Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou Chapter 49 Bagian 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou Chapter 49 Bagian 1 Bahasa Indonesia

April 25, 2017 Exicore

Debu beterbangan, dan beberapa retakan muncul di tanah. Di blok yang melayang adalah sebuah bukit besar, tempat sebuah golem raksasa dengan sebuah tombak hitam legam tertancap ke dada.

Di atas Golem Miledi,  shia mengeluarkan suara, “zehaa zehaa,”berusaha mendapat udara sembari dibopong oleh Doryukken. Hajime menyipitkan mata dalam rasa kagum, sementara Yue melihat ke arahnya dengan pandangan yang lembut.

“Kau berhasil, Shia. Akhirnya dipenuhi dengan tenaga yang luar biasa. Aku mulai berpikir lebih baik tentangmu, benar ‘kan?”

“... ... Nn, kau telah bekerja keras.”

“Ehehe, terima kasih banyak. Tapi, Hajime-san, tak masalah kalau kau mau bilang ‘Aku jatuh cinta padamu’, kau tahu?”

“Dari awal, tidak mungkin aku jatuh cinta padamu.”

Bahkan dengan penampilan kelelahannya. Pujian Hajime dan Yue membuat Shia malu. Sebenarnya, ia tidak pernah berpikir mengenai bertarung hingga baru-baru saja. Satu-satunya keinginannya adalah berdiri di panggung yang sama dengan Hajime dan Yue dan terus bersama mereka. Itu adalah keinginan Shia. Dengan keinginan itu, ia menghadapi salah satu dari Tujuh Tantangan Dungeon Raksasa dengan kemampuannya, dan hasilnya ia berhasil.

Bahkan bagi Hajime, bagian terakhir pertarungan di mana Shia mengantarkan serangan terakhir adalah sesuatu yang bisa ia duga. Karena ia berpikir kemampuannya tak akan cukup, ia sudah punya cara lain untuk melawan. Namun, meski Suku Rabbitman lebih dan tidak hebat dalam bertarung, Shia tak pernah mengeluh dan berkata, “Aku ingin kembali.”, sementara ia bertarung, pastinya ia merasa gelisah dan takut saat memasuki Dungeon Raksasa. Karena itulah ia berpikir untuk hanya menyerahkan serangan terakhir pada Shia.

Hasilnya luar biasa. Serangan terakhir ia antarkan dengan daya yang sangat besar, sehingga hasilnya menjadi sangat menakjubkan dan membuat bahkan Hajime memujinya. Keinginan Shia untuk menjadi lebih kuat sudah bisa ia mengerti. Meski begitu, perasaan Hajime tidak sampai pada level yang diinginkan Shia. Tapi, kegigihan dan keinginan Shia sudah pasti membuat Hajime merasa terhubung, karena itulah ia memandang Shia dengan tatapan yang lembut.

“Fue? En-entah bagaimana.... Hajime-san menatapku dengan lembut... A-apakah ini mimpi?”

“Kau tahu... ... Ya, meski aku memang tak bisa melakukan apa-apa selain melihat ke arahmu dengan cara itu saat aku berpikir cara aku memperlakukanmu...”

Karena cara Gajime menatapnya tidak bisa ia percaya, Shia mencubit pipinya sendiri. Meski Hajime ingin protes terahdap reaksinya, setelah ia memikirkan perlakuannya terhadapnya, ia hanya bisa merasa bahwa itu natural.

Yue mendekati Shia yang masih mencubit pipinya sendiri. Kemudian, baju Shia ditarik hingga membuatnya menunduk untuk kemudian di elus dengan lembut. Rambutnya yang berantakan perlahan diperbaiki, perlahan dan lembut.

“U-umm, Yue-san?”

“... ... Karena Hajime tak mau mengelusmu, meski memang ini sangat disesali, aku yang akan melakukannya. Kau sudah bekerja dengan baik.”

“Y-Yue-sa~n. Uu, huh, kenapa Entah mengapa, aku tak bisa berhenti menangis, fueee.”

“... Gadis baik, gadis baik.”

Pertama, Shia bingung atas sikap tiba-tiba Yue, tapi kemudian dia mengerti bahwa ia sedang dipuji, membuat seakan-akan talinya telah dipotong, Shia mulai menangis, dan segera memeluk Yue. Seperti yang diduga, ia sednag berusaha bertahan pada perjalanan pertamanya yang tiba-tiba berubah menjadi pertarungan melawan Tujuh Dungeon Raksasa. Itu karena ia sudah kukuh ingin pergi bersama Hajime dan Yue. Dipuji dan diakui, membuatnya tidak bisa berhenti menangis.

Omong-omong, Hajime tidak tahu bagaimana cara mengelusnya, seperti yang Yue bilang. Shia adalah tipe yang mudah terbawa suasana, dan jika Hajime dengan canggung mengelusnya, hasilna adalah Shia akan salah mengerti bahwa ia mencintainya. Kali ini, meski Shia akan diperlakukan dengan lebih baik olehnya, tidak ada alasan ada beberapa orang yang punya perasaan sama seperti Yue. Itu adalah “perasaan spesial”-nya. Kurang lebih, Hajime tak pernah memikirkan kesedihan Yue bila itu diambil.

Terlebih, “Eueee~n”, ada tangisan bahagia di dada Yue. Itu adalah tangisan Shia yang bahagia karena dimanja. Karena itu, saat Yue mengelus dan melihat ke matanya dengan pandangan yang lembut.... ... yah, masa depan seperti sudah bisa diprediksi.

Yue memanjakan Shia sembari memeluknya, dan Hajime melihat ini sebagai sebuah ekspresi yang tak bisa digambarkan. Saat itu terjadi pada tiga orang itu, tiba-tiba, sebuah suara menggema.

“Ummm~, meski itu adalah suasana yang bagus~, akan segera menjadi berbahaya bagiku, jadi bisakah kau meminta sedikit waktu kalian~?”

Sebuah suara yang benar0benar familiar. Hajime dan grupnya mengeluarkan suara “Hah,” kemudian melihat ke arah Golem Miledi, yang mana tanpa mereka ketahui, telah berhasil mengembalikan tenaganya. Segera, Hajime dan grupnya mundur ke tempat semula untuk menjaga jarak. Karena mereka yakin intinya sudah dihancurkan, mereka hanya bisa bersiap akan segala kemungkinan.

“Tunggu, tunggu sebentar, tidak masalah~. Ujiannya sudah selesai! Itu kemenangan kalian! Karena ada sedikit kekuatan tersisa di dalam inti, aku ingin sedikit berbincang~, hanya beberapa menit.”

Seakan ingin membuktikan, Golem Miledi tidak bergerak, sementara cahaya di matanya terus menerus mengedip seakan bisa menghilang kapan saja. Karena itu, ia percaya mengenai ucapannya.

Hajime kemudian berjalan ke arah Golem Miledi.

“Jadi? Apa itu? Undead? Tidak mampu membaca suasana bahkan setelah mati... Meski sedikit mengecewakan untuk ‘Pembebas’ di masa depan, mungkin aku sebaiknya membantumu mati.”

“Ap-, berhenti~, apa maksud hinaanmu itu. Sangat tidak menyenangkan.”

“Jadi? Aku tidak ingin mendengar apa pun mengenai “membunuh orang-orang itu,” kau tahu?”

Membalas cara bicara penuh kuasa Hajime, Miledi memberikan suasana seakan ia tersenyum masam.

“Aku tak akan mengatakan itu. Tidak perlu. Apa yang ingin kubicarakan adalah.... ... sesuatu yang lebih mengarah ke nasehat.  Meski tidak ada Sihir Era Dewa yang kau cari di dalam Dungeon, kau sebaiknya tetap mengumpulkan semuanya... karena mereka penting untuk memenuhi keinginanmu...”

Mungkin karena seluruh tenaganya sudah hampir menghilang, tapi kalimatnya perlahan menjadi tidak jelas. Tapi, Hajime mengabaikan semua itu dan memberitahu masalahnya.

“Semuanya, huh... kalau begitu beritahu kami lokasi semua Dungeon yang lain. Karena mereka hilang dalam legenda, aku tidak tahu lagi yang mana yang benar.”

“Aa, benar... Lokasi dari dungeon yang lain tidak diketahui... memang sudah cukup lama... Un, lokasinya ada di... di...”

Perlahan, Miledi mulai kehilangan kekuatan dalam suaranya. Terhadap suara yang menjadi sentimental itu, Yue dan Shia memasang ekspresi serius. Setelah waktu lama,demi tugasnya, daripada demi keinginannya. Ia menempatkan jiwanya ke dalam wadah merupakan tindakan yang membuat mereka memandangnya dengan hormat.

Miledi perlahan menyebut keberadaan sisa dungeon lainnya. Kata-katanya membuat mereka semua terkejut.

“Hanya itu... Semoga berhasil.”

“... Kau menjadi sangat jujur. Apa yang terjadi dengan ucapan mengganggu dan menghina itu?”

Saat Hajime mengatakan itu, aura di sekitar Miledi yang sekarang tidak ada lagi hubungannya dengan dirinya yang sebelumnya, dengan nada yang berbeda, dipenuhi kejujuran dan keseriusan. Dia juga telah menunjukkannya sebelum pertarungan saat Hajime ingin mendengar tujuannya. Itu mungkin adalah dirinya sendiri. Seakan ia tak punya sesuatu lagi untuk disembunyikan.

“Ahaha, maaf~. Tapi... semua orang sialan itu... mereka memang orang-orang yang tidak menyenangkan... hanya mengatakan hal yang tidak menyenangkan... karena itu, meski hanya sedikit.... aku ingin kalian terbiasa...”

“Oi, kau. Kau sudah bilang aku tidak akan bisa mengalahkan para Dewa. Karena itu, jangan berkata seakan aku akan melawan mereka.”

Mendengar kalimat Hajime, miledi membalas dengan sebuah pengakuan dan keseriusan.

“... Kau pasti akan melawan mereka. Seama kau adalah kau... Pasti... Kau akan membunuh mereka.”

“... Aku tidak mengerti. Ya, bila mereka mencoba menghalangiku, maka itu sudah pasti...”

Hajime entah mengapa merasa bingung, Miledi yang melihat hal itu tertawa.

“Fufu... bagus... selama kau hidup seperti itu... pilihanmu... pasti... akan menjadi yang terbaik... bagi dunia ini...”

Setelah itu, Golem Miledi ditutupi cahaya putih dan bersinar. Seakan menjadi kunang-kunang cahaya menjadi terpisah ke cahaya yang lebih kecil dan terbang menuju Srga. Mirip bagaimana cara jiwa yang mati naik ke sana. Sebuah pemandangan yang sangat, sangat misterius.

Saat itu, Yue perlahan mendekati Golem Miledi. Kemudia menatap ke cahaya itu.

“Ada apa?”

Suara Miledi yang berbisik terdengar. Dengan cara yang sama, Yue memberikan hadiahnya.

“... Terima kasih untuk kerja kerasmu. Kau sudah bekerja dengan baik.”

“...”

Kalimat apresiasi itu. Baginya, seorang makhluk yang menunggu dengan sabar di dasar kegelapan, merupakan sebuah hadiah yang menjaganya tetap hidup. Seharusnya, kalimat itu tidak datang dari orang yang lebih muda. Tapi seperti yang diduga, kalimat itu memang hanya bisa datang dari Yue.

Kata-kata itu mungkin juga tidak diduga olehnya. Tanpa berkata apa-apa, ia hanya bisa terdiam dalam ketekejutan. Tak lama, Miledi membalas.

“... Terima kasih.”

“... Nn.”

Omong-omong, di belakang Yue dan Miledi yang sedang berbicara, Hajime mengucap dengan nada penuh rasa iritasi, “Sudah cukup, cepatlah menghilang,” sementara Shia yang mendengar itu berkata, “Siapa yang tidak bisa membaca keadaan sekarang!? Tolong diamlah untuk sekarang!”, dan menutup mulutnya. Untungnya, mereka berdua tidak menyadari hal itu.

“... Kalau begitu... sudah waktunya... dari sekarang... kau sudah bebas... melakukan yang kau mau...”

Kata-kata itu seperti Oscar yang diberikan pada Hajime dan grupnya, salah satu “Pembebas”, Miledi, berubah menjadi cahaya dan menghilang menuju Surga.
Kesunyian menyelimuti sekeliling, Yue dan shia mengikuti jejka cahaya yang pergi menuju Surga.

“... Pad awalanya, kupikir ia adalah orang yang buruk. Tapi, ia hanya mencoba menjadi yang terbaik.”

“... Nn.”

Yue dan Shia bertukar kata di kesunyian. Namun, ada seorang pria yang tidak berpikiran sama seperti mereka, Hajime berbicara dengan ekspresi muak.

“Haa, bukankah sudah cukup? Sudah waktunya kita melanjutkan perjalanan. Dan juga, apakah kalian benar-benar berpikir ia tidak berbohong? Sudah sangat jelas sifatnya itu buruk dari awal.”

“Tunggu, Haijme-san. Mengatakan hal itu mengenai orang yang sudah mati. Jahat. Hajime-san sepertinya memang tak bisa membaca suasana.”

“... Hajime, bagaimana kalau kau bunuh diri?”

“Yue, bahkan kau... haa, ya sudah, tak masalah. Tapi untuk informasi bagi kalian, itu bukan karena aku tak bisa membaca suasana, aku tak ingin.”

Saat mereka berbicara, Hajime dan timnya tidak menyadari cahaya yang keluar dari sudut tembok. Dan saat mereka menyadarinya, mereka bergerak ke sana. Melompat ke atas balok yang melayang di bagian atas tembok, jadi mereka ada di atas balok yang sama. Dan saat mereka mendarat, balok yang melayang yang digunakan sebagai pijakan, mulai bergerak, membawa Hajime dan grup mendekati tembok.

“...”

“Wawah, benda ini tiba-tiba saja bergerak. Menakjubkan.”

“... Pelayanan?”

Karena balok itu tiba-tiba saja memindahkan Hajime dan grup, Shia terkejut sementara Yue memiringkan kepala dalam keraguan. Entah mengapa, Hajime memasang ekspresi tidak puas. Mereka mendekat ke arah tembok yang menyala dalam sepuluh menit kemudia berhenti lima meter di depannya. Mengikuti hal itu, tembok yang menyaa, seakan menunggu, mulai kehilangna cahaya. Dengan suara suh, teombok itu mulai berpisah. Menggantikan posisinya, sebuah jalan dengan tembok putih.

Balok melayang yang Hajime dan grup tumpangi mulai bergerak melewati jelanan itu. Sepertinya, ini adalah tempat tinggal Miledi. Setelah bergerak beberapa lama, mereka sampai ke depan pintu menuju Oscar di dalam Dungeon Raksasa Orcus, yang mana memiliki sebuah tembok dengan tujuh pola berbeda terukir kepadanya. Hajime dan timnya mendekati pintu itu dan, seakan tembok menunggu mereka melakukannya, tembok itu berpisah dan mereka bergerak ke dalam. Balok melayang itu bergerak terus tanpa memikirkan tembok disamping.


Keluar dari tembok disamping adalah...

No comments:

DMCA.com Protection Status