Wagamama Onna ni Tensei Chapter 11 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Wagamama Onna ni Tensei Chapter 11 Bahasa Indonesia

March 21, 2017 Exicore

Chapter 11 – Demonstrasi Alat Masak


Saat kami tiba, tak ada seorangpun berada di dapur.

sip~ saat aku hendak mulai memasak, Berta menghentikanku dan berkata “akan saya panggilkan asisten koki.” sebelum dia pergi.


Padahal cuma ini kok~ pelit~ …ooh! Kenapa aku jadi meniru Wirbel!

Walaupun tidak benar-benar kukatakan dengan suara, aku harus berhati-hati agar tidak kelepasan.

“Nyonya, maaf telah membuat anda menunggu.”

Eh? …kepala koki?

Entah kenapa si Kepala koki kini berdiri di hadapanku.

Ada juga Kurt dan Damien yang telah kukenal di belakang Berta.

Berta tadi memanggil asisten koki, kan?

Saat melihat ke arah Berta, dia melihatku dengan ekspresi meminta maaf.

“Nyonya, kudengar anda membutuhkan asisten memasak. Kemampuan saya mungkin kurang baik, tapi saya akan berusaha keras!”

…uh, kamu kepala koki di sini kan?

Kamu yang jadi asisten? Tidak salah tuh?

“Pati kentang yang diberikan Damien kepada saya tempo hari benar-benar menakjubkan! Penggunaan tpung gandum untk mengentalkan… membuat masakan memiliki rasa tepung dan meninggalkan endapan putih. Tapi… pati kentang itu bisa untuk mengentalkan tanpa mempengaruhi rasa dan warnanya. Saya benar-benar dibuat terkejut! Ah~ tapi, saya dengar kue yang disebut mille crepe juga hebat! Saya iri! Sebagai orang yang secara alamiah tertarik dengan hal berbau memasak, saya tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk menyaksikan masakan baru yang ditorehkan dalam sejarah! Tolong, manfaatkan saya sebagai asisten mau bagaimanapun!”

Ucap Si kepala koki dengan penuh semangat.

Dia terlihat seperti seseorang… ah, sama seperti becker yang tersenyum mengerikan begitu mendengar ada produk baru.

“begitukah, kalau begitu tolong. Hari ini aku akan mendemontrasikan penggunaan pengaduk ini.”

Akan merepotkan untuk menolak si kepala koki, jadi kubiarkan dia bertindak semaunya.

Kepala koki melihat kearah whisker dengan sorot ketertarikan lalu Bertanya dengan penuh tekad.

“Jadi… bagaimana cara menggunakannya?”

“Sebelum menjelaskan, apa kamu tahu apa yang paling penting dalam membuat kue?”
Saat Bertanya pada kedua orang yang belajar hanya dengan melihat, kurt menjawab sambil merendahkan diri.

“Sa-saya pikir dengan menggunakan banyak gula!”

Ah~ jadi begitu ya? Mengingat kembali ingatanku (Amalie), dia pasti juga berpikir begitu.

Tidak ada yang salah dengan jawaban kurt dan kebanyakan orang di dunia ini juga pasti akan berpikir hal yang sama.

Harga gula di dunia ini relatif tinggi karena gula begitu diagungkan, membuatnya menjadi sebuah barang mewah.

“Kalau begitu, kurt. Apa menurutmu dengan menambahkan lebih banyak gula, kue akan menjadi semakin enak?”

“Ti-tidak. Kue yang dibuat nyonya sebelumnya tidak terlalu manis, bahkan sebenarnya hanya menggunakan sedikit gula sehingga rasa bahan-bahan lainnya jadi menonjol.”

Walau di bawah tekanan, Kurt mengemukakan pendapatnya dengan serius.

Mendengarkan hal tersebut, si kepala koki bersuara.

“Begitu, ya… sampai sekarang, kami percaya bahwa rasa manis dari kue adalah segalanya, sehingga kami menambahkan gula tanpa piker panjang. Tapi ternyata itu malah menutup rasa dari bahan-bahan lainnya… tak kusangka bahwa pengalamanku selama sepuluh tahun ini membuatku tidak menyadarinya… aku benar-benar kepala koki yang gagal.”

Si kepala koki menundukkan kepalanya dan tersungkur.

Eh, tidak perlu sampai begitu kan, aku jadi merasa bersalah…

Si kepala koki memegangi kepala, meratapi kebodohannya.

Kemudian dia berteriak “aku akan mengundurkan diri sebagai kepala koki!” sontak membuat semua orang di sekitarnya menjadi panik.

Eeh!? Itu tidak boleh, jangan buru-buru!

“Kepala koki, kenapa kau meratap seperti itu! Bukankah ini pengalaman bagus?”

“Nyonya?”

Saat kupanggil, si kepala koki yang bersedih dengan menundukkan kepalanya mendongak ke arahku dengan ekspresi bingung.

“Bukankah belajar hal yang baru bukanlah hal yang buruk? Bukankah kamu bisa menjadi koki yang lebih hebat karena itu?”

“Nyonya… ya… iya, benar!! Aku tidak punya waktu untuk depresi! Bahkan aku malah jadi tambah semangat untuk belajar lebih banyak! Betapa beruntungnya saya!”

Si kepala koki tiba-tiba berdiri dengan mata berbinar layaknya anak muda.

Semuanya melihatku dengan senyum lega yang telah berhasil menenangkan kepala koki.

Aku punya perasaan kalau perasaan orang-rorang di sekitarku telah berubah dalam waktu singkat.

Lingkungan dimana orang-orang melihatku dengan tatapan takut adalah situasi yang tidak pantas bagi anak-anak.

Lingkungan yang damai itu hal penting bagi Wirbel.

“Nah, kembali ke topik utama, yang paling penting dalam membuat kue adalah persiapan. Hal penting untuk masakan apapun. Ada tidaknya persiapan akan sangat menentukan hasil dari kue yang dibuat.”

“Ooh.”

Semuanya mengangguk dengan tampang serius.

“Walau kubilang persiapan, sebenarnya ini hanya hal mendasar. Siapkan dan ukur bahan, pilih tepung yang sesuai, memanaskan oven, dan membuat bahan jadi bersuhu ruang.”

“Jadi bersuhu ruang?”

“Setiap bahan memiliki suhu berbeda. Dan kalau ada perbedaan suhu, bahannya bisa hangus saat nanti dimasak.”

Semuanya mengeluarkan decak kagum.

Bahkan orang yang tak berhubungan dengan dapur pun kini mendengarkan dengan saksama.

Selain itu, mata Becker berbinar menyeramkan!

Setelah menjelaskan pentingnya persiapan, aku meminta seseorang menyiapkan bahan-bahanya.

Si kepala koki dengan segera pergi untuk memperoleh semuanya.

“Kepala koki! Kami saja yang menyiapkannya!”

“Apa yang kau katakan!? Aku lah yang menjadi asisten koki! Ini pekerjaanku!”

“Tidak, biarkan kami yang melakukannya.”

Kurt dan yang lain hampir dibuat menangis, meminta kepala koki yang tidak mau menyerah sampai akhir.

“Tepung gandum dan garam diayak… lalu aduk, pisahkan kuning telur dan putih telur.”

Pengayak… tentu saja merupakan salah satu produk yang kupesan kepada becker.

Kurasa aku bisa mengocok telur tanpa memisahkan bagian kuning dan putihya, tapi rasanya akan lebih berhasil kalau kukocok terpisah.

Asalkan tahu bahan dan jumlahnya, aku bisa membuat kue sederhana.

“Nah, di sini saat kita menggunakan whisker. Saat ini, aku bermaksud memanggang adonan kue, tapi aku butuh udara agar adonannya mengembang. Pengocok ini bisa digunakan untuk memerangkap udara ke dalam telur dengan mudah.”

Si kepala koki menambahkan gula ke telur lalu mengocoknya dengan gerakan tangan yang cepat.

“Ini hebat! Tidak pernah terpikir olehku telur bisa jadi seperti ini.”

Kuning dan putih telur telah dikocok hingga benar-benar lembut.

“Oh~ begitu saja kelihatannya sudah enak…”

“Indah sekali…”

Damien, jangan dimakan!

Dan Berta, kenapa kau menangis! Indah? Ini cuma telur, tahu?

Yah, setidaknya ini bisa menunjukkan kegunaan dari whisker.

Sip, sekarang hanya perlu mencampurkan tepung, tuangkan sedikit minyak ke nampan logam lalu dipanggang.

“Adonannya mengembang…”

Kurt menggumam setelah melihat adonan yang sudah jadi.

Si kepala koki begitu terkesima dirinya terdiam seribu bahasa.

“Aromanya harum~”

Salah satu maid berkata demikian dengan suara riang.

Kalau terus begini mereka hanya akan terus melihat adonannya tanpa berhenti, jadi kuberikan instruksi selanjutnya.

“Baiklah, karena adonannya sudah dingin, ayo torehkan krim segar.”

Seperti yang kukatakan, adonannya dihias dengan krim lalu digulung.

Melihat swiss roll yang telah selesai, semuanya kembali berdecak kagum.

“benar-benar penampilan indah yang begitu agung… apakah ini cahaya dari kasih saying tuhan…”

Kepala koki, aku tidak mengerti…

Swiss roll-nya tidak bersinar, lho?

Acara apresiasi swiss roll ini sepertinya tidak akan segera berakhir.


Tapi nanti juga dimakan sewaktu Wirbel pulang sih…


No comments:

DMCA.com Protection Status