NEET dakedo Hello Work ni Ittara Isekai ni Tsuretekareta Chapter 3 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

NEET dakedo Hello Work ni Ittara Isekai ni Tsuretekareta Chapter 3 Bahasa Indonesia

March 17, 2017 Beonovel

Volume 2, Chapter 3 – Mari Kita Membuat Mayones
Setelah meninggalkan kamar mandi dan melakukan ritual untuk menenangkan kenjataimu-ku yang sempat aktif. Sati mungkin membasuh tubuhnya dengan perlahan seperti yang kuinstruksikan. Dia agak lama keluar dari kamar mandi.
Ketika mata kami bertemu, wajah Sati memerah. Seperti yang kuduga, dia juga malu.
“Ah, uhm, saya akan melakukan yang terbaik untuk bisa terus bersama dengan Masaru-sama dari sekarang.”
Dia membungkuk dengan wajahnya yang masih sedikit basah.
“Ah, umm, ya. Aku juga…”
Sekarang, kami berdiri tanpa berkata apa-apa. Kenapa situasi bisa jadi seperti ini? Aku bertanya-tanya.
Jika aku langsung ‘bergerak’ sehari setelah membelinya, aku tidak bisa lagi menjumpai Crook dan Silver.
Aku bahkan berencana untuk menumbuhkan rasa cinta perlahan-lahan. Saat aku tenggelam dalam pemikiran, Sati memanggilku.
“Aa-ano!”
“Y-ya!”
“Apa yang harus akan lakukan selanjutnya?”
Errr… apa itu…? Ah benar! Tilika-chan akan datang. Kami harus mempersiapkan mayones. Ini akan waktu yang lama. Nanti saja kita pikirkan lagi apa yang terjadi di kamar tadi. Untuk saat ini, mari kita berkonsentrasi pada hal-hal yang harus dilakukan sekarang.
… dan juga membeli kasur.
“Kita sekarang akan mempersiapkan makan siang.”
Aku mempersiapkan telur, cuka dan minyak. Sebenarnya aku tidak tahu ini jenis telur apa, tapi ini kira-kira seukuran telur ayam, jadi aku membelinya. Aku juga tidak tahu ini jenis cuka apa, tapi ini terasa seperti cuka, demikian juga dengan minyak, tapi… minyak adalah minyak. Semoga saja benar.
Pertama-tama, percobaan hanya dengan menggunakan satu telur. Aku memecahkan telur, memisahkan kuning telur dengan putih telur, kemudian aku menambahkan minyak sedikit demi sedikit dan mencampurnya dengan kuning telur dan cuka. Aku menyuruh Sati yang melakukannya pada bagian pengadukan.
Aku mengambil sedikit dengan jari dan mencicipinya. Yah, ini mayones. Ketika aku menyuruh Sati untuk mencicipinya, dia bilang ini lezat dengan ekspresi senang. Tapi rasanya masih ada sesuatu yang kurang. Aah rasa. Garam dan gula, serta bumbu-bumbu lain, dan lemon? Tidak ada lemon. Aku membumbuinya sedikit demi sedikit dan Sati yang mengaduknya.
Aku mencicipinya lagi. Yah, ini mayones. Kali ini tidak ada kesalahan. Aku memilih sayuran yang terlihat cocok, aku meletakkan mayones di atasnya dan mengigitnya. Ini enak. Lezat. Aku mengigitnya sedikit kemudian memberikan sisanya ke Sati.
“Ini enak, saya tidak pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya.”
“Bumbu ini di sebut mayones.”
“Mayoneezu…”
Sati memakan sayuran dengan sedikit mayones yang tersisa.
Bagus, selanjutnya kita akan membuat dalam jumlah yang banyak. Untuk mencatat komposisinya, aku perlu pena dan kertas. Huh mungkin aku harus membeli beberapa sekaligus dengan kasur nanti.
“Sati, apa kau bisa membaca dan menulis?”
Aku menanyakan sesuatu yang tiba-tiba terlintas dipikiranku.
Sati menggelengkan kepalanya. Aku harus mengajarinya suatu hari nanti. Aku mengeluarkan buku catatan untuk laporan harian dan aku langsung menulis resep mayones. Takaran bahan-bahan yang digunakan diukur dengan mata, jadi ini resep yang meragukan, tapi ini lebih baik daripada membuatnya dari awal lagi, hanya mengandalkan intuisi.
Aku sekali lagi memecahkan telur dan memisahkan kuning teluar dari putih telur. Putih telur nanti akan ditambahkan ke sup. Aku menyuruh Sati untuk memecahkan telur juga. Dia gagal dua kali dan matanya mulai berair, tapi… yah baiklah nanti kita akan menggoreng telur.
Aah, di sini tidak ada tempat sampahnya…
Untuk saat ini, mari kita tinggalkan kulit telur di westafel dulu.
“Sati, apa yang kau lakukan dengan kotak bento kemarin?”
“Saya membakarnya di tungku.”
Oke.
“Bagaimana orang-orang biasanya membuang sampah?”
“Yah saya pikir mereka mengubur atau membakarnya.”
Tidak terlalu banyak sampah sih, tapi mungkin itu akan baik-baik saja. Yah, mari kita fokus ke mayones sekarang.
Sambil memberikan instruksi kepada Sati, aku menambahkan bahan-bahan. Dan terakhir, mengaduknya. Sambil ditambahkan minyak, sehingga mudah diaduk dengan tangan, tapi jika ini dilakukan dengan tenaga manusia, maka ini bisa digolongkan sebagai kerja yang berat.
“Sati, kau bisa mencicipinya, tapi sedikit saja. Kau bisa makan sepuasnya saat makan siang nanti. Jadi lakukan yang terbaik, aku akan pergi belanja sekarang.”
“Mengerti. Hati-hati Masaru-sama.”
Pertama, aku pergi ke toko perabot dan membeli kasur. Aku beli dua, yang satunya untuk cadangan. Aku beli yang harganya sedang. Disana juga ada toko yang menjual kertas, jadi aku membeli 2 set kertas sebagai buku catatan serta pena dan tinta juga. Kebetulan ada toko buku di sebelah, jadi aku coba untuk melihat-lihat.
Ada seorang wanita tua keriput yang duduk di belakang dan ketika aku mengambil sebuah buku, “kami tidak mengizinkan pelanggan berdiri dan membaca!”, aku dimarahi.
“Apa ada buku untuk mengajarkan huruf kepada anak-anak?”
“Tunggu. Bagaimana dengan yang ini. Aku akan jual murah.”
Itu terlihat seperti buku bergambar yang sudah cukup usang, tapi aku melihat tidak masalah dengan isinya jadi aku memutuskan untuk membelinya. Isinya terlihat seperti digambar dengan tangan. Apakah semua gambar dan tulisan dikerjakan dengan tangan? Mungkin belum ada mesin cetak di sini.
“Apakah ada buku yang bercerita tentang pahlawan?”
“Kalau kau cari itu, bagaimana dengan yang satu ini.”
Kisah Pahlawan, semuanya 10 volume. Sebuah mahakarya, huh. Ini juga buku bekas, ikatannya bahkan cukup usang tapi ini sudah pernah diperbaiki dan ini bisa dibaca dengan jelas, begitu kata si wanita tua, jadi aku memutuskan untuk membelinya. 6000 Gold untuk keduanya. Meskipun ini buku bekas, harganya mahal huh. Mungkin karena dikerjakan dengan tangan, aku melihatnya sambil bersantai, tapi aku masih harus belanja.
Aku menemukan timbangan untuk mengukur berat di toko serba ada, tapi bukan hanya mahal, tapi itu juga tidak cocok untuk digunakan di rumah tangga jadi aku menyerah, kemudian membeli tempat sampah dan beberapa barang lainnya.
Karena aku sudah di sini, aku melihat-lihat sekeliling pasar dan menemukan susu kuda. Sepertinya tidak banyak orang di kota ini yang menginginkannya, pertanyaannya berubah menjadi ‘kenapa dijual di sini?’, tapi mungkin ada beberapa orang saja yang menginginkannya. Ketika aku bertanya apa mereka punya keju, mereka bilang mungkin ada di peternakan kuda di sebelah barat.
Itu mengingatkanku bahwa ada sesuatu seperti itu di dekat gerbang barat. Aku harus ke sana dan memastikannya. Jika ada, maka aku bisa membuat pizza!
Tapi Sati sedang menunggu hari. Mari kit tinggalkan peternakan kuda untuk lain waktu dan pulang sekarang.
Ketika sampai di rumah, Sati sedang menyandarkan kepalanya di meja, beristirahat, setelah menyelesaikan mayones.
“Kerja bagus. Kau pasti lelah. Mari kita lihat, mari kita lihat…”
Setelah mencicipinya, ini cukup baik. Ini bahkan sudah bisa disajikan di restoran.
“Mm, ini lezat. Kau hebat Sati.”
Aku memujinya dan mengelus kepalanya. ‘Ehehe’, Sati cekikikan dengan gembira.
Aku menginstruksikan Sati untuk meletakkan mayones di kulkas, tapi kemudian aku sadar bahwa di sini tidak ada pembungkus makan. Pembungkus makanan atau aluminium foil… sulit tanpa itu huh. Aku menyuruhnya untuk menyimpan itu di dalam kulkas. Akan lebih sempurna jika disimpan di item bag, tapi Sati tidak bisa menggunakannya. Aku harus meletakkan beberapa bahan di kulkas juga.
Selanjutnya, aku akan membuat saus tartar.
Aku merebus telus sambil mengajarkan Sati. Aku memotong telur dan mencampurnya dengan beberapa bawang merah, kemudian menambahkan mayones, dan setelah dibumbui, selesai.
“Masaru-sama, ini juga sangat lezat.”
Sati tampak sangat menyukai bagian cicip-mencicipi. Dia seperti mau makan lagi, tapi aku menyimpannya di dalam kulkas. Kau bisa makan sepuasnya nanti.
Setelah ini aku menyuruh Sati menyiapkan sup. Sup sayuran dan daging naga. Garam dan lada sebagai bumbunya. Sementara itu, aku bersiap-siap untuk menggoreng. Aku memotong daging menjadi ukuran yang pas dengan gigitan, kemudian membumbuinya dan dibiarkan sebentar. Yang tersisa adalah menaruh tepung dan menggorengnya. Aku mengambil setengah bagian dari roti, memotongnya kecil-kecil dan membuatnya menjadi tepung roti. Aku mengiris daging dan membumbuinya dengan lada. Setelah di lapisi tepung, aku menggorengnya.
Salad dan roti, sup, daging goreng dengan saus tartar. Cutlet daging naga. Yah, cukup mewah.
Karena saus dan lada tersedia di dunia ini, masakan tidak kekurangan rasa, tapi variasinya lebih sedikit dibandingkan dengan di Jepang.
Aku juga harus membuat makanan penutup. Karena aku ada susu kuda, aku bisa membuat puding. Aku mencampurkan susu kuda, telur dan gula, menuangkannya dalam cangkir kemudian rebus di dalam air selama 10 menit. Karamel akan merepotkan, jadi tinggalkan saja untuk hari ini. Aku memasukkan puding ke dalam kulkas untuk didinginkan.
Aku penasaran, apa bisa membuat es krim di dalam kulkas ini?... aku tidak pernah membuat itu sebelumnya, tapi mungkin aku akan mencobanya suatu hari nanti.
Masih ada waktu sampai siang, jadi aku menyuruh Sati untuk menggoreng telur. Kami menambahkan garam, lada, gula dan susu kuda ke dalam telur yang dia gagal dipisahkan tadi. Kami menaruh minyak di penggorengan dan menggoreng telur itu. Orak-arik telur harusnya akan baik-baik saja untuk percobaan pertama ini. Kami berdua mencicipi itu dengan bahagia.
“Itch dirishus.”
Kata Sati sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya. Telur terasa manis karena gula dan ini enak. Aku ingin menambahkan kecap ke telur goreng, jadi mari kita buat itu lain kali. Entah kenapa, semakin banyak yang kubuat, semakin banyak lagi hal yang ingin kulakukan.
“Masaru-sama luar biasa! Masaru-sama bisa membuat semua makanan ini!”
Ketika aku masih menjadi NEET, aku mencoba berbagai macam hal, entah kenapa aku lumayan jago memasak. Ibuku hanya berfokus pada masakan jepang, jadi aku ingin makan makanan barat, serta makanan yang digoreng, aku harus membuatnya sendiri.
Makan di luar? Aku tidak menggunakan uangku untuk hal seperti itu.
“Sati, kau juga bisa membuat banyak makanan sekarang kan? Kau sudah bisa membuat sup dan telur goreng.”
“Karena Masaru-sama mengajari-…”
Sati tiba-tiba berhenti berbicara dan melihat ke arah pintu.
“Ada orang di pintu. Dua orang.”
Setelah itu, ada suara ketukan pintu. Hearing Detection Level 3 huh.
“Ooiii, Masaruu! Kau ada di dalam?”
Oh? Itu suara Drevin.
Aku menghentikan Sati yang akan berdiri untuk membuka pintu dan berkata “Ya, aku datang sekarang.”, kemudian aku membuka pintu.
Tilika-chan berdiri di sana seperti sedang bersembunyi di balik Drevin.
“Mn. Terima kasih karena mengundang Tilika-chan untuk hari ini.”
Si botak tersenyum lebar.
“Kalian datang cukup awal. Masih ada waktu sebelum siang.”
“Tilika sangat menantikan ini. Kau lihat, dia terus mengangguku mengenai ini, jadi kami datang sedikit lebih awal.”
“Ah, silakan masuk.”
“Nah Tilika.”
“Permisi, maaf menganggu.”
Tilika-chan berbicara dengan suara pelan dan masuk.
“Bagaimana denganmu wakil ketua guild? Aku menyiapkan makanan yang cukup.”
Aku tidak benar-benar ingin mengundang si botak kekar ini, tapi aku bertanya untuk sekedar basa-basi.
“Tidak tidak, aku tidak ingin menganggu. Aku juga harus bekerja, jadi aku tidak bisa pergi terlalu lama.”
Aku belum pernah melihat dia benar-benar bekerja, hanya melihatnya bercanda kesana-kemari, tapi sepertinya dia melakukan pekerjaan dengan serius.
“Tak usah dipikirkan, jaga Tilika ya.”
Dia mengatakan dengan suara pelan sambil mendekat.
“Dia tidak punya banyak teman, kau tahu. Dia sangat senang hari ini. Kau juga harus mengantarnya kembali ke guild. Dia bahkan bisa menghabiskan malam di sini jika kau suka.”
Setelah mengatakan itu, dia menyeringai. Apa yang orang ini pikirkan.
“Oh ya ini hadiah untukmu.”
Aku diberikan sebotol alkohol, rupanya ini alkohol kelas satu berumur 20 tahun.
“Terima kasih untuk alkoholnya. Kesampingkan bagian menghabiskan malam, aku akan benar-benar mengantarnya ke guild.”
“Bagus bagus. Baiklah sampai jumpa, Tilika, bersenang-senanglah!”
Mengatakan itu, Drevin kembali.
Tilika-chan sedang duduk di kursi yang ada di ruang makan dan dia sedang meneguk teh yang dihidangkan oleh Sati.
“Tunggu sebentar ya. Aku akan segera menyiapkannya.”
“Terima kasih, untuk hari ini.”
Tilika-chan berterima kasih lagi-lagi dengan suara pelan.
“Mm. Aku tidak tahu kau akan suka atau tidak, tapi semoga kau menikmatinya.”
“Nn, aku berharap seperti itu.”
Dia tidak benar-benar menunjukkan ekpresinya, tapi dari kata-katanya dia memang berharap.
Aku meletakkan panci dengan minyak di dalamnya di atas api dan menambahkan beberapa kayu bakar. Aku meletakkan sup di tungku dan menghangatkannya.
Aku menyuruh Sati untuk melapisi makanan yang akan digoreng dengan tepung dan aku melapisi cutlet daging. Aku meletakkan sedikit serbuk ke telur kocok kemudian ditepungi. Kami membuat cukup banyak makanan yang digoreng dan cutlet daging naga. Jika ada yang tersisa, aku bisa menyimpannya di item bag.
Saat aku sedang membuat tanganku berantakan karena memasak, Sati melaporkan lagi bahwa “seseorang datang”. Mungkin Elizabeth? Tidak aneh jika dia segera mengunjungiku dan aku juga sudah memberitahu Angela untuk datang kapan saja dia suka.
Saat sedang mencuci tanganku yang bertepung, Sati mengatakan dua orang sedang berbicara di pintu. Itu mungkin Elizabeth dan Narnia-san. Karena aku belum memberitahu Crook dan Silver di mana rumahku.
Aku membersihkan tanganku dan menuju ke pintu. Saat membuka pintu, Angela dan Elizabeth sedang berdiri di sana.
“”Masaru!””

No comments:

DMCA.com Protection Status