Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 13 Part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 13 Part 1 Bahasa Indonesia

March 27, 2017 Kirz Oiishii


[Rozuwāru no Omowaku] (Tujuan Roswaal) (Part 1/2)

Hal pertama yang dirasakan Subaru saat Ia terbangun adalah perasaan akan sentuhan pada dahi nya.

"Kelembutan akan sentuhan dan kasih sayang ini, nggak salah lagi pasti ini Emilia-tan!" (Subaru)

"――Melihat dirimu yang berhasil menebaknya, aku jadi merasa takut, mungkin ini cuma bayangan ku saja" (Emilia)

Membuka kedua matanya, penglihatan Subaru saat ini tertutupi oleh telapak tangan yang menyentuh dirinya. Dari celah jari-jari telapak tangan itu, Subaru melihat kepingan akan kecantikan wajahnya, Subaru pun membalasnya dengan sebuah senyuman.

"Yah, soalnya Emilia-tan yang biasanya akan sangat peduli padaku diwaktu yang seperti ini, jadi aku punya perasaan kalau ini adalah dirimu. Bukan berarti aku tahu siapa yang menyentuhku cuma dengan menebaknya" (Subaru)

"Begitu ya. Syukurlah aku jadi legah sekarang.... emm tubuhmu, nggak apa-apa?" (Emilia)

"Iya dong... tubuhku ini kan~..  sehat dan kuat.." (Subaru)

Menjawabnya dengan lelucon, Subaru bangkit dari kasurnya. Melihat kesekitarnya, Ia sadar bahwa dirinya saat ini berada didalam bangunan yang tidak dikenal.
Kasur yang telah ditidurinya terlihat sangat kasar, dan sama sekali jauh berbeda dari kasur yang biasanya dia tiduri di Mansion nya Roswaal. Dengan begitu, Subaru mencoba berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum Ia kehilangan kesadarannya.

"Kemana perginya kenyataan dunia ini, bagaimana bisa aku berada disini..." (Subaru)

Kuburan ――mencoba masuk kedalam tempat itu, dan kemudian terjatuh ke dunia: yang dianggapnya begitu nyata. Dan setelah itu, bertemu dengan seorang gadis yang suka mempermainkan orang―― bertemu dengan 'Penyihir Keserakahan', Apakah segala ucapan dari Penyihir itu dapat dipercaya, apakah semua yang dikatakan didalam mimpinya itu benar.

Semuanya benar-benar tidak jelas. Frustasi dengan kebimbangan yang dirasakannya, Subaru memegang dahinya dan kemudian melihat kearah Emilia. Disamping tempat tidurnya, duduk diatas kursi, Ia tampaknya menunggu Subaru berfikir. Melihat dirinya disana, Subaru berkata 'etto..',

"Banyak yang ingin kutanyakan dan kubicarakan denganmu... tapi, aku ingin mengatakan ini dulu padamu" (Subaru)

"Hm? Apa itu?" (Emilia)

Sedikit memiringkan kepalanya, Emilia menunggu jawaban Subaru, dengan terlihat begitu manis. ――tapi, kedua matanya terlihat serius.
Dihadapan kedua bola mata ungunya yang berseri-seri, Subaru merasa kecewa,

"Maafkan aku yang telah membuatmu khawatir lagi. Aku terlalu ceroboh" (Subaru)

Setidaknya Ia harus berani, menjelaskan semua ini dihadapan Emilia, bahwa memang kalau dirinya itu terlalu ceroboh.
Semua yang dilakukannya, hanya berakhir membuatnya terjatuh ke jurang yang amat dalam.
Menerima permintaan maaf Subaru, Emilia hanya mendesah keheranan.

"Kamu tau, aku tadi itu bener-bener khawatir. Saat kamu masuk, tiba-tiba berteriak lalu pingsan" (Subaru)

"Kesampingkan dulu masalah aku yang teriak.... Apa? Aku pingsan?" (Subaru)

"Kedua matamu tiba-tiba putih, dan kamu nggak mau berhenti kejang-kejang. Kami nggak tahu harus berbuat apa lagi. Soalnya nggak ada tanda-tanda luka dari badanmu ataupun sihir apapun disekitar badanmu..." (Emilia)

Mendengar ucapan Emilia, Subaru akhirnya mengerti apa yang telah terjadi.
Jadi begitu yang terjadi.. Sesungguhnya, saat Ia masuk kedalam Kuburan, saat permukaan lantainya tiba-tiba menghilang――atau saat Ia merasa kalau dirinya terjatuh, sesungguhnya pada saat Itu jiwanya telah dibawa kedalam mimpi Penyihir Keserakahan.
Dan, sesungguhnya Ia pingsan saat itu, dan telah memberikan Emilia perasaan khawatir yang sebetulnya tidak diinginkan Subaru, membuat gadis itu tak tahu harus berbuat apa.

Dirinya yang ingin memastikan sesuatu, demi amannya Emilia―― Tekadnya saat itu sekarang terlihat bodoh.
Memikirkan itu, Subaru membenci dirinya sendiri, disaat,

"――O? oi, dia dah bangun? Dia baik-baik aja ya" (Garfiel)

Mengatakan ini, mendorong pintu yang berdecit, pria berambut pirang―― Garfiel masuk kedalam ruangan. Menatapi Subaru diatas kasurnya, kemudian Ia menoleh kearah Emilia.

"Dah gue bilangin kan? Nggak bakal kenapa-napa dia itu" (Garfiel)

"....Tapi tetap, aku nggak bisa berhenti merasa khawatir. Karena nggak tahu kenapa Ia bisa tiba-tiba pingsan kaya tadi itu. Meskipun aku ingin membiasakan diriku sekarang, membiasakan diri untuk nggak khawatir berlebihan terhadap hal seperti itu" (Emilia)

"Haaa~, duh, lebih kuatlah sedikit. Langsung panik dan menangis disaat lu ngeliat nih bocah pingsan... sungguh muka lu itu 'keliatan lebih biru dari Aomiguro' kalau orang-orang bilang" (Garfiel)

"Ha――!?" (Emilia)

Mendengar kejujuran Garfiel ini, Emilia cemberut dan wajahnya berubah menjadi sangat merah.
Lalu kemudian, Ia langsung melompat dari kursinya dan berteriak.

"A,Aku nggak nangis!! Memang benar aku khawatir dan panik, tapi aku nggak.." (Emilia)

"A-ah, iyaiyaiya. Maaf, itu rahasia ya.. Maaf maaf. Tapi, tenang... nggak perlu nyembunyin-nyembunyiin gitu kok" (Garfiel)

"Aku nggak bisa tenang lah!. Aku benar-benar khawatir.... kalau Ia denger aku ini nangis, nanti takutnya...." (Emilia)

Membantah omongan pria itu, Emilia kemudian melirik kearah Subaru.
Sampai sekarang, Subaru hanya terdiam menyaksikan pembicaraan mereka berdua. Menatapi dirinya, apa kira-kira yang akan dikatakan Subaru――

"Hm? Ah, lanjutin aja. Kumohon, plisss, heheheh.. Jadi gitu ya, heheheheheheheheh. Emilia-tan khawatir banget dengan diriku sampai-sampai menangis.... jadi gitu rupanya, hehehehehehe" (Subaru)

".....Yaah, ini dah yang aku takutkan" (Emilia)

Emilia menundukkan bahu dalam kekecewaannya. Didahapan dirinya, Subaru tetap tertawa berat. Mengetahui gadis yang disukainya khawatir dengan dirinya, meskipun Ia tahu sikapnya ini kekanak-kanakan, tetap Ia tidak bisa menahan kegirangan hatinya.
Melihat ketidaksopanan Subaru dan reaksinya Emilia, disisi lain, Garfiel berkata 'Ohhh jadi begini' dan kemudian, dengan perasaan bersalah, berkata,

"Yahh gua emang salah. Maaf ya. Jarang lho, gue ngakui kesalahan gue secara langsung kaya gini" (Garfiel)

Dan, dalam pengakuannya, Garfiel menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak Ia ceritakan.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

"Kalau benar-benar dilatih, seekor anjing nggak bakalan makan sebelum dirinya diberi izin untuk makan"

Dingin, suara yang terdengar saat ini benar-benar begitu tajam, hingga dapat membelah orang menjadi dua sekalipun, jika seseorang menyentuhnya.
Berbicara dengan pelan, tiap bait perkata ucapannya itu, terdengar sangat mengerikan, membuat siapapun tak kuasa untuk membantahnya.

"Artinya, seharusnya kamu itu bisa bersikap seperti itu, seperti seekor anjing yang mudah diberitahu"

*Kuts* *kuts*, terdengar suara langkah kaki dari seseorang.
Suara langkah kakinya begitu berirama, langkahan kaki kanan dan kiri.
Mereka semua tahu betul, kalau nantinya orang ini akan memecah suasana hening yang melanda mereka saat ini.

"Baiklah kalau gitu――"

Suara dan langkah kakinya, kedua mata yang penuh emosi, semua itu dipertunjukkan kepada Subaru――

"Nggak bisa di kasih tahu bahkan anjing pun bisa, sesungguhnya kamu ini apa Barusu?" (Ram)

"Maafin aku yang mengabaikan nasihatmu――!!" (Subaru)

Dihadapan seorang gadis kecil, Subaru menunduk meminta maaf.
Akan tetapi, dihadapan Subaru yang menunduk merasa bersalah, gadis itu hanya memiringkan kepalanya.

"'Maafin aku', emangnya ada aku minta kamu untuk minta maaf padaku? Bukan cuma nggak bisa dengerin pertanyaan, sesungguhnya kamu itu nggak bisa dengerin apapun dengan baik. Dan kayaknya, dari awal nasihat Ram cuma sekedar masuk ke telinga mu, karena sesungguhnya kamu itu nggak bisa ngerti apapun yang dikatakan orang lain" (Ram)

"Bisakah kau berhenti ngomong muter-muter kaya gitu!? Demi mengekspresikan rasa kebencianmu padaku?!, Aku sudah menyesal, Aku benar-benar tahu kalau aku ini salah, tapi bicaramu yang seperti itu membuat hatiku hancur berkeping-keping! Masih mending kamu terang-terangan langsung mencaci maki ku" (Subaru)

"Seharusnya kamu sekalian mati saja" (Ram)

"Terlalu blak-blakan!" (Subaru)

Menerima cacian gadis―― Ram yang blak-blakan, Subaru menjatuhkan dirinya, menunduk dilantai.
Tapi sebetulnya, Ia hanya bisa pasrah menerima cacian ini, karena sebetulnya memang pantas untuknya.
Ia telah mengabaikan peringatan yang begitu penting, dan menyebabkan masalah pada orang disekitarnya.

"Bee~~tul sekali~~. Ram seharuu~~snya memafkan dirinyaa. Bagaaa~~imanapun juga, Emilia-sama sudah memarahinya, kaan~~? Memarahinya laa~~gi itu nggak baiik, kecuali Subaru-kun itu masochist" (Roswaal)

"Aku ini bukan orang yang masochist. Cuma kebiasaanku saja yang selalu menginjak ranjau dalam setiap hidupku!" (Subaru)

Ia berpikir, dirinya itu hanya tidak bisa membaca suasana hati dengan baik.
Melihat Subaru terlihat percaya diri dengan dirinya, Ram mendesah keheranan, dan kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, membelakangi Subaru, menoleh kearah Roswaal.
Dan Roswaal, mengubah posisi tubuhnya agar dapat melihat dengan baik kearah semua orang, yang terdiam menunggu respon dirinya yang masih diatas tempat tidur. Kemudian, Ia berkata 'Yaah~~ kalau begitu',

"Yaaaa~~~ng terpenting, dirimu telah kembali dengan selamat. Sebetulnya tersandung masalah seperti ini membuat seee~~mua rencana kita jadi kacau. Meskipun sesungguhnya Subaru-kun hanya melakukan kesaaa~lahan yang kecil" (Roswaal)

Subaru melipat kedua tangannya dan mendesah. Sementara Emilia, yang berada di samping Subaru, menyubit pinggangnya.

"Itta――. Oi sakit 'tau! Emilia-tan" (Subaru)

"Memang aku selalu berada dipihakmu, tapi sekarang ini Subaru memang salah...... Kalau saja aku tahu kalau Ram pernah berbicara seperti itu padamu, maka aku akan.." (Emilia)

.....langsung menghentikan Subaru pada saat itu juga. Seolah-olah ingin melanjutkan ucapannya seperti ini, Emilia tiba-tiba menghentikan ucapannya. Menunjukkan senyum menghina pada Emilia, Subaru bergumam 'Itu dah kenapa aku nggak kasi tau kamu...' dalam hatinya. Kalau Ia tahu tentang peringatan ini lebih awal, Emilia pastinya tak akan memberikan kesempatan pada Subaru untuk mengambil resiko berbahaya, seperti yang telah dilakukannya.
Tapi sebetulnya, kalau bukan karena peringatan Ram yang seperti itu, dari awal Subaru nggak mungkin mengorbankan dirinya, membersihkan rintangan berbahaya yang menghalangi jalan Emilia. Sehingga...

"Nasihatmu nggak bikin siapapun merasa bahagia, Ram" (Subaru)

"Mengatakan semua ini karena kesalahannya Ram, cuma anjing yang berbuat seperti itu.... Nggak, aku harus cari hal lain yang lebih rendah daripada anjing, karena ini terlalu kasar untuk anjing" (Ram)

Melihat Subaru yang mencoba melempar tanggung jawab, Ram menyerang balik dengan hinaan yang luar biasa. Subaru tak dapat berbuat apa-apa, selain berfikir kalau maid itu benar-benar memiliki rasa benci yang amat tinggi pada dirinya. Dan, disaat yang sama, yang lainnya juga kemungkinan memiliki pendapat yang sama dengan Subaru.

Tidak memperdulikan perdebatan tidak penting antara mereka berdua, Roswaal memperbaiki posisi kedua kakinya di atas kasur, dan berkata,

"Omong-omong Emilia sama.... bagaimana menurutmu, tentang Kuburan itu?" (Roswaal)

".....Karena apa yang terjadi dengan Subaru, aku nggak sempat melihat-lihat sekitar sana. Tapi, disana tercium bau mengerikan, yang membuat diriku memiliki perasaan nggak enak dengan tempat itu" (Emilia)

Emilia mengerutkan dahi nya disaat mengatakan ini.
Sesungguhnya, seluruh bagian dari tempat itu memberi kesan yang buruk.
Dan mendengar pernyataan seperti ini, Roswaal mengatakan 'begitukah..', sambil tersenyum.
Lalu, kedua mata nya yang memiliki dua warna itu tertuju pada sudut ruangan―― pada Garfiel, yang telah menyimak pembicaraan mereka, sambil bersender di tembok ruangan.

"Garfiel. Bagaimana hasil 'Kualifikasi' nya?" (Roswaal)

Mendengar kalimat Kualifikasi, Subaru langsung menaikkan alisnya, dan melihat kearah Garfiel.
Pria berambut pirang itu hanya menggaruk-garuk kepalanya, dan berbicara hingga memperlihatkan taring tajam nya.

"Hehe Gue nggak sampe masuk kedalem sana sih.... tapi lampu-lampu di Kuburan itu menyala. Emilia-sama pasti lulus 'Kualifikasi'-nya, gue yakin itu" (Garfiel)

"Lampu-lampu di kuburan?" (Subaru)

Mendengar sesuatu yang belum pernah didengar sebelumnya, Subaru memiringkan kepalanya kepada Garfiel yang sedang menepuk tangannya dengan kesal.

"Terdapat beberapa lampu-penerangan di Kuburan itu. Saat matahari terbit, kalau ada seseorang masuk kedalam sana, dan tiba-tiba sesuatu didalam sana membuat api menyala di lampu penerangannya, Maka orang-orang yang memiliki sambutan seperti ini, biasanya mereka akan lulus kualifikasi, untuk dapat mengikuti Pengujian itu" (Garfiel)

"Sebaliknya, kalau seseorang tanpa memiliki 'Persyaratan' tetap masuk kedalam sana, maka mereka akan berakhir see~perti apa yang terjadi pada Subaru dan di~~riku" (Roswaal)


Melanjutkan perkataan Garfiel, Roswaal berbicara sambil melebarkan tangannya. Ia melakukan ini untuk menunjukkan tubuhnya, yang masih sakit dan terbungkus perban yang dipenuhi darah. ――Untuk menunjukkan, hukuman yang didapat setelah memaksakan diri masuk kedalam Kuburan itu.

"Aku merasa kalau tingkat kekejaman hukuman yang kudapat sangat berbeda dengan dirimu... Berbeda dari diriku yang cuma sekedar mencoba masuk, kau pasti telah melakukan hal yang lebih buruk, kan?" (Subaru)

"Buruk, yang ba~~gaimana?" (Roswaal)

"Yaah kayak kencing sembarangan gitu, atau semacamnya lah. Yang pasti, membuat pemilik dari Kuburan itu begitu kesal" (Subaru)

"Kalau beee~gitu, berarti Subaru-kun telah tercebur ke genangan air kencing ku dong" (Roswaal)

Hinaan tajam Subaru telah dibalas oleh hinaan yang tajam juga. Subaru pun menunjukkan ekspresi tak senangnya, sambil mencium-cium bajunya sendiri. Melihat reaksi Subaru yang seperti ini, Roswaal tersenyum lalu berkata 'Taa~pi', sambil menganggukkan kepalanya,

"Aku kagum kepadamu..... yang menyadari kalau kita mendapatkan luka yang berbeda. Ya memang benar, luu~ka ku ini lebih parah dibanding Subaru-kun. Tapi, sesungguhnya mengapa bisa begitu, alasannya sangat simple" (Roswaal)

"...Terbukanya gerbang 'mana'" (Emilia)

Ucapannya Roswaal dihentikan oleh ucapan ini.
Yang tiba-tiba berbicara, adalah Emilia, yang saat ini tengah memegang bibirnya dengan jarinya. Ia saat ini sedang berfikir dengan serius, menunduk, dan memutar-mutar rambutnya dengan jarinya.

"Waktu aku memasuki Kuburan, Aku merasakan hawa mengerikan dari tempat itu. Aku merasa kalau gerbangku telah di otak atik oleh sesuatu. Tapi mungkin karena aku sesuai dengan persyaratannya, pengganggu itu membiarkanku pergi.... tapi kalau ternyata orang ini nggak sesuai persyaratannya, maka pengganggu itu akan membuka gerbang nya" (Emilia)

Semakin lama dan lama, nada bicaranya semakin keras. Emilia pun bangkit dari menunduknya, dan kedua bolamata nya tertuju pada Roswaal.

"Target dari pengganggu itu adalah gerbang para targetnya.... Yang artinya, semakin banyak orang itu memiliki gerbang 'mana', maka semakin banyak pengganggu yang akan memasukinya" (Emilia)

"Jawaban yang sempurna. Seseorang see~perti diriku ini.... kenyataan bahwa diriku tidak meledak, merupakan keajaiban sesungguhnya" (Roswaal)
(TLN: Sebetulnya ini sudah pernah disinggung waktu chapter bersama beatrice, tapi, Gerbang yang dimaksud dari tadi itu gerbang yang menampung mana, dan roswaal memiliki banyak gerbang, karena dirinya menguasai lebih dari 1 magic, info lengkap bisa klik disini )

Mengatakan sesuatu yang menyeramkan dengan santai lagi, Roswaal melirik sekilas pada Subaru, dengan satu bola matanya, dan berkata 'Beruntung dirimu hanyalah orang biasa',

"Jadi pada dasarnya, para pengguna sihir atau orang hebat lainnya, hidup mereka akan terancam karena itu. Dan tetapi yang kudapat hanyalah kehilangan kesadaran, berarti diriku yang benar-benar tidak memiliki talenta sebagai pengguna sihir ini, merupakan suatu keberuntungan, ya.." (Subaru)

"I-Iya benar tapi.. kamu nggak melukai dirimu sendiri, dengan berkata seperti itu?" (Emilia)

"Aku udah paham kalau ada banyak hal yang nggak bisa dilakukan oleh diriku ini dan ada banyak hal yang nggak bisa kuraih. Nggak apa-apa, Aku akan memanfaatkan apa yang kubisa untuk menunjukkan rasa cintaku pada Emilia-tan. Sekarang, gimana kalau kita awali dengan saling membisikkan cinta?" (Subaru)

"Setelah berakhirnya pemilihan raja dan semua masalah terselesaikan, mungkin aku akan memikirkannya" (Emilia)

"Tapi seenggaknya itu butuh tiga tahun lagi kan!?" (Subaru)

Bahkan nggak ada jaminan kalau Ia akan menuruti permintaannya nanti...
Terhadap Emilia yang kejam, Subaru merasa kecewa. Lalu, melanjutkan berbicara dengan 'Yah',

"Kesampingkan dulu masalah Kualifikasi dan apa yang tidak diterima nya, ruangan yang membunuh para pengguna sihir itu... Aku nggak tahu siapa dalang dibalik semua ini, tapi sepertinya perbuatan ini dilakukan oleh orang yang memiliki kepribadian yang buruk..." (Subaru)

"Mengingat pulau ini dikelola oleh keluarga Mathers dari generasi ke generasi, maka seharusnya orang yang telah memasang si~hir itu, salah satu dari le~~luhurku" (Roswaal)

"Ah, parah banget kalo gitu.... Tapi, tunggu dulu... Kok kayaknya sifat mereka mirip banget dengan sifatmu ini yaa... Aku merasa kalau kepribadian ini diwariskan secara turun-temurun di keluarga Roschi" (Subaru)

Jika salah satu generasinya mati, maka generasi selanjutnya akan dirasuki sifat leluhurnya, terus-menerus diwariskan di garis keturunannya..

Memikirkannya saja sudah terbayang betapa mengerikannya hal itu, dan Subaru menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pemikiran ini dari kepalanya. Tapi mendengar ucapan Subaru, Roswaal tertawa seolah-olah mendengar lelucon yang sangat lucu,

"Dulu ada beberapa keluarga yang mempelajari si~hir seperti itu, tapi mereka sudah dihabisi. ....Dan juga, saat kau memanggil ruangan itu 'ruangan pembunuh para penyihir', sebetulnya ada panggilan yang lebih akurat untuk ruangan itu" (Roswaal)

"Apa.. itu?" (Subaru)

"Sederhananya. ――Ruangan itu dipanggil ruangan yang dipenuhi 'Racun Penyihir'. Ruangan yang mengerikan, yang membawa 'Mana' kedalam Gerbang para pelanggar, memberi mimpi buruk pada mereka semua. Itulah panggilan yang tepat untuknya" (Roswaal)

===

(TLN: Maaf cuma bisa post segini dulu ya, sisanya masih ane usahakan untuk diselesaikan secepatnya)

No comments:

DMCA.com Protection Status