Wagamama Onna ni Tensei Chapter 13 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Wagamama Onna ni Tensei Chapter 13 Bahasa Indonesia

March 21, 2017 Exicore

Chapter 13 – Pendaftaran Guild (1)



“Jadi ini yang namanya guild.”

“Gururu”

Saat aku mengguman, Mamono (/demon beast) yang terlihat seperti macan tutul putih itu menjawab.

Anak ini adalah Juma (/lesser demon/familiar).

Berta mencari dan membawakannya untukku.


Koneksi seperti apa yang sebenarnya dia miliki… Nona Berta benar-benar tidak bisa dianggap remeh.

Juma seperti dirinya dilatih secara khusus dan bisa diikat kontrak menggunakan kalung sihir.

Mereka bisa memahami Bahasa manusia dan akan menuruti perintah yang diberikan.

Berta memang setuju mengenai guild, tapi dia tidak setuju kalau aku pergi sendirian.

‘Jangan pergi tanpa penjagaan’, protesnya.

Karena itu, anak ini muncul.

Memperkerjakan bodyguard secara diam-diam itu mustahil dan mencari penjaga yang dapat dipercaya bahkan jauh lebih sulit.

Di sisi lain, Juma tidak akan membocorkan rahasia dan akan melindungi tuannya sekuat tenaga.

Bahkan walau tak bisa menang, dia masih bisa membawaku di punggungnya dan kabur.

Karena larinya cepat, dia adalah pelindung yang sempurna.

Ngomong-ngomong, namanya adalah Dieter.

“Ada begitu banyak orang di sini.”

Pintu guild terbuka lebar, berbagai macam orang datang dan pergi.

Tiap kali terdengar suara, telinga kelinci di kepalaku akan bereaksi secara spontan.

Ngomong-ngomong, saat ini aku memang memiliki telinga kelinci di kepalaku.

Telinga ini merupakan bagian dari topeng yang kukenakan.

Dengan topeng setengah wajah dengan telinga kelinci ini, aku kini bagaikan orang yang berbeda.
Selain penampilan yang mirip seperti aslinya, telinga kelinci ini juga bisa berfungsi layaknya telinga sesungguhnya.

Telinga asliku yang tertutupi oleh topeng kini membuatku terlihat layaknya demi-human bagi orang-orang yang ada di sekitarku

Kelinci dan macan tutul sebenarnya adalah kombinasi mangsa dan pemangsa, tapi ya, kurasa itu tidak apa-apa karena ini demi menjaga identitasku tetap aman.

Dan rasanya, sejak aku memasuki guild, banyak pandangan jadi tertuju ke arahku.

Demi-human bukanlah hal lazim di dunia ini dan mereka bisa hidup layaknya orang biasa.

Mereka memang tidak menjadi aristokrat , tapi banyak di antara mereka yang hidup dan mencari penghidupan di kota.

Banyak dari mereka yang berprofesi sebagai petualang, jadi wajar kalau mereka akan berkumpul di guild ini.

“Ini pertama kalinya aku datang ke sini, apa aku bisa mendaftar?”

Giliranku tiba dan aku melangkah maju menghadap konter, membautku dapat dilihat oleh semua orang.

“Ya, silahkan isi informasi yang dibutuhkan ke dalam formulir ini.”

Ucap si resepsionis dengan Bahasa formal.

“Baiklah, apa sebaiknya aku mengisi formulir ini di tempat lain?”

“Eh? Tidak, di sini juga juga tidak apa-apa.”

Wanita yang tadinya tanpa ekspresi kini melihatku dengan sedikit bingung.

“Ah, baiklah kalau begitu...”

Pantas saja antriannya begitu panjang, kalau begini mengurus satu orang saja akan butuh waktu lama.

Ada enam konter tersedia di dalam guild, namun rasanya antrian tak pernah surut sekalipun.

Tidak heran kalau kakak resepsionis ini merasa muak, mengakibatkan ekspresinya menjadi datar.

Kalian telah bekerja begitu keras. Terima Kasih.

“Anu, apa ada sesuatu?”

Si kakak di hadapanku terlihat sedikit gelisah karena aku terdiam.

Kalau mengesampingkan ekspresi datarnya, penampilannya terlihat muda.

“Bukan apa-apa. Aku hanya berpikir kalian pasti kerepotan menghadapi antrian panjang seperti ini. Aku akan mengisi formulirnya dengan segera.”

Mengatakan itu sambil mencoba memberi senyum simpatik, bahu si kakak resepsionis sedikit bergetar.

“Eh, a-apa aku mengatakan hal yang salah?”

Brak, si resepsionis di hadapanku berdiri dari kursinya.

“Kamu benar sekali!! Tiap hari di sini begitu melelahkan!! Antrian yang tak kunjung berhenti, orang-orang terus melayangkan protes, kami bahkan tak punya waktu untuk makan siang, semuanya begitu egois! Aku, Aku muak dengan semua ini!!”

Ah, sI kakak resepsionis mengamuk.

Pasti dia telah memendam begitu banyak stress selama ini.

Apa ini karena keteledoranku? Aku sepertinya mengatakan sesuatu yang membuatnya terpancing seperti ini.

“Padahal ini guild, tapi aku harus bekerja tiap hari. Berat badanku terus bertambah karena hanya bisa makan saat malam, jerawatku pun bermunculan, aku juga tidak bisa mendapatkan pacar!!”

Un, dia benar-benar meluapkan perasaannya.

Uwah, si kakak menangis.

Bagaimana ini? Siapapun! Aku ingin meminta bantuan, tapi resepsionis yang lain juga ikut menangis karena memahami penderitaan yang dia alami.

Mereka semua benar-benar menderita…

Di tengah kegaduhan ini, semua kegiatan di guild benar-benar terhenti.

…apa ini salahku? Bukan aku kan, ya? Iya kan?

Saat melihat ke arah Dieter, dia malah memalingkan wajah.

Uh, apa dia mengatakan kalau ini salahku?

Kenapa aku merasa semuanya memandang ke arahku….

“Ada apa ini!?”

Di tengah orang-orang yang diam tak berkutik, seorang pria dari bagian dalam guild berteriak.

“Kepala guild!”

Salah seorang menyahut lega melihat kedatangan pria tersebut.

Semua pandangan di guild kini beralih kepadanya.

“Clara, keributan apa ini?”

Kepala guild bertanya pada kakak resepsionis di konter satu, tempatku sekarang berdiri.

“U, hiks, soalnya, aku muak dengan semua ini!”

“Hah, aneh-aneh saja, ke sini kamu. Yang lain lanjutkan kerja kalian!”

Semua orang di guild kembali bekerja dan Clara mulai melangkah menuju ruang sebelah.

Orang-orang yang mengantri di konter Clara mulai pindah ke antrian lain sambil  menggerutu.

Ya sudahlah, aku sebaiknya mengantri lagi.

“Dia juga ikut!”

*grap*

Hmm? Entah kenapa, Clara memegangi lenganku.

“Eh? Aku…?”

“Dia juga ikut!”

Clara mengulang perkataannya sementara aku terdiam, tidak tahu mau mengatakan apa.

Tunggu, tunggu, aku kan cuma orang luar yang hanya ingin mendaftar!

Bagaimana ini?

“Nona, anda juga ikut.”

Aku ingin berteriak ‘tunggu dulu!’, tapi Clara memegangi lenganku begitu kuat sampai-sampai aku tak bisa melepasnya.

Melihat ke arah Dieter, sepertinya dia tidak menganggap aku dalam bahaya, sehingga dia hanya diam tak ada niatan membantu.


Oleh karena itu, aku pun dibawa paksa ke ruangan sebelah oleh mereka.

Previous Chapter - Daftar isi - Next Chapter 

No comments:

DMCA.com Protection Status