mungkin juga akan kesulitan saat menghadapi pedang itu. Tapi ya, walaupun kekuatan pedangnya tidak ada, aku tetap tidak mau ditebas.

“Aku tidak tahu dungeon master-nya orang yang seperti apa.Tapi yang pasti, sifatnya buruk sekali.”
“Ahaha, benar. Dia kelihatannya mata duitan, jadi mungkin saja dia berpenampilan seperti OKB (tln: orang kaya baru). Aku yakin dia buncit dan tubuhnya penuh dengan lemak.”
“Fufu, benar juga.”

Ka-Kalian ini… aku jadi pengen menghajar mereka…
Aku yakin tadi itu hanya perbincangan tanpa makna, tapi tuduhan mereka pada seorang gadis barusan itu kejam, tahu? Karena marah, aku mengirimkan monster yang ada di lantai 4 ke arah mereka dan di saat yang sama, aku menyalurkan mana untuk meningkatkan kemunculan monster mulai dari lantai 5 ke bawah.
Tidak mengetahui aku yang sedang marah dari balik layar, tim wira tersebut berhenti istirahat dan melanjutkan penjelajahan mereka.
Aku sedikit heran bagaimana mereka bisa menghindari perangkap tanpa seorang scout, tapi sepertinya si hero yang mendeteksi semua perangkapnya dengan intuisi. Mungkin saja kekuatan dari pedang sucinya. Dari perbincangan tadi sih kemungkinannya cukup besar dan sepertinya pedang itu juga multifungsi ya? Entah kenapa aku merasa pedang itu mungkin tidak bisa lagi disebut sebagai ‘senjata’.
Namanya juga tim level tinggi, mereka bisa dengan mudah mengusir serangan monster-monster yang jumlahnya sudah kutambah. Para Skeleton Lord ditebas dengan pedang suci Arc, tinju para Black Steel Golem ditahan dengan perisai Zio. Para Wraith dilontarkan dengan api dan es yang ditembakkan Frey. Bahkan para Chaos Elemental berhasil disucikan dengan sihir Cahaya yang ditembakkan Widdi.
Walau tidak sepenuhnya tanpa luka, mereka berhasil masuk lebih dalam di dungeon tanpa luka fatal dan hanya butuh sekitar 2-3 jam bagi mereka untuk menyusuri setiap lantai. Sekarang mereka sudah ada di lantai 7, namun hari beranjak malam. Mereka terlihat mulai lelah dari gerakan yang mulai tersendat. Utamanya, anggota wanita yang ada dibelakang dengan stamina rendah. Mereka kini menyeret tubuh mereka, nyaris pingsan. Kalau dilihat lagi, hanya si pahlawan yang baik-baik saja. Aku tidak tahu itu berkat pedang suci atau karena tubuhnya yang begitu kuat.

“Bagaimana kalau kita istirahat dulu, Arc?”

Menyadari para wania yang kelelahan, di salah satu ruangan besar, Zio mengusulkan hal tersebut pada Arc.

“Hmm, ok. Sudah setengah hari sejak kita masuk dungeon ini. Aku tidak menyangka akan sedalam ini sehingga tidak mempersiapkan peralatan berkemah. Ayo bagi waktu tidur dan berjaga secara bergantian.”

Mendengar kata-kata Arc, Frey dan Widdi terduduk di tanah, menghela nafas lega.

“Se-Selamat…”
“…Haa… Hiii…”

Widdi bahkan sepertinya sudah tidak bisa bicara. Kalau mereka bisa menembus setiap lantai dalam 2 jam, tetap butuh waktu lebih dari 2 hari untuk mencapai lantai 27 di mana aku berada. Tidak menyangka situasi dan menyiapkan peralatan kemah, membasmi dungeon ini akan jadi hal sulit. Memperhitungkan itu, sepertinya mereka tidak akan bisa menaklukkan dungeonnya dalam kesempatan ini. Aku jadi sedikit lega.
Lalu, ini mungkin sedikit menyimpang dari topik, tapi aku menempatkan toilet di sebuah ruangan di setiap lantai. Mereka adalah orang pertama yang menjelajah dungeon begitu lama sehingga aku tidak menyadari suatu masalah. Karena itu aku jadi menyaksikan pemandangan mengerikan saat si pahlawan tampan berambut pirang menyelesaikan ‘urusannya’…. Hanya memastikan, aku tidak mengintip dari sela-sela jariku, ok? Para wanita bahkan lebih kasihan lagi, melihat si biarawati cantik itu dengan wajah merah tomat dan hampir menangis, mengatakan dia harus ke kamar mandi membuatku sedikit bersimpati sehingga aku memutuskan membuat toilet. Perbincangan mereka saat istirahat memang membuatku marah, tapi, rasa simpatiku terhadap sesama jenis terasa lebih kuat.
Tidak ada lagi dungeon yang seperti ini, tahu?

Untuk sekarang, mereka mungkin tidak akan bergerak hingga pagi, jadi aku memutuskan pergi tidur.

No comments:

DMCA.com Protection Status