Evil God Average Chapter 14 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Evil God Average Chapter 14 Bahasa Indonesia

March 21, 2017 Exicore

 

Translator: KIV

Chapter 14 - Musuh Alami


Ketika fajar menjelang, kukenakan jubah yang tadinya kusingkap di atas tubuhku dan menuju kamar mandi. Untuk saat ini, karena kutukan pakaian yang akan auto-equip bila dilepas 30 menit, aku terpaksa menjadikannya selimut setiap kali pergi tidur. Setelah mencuci muka untuk mengusir rasa kantuk, aku menuju ruang makan yang menempel dengan dapur, menemui Tena yang saat ini tengah menyiapkan sarapan.

“Pagi.”


“Ah-, pagi, Anri-sama.”

Tena membalas dengan energik ucapan selamat pagiku. Duduk menghadap meja makan, sarapanku dengan segera disiapkan olehnya. Roti bakar dengan telur mata sapi, selada, dan sup; kombinasi sarapan yang sehat. Aku bisa saja memaksanya menyiapkan sarapan ala jepang, tapi karena dunia ini tak memiliki nasi ataupun miso, aku jadi tak bisa terlalu menuntut.

Tena lalu menyiapkan menu yang sama di seberang meja dan ikut duduk. Butuh cukup banyak usaha untuk memaksanya makan bersama karena dia terus-terusan menolak, namun pada aku berhasil meyakinkan dia untuk selalu sarapan bersama. Aku bukan seorang bangsawan, jadi cukup sulit bagiku untuk tidak menghiraukan orang yang berdiri selagi aku makan.

“Selamat makan.”

“Selamat makan.”

Nyam, nyam, ini enak. Walau sederhana, tapi rasa masakan Tena selalu terjamin. Aku belum bertanya mengenai kehidupannya dulu ketika masih di desa, tapi melihat dari sifatnya, dia mungkin tipe anak yang rajin membantu orang tua.

“Ngomong-ngomong…”

“Ya?”

“Pernah dengar soal ‘Dewi Sophia’?”

“Sang Dewi? Tentu saja, tapi….”

Saat kucoba tanyakan itu saat makan, aku baru mengetahui bahwa itu adalah nama dewi yang dipuja oleh agama mayoritas di dunia ini, Sacred Light Faith (聖光). Sepertinya dia adalah dewi yang menciptakan dunia ini. Sebagai dewi cahaya, dia melawan dewa jahat dan mendampingi umat manusia melalui pemberian rahmat (divine protection) dan diturunkannya wahyu (divine revelation). Mereka yang mendapatkan rahmat kuat akan muncul menjadi seorang pahlawan demi menghadapi raja iblis, sosok yang dilahirkan dewa jahat yang membawa malapetaka pada umat manusia.

“A-Anu… tentu saja saya tetap setia pada Anri-sama! Sang Dew- maksudnya, Si Dewi sudah tidak berarti lagi!”

“Aku tidak keberatan kau tetap memanggil si dewi dengan sebutan hormat.”

Mungkin karena salah paham setelah melihatku yang diam karena berpikir, Tena mengatakan kalimat barusan dengan sedikit terbata. Menyelamatkanya tempo hari, aku memberikan semacam rahmat (divine protection) kepada Tena dan memberitahukannya kalau kekuatan yang kuberikan sebenarnya berasal dari dewa jahat. Tentu saja aku tidak menceritakan kalau aku berasal dari dunia lain.

Tapi ya, karena aku hanya manusia biasa yang diberikan terlalu banyak kekuatan oleh si dewa jahat, aku tidak punya alasan kuat untuk memusuhi si dewi. Selama aku tidak diserang, aku lebih memilih si dewi berusaha untuk menghabisi si dewa jahat sih.

“Tahu sesuatu soal si wira?”

“Sang Wi- maksudnya, si pahlawan? Kudengar dia orang yang menerima rahmat khusus dari si dewi dan berjuang melawan raja iblis. Kalau aku tidak salah, saat ibunya nenek saya masih kecil, pernah ada perayaan besar di seluruh negeri karena Sang Wira pada saat itu berhasil menaklukkan Raja Iblis.”

Loh… jadi Raja iblisnya sudah ditaklukkan? Aku tidak tahu soal ekspektasi hidup dunia ini, tapi setidaknya masa saat nenek buyut Tena masih kecil paling tidak terjadi sekitar 50 tahun lalu. Kalau dilihat dari umurnya, si pahlawan yang datang ke dungeon ini harusnya orang yang berbeda. Kalau begitu, kenapa si dewi memberikan rahmatnya? Apa mungkin karena ada raja iblis lain?

“Apa raja iblis jumlahnya banyak?”

“Saya hanya pernah mendengar satu. Tapi, pernah ada pendeta yang datang ke desa kami dan bercerita walau raja iblis dikalahkan, dia nantinya akan bangkit kembali.”

Oh, jadi karena raja iblis yang dikalahkan 50 tahun lalu bangkit kembali, pahlawan ‘sekarang’ alias si Arc yang dipilih untuk melawannya?

“kau tahu dimana si raja iblis ini?”

“entahlah. Tapi banyak orang yang bilang kalau dia tinggal di sebuah kastil di wilayah bangsa iblis.”

“wilayah bangsa iblis?”

“Ah… iya. Bagian barat benua ini dikendalikan oleh bangsa iblis. Bagian timur benua dibagi terbagi menjadi beberapa kerajaan manusia, tapi katanya semua daerah bangsa iblis dikendalikan oleh si raja iblis.”

Setelah bertanya lebih detil, kuketahui kalau Riemel adalah bagian dari kerajaan Fortera dan tepat berada di tengah benua. Berada di tengah benua memang kedengarannya keren, tapi karena daerah barat dan timur terbagi menjadi kekuasaan bangsa manusia dan bangsa iblis, tempat ini bisa dibilang adalah garis depan peperangan. Aku penasaran kalau tim pahlawan itu mampir ke dungeon ini di tengah perjalanan melawan raja iblis. Ah, kuharap mereka tidak buang-buang waktu dan langsung pergi melawan raja iblis….


Menghabiskan sarapan, aku meminta teh merah pada Tena yang segera menyelesaikan cuci piring demi memberikan cangkir tehku. Kemudian aku segera menuju ruang kerja.

Saat kulihat ke arah layar, kutemukan tim pahlawan tengah membereskan kemah sederhana mereka dan mulai pergi menjelajah. Mereka kini berada di lantai 7, dan bila lancar, kurasa mereka akan mencapai lantai 10 yang dilindungi No Life King begitu senja tiba.

Jujur saja, sebagai petarung amatir, aku tidak tahu mana yang lebih kuat, tapi kalau boss yang kutaruh di sana kalah, aku bisa mempersiapkan diri. Karena mereka pikir dungeon ini lantainya sedikit, mereka datang tanpa persiapan dan aku sangsi mereka bisa mencapai tempatku saat ini. Tapi lain kesempatan mereka mungkin akan kembali datang dengan persiapan lengkap. Tak jadi masalah kalau mereka kalah dari No Life King, tapi kalau mereka berhasil menang, kemungkinan mereka sampai ke tempatku jadi lebih besar.

Aku harus mempersiapkan berbagai hal sebelum mereka bisa mencapai tempat ini di kemudian hari. Tidak mengetahui rasa gugup orang yang mengawasi, mereka dengan pasti melangkah masuk semakin dalam ke dungeon.


Tim Wira berhasil tiba di lantai 10 sesuai dugaan, tapi tak kusangka mereka tertahan sebelum mencapai ruang boss yang ada di lantai tersebut. Memiringkan kepala, mereka kini tengah bingung menjawab puzzle yang kuletakkan di sana demi estetika. (TLN: A E S T H E T I C S)

“‘Kalian yang datang menghadap tahta sang abadi, susunlah langit sebenarnya.’ Hah? Ini maksudnya apa?”

“Karena tempat ini dipenuhi undead, mungkin “sang abadi” merujuk pada penguasa dungeon?”
Widdi menjawab Zio yang kebingungan.

Benar, benar begitu, aku senang kalian berpikir begitu. Dam aku akan lebih senang kalau kalian langsung pulang setelah mengalahkan No Life King.

“Hmm. Berarti, kalau ingin melawan dungeon master, kita harus menyusun ‘langit sebenarnya’? Tapi apa maksudnya?”

“Mungkin maksudnya benda-benda langit? Kurasa lubang di batu tadi bermakna begitu.”

Ah- ngomong-ngomong, aku membuat simbol seperti matahari, bulan, dan bintang, walau aku tidak yakin itu bisa dipahami di dunia ini.

Yah, setidaknya mereka sudah menebak soal benda-benda langit, jadi kurasa tidak akan jadi masalah.

“Bagaimana menyusunnya? …ini sama sekali tidak bisa bergerak.”

“Menyalurkan mana juga tidak ada pengaruhnya.”

Eh? Tunggu, tunggu. Walau hanya satu, tapi setidaknya kalian membawa lempengan batunya kan? Apa mungkin mereka lupa? Apa mereka tidak melihat lubang di batunya dengan cermat?

“Arc-sama, apa pedang suci tidak memberikan petunjuk?”

“Tidak ada, maaf…”

“A-Ah! tidak perlu minta maaf begitu!”

Jadi pedang imba itu juga tidak bisa menjawab puzzle bodoh ini? Entah kenapa aku merasa lega dan kasihan secara bersamaan…

“Bahkan pedang suci dari sang dewi pun tidak bereaksi? Serius? Apa pertanyaannya sesulit itu? Bagi orang yang lebih suka menggerakkan tubuh, ini sih mustahil bagiku.”

“Jangan berkata begitu, ayo pikirkan bersama!”

Hah…? Untuk apa dipikirkan dengan serius. Aku menaruh puzzle di situ sebagai pertanyaan bonus dan demi estetika, tapi tak kusangka mereka jadi tertahan seperti ini. Mengumpulkan lempengan batu dari seluruh lantai 10 memang merepotkan, tapi harusnya mereka bisa menjawab kurang dari 2 detik…

Oi, jangan mencoba menyayat pedestal-nya!

Itu juga bukan ishibitsu (TLN: kotak batu, or something similar) jadi jangan coba mencari celah untuk membukanya!

Hentikan itu, musclebrain! (TLN: musclebrain bisa dibilang orang2 ‘bodoh’ yang condong menggunakan otot untuk menyelesaikan semua masalah)

“Gawat. Sama sekali tidak terpikir olehku cara membuat dungeon masternya keluar. Kita juga datang tanpa persiapan karena berpikir tempat ini dangkal. Sepertinya mau tidak mau kita harus menyerah untuk saat ini.”

“Terpaksa mundur di hadapan dungeon master…kuh!!”

Eh? Masa kalian pulang sebelum melawan boss-nya, sih? Aku bisa dalam bahaya kalau tidak tahu apakah kalian lebih kuat dari No Life King atau tidak.

Hei, tunggu! Jangan pulang dulu!

Setidaknya kembalikan lempengan batu yang kalian bawa, dasar pencuri!!

No comments:

DMCA.com Protection Status