NEET dakedo Hello Work ni Ittara Isekai ni Tsuretekareta Chapter 4 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

NEET dakedo Hello Work ni Ittara Isekai ni Tsuretekareta Chapter 4 Bahasa Indonesia

March 18, 2017 Beonovel

Volume 2, Chapter 4 – Air, Angin dan Orang-Orang Yang Bertindak Seakan Tidak Peduli Satu Sama Lain
“Ah, uhm… selamat datang?”
Aku tertegun saat melihat Angela dan Elizabeth berdiri di sana bersama-sama.
Kenapa kombinasi ini?
“Hei Masaru! Siapa perempuan ini!”
Elizabeth berteriak.
“Ada apa dengan perempuan ini! Dia mengenakan jubah hitam aneh!”
Angela membalas melemparkan api.
Kenapa mood mereka jadi tidak enak seperti ini!?
“Uhm, hei hei. Tenang, kalian berdua tenang. Dia Elizabeth dari party rank B Dawn Battleaxe, yang menemaniku saat penyelidikan di hutan. Dan dia adalah Angela-san, priestess dari kuil, yang juga menemaniku dalam banyak hal.”
“Rank B…”
“Priestess…”
Bahkan setelah aku memperkenalkan mereka satu sama lain, mereka terus saling pelotot.
“Ah ya, bagaimana kalau kalian masuk ke dalam dulu…”
Aku membiarkan mereka berdua masuk.
“Mhu. Siapa mereka?”
“Aku juga belum pernah melihat mereka. Kenapa mereka ada dirumahmu?”
Ketika mereka melihat Tilika dan Sati, mereka bertanya lagi.
“Yah, dia Tilika-chan, anggota staf guild. Dan ini Sati, yang menangani tugas-tugas…”
“Saya Sati, budak Masaru-sama!”
Sati menampilkan wajah penuh senyuman penuh kebanggaanya yang tidak peduli tempat dan cepat-cepat membungkuk.
“Budak!? Kau membelinya!?”
“Hnnn.”
Angela mengatakan sesuatu dan menatapku, sedangkan Elizabeth terlihat tidak peduli. Dia malah mencuri pandang ke makanan yang baru dimasak.
“Jadi kalian berdua, apa yang membawa kalian berdua ke sini hari ini?”
Aku bertanya sambil mempersilakan mereka duduk.
“Aku datang untuk melihat Masaru.”
“Kita akan mulai latihan Masaru!”
“Ah ya. Sekarang sudah hampir masuk waktu makan siang, bagaimana kalau kalian berdua ikut bergabung?”
“Aku akan makan sedikit.”
“Baiklah, aku terima tawaranmu.”
Aku juga memperkenalkan mereka berdua ke Sati dan Tilika-chan. Tilika-chan hanya mendengar tanpa mengatakan apapun. Aku menyuruh Satu untuk menghidangkan teh kepada mereka juga.”

Aah minyaknya jelek. Suhunya naik terlalu cepat. Aku mematikan sedikit apinya. Untuk sup, hangatnya sudah pas. Hmm, sulit untuk mengontrol suhu minyak. Mari kita kurangi jumlah kayu bakar dan lihat bagaimana hasilnya. Aku menginstruksikan Sati untuk menyiapkan roti dan salad. Aku menambahkan tepung roti ke minyak dan memeriksa suhunya. Harusnya ini baik-baik saja. Aku meletakkan daging untuk digoreng. Sambil menggoreng, aku melapisi cutlet daging yang tersisa dengan tepung roti. Aku menyiapkan piring dan menaruhnya di atas meja.
Oh tidak, peralatan makan tidak cukup.
Aku tidak menyangka tamu akan jadi sebanyak ini, lain kali aku akan beli lagi, sekarang aku menggantinya dengan ini… bagus, aku memindahkan piring untuk roti dan salad.
Sup sudah cukup hangat, jadi aku membawanya ke meja. Daging goreng juga selesai satu persatu. Aku seharusnya memilih penggorengan yang lebih besar. Jika penggorengan terlalu kecil, sulit untuk menyajikan gorengan dalam jumlah yang banyak. Aku menyajikan makanan yang digoreng dan mengeluarkan saus tartar dari kulkas.
“Kalian bisa mulai makan sekarang. Sati, kau ikut makan juga.”
“Umm, Masaru-sama?”
“Aku masih harus menggoreng.”
Makanan yang digoreng paling enak dimakan langsung setelah digoreng! Jika tidak langsung dimakan, rasanya akan berkurang.
“Hei hei, semuanya duduk. Menu hari ini adalah roti, salad dan sup. Kalian bisa meletakkan mayones di atas salad. Saus tartar untuk makanan yang digoreng. Daging naga cocok dengan apa saja! Jadi sebelum dingin, silakan dimakan.”
Mungkin mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena baunya yang lezat. Semuanya langsung meraih makanan tanpa keberatan.
“Oh ini lezat.”
“Apa ini! Ini lezat.”
“Masaru-sama, ini lezat!”
“…”
Cutlet daging naga selesai satu demi satu, jadi aku membaginya dan membawa ke meja.
“Ini Cutlet daging naga. Coba makan dengan saus.”
“Ini juga enak.”
“Renyah dan enak.”
“Enak! Enak!”
“…”
Sepertinya ini bisa diterima dengan baik. Tilika-chan hanya makan dalam diam, tapi dia terlihat makan dengan sangat lahap, jadi sepertinya baik-baik saja.
Akhirnya semua selesai dimasak, jadi aku ikut duduk di meja. Daging goreng dan cutlet daging keduanya sama-sama lezat. Apa akan sama jika bahan-bahannya berbeda? Di rumah aku hanya menggunakan daging impor murah.
Jumlah daging goreng di piring besar berkurang dengan sangat cepat. Kupikir awalnya daging goreng bakalan cukup, tapi ternyata tidak.
Ah, Angel dan Elizabeth saling menatap potongan terakhir.
“Untukku saja.”
“Tidak, aku sudah mengincarnya.”
Yoink, nom.
“”Ah!?””
Tilika-chan menyambar dari samping. Mata Elizabeth berkaca-kaca. Segitu pengennya?
“Hei hei. Masih ada beberapa cutlet daging naga dan sup.”
Di awal kami membuatnya cukup banyak, jadi kami tidak perlu repot untuk membuat makan malam, tapi sekarang sudah hampir habis.
Aku melirik ke Sati, kulihat dia seperti menahan diri. Tidak ada tanda-tanda nafsu makan seperti biasa.
“Sati, makan lebih banyak. Kau yang membuat sup ini kan.”
Jadi aku meletakkan sup yang tersisa ke piringnya.
“Terima kasih banyak Masaru-sama.”
Ketiga perempuan menyaksikan itu dengan penuh perhatian. Aku hanya melihat bahwa sudah tidak ada cutlet yang tersisa.
“Uhhm. Karena ini tidak cukup, apakah aku membuatnya lebih banyak lagi?”
“Tidak, tidak apa-apa. Bukankah kau lumayan pandai dalam hal ini Masaru?”
“Mm, aku rasa aku sudah kenyang. Masaru pinter masak, huh, aku terkejut.”
“Enak.”
Rencananya ini menjadi makanan ringan untuk sore hari, tapi mungkin aku harus menyajikan puding sekarang. Aku mengeluarkannya dari kulkas.
“Makanan penutup. Ini disebut puding. Rasanya manis.”
Aku membagi satu persatu. Ada enam puding yang kubuat. Ada lima kepala di sini. Satu puding tersisa di atas meja. Seharusnya aku meletakkan itu di kulkas, tapi aku ingin mencobanya, jadi aku langsung memakannya.
Ya, ini puding. Ini terbuat dari susu kuda yang terasa sedikit aneh dan telur misterius, tapi ternyata ini menjadi puding biasa. Mari kita tambahkan karamel di lain kesempatan. Aku rasa setiap hal bisa dibuat dengan benar, bahkan jika itu dilakukan di dunia yang berbeda. Minyak dan gula memang mahal, tapi sayuran dan rempah-rempah tidak berbeda dengan yang ada di bumi, jadi tidak ada masalah dengan makanan. Jika saja ada nasi, mungkin aku tidak akan mengeluh lagi.
Pada saat itu, pertempuran di antara para perempuan kembali dimulai. Sambil menikmati pudingku, waktunya untuk menghentikan mereka…
“Ini harus menjadi milik wizard terhormat sepertiku!”
“Terhormat apaan. Jika kau bilang terhormat, maka priestess yang pantas disebut terhormat.”
Seperti yang kuduga, Tilika-chan, yang dengan perlahan-lahan mencoba untuk menjangkau itu dengan tangannya, menarik kembali tangannya ketika dia dipelototi oleh mereka berdua. Konflik masih berlanjut, jadi mereka bertiga melihat ke arahku. Kau ingin aku yang memutuskannya!?
Aku cepat-cepat menyambar puding dan menelannya sekaligus. Umu, enak. Aku mencoba untuk tidak melihat bertiga dan menginstruksikan ke Sati.
“Sati, kau lihat bagaimana aku membuatnya kan? Aku akan membantumu, jadi buat beberapa lagi.”
“Ah baik. Saya mengerti.”
Dengan ini, tampaknya trio gadis itu juga merasa lega setelah mendengar mereka bisa makan lagi. Tapi kenapa mereka bisa serakus ini… mari kita membuat puding lagi, nanti saja bersih-bersih dapur dan ruang makan.
Ada satu ekor burung unta (anggap saja begitu), jadi aku memecahkannya. Ukurannya sangat besar bahkan melebihi genggaman kedua tanganku. Setidaknya ini dua kilo. Cangkangnya keras, jadi aku memecahkannya dengan hati-hati menggunakan bagian belakang dari pisau dapur dan pecah. Akhirnya, putih dan kuning telur keluar. Apa susu kudanya masih cukup? Aku akan membelinya lagi. Aku mencampurkan telur, susu kuda, dan tepung ke dalam panci dan Sati mengaduknya. Karena ini cukup banyak, jadi aku akan meletakkan setengahnya di panci dan sisanya di wadah lain.
Api di tungku sudah hampir habis, jadi biar lebih gampang, aku merebus air dengan sihir dan menggunakannya untuk memasak puding. Setelah menunggu 10 menit, puding telur burung unta (anggap saja begitu) akan selesai. Kali ini aku berencana untuk membuat karamel juga.
Para gadis penuh semangat mengamati dari belakang.
“Setelah direbus di air panas selama 10 menit dan didinginkan selama dua jam, ini akan selesai.”
“Dua jam!?”
Aah, mereka pasti berpikir itu bisa langsung dimakan. Maaf.
Wadah puding sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama, jadi aku meminta Angela untuk menambahkan beberapa es. Dengan ini, pastinya bisa dingin dalam dua jam.
Aku menyerahkan sisanya ke Sati dan duduk di meja. Ketika aku mau untuk bersih-bersih, dia mengatakan ‘itu tugas saya’.
“BTW, kapan kau membeli budak? Kalau memang untuk bersih-bersih rumah, aku bisa meminjamkan anak-anak di tempat kami.”
“Oh, seseorang setidaknya harus punya satu budak.”
“Aku membelinya kemarin. Apakah ada budak juga di tempat Elizabeth?”
“Benar, kami punya beberapa.”
“Hnn, di rumahku dulu tidak ada budak, aku penasaran dan pergi melihat mereka, kemudian hatiku tergerak…”
“Bersalah.”
Tilika-chan mengatakan itu kepadaku dengan suara pelan, aku langsung terkejut. Maaf, itu bohong… untungnya mereka berdua tampak seperti tidak mengetahui hal itu.
“Hatimu tergerak, kau bilang?”
“Maksudku, mereka bilang, jika aku tidak tidak membelinya, dia akan dikirim ke rumah bordil atau ke tambang…”
“Baka nē. Itu jelas-jelas bujuk rayu dari pedagang. Masaru, kau berhasil ditipu dengan sangat baik. Kau lihat, penampilannya lumayan dan dari apa yang kulihat, gerakannya juga bagus, jadi dia bisa dijual dengan mudah.”
“Sati punya beberapa masalah di awal, kau tahu.”
Aku mengatakan dengan suara pelan.
“Penglihatannya buruk.”
“Tapi dia tidak terlihat seperti itu.”
“Karena aku menyembuhkannya.”
“Eh kau bisa menyembuhkan penglihatannya? Meskipun itu mustahil untuk seseorang yang bukan spesialis tingkat tinggi.”
“Itu belum sembuh total. Aku sudah berencana untuk berkonsultasi mengenai hal itu denganmu Angela.”
“Mnn, mustahil di tempat kami. Kau bisa berharap itu pada para ahli di ibukota.”
Sebenarnya tidak ada masalah lagi saat ini, jadi mari kita tahan sampai di sini dulu.
“Angela, kau tidak perlu ke panti asuhan hari ini?”
“Bukan berarti itu tidak berfungsi jika aku tidak ada. Aku kadang-kadang meminta izin untuk waktu bebas di siang hari.”
‘Jadi aku bisa datang hari ini’ kata Angela.
“Elizabeth, kau tidak bersama dengan Narnia-san hari ini?”
“Bukan berarti aku selalu bersamanya sepanjang waktu, kami jalan sendiri-sendiri hari ini.”
Itu tak terduga. Kupikir Narnia-san akan selalu menempel dan memanjakan dirinya.
“Daripada itu! Kita akan berlatih Wind Magic!”
“Masaru akan berlatih Water Magic! Karena aku mengajarinya duluan.”
Eh? Kenapa hari ini mereka saling pelotot terus?
■■■■■■■■■■■■
Kembali ke awal. Ini cerita sebenarnya yang kudengar dari Sati, yang punya pendengaran sangat tajam, beberapa hari setelahnya.
Ketika mereka tiba-tiba tak sengaja bertemu di depan pintu, yang pertama melancarkan serangan adalah Elizabeth. Mereka langsung perang saat itu. Dia mungkin iri dengan dada besar Angela.
“Hei kau, Apa kau kenalan Masaru?”
“Kenal… dan kau?”
“Aku guru sihir Masaru!”
Elizabeth langsung mengeluarkan arogansinya. Yah, aku memang tidak melihat langsung, tapi mungkin seperti itulah.
“Aku juga mengajarkan Healing Magic dan Water Magic ke Masaru.”
Bahkan dua sihir? Apa aku kalah? Bukan hanya soal dada, tapi juga sihir!? Tidak, kalah atau tidak masih belum diputuskan. Itu mungkin yang dipikirkannya atau mungkin tidak, itu hanya dugaanku.
“Kau, kau bisa pulang ke rumah sekarang. Karena aku akan mengajarinya Wind Magic.”
Ini mungkin yang bikin Angela marah. Itu terjadi saat aku membuka pintu dan masuk ke TKP.
Kedua orang ini sebenarnya tidak memiliki karakter rakus. Biasanya mereka berkelakuan seperti gadis yang jaim. Namun peperangan hari ini kemungkinan membangkitkan jiwa kompetitif mereka menjadi liar. Alasan lain adalah, kemungkinan besar mereka benar-benar suka dengan masakanku juga.
■■■■■■■■■■■■
“Aku yang akan mengajarinya.”
“Aku!”
Uuhhmm…
“”Kau mau diajari sama siapa!””
Mereka berdua berubah tujuan dan menatapku. Aku tidak ingin membuat Angela kehilangan muka jika aku mengatakan kami tidak ada janji hari ini.
“Uhm, dua-duanya?”
Tatapan mereka semakin tajam… meskipun aku benar-benar ingin belajar.
“Mari kita lihat siapa yang bisa mengajarinya! Ini duel!”
“Oke, aku terima!”
Segera setelah Elizabeth melempar tantangan, Angela langsung setuju. Apa ini? Apa ini sudah ditentukan?
“Ayo pergi!”
Elizabeth menarik tanganku.
“Ah hei hei. Tunggu sebentar. Tilika-chan, jika kau ingin pulang, aku akan mengantarmu.”
Bagus, bilang kau ingin pulang Tilika-chan! Dengan ini aku bisa melarikan diri. Entah kenapa aku ketakutan.
“Aku akan menunggu di sini.”
Benar~. Kau menunggu pudingnya selesai… dengan gagalnya harapan terakhirku, mereka berdua menyeretku.
“Ah, Sati. Temani Tilika-chan ya.”
“Ya, Masaru-sama.”

No comments:

DMCA.com Protection Status