Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 12 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 12 Bahasa Indonesia

March 25, 2017 Kirz Oiishii


[Osakai no Miyage] (Oleh-oleh dari pesta teh)

"Jadi tempat yang dah sulit-sulit aku buat dihancurin. Enak banget ya.... Pasti ulah Minerva ini kan. Tuh cewe memang agak... gampang main pukul" (Echidona)

"Agak...? Menurutku dia itu dah kelewat gampang main pukul. Dia itu loli-tsundere-dan-bengis-yang-berdada-besar. Sungguh tak cukup cuma dengan satu sifat saja bisa menggambarkan karakter dirinya" (Subaru)

Memutar-mutar bahu kanannya yang sudah benar-benar pulih, Subaru mengomelkan ini kepada Echidona yang berada dihadapannya.

Gadis berambut putih itu masih memancarkan aura yang menekan. Akan tetapi sekarang, semua itu sama sekali tidak berpengaruh pada Subaru.

"Aaaah, kurasa sekarang aku lagi mood ngobrol nih. Kayanya enakan ngobrol denganmu saja, dibandingkan dengan penyihir lainnya.... kecuali Penyihir Kemalasan sih, ngobrol sama dia masih gampang aku nangkep nya" (Subaru)

"Oh sekhmet ya, gimana ya bilangnya... diantara seluruh penyihir, dia itu yang paling tua dan paling cerdas. Tapi kalau sampe kamu bikin dia marah, dia nggak akan menanggapinya setengah-setengah" (Echidona)

"Nggak akan menanggapinya setengah-setengah".... maksudmu, dia bakalan menakutkan kalau lagi marah?" (Subaru)

"Biar kuberitahu, meskipun kita ini satu tim, kita ini bukanlah saingannya. Meskipun sekalipun kelima penyihir bekerja sama mengalahkannya, Aku nggak yakin kalau mereka semua dapat menang melawan Sekhmet" (Echidona)

Sambil duduk diatas kursinya, Echidona memberitahukan hal ini, disaat Subaru, menunjukkan ekspresi tidak percayanya.

Bayangan akan gadis malas berambut ungu, terngiang lagi di pikirannya. Dengan sifat malasnya, males-malesan dalam melakukan sesuatu, ternyata orang itu paling kuat diantara para penyihir lainnya.

"Omong-omong, Aku sebenernya ingin membicarakan ini... Aku punya firasat kalau kau telah memusnahkan Penyihir Kecemburuan" (Subaru)

"――Biar aku jelaskan dulu" (Echidona)

Ingat dengan penyihir yang belum sempat Echidona singgung, Subaru menanyakan pertanyaan ini, kepada Echidona yang hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman dan kemudian, mengangkat satu jari tangannya.
Subaru pun melihat kearah ujung dari jari tangannya itu,

"Aku menganggap para penyihir lainnya sebagai sahabatku, dan kurasa mereka juga berhak untuk menghormatiku. Aku ini punya banyak sekali kekurangan, tapi dengan memiliki mereka semua didalam diriku selama ini, benar-benar membuatku bahagia, penyelamat bagiku. Itulah mengapa aku mengumpulkan jiwa mereka semua, tanpa tertinggal satupun" (Echidona)

"......Kurasa yang kudengar saat ini hal yang penting, silahkan lanjutkan.." (Subaru)

"Satu-satunya orang yang membunuh semua penyihir ini, adalah 'Penyihir Kecemburuan'. ――Kalau misalkan kamu jadi aku nih, emang kamu bisa tetap tersenyum disaat ada seseorang membunuh sahabat dekatmu sendiri, dengan sadis?" (Echidona)

Gadis itu tetap tersenyum, tapi kali ini tatapannya terkesan begitu menyeramkan.
Tulang belakang Subaru gemetar ketakutan, dan disaat Ia sadar kalau dirinya mulai merasa takut, Ia langsung mengangguk setuju dengan pemikiran gadis itu. Melihat sikap Subaru ini, gadis itu berkata 'Benar kan?' sambil memegang dagunya.

"Ya-ampun, suasana nya jadi agak tegang gini ya. Gimana kalau kita minum beberapa teh dulu untuk mencairkan suasana yang nggak enak ini?" (Echidona)

"....Aku nggak berani lagi minum tehnya Dona. Kecuali kalau teh yang kau sajikan disini sekarang itu benar-benar sebuah teh, maka aku nggak akan sungkan-sungkan untuk langsung makan ataupun meminum apapun disini" (Subaru)

"Di undang ke pesta teh nya si Penyihir.... dulu, orang-orang tuh bakal seneng banget dapat kesempatan kaya gini.... ampunn dah, sekarang orang-orang dah pada berubah yaa.." (Echidona)

Kelihatannya gadis itu sudah berniat menyiapkan bagian untuk Subaru, tapi kemudian, dengan kecewa, Ia pada akhirnya menuangkan minuman itu hanya pada cangkirnya sendiri, dan meminumnya.
Tapi jika yang dikatakannya saat itu memang benar, maka air yang ia sebut teh itu, benar-benar cairan tubuhnya.
Itu artinya, Ia telah meminum cairan tubuh hasil dari produksi tubuhnya sendiri...

"Omong-omong, aku pernah denger kalau kelinci itu...... bisa makan poop nya sendiri, dan itu nggak sekali mereka kaya gitu loh" (Subaru)



"Kamu nggak ngerasa kalau kamu itu dah ngehina mereka semua...? Kecuali, kamu ngomong begini karena kamu sebetulnya berniat memintaku bercerita tentang Kelinci Raksasa, hmm?" (Echidona)

"Kelinci Raksasa?" (Subaru)

Subaru memiringkan kepalanya. Sebelumnya, entah dimana Ia pernah mendengar nama itu. Berusaha mengingat-ingat kembali, akhirnya Ia ingat dimana Ia pernah mendengar nama itu. Yap, nama ini terdengar di telinganya saat Ia dalam perjalanan bersama Patrasche, saat berada di jalan raya Lifaus.

"Mereka itu sahabat dekat nya para Paus Putih.... kan? Sang Kelinci Raksasa dan sang Ular Hitam?" (Subaru)

"Mereka adalah peninggalan buruknya Daphne. Bahkan Daphne sendiri agak susah mengurus mereka. Kesampingkan dulu tentang Ular Hitam, kamu pernah dengar nggak kalau para Paus Putih dan Kelinci Besar itu menyebabkan malapetaka?" (Echidona)

"Omong-omong, mumpung kita lagi ngomongin Paus Putih nih, berterima kasihlah kepada diriku karena mereka semua sudah mati. Berterima kasihlah kepada usahaku ini" (Subaru)

Mengacungkan jempol pada dirinya sendiri, Subaru menyombongkan dirinya sendiri. Dan, mendengar ucapannya, untuk pertama kalinya, kedua mata Echidona terbuka lebar, terlihat terkejut.

"Heeee, beneran?? Hebat bangettt. Tapi dari penampilanmu, kamu ini keliatannya nggak mungkin sanggup untuk memegang pedang, ataupun mempelajari sihir sekalipun... Tapi dirimu yang berhasil memusnahkan mereka, kamu benar-benar hebatt" (Echidona)

"Hancur hatiku karena dirimu tahu kalau aku ini mengalahkannya bukan dengan kekuatanku sendiri....! Gimana bisa kau tahu kalau aku ini nggak mungkin dengan mudah membunuhnya?" (Subaru)

"Mau itu paus putih atau kelinci raksasa, nggak mungkin rasanya manusia bisa membunuh mereka dengan mudah. Setahuku, hanya ada satu orang yang dapat melakukannya, dan itu adalah Reid" (Echidona)

Lagi, Subaru mengerutkan dahinya, mendengar nama yang tidak Ia kenal. Menyadari ini, Echidona berkata 'Fumu~~' sambil memegang bibir dengan jari telunjuknya.

"Dia nggak pernah diceritakan sekarang ini? Kupikir dirinya yang mendapat gelar seperti itu, membuatnya di-ingat oleh semua orang sepanjang masa. Oke singkatnya, Dia itu satu-satunya orang di dunia ini yang dapat membunuh 12 naga sendirian" (Echidona)

"Oh nggak, itu karena memang aku yang nggak pernah tahu tentang sejarah, atau sesuatu yang biasanya orang-orang ketahui, aku tak akan tahu. Omong-omong, sakti juga ya orang itu" (Subaru)

"――Reid Astrea. 'Pendekar berpedang suci' adalah gelar yang diberikan padanya, tapi, apa masih ada penerusnya sekarang?" (Echidona)
(TLN: Maaf kalau terjemahan sebelum2 nya berbeda, tapi mulai skrng, ane akan menerjemahkannya ke 'Pendekar berpedang suci')

Mendengar ucapan Echidona, Subaru secara pelan-pelan teringat sesuatu.
Astrea――Itu adalah nama keluarganya Reinhard dan Wilhelm, nama yang dimiliki oleh Pendekar Berpedang Suci dan Pendekar Berpedang Iblis, Nama dari clan terkuat yang dicintai Pendekar Berpedang Dewa.

Jadi, pasti Reid Astrea ini, adalah generasi pertama yang meraih gelar itu.

"Okee, aku sudah paham. Pendekar Berpedang Suci, masih ada kok di dunia ini. Aku nggak tahu generasi yang keberapa sekarang ini, tapi Pendekar Berpedang Suci yang sekarang ini adalah temanku. Dia itu monster yang kemungkinan, dapat mengalahkan leluhur-nya yang kau kenal itu" (Subaru)

"Caramu memperkenalkan dirinya benar-benar menakjubkan..... tapi, mengingat betapa payahnya Reid, Aku jadi tak bisa menyalahkanmu. Oh ya kalau gitu, gimana kalau kita sekarang ngomongin tentang Kelinci Raksasa saja?" (Echidona)

"Ah, yaaaaa, bukan berarti aku ini nggak tertarik sama cerita tentang Kelinci Raksasa atau Ular Hitam yaa, tapi..." (Subaru)

Disaat Echidona terlihat ingin melanjutkan berbicara, menceritakan semua hal yang Ia ketahui, Subaru pikir sekarang saatnya untuk menghentikan itu. Ada banyak hal yang sesungguhnya ingin Ia ketahui, tapi kalau Ia babat habis semuanya sekaligus diwaktu yang bersamaan, otaknya nggak akan mampu untuk mengingat semuanya.
Sekarang ini, lebih baik Ia menanyakan hal yang benar-benar ingin Ia ketahui, dan mengupas topik itu sedalam-dalamnya.
Oleh karena itu, hal yang benar-benar ingin Ia ketahui adalah,

"Eeetto, kau ini Echidona kan, Penyihir Keserakahan yang telah meninggal dunia. Itu benar kan?" (Subaru)

"Sudah dari awal aku membenarkan tentang itu kan? Semua itu benar. Kita sekarang berada didalam mimpiku, dan kalau kamu ingin pergi, kamu cukup memintanya" (Echidona)

"Aku hargai kebaikanmu itu. Tapi aku, masih ada pertanyaan...." (Subaru)

Memegang dagunya, Subaru menatap gadis berambut putih yang berada dihadapannya. Ditatapi oleh Subaru, gadis itu memegang pipinya dan berkata 'Apa itu?' sambil menaikkan salah satu alis matanya.

"Kayanya hal ini seharusnya sudah aku tanyain dari awal dengan dirimu..... oke, sebetulnya dimana kau meninggal? Apa selama ini kau bersantai-santai saja, menikmati harimu dengan gembira tanpa mengetahui hal ini?" (Subaru)

"....Aaah, benar juga. Aku belum menceritakannya yah. Rupanya kita berdua melupakan hal penting ini, ya?" (Echidona)

Menepuk tangannya, Echidona mengangguk seakan-akan mengerti. Disaat gadis dihadapannya mengangguk paham, Subaru hanya menggaruk-garuk kepala, penasaran dengan apa yang sesungguhnya saat ini, berada dihadapan dirinya.
Setelah menerima aura mengerikan sang penyihir, dan setelah mengalami kejadian reuni dengan para Penyihir tadi, Subaru akhirnya, dapat menanyakan pertanyaan yang sudah di pendam-pendam olehnya dari tadi.

"Kalau cuma sekedar ngelihat hantu di kuburan, aku sih nggak peduli amat. Tapi karena telah terlibat oleh segalanya, aku nggak bisa langsung ngelupain kejadian ini begitu saja dari kepalaku tanpa mengetahui lebih dalam" (Subaru)

"Melihat hantu, aku nggak bilang kamu salah sih. Bagaimanapun juga, Aku ini arwah yang kehilangan tubuhnya. Tapi sekarang, kenapa aku bisa berada disini..... yaah. Sebut saja aku ini sedang melakukan perlindungan. Kurasa jawabanku itu dapat menjawab pertanyaanmu" (Echidona)

"Perlindungan....? Hal apa yang ingin dilindu... nggak, mungkin lebih tepat, 'perlindungan terhadap apa'? (Subaru)

"Kamu ini cerdas juga ya?" (Echidona)

Mengangguk dengan begitu kagum terhadap reaksi Subaru, Echidona dengan pelan menepuk kedua tangannya. Lalu, melihat keatas, Ia melihat kearah langit biru dunia buatannya.

"Orang yang mengurungku disini adalah Volcanica――Sang dewa naga Volcanica. Mungkin kamu pernah mendengar tentang dirinya?" (Echidona)

"...Pasti itu adalah naga yang telah menandatangani perjanjian dengan para penguasa kerajaan Lugnica atau semacamnya, kan? Aku mengetahui namanya waktu berada di aula besar di acara pemilihan raja" (Subaru)

"Yap, pasti Volcanica yang itu. Dengan kekuatan naga itu, Aku di kurung disini, di Kuburan ini. Dan alasan mengapa Volcanica melakukan ini, seperti tebakanmu tadi, sebagai pelindung terhadap sesuatu, dan itu adalah 'Penyihir Kecemburuan'" (Echidona)

Ekspresi Echidona terlihat begitu tenang, namun saat kalimat 'Penyihir Kecemburuan' terucap dibibirnya, secara langsung kedua bola matanya menunjukkan kebencian yang amat mendalam. Kemungkinan itu, sebagai tanda betapa besar kebencian dirinya terhadap 'Penyihir Kecemburuan'.

"Sekarangpun, 'Penyihir Kecemburuan' terkurung didalam batu penyegel, tapi penyegelnya itu nggak tahan lama. Nggak selamanya pula Vorunica hidup, dan kalau ada seseorang berusaha melepas segel itu, bisa saja penyegelnya terlepas. Semua orang juga percaya kalau, setiap ada perubahan cuaca di langit maupun bumi, bisa saja membuat batu penyegel itu retak. ――Karena itu lah kenapa, Volcanica mengurungku disini" (Echidona)

"Sebagai senjata perlawanan terhadap 'Penyihir Kecemburuan', kalau sewaktu-waktu Ia bangkit, begitukan..?" (Subaru)

"Tapi sebenarnya, aku bukanlah penyihir yang dikira Volcanica awalnya. Kalau saja mereka masih ada, pasti yang dijadikan si Sekhmet. Tapi masalahnya si Volcanica sendiri lagi ribut sama Sekhmet. Dan, sepertinya, setelah Sekhmet mengalahkan dirinya, Ia menjadi lebih waspada terhadap gadis itu" (Echidona)

Seperti sedang santai bergosip, Echidona dengan santainya bercerita, tidak memperdulikan masalah yang ada antara sang Naga dengan sang Penyihir, tapi Subaru, yang mendengarkan ceritanya, tidak menanggapinya dengan santai.

Menurut Subaru, permasalahan yang ada antara sang Naga dengan Sang Penyihir itu, tidak bisa dianggap sekedar percekcok-kan biasa. Dan selain itu, Ia juga tidak yakin, sejauh mana Ia harus percaya terhadap cerita kalau 'Penyihir Kemalasan' berhasil mengalahkan naga itu.

Tidak tahu harus berkata apa, Subaru hanya terdiam. Dan Echidona, yang berada dihadapannya, melanjutkan berkata 'Bagaimanapun juga',

"Aku, para Penyihir, sang dewa naga Volcanica, Pendekar berpedang suci dan.... para pertapa. Bagaimanapun juga, meskipun 'Penyihir Kecemburuan' nantinya bangkit kembali, kita harus bisa mengalahkannya. Itulah, harapan si Volcanica. Jadi itulah, alasan mengapa diriku sekarang, dalam kondisi seperti ini, setelah kematianku" (Echidona)

"Jadi dengan kata lain, orang yang membawa jiwamu ke tempat ini adalah sang Naga?" (Subaru)

"Lebih tepatnya, diriku dibawa kemari atas perintah Volcanica, sihir para Mathers lah yang membawaku kemari. Kalau kamu bisa sampai kemari, seharusnya kamu tahu tentang para Mathers, ya kan? Atau mungkin keluarga itu sudah nggak ada lagi...." (Echidona)

"Nggak, Keluarga Mathers masih ada kok. Roswaal L. Mathers, adalah pemimpin dari negara ini, dimana kuburan ini berlokasi. Dan dia itu majikanku juga, atau harus kubilang pelindungku, atau harus kubilang, orang yang mesum atau semacamnya...." (Subaru)

Kaget kalau ternyata pria itu benar-benar terlibat dengan para Penyihir, Subaru bingung harus bagaimana lagi dirinya menceritakan tentang Roswaal kepada gadis ini. Tapi, tidak memperdulikan Subaru yang kebingungan, kedua alis Echidona gemetaran, berkata 'Roswaal?',

"Maaf, apa baru saja kamu bilang 'Roswaal'?" (Echidona)

"Hmm? Ah, iya. Roswaal. Kau kenal dengannya?" (Subaru)

"Aneh rasanya, kalau aku mengenalnya. Bagaimanapun juga, Aku ini hidup 400 tahun yang lalu. Kalau orang itu memiliki umur yang sama dengan itu, maka ceritamu terdengar aneh jadinya" (Echidona)

Subaru setuju dengan pendapatnya, dan disaat wajah cemberut dari Pria badut itu terngiang-ngiang di ingatan Subaru, Echidona berkata 'Ummm...', sambil menyentuh bibirnya.

"Roswaal yang kamu ceritakan itu, apa memiliki rambut berwarna abu-abu gelap? memiliki mata berwarna.... kuning, kalau aku nggak salah ingat?" (Echidona)

"――Waaah, bukan berarti, Roswaal yang ini beda. Roswaal yang kukenal, memiliki warna rambut yang sama dengan warna jeansku. Dan warna kedua matanya berbeda dari yang kau bilang. Warna kedua mata Roswaal yang ini, yang satu biru, yang satunya lagi kuning" (Subaru)

Lega karena rupanya orang yang dikenal gadis itu berbeda, Subaru menghembuskan nafasnya, dan secara tiba-tiba teringat sesuatu.

Roswaal pernah memberitahunya kalau pengurusan pulau ini, 'Sanctuary', telah wariskan secara turun-temurun. Jadi artinya, Perjanjian Volcanica tentang penyegelan Echidona disini, pasti telah diwariskan secara turun-temurun juga.
――Kalau tugas ini telah di wariskan secara turun-temurun di keluarga Mathers, maka itu artinya,

"Mungkin nama 'Roswaal' telah diwariskan secara turun-temurun. Inilah yang membuat kita kadang-kadang, nemuin nama perempuan yang namanya kaya laki-laki, kejadian ini sering terjadi di Manga" (Subaru)

"Diwariskan ke penerus Roswaal? Wow, kedengarannya menyeramkan sekali" (Echidona)

Seakan-akan setuju dengan pemikiran Subaru, Echidona mengangguk, dan melipat kedua tangannya sambil menggigil menunjukkan ekspresi ngeri nya. Melihat perubahan yang luar biasa seperti ini di sikapnya, Subaru mengerutkan jidatnya.

Melihat Subaru seperti itu, gadis itu berkata 'Nggak soalnya...',

"Roswaal yang aku kenal itu, orangnya agak berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Dia itu orang yang akan mengorbankan seluruh hidupnya, untuk menyelesaikan satu tugas yang diberikan kepadanya, Aku takut. Kalau setelah kematian diriku, dirinya tetap saja nggak berubah, maka...." (Echidona)

"Dirinya akan mengorbankan keturunannya juga?" (Subaru)

"Yak betul banget. Ya ampuunnn.. cuma ngebayangin aja aku udah ngeri.." (Echidona)

Meskipun gadis itu berkata seperti ini, wajahnya tersenyum manis.
Orang yang melihatnya bisa saja salah mengira terhadap sikapnya, karena senyumannya itu terlihat seperti seorang ibu yang melihati anaknya yang bandel. Akan tetapi,

"Akhirnya aku mengerti alasan kenapa kau bisa berada di kuburan ini, dan siapa yang membawamu kesini. Untuk lebih jelasnya, akan kutanyakan pada penerusnya Roswaal saja, saat aku bangun dari mimpi ini nanti" (Subaru)

"Kamu bebas melakukannya. ....Jadi, apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" (Echidona)

"Tentu saja masih ada. Hal selanjutnya yang ingin aku tanyakan adalah, terkait tentang pengujian. Aku diberitahu kalau ada pengujian bertempat didalam kuburan Ini. Aku ingin tahu apa aja yang bakalan di tes nanti. Dan, kalau bisa, kumohon ceritakan padaku sejujur-jujurnya" (Subaru)

"Menanyakan pertanyaannya langsung ke pengujinya sendiri, licik sekali kamu ya" (Echidona)

"Orang yang lemah nggak mungkin berbuat licik kepada orang lain. Nggak ada salahnya mencari panduan sewaktu ada kesempatan untuk mendapatkannya. Aku ini tipe orang yang bermain game, sambil membaca panduan 'tau" (Subaru)

Karena Ia malas terbunuh dan diharuskan mengulang semuanya lagi.
Tapi, tidak menghiraukan teori yang dikatakan Subaru, Echidona memejamkan kedua matanya, seakan-akan sedang berfikir dengan serius. Lalu, lima detik kemudian, Ia membuka kedua matanya lagi,

"Pengujian ya?" (Echidona)

"Ah..., iya. Pengujian seperti apa memangnya ini. Kalau kami gagal di test ini, seorang gadis yang sangat penting bagiku akan berada dalam bahaya. Ia nggak akan bisa keluar dari Sanctuary meskipun Ia merasa sangat rindu dengan kampung halamannya. Dan sudah jelas sekali, nggak mungkin aku bisa meninggalkan dirinya disini" (Subaru)

Penghalang yang mengelilingi 'Sanctuary', jika benda itu menghalangi dirinya untuk keluar, maka itu berarti Subaru tidak bisa keluar juga. Saat Ia lulus test nanti, mereka sudah berjanji akan keluar dari penghalang itu bersama-sama. Dan Subaru berusaha agar harapan itu benar-benar tercapai. Bahkan,

"Bahkan kalau harus curang sekalipun!" (Subaru)

"Maafkan aku kalau harus berkata seperti ini, padahal dirimu berharap begitu, tapi, aku benar-benar nggak tahu apa-apa tentang Pengujiannya. Aku nggak terlibat dengan pengujiannya itu. Dengan kata lain, aku nggak tahu apa yang akan di tes" (Echidona)

"APAAAA!" (Subaru)

Semangatnya dipatahkan seketika, Subaru pun berteriak. Melihat reaksi ini, Echidona berkata 'Yah mau gimana lagi?' sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kamu tahu kan tempat ini apa? Ini adalah kuburanku, ya kan? Itu artinya, kuburan ini dibuat 'setelah' kematianku. Dan Pengujian yang kau bicarakan, bertempat didalam kuburanku kan? Jadi kalau gitu, Pengujian yang berada didalam kuburan ku itu juga dibuat setelah kematianku. Jadi nggak mungkin aku yang udah meninggal ini terlibat di pengujian itu, kamu paham kan?" (Echidona)

"AKU SAMA SEKALI NGGAK PAHAM DENGAN LOGIKA YANG KAU KATAKAN ITU!" (Subaru)

"Intinya, aku ini bukan penguji. Jadi aku nggak bisa memberimu jawaban terhadap pertanyaanmu tentang Pengujian. Dan seharusnya, aku yang bertanya padamu tentang pengujian ini. Apa saja yang diujikan, apa saja yang ditanyakan, dan kriteria pemelihannya bagaimana. Jawaban dari semua pertanyaan ini.... membuat diriku tak henti-hentinya penasaran" (Echidona)

Dalam matanya yang berseri-seri, terlihatlah bola mata akan 'Penyihir Keserakahan' yang haus akan pengetahuan.
Mendesah melihat langsung keinginan gadis itu, Subaru menyimpulkan kalau nggak ada gunanya Ia menanyakan kepadanya tentang topik yang berhubungan dengan Pengujian.

Oleh karena itu,

"Hadeeeh, kalau gitu nggak ada lagi toh yang ingin kutanyakan padamu" (Subaru)

"...Eh? USO DESHO?! nggak mungkin!. Aku ini 'Penyihir Keserakahan' 'tau? Seluruh orang dari penjuru dunia datang kepadaku, mencari pengetahuan denganku. Berada dihadapanku, dan diberi kesempatan untuk menanyakan apa saja yang di-inginkan, tapi kamu bilang nggak ada yang ingin kamu tanyakan kepadaku.....?" (Echidona)

"Yah abisnya, kau itu udah mati dan nggak tahu banyak tentang apa yang terjadi setelah kematianmu, kan? Apa yang ingin kutahu, kebanyakan adalah hal yang terjadi saat ini, jadi nggak ada gunanya lagi aku menanyakan semua ini kepada seseorang yang nggak tahu..." (Subaru)

"IE IE IE IE!!, tenang dulu!. Memang benar kalau aku nggak tahu apa yang terjadi dengan dunia sekarang ini, tapi sebagai gantinya dari itu semua, Aku itu tahu banyak tentang segala hal yang terjadi di 400 tahun yang lalu, dan sekarang kebanyakan orang-orang sudah melupakannya, atau semua itu sudah nggak tercatat lagi di sejarah. Bukannya sekarang ini kesempatan bagus untuk mengetahui itu semua? Seperti dirimu yang akhirnya mengenal para penyihir lainnya tadi. Sesungguhnya, banyak hal di dunia ini yang sudah menghilang" (Echidona)

"Tapi, aku nggak begitu tertarik dengan para Penyihir. Meskipun aku mempelajari tentang mereka semua, toh juga mereka dah mati, dan masih banyak hal yang lebih penting di pikiranku sekarang, jadi kejadian tadi menurutku nggak terlalu penting..." (Subaru)

"Eeeeeehhh.........." (Echidona)

Melihat Subaru yang udah kelihatan gatel pingin balik pulang, merasa nggak nyaman, Echidona, wajahnya menjadi sangat kesal. Rasanya seperti posisinya sudah dijatuhkan.
Tapi apa yang dikatakan Subaru itu benar. Tentang apa saja yang telah dilakukan oleh Para penyihir itu di masa lalu, apapun yang dilakukan mereka semua... Subaru benar-benar nggak tertarik mengetahui semua itu.
Tapi sesungguhnya, masih ada informasi yang benar-benar penting, yang tidak terpikirkan olehnya.

"Tunggu, waktu barusan kau nyinggung mereka, aku jadi kepikiran sama satu ini" (Subaru)

"Hm! hm! Bagus, gitu dong. Aku tahu kok, kalau sebenarnya masih ada. Silahkan tanyakan apa saja. Selama aku masih bisa menjawabnya, Aku akan menjawabnya. Ayo!" (Echidona)

Begitu senang, Echidona diluluhkan hanya dengan Pertanyaan setengah-niat nya Subaru.

Meskipun mereka dipanggil Penyihir, tetapi sesungguhnya, mereka tidak mungkin dilupakan begitu saja. Memikirkan ini, Subaru teringat sesuatu tentang 'Sanctuary',

"Orang-orang di 'sanctuary' yang membuat kuburan ini, mereka menganggap tempat ini sebagai Daerah Pengujian atau Daerah Eksperimen. Bagaimanapun juga, diberi nama 'Daerah Eksperimen Penyihir Keserakahan', memberi kesan kalau hal yang penting sedang direncanakan, dan ditambah lagi di sekitar pulau ini di beri penghalang yang melarang para pemilik darah-campuran untuk kabur, sebetulnya eksperimen seperti apa yang sedang kau jalankan? Aku berha..." (Subaru)

"Maaf aku nggak bisa bilang" (Echidona)

"...rap bisa menanyakannya padamu" (Subaru)

Dengan sekali serangan, seketika Echidona menunjukkan tatapan yang kosong disaat Ia menolak menjawab pertanyaan itu.
Dengan sikapnya yang seperti itu, Subaru tak dapat berbuat apa-apa selain terdiam. Melihat reaksi Subaru seperti ini, Echidona sadar kalau ucapannya begitu tajam, Ia pun akhirnya menjadi canggung bingung harus berbuat apa,

"M-maaf kalau aku langsung memotongmu tadi. Tapi ada beberapa hal yang nggak bisa aku ceritakan. Aku nggak bisa menjawab pertanyaan itu. Bukan karena aku dilarang untuk menceritakannya, tapi memang aku nggak mau nyeritainnya" (Echidona)

"...Aku merasakan perasaan nggak enak ketika mendengar namanya itu, 'Daerah Eksperimen'. Menurutku, kau itu sebetulnya pingin banget nyeritainnya" (Subaru)

"Hentikan. Aku nggak pingin dibenci nantinya" (Echidona)

Menunduk, Echidona menolak untuk melanjutkan membicarakan topik itu lagi.
Dirinya terlihat sangat sedih, saat Ia meminta hal ini kepada Subaru.
Siappaun yang melihat kejadian ini, pasti akan tersentuh dan menuruti permintaannya.
Kemudian, Apa yang terpikirkan oleh Subaru kali ini, adalah,

"Sekarang aku kepikiran ini, namamu.... Aku sebetulnya udah pernah mendengar namamu, sebelum datang kemari" (Subaru)

"......." (Echidona)

Echidona tetap terdiam. Di hadapan dirinya, Subaru memegang jidatnya, mengingat sesuatu. Julukan si Echidona, 'Penyihir Keserakahan'. Sebelum dirinya datang ke 'Sanctuary', nama itu sering kali terdengar di telinga Subaru.

"....dari Puck" (Subaru)

Waktu di ibu kota, Subaru telah dibunuh oleh Arwah itu sebanyak tiga kali. Ingatannya yang menurutnya paling menjijikkan dan pahit adalah saat 'Si Raksasa Puck' membunuhnya karena arwah itu merasa Subaru telah menghina dirinya.
Pada saat itulah, saat si Betelgeuse dan Puck berbicara satu sama lain, nama gadis ini tedengar. Dalam kondisi sekarat, saat itu Subaru kebingungan tidak mengerti apa maksud dari nama ini, dan saat ini, Ia mengingat lagi ingatan akan kejadian itu.

Mendengar Subaru mengucapkan sesuatu disaat Ia mengingat lagi ingatan ini, Echidona bangkit dari tatapan menunduknya.

"Puck...? Wah nggak mungkin, apa maksudmu itu si Arwah-Kucing...? "(Echidona)

"――!? Y-Ya kau benar!. si Arwah Kucing. Kau kenal dengan Puck?" (Subaru)

"Nggak, bukan berarti aku mengenalnya...... Apa dia sekarang disini? Kalau itu benar, sejauh mana Ia ingat?" (Echidona)

Sepertinya Echidona terkejut ketika mendengar nama yang tak diperkirakan ini, dan Subaru terkejut pula melihat Reaksi dirinya. Echidona, yang terus berbicara tanpa-henti, tiba-tiba terdiam.
Melihat sikapnya yang menakutkan itu, Subaru tak dapat berkata apa-apa. Dan Echidona, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, memejamkan kedua matanya, merenungkan sesuatu.

Tak tahu harus bagaimana melanjutkan pembicaraan ini lagi, Subaru mengalihkan pandangannya,

"――Gaah!?" (Subaru)

Dan secara tiba-tiba, Dibagian bawah perutnya, Ia merasakan panas yang amat membakar.

"...OOooooaaakh, ah?" (Subaru)

Perasaan yang teramat sangat panas ini seolah-olah ingin membakar seluruh isi perutnya. Merintih kesakitan, Subaru memegang perutnya, dan kedua kakinya bergetar.
Sungguh rasa sakit yang secara tiba-tiba, menyerang dirinya. Sakit perut yang sekarang ini, yang hingga membuat mulutnya berbusa, tidak sebanding dengan sakit perut yang biasanya sering terjadi.
Tak tahan lagi, Ia berlutut dalam kesakitan, dan, berikutnya, Ia terjatuh ke samping.

Melihat Subaru seperti ini,

"Ah, akhirnya bereaksi juga ya" (Echidona)

Menatapinya dengan kagum, tatapan tanpa perasaan, Echidona menatapi Subaru.

Perlahan, Ia berjalan mendekati Subaru yang menggeliat-liat, berlutut mendekati lututnya pada wajah Subaru, dan menepis Rambutnya ke samping, diatas Subaru.

"Kalau sewaktu-waktu kamu di undang ke acara pesta tehnya Penyihir, seharusnya kamu itu nggak sembrono masukkin apapun yang diberikan padamu ke mulutmu itu. ――Jadi, kamu udah dapet pelajaran dari kejadian ini, kan?" (Echidona)

"Ka, uu.... me..racuni..ku? "(Subaru)

"Kan udah aku bilang, enggak kan? Apa yang kamu minum itu cairan tubuhku. Berbeda dengan yang biasanya dimiliki manusia, hal yang cuma dimiliki Penyihir. Itulah, yang sudah kamu minum" (Echidona)

Cairan tubuh. Subaru sadar kalau Ia telah mengabaikan betapa pentingnya istilah itu dari tadi. Dan pada akhirnya, Ia menerima penderitaan seperti ini.
Membuka kedua matanya, Ia melirik Echidona. Rasa persahabatan yang ada pada dirinya sejak tadi, telah menghilang. Yang ada dipikirannya saat ini, Apa untung nya gadis itu melakukan semua ini――

"Aku nggak pingin kamu salah paham, Aku nggak ada maksud jahat melakukan semua ini padamu. Sesungguhnya, aku sangat bahagia dengan hadirnya dirimu sekarang ini. Membiarkan dirimu meminum bagian dari tubuhku, adalah buktinya" (Echidona)

"La...njut...kan.....sehingga...aku..jadi..mengerti" (Subaru)

"Oke simpelnya, Aku ini sudah membantumu, jadi 'Gen Penyihir' yang tertidur, yang berada dalam tubuhmu itu bisa bereaksi dengan lebih cepat... atau sejenisnya" (Echidona)

"Gen,, Penyihir...?" (Subaru)

Rasa panas yang semakin kuat, Subaru menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengucapkan itu sambil menahan rasa sakit.

――Gen Penyihir.
Istilah tu juga. Sudah Ia dengar beberapa kali sebelumnya.
Waktu bersama Betelgeuse. Dan waktu bersama Beatrice.

"Kamu udah ngebunuh penganut setia nya 'Penyihir Kecemburuan', kan? Dengan terbunuhnya penganut itu, Gen Penyihir merasuki tubuhmu..... tapi kayanya, selain gen ini ada hal lainnya lagi yang ada didalam tubuhmu itu" (Echidona)

"Gen itu, waktu Ia bereaksi nanti.... apa yang akan terjadi?" (Subaru)

"Apapun bisa terjadi kan? Sebenernya sih, Aku nggak yakin juga. Tapi menurutku, dibandingkan dengan membawa bomb yang kita tak tahu kapan Ia meledaknya, lebih baik diledakkan secepatnya sebelum Ia menyebabkan hal yang nggak diinginkan nantinya. Kalau kita menuntaskan masalah ini disini, mungkin nantinya hal ini nggak akan memberimu masalah baru saat diluar nanti" (Echidona)

Mendengarkan dirinya yang berbicara dengan begitu santainya, Subaru kali ini merasa kalau kesadarannya mulai memudar, penglihatannya mulai gelap bersamaan dengan rasa sakit yang dialaminya. Tapi meskipun dalam kondisi seperti ini, Subaru dengan sekuat tenaga mengangkat tangannya, menunjuk Echidona,

"Baru saja, aku terpikirkan oleh sesuatu....." (Subaru)

"Hm?" (Echidona)

"Kau... caramu berbicara.... benar-benar mirip dengan Puck. Arwah itu juga, nggak peduli sama perasaan orang lain, cuek nggak mikirin apapun, tetap kekeh ngelakuin apapun yang ingin dilakukannya, seakan-akan nggak akan ada masalah..." (Subaru)

Mendengarkan ucapan Subaru, seketika, Echidona terkejut mengedipkan kedua matanya. Lalu, dengan ekspresi yang berlebihan, seolah-olah Ia mendengar sebuah lelucon, Echidona memegang perutnya, tertawa dengan terbahak-bahak.

"Haha! Hahaha! Aaah, begitu ya! Kamu memang luar biasa. Beneran dah. Hmm, hmmm, aaahahahaha! Jadi, Aku sama Puck begitu? Mmm?? Kamu memang benar. Mungkin karena.. cuma aku saja yang selama ini meneladani sifatnya" (Echidona)

"Apa, yang k――" (Subaru)

Meskipun Ia ingin melanjutkan pembicaraan ini, tapi sepertinya Ia tidak bisa melakukan itu.
Seluruh tubuhnya sudah benar-benar terasa terbakar, tetapi rasa sakit tidak membuat dirinya kehilangan kesadaran. Sehingga Ia akan terus-terusan merasakan rasa terbakar ini, tak akan jeda untuknya, untuk bisa terbebas dari rasa sakit ini, tapi.. sepertinya sebentar lagi berakhir.

Bukan berakhirnya rasa sakit yang menyerang dirinya, akan tetapi,

"Sepertinya, waktu berbincang-bincang kita ini, sudah hampir habis" (Echidona)

Sedikit demi sedikit, Subaru melihat, seluruh benda di dunia ini mulai memudar.
Langit yang biru, bukit kecil yang tertutupi rerumputan yang hijau, Kursi-kursi dan meja putih disini, semua ini mulai memudar secara bersamaan.

"Kayanya dunia ini berakhir karena barusan kau bilang begitu.." (Subaru)

"Enggak, memang waktu kita sudah habis. 'Pengujian' yang kau bilang tadi, sebentar lagi akan dimulai. Saat acara itu dimulai, fungsi dari kuburan ini akan tertuju padanya. Dan hantu yang menyendiri ini dah nggak bisa mengendalikannya lagi" (Echidona)

Mengatakan ini dengan santai, Echidona mengelus-elus jidat Subaru, yang sedang tergeletak diatas tanah.
Melihat dirinya tak dapat melawan, ataupun melakukan sesuatu, gadis itu tertawa.

"Oke kalo gitu, untuk dapat kembali pulang dari Pesta Teh si Penyihir. Apa yang ingin kamu berikan padaku?" (Echidona)

".....Kau udah lihat kan, Aku miskin nggak punya apa-apa" (Subaru)

"Nggak bukan, bukan barang. Cukup dengan.... ah benar. Cukup dengan kamu merahasiakan tempat ini dengan siapa saja, bagaimana? Kamu kayanya udah punya janji yang seperti ini juga... Gimana, permintaanku ini mudah kan?" (Echidona)

Apa maksud dari ucapan gadis itu, nggak ada waktu untuk menanyakan pertanyaan sepetti itu.
Kemudian gadis itu meletakkan jarinya di jidat Subaru, dan membisikkan sesuatu. Kemudian, rasa panas pun muncul dari jari yang menyentuh jidatnya, dan seketika, rasa ini menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan pada akhirnya, Subaru paham maksud dari perkataannya tadi.
Saat ini sebuah kontrak perjanjian telah dibuat, dan tentunya tidak dapat dilanggar olehnya. Demikianlah, sebuah kontrak perjanjian-sepihak disegel.

"Melakukan ini, tanpa izin dulu....!" (Subaru)

"Semua hal yang kita bicarakan, dan diperkuatnya gen penyihir mu itu. Dilihat dari semua itu, sebenarnya kupikir bayaran seperti ini sudah terbilang cukup murah. Tapi sesungguhnya apa semua ini, Ini adalah hadiah untukmu" (Echidona)

Tersenyum kepada Subaru yang kesal, gelombang panas yang lainnya telah menyerang jidat Subaru, yang berasal dari jari gadis itu.
Dan, akibat dari munculnya rasa panas ini――

"Dengan ini aku memberikanmu tanda terkualifikasinya dirimu, untuk dapat ikut Pengujian di kuburan ini" (Echidona)

"――!?" (Subaru)

"Dengan begini, kamu sekarang bisa mengikuti Pengujian malam ini. Apakah kamu akan menggunakan kesempatan ini, itu tergantung padamu. Kamu bebas memilihnya. Tapi, kalau misalkan kamu memang ingin mengambil kesempatan ini, Kamu bisa juga memilih untuk menjadikan dirimu sebagai pengganti gadis yang kamu anggap sangat penting untukmu itu. ――Intinya apa yang akan kamu lakukan terhadap kesempatan ini, itu terserah padamu" (Echidona)

Dunia mulai runtuh. Sedikit demi sedikit, permukaan tanah yang menopang kakinya ditelan kegelapan.
Sekarang, akhir dari dunia ini benar-benar sudah dekat.

Di dunia yang akan segera berakhir, Subaru, yang masih tergeletak di tanah, menatap Echidona.
Menyegel sebuah kontrak tanpa seizin dirinya, meminta dirinya membayar hal yang tidak diinginkannya, seorang gadis yang tersenyum tanpa memiliki satupun rasa kepedulian――ah, tanpa memiliki rasa keraguan,

"――kau, memang, seorang penyihir" (Subaru)

"――Oh, tentu saja. Aku ini penyihir yang jahat, 'tau?" (Echidona)

Dengan perpisahan itu, kesadaran Subaru mulai menghilang.
Semakin lama, semakin menghilang. Semakin gelap, dan gelap.

Terbebas, melayang keluar dari sana,
Akhirnya, Subaru―― terbangun dari mimpi Penyihir itu.

-=Chapter 12 End=-



(Image Source: @Rezero_official)

No comments:

DMCA.com Protection Status